Kaskus

Story

malaikatrinduAvatar border
TS
malaikatrindu
Demi Surga Yang Terbakar
Demi Surga Yang Terbakar

ﺑِﺴْــــــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮﺣِﻴْﻢِ

--o0o-- BLURB--o0o--

Istri Rasulullah SAW, Khadijah ra, menjadi teladan bagi Asyiah, terutama ketaatannya kepada agama dan juga karena beliau seorang saudagar wanita yang sukses. Asyiah berasal dari keluarga pengurus pesantren. Dia juga seorang pendakwah muda yang memiliki pemikiran kritis, realistis dan logis. Beasiswanya ke Universitas Lincoln, Inggris, diterima. Namun, Abi melarang keras dengan dalih jangan bersekolah di negara non-muslim. Juga biola kesayangannya yang dihancurkan dengan alasan musik itu haram.

Setelah berjuang, akhirnya Asyiah bisa berangkat. Di sana, dia bertemu dengan laki-laki ateis asal Prancis bernama Daniel Jimson. Berbagai pertanyaan tentang Tuhan, agama dan kebenaran dari pria tersebut dijawab dengan baik oleh Asyiah. Sejak saat itulah Daniel mulai mencintai Islam, juga Asyiah. Muslimah itupun sama. Namun saat ia pulang sementara ke Indonesia, Kakak Asyiah tak sengaja menemukan catatan berisi adiknya yang mencintai seorang tak beragama di negeri nun jauh itu. Padahal, keluarga telah menjodohkannya secara sembunyi-sembunyi dengan teman Asyiah sendiri yang telah kenal sejak MTs. Hal ini berakibat pengusiran Asyiah dari pesantren.

Sahar Van Costa, sahabat Asyiah dari Belanda bertanya padanya, apakah agama masih menyuruhnya berbakti pada ayah yang telah mencoba merusak kesuciannya. Tetangga apartemennya, memaki Asyiah dengan sebutan "iblis" karena dianggap sebagai biang kematian suami dan anaknya yang tewas dalam tragedi bom Madrid dan bom London.

Sebuah konspirasi pembunuhan kepada Asyiah bergerak secara bergerilya. Mulai dari percobaan pemusnahan nyawa, pelecehan kehormatan hingga yang lainnya. Tak sampai di sana, sebuah rahasia sangat besar terungkap. Rahasia yang tak seorang pun akan percaya jika mendengarnya.

Rahasia apakah itu? Akankah Asyiah kuat bertahan dan terus menebar dakwah? Lalu, bagaimana nasib cintanya dengan Daniel? Serta hubungannya dengan Abi?

Temukan jawabannya dalam novel ini!



Demi Surga Yang Terbakar

Copyright © 2019 Alfikri Saga / @malaikatrindu


*****


DAFTAR ISI












--o0o---
Diubah oleh malaikatrindu 12-11-2019 13:44
lina.whAvatar border
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
2.7K
29
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
malaikatrinduAvatar border
TS
malaikatrindu
#2
Bab 2 - Musik Halal atau Haram?
ﺑِﺴْــــــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮﺣِﻴْﻢِ

***


kaskus-image
fixabay.com


Siang ini, Asyiah berencana pergi ke rumah Kak Farhatun, salah satu alumnus Universitas Lincoln, tiga tahun silam. Jaraknya cukup dekat, jalan kaki paling hanya sepuluh menit. Rumahnya ada di pinggir jalan raya, dekat masjid kecamatan. Kalau dari pesantren, tinggal lurus saja, kemudian belok kanan sekali saat di pertigaan.

Asyiah telah izin kepada Umi kalau dia hendak pergi. Untunglah, beliau memperbolehkan. Padahal, hari ini ada kegiatan cukup penting di pesantren, yakni hari jadi pondok. Tapi mau bagaimana lagi, Kak Farhatun jarang di rumah. Bahkan, untuk pertemuan ini saja sudah direncanakan jauh-jauh hari, sejak dua minggu lalu.

Asyiah berangkat ke sana tak ditemani siapapun. Dan setelah jalan kaki beberapa saat, akhirnya sampai juga. Sekarang, gadis berbulu mata lentik itu berada tepat di depan rumah Kak Farhatun. Dua tingkat bergaya minimalis. Ukuranya cukup besar. Cat didominasi warna cokelat dan kuning. Tampak pula, bunga anggrek berbagai warna dan pohon mangga menghiasi pekarangan. Suasana asri begitu kentara.

