- Beranda
- Stories from the Heart
JATMIKO THE SERIES
...
TS
breaking182
JATMIKO THE SERIES
JATMIKO THE SERIES
Quote:
EPISODE 1 : MISTERI MAYAT TERPOTONG
Quote:
EPISODE 2 : MAHKLUK SEBERANG ZAMAN
Quote:
EPISODE 3 : HANCURNYA ISTANA IBLIS
Diubah oleh breaking182 07-02-2021 01:28
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
25
58K
Kutip
219
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#130
PART 17
Quote:
"Beberapa hari ini kalian tampak tegang" , bu Endah berkata hati -hati ketika ia dan Mia tinggal berdua di rumah besar itu.
Dan sang induk semang yang baik hati itu dengan sengaja mengundang anak semangnya yang sedang gelisah untuk duduk minum bersama di rumah induk, sekalian mengisi kesepian ditinggal pergi suami masing masing. Dito yang berpura –pura menjadi suami Mia pergi menemui Parman, dan pak Barda ditemani Manto turun ke kota. Mengambil uang pensiun di bank.
"Bukannya aku mau ikut campur, nak Mia," desah bu Endah, lembut dan setengah menyalahkan dirinya sendiri.
"Namun aku dan bapakmu tak enak makan, melihat kalian berdua berlaku seperti kucing dan anjing," ia tersenyum.
"Jangan lupa kalian sudah kami anggap sebagai anak sendiri."
Mia mengucapkan terimakasih. Ragu - ragu sebentar. Apakah ia harus membukakan rahasia bahwa sebenarnya ia dan Dito bukan sepasang suami istri kepada perempuan tua yang baik hati itu.
Sambil mengawasi jari-jemari bu Endah yang dengan terampil menggerakkan jarum pada kaos kaki yang ia rajut, ia kemudian bergumam:
"Hanya soal sepele saja bu”
"Boleh aku tahu?"
"Ah...."
"Tak usahlah, kalau kau enggan!" bu Endah tersenyum.
"Hanya..... yaa, tadinya kukira aku dapat membantu "
Sepi sejenak.
Lalu tiba tiba keheningan sesaat itu dipecah oleh pertanyaan yang terlontar dari mulut Mia : "Ibu percaya hantu?"
"Apa?" bu Endah kaget.
Hampir saja jarum menusuk ibu jarinya. Sekejap kemudian, wajahnya sudah nampak biasa kembali.
“Pertanyaanmu aneh nak Mia"
. "Ibu percaya?" desak Mia.
"Tentu saja percaya"
"Mengapa, bu Endah?"
"Karena selain makhluk nyata dunia ini juga dipenuhi oleh hal-hal gaib dan tidak masuk di akal nalar kita sebagai manusia. Bukankah itu tertera dalam kitab suci umat beragama?"
"Yang disebut gaib bisa saja dan aku yakin bu Endah, pasti ditujukan pada ciptaan Tuhan semata...."
"Apakah makhluk gaib bukan ciptaan Tuhan nak Mia?"
"Itu aku tak.... tahu pasti. Tetapi makhluk gaib itu seperti apakah rupa dan wujudnya bu Endah?"
"Tergantung dari sudut apa kita merasakan dan melihatnya..." perempuan tua itu menatap Mia dengan sorot mata tajam.
"Kau melihat makhluk gaib? Itukah yang kau maksudkan Mia?"
"Ya bu?"
"Astaga. Dimana?"
Mira menyebutkan tempatnya. Kemudian menceritakan suasana serta bagaimana rupa makhluk yang pernah ia lihat. Bu Endah mendengarkan dengan takut dengan sesekali mengucap sesuatu samar-samar Sesekali geleng kepala dan pernah sampai mengatakan, "Setan itu dia. Sang Penguasa"
Ia mengucapkannya begitu samar, sehingga Mia tidak mendengar, hanya bercuriga ketika melihat wajah bu Endah berubah kemerah-merahan serta matanya kelihatan berkilat – kilat penuh semangat.
" Ibu merasakan sesuatu ?", desah Mia ingin tahu.
"Oh.... Hanya kegembiraan"
"Mengenai?"
"Ceritamu. Ceritamu itu membuktikan kebenaran yang telah disebut dalam kitab suci. Tentang adanya penguasa di muka bumi. Ah. jangan bertanya apa-apa dulu. Aku juga sama bodohnya seperti kau dalam soal -soal begituan. Namun aku percaya sesuatu akan lahir di dekat kita dan sesuatu itu diberi pertanda lewat apa yang kau lihat"
"Makhluk jahat itu?" Mia terkejut.
