- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
Selamat Datang di Thread Gue
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2](https://s.kaskus.id/images/2019/10/17/10668384_20191017013511.jpeg)
Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.
AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS
SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK
Spoiler for INDEX SEASON 2:
Spoiler for Anata:
Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:
Spoiler for Peraturan:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 08-09-2020 10:31
ezzasuke dan 79 lainnya memberi reputasi
78
297.5K
4.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#1464
Kenalan Yuk
Sabtu pagi di akhir taun gue memutuskan untuk ngajak Dee jalan-jalan lagi. Kali ini agak jauhan lah, ke kota tetangga juga tapi lebih jauh jaraknya daripada ke Ibukota.
Dalam rangka mau taun baruan bareng jadinya gue bawa dia ke wisata-wisata alam. Gue mempersiapkan beberapa kebutuhan untuk jalan ke wisata-wisata tersebut.
“Kamu mau ajak aku kemana sih?” Kata Dee.
“Udah kamu ikut aja. Ntar juga seneng yank. Hehe.” Kata gue tenang.
“Iya tapi bikin penasaran tau. Hehe.”
“Makanya ikut aja. Udah disiapin semua yang aku bilang kemarin kan?”
“Udah semua kok aku masukin kedalam tas. Rapi deh pokoknya. Hehe.”
“Yaudah ayo cabut yank. Keburu siang ntar macet.”
Gue kemudian memacu mobil dengan kecepatan sedang. Kala itu masih subuh, kami berangkat habis subuh. Perjalanan terasa sangat menyenangkan bagi gue, tapi Dee malah tidur lagi bukannya jadi navigator. Payah emang ni anak, ketemu yang empuk dikit langsung tidur. Apalagi udara pagi masih sangat sejuk ketika itu.
Jelang tengah hari kami akhirnya sampai. Pangandaran menjadi tempat tujuan kami waktu itu. Daya tarik obyek wisata pantai di wilayah ini begitu kuat yang akhirnya membuat gue dan Dee terpesona.
“Aku suka pantai. Hehehe.”
“Aku juga suka Dee. Makanya aku ajak kamu kesini. Akhirnya aku bisa ketempat ini juga. Di daerahku dulu aku kan Cuma bisa denger doang, tapi nggak bisa bener-bener kesini. Sekarang aku bisa kesini yank.”
“Haha, mayan kan bisa pamer sama temen-temen dikampung halaman sana. Hehehe.”
“Tau aja kamu. Hahaha.”
“Kita nginep semalem dulu disini mau nggak yank?” Tanya Dee.
“Oh mau nginep?” kata gue.
“Iya, soalnya aku mau menikmati malam-malam jalan di pantai gitu yank. Hehe.”
“Oh yaudah kalo emang ada penginapan yang kosong, nggak apa-apa kita nginep yank.”
Setelah berusaha untuk menemukan penginapan, gue dan Dee pun harus kecewa karena kami nggak dapat penginapan sama sekali. Satu hal yang gue kurang suka dari Dee ini adalah, orangnya sangat mudah berubah pikiran. Kayak gini, kami merencanakan untuk PP (pulang pergi) tapi ternyata dia bilang menginap. Kan jadinya susah buat nyari penginapannya, karena udah full booked pasti. Ujungnya dianya malah bete nggak karuan.
Setelah mendapatkan spot yang oke untuk turun, gue dan Dee turun. Kami yang kebetulan tau aturan bagaimana menyikapi yang namanya Garis Sempadan Pantai, maka kami menghormati aturan tersebut dan memarkir di area parkir yang udah ditentukan, agak jauh jaraknya dari pesisir. Nggak apa-apa jalan dikit.
“Aku pakai lotion dulu ya. Itu aku bawa Niv*a. Kamu pakai juga ya yank.” Katanya.
“Nggak ah, biarin aja aku iteman Dee.” Kata gue.
“Jangan gitu dong. Masa ntar kucel?”
“Item nggak berarti kucel kali.”
“Pokoknya pakai. Kalau nggak yaudah males akunya.”
“Banyak cingcong banget sih kamu..”
“Ini kan demi kebersihan dan kamunya juga ga item-item banget nantinya.”
“Emang kalo aku item kamu bakalan ninggalin aku?”
“Ya nggak, Cuma aku nggak mau cowok aku item.”
“Yeee. Ada lagi aturan kayak gitu.”
“Iya, biar kamu rapihan dikit.”
“Rapihan dikit? Aku kurang rapi apa ini? Kamu udah liat kamar kostan aku kayak gimana? Rapihan kamar aku daripada kamar kamu Dee.”
“Udah ah, kamu tu ya Cuma disuruh pake sunblock lotion gini aja ribet banget.”
“Ya ribet, karena aku males diatur-atur.”
“Kamu nggak mau nurut aku nih jadinya, Zi?”
“Nggak……”
“Oke, cukup tau aja aku sama kamu Zi.”
“Ya emang kamu harus tau aku dong. Aku kan orangnya bebas – bebas aja. Nggak banyak diatur-atur. Mestinya kamu inget dari awal aku gitu orangnya.”
Kami terdiam cukup lama di lahan parkir yang menghadap ke laut ketika itu. Walaupun lautnya agak jauh, tapi tetap terlihat. Gue kadang suka nggak habis pikir kenapa ini bocah ngatur-ngaturnya sampai segitunya banget. Mungkin emang buat kebaikan, tapi kadang lebay banget sih. Haha.
“Mau turun nggak? Apa mau didalem sini aja terus?” kata gue.
“Turun lah, udah jauh-jauh kesini juga.”
“yaudah ayo.”
Dengan agak cemberut Dee pun turun dari mobil yang cukup tinggi. Hampir aja dia jatuh karena pijakannya nggak keliatan menurut dia. Mau diketawain tapi kasian. Hehe. Kami berjalan menuju pantai dan ketika sampai dipantai, gue dan Dee merasa nggak ada masalah apapun sebelum ini.