"Assalamu'alaikum...." Asyiah memijat bel sembari berdiri di balik pagar.

"Wa'alaikumussalam!" Terdengar sahutan dari dalam rumah. Sepertinya orang itu menjawab sambil berjalan menghampiri. Lima detik kemudian, pintu depan berwarna cokelat tua itu terbuka, memperlihatkan sosok perempuan yang ia cari, Kak Farhatun.

"Eh, Asyiah?! Sudah sampai rupanya. Mohon maaf, mohon maaf." tuturnya dengan ekspresi sedikit terkejut. Dia berjalan menghampiri pagar, lalu mempersilahkan cucu pemilik pesantren tersebut masuk.

"Ngobrolnya mau di luar atau di dalam?" tanya Kak Farhatun.

"Di luar saja, Kak, biar lebih santai."

"Oh, baik. Tapi, tunggu sebentar, ya, aku buat minum dulu buat kamu."

Asyiah mengangguk.

"Eh, ngomong-ngomong mau minum apa? Teh? Kopi? Susu? Sirup? Jus?"

"Air putih saja," jawab Asyiah.

"Itu saja?"

Asyiah kembali memanggut. Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu mengacungkan jempol dengan energik. Lalu, segera masuk. Sementara Asyiah langsung menjatuhkan badan di kursi.
Kak Farhatun orangnya sangat supel. Juga mandiri. Sejak kecil, dia tinggal bersama sang nenek yang kini telah tiada. Rumah yang saat ini disinggahi Asyiah merupakan hasil jerit payahnya. Dia juga mendapat beasiswa dari Universitas Lincoln, Inggris. Jurusan yang diambil Kak Farhatun sama dengan Asyiah, yakni Business and Enterprise Development BA. Setelah menyabet gelar sarjana, dia langsung bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama.

Kak Farhatun juga sosok yang salehah.  Meski begitu, dia terkadang di pandang sebelah mata oleh masyarakat karena Ibunya seorang pramuria. Sementara Ayahnya dipenjara karena kasus pembunuhan.

Tak berselang lama, Kak Farhatun kembali dengan membawa gelas berisi air putih. Dia segera meletakannnya di atas meja. Kemudian, duduk.

"Kamu mau nanya-nanya soal kuliah, kan?" tanya Kak Farhatun membuka pembicaraan.

"Iya, Kak."

"Mm... boleh-boleh."

Asyiah tersenyum. "Jadi gini, Kak. Pengajuan beasiswa aku ke Universitas Lincoln alhamdulillah keterima. Sekarang, kan, bulan Juni dan aku mulai kuliah nanti bulan September. Aku mau nanya, hal-hal apa saja yang mesti dipersiapkan dari sekarang?"

"Subhanallah... sebelumnya selamat, ya, Asyiah, kamu memang hebat. Kakak udah yakin pasti kamu keterima." Wajah Kak Farhatun yang pembawaannya ramah tampak semakin semringah.

"Iya, Kak, Alhamdulilah. Tapi, kehebatan itu hanya milik Allah."

Kak Farhatun terkekeh. Dia mengangguk sembari beristigfar. "Ngomong-ngomong soal pertanyaanmu tadi. Menurut pengalaman Kakak, hal-hal yang mesti kamu persiapkan yang pertama pastinya adminitrasi seperti paspor, visa, dan lain-lain. Kemudian akomodasi, juga hal-hal yang berhubungan dengan jurusan yang kamu ambil."

Asyiah memanggut tazkim.

"Oh, iya, soal akomodasi, ada beberapa pilihan. Kalau yang biasa, sih, Student Village. Dari namanya saja sudah terbayang, kan? Tapi, nggak kampung-kampung juga, sih. Lebih mirip perumahan bergaya Eropa.
"Kalau kamu mau tinggal di penginapan lain juga bisa. Entah itu apartemen atau yang lainnya. Tapi, Kakak nyaranin kamu tinggal di Student Village karena lebih aman dan lebih murah. Suasananya rapi dan cukup asri. Bahkan, di sebelah Student Village ada danau kecil yang terkenal, namanya Bayford Pool. Bisa, lah, nanti main-main di sana. Seru! Apalagi nanti kalau musim semi. Beh, oke, banget!" tutur Kak Farhatun sembari mengacungkan ibu jari.

