Kaskus

Story

abangruliAvatar border
TS
abangruli
Scary Notes (Kumpulan Cerpen Horror)
Scary Notes (Kumpulan Cerpen Horror)

Halo!
Ini tulisan serial gue yang ketiga di kaskus. Yang pertama bergenre Novel Tragis Romantis, alhamdulillah udah HT. Sampe skarang masih lanjut.

Novel - Hidup, Cinta dan Mati
 
Trus yang kedua genrenya kisah nyata bertemakan catatan perjalanan waktu gue umrah. Tulisan yang kedua ini baru aja mulai dan alhamdulillah udah jadi HT juga..

Journey of Love - Catatan Perjalanan Madinah Makkah
 
Nah yang ketiga ini, genrenya horror. Ini nyebelin, karena bukan hobby gue sebenernya nulis cerita horror. Wong gue sendiri suka jerat jerit kalo nonton pilem setan, suka bawa bantal kalo liat pilem horror jepang, malah kalo horror Indonesia suka lebih memilih gak nonton ketimbang merem mulu sepanjang tayang. Hahaha..
 
Tapiii.. dasar nyebelin, kok ya sekarang jari jemari gue mulai ngetik tentang cerita horror. Gue gak mau bikin cerita panjang kayak dua tulisan gue sebelumnya. Untuk yang ini cerita pendek aja. Biar cepet kelar seremnya. Hehehe.. tapi tenang aja, walau pendek, tapi ntar gue bikin banyak cerita kok.. sekarang aja udah ada dua cerita, tapi gue tayangin satu dulu yaa..
 
Ya sud..
Met baca.. kasih cendol ama rating dong! 

Biar abang seneng...huahahaaha... (serem gak?!)
 emoticon-Cendol Gan

Salam Seram,
Ruli Amirullah

INDEX CERPEN HORROR

#1 - Suatu Malam di Bioskop
#2 - Anak Kecil di Tengah Malam
#3 - Kaca Spion Taksi
#4 - Mimpi Buruk Maya
#5 - Teman Menjelang Ajal
#6 - Penikmat Gemerlap Malam
#7 - Jadikan Aku yang Kedua
Diubah oleh abangruli 14-11-2019 20:53
sampeukAvatar border
sampeuk memberi reputasi
4
7.6K
44
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.3KAnggota
Tampilkan semua post
abangruliAvatar border
TS
abangruli
#25
#7 - Jadikan Aku yang Kedua

Chapter 1 – Awal Kisah

Pukul 01.34 dini hari. Aku sendirian di kamar. Duduk tegak lurus dengan pandangan penuh ke layar laptop. Jemari kubiarkan menari di keyboard, mengetik setiap detik kisah hidup yang aku alami. Tentu saja nama-namanya aku pilih yang lebih keren, kota tempat kejadian aku geser beberapa ratus kilometer dari aslinya dan penggambaran para tokoh aku percantik dan perganteng sekian persen. Seolah menjadi kisah fiksi. Padahal tidak. Hanya saja aku tak ingin mereka tahu bahwa itu kisah asli.

Jemariku terus mengetik hingga mendadak aku merasa dingin. Tercium wangi yang khas.
Aha. Dia sudah datang.
“Hai apa kabar..” tanyaku sambil terus menatap layar. Tak perlu menengok agar aku tak tebuai dalam keindahan yang memabukkan. Tapi dari bayang-bayang yang memantul di layar, bisa terlihat siluetnya yang menarik. Suara lembut menjawab terdengar seolah tepat disampingku, padahal dia masih dibelakang, “kangen kamu..”

Tanpa sadar aku tersenyum. Entah dari siapa mahluk itu belajar merayu orang. Teringat beberapa bulan lalu saat dia pertama kali menyapa aku.

