- Beranda
- Stories from the Heart
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
...
TS
deadtree
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
Halo,
sengaja aku buat akun baru untuk nulis cerita ini. Bukan karena apa-apa, aku gak mau ada yang tau siapa aku dan orang-orang yang akan kuceritakan disini. Sengaja juga gak daftar kreator, ahaha karena tujuanku nulis cuma pengen ngeluarin uneg-uneg yang aku simpen selama ini.
Cerita ini gak ada bagus-bagusnya, gak ada romantis-romantisnya, isinya cuma aku dan semua cobaan hidup yang kutelan sendiri dan akhirnya juga harus bangkit sendiri.
Quote:
Oke, aku mulai ya....
- Chapter 1 - Adik Ibuku
- Chapter 2 - Puber & Foto Mesum
- Chapter 3 - Kata Ibu, Aku Aib
- Chapter 4 - Aku dan Kakak Part 1
- Chapter 5 - Aku dan Kakak Part 2
- Chapter 6 - Ayah & Ibu
- Chapter 7 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 1
- Chapter 8 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 2
- Chapter 9 - Duniaku Abu-abu Part 1
- Chapter 10 - Duniaku Abu-abu Part 2
- Chapter 11 - Duniaku Abu-abu Part 3
- Chapter 12 - Babak Baru
- Chapter 13 - Sama Saja
- Chapter 14 - Mas Ibra
- Chapter 15 - Berawal Dari Twitter
- Chapter 16 - Aku Ini Murahan
- Chapter 17 - Gelap
- Chapter 18 - Duniaku Hancur
- Chapter 19 - Tuhan
- Chapter 20 - Kusut
- Chapter 21 - Selalu Begini Berulang-ulang
- Chapter 22 - Mulai Dari Nol
- Chapter 23 - Gereja dan Ustadz
- Chapter 24 - Kambing Hitam
- Chapter 25 - Cinta Yang Salah
- Chapter 26 - Selembar Perselingkuhan
- Chapter 27 - Tunas
SIDE STORY:
1 - Major Depressive Disorder
2 - Adara Putra [Part 1]
Prolog:
Namaku Kamila, saat ini umurku hampir 28 tahun. Berkeluarga? belum. Ingin berkeluarga? Ya, mungkin. Aku bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan Jakarta. Sejak umur 17 tahun, aku tinggal sendiri di kota ini. Tanpa satupun anggota keluarga atau kerabat jauh. Tak ada yang kukenal saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini 10 tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2009.
Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia.
Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.
Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.
"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.
"Kenapa om?", tanyaku.
Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"
Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.
"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda.
"Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.
Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.
Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia.
Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.
Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.
"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.
"Kenapa om?", tanyaku.
Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"
Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.
"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda.
"Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.
Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.
Ch.2: Puber & Foto Mesum
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.
Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.
Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).
Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.
Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.
Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).
Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.
2 menit berlalu, aku seperti mendengar bunyi-bunyian di depan pintu kamarku. Seperti bunyi gesekan ke pintu kamar. Jantungku mulai berdegup kencang, di rumah sedang tak ada siapa-siapa seingatku. Lalu siapa yang sedang berdiri di depan pintu kamarku? Kulihat di celah bagian bawah pintu, nampak bayangan orang yang berdiri mondar-mandir namun tak ada suara hanya dengusan nafasnya yang terdengar sedikit berat. Aku semakin panik, saat itu aku hanya bisa memikirkan maling yang masuk rumah karena beberapa tahun lalu rumahku juga kemalingan dan malingnya membawa pisau hampir menyerangku yang baru saja tiba di rumah saat itu.
Selang beberapa detik diantara kepanikanku, tiba-tiba cahaya putih itu kembali muncul di ventilasi kamar. Kali ini diiringi dengan bunyi 'ckrekkk' berkali-kali, yang menyadarkanku kalau itu ternyata flash kamera. Aku semakin panik, ada orang memotretku dari luar, dan sialnya posisiku saat itu setengah telanjang. "MAMPUS", gumamku dalam hati. Aku gemetaran, tak tau harus berbuat apa. Badanku kaku, aku hanya bisa pura-pura tak tau apa yang terjadi saat itu. Tapi tak dapat dipungkiri, aku sudah mau hampir menangis berharap orang itu cepat-cepat pergi. Namun disela-sela ketakutanku, tiba-tiba aku mendengar suara,
"Ngapain Mas Sapri? Ventilasinya rusak?", tanya orang itu. Aku tak mendengar sahutan dari orang yang tengah berdiri di depan pintu kamarku.
'Anj***********ng', umpatku lirih. Orang yang daritadi memotretku ternyata Om Sapri. Mau apa dia dengan foto-fotoku? Apa dia lupa kalau aku ini anak dari saudara yang sudah membesarkannya? Kenapa dia malah bertindak tidak senonoh seperti ini?
Banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalaku, tanpa kusadari aku mulai menangis tersedu-sedu di dalam kamar tanpa berani keluar. Sampai malam tiba dan kakak serta papaku pulang, aku masih belum berani keluar kamar.
Papa mengetuk-ngetuk pintu kamarku bertanya kenapa aku mengurung diri. Aku takut, tapi kupaksakan keluar. Kubuka pintu kamar perlahan, masih dengan sedikit terisak. Papa kebingungan melihatku yang amburadul dengan rambut acak-acakan dan mata yang sembab.
