- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] Kacamata Si Anak Indigo (E. KKN)
...
TS
kingmaestro1
[TAMAT] Kacamata Si Anak Indigo (E. KKN)
Assalamualaikum wr.wb
Hallo agan dan aganwati pembaca yang budiman ini adalah pertama kalinya ane nulis thread. Ini adalah cerita pengalaman yang ane alami selama ane menjalani kehidupan dan pada kesempatan ini ane berfokus pada pengalaman sewaktu ane kkn beberapa tahun silam. Awalnya ane enggan menulis cerita ini, disamping karena pasti udah banyak banget yang nulis cerita semacam ini dan juga karena ane berpandangan biarlah pengalaman ini hanya ane dan seorang teman yang tau. Namun pandangan itu berubah karena temen ane yang pernah ane ceritain pengalaman ini mendesak ane untuk membagikan cerita ini. Dia mengatakan "pengalaman adalah ilmu, dan ilmu itu harus di bagi" jiwa keilmuan ane bergetar saat itu (alah macam ilmuan aja pake jiwa keilmuan segala) dan jadilah hari ini ane coba menggerakkan jari-jari ane untuk nulis cerita ini dengan tujuan ada yang bisa kita ambil sebagai pelajaran.
Sebelum kita masuk ke bagian cerita sebelumnya ada yang ane harus sampaikan di sini, yaitu meski cerita ini adalah pengalaman ane sendiri, namun di dalam penulisan cerita ini tidak ane pungkiri bahwa ada beberapa hal yang ane kurangi dan ane lebihkan sedikit dari keadaan aslinya, hal ini semata bertujuan agar mudah di mengerti oleh kita semua.
Selamat membaca dan semoga bisa jadi pelajaran buat kita bersama.
Index
Prolog
Part 1: Pembekalan
Part 2: Hari Kedatangan
Part 3: Hari Pertama
Part4: Perkenalan (1)
Part 5: Different Dimension
Part 6: Kesurupan (1)
Part 7: Kesurupan (2)
Part 8: Perkenalan (2)
Part 9: Perkenalan (3)
Part 10: Kisah memilukan (1)
Part 11: Cerita memilukan (2)
Part 12: Tentang Clara
Part 13 : Dia Yang Tak Terlihat
Part 14: Perintah Sang Guru
Part 15: Kembali Ke Padepokan
Part 16: The Secret
Part 17: Kejadian Memalukan
Part 18: Perencanaan Makrab dan Peringatan Asti
Part 19: Malam Keakraban (1)
Part 20: Malam Keakraban (2)
Part 21: Awal Petaka
Part 22: Sang Penunggu
Part 23: Kesurupan Massal
Part 24: Penegasan Hubungan
Part 25: Ketenangan Yang Mencekam
Part 26: Serangan Penghuni Batu
Part 27: Di Culik Asti
Q&A
Part 28: Pencarian
Part 29: Pernikahan Di Alam Gaib
Part 30: Rahasia Asti
Part 31: Teror Penghuni Desa
Part 32: Syukuran Yang Ternodai (1)
Part 33: Syukuran Yang Ternodai (2)
Part 34: Syukuran Yang Ternodai (last)
Part 35: Pesan Dan Salam Perpisahan
Part 36: Permintaan Eva yang Aneh
Part 37: Dia Mengintai
Part 38: Pengasih
Part 39: Kepergian Siska
Part 40: Pembalasan
Part 41: Kematian (1)
Part 42: Kematian (2)
Epilog
Praktek Lapangan
Hallo agan dan aganwati pembaca yang budiman ini adalah pertama kalinya ane nulis thread. Ini adalah cerita pengalaman yang ane alami selama ane menjalani kehidupan dan pada kesempatan ini ane berfokus pada pengalaman sewaktu ane kkn beberapa tahun silam. Awalnya ane enggan menulis cerita ini, disamping karena pasti udah banyak banget yang nulis cerita semacam ini dan juga karena ane berpandangan biarlah pengalaman ini hanya ane dan seorang teman yang tau. Namun pandangan itu berubah karena temen ane yang pernah ane ceritain pengalaman ini mendesak ane untuk membagikan cerita ini. Dia mengatakan "pengalaman adalah ilmu, dan ilmu itu harus di bagi" jiwa keilmuan ane bergetar saat itu (alah macam ilmuan aja pake jiwa keilmuan segala) dan jadilah hari ini ane coba menggerakkan jari-jari ane untuk nulis cerita ini dengan tujuan ada yang bisa kita ambil sebagai pelajaran.