“Hai..” suara lembut seorang wanita dari belakang. Aku kaget dan segera menoleh. Terlihat seorang gadis menatap mataku dengan ceria. Senyumnya mengembang sempurna memamerkan deretan giginya yang rapi. Kulitnya putih, tubuhnya wangi. Rambutnya lurus sepundak khas remaja yang energik, yang tak ingin gerak geriknya terganggu oleh rambut panjang. Poninya yang aduhai, yang bikin aku terpesona sekian detik menatapnya. Aku memang sangat mudah jatuh cinta pada poni yang menghias kening seorang gadis. Membuat ia terlihat lebih feminin. Bajunya pun casual, kaos pink sedikit ketat dengan celana jeans yang pas di kaki jenjangnya. Sepatu kets warna pink menghiasi ujungnya.

Indah.
Harusnya moment tersebut menjadi moment yang sangat indah. Sayang, keindahan tersebut agak ternoda dengan waktu dan lokasi pertemuan yang tidak tepat. Aku melihat angka digital pada pergelangan tangan.
Pukul 01.20 di pinggir kompleks.
Komplek perumahan? Sayangnya bukan. Aku sedang berjalan melewati komplek pemakaman. Dengan tergesa-gesa karena tak ingin mengganggu keheningan kompleks tersebut. Ini terjadi karena aku harus lembur, pulang malam, sialnya mobilku mogok kehabisan bensin 1 kilometer dari rumah. Panggil ojek online gak bisa gegara handphone yang mati. Terpaksa jalan toh hanya 1 kilometer. Hanya saja aku memang harus melewati pemakaman untuk mencapai rumah. Ya sudah daripada tidur di mobil aku pun memutuskan untuk jalan. Bertekad setengah berlari saat melewati kuburan.

Tapi kini aku dapati bukannya berjalan terburu-buru seperti rencana awal, aku malah sedang mematung memandang seorang gadis. Gadis yang indah tapi di waktu dan background lokasi yang salah.

“Kami jin ya?” aku bertanya sambil tertawa. Berharap ia tertawa dan menggeleng.
Tapi ia hanya tertawa. Renyah. Tawa yang bikin lega, karena jauh dari kesan menakutkan. Masa sih kuntilanak ketawanya bikin gemes gitu.
“Kamu tinggal dimana sih, kok jam segini masih disini..” tanyaku. Pertanyaan bodoh yang seharusnya tak pernah aku lontarkan.
“Aku tinggal disini” jawabnya sambil tersenyum.
Anjay! Aku terdiam, seketika aku bisa merasakan rona hangat dari wajahku seperti terhisap habis dan menyisakan pucat pasi yang luar biasa, “ka.. kamu becanda?”

Ayo mengangguklah! Angguklah!
Sayang seribu sayang, bukannya mengangguk ia malah mengegeleng. Sambil terus tersenyum ia berkata “aku gak becanda, aku memang tinggal disini...”
Seolah belum puas melihat kengerianku, ia perjelas dimana ia tinggal, “itu di pohon kamboja sebelah sana”

Sungguh ingin rasanya kutempeleng bocah kurang ajar itu, seenaknya bikin air pipisku mendadak ingin keluar. Walaupun cantik tapi kalau bikin aku kencing dicelana harus diberi pelajaran. Tapi jangankan menampar, menggerakkan tangan saja aku gagal, “ini prank ya?”

“kalau prank aku pasti pakai kostum pocong atau suster ngesot atau apalah yang serem-serem..” ia terdiam sebentar, seolah sedang berpikir, “atau kamu mau lihat aku berubah pakai kostum itu?”

Aku terdiam bagai lumpuh. Lututku lemas, lidahku kelu.

“Gak lah, aku gak mau kamu takut. Aku begini karena aku tahu selera kamu. Aku tahu kamu suka cewek berponi, aku tahu kamu suka cewek casual, aku tahu kamu suka cewek yang ceria. Karena itu aku menjadi seperti ini...karena aku...”

Terdiam sejenak, “karena aku suka kamu..” jawabnya dengan mata yang luar biasa indah.

Aku ternganga. Aku pasti mimpi. Berdiri mematung di pinggir kuburan dengan sesosok mahluk entah apa yang sedang menyatakan cinta padaku. Ini pasti mimpi.
Mimpi romantis yang sayangnya bergenre horror.
Akhirnya aku merasakan kehangatan dipangkal celanaku. Anjay!

[bersambung]
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.