"Kenapa dik?", tanya Papaku.
"Gak kenapa-kenapa pa, cuma banyak PR adik capek", sahutku masih dengan sedikit bergetar.
Papa mengelus kepalaku pelan dan memelukku. Dia menyuruhku untuk segera mandi, berganti pakaian dan mengajakku makan malam. Sepanjang makan malam, aku diam membisu. Tak ada sepatah kata yang berani kukeluarkan.
Beberapa hari setelah itu, aku sudah kembali ceria. Aku tak lagi memikirkan apa yang terjadi, yah namanya anak sekolah. Seperti biasa, pukul 14.00 aku langsung bergegas pulang ke rumah untuk melanjutkan novel teenlit yang belum selesai kubaca. Di rumah juga sepi, hanya ada aku dan beberapa tukang. Tak lama setelah aku pulang, kakakku juga pulang dari sekolahnya. Dia langsung lari ke ruang keluarga dan bermain game konsolnya yang baru dibeli beberapa hari lalu. Kubiarkan sajalah, fikirku.
Aku langsung masuk ke kamar, mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Hari ini terlalu panas dan aku terlalu gerah untuk langsung baca novel, karena itu kuputuskan untuk mandi dan makan siang dahulu.
Kamar mandiku terletak di belakang ruang keluarga, di area dapur bersih menuju ke dapur kotor dan di depan kamar mandi terdapat lorong selebar 2 meter yang cukup gelap jika tidak dinyalakan lampu. Ditengah-tengah aktifitas mandiku yang berisik karena aku juga bersenandung, lagi-lagi aku terkejut dengan cahaya putih yang muncul sekelebat di atas ventilasi pintu kamar mandiku. Aku langsung panik, "Anj*ng, aku telanjang loh ini! Om Sapri gak kapok-kapok!", umpatku dalam hati. Dengan cepat aku bersembunyi di pojok belakang pintu kamar mandi agar dia tak bisa memotretku dari sela ventilasi. Bunyi kamera itu masih terus kudengar sekitar 3-4 kali selama aku bersembunyi dan kemudian hening, tak ada suara apa-apa. Dan sesaat Om Sapri memanggilku, "Dik? Kamu di kamar mandi? Om baru mau pipis nih. Masih lama gak?", tanyanya menyelidik.
Tak ada kata yang keluar dari mulutku, aku diam tak berani bersuara. Om Sapri kembali memanggil, "Dik? Kamu gausah takut Om cuma nanya", timpalnya lagi.
'Hah? Takut? Apa-apaan sih? Apa maksudnya? Kenapa dia malah jadi seperti om-om cabul yang mau merudapaksaku?', aku masih tak bersuara sama sekali, hanya bisa menangis dalam diam dan ketakutanku. Jantungku berdegub kencang sekali dengan ketakutanku diapa-apakan dan tanpa kusadari sudah 1 jam aku mengurung diri di dalam kamar mandi sampai kakakku menggedor-gedor kamar mandi dengan paniknya, "Dik? Dik??!!! Kamu pingsan? Mandi kok gak kelar-kelar? Dikkk????".
"Iya kak, aku cuma lagi gosok-gosok kaki", sahutku lega. Kakakku ternyata masih ada di luar.
"Yaudah cepetan mandinya, kita makan siang. Kakak laper", jawabnya.
"Iya kak, ini udah kok".
Aku tak berani menatap Om Sapri setelah itu, aku juga tak berani menceritakan pada siapa-siapa perkara hal ini. Beberapa bulan berlalu semenjak itu, tak ada lagi teror foto-foto itu, aku fikir masalah sudah selesai. Mungkin aku yang terlalu panik.
Tapi ternyata? Belum, belum selesai. Masih ada yang akan terjadi di depanku....
AKAN ADA KELANJUTANNYA, PANJANG GAN HAHA.
AKU AKAN CURHAT BERKALA, KARENA SAMBIL KERJA.
NAMANYA JUGA CURHAT :").
NAMANYA JUGA CURHAT :").
MOHON MASUKANNYA KALAU ADA KEKURANGAN, TRIMS.
Diubah oleh deadtree 20-12-2019 10:59
jamalfirmans282 dan 61 lainnya memberi reputasi
60
130.5K
629
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
deadtree
#363
Chapter 25 - Cinta Yang Salah
Aku: "Halo.... Mas Ibra?"
Mas Ibra: "Halo, Mila... Sayang. Kamu dimana? Mas di Jakarta, kita harus ketemu"
Sore itu, aku habiskan berputar-putar di sebuah pusat perbelanjaan mencari pakaian yang tepat untuk kukenakan malam itu. Mas Ibra mengajakku dinner di tempat dulu kami mengucap cinta pertama kali. Dia akan tiba di kost pukul 7 malam dan berpesan untuk mengenakan pakaian terbaikku. Setelah lelah berputar-putar tapi tak menemukan yang aku suka, akhirnya aku pulang dan memilih night dressku di lemari saja.
