- Beranda
- Stories from the Heart
JATMIKO THE SERIES
...
TS
breaking182
JATMIKO THE SERIES
JATMIKO THE SERIES
Quote:
EPISODE 1 : MISTERI MAYAT TERPOTONG
Quote:
EPISODE 2 : MAHKLUK SEBERANG ZAMAN
Quote:
EPISODE 3 : HANCURNYA ISTANA IBLIS
Diubah oleh breaking182 07-02-2021 01:28
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
25
58K
Kutip
219
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#131
PART 18
Quote:
Dito pulang menjelang malam. Ia makan ditemani Mia. Tak seorangpun mereka yang berbicara. Mia masih terpengaruh oleh apa yang ia lihat siang harinya. Dan yang jelas ia masih marah pada Dito yang begitu menyepelekan pendapatnya selama ini. Padahal bu Endah yang tentunya sudah berpengalaman menyetujui dugaan Mia. Bahwa ada makhluk gaib yang bisa saja akan berbuat jahat di sekitar mereka dan....
"Mia?" Dito bergumam tiba-tiba.
"Nggg.....?" Mia tidak mengangkat muka.
“Aku sudah menghubungi... Hm.... maksudku. Tanpa persetujuanmu aku telah menghubungi Pak Parman dan beberapa orang teman teman dekatnya. Dan ada yang paling istimewa, sersan Jatmiko aku undang serta. Seorang sersan polisi yang sedang naik daun karena kasus –kasus yang ditanganinya selalu berhasil. Kebetulan beliau sudah pulang dari cutinya di Jogja. Ya...siapa tahu kau akan cocok dengan sersan muda itu"
"Untuk....?" barulah Mia angkat muka, memandang Dito bingung.
"Kukira kau kesepian dan kasus yang akan kita tangani ini sampai saat ini sering tersendat dan belum juga menemui titik terang"
"Kapan?", Mia berbisik pelan oleh luapan kegembiraan yang tidak mampu untuk disembunyikan lagi.
"Sabtu malam.... Minggu depan"
"Oh... ", Mia hampir telonjak dari kursinya.
" Mengapa kau tiba-tiba begitu baik padaku, Dito"
"Karena aku merasa bersalah," Dito tersenyum gembira.
“ Aku lupa kita masih terlalu sebentar untuk mengenal satu sama lain. Dan aku sudah terlalu banyak merepotkan dan membuatmu tidak nyaman. Seharusnya aku tidak keras kepala dan yah .. mengapa pula kita pertengkarkan soal - soal sepele seperti itu belakangan ini?"
"Mia?"
"Ya Dito?"
"Sekarang aku akan berjaga - jaga supaya kau dapat tidur nyenyak. Maafkan, selama ini aku terlalu menurutkan nafsu tidurku sendiri dan terlalu larut dalam kesibukan ku. Sehingga mengabaikan apa yang telah kita sepakati sebelumnya. Jadi, Mia, mulai malam ini aku akan tahu diri. Sehingga kalau makhluk yang kau ceritakan itu muncul aku akan dengan mudah meringkusnya...."
"Mia?" Dito bergumam tiba-tiba.
"Nggg.....?" Mia tidak mengangkat muka.
“Aku sudah menghubungi... Hm.... maksudku. Tanpa persetujuanmu aku telah menghubungi Pak Parman dan beberapa orang teman teman dekatnya. Dan ada yang paling istimewa, sersan Jatmiko aku undang serta. Seorang sersan polisi yang sedang naik daun karena kasus –kasus yang ditanganinya selalu berhasil. Kebetulan beliau sudah pulang dari cutinya di Jogja. Ya...siapa tahu kau akan cocok dengan sersan muda itu"
"Untuk....?" barulah Mia angkat muka, memandang Dito bingung.
"Kukira kau kesepian dan kasus yang akan kita tangani ini sampai saat ini sering tersendat dan belum juga menemui titik terang"
"Kapan?", Mia berbisik pelan oleh luapan kegembiraan yang tidak mampu untuk disembunyikan lagi.