Kami menikmati deburan ombak, bermain di pesisir pantainya dan juga beberapa kali coba membahas fenomena alamnya secara ilmiah. Pantai ketika itu cukup ramai dan kami sepakat kalau dibiarkan terus-menerus bakalan merusak ekosistem dan jejaring makanan yang terdapat di kawasan ini. Bakalan terjadi perubahan di alamnya pasti. Kemungkinan besarnya ya berimbas negatif terhadap keberlangsungan ekosistem pesisir kawasan ini.
Jelang sore, kami bertanya dimana untuk mendapatkan spot bagus menyaksikan matahari terbenam. Setelah mendapatkan jawabannya, kami pun bersiap kesana. Nggak lupa kami membawa beberapa cemilan yang udah dibawa di mobil.
“Nggak sabar aku yank buat liat sunset. Pasti keren. Aku selalu suka liat sunset dan sunrise.” Kata Dee.
“Iya sama Dee. Hehe. Udah dibawa semuanya?”
“Udah kok ini. Yuk.”
Kami menuju spot yang ditunjukkan oleh penduduk sekitar. Jelang waktu sunset, orang cukup ramai di spot kami. Gue yang biasanya pemikirannya antimainstream alias nggak mau sama dengan orang lain pun akhirnya harus mengalah karena Dee udah keburu nyaman di spot ini. Kami pun menyaksikan sunset yang bagus disana. Walaupun menurut gue pribadi masih kerenan di Makassar tempo hari.
“Indah banget ya sayang…” kata Dee.
“Ho oh aku suka ngeliatnya yank. Apalagi sama kamu. Hehe.” Kata gue.
“Nggak rugi udah jauh-jauh kesini ya, ternyata dapet pemandangan indah gini.” Katanya sambil merebahkan kepalanya di bahu kiri gue.
“Kesempatan kayak gini kan langka yank. Hehe.”
“Iya, nikmatin akhir taun di alam sambil ditemenin orang yang paling aku sayang itu berkah banget buat aku yank.” Katanya, senyumnya manis banget waktu itu.
“Mudah-mudahan kita juga makin langgeng ya hubungannya. Walaupun abis ini aku nggak tau nih bakal kerja dimana yank. Paling jadi freelance dulu aja. Hehe.”
“Amin mudah-mudahan aja ya sayang. Aku sayang kamu banget. Kamu yang semangat, pasti bisa kok yank.”
“Terus kamu Cuma nyemangatin gitu doang nih?”
“Ya abis aku bisa apa lagi?”
“Ooh. Ya apaan kek, bantuin apa gitu. Hehe.”
“Aku nggak ngerti pekerjaan kamu yank.”
“Kan bisa dipelajarin yank…hehehe. Dulu diawal aku kerja juga mana aku ngeh, kan kita dari jurusan yang sama. Sekarang malah kerjaan aku beda banget ngurusin urusannya dari jurusan kita. Haha. Tapi bisa kok aku. Kamu juga pasti bisa yank.”
“Aku aja penelitian belom kelar, suruh melajarin urusan yang berhubungan sama kerjaan kamu, otak aku capek pasti yank. Hehehe.”
“Hmmm..yaudah deh, yang penting doain aku biar dapet kerjaan yang bagus lagi setelah ini.”
“Pasti dong sayangku.” Katanya lalu merangkul gue.
Selesainya kami pun bersiap melaksanakan ibadah dan kemudian mencari tempat makan malam. Karena malam ini kami mau menikmati udara malam dipinggir pantai. Gue kemudian memindahkan mobil ketempat parkiran yang lebih strategis dan tapi tetap ikut aturan, nggak sembarang parkir dipinggiran jalan gitu.
“Kesana yuk?” gue menunjuk pantai yang gelap minim penerangan.
Hanya ada beberapa KJA (Keramba Jaring Apung) yang waktu itu ada sedikit disana yang bisa memancarkan cahaya redup dari lampu yang dipasangkan.
“Gelap banget yank….lagi pasang ga sih?”
“Iyalah, pasti pasang. Makanya jangan terlalu ketengah. Aku juga nggak mau basah-basahan lagi. “
Kami menyusuri pinggir pantai dan menikmati suara debur ombak yang berasal dari laut. Sungguh menyenangkan malam itu. Lalu kami sempat duduk sebentar di pasir sambil chit chat ringan.
“Pelan-pelan yank…” kata gue.
“Iyaaa…..” katanya.
Dee tiba-tiba udah ada didekat celana pendek gue aja. Rocky dipaksa keluar dan proses perawatan rocky pun terjadi. Sambil celingak celinguk takutnya ada orang kan, gue juga menikmati kuluman Dee yang makin lembut dan memabukkan. Hahaha.
“Aduh kok makin enak sih kamu ngeblownya yank..” kata gue.
“Akjdjwiekfnwuwnnflqg3g” katanya nggak jelas.
“Oh iya lagi full ya mulut kamu. Udah terusin. Hehehe.”
“akwhrhbgdoywtgwngyqojd”
“iya udah nggak usah ikut ngomong, ntar keselek kamu.”
“……”
“Aku mau keluar yank…tahan ya.”
“……”
“Telen Dee, biar sehat terus kamunya.” Gue mengeluarkan lebih cepat dari perkiraan.
Mungkin karena adrenalin meningkat ya, kan ini lagi rame wisatawan lainnya, terus si rocky di mainin sama Dee di tempat yang sangat terbuka gini kan, jadinya lebih cepat keluar.
Dee hanya cengar cengir aja ngeliat muka gue agak panik tapi juga menikmati itu.
“Gimana, seru kan serangan dadakannya? Hehehe.” Ujar Dee senang.
