Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
Selamat Datang di Thread Gue 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Diubah oleh yanagi92055 08-09-2020 10:31
al.galauwiAvatar border
nacity.ts586Avatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 79 lainnya memberi reputasi
78
295.6K
4.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#1696
Mulai Pada Nakutin
“Mau apa lagi kamu?” gertak gue.

“Aku cuma mau minta maaf atas semuanya Ja. Semua yang pernah aku lakuin ke kamu.”

“Yaudah, aku udah maafin. Sekarang cabut aja Ket mendingan.”

“Aku mau ngobrol sebentar sama kamu boleh Ja?”

“Sebentar? Seberapa lama? Sebentarnya kita itu berjam-jam.”

“Satu jam mungkin?”

“Itu lama. Ket, kamu itu anak cerdas, masa nggak bisa bedain mana sebentar mana lama? Udah jadi b*go kamu karena dikurung dirumah
terus?”

“Kamu kok gitu sih Ja?” mata Keket mulai berkaca-kaca.

“Kok gitu? Kamu yang harusnya aku tanyain kayak gitu tau nggak!” kata gue sedikit membentak.

“Iya aku mau minta maaf makanya.”

“Dan aku maafin. Udah ya aku capek mau masuk dan tidur.”

“Tunggu sebentar kenapa sih Ja? kamu kenapa kayak gini banget sama aku sekarang?”

“Nggak bisa, aku capek. Dan jawaban pertanyaan kamu itu ya kamu pikir aja sendiri, masa seorang Keket yang NIM nya ada diatas waktu dikampus tiba-tiba jadi gobl*k nggak bisa mikir? Kan nggak mungkin. Keket yang aku kenal itu smart, charming, penyabar, dan selalu ada buat aku. Ngerti kamu?”

“Terus sekarang mau gimana dong? Apa yang aku bisa lakuin supaya aku bisa ngobrol lagi sama kamu?”

“Nggak ada yang bisa kamu lakuin selain pergi dari tempatku sekarang, nggak usah sok nyari informasi lagi tentang aku dari Mama atau adik aku, atau juga dari teman-teman aku lainnya.”

“Tapi Ja……”

“PERGI AJA SEKARANG KET……” kata gue membentak. Bibir gue bergetar.

Fine. Aku pergi. Tapi ingat, akan perjuangin kamu lagi setelah urusanku sama Mas Shega selesai.”

“Aku nggak peduli Ket, mau kamu cerai kek, mau kamu kimpoi lagi kek, mau nyebur ke laut sekalian kek, aku nggak peduli. Aku udah bahagia sekarang dan kamu nggak usah gangguin aku lagi. Ingat, aku udah maafin semuanya. Kita baik-baik aja, tapi aku nggak mau lagi berhubungan sama kamu. Ngerti kamu Ket?”

“Jahat kamu Ija.”

“Jahat mana sama kamu??? Oh iya, ini ada temanku butuh personil dikantor barunya, aku yakin kamu cocok. Kalau kamu mau menetap disini dan mulai kerja lagi, silakan hubungin dia. Tapi kamu nggak usah hubungin aku lagi. Anggep aja urusan kita selesai sampai disini.” Kata gue sambil menyerahkan kartu nama teman gue.

“Iya aku memang jahat banget sama kamu Ja. tapi please jangan kayak gini. Aku mau ngejaga hubungan dengan kamu. Bahkan disaat kayak gini aja kamu masih bantuin aku buat dapetin kerjaan, yang emang aku mau. Aku mau kerja lagi. Aku mau disini lagi. Aku nggak apa-apa hidup apa adanya dan nggak bermewah-mewah kayak dulu, asal aku diberi keleluasaan. Dan yang bisa support itu aku yakin Cuma kamu. Aku mau ngetuk pintu hati kamu lagi Ja. aku yakin kok, ada bagian dihati kamu yang kamu tinggalkan buat aku.”

“Sok kepedean kamu Ket. Udah ya, aku udah bahagia sama pasanganku yang sekarang, jadi kamu nggak usah sok mau masuk kekehidupan aku lagi Ket. Nggak usah sok ganggu-ganggu atau memelas minta dikasihanin. Aku udah coba bantu kamu semampuku. Aku Cuma bisa kasih info itu. Masih untung kamu yang aku kasih tau, karena ada beberapa temen juga yang butuh.”

“Ja, please. Kasih aku kesempatan lagi selepas urusanku dengan Mas Shega selesai ya.”

“Kamu gila ya Ket? Dulu kamu bersedia jadi serep aku aja itu udah aneh. Terus giliran aku yang berjuang buat kamu dan nembak kamu, kamu nolak. Terus giliran udah diterima, nggak lama aku ditinggalin gitu aja. Pakai acara ditinggiin setinggi-tingginya, terus dibanting sekenceng-kencengnya sampai aku luka parah. Nah sekarang setelah kamu gituin aku, kamu dengan enaknya mau minta kesempatan balik lagi? Yang bener aja Ket. Jangan jadi orang freak kamu.”

“Ja, aku dari dulu cuma cinta sama kamu. Pernikahan itu pun terjadi hanya karena cinta sepihak, bukan karena mau aku. Mau aku Cuma kamu doang. Nggak pernah ada yang lain. Aku nggak pernah mencintai Mas Shega, kamu tau kan itu? Sekarang semuanya udah terjadi, dan aku lega akan bercerai dengan Mas Shega. Aku pun berusaha untuk mendapatkan cinta sejati aku lagi Ja. kamu.”

“Hahaha, terus dengan begini aku langsung bisa iba dan nerima kamu gitu aja? Enak banget. nggak lah. Udah ya. aku nggak mau ribut sama kamu. Okelah aku maafin kamu dan kita berteman baik, tapi sekedar itu aja, nggak usah kamu ngeharapin apa-apa lagi dari aku.”

“Makasih ya Ja. tapi kamu harus inget, aku selalu cinta sama kamu Ja. nggak ada yang lain.”

“Ya terserah….yaudah aku mau masuk, kamu pulang aja.”

Baru aja gue nyuruh dia pulang, eh malah hujan turun. Jadinya gue dengan terpaksa mempersilakan Keket untuk masuk ke kostan gue. Gue membuatkannya kopi sachet.

“Kamu kenapa pindah kesini?”

“Ya nggak apa-apa, mau suasana baru aja.”

“Terus gimana kerjaan kamu?”

“Lancar-lancar aja.”

“Aku denger ada sedikit musibah ya mengenai perusahaan Papa kamu?”

“Udahlah itu urusan aku dan keluargaku. Nggak usah kamu banyak nanya-nanya.”

“Iya maaf.”

“Kamu tinggal dimana selama disini Ket?”

“Aku tinggal dirumah omku.”

“Oh. Jauh dari sini?”

“Nggak terlalu jauh juga sih. Aku bisa naik taksi kesana nanti.”

“Yaudah bagus deh. Aku mau tiduran dulu ya. itu kalau kamu mau nonton TV, nonton aja, atau kalau kamu mau baca-baca buku, silakan disebelah sana.”

“Iya…..” kata Keket sambil tersenyum kecil ke gue.

Setelah itu karena gue capek banget, gue ketiduran. Habis magrib gue dibangunin sama Keket untuk mandi dulu terus kemudian beribadah.

“Kamu kenapa lepas kerudung sih sekarang?” tanya gue.

“Aku disuruh Ja. karena katanya Mas Shega lebih nyaman aku nggak memakai kerudung. Rambutku katanya sayang kalau ketutupan.”

“Baah. Gila amat. Dan kamu nurut?”

“Iya. Mau gimana.”

“Beg* banget sih kamu Ket? Itu tuh kewajiban. Dan kamu udah make dari lama, terus mendadak gara-gara alasan ngikutin perintah suami terus kamu jadi gitu? Haha. Belajar gila.”

“Iya aku juga nggak mau awalnya, tapi Mas Shega selalu maksa aku kayak gitu Ja.”