"Sabtu malam.... Minggu depan"
"Oh... ", Mia hampir telonjak dari kursinya.
" Mengapa kau tiba-tiba begitu baik padaku, Dito"
"Karena aku merasa bersalah," Dito tersenyum gembira.
“ Aku lupa kita masih terlalu sebentar untuk mengenal satu sama lain. Dan aku sudah terlalu banyak merepotkan dan membuatmu tidak nyaman. Seharusnya aku tidak keras kepala dan yah .. mengapa pula kita pertengkarkan soal - soal sepele seperti itu belakangan ini?"
"Mia?"
"Ya Dito?"
"Sekarang aku akan berjaga - jaga supaya kau dapat tidur nyenyak. Maafkan, selama ini aku terlalu menurutkan nafsu tidurku sendiri dan terlalu larut dalam kesibukan ku. Sehingga mengabaikan apa yang telah kita sepakati sebelumnya. Jadi, Mia, mulai malam ini aku akan tahu diri. Sehingga kalau makhluk yang kau ceritakan itu muncul aku akan dengan mudah meringkusnya...."
Quote:
Dan makhluk itu baru muncul malam berikutnya. Manakala Mia baru saja terlelap ketika Dito membangunkannya dan berbisik dengan suara gugup:
"Aku melihatnya!"
Mia segera bangun. Di luar, hujan memang turun. Tetapi tidak begitu deras. Suara anginpun tidak terdengar membadai. Namun ada kilat menyambar sesekali, dan guntur yang mengguruh samar – samar di kejauhan. Mia dengan gemetar menempel di belakang Dito. Pemuda itu mengajaknya berjingkat -jingkat ke jendela lalu dengan hati hati menyingkapkan tirai.
Gelap sekali di luar.
Tetapi tidak demikian halnya ketika petir menyambar. Dalam perubahan cuaca yang sekilas itu, kelihatan tumpukan batu-batu hitam di bibir bukit. Selebihnya tak ada apa -apa lagi.
"Aku tak melihat...."
“ Ssst....!" Dito meletakkan jari telunjuk di bibir.
"Sabar.... Sabar", Dito masih berusaha menakan volume suaranya.
Sekali lagi kilat menyambar lagi di luar rumah dan Mia melihat sesuatu di permukaan tonjolan batu yang paling tinggi. Ia juga tidak setakut sebelumnya. Dengan mata nyalang ia melihat makhluk itu. Berdiri lurus di atas batu. Hitam pekat. Posisinya langsung menghadap ke jendela tempat mereka mengintai. Dua kali petir menyambar. Dua kali Mia melihat sesosok tubuh berdiri membeku, tanpa kepala. Sementara tangan kanannya tampak menenteng benda bulat dengan dua sorot merah kemerahan laksana bara api neraka.
"Mau apa kau?", Mia tersentak ketika Dito berjalan ke pintu.
"Menangkapnya !”
" Siapa?", barulah Mia ketakutan
"Hantumu yang terkutuk itu!"
Sebelum Mia sempat mencerna arti ucapan Dito, pemuda berambut ikal sebahu itu telah membuka pintu dan dengan kecepatan yang tidak terduga. Ia menghambur keluar rumah, berlari di bawah siraman hujan menuju tumpukan batu-batu hitam di tempat ketinggian itu. Guntur menggelegar di langit kelam. Dan lantai tempat Mia berpijak seakan tergoncang tiba-tiba.
"Aku melihatnya!"
Mia segera bangun. Di luar, hujan memang turun. Tetapi tidak begitu deras. Suara anginpun tidak terdengar membadai. Namun ada kilat menyambar sesekali, dan guntur yang mengguruh samar – samar di kejauhan. Mia dengan gemetar menempel di belakang Dito. Pemuda itu mengajaknya berjingkat -jingkat ke jendela lalu dengan hati hati menyingkapkan tirai.
Gelap sekali di luar.
Tetapi tidak demikian halnya ketika petir menyambar. Dalam perubahan cuaca yang sekilas itu, kelihatan tumpukan batu-batu hitam di bibir bukit. Selebihnya tak ada apa -apa lagi.