"Siapa mengatakan yang kau lihat itu makhluk jahat anakku?"
"Tidak .......aku...."
"Pernah kau diganggunya?"
"Tidak."
"Jadi ia baik. Selama ia tidak mengganggu, ia tidak jahat...", bu Endah berkata khidmat.
Melihat perempuan muda usia itu kebingungan. Ia mengalihkan percakapan pada hal lain:
“ Oh ya.... sambil lalu aku ingin tanya padamu nak Mia. Apakah kau mencurigai si Manto?"
“Bu aku..." ,Mia terpojok.
"Tak usah cemas. Ia hanya pelayan setia Pak Parlin. Hanya saja belakangan ini Pak Parlin jarang turun untuk mengontrol pabrik kayu lapisnya di kota sehingga Manto di perbantukan di sini. Terkadang juga membantu tetangga –tetangga lain yang membutuhkan pertolongan. Misalnya, membuat kandang ayam, memperbaiki genteng yang bocor, mengecat tembok dan hal –hal yang lain “
“ Memang belakangan ini Manto jarang sekali terlihat di pemukiman ini. Kukira ia memperoleh seorang majikan baru secara diam – diam. Akan tetapi, tidak memberitahu. Ia memang suka berlaku aneh aneh. Tetapi tanpa kepala dan menenteng kepalanya sendiri dengan mata merah bernyala, kedengarannya menggelikan "
"Apa saja yang aneh aneh dari kelakuannya bu ?", Mia memotong cerita Bu Endah dengan cepat.
"Ah... itu juga tidak jelas benar. Didekatku atau perilakunya dnegan tetangga lain, ia biasa - biasa saja. Hanya kalau ia sudah jauh dari rumah ini dan sering berkumpul dengan orang-orang kampung tak jauh dari lembah. Kudengar ia sering berbuat aneh. Aneh macam apa. Aku sendiri tidak jelas. Tetapi setelah mendengar kisahmu yang menakutkan itu. Aku kira aku dan bapakmu harus lebih waspada "
Kaos kaki itu selesai Bu Endah rajut. Lalu diletakkan di keranjang. Dimana hasil rajutan nya yang lain telah bertumpuk - tumpuk. Sengaja ia arahkan perhatian Mia pada keranjang itu. Sekedar untuk mengalihkan bahan pembicaraan dengan halus.
“ Delapan setel kaos kaki dan kaos tangan. Cukuplah nak Mia"
“Untuk apa bu?", Mia bertanya penuh keheranan. Setahu dia di pemukiman itu tidak ada satupun tetangga yang memiliki bayi ataupun anak kecil.
“Astaga, sebentar lagi kau akan mengandung dan ini aku buatkan sebagai kado untuk calon cucu ku itu “, bu Endah pura - pura tersinggung
“Untuk anakku ? Aku akan mengandung?" Mia terkejut hampir saja ia terlonjak dari kursi yang diduduki.
Telah lama ia perhatikan kesibukan induk semangnya merajut. Namun tak pernah ia duga hasil rajutan itu untuk anaknya, anak yang tidak mungkin terlahir karena ia dan Dito sebenarnya hanya sekedar bersandiwara. Lantas dengan cepat Mia menutupi keterkejutannya.
"Aduh bu.... Aku sangat berterimakasih “, ia memegang tangan perempuan itu dengan perasaan terharu.
Mia tiba –tiba melepaskan pegangan tangannya.
“ Bu Endah....Bau apa ini? Sepertinya dari dapur. Biar kulihat bu “, Mia bangkit dan bergegas pergi ke dapur.
"Ah.... rupanya bu Endah menjerang air dan lupa mematikan kompor”
Dan sang induk semang yang baik hati itu dengan sengaja mengundang anak semangnya yang sedang gelisah untuk duduk minum bersama di rumah induk, sekalian mengisi kesepian ditinggal pergi suami masing masing. Dito yang berpura –pura menjadi suami Mia pergi menemui Parman, dan pak Barda ditemani Manto turun ke kota. Mengambil uang pensiun di bank.
"Bukannya aku mau ikut campur, nak Mia," desah bu Endah, lembut dan setengah menyalahkan dirinya sendiri.
"Namun aku dan bapakmu tak enak makan, melihat kalian berdua berlaku seperti kucing dan anjing," ia tersenyum.
