- Beranda
- Stories from the Heart
AKU ZAHRA
...
TS
shopia2005
AKU ZAHRA

Namaku Zahra
"Siapa dia? " sepasang mata wanita muda menelisik sekujur tubuhku.
"Dia bakal jdi tambang emas kita," Mami Luki tersenyum lebar
"Dekil begini?" Wanita muda berpakaian super seksi nampak mengejek
Aku mengkeret, ruangan yang tadi kurasa begitu dingin kini berangsur berubah
"Tugasmu untuk merubahnya, Trysia."
"Aku akan ke luar negeri bulan ini."
"Jangan menghindar hanya karna kau takut tersaingi olehnya." Setengah melotot Mami Luki menghentakan kakinya.
"Oke, Mi. Tapi jangan berikan pelangganku padanya." Trysia menarik tanganku ke sebuah ruangan yang terletak jauh dari ruang tadi tempat kami bertemu.
"Siapa namamu?" Suara masih tak bersahabat.
"Aku Zahra, Bu." Jawabku sopan.
"Mandi dulu sana. Ingat jangan panggil aku Ibu, aku baru 30 tahun tau." Sengitnya
"Jangan lupa, pakai baju yang ada di lemari itu, semuanya untukmu.
"Baik, Mbak. Terima kasih." Aku menunduk
Trysia menunjuk ke arah kamar mandi
Aku mengikuti perintahnya.
Dengan masih mengenakan handuk aku tercenung di depan lemari besar yang berisi penuh dengan pakaian warna warni.
Namun, aku tak berani memakainya, karna hampir semuanya setengah terbuka
"Kenapa masih pake handuk? Ayo pilih bajunya, zahra." Suara Trysia menghentakan pikiranku
"Lama-lama kau akan terbiasa juga." Tukasnya seolah paham isi hatiku.
Dengan bantuannya, akhirnya sebuah mini dress hitam melekat di tubuhku.
"Bener juga kata Mami, loe cakep kalo pake baju gini." Suaranya terdengar tulus
"Mbak, saya risih pake ini." Aku menunduk menatap tubuhku di cermin, sesaat wajah Bapak melintas.
Andai masih hidup, betapa marahnya jika dia melihatku berpenampilan seperti ini.
"Pak, seandainya Bapak masih ada, aku tidak akan ada ditempat kotor ini." Gumamku
"Sudahlah, malam ini kau istirahat. Besok aku akan mengajakmu ke salon."
Trysia melangkah keluar meninggalkanku yang masih termenung. Entah dimana aku saat ini, Wanita yang dipanggil Mami Luki lah yang membawaku ke tempat ini. Dia berjanji jika aku akan dipekerjakan di tempat yang bergaji besar.
Tapi tempat apa ini? Apa tempat ini akan memberikanku kebahagian? Atau aku akan terkubur dalam genangan duka kembali sama. Seperti sebelumnya?
Jika aku meneliti ucapan Trisia, tempat ini bukanlah tempat baik, tapi kemana lagi aku bisa pergi dari kejaran para rentenir jahat itu selain disini.
Karna hanya pada Mami Luki para penjahat itu bisa percaya, jika aku akan membayar semua hutang-hutang keluargaku.
Dalam kebingungan dan kelelahan yang sangat akhirnya aku terlelap.
🌸 🌸 🌸 🌸
Dua hari kemudian
"Zahra, Mami Luki memanggilmu." Trysia kembali menyeretku ke ruang dimana Wanita yang dipanggil Mami itu berada.
Kami melewati lorong dimana para pria hilir mudik, sesekali matanya melirik nakal ke arah dadaku yang membusung indah, walau sudah kucoba menutupinya dengan rambut yang terurai panjang, namun itu semakin membuat mereka terpesona
Langkahku terseok, karna mengenakan heels yang cukup tinggi.