"Aku tak melihat...."
“ Ssst....!" Dito meletakkan jari telunjuk di bibir.
"Sabar.... Sabar", Dito masih berusaha menakan volume suaranya.
Sekali lagi kilat menyambar lagi di luar rumah dan Mia melihat sesuatu di permukaan tonjolan batu yang paling tinggi. Ia juga tidak setakut sebelumnya. Dengan mata nyalang ia melihat makhluk itu. Berdiri lurus di atas batu. Hitam pekat. Posisinya langsung menghadap ke jendela tempat mereka mengintai. Dua kali petir menyambar. Dua kali Mia melihat sesosok tubuh berdiri membeku, tanpa kepala. Sementara tangan kanannya tampak menenteng benda bulat dengan dua sorot merah kemerahan laksana bara api neraka.
"Mau apa kau?", Mia tersentak ketika Dito berjalan ke pintu.
"Menangkapnya !”
" Siapa?", barulah Mia ketakutan
"Hantumu yang terkutuk itu!"
Sebelum Mia sempat mencerna arti ucapan Dito, pemuda berambut ikal sebahu itu telah membuka pintu dan dengan kecepatan yang tidak terduga. Ia menghambur keluar rumah, berlari di bawah siraman hujan menuju tumpukan batu-batu hitam di tempat ketinggian itu. Guntur menggelegar di langit kelam. Dan lantai tempat Mia berpijak seakan tergoncang tiba-tiba.
Quote:
PADA malam yang sama, dalam kamar sempit yang terletak tak jauh di belakang rumah yang sangat besar. Sumanto gelisah setengah mati. Lelaki pendek gemuk itu begitu masuk ke kamarnya. Ia telah dapat merasakan ada sesuatu yang tengah menunggunya di luar. Sesuatu yang bersembunyi di balik kegelapan malam yang dingin berkabut. Sekali ia buka pintu atau jendela. Ia pasti langsung diterkam. Dicekik. Dicabik-cabik. Dan kalau itu terjadi, ia tahu pula bahwa ia tidak akan mampu melakukan perlawanan. Dan tubuhnya akan terkapar meregang nyawa.
Sore tadi perasaan itu belum timbul. Ia sengaja menemui majikannya. Mengutarakan niat, minta berhenti. Baik sebagai pelayan, maupun sopir pribadi. Tentu saja Parlin kaget bukan kepalang. Lama lelaki dengan wajah dingin dan tanpa ekspresi itu terdiam. Wajahnya terlihat tambah dingin dan mengelam.
Sebelum akhirnya Parlin membuka mulut:
“Begitu mendadak. Apakah aku telah mengecewakan kau selama ini Manto? Atau apakah kebaikan ku selama ini kurang..masalah gaji mungkin?!"
"Saya cukup puas Tuan...."
“Lantas...?"
"Saya eh... saya bemaksud untuk pulang ke Situbondo, ke tempat dimana saya lahir. Dan sebelum itu saya juga igin menikah “ ,Manto berbicara sembari menundukkan wajahnya dalam -dalam.
Ia harapkan pengakuannya itu dapat menggembirakan hati Parlin majikan yang telah lama ia ikuti. Nyatanya tidak. Parlin tertegun dan terdiam.
"Hem.....”, Parlin menarik nafas panjang.
“Jadi kau ada kemajuan dan sudah mampu untuk mandiri tidak bergantung lagi kepadaku. Satu hal yang perlu kau ingat Manto. Kau bisa hidup, menghirup nafas sampai hari ini karena aku. Nyawamu itu milikku. Aku bisa saja memintanya kapan aku mau. Akan tetapi, mengingat semua yang telah kau lakukan kepadaku selama ini. Aku tidak akan melakukan itu “
Mendengar hal itu Sumanto mukanya berubah menjadi pias pucat pasi. Bulu kuduknya meremang, jantungnya beroacu dengan lebih cepat.
“ Dan baguslah! Aku sangat senang mendengar akhirnya kau memilih untuk menikah dan membangun rumah tangga mu"
Namun tekanan suaranya sama sekali tidak menampakkan rasa senang.