"Jangan lupa kalian sudah kami anggap sebagai anak sendiri."
Mia mengucapkan terimakasih. Ragu - ragu sebentar. Apakah ia harus membukakan rahasia bahwa sebenarnya ia dan Dito bukan sepasang suami istri kepada perempuan tua yang baik hati itu.
Sambil mengawasi jari-jemari bu Endah yang dengan terampil menggerakkan jarum pada kaos kaki yang ia rajut, ia kemudian bergumam:
"Hanya soal sepele saja bu”
"Boleh aku tahu?"
"Ah...."
"Tak usahlah, kalau kau enggan!" bu Endah tersenyum.
"Hanya..... yaa, tadinya kukira aku dapat membantu "
Sepi sejenak.
Lalu tiba tiba keheningan sesaat itu dipecah oleh pertanyaan yang terlontar dari mulut Mia : "Ibu percaya hantu?"
"Apa?" bu Endah kaget.
Hampir saja jarum menusuk ibu jarinya. Sekejap kemudian, wajahnya sudah nampak biasa kembali.
“Pertanyaanmu aneh nak Mia"
. "Ibu percaya?" desak Mia.
"Tentu saja percaya"
"Mengapa, bu Endah?"
"Karena selain makhluk nyata dunia ini juga dipenuhi oleh hal-hal gaib dan tidak masuk di akal nalar kita sebagai manusia. Bukankah itu tertera dalam kitab suci umat beragama?"
"Yang disebut gaib bisa saja dan aku yakin bu Endah, pasti ditujukan pada ciptaan Tuhan semata...."
"Apakah makhluk gaib bukan ciptaan Tuhan nak Mia?"
"Itu aku tak.... tahu pasti. Tetapi makhluk gaib itu seperti apakah rupa dan wujudnya bu Endah?"
"Tergantung dari sudut apa kita merasakan dan melihatnya..." perempuan tua itu menatap Mia dengan sorot mata tajam.
"Kau melihat makhluk gaib? Itukah yang kau maksudkan Mia?"
"Ya bu?"
"Astaga. Dimana?"
Mira menyebutkan tempatnya. Kemudian menceritakan suasana serta bagaimana rupa makhluk yang pernah ia lihat. Bu Endah mendengarkan dengan takut dengan sesekali mengucap sesuatu samar-samar Sesekali geleng kepala dan pernah sampai mengatakan, "Setan itu dia. Sang Penguasa"
Ia mengucapkannya begitu samar, sehingga Mia tidak mendengar, hanya bercuriga ketika melihat wajah bu Endah berubah kemerah-merahan serta matanya kelihatan berkilat – kilat penuh semangat.
" Ibu merasakan sesuatu ?", desah Mia ingin tahu.
"Oh.... Hanya kegembiraan"
"Mengenai?"
"Ceritamu. Ceritamu itu membuktikan kebenaran yang telah disebut dalam kitab suci. Tentang adanya penguasa di muka bumi. Ah. jangan bertanya apa-apa dulu. Aku juga sama bodohnya seperti kau dalam soal -soal begituan. Namun aku percaya sesuatu akan lahir di dekat kita dan sesuatu itu diberi pertanda lewat apa yang kau lihat"
"Makhluk jahat itu?" Mia terkejut.
"Siapa mengatakan yang kau lihat itu makhluk jahat anakku?"
"Tidak .......aku...."
"Pernah kau diganggunya?"
"Tidak."
"Jadi ia baik. Selama ia tidak mengganggu, ia tidak jahat...", bu Endah berkata khidmat.
Melihat perempuan muda usia itu kebingungan. Ia mengalihkan percakapan pada hal lain:
“ Oh ya.... sambil lalu aku ingin tanya padamu nak Mia. Apakah kau mencurigai si Manto?"
“Bu aku..." ,Mia terpojok.
"Tak usah cemas. Ia hanya pelayan setia Pak Parlin. Hanya saja belakangan ini Pak Parlin jarang turun untuk mengontrol pabrik kayu lapisnya di kota sehingga Manto di perbantukan di sini. Terkadang juga membantu tetangga –tetangga lain yang membutuhkan pertolongan. Misalnya, membuat kandang ayam, memperbaiki genteng yang bocor, mengecat tembok dan hal –hal yang lain “
“ Memang belakangan ini Manto jarang sekali terlihat di pemukiman ini. Kukira ia memperoleh seorang majikan baru secara diam – diam. Akan tetapi, tidak memberitahu. Ia memang suka berlaku aneh aneh. Tetapi tanpa kepala dan menenteng kepalanya sendiri dengan mata merah bernyala, kedengarannya menggelikan "
"Apa saja yang aneh aneh dari kelakuannya bu ?", Mia memotong cerita Bu Endah dengan cepat.