Sebelum kita masuk ke bagian cerita sebelumnya ada yang ane harus sampaikan di sini, yaitu meski cerita ini adalah pengalaman ane sendiri, namun di dalam penulisan cerita ini tidak ane pungkiri bahwa ada beberapa hal yang ane kurangi dan ane lebihkan sedikit dari keadaan aslinya, hal ini semata bertujuan agar mudah di mengerti oleh kita semua.
Selamat membaca dan semoga bisa jadi pelajaran buat kita bersama.
Index
Prolog
Part 1: Pembekalan
Part 2: Hari Kedatangan
Part 3: Hari Pertama
Part4: Perkenalan (1)
Part 5: Different Dimension
Part 6: Kesurupan (1)
Part 7: Kesurupan (2)
Part 8: Perkenalan (2)
Part 9: Perkenalan (3)
Part 10: Kisah memilukan (1)
Part 11: Cerita memilukan (2)
Part 12: Tentang Clara
Part 13 : Dia Yang Tak Terlihat
Part 14: Perintah Sang Guru
Part 15: Kembali Ke Padepokan
Part 16: The Secret
Part 17: Kejadian Memalukan
Part 18: Perencanaan Makrab dan Peringatan Asti
Part 19: Malam Keakraban (1)
Part 20: Malam Keakraban (2)
Part 21: Awal Petaka
Part 22: Sang Penunggu
Part 23: Kesurupan Massal
Part 24: Penegasan Hubungan
Part 25: Ketenangan Yang Mencekam
Part 26: Serangan Penghuni Batu
Part 27: Di Culik Asti
Q&A
Part 28: Pencarian
Part 29: Pernikahan Di Alam Gaib
Part 30: Rahasia Asti
Part 31: Teror Penghuni Desa
Part 32: Syukuran Yang Ternodai (1)
Part 33: Syukuran Yang Ternodai (2)
Part 34: Syukuran Yang Ternodai (last)
Part 35: Pesan Dan Salam Perpisahan
Part 36: Permintaan Eva yang Aneh
Part 37: Dia Mengintai
Part 38: Pengasih
Part 39: Kepergian Siska
Part 40: Pembalasan
Part 41: Kematian (1)
Part 42: Kematian (2)
Epilog
Praktek Lapangan
Diubah oleh kingmaestro1 02-12-2019 23:02
halloha dan 72 lainnya memberi reputasi
73
83.1K
814
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kingmaestro1
#342
Part 31: Teror Penghuni Desa
Tak terasa tinggal satu setengah bulan lagi kami ngejalani kkn di sini karena bulan kedua tinggal dua minggu lagi. Suatu pagi gue izin untuk pulang ke kampus, karena malam tadi sewaktu gue berlayar di dunia maya di warnet sewaktu gue ke kota kecamatan ini, gue ngeliat nama gue masuk sebagai peserta sidang munaqasah dan jadwal sidangnya adalah besok pagi. Mereka semua ngizinin walaupun sebenarnya agak berat terutama Clara karna dia pengennya selalu nempel ama gue, selain Clara ada satu orang lagi yang juga berat ngelepas gue yaitu Eva, entah kenapa sejak ngedenger gue mau pergi pagi ini dia seperti kaga mau jauh dari gue, kemana kaki gue melangkah dia selalu ngikutin sampe Clara tersingkir. Setelah pamitan ama kades, dan mandatin tugas ke Andri, gue berangkat menuju kampus perjalanan lima jam gue habiskan hanya berdua dengan sang 'istri' tercinta yaitu motor gue.
Sekarang kita skip aja perjalanan gue ke kampus, karena bukan itu inti cerita kali ini, di part ini karna ane kaga di lokasi, cerita ini berdasarkan penuturan Radith dan mereka yang ada di posko desa K, kenapa harus Radith lagi Radith lagi atau kenapa harus Clara lagi Clara lagi? karena mereka tokoh yang menjadi tokoh utama selain gue, selain itu karena kejadian terror ini bakal terjadi di posko ane.
Malam pertama sepeninggalan gue, kehidupan di posko berubah 360 derajat, di mulai dari Melan yang mendengar suara orang berbicara tapi tak terlihat orangnya, Clara yang melihat bayangan orang berjalan tapi kemudian menghilang, malam itu menjadi malam yang cukup menegangkan Oky yang lagi berdua ama Opy melihat sosok bermata merah, berbadan tinggi, berwajah rusak dan memakai daster, seperti yang gue liat malam itu.
Paginya mereka berkumpul membahas kejadian tadi malam
"Lu liat apa malam tadi Mel?" Kata Radith membuka percakapan.
"Gue kaga liat apa-apa cuma dengar orang ngobrol tapi kaga ada orang"
"Kalo lu liat apa Ra?" Tanya Putra ke Clara.
"Gue liat kak Ari sih hehehe"
"Hu'uh dasar bucin lu" gerutu Putra
"Canda Put, gue ngeliat orang jalan tapi tiba-tiba ngilang"
"Kalo elu Ky?" Tanya Eva.
"Kami ngeliat sosok mata merah, pake daster, tinggi, mukanya rusak"
"Kami?? Emang sama siapa lu?" Tanya Clara.
"Hehehe ama kekasih tercinta donk" katanya sambi merangkul Opy.
"Kalo lu sendiri liat apa dit?" Tanya Eva lagi
"Gue liat mbak kunti Va, Kalo elu?"
" Gue liat pocong lagi berdiri di halaman depan"
"Kalo elu liat apa Put?" Gue kaga liat apa-apa tu"
"Udah deh kalian percaya banget ama penglihatan kalian, halusinasi tu"
Chika, Febry, Rian, Desi, Wiwit, dan Sintia malam itu emang kaga ngeliat apa-apa karena mereka semalam kaga ada di posko, untuk Febri, Rian dan Sintia mereka nginap di desa S karena kemalaman pulang, sedangkan Wiwit dia tidur lebih dulu. Obrolan itu akhirnya di tutup, semua orang kembali ke aktivitas masing-masing.
Malam kedua kepergian gue. Mereka sedang asyik bercengkrama satu sama lain, ngobrol ngalor ngidul sambil ngemil keripik kentang yang waktu itu gue beli ama Clara di kota kecamatan. Entah kenapa obrolan itu nyerempet tentang gue.
"Eh ngomong-ngomong soal keripik kentang kak Ari itu demen banget ama keripik kentang lho" ujar Radith.
"Masa iya dith? Keknya kak Ari lebih seneng roti deh hehehe" kata Eva meledek.
"Ya gak juga sih, kalo roti dia mah cuma pas sarapan doank, dia tu lebih seneng keripik kentang ya gak Ra?"
"Entah kaga tau gue, setahu gue dia semua makanan oke-oke aja kecuali yang manis-manis tapi kalo yang berbau-bau keju baru gue tau dia demen banget" jawab Clara.
"Ah payah lu masa makanan favorit cowok elu aja kaga tau" sembur Radith
"Ya kak Ari juga kaga pernah bilang dia suka apa"
"Ya gak harus di tunggu dia ngomong neng" timpal Wiwit.
"Lu kan bisa ngamatin atau eksperimen gitu" sambung Melan.
"Wih kalo pacar kak Ari kek gini, gue siap bersaing ama lu Ra hehehe" canda Eva.
"Ya kalo lu bisa coba aja" tantang Clara.