“Haha. Yaudah sih, bukan urusan aku juga sebenernya. Kamu kan istrinya dia bukan istri aku.”

“Iya, tapi sebentar lagi aku bakal jadi mantan istrinya dia.” Katanya sambil tersenyum penuh arti ke gue.

“Hahahaha. Ya bodo amat juga Ket.”

“Kamu bener-bener udah nggak bisa buka hati lagi ya buat aku?”

“Nggak Ket. Udah cukup.”

“Aku akan tetep berusaha ya Ja. biar kamu bisa balik lagi sama aku.”

“Terserah kamu Ket, toh itu juga nggak akan berhasil kok Ket.”

“Btw, pacar kamu sekarang manis ya. Aku iri Ja.”

“Ya jelas lah kamu ngiri, dia kan yang sama aku sekarang, sementara kamu lagi merana sama suami kamu. Hahaha.”

“Iya, aku iri. Aku Cuma ngebayangin kalau aja waktu bisa diputar kembali.”

“Alah udahlah Ket, nggak usah sok melow kamu.”

“Maaf Ja. tapi semua memori yang kita lewatin itu melekat kuat diotak aku sampai sekarang. Mungkin juga sampai nanti.”

“Aku nggak tuh…karena emang aku berusaha untuk lupain semuanya. Jadi aku nggak ada lagi mau inget-inget memori tentang kita. Itu Cuma bikin sakit doang. Tau kamu?”

“Iya Ja…..”

Gue melihat keluar dan ternyata hujan sudah reda. Dan gue mempersilakan Keket untuk pulang. Keket pun pamit.

“Aku pulang ya.”

“Iya silakan. Dan nggak usah nemuin aku lagi kalau bisa.”

“Aku nggak akan bisa kalau nggak nemuin kamu.”

“Alesan aja kamu Ket.”

Tiba-tiba gue dicium sama Keket. Kebiasaan Keket yang suka nyosor duluan ini ternyata nggak berubah. Pikiran gue saat itu jadi kembali ke masa lalu. Rasa ini begitu indah dulu. Tapi yang gue rasa sekarang Cuma nafsu doang. Ya, gue tau Keket mencium gue pakai hati. Sementara gue hanya diam, karena yang gue rasa hanya nafsu. Rasa sayang gue udah hilang walaupun belum seratus persen. Keket terus mencium gue dengan lembut. Gue pun membalasnya, tapi nggak ada pakai hati. Gue hanya mau ngerasain ciuman sama istri orang aja waktu itu.
Pada akhirnya gue melepaskan ciuman gue.

“Makasih ya Ija.”

“Ehmm..ya oke lah..sama-sama.”

“Kapan waktu aku main lagi kesini ya?”

“Nggak usah. Anggep aja tadi itu sebagai perpisahan.”

Keket hanya tersenyum dan kemudian pamit pulang. Gue kembali masuk kekostan gue.

--

Quote:


Anis mengajak gue ketemu. Gue semenjak Dee cabut memang jadi lebih banyak interaksi dengan dia, sebelumnya sesekali juga suka. Terutama nanya soal-soal kebiasaan cowok gitu dia. Katanya dia (Dee) ngontrol gue. Gue nggak masalah soal itu karena gue emang nggak kemana-mana dan nggak ngapa-ngapain. Anis selalu melaporkan perkembangan tentang gue ke Dee. Gue jujur aja sebenarnya agak keganggu lama-lama dengan sikap Dee yang kayak gini. Tujuan dia emang baik, tapi guenya jadi nggak nyaman sama sekali. Berasa dikekang banget gue. Bahkan ternyata secara nggak sadar, si Anis jadi hafal rutinitas gue.

Gue berangkat naik angkutan umum kesananya. Gue malas bawa mobil karena kalau weekend dijamin macet terus. Nggak lama gue sampai didepan rumah Anis. Rumahnya sepi banget. Mana gede banget lagi kan. Gue langsung kirim chat mengabarkan gue udah didepan rumahnya. Sebentar dia muncul didepan pagar dan gue kaget dia nggak pakai kerudungnya.