Kubongkar isi lemari, kupilih pakaian yang sekiranya cocok dengan pakaian yang mungkin akan dikenakan Mas Ibra malam nanti sampai mataku tertuju ke sebuah gaun berwarna biru yang kusimpan rapi dan tak pernah kukenakan bertahun-tahun lamanya, gaun pemberian Mas Ibra. Sengaja gaun itu kusimpan rapat di tempat penyimpanan barang-barang lamaku, bahkan Herri tak tahu tentang pakaian itu. Herri tau tentang Mas Ibra dan dia merasa Mas Ibra ancaman dalam hubungan kami. Karena itu aku tak memberitahunya tentang barang-barang pemberian Mas Ibra, bukan karena aku ingin menyembunyikan tapi karena aku tak ingin menyakiti perasaan Herri, karena aku tak bisa membuang begitu saja barang-barang pemberian orang yang sudah banyak sekali jasanya di hidupku.
Sekedar intermezzo, Herri punya kebencian tersendiri tentang Mas Ibra tapi dilain sisi dia sangat antusias tentang kisah cintaku dengan Mas Ibra terutama kisah ranjang kami. Kufikir karena dia ingin menyaingi Mas Ibra, tapi sepertinya bukan. Herri punya fetish yang aneh, dia suka membayangkan aku bersama lelaki lain terutama Mas Ibra saat kami berhubungan intim. Herri kerap kali minta aku melenguhkan nama Mas Ibra setiap kami berhubungan, awalnya aku fikir yasudahlah biarkan saja. Tapi entah kenapa Herri makin menjadi dan seolah tidak bisa puas kalau aku tak menceritakan hubungan seksku dengan Mas Ibra atau melenguhkan namanya setiap berhubungan. Terganggu? Sangat. Aku jadi tidak bisa melupakan masa laluku karena Herri terus ingin aku menceritakan tentang Mas Ibra, tapi kalau aku bercerita tentang Mas Ibra diluar hubungan intim Herri bisa sangat marah padaku.
Kalau ada kesempatan, aku ingin buat satu thread tentang kisah-kisah anehku sama mantan, tapi agak 17+. Kalau pada ok, baru kubuat kalo engga ya gajadi ahaha. Soalnya ini ceritanya banyak yg aku skip.
Sama niatnya bikin thread khusus cerita sama pasanganku yg sekarang, cerita sama mas ibra aja sama cerita sama mama papaku aja. Biar detil ceritanya. Tapi kalau pada suka sih, kalau engga ya gajadi juga ahahaha.
--
Deru mobil terdengar di depan pagar, aku langsung bergegas mengambil tas, berkaca sebentar merapikan makeupku, memasang heels dan kemudian menyusul Mas Ibra di depan. Aku mengenakan gaun biru pemberiannya (untung masih muat), heels yang aku beli saat masih jadi pacarnya dan tas warna hitam kesukaannya. Mas Ibra sudah berdiri di samping mobilnya dan memandangku terpaku.
Mas Ibra: "Hey, long time no see. As always you look gorgeous, I miss you Mila" - Ibra memelukku lembut sambil menyodorkan buket bunga mawar dan lily kesukaanku.
Aku: "I miss you too mas, banyak yang harus kita bicarakan sepertinya."
Mas Ibra: "Selalu ada waktu buatmu. Yuk"
Mas Ibra membukakan pintu mobil untukku dan kami langsung bergegas ke sebuah restoran tempat kami dulu sering berkencan. Di mobil kami tak banyak bicara. Mas Ibra fokus menyetir sambil sesekali melirik ke arahku dan tersenyum, aku seperti biasa memandanginya sepuas hati melepas rindu. Entah kenapa aku selalu terpaku pada aroma parfum dan caranya berpakaian yang sungguh rapi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Malam ini dia mengenakan kemeja hitam slimfit dengan celana jeans hitam serta sepatu yang dulu kubelikan untuknya. Rambutnya disisir rapi kesamping dengan wajah yang bersih dari kumis dan jenggot. Aaah kenapa sih putus, umpatku dalam hati.
Malam itu aku diperlakukan seperti kami baru saja memadu kasih, berbincang tentang banyak hal mulai dari papi mas ibra yang dulu meninggal dunia, kepindahannya ke Jakarta beberapa hari lalu dan bisnis orangtuanya yang sekarang dipegang olehnya. Mas Ibra meminta maaf sempat menghilang dan tak menghubungiku karena dia sempat depresi berat karena kepergian papi dan aku memakluminya karena mami Mas Ibra juga drop dan Mas Ibra harus mengurus mami sampai mereka berdua settle. Aku juga ceritakan semuanya ke Mas Ibra mulai dari hamil, aborsi dan dianggap perusak rumah tangga orang. Mas Ibra sempat naik pitam dan ingin menghajar Herri habis-habisan malam itu, persetan jika harus terbang ke Surabaya malam itu juga dia tak perduli. Kalau perlu Mas Ibra ingin menuntut keluarga Herri atas banyak pasal yang dia jelaskan padaku tapi aku lupa ahaha. Aku menahannya karena bagiku percuma, semuanya tak akan kembali ke sedia kala dan hanya akan menimbulkan kebencian yang semakin menjadi-jadi antara aku dan keluarga Herri. Aku bilang pada Mas Ibra kalau Herri mau backstreet dan Mas Ibra nampak sekali emosinya ingin menyeruak.