Pakaian ketat super pendek, serta gincu dan riasan tebal di wajah membuat penampilanku benar-benar mirip pramuria. Buah dada yang dulu kututupi kini setengah terbuka, ranumnya membuat pandangan pria-pria yang menatapku berdecak.
Aku hampir tidak mengenali bentuk rupa yang kumiliki sejak dua hari ini. Zahra, terkutuklah kau dan pekerjaan najismu ini!
"Wow! Sempurna sekali Trys, kau memang bisa diandalkan." Mata Mami Luki menatapku, lalu berdecak kagum.
"Mam, aku ada janji dengan Harris malam ini."
"Harris terus yang kau pikirkan, dia tak punya cukup uang untuk membuatmu bahagia."
"Sekali ini saja, sebagai bonus untuk suksesnya aku memvermak Zahra." Suara Trysia setengah memohon, dengan tatapan mata penuh harap
"Ya sudah, pergi sana!" Mami Luki nampak sangat tidak menyukai pria yang disebutkan Trysia.
"Terima kasih Mam." Trisia melonjak gembira, matanya berkedip ke arahku, namun aku tak memahami maksudnya.
"Zahra, temuilah pasien pertamamu malam ini."
Aku terdiam, tak paham akan apa yang dikatakan Mami Luki.
"Ayolah, kasian dia sudah lama menunggu, layani dia dengan baik."
Wanita berpenampilan wow ini membimbingku memasuki sebuah ruangan yang sudah dipenuhi dengan orang-orang yang sedang asyik berdansa.
Bau minuman menyeruak tajam, belum lagi lampu yang kerlap-kerlip semakin membuat kepalaku pening.
"Ini dia Tuan Sudjito, beruntung kau jadi wanita pilihannya malam ini, Sayang." Mami Luki berkedip nakal
"Lama sekali, aku sampai bosan menunggunya."
"Sabar dong, Tuan, yang penting kan tidak mengecewakan, yang minta dia ngantri banget, tapi karna Tuan langganan disini ya aku lebih memilih tuan malam ini."
Mata tuan Sudjito menatapku, lelaki tambun itu menyeringai, sorot netranya seolah ingin menerkamku saat itu juga, lidahnya berdecap, menjijikan. Hanya air liur saja yang tidak menetes dari mulutnya.
"Yakin dia virgin?" Mata nakalnya kembali melirik ke arah sensitifku, membuatku semakin jengah
Kini aku mulai paham, akan pekerjaan yang dijanjikan oleh Mami Luki padaku.
"Seratus persen, jika gagal virgin, uangmu akan kukembalikan lima puluh persen, Tuan." Lagi Mami luki mencubit pipi Tuan Sudjito, genit.
"Layani dia, puaskan syahwatnya, jika kau ingin terbebas dari para rentenir jahat itu." Bisik Mami Luki ditelingaku.
"Oke, kami pamit dulu, besok pagi akan kuantarkan kembali dia padamu." Tuan Sudjito meraih pinggangku, lalu menuntunku menuju luar rumah mewah yang ternyata tempat mesum ini.
"Kita main di hotel saja cantik, disini terlalu bising." Bisik Tuan sudjito, begitu dekat ditelingaku, hingga kumisnya seakan menggelitiki.
Tak pernah terbayang, aku harus menghabiskan malam bersama pria sebejad ini, seandainya ada cara untuk bisa merubah takdir yang sangat menyedihkan.
Dalam hatiku menjerit, mengutuk nasib dan jalan hidup yang harus kutempuh.
Garis tanganku memang tak seindah impian, cita-cita untuk hidup bahagia bersama kekasih tercinta tinggalah mimpi saja. Bencana besar itu merubah segalanya.
"Ya Allah, ampuni dosa-dosa hamba, kabulkan satu saja permintaan hamba, jauhkanlah hamba dari pria menjijikan ini sekarang." Batinku.