“Iya, tapi gila juga kamu yank. Ini tempat terbuka banget loh. Kita nggak tau dari balik gelap sana ada yang merhatiin kita atau nggak.”
“Udah lah, biarin aja. Anggep aja hadiah dari aku yank. Biar kamu tetep semangat ya. Sayang banget kita nggak bisa nginep sekamar yank.”
“Kan bisa semobil yank. Hehehe.”
“Emang bisa apaan di mobil?”
“Ya bisa kayak gini juga. Kan do tol aja bisa. Apalagi diem. Hehehe.”
“Yah kurang seru yank. Eksplorasi itu enaknya di kasur yank.” Kata Dee sambil nyengir.
“Dih pingin banget kamu tidur sama aku yank? Hahaha.”
“Ya pingin, kan ngantuk yank. Hehehe.”
Obrolan ini arahnya udah ke mesum-mesum doang. Akhirnya gue dan Dee kembali ke mobil. Di mobil kami sempat bercium-cium ria dulu sebelum akhirnya ketiduran. Jok belakang menjadi tempat kami berasoy ria waktu itu. Kaca gelap, mobil tinggi, aman udah. Hehehe.
--
Pulang dari pantai itu, gue berencana membawa Dee kerumah Mama. Pas banget ternyata Dania adik gue juga lagi pulang kerumah. Jadi gue terus memacu laju mobil menuju ke rumah lama gue. Karena rumah yang biasa gue tempat beberapa tahun terakhir udah nggak jadi milik keluarga gue lagi.
Dee nggak tau jalan sama sekali dan nggak ada keinginan untuk mempelajari jalan atau menjadi navigator yang baik. Kerjaannya kebanyakan hanya tidur aja. Gue nggak masalah sebenernya, Cuma ketika ada kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru ya kenapa nggak kan harusnya.
“Kok kayaknya perjalanan kita lama banget ya yank?” katanya saat terbangun dari tidurnya.
“Iya rada macet tadi yank.” Kata gue.
“Ini udah dimana sih?”
“Aku jelasin juga kamu nggak akan ngeh kan? Udah nurut aja. Hehehe.”
“hehe iya sih. Aku nggak bakal tau yank. Aku ikut kamu aja yank.”
“Iyalah kamu ikut aku, emang kamu mau pulang sendiri? Kayak yang tau jalan aja. Hahaha.”
“Yeee, ngeledek terus kamu mah. Iya aku orang daerah yang nggak tau kota yank.”
“Laah gitu aja ngambek kamu mah. Haha.”
“Bodo amat….”
“Senyum kali….”kata gue sambil menyentuh ujung hidungnya yang mancung seperti gue.
“Udah konsentrasi aja kamu yank. Ntar nabrak, aku yang rugi.”
“Lah kok kamu yang rugi?”
“Iya soalnya nanti aku kehilangan orang yang aku sayang.”
“Yaaaaa dia gombal. Bisa juga kamu Dee. Hahaha.”
“Bisa dong weeeks..”
Akhirnya perjalanan kami mendekati akhir, gue udah masuk ke kota asal gue.
“Loh kita kemana ini? Kayaknya nggak kesini kalau pulang?”
“Udah kamu diem aja dulu Dee. Ntar juga kamu tau kita bakal kemana.”
Mobil sudah masuk ke komplek gue. Banyak memori masa kecil dan juga teman-teman kecil gue yang berasal dari komplek ini. Ada juga yang jadi anak band kayak gue saat ini salah satu teman kecil gue ini. Saat memasuki komplek, ternyata teman gue ini lagi berjalan menuju dari arah rumahnya.
“Brrrrooooooo……..” kata gue membuka kaca mobil.
“Waaaaah…..Ija. ma bro. Apa kabar lo. Hahaa. Nggak keliatan lagi lo disini semenjak pindah lagi kemari bro.”
“Haha iya kan gue kost di ibukota bro. Biar deket sama kantor. Hehe.”
“Iya sih bener. Lo sama siapa?”
“Haha iya lupa. Ini cewek gue, namanya Dee. Dee kenalin ini sahabat aku dari kecil, namanya Tyo.”
“Halo Dee. Gue Adityo. Panggil aja Tyo ya.” Kata Tyo.
“Halo, gue Dee. Salam kenal ya.” Kata Dee sambil tersenyum dan menjulurkan tangan didepan muka gue.
“Lo gawe dimana bro sekarang?” tanya gue.
“Gue di provider warna kuning bro.” kata Tyo.
“Wahaha asik dong. Kenceng duit.” Kata gue.
“Amiin…” katanya sambil tertawa miris.
“Masih ngeband kan lo?” tanya gue.
“Masih dong. Haha. Lo?” kata Tyo.
“Vakum dulu band gue. Haha. Gitaris gue cabut ke Aussie. Susah nyari penggantinya. Haha.” Kata gue.
“Haha sayang banget kali. Lanjutin lah kapan waktu ntar main bareng kita. Manggung diacara metal lagi dong.” Katanya.
“Haha bisa diatur lah itu. Tapi sekarang ini fokus gue sama anak-anak gawe dulu. Maklum pada jadi budak korporat. Haha.”
“haha budak korporat. Sama bro.” kata Tyo.
Lalu setelahnya ada chitchat ringan, kemudian gue berpamitan menuju kerumah gue. Jujur aja, tinggal disini lebih enak daripada rumah gue yang lebih besar itu. Tetangga kenal kanan kiri, rukun. Jadinya gue juga nyaman aja gitu, daripada dirumah yang dulu, nggak kenal kanan kiri, lo lo gue gue, pada sengak lagi kadang para asisten rumah tangga atau satpamnya.
“Ternyata aku dibawa kerumah kamu toh. Hehehe. Aku nggak siap Zi.”