Mas Ibra: "Mila, wanita kesayangankuuu. Duh kamu tuh kenapa sih, baik banget jadi orang"
Aku: "Apanya, aku dendam tau Mas. Tapi ya percuma kalau kulampiasin, gak bakal merubah apa-apa. Orang kalau udah benci, apa aja baiknya aku tetap salah di mata mereka. Ya daripada kamu buang-buang tenaga dan uang mending diem aja."
Mas Ibra: "Terus, sekarang kamu ke Gereja?"
Aku: "Iya, sementara. Aku lebih tenang dan jauh lebih baik mentalnya sekarang."
Mas Ibra langsung meraih tanganku: "Kalau gitu, mending kamu sama aku Mila. Aku janji akan bahagiain kamu. Toh kamu sekarang udah Katolik, tinggalin lah si bajingan itu. Kamu mau kan?"
Aku terdiam, fikiranku di awang-awang. Sampai akhirnya aku sadar.
Aku: "Mas, aku sayang banget sama kamu. Tapi, Herri itu bapaknya anakku, segimanapun dia ke aku, aku tetap harus sama dia. Aku udah punya dosa besar dengan membiarkan anakku dibunuh, aku dan Herri harus tanggung jawab mas. Setidaknya anakku bisa lihat orangtuanya bersatu meski dia harus pergi ke surga dalam prosesnya."
Mas Ibra: "Hufffffhhh. Apapun keputusanmu Mila, aku dukung karena sampai detik ini gak berkurang cinta aku buat kamu. Saat kamu merasa stuck, aku akan ada disini buat kamu dan siap jadi akhir perjalananmu. Tapi janji, jalani ini sepenuh hatimu ya. Pilih yang bisa bikin kamu bahagia, aku tahu Herri bukan kebahagiaanmu dan kamu hanya bingung saat ini. Tapi biarlah, kamu nikmati dulu. Suatu saat aku yakin kamu akan ketemu dengan kebahagiaanmu, entah itu aku atau orang lain. Yang jelas, aku akan jagain kamu dari jauh."
Aku menggenggam tangan Mas Ibra erat sekali, air mataku menetes deras. Dalam hati kecilku aku ingin sekali memeluk dan memilihnya, tapi aku tahu hatiku ada di Herri dan ada yang harus kupertanggungjawabkan bersama dia. Aku tak mau menyeret Mas Ibra dalam hidupku yang sudah terlanjur kotor dan keruh. Aku yakin bukan aku cinta sejatinya Mas Ibra.
Kami tak lagi membicarakan masalah yang membuat hati kami nyeri, tapi membahas semua yang menyenangkan di masa-masa kami pacaran. Malam itu kami habiskan dengan berkeliling kota Jakarta sampai akhirnya Mas Ibra mengantarku pulang. Dia membukakan pintu dan memelukku erat sekali dan kurasakan dia membenamkan wajahnya di leherku, melepaskan pelukannya dan mengelus-elus kepalaku. Malam itu aku pamit dan kami tak lagi saling bertukar kabar. Aku ceritakan pada Herri pertemuanku dengan Mas Ibra malam itu, dia nampak agak kesal tapi kemudian tidak marah dan bilang dia akan pulang ke Jakarta 3-4 hari lagi.
--
Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu tak terasa sudah di pertengahan 2016 dengan segunung ganjalan di dadaku. Aku bersembunyi di belakang Herri sudah hampir satu setengah tahun lamanya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti kerja dan pindah ke sebuah perusahaan besar dari luar negeri. Hari itu kuputuskan untuk berhenti bersembunyi dan menurunkan harga diriku dengan meminta maaf duluan pada Ibu. Aku mengiriminya sebuah email panjang lebar karena nomor teleponku diblokir olehnya.
Dear Ibu,
Maaf menghubungi lewat email karena aku tidak tahu harus mengabari lewat mana, semua akses media sosial dan telepon diblokir. Mohon maaf kalau selama ini aku menyakiti perasaan ibu entah itu secara sengaja ataupun tidak. Tidak ada maksud untuk menyakiti ibu dan keluarga karena aku menyayangi ibu sama seperti aku menyayangi ibuku sendiri. Semua yang terjadi selama ini diluar kehendakku dan aku akan menebusnya sebisa mungkin. Walau aku tak seperti yang Ibu pernah bilang dan aku ga pernah ada kontak dengan Smith dan gak kepengen ngerebut siapapun. (aku lupa pesan selanjutnya, intinya aku minta maaf terserah dimaafkan atau tidak. dan aku bilang kalau aku dan Herri selama ini masih berhubungan walau hanya sebatas teman)
Herri dan janji-janji palsunya yang akan menyelesaikan masalah kami seolah-olah di comfort zone dan aku juga yang akhirnya yang harus turun tangan. Sedangkan aku sudah pesan padanya bahwa di umur 25th aku ingin menikah. Tapi jangankan menikah, tabungan dan restupun tidak nampak hilalnya. Aku berniat melepaskan Herri tapi aku sayang padanya dan aku sudah janji dengan diriku sendiri untuk memperbaiki kesalahan kami berdua. Dan akhirnya aku yang turun tangan menangani Ibu.