Asyiah terkekeh. "Iya, Kak, sebenarnya aku juga sudah pikiran. Agak bingung, sih. Tapi mendengar penjelasan tadi, dapat sedikit pencerahaan. Dan kedengarannya sepertinya asyik sekali."

Kak Farhatun tertawa.

"Terus kota Lincoln sendiri itu gimana, Kak? Asyik, nggak?"

"Oh, pasti itu. Untuk kotanya sendiri, Lincoln bukan kota metropolitan kayak London, Brimingham atau yang lainnya. Kota kecil yang terletak di tengah persawahan. Tapi jangan salah, kota ini merupakan salah satu kota bersejarah di Eropa. Ada Kastel Lincoln, High Bridge dan masih banyak lagi. Universitas Lincoln sendiri masuk peringkat 10 besar universitas sedunia dalam tingkat kepuasaan lulusan di dunia kerja. Untuk penduduknya sendiri, mereka ramah sekali. Bahkan, paling ramah di Inggris. Jadi, sopan santun di sana sangat penting."

"Meskipun sudah lihat-lihat di internet dan brosur. Tapi mendengar penjelasan-penjelasan Kakak, aku jadi gak sabar ingin cepat-cepat berangkat. He he."

Kak Farhatun tertawa. Memanggut-manggut. Dia kemudian menepuk bahu Asyiah sembari tersenyum menyemangati, "Sukses terus dan jangan menyerah!"

"Insya Allah, Kak."

Mereka pun berbincang-bincang hingga beberapa saat. Sesekali merubah topik. Tertawa dan bergurau. Dulu sebelum kuliah, Kak Farhatun merupakan santriwati di Pesantren Al-Umar. Suaranya bagus sekali. Dia selalu memboyong piala juara 1 lomba MTQ tingkat provinsi.

---o0o---


Gesekan biola nan syahdu menggiring pendengarnya ke dalam lantunan lagu yang dibawakan. Sore ini, sepulang dari rumah Kak Farhatun, Asyiah memainkan alat musik tersebut di balkon kobong puteri lantai tiga. Dia begitu piawai membawakan lagu Pirates of Carribean - He's a Pirate. Matanya terpejam menghayati setiap gesekan. Sementara tangannya begitu lincah mengikuti lagu tersebut. Bahkan, matahari pun ikut semangat. Dia menyiram muslimah itu dengan cahaya jingga yang menghangatkan. Lengkap sudah, Asyiah sudah mirip Mozart-wati di tengah surga.
Para santriwati yang ada di kobong lantai tiga sudah terbiasa menyaksikan cucu pemilik pondok pesantren tersebut melantunkan musik. Meski begitu, mereka tetap kagum. Banyak pula santriwati yang ada di bawah turut menyaksikan Asyiah. Mereka bertepuk tangan sambil menunjuk-nunjuk. Berseri-seri. Senang memang mendengarnya.

Namun, tidak semuanya suka.  Seorang lelaki berjubah putih dengan sorban biru melilit pada leher dan kepala, menyibak kerumunan para santriwati yang tengah hanyut menonton. Wajah pria tersebut tak ramah, mendengus-dengus seperti banteng yang siap menyuruduk. Langkah kakinya begitu cepat dan menghentak. Dan lelaki itu adalah Kiai Harun Al-Umar alias Abi. Dia mulai menaiki tangga menuju lantai tiga. Satu-dua santriwati yang mengerti hal apa yang akan terjadi mengigit bibir bagian bawah. Mata mereka menyipit ngeri.

Salsa, teman sekobong Asyiah menepuk-nepuk pundak gadis pemain biola tersebut agar berhenti. Namun entah karena terlalu khusyuk menghayati musik tersebut atau bagaimana, Asyiah masih membendel memainkan biola itu. Sampai, sebuah sorban memukul keras punggung Asyiah. Gadis itu pub tersebut terperenjat seketika. Biola yang dipegangnya pun langsung terlepas dan jatuh ke lantai.
Salsa menghela napas berat sambil memijat kening. Ini terlambat dan akan ada hal super buruk terjadi, pikirnya. Dia pun mundur beberapa langkah. Juga yang lain, takut ikut terciprat masalah ini.

"Asyiah! Berapa kali Abi bilang kepadamu, musik itu haram dan kamu jangan memainkannya! Apalagi ini pesantren, tempat menuntut ilmu agama. Bukan tempat bermaksiat! Kamu tahu itu?!" Mata Abi mendelik tajam.