“Udah, santai aja. Mamaku udah banyak aku ceritain tentang kamu Dee.”
“Aku gugup. Aku belum pernah diajak kerumah orang tua pacar sebelumnya.”
“haha makanya dengan aku, kamu nambah pengalaman lagi jadinya kan.”
“Hehe. Iya.” Katanya gugup.
Gue membuka pagar rumah dan kemudian mengetuk pintu, lalu mengucap salam. Dari dalam ada sautan suara Mama yang sangat gue rindukan. Kemudian saat membuka pintu, mama memeluk gue dan cipika cipiki seperti biasa.
“Wah kamu bawa temen kamu. Siapa namanya Dek?”
“Aku. Aku Desty tante. Biasa di panggil Dee.”
“Oooh. Ini toh. Cantik ya Dee ini ternyata Ja. Ayo-ayo masuk.” Kata Mama ramah.
“Hehe iya Ma, ini yang suka aku ceritain di telpon atau chat.”
Lalu kamipun masuk kerumah dan di dalam ada Dania. Dania memperkenalkan diri. Ternyata mereka seangkatan. Haha. Jadinya mereka nyambung satu sama lain karena seumuran. Dari mulai ngomongin boyband sampe kebiasaan-kebiasaan yang ada di jaman mereka tumbuh remaja pun dibahas. Haha. Syukur lah. Langsung nyambung. Biasanya si Dania suka julid. Dulu awal kenal Keket aja julidnya minta ampun. Sama Ara dulu juga begitu awalnya.
Mama banyak menanyakan tentang seluk beluk Dee. Dari mulai pendidikannya sampai bagaimana dia bisa ketemu dengan gue. Tapi Mama nggak banyak nanya soal pekerjaan ayah Dee. Ini yang keluarga gue selalu jaga, nggak berusaha menanyakan latar pekerjaan, karena hal tersebut bisa aja membuat tersinggung lawan bicara.
“Aku langsung balik ya Ma abis ini ke kostan. Besok Dee ada kegiatan.”
“Loh kan lagi libur bukan?” kata Mama.
“Iya tapi Dee ada acara bareng teman-temannya. Nggak enak nanti kalau dia nggak ikut.”
“Nggak mau nginep disini aja dulu, besok pagi baru deh berangkat.” Dania menawarkan.
“Dia tidur dikamar lo tapi ya Dan.” Kata gue.
“Iya gampang kak. Hehe.” Kata Dania.
Rumah gue yang lama ini jauh lebih kecil dari rumah yang sebelumnya gue tempatin. Kamarnya juga lebih sedikit dari rumah sebelumnya. Garasi juga Cuma muat satu mobil saja. Tapi sekali lagi, gue jauh lebih nyaman tinggal disini dan di komplek ini. Masa kecil gue yang seru ya di habiskan dirumah ini.
“Mama kamu sama adik kamu welcome banget ya ke aku.”
“Iya dong. Hehehe.”
“Eh iya, adik kamu cantik banget tau, mana kulitnya putih banget lagi. Beda banget sama kamu Zi. Hahaha.”
“Dia ngikut Papa aku kulitnya sama mukanya.”
“Papa kamu putih banget kulitnya?”
“Iya, kulitnya putih, matanya agak sipit, kalau pakai kaos oblong gitu sangkain koko koko yang dagang kelontong yank. Hahaha.”
“Hahaha ngeledekin Papa sendiri kamu mah.”
Lalu dia melihat-lihat foto yang terpajang ditembok rumah ini. Ada foto-foto gue dari bayi sampe wisuda. Ada juga foto Papa Mama serta foto Dania. Papa gue emang sangat gemar fotografi. Dia punya tiga kamera SLR jaman dulu yang masih memakai film manual, “asa 200, isi 36”. Gitu kalau gue dititipin suruh beli roll film buat kamera Papa gue. Sampai sekarang pun masih ada itu barangnya, hanya saja mungkin udah rusak ya.
Kamera ini juga yang dipakai untuk memfoto adik gue dan teman-temannya ketika dulu waktu SD sempat ikutan pemilihan top model junior dan fashion show. Salah satu yang mengajak Mama dan adik gue ikutan itu adalah teman Dania yang sekarang menjadi salah satu pedangdut papan atas Indonesia, yang banyak disorot karena keluarganya, terutama ayahnya, yang rada unik kelakuannya.
Sampai detik ini pun ayahnya tetap dengan keunikannya kalau ketemu dengan Mama gue. Haha. Lucu deh pokoknya ini orang. Tapi humble banget. Dan gue tau persis perjuangan si bapak ini mengantarkan anaknya sana sini naik angkutan umum, meminta Papa gue untuk melakukan sesi foto anaknya, ditipu sama EO, sampai akhirnya salah satu lagunya meledak dipasaran setelah direkam beberapa tahun sebelumnya.
“Ini si artis yang lagi jadi fenomena itu? Seriusan dia temen Dania, Zi?”
“Iya temen dari kecil. Hehe. Dulu yang foto-fotoin dia pas manggung nyanyi dan fashion show itu Papa aku. Itu juga lagu dia kan direkam udah dari kapan tau, eh baru booming sekarang. Haha. Emang rejekinya dia itu.”
“Hahaha. Iya ya, namanya rejeki ga ada yang tau ya.”
“Yah mudah-mudahan aja nanti pasca aku cabut dari kerjaan lama, aku dapet rejeki baru yang lebih bagus lagi ya yank, kayak gini. Hehe.”
“Iya yank, aku selalu doain kamu kok. Pokoknya semangat selalu ya yank.”
“Makasih ya sayang.”
Lalu gue memeluk Dee dengan erat dan sedikit ciuman di bibir. Mumpung Dania dan Mama sedang belanja keluar sebentar. Hehehe.