Ibu membalas emailku keesokan harinya dan dia bilang ingin meneleponku. Entah kenapa sejak backstreet aku rasanya takut mendengar nama "Ibu", nama adik-adiknya, jika Herri menerima telepon dari Ibu atau sedang membicarakan keluarganya ada rasa takut dan nyeri di dadaku, tanganku gemetaran, kepalaku panas dan jantungku berdegub kencang. Belakangan aku tahu bahwa itu adalah adrenaline rush karena rasa trauma yang tercipta oleh sosok bernama "Ibu".
Ibu: "Halo, cah ayuuuu..."
Aku: "Halo Ibu, apa kabarnya?"
Ibu: "Baik nduk sayaang, kamu piye? Sehat tho? Lagi apa ini? Sama Herri nggak?"
Aku: "Sehat Bu, ini lagi duduk di depan kamar. Herri di kantor kayaknya"
Ibu: "Iyaa, Ibu udah baca emailmu. Ibu juga minta maaf ya kalau ada salah sama Mila. Ibu tu sedih kehilangan Smith, Ibu kayak yang kehilangan arah, separuh hidup Ibu entah kemana."
Aku: "Iya bu aku ngerti, aku juga minta maaf kalau ada salah sama Ibu. Aku ga ngerebut siapa-siapa tapi keadaan jadi begini"
Ibu: "Iya yawes yang terjadi ya kehendak Gusti Allah. Ibu kemaren taunya Smith lagi ada di Hawaii, ibu mau mbujuk dia pulang kok yo angel men. Susah, dia masih takut sama Ibu. Ibu udah minta maaf dan janji ga akan ulangin lagi lho"
Aku: "Ibu udah bisa kontakan tho?"
Ibu: "Udah ni, lewat Twitter. Tapi yo ngono, Ibu ancene pengin nyusuli wong iku ke Hawaii tapi yo takut nyasar Ibu. Kamu mbok mbantuin Ibu ajak discuss dia supaya mau balik ke Surabaya"
Aku: "Piye carane bu? Aku takut nanti salah lagi"
Ibu: "Lho ya katanya mau nebus dosa, piye sih kowe ki!! Niat po ora??!!"
Aku: "Lha iya, tapi kan kalau aku kontakan lagi nanti aku takut salah langkah."
Ibu: "HALAH BILANG WES KALO GAK NIAT, BILANG WES KALAU MAU IBU MAKIN STRESS TRUS MATI, ITU THO KEPENGINANMU??!!"
Aku: "Enggak bu engga, yen kalo aku ngontak wong iku tanpa ibu disampingku yang menyaksikan nanti dadi fitnah aku yo wedi bu. Biar nanti aku coba atur sama Herri gimana caranya biar si Smith bisa pulang"
Ibu: "PAKE DUKUN DIGUNA-GUNA KALI YA BIAR DIA BALIK, TAPI JANGAN KAMU GUNA-GUNA BIAR TERGILA-GILA SAMA KAMU, SUAMIKU IKU!!!"
Aku: "Astaga, aku ini mau bantu mau biar kita baik lagi tanpa harus menimbulkan resiko fitnah kedepannya. Tolonglah bu"
Ibu: "NGGAK PERCAYA AKU, NYESEL AKU MAAFIN KAMU! EMANG DASAR WANITA GAK BENER KAMU INI! MAU REBUT SMITH LAGI KAN??? MAU NYAKITIN AKU KAN?!!"
Aku: (kutarik nafas yang dalam) TERSERAH LAH BU, NIATKU BAIK. KALAU GAK MAU YASUDAH BENCILAH AKU SEUMUR HIDUP. AKU GAK PEDULI LAGI!!!"
Prakkkk!!!! Handphoneku kulempar kedinding dengan emosi yang diubun-ubun. Sejurus kemudian kuambil lagi handphoneku dan kublokir semua nomor Ibu dan semua orang yang ada hubungannya dengan dia. Sempat terfikir untuk minta putus dengan Herri tapi lagi-lagi ada rasa sakit di dada, gemetar, pening ketakutan mengingat aku sudah mengorbankan anakku untuk sejauh ini kenapa aku sampai bisa terfikir meninggalkan Herri?
Malamnya Herri pulang kerja dan langsung mengetuk pintu kamarku, dia masuk dan duduk diam menatapku.
Saat itu dia menghela nafas panjang dan berkata, "Ibu cerita semuanya. Aku gak ngerti harus gimana sama kalian. Barusan dia chat bilang dia minta maaf udah khilaf marah-marah lagi. Dia minta baikan dan minta kamu buka blokirnya."
Aku diam seribu bahasa dan memberikan handphoneku padanya, Herri membuka blokir dan meletakkan handphoneku kemudian kembali ke kamarnya. Sejurus kemudian ada pesan masuk, kulirik ada 3 nama di notifikasi. Ibu, Herri dan Mas Ibra.
(Bersambung)
Aku: "Halo.... Mas Ibra?"
Mas Ibra: "Halo, Mila... Sayang. Kamu dimana? Mas di Jakarta, kita harus ketemu"
Sore itu, aku habiskan berputar-putar di sebuah pusat perbelanjaan mencari pakaian yang tepat untuk kukenakan malam itu. Mas Ibra mengajakku dinner di tempat dulu kami mengucap cinta pertama kali. Dia akan tiba di kost pukul 7 malam dan berpesan untuk mengenakan pakaian terbaikku. Setelah lelah berputar-putar tapi tak menemukan yang aku suka, akhirnya aku pulang dan memilih night dressku di lemari saja.
Kubongkar isi lemari, kupilih pakaian yang sekiranya cocok dengan pakaian yang mungkin akan dikenakan Mas Ibra malam nanti sampai mataku tertuju ke sebuah gaun berwarna biru yang kusimpan rapi dan tak pernah kukenakan bertahun-tahun lamanya, gaun pemberian Mas Ibra. Sengaja gaun itu kusimpan rapat di tempat penyimpanan barang-barang lamaku, bahkan Herri tak tahu tentang pakaian itu. Herri tau tentang Mas Ibra dan dia merasa Mas Ibra ancaman dalam hubungan kami. Karena itu aku tak memberitahunya tentang barang-barang pemberian Mas Ibra, bukan karena aku ingin menyembunyikan tapi karena aku tak ingin menyakiti perasaan Herri, karena aku tak bisa membuang begitu saja barang-barang pemberian orang yang sudah banyak sekali jasanya di hidupku.
Sekedar intermezzo, Herri punya kebencian tersendiri tentang Mas Ibra tapi dilain sisi dia sangat antusias tentang kisah cintaku dengan Mas Ibra terutama kisah ranjang kami. Kufikir karena dia ingin menyaingi Mas Ibra, tapi sepertinya bukan. Herri punya fetish yang aneh, dia suka membayangkan aku bersama lelaki lain terutama Mas Ibra saat kami berhubungan intim. Herri kerap kali minta aku melenguhkan nama Mas Ibra setiap kami berhubungan, awalnya aku fikir yasudahlah biarkan saja. Tapi entah kenapa Herri makin menjadi dan seolah tidak bisa puas kalau aku tak menceritakan hubungan seksku dengan Mas Ibra atau melenguhkan namanya setiap berhubungan. Terganggu? Sangat. Aku jadi tidak bisa melupakan masa laluku karena Herri terus ingin aku menceritakan tentang Mas Ibra, tapi kalau aku bercerita tentang Mas Ibra diluar hubungan intim Herri bisa sangat marah padaku.
Kalau ada kesempatan, aku ingin buat satu thread tentang kisah-kisah anehku sama mantan, tapi agak 17+. Kalau pada ok, baru kubuat kalo engga ya gajadi ahaha. Soalnya ini ceritanya banyak yg aku skip.
Sama niatnya bikin thread khusus cerita sama pasanganku yg sekarang, cerita sama mas ibra aja sama cerita sama mama papaku aja. Biar detil ceritanya. Tapi kalau pada suka sih, kalau engga ya gajadi juga ahahaha.
--
Deru mobil terdengar di depan pagar, aku langsung bergegas mengambil tas, berkaca sebentar merapikan makeupku, memasang heels dan kemudian menyusul Mas Ibra di depan. Aku mengenakan gaun biru pemberiannya (untung masih muat), heels yang aku beli saat masih jadi pacarnya dan tas warna hitam kesukaannya. Mas Ibra sudah berdiri di samping mobilnya dan memandangku terpaku.
Mas Ibra: "Hey, long time no see. As always you look gorgeous, I miss you Mila" - Ibra memelukku lembut sambil menyodorkan buket bunga mawar dan lily kesukaanku.
Aku: "I miss you too mas, banyak yang harus kita bicarakan sepertinya."
Mas Ibra: "Selalu ada waktu buatmu. Yuk"
Mas Ibra membukakan pintu mobil untukku dan kami langsung bergegas ke sebuah restoran tempat kami dulu sering berkencan. Di mobil kami tak banyak bicara. Mas Ibra fokus menyetir sambil sesekali melirik ke arahku dan tersenyum, aku seperti biasa memandanginya sepuas hati melepas rindu. Entah kenapa aku selalu terpaku pada aroma parfum dan caranya berpakaian yang sungguh rapi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Malam ini dia mengenakan kemeja hitam slimfit dengan celana jeans hitam serta sepatu yang dulu kubelikan untuknya. Rambutnya disisir rapi kesamping dengan wajah yang bersih dari kumis dan jenggot. Aaah kenapa sih putus, umpatku dalam hati.
Malam itu aku diperlakukan seperti kami baru saja memadu kasih, berbincang tentang banyak hal mulai dari papi mas ibra yang dulu meninggal dunia, kepindahannya ke Jakarta beberapa hari lalu dan bisnis orangtuanya yang sekarang dipegang olehnya. Mas Ibra meminta maaf sempat menghilang dan tak menghubungiku karena dia sempat depresi berat karena kepergian papi dan aku memakluminya karena mami Mas Ibra juga drop dan Mas Ibra harus mengurus mami sampai mereka berdua settle. Aku juga ceritakan semuanya ke Mas Ibra mulai dari hamil, aborsi dan dianggap perusak rumah tangga orang. Mas Ibra sempat naik pitam dan ingin menghajar Herri habis-habisan malam itu, persetan jika harus terbang ke Surabaya malam itu juga dia tak perduli. Kalau perlu Mas Ibra ingin menuntut keluarga Herri atas banyak pasal yang dia jelaskan padaku tapi aku lupa ahaha. Aku menahannya karena bagiku percuma, semuanya tak akan kembali ke sedia kala dan hanya akan menimbulkan kebencian yang semakin menjadi-jadi antara aku dan keluarga Herri. Aku bilang pada Mas Ibra kalau Herri mau backstreet dan Mas Ibra nampak sekali emosinya ingin menyeruak.