"Ah... itu juga tidak jelas benar. Didekatku atau perilakunya dnegan tetangga lain, ia biasa - biasa saja. Hanya kalau ia sudah jauh dari rumah ini dan sering berkumpul dengan orang-orang kampung tak jauh dari lembah. Kudengar ia sering berbuat aneh. Aneh macam apa. Aku sendiri tidak jelas. Tetapi setelah mendengar kisahmu yang menakutkan itu. Aku kira aku dan bapakmu harus lebih waspada "
Kaos kaki itu selesai Bu Endah rajut. Lalu diletakkan di keranjang. Dimana hasil rajutan nya yang lain telah bertumpuk - tumpuk. Sengaja ia arahkan perhatian Mia pada keranjang itu. Sekedar untuk mengalihkan bahan pembicaraan dengan halus.
“ Delapan setel kaos kaki dan kaos tangan. Cukuplah nak Mia"
“Untuk apa bu?", Mia bertanya penuh keheranan. Setahu dia di pemukiman itu tidak ada satupun tetangga yang memiliki bayi ataupun anak kecil.
“Astaga, sebentar lagi kau akan mengandung dan ini aku buatkan sebagai kado untuk calon cucu ku itu “, bu Endah pura - pura tersinggung
“Untuk anakku ? Aku akan mengandung?" Mia terkejut hampir saja ia terlonjak dari kursi yang diduduki.
Telah lama ia perhatikan kesibukan induk semangnya merajut. Namun tak pernah ia duga hasil rajutan itu untuk anaknya, anak yang tidak mungkin terlahir karena ia dan Dito sebenarnya hanya sekedar bersandiwara. Lantas dengan cepat Mia menutupi keterkejutannya.
"Aduh bu.... Aku sangat berterimakasih “, ia memegang tangan perempuan itu dengan perasaan terharu.
Mia tiba –tiba melepaskan pegangan tangannya.
“ Bu Endah....Bau apa ini? Sepertinya dari dapur. Biar kulihat bu “, Mia bangkit dan bergegas pergi ke dapur.
"Ah.... rupanya bu Endah menjerang air dan lupa mematikan kompor”
Quote:
Air di ceret telah habis kering dan dasar ceret hangus mengering, tinggal warna kehitam hitaman yang mengepulkan asap berbau sangit. Menggunakan sehelai lap. Mia mengangkat ceret dan meletakkannya di atas meja perabotan yang permukaannya terbuat dari porselen.
Waktu memadamkan kompor perhatiannya tertuju pada bahan -bahan masak didekatnya. Ada setengah periuk susu, rempah-rempah, kemudian setumpuk gumpalan darah ayam di atas sebuah piring. Rempah - rempah itu baunya bukan main menyengat hidung sehingga kepala Mia agak pening, ditambah sebagian gumpalan darah itu belum kering benar sehingga tampak masih kental meleleh di tengah - tengah piring.
Gumpalan darah merah kehitaman itu membuat perutnya seperti di aduk –aduk. Ia lari ke kamar mandi. Dan di sana isi perutnya bagai di peras –peras, keluarlah semua muntahannya. Keluar dari kamar mandi perasaan Mia lebih enak. Ia berpaling ke arah lain sewaktu melewati dapur. Matanya menangkap sesuatu yang aneh lewat sebuah pintu gudang yang agak terbuka. Sekejap ia terkejut dan menduga ada banyak wajah-wajah mengerikan mengintai dari dalam kegelapan gudang. Ia tertegun tak dapat bergerak. Sepasang matanya melotot.
Mia terpaku di tempatnya berdiri menunggu dengan jantung berdebar –debar. Jika saja wajah- wajah mengerikan itu muncul dan menyerangnya. Namun, saat demi saat berlalu tanpa terjadi apa -apa. Tidak ada suara apapun dari gudang. Tidak ada gerakan. Dan ketika mata Mia terbiasa dengan kegelapan yang temaram di bagian dalam gudang lewat pintu dari tempatnya berdiri. Ia melihat apa yang di sangkanya wajah - wajah mengerikan. Ternyata hanya topeng-topeng belaka, dengan cat warna warni yang simpang siur sehingga tampak terlihat mengerikan. Topeng -topeng itu banyak sekali jumlahnya bergantungan pada paku di tembok gudang.