"Beneran nih? Tapi ntar lu jangan manyun ya kalo kak Ari belok ke gue"
"Gue yakin kaga semudah itu buat lu bisa ngerebut kak Ari dari gue"
"Duileh elu serius amat Ra, becanda aja gue"
"Gue jadi inget cerita tentang kak Ari dan keripik kentang" sahut Radith kaga nyambung dan ternyata mendapat respon dari yang lainnya".
"Kek gimana tu ceritanya Dith?" Sahut Clara antusias
"Ceritanya itu waktu jurusan kami lagi ngadain kemah bakti, sebelum keberangkatan kak Ari selaku ketua himpunan nanya siapa aja cewek yang bisa masak, waktu itu ada sekitar 15 orang yang angkat tangan, nah pas sampe di lokasi kak Ari nyuruh semuanya ngeluarin bahan-bahan yang di bawa. Ngeliat yang di bawa anak-anak termasuk gue adalah mie, dia nanya kok mie semua sih, trus salah satu yang kemaren angkat tangan itu ngejawab kami cuma bisa masak mie kak. Wah kak Ari langsung ngamuk-nga
muk, ngerasa di lecehin dia bilang kalo cuma masa mie ade gue yang masih Tk mah bisa, gue masak mie sambil tidur juga bisa. Akhirnya selama dua hari dia cuma makan keripik kentang, pas hari ketiga baru deh dia nyuruh kami ngumpulin uang buat beli sembako, habis itu dia ngajarin tu anak-anak cewek masak"
"Wah gila kak Ari dua hari cuma makan keripik kentang aja" komentar Wiwit
"Apa cukup tu, emang sehari habis berapa bungkus Dith?"
"Apa berapa bungkus? Salah nanya lu harusnya lu nanya berapa toples? Dia itu sehari ngabisin delapan toples" seru Radith takjub.
"Itu demen apa rakus sih" ujar Putra sinis.
"Ya wajar lah Put, orang cuma makan keripik kentang gitu mana nendang di perut, apalagi kak Ari itu anak gym, lu aja kalo seharian di suruh makan keripik kentang gue yakin lu bisa ngabisin satu kwintal" bela Clara kejam.
"Kejem banget lu Ra, mentang-mentang badan Putra kek gentong" ledek Oky. Badan Putra emang sama kaya Andri, meski Andri masih lumayan ketimbang Putra. Yang di ledek cuma tersenyum pahit.
"Udah deh ngapain juga ngebahas orang yang kaga ada" kata Putra lagi.
Angin kencang berhembus di luar, membuat daun jendela yang tadinya di biarkan terbuka menjadi tertutup, suara daun yang saling beradu menimbulkan suara gemericik.
"keknya bakal turun hujan deh" kata wiwit.
"Iya tuh, btw gue mau ke kamar mandi dulu" kata Clara
Tanpa di sadari putra ngikutin dari belakang dan menunggu Clara keluar dari kamar mandi, begitu Clara keluar, Putra langsung nyegat dia, sambil memegang pundak Clara dia ngedorong Clara ke dinding.
"Apaan sih Put, lepasin kaga"
"Kaga, lu dengerin gue dulu, gue mau lu putus ama Ari" dia langsung nyebut nama gue tanpa embel-embel kakak"
"Apa hak lu nyuruh-nyuruh gue"
"Gue suka ama lu Ra, dari dulu lagi dan gue mau lu terima gue dan putusin kak Ari"
"Eh lu denger ya, perasaan gue kaga bisa di paksain, soal lu suka ama gue bukan salah gue"
"Ya tapi tetap aja pokoknya lu harus putusin dia atau...
"Atau apa?"
"Atau gue bakal ngebunuh dia"
"Gila ya lu, kaga waras otak lu ya?" Kata Clara mulai emosi.
"Oke kalo lu kaga mau jadi pacar gue, gue bakal paksa elu" usai berkata gitu Putra pun berusaha nyium bibir Clara, so pasti Clara berontak dia yang udah emosi nendang selangkangan Putra dan segera berlari begitu pegangan Putra di pundaknya terlepas. Begitu sampe ruang tamu Clara langsung mencak-mencak.
"Ada apa sih Ra lu kesambet apa di toilet?" Tanya Oky heran.