Mas Ibra: "Mila, wanita kesayangankuuu. Duh kamu tuh kenapa sih, baik banget jadi orang"
Aku: "Apanya, aku dendam tau Mas. Tapi ya percuma kalau kulampiasin, gak bakal merubah apa-apa. Orang kalau udah benci, apa aja baiknya aku tetap salah di mata mereka. Ya daripada kamu buang-buang tenaga dan uang mending diem aja."
Mas Ibra: "Terus, sekarang kamu ke Gereja?"
Aku: "Iya, sementara. Aku lebih tenang dan jauh lebih baik mentalnya sekarang."
Mas Ibra langsung meraih tanganku: "Kalau gitu, mending kamu sama aku Mila. Aku janji akan bahagiain kamu. Toh kamu sekarang udah Katolik, tinggalin lah si bajingan itu. Kamu mau kan?"
Aku terdiam, fikiranku di awang-awang. Sampai akhirnya aku sadar.
Aku: "Mas, aku sayang banget sama kamu. Tapi, Herri itu bapaknya anakku, segimanapun dia ke aku, aku tetap harus sama dia. Aku udah punya dosa besar dengan membiarkan anakku dibunuh, aku dan Herri harus tanggung jawab mas. Setidaknya anakku bisa lihat orangtuanya bersatu meski dia harus pergi ke surga dalam prosesnya."
Mas Ibra: "Hufffffhhh. Apapun keputusanmu Mila, aku dukung karena sampai detik ini gak berkurang cinta aku buat kamu. Saat kamu merasa stuck, aku akan ada disini buat kamu dan siap jadi akhir perjalananmu. Tapi janji, jalani ini sepenuh hatimu ya. Pilih yang bisa bikin kamu bahagia, aku tahu Herri bukan kebahagiaanmu dan kamu hanya bingung saat ini. Tapi biarlah, kamu nikmati dulu. Suatu saat aku yakin kamu akan ketemu dengan kebahagiaanmu, entah itu aku atau orang lain. Yang jelas, aku akan jagain kamu dari jauh."
Aku menggenggam tangan Mas Ibra erat sekali, air mataku menetes deras. Dalam hati kecilku aku ingin sekali memeluk dan memilihnya, tapi aku tahu hatiku ada di Herri dan ada yang harus kupertanggungjawabkan bersama dia. Aku tak mau menyeret Mas Ibra dalam hidupku yang sudah terlanjur kotor dan keruh. Aku yakin bukan aku cinta sejatinya Mas Ibra.
Kami tak lagi membicarakan masalah yang membuat hati kami nyeri, tapi membahas semua yang menyenangkan di masa-masa kami pacaran. Malam itu kami habiskan dengan berkeliling kota Jakarta sampai akhirnya Mas Ibra mengantarku pulang. Dia membukakan pintu dan memelukku erat sekali dan kurasakan dia membenamkan wajahnya di leherku, melepaskan pelukannya dan mengelus-elus kepalaku. Malam itu aku pamit dan kami tak lagi saling bertukar kabar. Aku ceritakan pada Herri pertemuanku dengan Mas Ibra malam itu, dia nampak agak kesal tapi kemudian tidak marah dan bilang dia akan pulang ke Jakarta 3-4 hari lagi.
--
Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu tak terasa sudah di pertengahan 2016 dengan segunung ganjalan di dadaku. Aku bersembunyi di belakang Herri sudah hampir satu setengah tahun lamanya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti kerja dan pindah ke sebuah perusahaan besar dari luar negeri. Hari itu kuputuskan untuk berhenti bersembunyi dan menurunkan harga diriku dengan meminta maaf duluan pada Ibu. Aku mengiriminya sebuah email panjang lebar karena nomor teleponku diblokir olehnya.
Dear Ibu,
Maaf menghubungi lewat email karena aku tidak tahu harus mengabari lewat mana, semua akses media sosial dan telepon diblokir. Mohon maaf kalau selama ini aku menyakiti perasaan ibu entah itu secara sengaja ataupun tidak. Tidak ada maksud untuk menyakiti ibu dan keluarga karena aku menyayangi ibu sama seperti aku menyayangi ibuku sendiri. Semua yang terjadi selama ini diluar kehendakku dan aku akan menebusnya sebisa mungkin. Walau aku tak seperti yang Ibu pernah bilang dan aku ga pernah ada kontak dengan Smith dan gak kepengen ngerebut siapapun. (aku lupa pesan selanjutnya, intinya aku minta maaf terserah dimaafkan atau tidak. dan aku bilang kalau aku dan Herri selama ini masih berhubungan walau hanya sebatas teman)
Herri dan janji-janji palsunya yang akan menyelesaikan masalah kami seolah-olah di comfort zone dan aku juga yang akhirnya yang harus turun tangan. Sedangkan aku sudah pesan padanya bahwa di umur 25th aku ingin menikah. Tapi jangankan menikah, tabungan dan restupun tidak nampak hilalnya. Aku berniat melepaskan Herri tapi aku sayang padanya dan aku sudah janji dengan diriku sendiri untuk memperbaiki kesalahan kami berdua. Dan akhirnya aku yang turun tangan menangani Ibu.
Ibu membalas emailku keesokan harinya dan dia bilang ingin meneleponku. Entah kenapa sejak backstreet aku rasanya takut mendengar nama "Ibu", nama adik-adiknya, jika Herri menerima telepon dari Ibu atau sedang membicarakan keluarganya ada rasa takut dan nyeri di dadaku, tanganku gemetaran, kepalaku panas dan jantungku berdegub kencang. Belakangan aku tahu bahwa itu adalah adrenaline rush karena rasa trauma yang tercipta oleh sosok bernama "Ibu".
Ibu: "Halo, cah ayuuuu..."
Aku: "Halo Ibu, apa kabarnya?"
Ibu: "Baik nduk sayaang, kamu piye? Sehat tho? Lagi apa ini? Sama Herri nggak?"
Aku: "Sehat Bu, ini lagi duduk di depan kamar. Herri di kantor kayaknya"
Ibu: "Iyaa, Ibu udah baca emailmu. Ibu juga minta maaf ya kalau ada salah sama Mila. Ibu tu sedih kehilangan Smith, Ibu kayak yang kehilangan arah, separuh hidup Ibu entah kemana."
Aku: "Iya bu aku ngerti, aku juga minta maaf kalau ada salah sama Ibu. Aku ga ngerebut siapa-siapa tapi keadaan jadi begini"
Ibu: "Iya yawes yang terjadi ya kehendak Gusti Allah. Ibu kemaren taunya Smith lagi ada di Hawaii, ibu mau mbujuk dia pulang kok yo angel men. Susah, dia masih takut sama Ibu. Ibu udah minta maaf dan janji ga akan ulangin lagi lho"
Aku: "Ibu udah bisa kontakan tho?"
Ibu: "Udah ni, lewat Twitter. Tapi yo ngono, Ibu ancene pengin nyusuli wong iku ke Hawaii tapi yo takut nyasar Ibu. Kamu mbok mbantuin Ibu ajak discuss dia supaya mau balik ke Surabaya"
Aku: "Piye carane bu? Aku takut nanti salah lagi"
Ibu: "Lho ya katanya mau nebus dosa, piye sih kowe ki!! Niat po ora??!!"
Aku: "Lha iya, tapi kan kalau aku kontakan lagi nanti aku takut salah langkah."
Ibu: "HALAH BILANG WES KALO GAK NIAT, BILANG WES KALAU MAU IBU MAKIN STRESS TRUS MATI, ITU THO KEPENGINANMU??!!"
Aku: "Enggak bu engga, yen kalo aku ngontak wong iku tanpa ibu disampingku yang menyaksikan nanti dadi fitnah aku yo wedi bu. Biar nanti aku coba atur sama Herri gimana caranya biar si Smith bisa pulang"
Ibu: "PAKE DUKUN DIGUNA-GUNA KALI YA BIAR DIA BALIK, TAPI JANGAN KAMU GUNA-GUNA BIAR TERGILA-GILA SAMA KAMU, SUAMIKU IKU!!!"
Aku: "Astaga, aku ini mau bantu mau biar kita baik lagi tanpa harus menimbulkan resiko fitnah kedepannya. Tolonglah bu"
Ibu: "NGGAK PERCAYA AKU, NYESEL AKU MAAFIN KAMU! EMANG DASAR WANITA GAK BENER KAMU INI! MAU REBUT SMITH LAGI KAN??? MAU NYAKITIN AKU KAN?!!"
Aku: (kutarik nafas yang dalam) TERSERAH LAH BU, NIATKU BAIK. KALAU GAK MAU YASUDAH BENCILAH AKU SEUMUR HIDUP. AKU GAK PEDULI LAGI!!!"
Prakkkk!!!! Handphoneku kulempar kedinding dengan emosi yang diubun-ubun. Sejurus kemudian kuambil lagi handphoneku dan kublokir semua nomor Ibu dan semua orang yang ada hubungannya dengan dia. Sempat terfikir untuk minta putus dengan Herri tapi lagi-lagi ada rasa sakit di dada, gemetar, pening ketakutan mengingat aku sudah mengorbankan anakku untuk sejauh ini kenapa aku sampai bisa terfikir meninggalkan Herri?
Malamnya Herri pulang kerja dan langsung mengetuk pintu kamarku, dia masuk dan duduk diam menatapku.
Saat itu dia menghela nafas panjang dan berkata, "Ibu cerita semuanya. Aku gak ngerti harus gimana sama kalian. Barusan dia chat bilang dia minta maaf udah khilaf marah-marah lagi. Dia minta baikan dan minta kamu buka blokirnya."
Aku diam seribu bahasa dan memberikan handphoneku padanya, Herri membuka blokir dan meletakkan handphoneku kemudian kembali ke kamarnya. Sejurus kemudian ada pesan masuk, kulirik ada 3 nama di notifikasi. Ibu, Herri dan Mas Ibra.
(Bersambung)
Diubah oleh deadtree 14-11-2019 17:42
nomorelies dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Tutup