" Ceret ku... Ceret ku, pasti hang.... Eh apa yang kau kerjakan disitu nak Mia?"
Tiba –tiba saja bu Endah telah berdiri di pintu masuk ruang tengah. memperhatikan Mia. Mata perempuan itu berkilat ganjil sekejap. Lalu ia berjalan mendekati Mia.
"Hem..... Kau tentu terkejut melihat benda - benda busuk itu" , ia berkata lunak seraya menutupkan pintu gudang cepat.
Mia menarik nafas.Lalu mengurut dada. Sehingga paru -parunya terasa lapang kembali .
“ Mengapa banyak sekali topeng – topeng mengerikan itu bu? Untuk apa topeng sebanyak itu? " tanya Mia setengah berbisik.
"Mana aku tahu ?", runggut bu Endah gusar. Itu pekerjaan si Manto beberapa waktu yang lalu, sengaja di titipkan di gudang ini. Katanya untuk dijual kalau turun ke kota. Tetapi nyatanya ditumpuk saja mengotori gudang" ,bu Endah kelihatan sangat gusar.
"Kalau besok ia tidak memindahkannya akan kubakar semua topeng-topeng busuk itu!"
Seolah tidak menyukai persoalan ini ia menoleh ke arah dapur.
Katanya lagi: "Jadi ceret ku yang rusak tambah satu lagi ya?"
Bu Endah angkat bahu. Lalu menarik Mia kembali ke tengah rumah induk seraya berkata tak acuh.
“Biarlah. Masih banyak yang lain "
Namun percakapan mereka tidak menyenangkan lagi. Pemandangan di dapur kemudian di gudang telah membuat perasaan Mia tidak menentu. Terutama topeng -topeng itu. Mengingatkannya pada sesuatu. Apakah ia pernah melihat topeng-topeng sejenis? Di pasar? Di toko? Atau disekitar tempat ini ?Topeng yang bergerak-gerak. Tetapi dimana? Kapan? Bagaimana? Mia mengingat ingat setengah mati, namun sia - sia. Ingatannya seperti tertutupi kabut tebal.
Akhirnya Mia minta diri untuk masuk ke paviliun. Bu Endah tak dapat menahannya. Perempuan tua itu melepas ia pergi lewat pintu penghubung. Begitu Mia tidak tampak lagi bu Endah bersungut sungut sendirian.
"Celaka! Celaka! Apa yang harus kuperbuat?"
Dan ia merajut dengan gugup. Akibatnya, jari telunjuknya tertusuk jarum. Ia tidak kaget atau kesakitan. Ia biarkan bekas tusukan jarum mengeluarkan butir - butir darah. Setelah darah itu hampir menetes, ia bergumam dengan suara yang serak dan ganjil: “ Parlin.... Parlin.... Parlin “
Lalu menjilati darah itu. Bekas tusukan tidak tampak sama sekali. Lenyap tidak berbekas begitu saja. Sambil menatap jari jemarinya, ia mengeluh.
"Topeng...", lalu wajahnya berubah cerah.
"Ya... Topeng. Mengapa tidak. Manto dan topeng... Sungguh cocok "
Lalu ia bangkit. Berjalan keluar rumah. Seraya bergumam puas.
“Aku harus beritahu dia. Dan minta persetujuannya?"
Tak lama kemudian dia menghilang di balik pintu salah satu rumah yang terdapat di daerah pemukiman terpencil di atas perbukitan itu.
Waktu memadamkan kompor perhatiannya tertuju pada bahan -bahan masak didekatnya. Ada setengah periuk susu, rempah-rempah, kemudian setumpuk gumpalan darah ayam di atas sebuah piring. Rempah - rempah itu baunya bukan main menyengat hidung sehingga kepala Mia agak pening, ditambah sebagian gumpalan darah itu belum kering benar sehingga tampak masih kental meleleh di tengah - tengah piring.
Gumpalan darah merah kehitaman itu membuat perutnya seperti di aduk –aduk. Ia lari ke kamar mandi. Dan di sana isi perutnya bagai di peras –peras, keluarlah semua muntahannya. Keluar dari kamar mandi perasaan Mia lebih enak. Ia berpaling ke arah lain sewaktu melewati dapur. Matanya menangkap sesuatu yang aneh lewat sebuah pintu gudang yang agak terbuka. Sekejap ia terkejut dan menduga ada banyak wajah-wajah mengerikan mengintai dari dalam kegelapan gudang. Ia tertegun tak dapat bergerak. Sepasang matanya melotot.