"Tu si anak setan mau ngelecehin gue"
Belum sempat yang lain bertanya Putra muncul dengan muka nahan sakit
"Tu dia anak setannya" kata Clara sambil nunjuk Putra, dia pun melangkah ke kamar di ikuti Melan. Begitu Clara masuk kamar Radith bertanya ke Putra.
"Ada apa sih Put?". Putra pun nyeritain apa yang terjadi antara dia kan Clara.
"Gila lu, cari mati banget lu man, kalo kak Ari tau bakal dikempesin tu perut lu" komentar Febry.
"Iya lu, wah kalo sampe kak Ari ngamuk gue kaga bakal ikut-ikutan" kata Radith.
Sedang membahas masalah itu, tetiba listrik mati, mereka semua terdiam sambil bertatapan satu sama lain.
"Tumben banget nih lampu mati" kata Febry seraya berjalan keluar untuk ngecek sekring listrik. Begitu pintu kebuka, wajahnya langsung pucat, kakinya gemetaran. Ngeliat Febry yang kaya gitu mereka yang nyisa di ruang tamu beranjak ke pintu, sampai di depan pintu ekspresi mereka pun sama seperti Febry, gimana kaga di depan pintu itu ada sebungkus pocong dengan mata melotot ke mereka. Kemudian terdengar jeritan Clara dan Melan, pintu kamar terbuka terlihat mereka berlari ke ruang tamu, di dalam kamar itu ada seorang kunti memakai kain berwarna merah bukan putih seperti biasa.
Mereka semua kembali berkumpul lagi di ruang tengah, malam itu memang hanya ada peserta kkn di rumah itu, seba yang punya rumah sedang pergi bersama pemilik rumah sebelah. Dari pintu dapur keluar pula sebuah kepala tanpa badan melayang-layang, bertambah lah ketakutan mereka
Di tengah ketakutan itu mereka membaca ayat-ayat alquran yang pernah gue saranin, ketiga makhluk itupun menghilang, mereka berpikir semua itu sudah aman, tapi mereka salah karena kaga lama setelah itu rumah bergoyang laksana di landa gempa bumi, suara tawa kuntilanak terdengar, suara tawa menggelegar pun menghiasi suasana malam itu. Tak berhenti sampai di situ sesosok genderuwo muncul di hadapan mereka semua. Karena mental mereka mencapai batasnya mereka pun pingsan berjamaah di ruang tamu itu.
Sekarang kita kembali ke gue, shubuh ini gue memutuskan untuk kembali ke lokasi kkn, karna kemarin gue telah dinyatakan berhak menyandang gelar sarjana setelah lulus sidang munaqasah. Gue pun tancap gas setelah malam sebelumnya membeli beberapa oleh-oleh untuk pak kades, warga desa dan teman-teman gue.
Sesampainya di desa gue segera menemui pak kades untuk ngasih tu oleh-oleh, lalu berkeliling desa untuk tujuan sama. Setelah itu gue kembali ke posko, sampai di posko gue nemuin merek duduk di sofa ruang tengah dengan wajah pucat. Gue heran dan bertanya
"Wah ini kenapa nih anak-anak mami pada pucat kek mayat". Mereka pun nyeritain kejadian dua malam pasca gue pergi. Begitu ceritanya selesai gue pun ketawa dan berkata
" Tu makhluk-makhluk pengen kenalan ama kalian, udah ga usah takut"
"Enak banget lu kak bisa ngomong gitu" Gerutu Oky
"Ya udah sorri, udah sekarang lupain dulu masalah itu, lu pada siap-siap kita bakal ke lokasi pengerjaan sentral air di desa S, Andri ama yang lainnya udah otw".
Kejadian semalam terlupakan dan mereka siap-siap ngejalani aktivitas hari ini. Dalam hati sebenarnya gue heran, kenapa pas gue kaga ada tu makhluk-makhluk baru nunjukin eksistensi mereka. Gue pun memutuskan untuk berdiskusi ama pak kades setelah pulang dari lokasi pembuatan sentar air.
Sekarang kita skip aja perjalanan gue ke kampus, karena bukan itu inti cerita kali ini, di part ini karna ane kaga di lokasi, cerita ini berdasarkan penuturan Radith dan mereka yang ada di posko desa K, kenapa harus Radith lagi Radith lagi atau kenapa harus Clara lagi Clara lagi? karena mereka tokoh yang menjadi tokoh utama selain gue, selain itu karena kejadian terror ini bakal terjadi di posko ane.
Malam pertama sepeninggalan gue, kehidupan di posko berubah 360 derajat, di mulai dari Melan yang mendengar suara orang berbicara tapi tak terlihat orangnya, Clara yang melihat bayangan orang berjalan tapi kemudian menghilang, malam itu menjadi malam yang cukup menegangkan Oky yang lagi berdua ama Opy melihat sosok bermata merah, berbadan tinggi, berwajah rusak dan memakai daster, seperti yang gue liat malam itu.
Paginya mereka berkumpul membahas kejadian tadi malam
"Lu liat apa malam tadi Mel?" Kata Radith membuka percakapan.
"Gue kaga liat apa-apa cuma dengar orang ngobrol tapi kaga ada orang"
"Kalo lu liat apa Ra?" Tanya Putra ke Clara.
"Gue liat kak Ari sih hehehe"
"Hu'uh dasar bucin lu" gerutu Putra
"Canda Put, gue ngeliat orang jalan tapi tiba-tiba ngilang"
"Kalo elu Ky?" Tanya Eva.
"Kami ngeliat sosok mata merah, pake daster, tinggi, mukanya rusak"
"Kami?? Emang sama siapa lu?" Tanya Clara.
"Hehehe ama kekasih tercinta donk" katanya sambi merangkul Opy.
"Kalo lu sendiri liat apa dit?" Tanya Eva lagi
"Gue liat mbak kunti Va, Kalo elu?"
" Gue liat pocong lagi berdiri di halaman depan"
"Kalo elu liat apa Put?" Gue kaga liat apa-apa tu"
"Udah deh kalian percaya banget ama penglihatan kalian, halusinasi tu"
Chika, Febry, Rian, Desi, Wiwit, dan Sintia malam itu emang kaga ngeliat apa-apa karena mereka semalam kaga ada di posko, untuk Febri, Rian dan Sintia mereka nginap di desa S karena kemalaman pulang, sedangkan Wiwit dia tidur lebih dulu. Obrolan itu akhirnya di tutup, semua orang kembali ke aktivitas masing-masing.
Malam kedua kepergian gue. Mereka sedang asyik bercengkrama satu sama lain, ngobrol ngalor ngidul sambil ngemil keripik kentang yang waktu itu gue beli ama Clara di kota kecamatan. Entah kenapa obrolan itu nyerempet tentang gue.
"Eh ngomong-ngomong soal keripik kentang kak Ari itu demen banget ama keripik kentang lho" ujar Radith.
"Masa iya dith? Keknya kak Ari lebih seneng roti deh hehehe" kata Eva meledek.
"Ya gak juga sih, kalo roti dia mah cuma pas sarapan doank, dia tu lebih seneng keripik kentang ya gak Ra?"
"Entah kaga tau gue, setahu gue dia semua makanan oke-oke aja kecuali yang manis-manis tapi kalo yang berbau-bau keju baru gue tau dia demen banget" jawab Clara.
"Ah payah lu masa makanan favorit cowok elu aja kaga tau" sembur Radith
"Ya kak Ari juga kaga pernah bilang dia suka apa"
"Ya gak harus di tunggu dia ngomong neng" timpal Wiwit.
"Lu kan bisa ngamatin atau eksperimen gitu" sambung Melan.
"Wih kalo pacar kak Ari kek gini, gue siap bersaing ama lu Ra hehehe" canda Eva.
"Ya kalo lu bisa coba aja" tantang Clara.
"Beneran nih? Tapi ntar lu jangan manyun ya kalo kak Ari belok ke gue"
"Gue yakin kaga semudah itu buat lu bisa ngerebut kak Ari dari gue"
"Duileh elu serius amat Ra, becanda aja gue"
"Gue jadi inget cerita tentang kak Ari dan keripik kentang" sahut Radith kaga nyambung dan ternyata mendapat respon dari yang lainnya".
"Kek gimana tu ceritanya Dith?" Sahut Clara antusias
"Ceritanya itu waktu jurusan kami lagi ngadain kemah bakti, sebelum keberangkatan kak Ari selaku ketua himpunan nanya siapa aja cewek yang bisa masak, waktu itu ada sekitar 15 orang yang angkat tangan, nah pas sampe di lokasi kak Ari nyuruh semuanya ngeluarin bahan-bahan yang di bawa. Ngeliat yang di bawa anak-anak termasuk gue adalah mie, dia nanya kok mie semua sih, trus salah satu yang kemaren angkat tangan itu ngejawab kami cuma bisa masak mie kak. Wah kak Ari langsung ngamuk-nga
muk, ngerasa di lecehin dia bilang kalo cuma masa mie ade gue yang masih Tk mah bisa, gue masak mie sambil tidur juga bisa. Akhirnya selama dua hari dia cuma makan keripik kentang, pas hari ketiga baru deh dia nyuruh kami ngumpulin uang buat beli sembako, habis itu dia ngajarin tu anak-anak cewek masak"
"Wah gila kak Ari dua hari cuma makan keripik kentang aja" komentar Wiwit
"Apa cukup tu, emang sehari habis berapa bungkus Dith?"
"Apa berapa bungkus? Salah nanya lu harusnya lu nanya berapa toples? Dia itu sehari ngabisin delapan toples" seru Radith takjub.
"Itu demen apa rakus sih" ujar Putra sinis.
"Ya wajar lah Put, orang cuma makan keripik kentang gitu mana nendang di perut, apalagi kak Ari itu anak gym, lu aja kalo seharian di suruh makan keripik kentang gue yakin lu bisa ngabisin satu kwintal" bela Clara kejam.
"Kejem banget lu Ra, mentang-mentang badan Putra kek gentong" ledek Oky. Badan Putra emang sama kaya Andri, meski Andri masih lumayan ketimbang Putra. Yang di ledek cuma tersenyum pahit.
"Udah deh ngapain juga ngebahas orang yang kaga ada" kata Putra lagi.
Angin kencang berhembus di luar, membuat daun jendela yang tadinya di biarkan terbuka menjadi tertutup, suara daun yang saling beradu menimbulkan suara gemericik.
"keknya bakal turun hujan deh" kata wiwit.
"Iya tuh, btw gue mau ke kamar mandi dulu" kata Clara
Tanpa di sadari putra ngikutin dari belakang dan menunggu Clara keluar dari kamar mandi, begitu Clara keluar, Putra langsung nyegat dia, sambil memegang pundak Clara dia ngedorong Clara ke dinding.
"Apaan sih Put, lepasin kaga"
"Kaga, lu dengerin gue dulu, gue mau lu putus ama Ari" dia langsung nyebut nama gue tanpa embel-embel kakak"
"Apa hak lu nyuruh-nyuruh gue"
"Gue suka ama lu Ra, dari dulu lagi dan gue mau lu terima gue dan putusin kak Ari"
"Eh lu denger ya, perasaan gue kaga bisa di paksain, soal lu suka ama gue bukan salah gue"
"Ya tapi tetap aja pokoknya lu harus putusin dia atau...
"Atau apa?"
"Atau gue bakal ngebunuh dia"
"Gila ya lu, kaga waras otak lu ya?" Kata Clara mulai emosi.
"Oke kalo lu kaga mau jadi pacar gue, gue bakal paksa elu" usai berkata gitu Putra pun berusaha nyium bibir Clara, so pasti Clara berontak dia yang udah emosi nendang selangkangan Putra dan segera berlari begitu pegangan Putra di pundaknya terlepas. Begitu sampe ruang tamu Clara langsung mencak-mencak.
"Ada apa sih Ra lu kesambet apa di toilet?" Tanya Oky heran.
"Tu si anak setan mau ngelecehin gue"
Belum sempat yang lain bertanya Putra muncul dengan muka nahan sakit
"Tu dia anak setannya" kata Clara sambil nunjuk Putra, dia pun melangkah ke kamar di ikuti Melan. Begitu Clara masuk kamar Radith bertanya ke Putra.
"Ada apa sih Put?". Putra pun nyeritain apa yang terjadi antara dia kan Clara.
"Gila lu, cari mati banget lu man, kalo kak Ari tau bakal dikempesin tu perut lu" komentar Febry.
"Iya lu, wah kalo sampe kak Ari ngamuk gue kaga bakal ikut-ikutan" kata Radith.
Sedang membahas masalah itu, tetiba listrik mati, mereka semua terdiam sambil bertatapan satu sama lain.
"Tumben banget nih lampu mati" kata Febry seraya berjalan keluar untuk ngecek sekring listrik. Begitu pintu kebuka, wajahnya langsung pucat, kakinya gemetaran. Ngeliat Febry yang kaya gitu mereka yang nyisa di ruang tamu beranjak ke pintu, sampai di depan pintu ekspresi mereka pun sama seperti Febry, gimana kaga di depan pintu itu ada sebungkus pocong dengan mata melotot ke mereka. Kemudian terdengar jeritan Clara dan Melan, pintu kamar terbuka terlihat mereka berlari ke ruang tamu, di dalam kamar itu ada seorang kunti memakai kain berwarna merah bukan putih seperti biasa.
Mereka semua kembali berkumpul lagi di ruang tengah, malam itu memang hanya ada peserta kkn di rumah itu, seba yang punya rumah sedang pergi bersama pemilik rumah sebelah. Dari pintu dapur keluar pula sebuah kepala tanpa badan melayang-layang, bertambah lah ketakutan mereka
Di tengah ketakutan itu mereka membaca ayat-ayat alquran yang pernah gue saranin, ketiga makhluk itupun menghilang, mereka berpikir semua itu sudah aman, tapi mereka salah karena kaga lama setelah itu rumah bergoyang laksana di landa gempa bumi, suara tawa kuntilanak terdengar, suara tawa menggelegar pun menghiasi suasana malam itu. Tak berhenti sampai di situ sesosok genderuwo muncul di hadapan mereka semua. Karena mental mereka mencapai batasnya mereka pun pingsan berjamaah di ruang tamu itu.
Sekarang kita kembali ke gue, shubuh ini gue memutuskan untuk kembali ke lokasi kkn, karna kemarin gue telah dinyatakan berhak menyandang gelar sarjana setelah lulus sidang munaqasah. Gue pun tancap gas setelah malam sebelumnya membeli beberapa oleh-oleh untuk pak kades, warga desa dan teman-teman gue.
Sesampainya di desa gue segera menemui pak kades untuk ngasih tu oleh-oleh, lalu berkeliling desa untuk tujuan sama. Setelah itu gue kembali ke posko, sampai di posko gue nemuin merek duduk di sofa ruang tengah dengan wajah pucat. Gue heran dan bertanya
"Wah ini kenapa nih anak-anak mami pada pucat kek mayat". Mereka pun nyeritain kejadian dua malam pasca gue pergi. Begitu ceritanya selesai gue pun ketawa dan berkata
" Tu makhluk-makhluk pengen kenalan ama kalian, udah ga usah takut"
"Enak banget lu kak bisa ngomong gitu" Gerutu Oky
"Ya udah sorri, udah sekarang lupain dulu masalah itu, lu pada siap-siap kita bakal ke lokasi pengerjaan sentral air di desa S, Andri ama yang lainnya udah otw".
Kejadian semalam terlupakan dan mereka siap-siap ngejalani aktivitas hari ini. Dalam hati sebenarnya gue heran, kenapa pas gue kaga ada tu makhluk-makhluk baru nunjukin eksistensi mereka. Gue pun memutuskan untuk berdiskusi ama pak kades setelah pulang dari lokasi pembuatan sentar air.
hendra024 dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Tutup