"Lantas... mengapa harus pindah ke Situbondo? Ajak saja isterimu tinggal bersama kita, bersama aku disini "
"Ia tidak mau Tuan.. Sudah saya paksa – paksa "
Terbata –bata Sumanto menjawab pertanyaan Parlin.
"Mengapa?"
"Anu eh.,,, begini. Ia sudah janda. Punya anak empat. Katanya, ia tidak ingin menyusahkan, lagipula ia sudah punya rumah sendiri di Situbondo. Tak mau meninggalkan rumahnya “
"Kapan kau bermaksud pindah ?”, mendadak Parlin bertanya.
Sumanto menarik nafas lega mendengar pertanyaan itu karena dilihatnya majikannya itu suaranya sudah sangat melunak dibandingkan tadi. Sesudah membasahi bibir yang sempat kering. Sumanto menjawab.
"Sore ini juga!"
Mendengar hal itu Parlin terdiam tanpa memperlihatkan rasa kaget sedikitpun. Tetapi tidak lama Parlin menatap Sumanto dengan wajah muram.
Katanya: "Sebenarnya kami merasa berat melepaskanmu. Tetapi karena tampaknya pendirianmu cukup teguh. apa boleh buat, aku tidak akan menghalangi mu lagi “
“ Baiklah...aku akan memberimu pesangon. Anggaplah sebagai tanda terimaksih ku selama ini. Aku juga akan memberimu sesuatu sebuah tanda mata atau bisa dikatakan kenang -kenangan...."
Parlin tertatih-tatih pergi ke dalam rumah. Ketika kembali. Ia memegang sesuatu yang terbungkus kertas dan satu kantong berukuran kecil. Mana kala diletakkan di atas meja menimbulkan suara bergemerincing. Seperti suara logam beradu.
“ Di kantong kecil itu ada beberapa logam emas, tidak banyak tapi mampulah untuk memulai usaha mu. Dan yang terbungkus kertas ini..terimalah...”
Parlin segera menyodorkan ke tangan Sumanto yang menerimanya dengan kepala dipenuhi tanda tanya.
Parlin menerangkan: "Hanya sebuah topeng. Tetapi dibuat dari bahan karet yang kuat dan dirias sangat menarik. Ini yang terbaik dari semua topeng yang ada dalam persediaan kita. Eh, mengapa kau gelisah? Wajahmu pun tampak pucat. Sakit?"
"Tidak... -eh. Hanya sedikit pusing Tuan "
"Perlu kuantar ke rumah dokter Usman?"
"Tidak, terima kasih... Saya akan sembuh segera"
Sumanto kemudian pamit dan berjalan meninggalkan rumah besar kuno yang cerobong asapnya selalu mengeluarkan asap beraroma ganjil itu. Langkah kakinya terasa goyah dan tangan seakan terbakar selama memegang tanda kenang-kenangan itu.
”Topeng karet......” ,pikirnya dengan cemas.
Topeng yang berbau kematian! Topeng berbau maksiat! Topeng yang dipergunakan manusia manusia pemuja setan durjana yang telah melupakan Tuhan! Sumanto sudah tahu persis. Bahkan bukan sekali dua kali ia telah melihat bagaimana topeng-topeng aneh menari - nari di bawah jilatan rembulan, di antara suara-suara nyanyian yang bergaung menakutkan di tengah malam buta. Melengkapi upacara - upacara ganjil yang selalu mengalirkan darah para wanita hamil akibat hubungan di luar nikah.
Sambil tersuruk suruk menuju kamar pondoknya. SuManto menatap kegelapan malam yang dingin berkabut. Tiba-tiba ia merasa takut. Dan topeng di tangannya seperti bergerak -gerak. Karena tidak tahan lagi, ia buang topeng yang dibungkus kertas itu jauh - jauh. Entah kemana ia tidak perduli. Kemudian dia pun setangah berlari memasuki kamar pondokkannya.
Ia hampir menjerit karena panik dan takut. Manakala pintu pondok itu tiba –tiba susah sekali terbuka.
Sambil terus berusaha mendorong, mengangkat , menekan dan menarik pegangan pintu supaya kunci pas masuk di lobangnya, mata Sumanto liar jelalatan kian kemari. Takut kalau-kalau ada sesuatu yang menguntitnya diam - diam. Akhirnya pintu terbuka juga, Ia menerobos masuk seketika. Dan membanting pintu sampai tertutup lalu menguncinya rapat-rapat.
Terbaring di permukaan tempat tidurnya. Tidak juga mendatangkan perasaan aman. Ia biarkan lampu menyala terang benderang. Dan mencoba tidur. Tidak ada sesuatu yang perlu ia takutkan di kamarnya. Semua yang ia kuatirkan justru berada di luar rumah. Entah mengapa. Ia merasa sangat yakin sesuatu telah mengintai diam-diam. Begitu topeng tadi ia lemparkan. Sesuatu itu bahkan berusaha mengejarnya. Menanti kelengahan untuk kemudian mendusta selembar nyawanya.
Sore tadi perasaan itu belum timbul. Ia sengaja menemui majikannya. Mengutarakan niat, minta berhenti. Baik sebagai pelayan, maupun sopir pribadi. Tentu saja Parlin kaget bukan kepalang. Lama lelaki dengan wajah dingin dan tanpa ekspresi itu terdiam. Wajahnya terlihat tambah dingin dan mengelam.
Sebelum akhirnya Parlin membuka mulut:
“Begitu mendadak. Apakah aku telah mengecewakan kau selama ini Manto? Atau apakah kebaikan ku selama ini kurang..masalah gaji mungkin?!"
"Saya cukup puas Tuan...."
“Lantas...?"
"Saya eh... saya bemaksud untuk pulang ke Situbondo, ke tempat dimana saya lahir. Dan sebelum itu saya juga igin menikah “ ,Manto berbicara sembari menundukkan wajahnya dalam -dalam.
Ia harapkan pengakuannya itu dapat menggembirakan hati Parlin majikan yang telah lama ia ikuti. Nyatanya tidak. Parlin tertegun dan terdiam.
"Hem.....”, Parlin menarik nafas panjang.
“Jadi kau ada kemajuan dan sudah mampu untuk mandiri tidak bergantung lagi kepadaku. Satu hal yang perlu kau ingat Manto. Kau bisa hidup, menghirup nafas sampai hari ini karena aku. Nyawamu itu milikku. Aku bisa saja memintanya kapan aku mau. Akan tetapi, mengingat semua yang telah kau lakukan kepadaku selama ini. Aku tidak akan melakukan itu “
Mendengar hal itu Sumanto mukanya berubah menjadi pias pucat pasi. Bulu kuduknya meremang, jantungnya beroacu dengan lebih cepat.
“ Dan baguslah! Aku sangat senang mendengar akhirnya kau memilih untuk menikah dan membangun rumah tangga mu"
Namun tekanan suaranya sama sekali tidak menampakkan rasa senang.
"Lantas... mengapa harus pindah ke Situbondo? Ajak saja isterimu tinggal bersama kita, bersama aku disini "
"Ia tidak mau Tuan.. Sudah saya paksa – paksa "
Terbata –bata Sumanto menjawab pertanyaan Parlin.
"Mengapa?"
"Anu eh.,,, begini. Ia sudah janda. Punya anak empat. Katanya, ia tidak ingin menyusahkan, lagipula ia sudah punya rumah sendiri di Situbondo. Tak mau meninggalkan rumahnya “
"Kapan kau bermaksud pindah ?”, mendadak Parlin bertanya.
Sumanto menarik nafas lega mendengar pertanyaan itu karena dilihatnya majikannya itu suaranya sudah sangat melunak dibandingkan tadi. Sesudah membasahi bibir yang sempat kering. Sumanto menjawab.
"Sore ini juga!"
Mendengar hal itu Parlin terdiam tanpa memperlihatkan rasa kaget sedikitpun. Tetapi tidak lama Parlin menatap Sumanto dengan wajah muram.