Mia terpaku di tempatnya berdiri menunggu dengan jantung berdebar –debar. Jika saja wajah- wajah mengerikan itu muncul dan menyerangnya. Namun, saat demi saat berlalu tanpa terjadi apa -apa. Tidak ada suara apapun dari gudang. Tidak ada gerakan. Dan ketika mata Mia terbiasa dengan kegelapan yang temaram di bagian dalam gudang lewat pintu dari tempatnya berdiri. Ia melihat apa yang di sangkanya wajah - wajah mengerikan. Ternyata hanya topeng-topeng belaka, dengan cat warna warni yang simpang siur sehingga tampak terlihat mengerikan. Topeng -topeng itu banyak sekali jumlahnya bergantungan pada paku di tembok gudang.
" Ceret ku... Ceret ku, pasti hang.... Eh apa yang kau kerjakan disitu nak Mia?"
Tiba –tiba saja bu Endah telah berdiri di pintu masuk ruang tengah. memperhatikan Mia. Mata perempuan itu berkilat ganjil sekejap. Lalu ia berjalan mendekati Mia.
"Hem..... Kau tentu terkejut melihat benda - benda busuk itu" , ia berkata lunak seraya menutupkan pintu gudang cepat.
Mia menarik nafas.Lalu mengurut dada. Sehingga paru -parunya terasa lapang kembali .
“ Mengapa banyak sekali topeng – topeng mengerikan itu bu? Untuk apa topeng sebanyak itu? " tanya Mia setengah berbisik.
"Mana aku tahu ?", runggut bu Endah gusar. Itu pekerjaan si Manto beberapa waktu yang lalu, sengaja di titipkan di gudang ini. Katanya untuk dijual kalau turun ke kota. Tetapi nyatanya ditumpuk saja mengotori gudang" ,bu Endah kelihatan sangat gusar.
"Kalau besok ia tidak memindahkannya akan kubakar semua topeng-topeng busuk itu!"
Seolah tidak menyukai persoalan ini ia menoleh ke arah dapur.
Katanya lagi: "Jadi ceret ku yang rusak tambah satu lagi ya?"
Bu Endah angkat bahu. Lalu menarik Mia kembali ke tengah rumah induk seraya berkata tak acuh.
“Biarlah. Masih banyak yang lain "
Namun percakapan mereka tidak menyenangkan lagi. Pemandangan di dapur kemudian di gudang telah membuat perasaan Mia tidak menentu. Terutama topeng -topeng itu. Mengingatkannya pada sesuatu. Apakah ia pernah melihat topeng-topeng sejenis? Di pasar? Di toko? Atau disekitar tempat ini ?Topeng yang bergerak-gerak. Tetapi dimana? Kapan? Bagaimana? Mia mengingat ingat setengah mati, namun sia - sia. Ingatannya seperti tertutupi kabut tebal.
Akhirnya Mia minta diri untuk masuk ke paviliun. Bu Endah tak dapat menahannya. Perempuan tua itu melepas ia pergi lewat pintu penghubung. Begitu Mia tidak tampak lagi bu Endah bersungut sungut sendirian.
"Celaka! Celaka! Apa yang harus kuperbuat?"
Dan ia merajut dengan gugup. Akibatnya, jari telunjuknya tertusuk jarum. Ia tidak kaget atau kesakitan. Ia biarkan bekas tusukan jarum mengeluarkan butir - butir darah. Setelah darah itu hampir menetes, ia bergumam dengan suara yang serak dan ganjil: “ Parlin.... Parlin.... Parlin “
Lalu menjilati darah itu. Bekas tusukan tidak tampak sama sekali. Lenyap tidak berbekas begitu saja. Sambil menatap jari jemarinya, ia mengeluh.
"Topeng...", lalu wajahnya berubah cerah.
"Ya... Topeng. Mengapa tidak. Manto dan topeng... Sungguh cocok "
Lalu ia bangkit. Berjalan keluar rumah. Seraya bergumam puas.
“Aku harus beritahu dia. Dan minta persetujuannya?"
Tak lama kemudian dia menghilang di balik pintu salah satu rumah yang terdapat di daerah pemukiman terpencil di atas perbukitan itu.
Diubah oleh breaking182 30-10-2019 12:19
jiresh dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas