Kaskus

News

dragonroarAvatar border
TS
dragonroar
Mengenal Siau, Kerajaan Kristen di Sulawesi Utara Abad 16
Mengenal Siau, Kerajaan Kristen di Sulawesi Utara Abad 16
Agustinus Hari-Histori-5.442 views

Mengenal Siau, Kerajaan Kristen di Sulawesi Utara Abad 16 Sebuah Gereja di kota Ulu, Siau peninggalan era Kerajaan Kristen Siau. (foto: istimewa)

Selain Kerajaan Larantuka di Flores bagian timur, di era kejayaan Nusantara, Kerajaan Siau adalah salah satu Kerajaan Kristen di Sulawesi bagian utara sejak abad ke-16 Masehi.
Keunikan Kerajaan Siau adalah negeri yang dibaptis. Dan ini sebabnya, Minggu menjadi hari yang istiwewa di sana. Zending Daniel Brilman ketika bersinggah pada 1927 sempat menulis deskripsi yang menakjubkan tentang keistimewaan itu; –Saat lonceng gereja mendeting pertama kali di suatu pagi, hari Minggu, 34.000 penduduk pulau tersebut seakan serentak bergerak menuju rumah-rumah ibadat–.

Kaum pria mengenakan celana dan baju bersih yang diseterika rapi. Kaum wanita dengan kebaya dihiasi renda lebar yang mahal dan dipakukan dengan peniti emas. Lainnya mengenakan sarong sutera, sanggul ikat dengan sisir besar yang indah dari kulit penyu dan peniti bertatahkan kancing emas. Selop-selop yang bagus dan sebuah payung sutera. Sementara kaum muda mengenakan gaun gaya Eropa.
Pemandangan Minggu itu sudah lazim sejak masa yang lebih jauh, ungkap penulis buku “Onze Zendingsvelden De Zending op de Sangi – en Talaud- eilanden”, yang kemudian diterjemahkan oleh GMIST menjadi “Wilayah-wilayah Zending Kita, Zending di Kepulaun Sangi dan Talaud” ini.
Ada keistimewaan lain lagi di pulau penghasil pala terbaik dunia itu, yaitu gunung Karangetang yang menjulang 1784 meter. Gunung ini pernah meletus pada tahun 1675, mengeluarkan lava pijarnya dengan sangat dahsyat. Karangetang sebelumnya tercatat sudah mengalami erupsi sebanyak 41 kali sejak tahun 1675 hingga masa Brilman. Dan, salah satu ciri khas dari gunung api ini, adalah satu-satunya gunung berapi di dunia yang pernah di baptis.
Karangetang dibaptis oleh Pendeta F. Kelling pada 1857. Ia seorang misionaris Nederlandsche Zending Genoodschaap (NZG) yang datang ke Siau untuk menyebarkan Injil. Pendeta tersebut menamakannya Yohanis. Sementara gunung tidak berapi di samping Karangetang yang dikenal dengan nama Tamata, juga ikut dibaptis, dinamakan Yohana.
Raksasa yang sedang berasap adalah metafora Brilman untuk menggambarkan lanskap pulau Siau. Sementara nama Kerajaan Siau sudah disebut dalam suatu publikasi peter Antonio Marta pada tahun 1588 dan Ds. F. Valentijn pada 1700, ungkap Brilman.
Data lain yang menyebutkan, pencantuman nama Kerajaan Siau dalam sejumlah sketsa dan peta pelayaran abad 16 oleh sejumlah penulis, diantaranya, catatan harian Antonio Pigaffeta, “Primer Viaje en Torno del Mondo” yang mencatat perjalanan eskader yang dipimpin Laksamana Magelhaes melewati Kepulauan Sangihe dan Talaud pada Oktober dan November 1521.
Tome Pires, dalam “The Suma Oriental of Tom Pires and the Book of Fransidco Rodriques” Armendo Cortesao, menyebut pulau Siau dengan nama Chiaoa. Nicolas Desliens pada tahun 1541 menyebut Siau dengan Siao. Huich Allardt menyebut Siaw pada 1652.
Lebih menarik lagi data yang dipapar sejarawan Dr Ivan RB Kaunang SS MHum. Dalam bukunya “Bulan Sabit di Nusa Utara, Perjumpaan Islam & Agama Suku di Kepulauan Sangihe Talaud”, ia menyebutkan, nama Siau sudah dicantumkan dalam buku pentunjuk pelayaran pelaut Cina, sebelum pelaut Spanyol dan Portugis melintasi perairan Nusa Utara (Kepulauan Sangihe Talaud).
Mengutip buku petunjuk pelayaran Shun Feng Hsin Sung tahun 1500, dosen Fakultas Ilmu Budaya (dulunya Fakultas Sastra) Universitas Sam Ratulangi Manado ini menyebut, nama Shao (Siau) telah dicatat sebagai bagian dari jalur Utara Cina melewati Zamboanga ke bagian Timur Mindanao, kemudian ke Selatan menuju pengunungan Shao atau Siau.
Seperti juga D Brilman, Kaunang mengungkapkan, jauh sebelum armada Eropa melintasi Sangihe Talaud, para pelaut dan pedagang Cina, Arab dan India telah menjadikan pulau-pulau Sangihe Talaud ini sebagai tujuan untuk mendapatkan produk-produk andalan seperti kayu hitam, minyak kelapa, kelapa, cengkeh, pala dan fuli serta persediaan makanan. Juga sebagai daerah lintasan dari Mindanao ke Maluku.
Ikwal Persentuhan Dengan Kekristenan
Kerajaan Siau didirikan raja pertama Lokongbanua pada tahun 1510 dan eksis selama lebih 4 abad hingga masa akhir Presiden Pengganti Raja Siau Ch David, tahun 1956, atau 11 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta.
Awal persentuhan Siau dengan kekristenan catat sejumlah sumber sejarah Gereja di Sulawesi Utara, seiring expedisi Potugal dan Spanyol yang membawa imam-imam Katolik (Missionaris-missionaris Katolik) memasuki perairan Sulawesi Utara dan Maluku Utara sejak tahun 1511 dan 1522.
Sebelum disentuh kekristenan, penduduk negeri itu catat Brilman, menganut semacam “kepercayaan mana”, penyembahan orang mati dan kepercayaan pada roh-roh serta dewa-dewa. Kata “mana” adalah suatu kata bahasa Milanesia yang pertama-tama digunakan oleh Zendeling Inggris Codrington untuk menyatakan suatu tenaga sakti penuh rahasia.
Dalam catatan sejarawan Pitres Sombowadile, pada 1516 misi Katolik Portugis pernah singgah dan menyelenggarakan misa paskah di ibukota Kerajaan Siau, Paseng. Disebutkan, Raja Lokongbanua ikut menghadiri misa paskah tersebut.
Meski Katolik sudah menggelar acara misa, namun tahun itu tidak serta merta disebut agama Katolik sudah dianut kerajaan ini. Karena dalam catatan Portugis nanti pada tahun 1563 agama itu dianut, yaitu oleh Raja Siau II Posuma (1549-1587). Agama ini dibawa oleh paderi Diego de Magelhaes dari Kesultanan Ternate.
Misi Katolik itu tulis Sombowadile, dikirimkan Portugis untuk mendahului kedatangan rombongan yang diutus Sultan Khairun dari Kerajaan Ternate untuk membawa siar Islam ke Sulawesi Utara. Rombongan siar itu bahkan langsung dipimpin Pangeran Baabullah.
Sementara sejarawan Sem Narande dalam “Vadu La Paskah” menyebutkan, Raja Posuma tercatat dibaptis menjadi Katolik di sungai besar di Kota Manado bersama 1500 orang rakyat dan Raja Manado Kinalang Damopolii. Diego de Magelhaes datang bersama expedisi Panglima Portugis Heurique de Sa yang membawa 2 kapal.
Mesionaris D. Brilman membenarkan adanya efektuasi yang luar biasa dalam kehidupan iman jemaat dan masyarakat di lingkungannya sesudah 14 hari Peter Diego De Magelhaes membaptis 1500 orang jemaat yang pertama sekaligus bersama 2 orang Raja yaitu Raja Manado dan Raja Siau.
Kesaksian yang sama juga ditulis dr. Godee Molsbergen dan Wessels, Schwengke, Peter Muskens, dan buku dari Dr. Muller Kruger, seorang dosen yang pernah mengajar di sekolah tinggi Theologia Jakarta.
Dalam berbagai literatur Portugis dan Spanyol, Posuma dikenal dengan nama baptis, Don Jeronimo atau Hieronimus. Dalam masa pemerintahan Raja Posuma, di Siau umat Kristen sudah mencapai 25.000 orang.
Meskipun sudah sejak zaman Raja Posuma memeluk agama Katolik, namun nanti pada zaman Raja Winsulangi kerajaan Siau layak disebut sebagai kerajaan Kristen Katolik, ungkap Sombowadile.
Berbagai catatan paderi menyebutkan bagaimana penyebaran misi Katolik difasilitasi dari Siau ke berbagai tempat di Sulawesi Utara dan Tengah. Kejayaan kerajaan ini dicapai pada masa raja Batahi ((1639-1678) dan anaknya, Raja Ramenusa (1680-1715).
Tercatat sebelum masa VOC- Belanda, pada tahun 1594 Raja Siau Ketiga Winsulangi (1591-1639) atau yang dikenal dengan nama baptis Don Jeronimo Winsulangi mengikat perjanjian kerjasama keamanan dan perlindungan dengan gubernur Spanyol untuk wilayah Asia (Filipina) di Manila.
Sejak itu kerajaan Kristen Siau dijaga oleh Spanyol. Dua benteng pertahanan di pulau Siau yang dirintis sejak Portugis (Santa Rosa dan Gurita) langsung dihuni bala tentara Spanyol. Juga merupakan tempat mukim para paderi Spanyol, Portugis dan Italia.
Meskipun wilayahnya kecil dan tidak dikenal banyak orang Indonesia, kerajaan Siau pernah memegang peran penting di Sulawesi bagian utara dan Timur Indonesia, tulis Hubert Jacobs, S.J. yang terkenal dengan rangkuman serial sejarah wilayah Indonesia Timur Documenta Malucensia.
Ungkapan Hubert Jacobs itu dikarenakan Kompeni Belanda pernah sangat kesulitan mencaplok kerajaan Siau ke dalam lingkup kekuasaannya, karena kerajaan ini merupakan wilayah yang dilindungi Spanyol yang berpusat di Manila, di benteng Intramuros (Filipina).
Pusat kerajaan ini di pulau Siau yaitu pulau di Laut Sulawesi yang terletak pada 02o 45’ 00’’ LU dan 125o 23’ 59’’ BT yang kini merupakan wilayah Kabupaten Kepulauan Sitaro (Siau, Tagulandang dan Biaro). Daerah ini adalah salah satu kabupaten perbatasan Utara Indonesia dengan negara Filipina.
Pulau Siau sendiri hanya berukuran luas tak lebih dari 100 Km2. Namun dalam catatan sejarawan Pitres Sombowadile dan situs Arkeologi dan Riset Sejarah, dalam kiprahnya, wilayah kerajaan Siau pernah mencakup daerah-daerah di bagian selatan Sangihe, pulau Kabaruan (Talaud), pulau Tagulandang, pulau-pulau teluk Manado dan wilayah pesisir jazirah Sulawesi Utara (kini Minahasa Utara), serta ke wilayah kerajaan Bolangitan atau Kaidipang (Bolaang Mongondow Utara) bahkan sampai ke Leok Buol.
Perluasan wilayah Kerajaan Siau tersebut terjadi, terutama, di masa pemerintahan Raja Don Geronimo Winsulangi hingga Raja Don Fransiscus Xavirius Batahi, yang ditopang penuh kekuatan armada angkatan laut yang besar, tulis Max S. Kaghoo dalam bukunya “Jejak Leluhur, Warisan Budaya di Pulau Siau”, yang diterbitkan PT. Kanisius 2016.
Dalam sejumlah catatan sejarah disebut, pembangunan dan modernisasi besar-besaran Armada Angkatan Laut Kerajaan Siau dilakukan pada tahun 1612 di bawah pengawasan Laksamana Hengkengunaung, seorang panglima perang yang diangkat Raja Don Geronimo Winsulangi.
Kerajaan Siau pun bangkit menjadi salah satu kekuatan besar di kawasan timur Nusantara, terutama dalam pengamanan territorial laut kawasan pulau Sulawesi hingga Mindanao Selatan.
Di masa itu, catat Kaghoo, Angkatan Darat kerajaan Siau dibagi menjadi 3 pasukan yaitu, Pasukan Kompania, Upase, dan Labadiri. Sementara Angkatan Laut dibagi menjadi 3 pasukan menurut jenis armada tempur yakni, Pasuka Bininta, Konteng, dan pasukan Kora-kora.
Sementara sebelumnya, pada tahun 1592, penguasa Spanyol, Gubernur Jenderal Perez Dasmarinas di Filipina, sebagaimana catatan misionaris D. Brillman dalam “Onze Zendingsvelden, De Zending op Sangi-en Talaud-eilanden”, mengabulkan sejumlah bantuan militer dan persenjataan, terutama bantuan armada kapal perang yang diperlengkapi persenjataan modern kepada kerajaan Siau, kendati tak seluruh kesepakatan bantuan itu terealisasi karena Dasmarinas, kemudian terbunuh oleh awak kapalnya sendiri.
Pitres Sombowadile dalam sebuah artikelnya menyebutkan, kerajaan Siau dalam berbagai catatan Belanda dan sejarawan lokal di Manado, H.M. Taulu, disebut-sebut pernah mengusir armada Kerajaan Makassar yang menduduki wilayah Bolaang Mongondow. Tidak terhitung juga menghalau para armada perompak asal Mindanao.
HB Elias dalam buku “Sejarah Pergerakan Kebangsaan Indonesia di Siau (1973)” mencatat Hengkengunaung, seorang Laksamana Angkatan Laut Kerajaan Siau, mencapai kejayaan di masa pemerintahan Raja Don Fransiscus Xavirius Batahi, ditandai dengan kemenangannya dalam sejumlah pertempuran laut di kawasan timur Nusantara.
Nanti pada tahun 1677 Siau ditundukkan oleh Belanda dengan mempergunakan Sultan Ternate Kaitjil Sibori sebagai pelaksana. Tercatat sejak 9 November 1677 kerajaan ini menjadi bagian dari wilayah yang tunduk pada kehendak VOC-Belanda sebagaimana perjanjian lange contract yang ditandatangani Raja Franciscus Xaverius Batahi. Di antara pasal penting yang ditanda-tangani adalah kerajaan Siau beralih agama ke Kristen Protestan Belanda.
Raja Batahi adalah Raja Siau yang memeluk agama Katolik dan penggantinya Raja Raramenusa adalah Raja Siau pertama yang memeluk agama Kristen Protestan.

http://barta1.com/2019/10/13/mengena...utara-abad-16/
Diubah oleh dragonroar 07-11-2019 09:14
StevJrAvatar border
gnutaAvatar border
dellesologyAvatar border
dellesology dan 19 lainnya memberi reputasi
18
9.5K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
dragonroarAvatar border
TS
dragonroar
#1
Silsilah Lokongbanua, Raja Pertama Kerajaan Siau 1510-1545
kaskus-image


Raja Lokongbanua II belum banyak dibicarakan dalam literatur. Silsilah pendiri kerajaan Siau ini lebih banyak berasal dari ingatan massal masyarakat setempat lewat kisah dan sastra tutur turun-temurun. Benarkah ia seorang pangeran dari garis keturunan leluhur asal Filipina?

Di Paseng, Siau, di gerbang jalan menuju makam raja pertama kerajaan Siau ini, namanya ditulis: Lokombanua. Namun dalam beberapa catatan, namanya disebut Lokongbanua. Ia pendiri kerajaan Siau pada tahun 1510 melalui musyawarah mufakat para kulano.

Sejak proklamasi berdirinya kerajaan ini, ia mendapatkan pengakuan dari kesultanan di Maluku, kedatuan-kedatuan di pulau-pulau Sangihe dan Mindanao, Filipina. Dan, kerajaan Siau menjadi salah satu kerajaan nusantara yang banyak disebut dalam literatur dan sejumlah peta pelayaran pelaut Eropa sejak abad 16, terutama dari sumber era Spanyol, Portugis, VOC dan Belanda.

Literatur asing yang membicarakan Kerajaan Siau diantaranya karya D. Brilman “Onze Zendingsvelden De Zending op de Sangi – en Talaud- eilanden”, diterjemahkan oleh GMIST menjadi “Wilayah- wilayah Zending Kita, Zending di Kepulaun Sangi dan Talaud”. Antonio Pigaffeta, “Primer Viaje en Torno del Mondo”, “The Suma Oriental of Tom Pires and the Book of Fransidco Rodriques” Armendo Cortesao.

Dalam catatan Pitres Sombowadile dikatakan, kerajaan ini pernah eksis selama lebih 4 abad sejak raja pertama Lokongbanua II pada tahun 1510 hingga masa akhir Presiden Pengganti Raja Siau Ch. David, tahun 1956, atau 11 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta.

Sebagai tokoh sentral pendiri kerajaan Siau, silsilah Lokongbanua II boleh dikata baru terekam jelas diantaranya, dalam dua literatur local yakni buku karangan H.B. Elias “Sejarah Pergerakan Kebangsaan Indonesia di Siau (1973)”, dan yang terbaru “Jejak Leluhur, Warisan Budaya di Pulau Siau” karangan Max S. Kaghoo(2016). Selebihnya Lokongbanua II lebih banyak terekam dalam berbagai ragam sastra tutur berupa cerita rakyat, mitos dan legenda, serta puisi-puisi purba Sangihe Talaud.

Disebutkan, sejak abad ke 15 pulau Siau sudah dihuni oleh beberapa kelompok keluarga yang disebut balageng. Balageng merupakan kelompok keluarga batih yang membentuk koloni dan menempati suatu tempat kemudian mengatur cara hidup anggotanya secara mandiri. Salah satu balageng yang ternama ialah balageng Sense Madunde.

Dalam catatan Kaghoo, Sense Madunde disebutkan sebagai keturunan dari Bituing Karamate dan Timudai – putri dan pengeran dari Mindanao yang menjadi leluhur tua suku bangsa Sangihe Talaud—yang memperanakan Tendeng Sehiwu.

Tendeng Sehiwu menikahi Humang Dulage–pemimpin Balageng atau koloni pertama yang bermigrasi Dari Mindanao ke pulau-pulau Sangihe Talaud, hingga sampai di Bolaang Mangondow dan mendirikan kerajaan di sana– memperanakan Makawahe.

Makawahe menikahi Bake dan memperanakan Pahawo. Pahawo menikah dengan Nanginduata dan memperanakan Makalangi. Makalangi menikahi Nausuninta dan memperanakan Dalintaung. Dalintaung menikah dengan Pontolumagat dan mendapatkan anak bernama Makaminang.

Makaminang menikahi Aloro dan memperanakan Sinalaheng. Sinalaheng menikah dengan Malangurampale dan memperanakan Manganguwi. Manganguwi menikahi Biki-biki dan lahirlah Sense Madunde. Sense Madunde menjadi seorang Kulano atau pemimpin masyarakat di tempat bernama Pehe, di pulau Siau.

Diketahui, kulano mirip dengan sebuah clan yaitu kumpulan dari beberapa keluarga dari satu garis keturunan yang sama. Setiap kulano mempunyai satu orang pemimpin yang mengatur tata laksana kehidupan sosial kelompoknya. Dalam satu Kulano terdapat pula seorang wahani atau pemberani yang dianggap sebagai pahlawan.

Dalam paparan Kaghoo, pernah ada lima Kulano yang tinggal di pesisir pulau Siau. Kulano-kulano itu antara lain: Kulano Gumabo, Kulano Bowongpansihe, Kulano Kasahu, Kulano Kumbohang dan Kulano Sense Madunde. Struktur kulano lebih luas dari balageng.

Pemimpin dalam satu Kulano itu bertindak sebagai raja-raja kecil di tempat dimana mereka bermukim secara tetap. Kulano Sense Madunde adalah Kulano pertama di Pehe. Sense Madunde menikah dengan Kentenganhiabe atau Puteri Ombunduata. Putra mereka bernama Pahawo yang kemudian disebut dalam dialeg Siau dengan Pahawongsuluge artinya pangeran dari negeri Sulu, Mindanao. Setelah Sense Madunde wafat, Pahawonsuluge melanjutkan kepemimpinan ayahnya sebagai Kulano Pehe. Mendiang ayahnya sering menceritakan tentang keberadaan Bowongkehu (Bowongtehu) sebagai tempat asal dari leluhur mereka.

Bowongtehu adalah salah satu kerajaan tertua di jazirah utara pulau Sulawesi. Kerajaan Bowongtehu eksis sejak tahun 1400 dan terkahir berkedudukan di Pulau Manado Tua. Raja pertama Kerajaan Bowongtehu adalah Mokodaludut–pemimpin balageng dari keturunan Tendeng Sehiwu-Humang Dulage di Bolaang Mangondow yang melakukan migrasi balik melewati Bentenan, gunung Lokon, Gahenang atau Wenang (Manado), hingga ke pulau Bowongtehu (Manado Tua).

Dalam cerita rakyat dikisahkan, kerajaan Bowongtehu didirikan pertama kali di kawasan Gunung Lokon Minahasa oleh Mokodoludut. Karena bertempat di hutan gunung Lokon, ini sebabnya kerajaan itu disebut dengan nama “Bowongkehu”, dalam bahasa Sangihe berarti “tempat terpencil”.

Di tempat itulah disebut, Mokodoludut menikah dengan seorang putri Minahasa bernama Abunia Pinontoan, dan melahirkan anak pertama mereka bernama Lokongbanua I. Nama anak tersebut diangkat dari nama negeri dimana kerajaan Bowongtehu pertama kali berdiri yakni gunung Lokon atau Banua Lokon (negeri Lokon). Setelah dari negeri Lokon, kerajaan Bowongtehu dipindahkan ke Gahenang atau Wenang (kini Kota Manado), lalu dipindahkan lagi ke pulau Manado Tua.

Diketahui, Pahawonsuluge berlayar dari Siau ke Bowongtehu (Manado Tua) dan menetap lama di sana. Ia menikah dengan Puteri raja Bowongtehu bernama Ombunduata. Sebelumnya, ia mengawini Ngiangsinela dan memperanakan Bataha.

Bataha mengawini Langingi dan memperanakkan seorang putera bernama Pahawontoka. Pahawontoka menikah dengan Lohoraung, ratu pertama kedatuan Tagulandang. Sedangkan dari Puteri Ombunduata, Pahawonsuluge mendapatkan seorang putera bernama Lokongbanua II. Nama Lokongbanua II ini adalah ‘laken’ dari nama Lokongbanua I yang menjadi leluhurnya. Kemudian Pahawonsuluge kembali ke Pehe. Sementara Lokongbanua II dan ibunya tinggal di Bowongtehu.

Pada awal abad 15 Lokongbanua II telah menjadi seorang pemuda dewasa. Ia bertekad keras mencari ayahnya ke pulau Siau. Ketika Pahawonsuluge meninggal dunia dan beberapa Kulano di Pulau Siau hidup tidak akur, dan saling serang satu dengan yang lain, maka timbullah keinginan dari Lokongbanua II untuk menyatukan semua Kulano di pulau Siau itu menjadi satu kekuatan, seperti kekuatan Kedatuan Bowongtehu.

Lokongbanua dibantu pamannya di Bowongkehu yang bernama Mahangsulaeng bersama lima puluh orang bahani Bowongtehu berangkat ke Siau dan mendarat di Katutungan (sekarang bernama Paseng).

Di Katutungan, ia memproklamirkan dirinya sebagai Kulano pengganti Pahawonsuluge, mendiang ayahnya. Lalu dikumpulkannya seluruh kulano-kulano yang ada di pulau Siau dalam suatu musyawarah mufakat. Melalui musyawarah itu seluruh kulano bersepakat membentuk Kedatuan Siau yang dipimpin oleh seorang Datu (Raja). Mereka bermufakat mengangkat Lokongbanua II sebagai Datu. Jadilah Kedatuan Siau yang dimulai pada tahun 1510.

Sesudah menyelenggarakan musyawarah mufakat untuk menjadikan dirinya sebagai Datu, Lokongbanua II melanjutkan upaya diplomasi dan memproklamirkan Kedatuan Siau ke seluruh penjuru, dari selatan hingga ke utara, ke Kedatuan-kedatuan di pulau-pulau Sangihe dan Mangindano.

Buah diplomasinya itu menghadirkan Ratumbahe, Kulano dari Kolongan untuk berkunjung ke Katutungan. Kulano Ratumbahe menjalin persahabatan dengan Datu (Raja) Lokongbanua II. Ratumbahe mengajak Lokongbanua II untuk meminang Puteri Mangindapele dari Mindanao, yang kemudian menjadi permaisuri Lokongbanua. Dari perkimpoian ini mulailah terjalin kembali hubungan antara Siau dengan Mindanao (Mangindano).

Dari Mangindapele, Lokongbanua II memperanakkan Angkumang, Posuma, Dolongsego, Basilawewe. Lokongbanua II kemudian mengangkat Angkumang menjadi Jogugu di Ulu. Sedangkan Posuma dipersiapkan menggantikannya menjadi Datu. Puteri bungsunya, Basilawewe menjadi isteri dari Mahadiaponto dari Kabaruan, Talaud, setelah melalui sayembara gulat, panah dan sepak takraw, yang berhari-hari lamanya. Dengan perkimpoian Basilawewe itu, tulis Kaghoo, Kabaruan menjadi laeking atau “tanah pemberian nikah” oleh Mahadiaponto kepada Datu Lokongbanua II.

Sedangkan Puteri Dolongsego menikah dengan orang Spanyol yang bernama Pontoralage. Buah perkimpoian Dolongsego dan Pontoralage ialah Tatehewoba, raja Tahuna yang pertama. Sedangkan Mahadiaponto dan Basilawewe dikemudian hari, yaitu pada generasi selanjutnya, keturunannya melahirkan seorang panglima kedatuan Siau yang sangat fenomenal, yaitu: Hengkengunaung (Bawata Nusa).

Raja Lokongbanua II memerintah sejak tahun 1510 sampai tahun 1545, atau selama 35 tahun lamanya. Pada hari minggu di bulan April 1516, tepat di hari paskah, Spanyol dan Portugis masuk ke Siau untuk kepentingan merayakan Misa Paskah di darat. Mereka diterima oleh Lokongbanua. Kemudian muncul keinginan besar mereka membangun benteng Gurita di Ondong dan Benteng Santarosa di Lalento. Niat itu mendapat persetujuan dari datu Lokongbanua pada tahun 1518.

Benteng yang hendak dibangun orang Kastila (Spanyol dan Portugis) itu bertujuan untuk menampung hasil bumi berupa pala, cengkeh dan kelapa yang mereka peroleh dari Maluku, Ternate, Tidore dan Sangihe. Kedua benteng itu dijaga oleh 200an orang Spanyol dan Portugis.

Angkumang, anak sulung Lokongbanua II dipercayakan ayahnya menjadi Jogugu di Ulu, sedangkan adiknya, Posuma hidup di dalam istana kedatuan, hingga Lokongbanua meninggal dunia pada tahun 1549.

Makam Lokongbanua II berada di kampung Paseng, Siau. Makam ini dibangun di atas tanah seluas 150 m2 di atas tanah pamili (keluarga) milik dari keturunan raja, yang sudah dihibahkan menjadi lokasi pemakaman leluhur mereka. (*)

http://barta1.com/2019/05/28/silsila...iau-1510-1545/
mbakendut
ndoto
qoni77
qoni77 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.