“Lah kok lo nggak pake kerudung nemuin gue?”

“Ya namanya juga dirumah. Yuk masuk Ja.”

“Dirumah lo ada siapa?”

“Ada abah gue doang. Seperti biasa.”

“Wahaha, basi bener ye. Laki lo nggak kesini?”

“Nggak, dia lagi ada tugas kuliahnya. Gue sekarang ini lagi agak jauh Ja sama dia.”

“Oh gitu. Dia adik kelas lo kan? Tapi beda kampus.”

“Iya, adik kelas. Haha.”

“Berondong ni yee.. hahaha.”

“Yaudah masuk dulu yuk…”

Gue dan Dia masuk kedalam rumahnya. Rumah besarnya itu terlihat sepi. Gue nggak pernah masuk kedalam rumahnya dia. Gue pernah nganterin dia hanya sampai pintu depan rumahnya aja, nggak sampai masuk kedalam. Rumahnya asri, tapi gue nggak ngerasa ada aura yang baik dirumah ini. Rumah ini berasa terlalu banyak menyimpan kesedihan. Entah kenapa gue ngerasa kayak gitu.

Dia mempersilakan duduk di ruang TV nya aja. Sementara dia lagi kebelakang, mungkin bikin minum atau ngambil cemilan. Nggak lama dia muncul kembali dari dapur dan membawa nampan berisi makanan kecil dan minuman. Lalu dari balik tembok belakang TV muncul bapaknya. Bapaknya ini ganteng buat ukuran orang yang udah cukup berumur. Dia tersenyum ke gue, tapi nggak ngajak gue ngomong.

“Gue ceritain lo kok ke Abah. Gue cerita kalo lo ini cowoknya Dee sahabat gue. Abah kan juga kenal sama Dee karena dulu Dee waktu kami masih kelasnya dicampur jaman tingkat satu, suka nginep disini daripada dikostannya. Dulu juga masih ada Ibu. Jadi rumah ini rame banget kalau weekend gini Ja.”

“Wah iya ya? kok Dee nggak pernah cerita sama gue ya? hahaha.”

“Ya belum aja kali Ja. Eh itu diminum dulu Ja.”

“Iya gue minum ya Nis.”

Lalu Anis mulai bercerita tentang cowoknya yang luar biasa cuek. Ujung-ujungnya malah ngebanding-bandingin lagi nasib dia sama Dee yang punya cowok kayak gue. pembicaraan hangat dan ringan ini berlangsung sampai nggak kerasa hampir dua jam aja. Anis bener-bener ngeluarin unek-uneknya tentang cowoknya yang culun ini. Haha. Gue Cuma jadi pendengar yang baik aja sambil sesekali ngasih saran-saran. Ternyata bokapnya Anis keluar rumah nggak bilang dulu sama Anis. Jadinya gue dan Anis berdua doang dirumahnya. Gue udah mulai ngerasa Anis ini sambil menyelam minum ciu, eh minum air.

Gue menangkap gelagat yang agak nggak wajar dari Anis. Jangan-jangan ini modus dia doang nih mau curhat. Padahal mah minta ditemenin selama weekend mumpung nggak ada Dee. Dia emang sepertinya tipe cewek yang selalu haus dengan belaian. Nggak bisa kalau nggak ada pacar, atau temen deket cowok.

“Nis, lo nggak lagi kepingin ngalihin perhatian gue dari Dee kan?”

“Hah? Maksud lo?”

“Haha udah deh Nis. Gue tau kok.”

“Apan sih Ja. haha.”

“Iyalah Nis. Lo itu mau diperlakukan kaya Dee kan?”

“Kalo itu emang iya sih Ja. tapi bukan berarti gue maunya sama kayak Dee banget.”

“Mau sama juga nggak apa-apa Nis. Hahaha.”

“Haha apaan sih lo Ja.”

“Udahlah Nis. Gue tau kok. Lo nyaman ngobrol sama gue. sekarang logikanya gini, lo bisa telepon, tapi lo malah minta gue dateng. Jadinya apa kalau lo nggak pingin diutamain kayak Dee, dari gue?”