Dalam rangka mau taun baruan bareng jadinya gue bawa dia ke wisata-wisata alam. Gue mempersiapkan beberapa kebutuhan untuk jalan ke wisata-wisata tersebut.
“Kamu mau ajak aku kemana sih?” Kata Dee.
“Udah kamu ikut aja. Ntar juga seneng yank. Hehe.” Kata gue tenang.
“Iya tapi bikin penasaran tau. Hehe.”
“Makanya ikut aja. Udah disiapin semua yang aku bilang kemarin kan?”
“Udah semua kok aku masukin kedalam tas. Rapi deh pokoknya. Hehe.”
“Yaudah ayo cabut yank. Keburu siang ntar macet.”
Gue kemudian memacu mobil dengan kecepatan sedang. Kala itu masih subuh, kami berangkat habis subuh. Perjalanan terasa sangat menyenangkan bagi gue, tapi Dee malah tidur lagi bukannya jadi navigator. Payah emang ni anak, ketemu yang empuk dikit langsung tidur. Apalagi udara pagi masih sangat sejuk ketika itu.
Jelang tengah hari kami akhirnya sampai. Pangandaran menjadi tempat tujuan kami waktu itu. Daya tarik obyek wisata pantai di wilayah ini begitu kuat yang akhirnya membuat gue dan Dee terpesona.
“Aku suka pantai. Hehehe.”
“Aku juga suka Dee. Makanya aku ajak kamu kesini. Akhirnya aku bisa ketempat ini juga. Di daerahku dulu aku kan Cuma bisa denger doang, tapi nggak bisa bener-bener kesini. Sekarang aku bisa kesini yank.”
“Haha, mayan kan bisa pamer sama temen-temen dikampung halaman sana. Hehehe.”
“Tau aja kamu. Hahaha.”
“Kita nginep semalem dulu disini mau nggak yank?” Tanya Dee.
“Oh mau nginep?” kata gue.
“Iya, soalnya aku mau menikmati malam-malam jalan di pantai gitu yank. Hehe.”
“Oh yaudah kalo emang ada penginapan yang kosong, nggak apa-apa kita nginep yank.”
Setelah berusaha untuk menemukan penginapan, gue dan Dee pun harus kecewa karena kami nggak dapat penginapan sama sekali. Satu hal yang gue kurang suka dari Dee ini adalah, orangnya sangat mudah berubah pikiran. Kayak gini, kami merencanakan untuk PP (pulang pergi) tapi ternyata dia bilang menginap. Kan jadinya susah buat nyari penginapannya, karena udah full booked pasti. Ujungnya dianya malah bete nggak karuan.
Setelah mendapatkan spot yang oke untuk turun, gue dan Dee turun. Kami yang kebetulan tau aturan bagaimana menyikapi yang namanya Garis Sempadan Pantai, maka kami menghormati aturan tersebut dan memarkir di area parkir yang udah ditentukan, agak jauh jaraknya dari pesisir. Nggak apa-apa jalan dikit.
“Aku pakai lotion dulu ya. Itu aku bawa Niv*a. Kamu pakai juga ya yank.” Katanya.
“Nggak ah, biarin aja aku iteman Dee.” Kata gue.
“Jangan gitu dong. Masa ntar kucel?”
“Item nggak berarti kucel kali.”
“Pokoknya pakai. Kalau nggak yaudah males akunya.”
“Banyak cingcong banget sih kamu..”
“Ini kan demi kebersihan dan kamunya juga ga item-item banget nantinya.”
“Emang kalo aku item kamu bakalan ninggalin aku?”
“Ya nggak, Cuma aku nggak mau cowok aku item.”
“Yeee. Ada lagi aturan kayak gitu.”
“Iya, biar kamu rapihan dikit.”
“Rapihan dikit? Aku kurang rapi apa ini? Kamu udah liat kamar kostan aku kayak gimana? Rapihan kamar aku daripada kamar kamu Dee.”
“Udah ah, kamu tu ya Cuma disuruh pake sunblock lotion gini aja ribet banget.”
“Ya ribet, karena aku males diatur-atur.”
“Kamu nggak mau nurut aku nih jadinya, Zi?”
“Nggak……”
“Oke, cukup tau aja aku sama kamu Zi.”
“Ya emang kamu harus tau aku dong. Aku kan orangnya bebas – bebas aja. Nggak banyak diatur-atur. Mestinya kamu inget dari awal aku gitu orangnya.”
Kami terdiam cukup lama di lahan parkir yang menghadap ke laut ketika itu. Walaupun lautnya agak jauh, tapi tetap terlihat. Gue kadang suka nggak habis pikir kenapa ini bocah ngatur-ngaturnya sampai segitunya banget. Mungkin emang buat kebaikan, tapi kadang lebay banget sih. Haha.
“Mau turun nggak? Apa mau didalem sini aja terus?” kata gue.
“Turun lah, udah jauh-jauh kesini juga.”
“yaudah ayo.”
Dengan agak cemberut Dee pun turun dari mobil yang cukup tinggi. Hampir aja dia jatuh karena pijakannya nggak keliatan menurut dia. Mau diketawain tapi kasian. Hehe. Kami berjalan menuju pantai dan ketika sampai dipantai, gue dan Dee merasa nggak ada masalah apapun sebelum ini.
Kami menikmati deburan ombak, bermain di pesisir pantainya dan juga beberapa kali coba membahas fenomena alamnya secara ilmiah. Pantai ketika itu cukup ramai dan kami sepakat kalau dibiarkan terus-menerus bakalan merusak ekosistem dan jejaring makanan yang terdapat di kawasan ini. Bakalan terjadi perubahan di alamnya pasti. Kemungkinan besarnya ya berimbas negatif terhadap keberlangsungan ekosistem pesisir kawasan ini.