Katanya: "Sebenarnya kami merasa berat melepaskanmu. Tetapi karena tampaknya pendirianmu cukup teguh. apa boleh buat, aku tidak akan menghalangi mu lagi “
“ Baiklah...aku akan memberimu pesangon. Anggaplah sebagai tanda terimaksih ku selama ini. Aku juga akan memberimu sesuatu sebuah tanda mata atau bisa dikatakan kenang -kenangan...."
Parlin tertatih-tatih pergi ke dalam rumah. Ketika kembali. Ia memegang sesuatu yang terbungkus kertas dan satu kantong berukuran kecil. Mana kala diletakkan di atas meja menimbulkan suara bergemerincing. Seperti suara logam beradu.
“ Di kantong kecil itu ada beberapa logam emas, tidak banyak tapi mampulah untuk memulai usaha mu. Dan yang terbungkus kertas ini..terimalah...”
Parlin segera menyodorkan ke tangan Sumanto yang menerimanya dengan kepala dipenuhi tanda tanya.
Parlin menerangkan: "Hanya sebuah topeng. Tetapi dibuat dari bahan karet yang kuat dan dirias sangat menarik. Ini yang terbaik dari semua topeng yang ada dalam persediaan kita. Eh, mengapa kau gelisah? Wajahmu pun tampak pucat. Sakit?"
"Tidak... -eh. Hanya sedikit pusing Tuan "
"Perlu kuantar ke rumah dokter Usman?"
"Tidak, terima kasih... Saya akan sembuh segera"
Sumanto kemudian pamit dan berjalan meninggalkan rumah besar kuno yang cerobong asapnya selalu mengeluarkan asap beraroma ganjil itu. Langkah kakinya terasa goyah dan tangan seakan terbakar selama memegang tanda kenang-kenangan itu.
”Topeng karet......” ,pikirnya dengan cemas.
Topeng yang berbau kematian! Topeng berbau maksiat! Topeng yang dipergunakan manusia manusia pemuja setan durjana yang telah melupakan Tuhan! Sumanto sudah tahu persis. Bahkan bukan sekali dua kali ia telah melihat bagaimana topeng-topeng aneh menari - nari di bawah jilatan rembulan, di antara suara-suara nyanyian yang bergaung menakutkan di tengah malam buta. Melengkapi upacara - upacara ganjil yang selalu mengalirkan darah para wanita hamil akibat hubungan di luar nikah.
Sambil tersuruk suruk menuju kamar pondoknya. SuManto menatap kegelapan malam yang dingin berkabut. Tiba-tiba ia merasa takut. Dan topeng di tangannya seperti bergerak -gerak. Karena tidak tahan lagi, ia buang topeng yang dibungkus kertas itu jauh - jauh. Entah kemana ia tidak perduli. Kemudian dia pun setangah berlari memasuki kamar pondokkannya.
Ia hampir menjerit karena panik dan takut. Manakala pintu pondok itu tiba –tiba susah sekali terbuka.
Sambil terus berusaha mendorong, mengangkat , menekan dan menarik pegangan pintu supaya kunci pas masuk di lobangnya, mata Sumanto liar jelalatan kian kemari. Takut kalau-kalau ada sesuatu yang menguntitnya diam - diam. Akhirnya pintu terbuka juga, Ia menerobos masuk seketika. Dan membanting pintu sampai tertutup lalu menguncinya rapat-rapat.
Terbaring di permukaan tempat tidurnya. Tidak juga mendatangkan perasaan aman. Ia biarkan lampu menyala terang benderang. Dan mencoba tidur. Tidak ada sesuatu yang perlu ia takutkan di kamarnya. Semua yang ia kuatirkan justru berada di luar rumah. Entah mengapa. Ia merasa sangat yakin sesuatu telah mengintai diam-diam. Begitu topeng tadi ia lemparkan. Sesuatu itu bahkan berusaha mengejarnya. Menanti kelengahan untuk kemudian mendusta selembar nyawanya.
Diubah oleh breaking182 27-01-2021 10:16
1980decade dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Kutip
Balas
Tutup