Penampakan Steven Bersambung:
Pict by: pinterest
0
1.1K
7
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
shopia2005
#1
Pria Menjijikan

Sepanjang perjalan aku tak berhenti berdoa pada yang maha kuasa, sedangkan Om Sudjito sepertinya sudah begitu tak kuat menahan baiknya.
Sesekali tangannya meraba pahaku, sering pula dia mencubit pipi, dan menjulurkan lidahnya, seakan ingin segera menelanku bulat-bulat. Raut wajah berminyak itu terlihat sangat menjijikan.
Sesampainya di sebuah hotel mewah, hatiku semakin tak karuan, takut, bingung, sedih dan putus asa menyatu di dada yang sudah sangat sesak ini, Menangis... Air mata ini sudah mengering, tangisan hanya membuat aku semakin rapuh dan tak berdaya.
Mungkinkah malam ini menjadi malam terakhir untukku dalam mempertahankan kehormatan ini?
Ya Allah, begitu susahnya bertahan dari hal nista di dunia ini sekarang.
“Manisku, ayolah aku sudah membayarmu dengan mahal, jangan sia-siakan malam ini.” Hembusan nafasnya yang memburu membuatku bergidik
“Zahra, jka kau bisa memberiku kepuasan lebih, maka akan kuberikan tips yang bisa kau belikan apa saja yang kau inginkan.” Tangan pria itu sibuk memainkan rambutku dari belakang
“Om enggak minum dulu, biar lebih kuat.” Kataku mengalihkan perhatiannya dari tubuhku
“Pintar juga kamu, Manis.” Jawabnya menjawil daguku, lalu memencet tombol sambil mengucapkan pesanannya.
Tak berapa lama, pelayan datang dengan membawa beberapa minuman dlam botol dan dua buah gelas cantik, serta buah-buahan segar, tak lupa bongkahan es batu nampak diatas mangkuk dengan ukuran agak besar.
Setelah memberi tips yang lumayan banyak pada si pelayan, pria itu melanjutkan aksinya
Pria paruh baya yang seharusnya saat ini berada bersama anak istrinya di rumah terus menciumi punggungku dengan rakusnya. Hingga air liurnya terasa lengket di kulitku.
“Om, aku ke toilet dulu ya, enggak tahan nih.” Kata-kataku menghentikan aksi ganasnya
“Oke Manis. Tapi jangan lama-lama ya.” Sekilas kulihat pria tambun itu mulai melucuti pakaiannya
“Om minum saja dulu.” Tergesa aku masuk ke toilet
Aku terkejut, saat melihat bercak darah yang sudah membasahi celana dalam yang aku pakai, padahal ini bukan jadwal tamu bulananku.
“Ya allah, apakah ini pertolongan darimu?” desisku, antara bingung dan bahagia, secercah harapan terbersit di benakku.
Dengan gontai aku berjalan keluar toilet, jantungku berdegub semakin kencang
“Manis, ayolah, kenapa kau hanya berdiri saja disitu?” Om sudjito membuka dua lengannya, mungkin berharap aku akan segera datang kedalam pelukannya.
“Om, Maaf ya, aku…aku datang bulan.” Jawabku dengan bibir bergetar, bagaimana jika Om Sudjito tetap minta kulayani meski dalam keadaan kotor begini, dan pastinya ini kan lebih menjijikan dari sebelumnya.
“Apa? Kamu Lagi Mens?” Pria itu melotot padaku
Aku mengangguk
“Ya Tuhan! Hancur sudah semuanya.” Umpatnya.
Heran, Pria seberengsek ini masih bisa menyebut nama Tuhan saat dia gagal melakukan perbuatan bejadnya, Miris sekali.
Lalu dia meneguk beberapa gelas minuman dengan raut wajah kesal.
“Zahra, kali ini kuberikan keringanan padamu, tapi ingat Minggu depan, akan kuminta jatahku kembali pada Luki. Tapi setidaknya aku bisa mencumbumu saat ini, kemarilah, Sayang.” Tangannya merengkuh bahuku.
Aroma alkohol menyengat, membuat perutku mual
“Ayolah, tariff kamu itu ratusan Juta, biarlah Om mencicip bagian tubuhmu yang lain, jika malam ini Om gagal menikmati keperawananmu.”
Rasanya mau muntah ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya, Aku hanya menundukan kepala, mencari cara kembali untuk menghindar dari nafsu buas lelaki yang sudah dirasuki setan ini.
“Om. Sebagai gantinya, aku coba pijat Om ya,” Kataku mecoba meredakan kekesalannya.
“Zahra, aku membayarmu Mahal, jika hanya sekedar memijat, aku bisa datang ke panti pijat yang lebih hot dari kamu.” Gertaknya menahan emosi.
“Setidaknya biar Om enggak terlalu kecewa, lagian kan Om pasti abis kerja seharian, pastinya lelah banget, dicoba ya Om.” Kembali kucari sisi baik dari pria menjijikan ini dari pada dia minta yang macam-macam kayak sebelumnya.
Lalu tanpa menunggu persetujuan darinya, kusentuh pelan-pelan leher pria bertubuh tambun ini, lalu kupijat dengan perlahan, mengeluarkan ilmu yang kudapat dari Nenek saat masih SMP dulu.
Awalnya pria itu nampak masih kesal dengan tingkahku, namun semakin ku luaskan area pijitanku ke punggungnya akhirnya pria itu pasrah menelungkupkan tubuh.
“Gila, aku rela mengeluarkan uang seratus Juta hanya untuk dipijat saja.” Rutuknya
Namun aku tak memperdulikannya, semakin aku berusaha agar dia nyaman dengan pijatan- pijatan yang kuberikan padanya.
Tak berapa lama, benar saja, pria itu telah tertidur pulas, walau sesekali tangannya gentayangan berusaha menyentuh tubuhku, namun aku menepisnya dengan pelan.
Dengkuran keras mulai terdengar dari mulutnya yang beraroma busuk. Aku tak bisa membayangkan jika mulut itu menciumku. Membayangkannya saja hampir membuatku muntah
Cepat aku meminta obat gosok dan minyak hangat untuk mengoles badan pria bejad itu, agar tidurmya semakin pulas, hingga aku bisa melewati malam menakutkan ini tanpa harus melayani nasfu buasnya.
Keringat mengucur dari seluruh pori-pori tubuhku, lelah juga memijat tubuh besarnya, heran orang kaya sepertinya memiliki kulit yang sangat keras, berbeda dengan Bapak yang setiap hari harus bekerja di lading, tapi karna sering beribadah, kulit bapakku terasa lembut, saat aku memijat kakinya juga tidak sekasar pria ini.
Dengan lemas aku bersimpuh di lantai, mengucap syukur pada Tuhan, atas pertolongannya malam ini.
Ya Allah pada siapa lagi aku memohon selain pada-Mu, engkau maha segalanya, tiada yang tak mungkin bagi Mu jika sudah berkehendak.
“Bu, sabarlah, Zahra pasti datang menjemput Ibu dan adik-adik, kita kan berkumpul kembali, Bu.” Rintihku, sekilas wajah-wajah orang-orang yang aku kasihi melintas.
Mau tak mau, mengingatkanku pada tragedi masa lalu yang memporak porandakan kehidupan kami.
Pikiranku melayang pada kejadian itu, saat Bapak tergiur untuk berinvestasi pada sebuah koprasi abal-abal hingga ratusan juta rupiah, rayuan serta janji manis yang diucapkan para pegawai koprasi itu begitu membius orang-orang, hingga bukan hanya Bapak, hampir semua tetanggaku juga bernasib sama. Namun, bapak lah nasabah dengan jumlah investasi terbanyak.
Dalam bebrapa bulan saja, kami sudah kehilangan segalanya, rumah, ladang dan sawah milik bapak serta beberapa kolam lele telah berpindah tangan pada Bank, dimana Bapak menggadaikan semuanya demi bisa berinvestasi dengan besar pada koprasi itu.
Belum lagi, hutang pada pak Winangun, seorang rentenir kejam yang ada di kampung kami, bayangkan saja hutang bapak yang hanya dua puluh juta, dalam setahun sudah menjadi ratusan juta rupiah, penghasilan kami habis hanya untuk membayar bunganya saja.
Aku juga heran, mengapa Bapak, orang yang cukup tegas dalam hal agama harus terlibat dalam sistem uang riba yang sudah jelas dilarang dalam Alqur’an. Mungkin saat itu tidak ada jalan lain yang bisa Bapak pilih untuk melanjutkan usahanya.
Akhirnya, Bapak tidak kuat menanggung beban hidup yang dirasa diciptakan olehnya, Bapak sangat terpukul dengan keadaan kami yang kini jauh dari sejahtera, untuk makan saja, ibu harus menjadi buruh cuci, dan Bapak pun harus jadi buruh kasar di Pasar, dan aku harus rela tidak meneruskan sekolah demi membantu ekonomi keluarga.
Ditengah kondisi yang semakin memprihatinkan, Bapak terserang stroke, juga komplikasi, Jantung serta diabetes turut menyerangnya, hingga lelaki tangguh yang sesungguhnya sangat kusayangi itu menghembuskan napas terakhir dalam keadaan yang sangat memilukan.
Hanya aku dan ibu, dua orang yang bertugas mengubur jenazah Bapak, serta pak Ust Romli yang berkenan membacakan doa talkin untuk Bapak, semuanya terjadi hanya karna kami miskin, seandainya Bapak meninggal saat beliau masih Berjaya, tentu akan beda ceritanya, pasti warga akan berduyun-duyun mengantarkan jenazah bapak ke tempat peristirahannya yang terahir.
Setelah kepergian Bapak, ekonomi kami semakin terpuruk, tiada lagi tetangga yang ramah, keluarga yang perhatian, semuanya meninggalkan kami disaat kami begitu membutuhkan uluran tangan mereka.
Teman-teman yang dulu begitu dekat, saat itu tak lagi ada, aku sendiri berjuang menghidupi tiga adik dan ibu yang kini juga dalam kondisi sakit.
Hati ini begitu sakit, kecewa, marah dan benci jadi satu di dadaku, ingin rasanya aku berteriak pada mereka untuk mengingatkan kebaikan-kebaikan yang pernah dibuat orang tuaku pada manusia-manusia tak tau balas budi itu. Inikah balasan dari kebaikan-kebaikan kami?
Ancaman-ancaman dari anak buah pak Winangun untuk segera melunasi hutang semakin membuatku tercekik. Aku tak lagi perduli pada cita-cita dan harapan yang pernah kumiliki dulu, saat ini yang ada di otakku adalah bagaimana agar bisa bertahan hidup dan bisa melunasi hutang bapak secepatnya.
Hingga pada suatu waktu Pak Winangun menawarkan agar aku bekerja pada club malam dipinggir kota miliknya, agar setiap bulan aku bisa mencicil hutang-hutang Bapak padanya.
Awalnya Ibu melarang, karna khawatir akan hal buruk yang terjadi, namun karna tidak ada lagi jalan yang bisa kami lakukan, akhirnya ibu menyetujuinya. Dengan syarat aku hanya menyanyi saja tidak melakukan hal-hal selain itu. Walau bagaimanapun, kami masih punya iman, sesuai yang diajarkan Bapak juga ibu serta guru mengajiku dulu.
Namun, semuanya semakin rumit saat aku bertemu Bang Abi, Anak laki-laki Pak Winangun yang diam-diam mencintaiku.
Bersambung
0