"Abi... Asyiah bermain biola hanya untuk berlatih. Juga untuk media berdakwah, seperti Wali Songo. Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan yang lainnya," jawab gadis itu dengan wajah sedikit ketakutan.

"Musik, ya, musik! Dakwah, ya, dakwah! Firman Allah ‘Azza wa jalla:“ Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. [QS. Lukman: 6]"

"Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwasanya setelah Allah menceritakan tentang keadaan orang-orang yang berbahagia dalam ayat 1-5, yaitu orang-orang yang mendapat petunjuk dari firman Allah (Al-Qur’an) dan mereka merasa menikmati dan mendapatkan manfaat dari bacaan Al-Qur’an, lalu Allah Jalla Jalaaluh menceritakan dalam ayat 6 ini tentang orang-orang yang sengsara, yang mereka ini berpaling dari mendengarkan Al-Qur’an dan berbalik arah menuju nyanyian dan musik.

"Abdullah bin Mas’ud r.a, salah satu sahabat senior Nabi berkata ketika ditanya tentang maksud ayat ini, maka beliau menjawab bahwa itu adalah musik, seraya beliau bersumpah dan mengulangi perkataannya sebanyak tiga kali.
"Begitu juga dengan sahabat Abdullah bin Abbas r.a yang didoakan Rasulullah s.a.w agar Allah memberikan kelebihan kepada beliau dalam menafsirkan Al-Qur’an sehingga beliau dijuluki sebagai Turjumanul Qur’an , bahwasanya beliau juga mengatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan nyanyian.

"Al-Wahidy berkata bahwasanya ayat ini menjadi dalil bahwa nyanyian itu hukumnya haram.
Dan masih banyak lagi, ayat-ayat lainnya yang menjelaskan akan hal ini."

Asyiah diam menunduk. Abi adalah memang bukan penganut paham wahabisme yang keras. Tapi, setelah lulus S2 di salah satu universitas di Saudi Arabia, beliau terpengaruh cukup besar oleh paham itu.

Abi kemudian melanjutkan penjelasannya, "Bagaimana Rasulullah s.a.w mengkabarkan kepada umatnya tentang musik?
Asyiah, termasuk mukjizat yang Allah swt. berikan kepada Rasulullah s.a.w adalah pengetahuan beliau tentang hal yang terjadi di masa mendatang maupun yang terdahulu. Beliau pernah bersabda:
” Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik .” Sahih al-bukhori volume 7 Book of drinks hadits 5590.

"Asyiah, bukankah apa yang telah dikabarkan oleh beliau itu telah terjadi pada zaman kita saat ini? Dan juga terjadi pada kamu?

"Dan juga dalam hadis lain, secara terang-terangan Rasulullah s.a.w menjelaskan tentang musik. Beliau pernah bersabda:

“ Aku tidak melarang kalian menangis. Namun, yang aku larang adalah dua suara yang bodoh dan maksiat; suara di saat nyanyian hiburan/kesenangan, permainan dan lagu-lagu setan, serta suara ketika terjadi musibah, menampar wajah, merobek baju, dan jeritan setan.

"Kedua hadis di atas telah menjadi bukti untuk kita bahwasanya Allah dan Rasul-Nya telah melarang nyanyian beserta alat musik.

"Sebenarnya, masih banyak bukti-bukti lain baik dari Al-Qur’an, hadis, maupun perkataan ulama yang menunjukkan akan larangan dan celaan Islam terhadap nyanyian dan alat musik. Dan hal ini bisa dirujuk kembali ke kitabnya Ibnul Qayyim yang berjudul Ighatsatul Lahafan atau kitab-kitab ulama lainnya yang membahas tentang hal ini," lanjut Abah.

"Bismillahirrahmanirrohim... menurut Asyiah, musik tidak diharamkan asal tidak mendorong kepada ingkarnya seseorang dari Allah SWT. Hal tersebut berdasar pada:

"Pertama, tidak tertulis secara jelas di dalam Al-quran dan hadits secara gamblang mengenai larangan musik pada umumnya. Sebagaimana jelasnya larangan Allah terhadap segala sesuatu yang diharamkan seperti khamr, zina, syirik, dan yang lainnya. Yang sebagai acuan Abi adalah ayat sebagai berikut, dalam QS. Luqman, surah ke-31, ayat 6, disana tertulis yang artinya: “Dan diantara manusia terdapat perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.”

"Di atas dikatakan bahwa asbabunnuzul atau sebab turunnya ayat ini adalah mengenai musik. Maka benar apabila dilarang atas kita bermusik yang mana berisi perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia, tapi tidak terlarang secara jelas bahwa musik itu dilarang.

"Mungkin Abi akan berargumen, Al-Quran ada yang bersifat muhkam--jelas dalam tafsirnya--serta mutasyabih--kurang jelas dalam tafsirnya dan harus merujuk pada beberapa ayat serta hadits dan hanya Allah yang tahu. Mungkin Asyiah menganggap ayat tersebut mutasyabih. Menurut penjelasan tadi, ayat tersebut dapat dihubungkan pula pada salah satu hadits berikut:

“Sungguh benar-benar akan ada di antara umatku sekelompok orang yang akan menghalalkan zina, sutra, khamar, dan alat musik.”

Kedua, pada analisis ini, Asyiah akan membahas mengenai hadits di atas. Yang pertama, Asyiah mempelajari sedikit ilmu mengenai beliau--Imam bukhari, bila dikatakan beliau orang yang dapat dipercaya, melihat riwayat hidupnya maka 100% dapat dipercaya. Beliau sangat selektif. Apabila suatu sunah terdapat pada perawi yang diragukan maka tidak akan dimuat, dan dikisahkan bahwa tidak ada satu haditspun yang diriwayatkan melainkan setelah ia melaksanakan salat istikharah. Namun di lain sisi Allah SWT berfirman pada QS.Al-Hijr ayat 6 dan QS. Al-An’am ayat 115 yang isinya bahwa Al-Quran adalah satu-satunya yang Allah SWT jaga keasliannya hingga akhir zaman. Dalam hal ini bukan berarti Asyiah menyeret Abi untuk tidak yakin terhadap hadits yang jumhur ulama mengatakan sahih, dilihat dari segi kesahihan para perawinya kita bisa ikuti.

"Namun, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori atau Ibnu Majah sekalipun bisa multi tafsir apabila sudah masuk ke dalam tafsiran bahasa yang berbeda, sebagai contoh bahasa Inggris saja yang banyak orang tahu. Dalam bahasa Inggris tertulis "no smooking! ", dari kata tersebut oleh beberapa orang bisa diartikan dilarang/diharamkan segala sesuatu yang bisa menghasilkan asap, karena 'no ' yang berarti suatu perintah larangan dan 'smoking ' yang berarti membuat asap. Namun, adapula yang berpendapat asap yang dihasilkan mobil masih halal/boleh. Contoh tersebut mungkin bisa kita bantah karena kita berada di zaman yang sama di mana kita sudah ketahui bahwa pola kosa kata tersebut berarti dilarang merokok.

Bagaimana bila pola kosa kata--grammer--tersebut berasal dari zaman yang berbeda? Yang pola kosa katanya pun dapat berubah. Contoh lain di Malaysia ada kata rudapaksa bumi, rumah korban lelaki, dan lain sebagainya. Yang tentu saja istilah tersebut tidak kita pakai di Indonesia, meskipun masih satu rumpun bahasa.

"Nah, perbedaan tafsir masih, lah, sering terjadi walau sama periwayat, sehingga ke asliannya tidak ada yang terjamin.

"Kembali ke hadits diatas yang Asyiah kemukakan pada alasan yang pertama, di sisi lain hadits ini cukup bertentangan kepada hadits lain yang berisi:

“Ketika Rasulullah SAW menghadiri acara pernikahan, beliau datang dan berkumpul bersama para sahabatnya. Kemudian, datang dan berkumpul dua orang anak yang memainkan rebana, mereka (anak kecil yang bermain rebana) berkata (dalam syairnya), kebaikan para sahabat yang gugur dalam medan jihad (perang Badr). Kemudian, salah satu anak tersebut menyanjung Nabi SAW (mengatakan bahwa Rasullullah mengetahui akan hari esok). Beliau bersabda, “Tinggalkanlah ucapan tersebut, ucapkan saja yang tadi kau katakan.” (sahih bukhari volume 5 Book of Maghazi hadits 4001)

"Dari hadits di atas sangat jelas bahwa Rasullullah memperbolehkan acara musik tersebut berlangsung yang dalam hal ini kebetulan acara musiknya adalah rebana karena pada masanya alat musik tersebutlah yang digunakan dalam bermusik, dan diantara yang disinggung oleh Allah SWT mengenai orang yang menggunakan musik untuk menjauhkan dari jalan Allah adalah alat musik yang sama, hanya saja syairnya yang berbeda. Asyiah katakan demikian karena pada masa itu persebaran jenis alat musik masih bersifat lokal. Jadi bisa disimpulkan bahwa bukan soal alat musiknya, melainkan isi dari musik syair musik itu sendiri.