“Hmm…oke-oke Ja. iya. Oke gue ngaku, gue ngiri banget sama Dee bisa punya cowok yang care banget sama dia. Bersedia berkorban buat dia. Selalu ada kalau dia lagi sedih, bisa nemenin dia kalau lagi butuh ditemenin.”

“Gue nggak kayak gitu banget sih baidewei. Tapi emang kalau gue punya cewek, ya harus care lah. Lah dapetinnya aja susah Nis. Hahaha.”

“Hahaha cowok kayak lo mah nggak akan susah dapetin cewek kali Ja.”

“Haha kata siapa? Susah…”

“Modal lo udah cukup buat dapetin cewek manapun yang lo mau Ja.”

“Terus kalau kayak gitu, cewek yang udah punya cowok bisa digaet juga dong? Hahaha.”

“Haha mungkin juga Ja.”

“Yaudah berarti bener kan, tujuan lo kesini mau ngajakin gue meleng?”

“Heheh..kalau lo mau sih Ja.”

“Jaminan apa yang bisa gue dapetin kalau misalnya gue macem-macem sama lo terus nggak akan sampai ke Dee?”

“Hmm…ya gue nggak akan pernah bilang juga sih Ja. karena gue nggak mau juga bubaran sama cowok gue.”

“Hahaha. Nggak yakin gue. ntar pas lo lagi butuh gue tapi gue nggak bisa, lo ngomong lagi sama si Dee kalau udah main-main sama lo.”

“Haha nggak akan Ja.”

“Tetep nggak yakin.”

“Terus gue harus apa biar yakinin lo?”

“Lo gila yak. Temen sendiri ditikung. Hahaha.”

“Maaf Ja. tapi gue butuh perhatian sih sebenernya. Dan itu sangat mungkin gue dapetin dari lo. karena lo juga kan juga deket sama gue. gue aja jadi tau seluk beluk lo karena si Dee yang minta gue untuk kontrol lo. gue tau kok lo nggak nyaman sama cara protektif kayak gini. Makanya gue juga kadang ngarang-ngarang aja ngelaporin ke dianya.”

“Hah? Seriusan lo? hahaha. Gokil lo ya.”

“Pertaruhannya, persahabatan gue Ja. kalau ini sampai ke Dee, berarti gue udah ngorbanin persahabatan gue sama dia. Dan itu gue nggak mau. Dia udah banyak bantu gue, dia yang selalu ada bua gue Ja. gue nggak mau ninggalin dia, apalagi sampai dimusuhin sama dia. Tapi gue juga pingin perhatian kayak yang lo kasih ke Dee.”

“Gila lo Nis egois banget.”

“Iya emang mungkin gue egois Ja. tapi perasaan gue susah diajak kerjasama nih.”

“Anjir ye, ngomong lo udah kayak mantan gue aja soal perasaan gini. Hahaha.”

“Emang dia ngomong gitu juga?”

“Iya bener.”

“Hahaha. Kan apa gue bilang. Lo mungkin secara fisik nggak menonjol, tapi personality sama sikap lo ke cewek ini yang bikin orang jadi gampang suka sama lo. bahkan mengharapkan lebih. Kayak gue sekarang ini Ja.”

“Haha sadis lo Nis beneran deh.”

“Ya nggak apa-apa, gue pingin diperhatiin juga sama kayak Dee.”

“Yaelah Nis..Nis..”

Anis nampak serius dengan permintaannya kali ini. Gue agak ragu, tapi Anis meyakinkan gue kalau nggak akan ada yang bocor sampai kapanpun. Gue tetep aja ragu. Pada akhirnya gue pulang dan lumayan takut juga nanti malah Anis bilang macem-macem ke Dee. Pada saat perjalanan pulang gue tiba-tiba di chat.

((Dreet..Dreet..Dreet))

15_NURUL

Quote:



Diubah oleh yanagi92055 08-11-2019 17:13
sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.