Jelang sore, kami bertanya dimana untuk mendapatkan spot bagus menyaksikan matahari terbenam. Setelah mendapatkan jawabannya, kami pun bersiap kesana. Nggak lupa kami membawa beberapa cemilan yang udah dibawa di mobil.
“Nggak sabar aku yank buat liat sunset. Pasti keren. Aku selalu suka liat sunset dan sunrise.” Kata Dee.
“Iya sama Dee. Hehe. Udah dibawa semuanya?”
“Udah kok ini. Yuk.”
Kami menuju spot yang ditunjukkan oleh penduduk sekitar. Jelang waktu sunset, orang cukup ramai di spot kami. Gue yang biasanya pemikirannya antimainstream alias nggak mau sama dengan orang lain pun akhirnya harus mengalah karena Dee udah keburu nyaman di spot ini. Kami pun menyaksikan sunset yang bagus disana. Walaupun menurut gue pribadi masih kerenan di Makassar tempo hari.
“Indah banget ya sayang…” kata Dee.
“Ho oh aku suka ngeliatnya yank. Apalagi sama kamu. Hehe.” Kata gue.
“Nggak rugi udah jauh-jauh kesini ya, ternyata dapet pemandangan indah gini.” Katanya sambil merebahkan kepalanya di bahu kiri gue.
“Kesempatan kayak gini kan langka yank. Hehe.”
“Iya, nikmatin akhir taun di alam sambil ditemenin orang yang paling aku sayang itu berkah banget buat aku yank.” Katanya, senyumnya manis banget waktu itu.
“Mudah-mudahan kita juga makin langgeng ya hubungannya. Walaupun abis ini aku nggak tau nih bakal kerja dimana yank. Paling jadi freelance dulu aja. Hehe.”
“Amin mudah-mudahan aja ya sayang. Aku sayang kamu banget. Kamu yang semangat, pasti bisa kok yank.”
“Terus kamu Cuma nyemangatin gitu doang nih?”
“Ya abis aku bisa apa lagi?”
“Ooh. Ya apaan kek, bantuin apa gitu. Hehe.”
“Aku nggak ngerti pekerjaan kamu yank.”
“Kan bisa dipelajarin yank…hehehe. Dulu diawal aku kerja juga mana aku ngeh, kan kita dari jurusan yang sama. Sekarang malah kerjaan aku beda banget ngurusin urusannya dari jurusan kita. Haha. Tapi bisa kok aku. Kamu juga pasti bisa yank.”
“Aku aja penelitian belom kelar, suruh melajarin urusan yang berhubungan sama kerjaan kamu, otak aku capek pasti yank. Hehehe.”
“Hmmm..yaudah deh, yang penting doain aku biar dapet kerjaan yang bagus lagi setelah ini.”
“Pasti dong sayangku.” Katanya lalu merangkul gue.
Selesainya kami pun bersiap melaksanakan ibadah dan kemudian mencari tempat makan malam. Karena malam ini kami mau menikmati udara malam dipinggir pantai. Gue kemudian memindahkan mobil ketempat parkiran yang lebih strategis dan tapi tetap ikut aturan, nggak sembarang parkir dipinggiran jalan gitu.
“Kesana yuk?” gue menunjuk pantai yang gelap minim penerangan.
Hanya ada beberapa KJA (Keramba Jaring Apung) yang waktu itu ada sedikit disana yang bisa memancarkan cahaya redup dari lampu yang dipasangkan.
“Gelap banget yank….lagi pasang ga sih?”
“Iyalah, pasti pasang. Makanya jangan terlalu ketengah. Aku juga nggak mau basah-basahan lagi. “
Kami menyusuri pinggir pantai dan menikmati suara debur ombak yang berasal dari laut. Sungguh menyenangkan malam itu. Lalu kami sempat duduk sebentar di pasir sambil chit chat ringan.
“Pelan-pelan yank…” kata gue.
“Iyaaa…..” katanya.
Dee tiba-tiba udah ada didekat celana pendek gue aja. Rocky dipaksa keluar dan proses perawatan rocky pun terjadi. Sambil celingak celinguk takutnya ada orang kan, gue juga menikmati kuluman Dee yang makin lembut dan memabukkan. Hahaha.
“Aduh kok makin enak sih kamu ngeblownya yank..” kata gue.
“Akjdjwiekfnwuwnnflqg3g” katanya nggak jelas.
“Oh iya lagi full ya mulut kamu. Udah terusin. Hehehe.”
“akwhrhbgdoywtgwngyqojd”
“iya udah nggak usah ikut ngomong, ntar keselek kamu.”
“……”
“Aku mau keluar yank…tahan ya.”
“……”
“Telen Dee, biar sehat terus kamunya.” Gue mengeluarkan lebih cepat dari perkiraan.
Mungkin karena adrenalin meningkat ya, kan ini lagi rame wisatawan lainnya, terus si rocky di mainin sama Dee di tempat yang sangat terbuka gini kan, jadinya lebih cepat keluar.
Dee hanya cengar cengir aja ngeliat muka gue agak panik tapi juga menikmati itu.
“Gimana, seru kan serangan dadakannya? Hehehe.” Ujar Dee senang.
“Iya, tapi gila juga kamu yank. Ini tempat terbuka banget loh. Kita nggak tau dari balik gelap sana ada yang merhatiin kita atau nggak.”
“Udah lah, biarin aja. Anggep aja hadiah dari aku yank. Biar kamu tetep semangat ya. Sayang banget kita nggak bisa nginep sekamar yank.”
“Kan bisa semobil yank. Hehehe.”
“Emang bisa apaan di mobil?”
“Ya bisa kayak gini juga. Kan do tol aja bisa. Apalagi diem. Hehehe.”
“Yah kurang seru yank. Eksplorasi itu enaknya di kasur yank.” Kata Dee sambil nyengir.
“Dih pingin banget kamu tidur sama aku yank? Hahaha.”
“Ya pingin, kan ngantuk yank. Hehehe.”
Obrolan ini arahnya udah ke mesum-mesum doang. Akhirnya gue dan Dee kembali ke mobil. Di mobil kami sempat bercium-cium ria dulu sebelum akhirnya ketiduran. Jok belakang menjadi tempat kami berasoy ria waktu itu. Kaca gelap, mobil tinggi, aman udah. Hehehe.
--
Pulang dari pantai itu, gue berencana membawa Dee kerumah Mama. Pas banget ternyata Dania adik gue juga lagi pulang kerumah. Jadi gue terus memacu laju mobil menuju ke rumah lama gue. Karena rumah yang biasa gue tempat beberapa tahun terakhir udah nggak jadi milik keluarga gue lagi.
Dee nggak tau jalan sama sekali dan nggak ada keinginan untuk mempelajari jalan atau menjadi navigator yang baik. Kerjaannya kebanyakan hanya tidur aja. Gue nggak masalah sebenernya, Cuma ketika ada kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru ya kenapa nggak kan harusnya.
“Kok kayaknya perjalanan kita lama banget ya yank?” katanya saat terbangun dari tidurnya.
“Iya rada macet tadi yank.” Kata gue.
“Ini udah dimana sih?”
“Aku jelasin juga kamu nggak akan ngeh kan? Udah nurut aja. Hehehe.”
“hehe iya sih. Aku nggak bakal tau yank. Aku ikut kamu aja yank.”
“Iyalah kamu ikut aku, emang kamu mau pulang sendiri? Kayak yang tau jalan aja. Hahaha.”
“Yeee, ngeledek terus kamu mah. Iya aku orang daerah yang nggak tau kota yank.”
“Laah gitu aja ngambek kamu mah. Haha.”
“Bodo amat….”
“Senyum kali….”kata gue sambil menyentuh ujung hidungnya yang mancung seperti gue.
“Udah konsentrasi aja kamu yank. Ntar nabrak, aku yang rugi.”
“Lah kok kamu yang rugi?”
“Iya soalnya nanti aku kehilangan orang yang aku sayang.”
“Yaaaaa dia gombal. Bisa juga kamu Dee. Hahaha.”
“Bisa dong weeeks..”
Akhirnya perjalanan kami mendekati akhir, gue udah masuk ke kota asal gue.
“Loh kita kemana ini? Kayaknya nggak kesini kalau pulang?”
“Udah kamu diem aja dulu Dee. Ntar juga kamu tau kita bakal kemana.”
Mobil sudah masuk ke komplek gue. Banyak memori masa kecil dan juga teman-teman kecil gue yang berasal dari komplek ini. Ada juga yang jadi anak band kayak gue saat ini salah satu teman kecil gue ini. Saat memasuki komplek, ternyata teman gue ini lagi berjalan menuju dari arah rumahnya.
“Brrrrooooooo……..” kata gue membuka kaca mobil.
“Waaaaah…..Ija. ma bro. Apa kabar lo. Hahaa. Nggak keliatan lagi lo disini semenjak pindah lagi kemari bro.”
“Haha iya kan gue kost di ibukota bro. Biar deket sama kantor. Hehe.”
“Iya sih bener. Lo sama siapa?”
“Haha iya lupa. Ini cewek gue, namanya Dee. Dee kenalin ini sahabat aku dari kecil, namanya Tyo.”
“Halo Dee. Gue Adityo. Panggil aja Tyo ya.” Kata Tyo.
“Halo, gue Dee. Salam kenal ya.” Kata Dee sambil tersenyum dan menjulurkan tangan didepan muka gue.
“Lo gawe dimana bro sekarang?” tanya gue.
“Gue di provider warna kuning bro.” kata Tyo.
“Wahaha asik dong. Kenceng duit.” Kata gue.
“Amiin…” katanya sambil tertawa miris.
“Masih ngeband kan lo?” tanya gue.
“Masih dong. Haha. Lo?” kata Tyo.
“Vakum dulu band gue. Haha. Gitaris gue cabut ke Aussie. Susah nyari penggantinya. Haha.” Kata gue.
“Haha sayang banget kali. Lanjutin lah kapan waktu ntar main bareng kita. Manggung diacara metal lagi dong.” Katanya.
“Haha bisa diatur lah itu. Tapi sekarang ini fokus gue sama anak-anak gawe dulu. Maklum pada jadi budak korporat. Haha.”
“haha budak korporat. Sama bro.” kata Tyo.
Lalu setelahnya ada chitchat ringan, kemudian gue berpamitan menuju kerumah gue. Jujur aja, tinggal disini lebih enak daripada rumah gue yang lebih besar itu. Tetangga kenal kanan kiri, rukun. Jadinya gue juga nyaman aja gitu, daripada dirumah yang dulu, nggak kenal kanan kiri, lo lo gue gue, pada sengak lagi kadang para asisten rumah tangga atau satpamnya.
“Ternyata aku dibawa kerumah kamu toh. Hehehe. Aku nggak siap Zi.”
“Udah, santai aja. Mamaku udah banyak aku ceritain tentang kamu Dee.”
“Aku gugup. Aku belum pernah diajak kerumah orang tua pacar sebelumnya.”
“haha makanya dengan aku, kamu nambah pengalaman lagi jadinya kan.”
“Hehe. Iya.” Katanya gugup.
Gue membuka pagar rumah dan kemudian mengetuk pintu, lalu mengucap salam. Dari dalam ada sautan suara Mama yang sangat gue rindukan. Kemudian saat membuka pintu, mama memeluk gue dan cipika cipiki seperti biasa.
“Wah kamu bawa temen kamu. Siapa namanya Dek?”
“Aku. Aku Desty tante. Biasa di panggil Dee.”
“Oooh. Ini toh. Cantik ya Dee ini ternyata Ja. Ayo-ayo masuk.” Kata Mama ramah.
“Hehe iya Ma, ini yang suka aku ceritain di telpon atau chat.”
Lalu kamipun masuk kerumah dan di dalam ada Dania. Dania memperkenalkan diri. Ternyata mereka seangkatan. Haha. Jadinya mereka nyambung satu sama lain karena seumuran. Dari mulai ngomongin boyband sampe kebiasaan-kebiasaan yang ada di jaman mereka tumbuh remaja pun dibahas. Haha. Syukur lah. Langsung nyambung. Biasanya si Dania suka julid. Dulu awal kenal Keket aja julidnya minta ampun. Sama Ara dulu juga begitu awalnya.
Mama banyak menanyakan tentang seluk beluk Dee. Dari mulai pendidikannya sampai bagaimana dia bisa ketemu dengan gue. Tapi Mama nggak banyak nanya soal pekerjaan ayah Dee. Ini yang keluarga gue selalu jaga, nggak berusaha menanyakan latar pekerjaan, karena hal tersebut bisa aja membuat tersinggung lawan bicara.
“Aku langsung balik ya Ma abis ini ke kostan. Besok Dee ada kegiatan.”
“Loh kan lagi libur bukan?” kata Mama.
“Iya tapi Dee ada acara bareng teman-temannya. Nggak enak nanti kalau dia nggak ikut.”
“Nggak mau nginep disini aja dulu, besok pagi baru deh berangkat.” Dania menawarkan.
“Dia tidur dikamar lo tapi ya Dan.” Kata gue.
“Iya gampang kak. Hehe.” Kata Dania.
Rumah gue yang lama ini jauh lebih kecil dari rumah yang sebelumnya gue tempatin. Kamarnya juga lebih sedikit dari rumah sebelumnya. Garasi juga Cuma muat satu mobil saja. Tapi sekali lagi, gue jauh lebih nyaman tinggal disini dan di komplek ini. Masa kecil gue yang seru ya di habiskan dirumah ini.
“Mama kamu sama adik kamu welcome banget ya ke aku.”
“Iya dong. Hehehe.”
“Eh iya, adik kamu cantik banget tau, mana kulitnya putih banget lagi. Beda banget sama kamu Zi. Hahaha.”
“Dia ngikut Papa aku kulitnya sama mukanya.”
“Papa kamu putih banget kulitnya?”
“Iya, kulitnya putih, matanya agak sipit, kalau pakai kaos oblong gitu sangkain koko koko yang dagang kelontong yank. Hahaha.”
“Hahaha ngeledekin Papa sendiri kamu mah.”
Lalu dia melihat-lihat foto yang terpajang ditembok rumah ini. Ada foto-foto gue dari bayi sampe wisuda. Ada juga foto Papa Mama serta foto Dania. Papa gue emang sangat gemar fotografi. Dia punya tiga kamera SLR jaman dulu yang masih memakai film manual, “asa 200, isi 36”. Gitu kalau gue dititipin suruh beli roll film buat kamera Papa gue. Sampai sekarang pun masih ada itu barangnya, hanya saja mungkin udah rusak ya.
Kamera ini juga yang dipakai untuk memfoto adik gue dan teman-temannya ketika dulu waktu SD sempat ikutan pemilihan top model junior dan fashion show. Salah satu yang mengajak Mama dan adik gue ikutan itu adalah teman Dania yang sekarang menjadi salah satu pedangdut papan atas Indonesia, yang banyak disorot karena keluarganya, terutama ayahnya, yang rada unik kelakuannya.
Sampai detik ini pun ayahnya tetap dengan keunikannya kalau ketemu dengan Mama gue. Haha. Lucu deh pokoknya ini orang. Tapi humble banget. Dan gue tau persis perjuangan si bapak ini mengantarkan anaknya sana sini naik angkutan umum, meminta Papa gue untuk melakukan sesi foto anaknya, ditipu sama EO, sampai akhirnya salah satu lagunya meledak dipasaran setelah direkam beberapa tahun sebelumnya.
“Ini si artis yang lagi jadi fenomena itu? Seriusan dia temen Dania, Zi?”
“Iya temen dari kecil. Hehe. Dulu yang foto-fotoin dia pas manggung nyanyi dan fashion show itu Papa aku. Itu juga lagu dia kan direkam udah dari kapan tau, eh baru booming sekarang. Haha. Emang rejekinya dia itu.”
“Hahaha. Iya ya, namanya rejeki ga ada yang tau ya.”
“Yah mudah-mudahan aja nanti pasca aku cabut dari kerjaan lama, aku dapet rejeki baru yang lebih bagus lagi ya yank, kayak gini. Hehe.”
“Iya yank, aku selalu doain kamu kok. Pokoknya semangat selalu ya yank.”
“Makasih ya sayang.”
Lalu gue memeluk Dee dengan erat dan sedikit ciuman di bibir. Mumpung Dania dan Mama sedang belanja keluar sebentar. Hehehe.
Diubah oleh yanagi92055 05-11-2019 19:22
itkgid dan 27 lainnya memberi reputasi
26
Tutup
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2](https://s.kaskus.id/images/2019/10/14/10668384_20191014114347.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2](https://s.kaskus.id/images/2019/11/11/10668384_20191111104352.png)
Mulustrasi Dwina, 98,66% mirip, tapi Dwina tinggi kurus langsing
Mulustrasi Rinda, 85% mirip cewek ini, baik badan maupun mukanya
Mulustrasi Dinar, 99,17% mirip, tapi Dinar tinggi semampai dan matanya lebih lebar
serta apresiasi cendol

) Sungguh Tuhan sangat baik pada gue dengan mengirimkan informasi melalui orang ini.