"Apakah pada era sekarang pengiringan musik Islami pada pernikahan hanya boleh di iringi oleh alat musik tradisional pada zaman itu saja? Apa sekalian pembawa pengantinnya juga harus pakai transportasi saat itu juga. Tentu saja Rosullullah tidak bisa mengatakan bahwa, "Alat musik rebana dan orgen tunggal saja yang boleh mengiringi musik Islami.” Karena Rasullullah tidak sekuasa Allah SWT yang Al-Aziz untuk mengetahui alat musik apa saja yang akan tercipta dimasa mendatang. Jadi apabila ada yang berpendapat musik tidak boleh kecuali rebana saja Asyiah kurang setuju, karena pada masa itu kebetulan yang ditampilkan hanya rebana tidak organ tunggal. Di sisi lain pada masa itu, banyak grup rebana yang justru liriknya mengajak kepada keburukan."

Ketiga, bukanlah kewenangan Rosullullah SAW dalam menentukan apa yang diharamkan--dilarang. Dalam hal ini Rasullullah SAW pernah ditegur Allah SWT dalam surah At-Tahrim ayat 1-5 yang artinya, "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang dihalalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Azbabul nuzul ayat ini adalah ketika beliau berkata kepada istrinya untuk tidak meminum madu lagi agar membuat istrinya senang. Namun meski demikian, Beliau adalah manusia pilihan Allah SWT yang senantiasa dalam bimbingan-Nya--dan itu bentuk dari bimbingan dan kecintaan-Nya bahwa beliau diberi petunjuk secara langsung (melalui malaikat-Nya) untuk segera memperbaiki. Teringat juga bahwa beliau melaksanakan tarawih berjamaah di masjid hanya beberapa kali saja. Dikhawatirkan umatnya akan menganggap bahwa itu wajib, sementara itu adalah sunnah, yang apabila dikerjakan mendapat pahala [HR. Nasai, Tirmdzi, Ibnu Majah,Abu Daud,Ahmad, Sahih]," tutur Asyiah berargumen.

Abi semakin jengkel dengan anak yang selalu menjawab setiap larangannya. Dia meraih biola itu dari tanah dengan wajah merah padam. Lalu, dia angkat tinggi-tinggi. Tenaga pada tangannya telah cukup kuat untuk membanting alat musik tersebut dengan sekali lemparan.

"Abi, apa yang akan Abi lakukan? Itu biola pemberian Nenek dari Tasikmalaya saat aku masih SD kelas 6! Jangan rusak Abi, Asyiah mohon...."

Seolah tak mau mendengarkan setiap kata anak perempuannya itu, Kiai Harun Al-Umar membanting biola itu ke tanah dengan sangat keras. Asyiah dan para sahabatnya yang ada di tempat itu memiringkan kepala sambil memejamkan mata, takut dengan apa yang akan dilakukan pria itu. Benar saja, seperkian detik kemudian, bunyi bantingan itu memecahkan keheningan. Para sahabat Asyiah menutup mulut dengan wajah terkejut sekaligus menaruh iba padanya. Sementara Asyiah sendiri langsung terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Dia menatap nanar puing alat musik tersebut. Hancur. Tak tentu bentuk.

"Dasar kau, anak pembangkang!" bentak Abi sambil melilitkan sorban tadi ke leher. Dia kemudian turun dari sana. Anak-anak yang menonton dari bawah langsung membubarkan diri saat melihat pria yang tengah marah besar itu berjalan mendekat.

Asyiah meraih sisa biola itu, lalu memeluknya sambil menangis. Badan dan kepalanya menyender pada pagar balkon dengan lesu. Salsa dan yang lain segera menghampirinya. Mereka langsung berpelukan sambil menyemangati gadis tersebut. []

---o0o---


Diubah oleh malaikatrindu 11-11-2019 13:17
todzzz
haz0204
lintangayudy
lintangayudy dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.