Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
Selamat Datang di Thread Gue 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Diubah oleh yanagi92055 08-09-2020 10:31
al.galauwiAvatar border
nacity.ts586Avatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 79 lainnya memberi reputasi
78
295.4K
4.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#988
Ke Timur_Part 3
Hari sabtu pagi gue dan Feni sudah bersiap untuk jalan-jalan. Kami udah merencanakan ke beberapa tempat di Makassar atau yang agak keluar dari kota Makassar juga mau kami kunjungi. Destinasi pertama yaitu ke Fort Rotterdam. Karena gue merupakan orang yang sangat suka sejarah masa lalu, terutama sejarah nusantara, gue memutuskan untuk kesini. Feni pun terlihat sangat antusias saat sampai dilokasi. Bangunan megah warisan kerajaan Gowa yang kemudian dibangun kembali setelah hancur dalam sebuah serangan tentara kolonial dengan arsitektur bergaya Belanda di masa lalu ini sukses membuat gue takjub.

Kompleknya sendiri nggak ada tiket masuknya, kecuali kalau mau masuk museum. Didalamnya juga ada koleksi-koleksi perkakas dari masa lalu kayak yang buat pertanian, pakaian adat setempat dan lainnya. Gue langsung berminat untuk ngajak Dee ke museum bahari di Jakarta nanti kapan waktu. Kayaknya bakalan keren ini kan. Hehe. kemudin kami masuk ke Museum La Galigo yang berada dalam kompleks benteng ini. Museum ini memperlihatkan sejarah hidup masyarakat Sulawesi Selatan di masa lalu dan menampilkan keutamaan mereka sebagai pelaut ulung. Disana juga ada miniatur Kapal Phinisinya.

Tujuan berikutnya nggak jauh dari sana, sekitar 1 kilometer kearah selatan dari Fort Rotterdam, kami sampai di Pantai Losari yang sangat terkenal. Salahnya kami datang jelang siang, jadinya nggak bisa ngejar sunrise. Padahal seru loh ngeliat sunrise bareng orang yang disayang, ya kan?

“Ja, harusnya kita nginep dideket-deket sini ya?”

“Hooh Fen, ah nyesel banget gue sampe nggak ngeh. Padahal spot hotelnya bagus-bagus tuh, apalagi dengan ngadep langsung ke laut kan.”

“Yaudah pemandangan laut ga bisa lo dapetin, tapi ngeliat gue kemarin gitu juga pemandangan kan buat lo? hahaha.” Goda Feni.

“Hahaha iya Fen. Sialan banget lo godain gue. untung si Rocky masih bisa anteng walaupun sedikit memberontak dalam celana gue. hahaha.”

“Lo nggak mau ngenalin gue sama si Rocky Ja?”

“Lo mau banget?”

“Hmmm..mau nggak ya? hehehe.”

“Ntar gue kenalin Fen. Hahaha.”

“Haha. Gue tunggu.”

“Wah nantangin banget lo Fen. Haha.”

“Biarin aja Ja. weeek..”

Gue sama Feni sebocor itu kalo ngomong. Haha. Seru, tapi rasa hati ini nggak bisa bohong, gue sayang bangetnya sama Dee, bukan sama Feni lagi.

Saat gue lagi menikmati pantai, Feni malah ngajak gue ke Pulau Kodirangeng Keke yang terletak diluar pulau Sulawesi. Pulau itu pulau kecil tanpa penghuni dan indah banget pantainya, apalagi pasirnya juga putih. Setelah nanya-nanya sama orang yang ngerti, akhirnya gue dan Feni bersama beberapa wisatawan lainnya sepakat untuk berangkat kesana sehabis bernegosiasi dengan pemilik kapal yang biasa menyebrangkan kesana. Kami kembali lagi ke dekat Fort Rotterdam karena berangkatnya dari dermaga yang ada didekat sana.

Jaraknya dari Pulau besar Sulawesi sekitar 14 atau 15 kilometer disebelah barat. Selama perjalanan, Feni terus bersandar sama gue. Entah megang tangan gue, atau merebahkan kepalanya dibahu gue. Pokoknya kayak orang lagi kasmaran. Dia yang kasmaran, bukan gue kali. Haha. Perjalanan dilaut menggoda banget buat jadi spot foto-foto. Gue mengabadikan beberapa momen menjadi sebuah gambar kenangan. Feni yang kala itu pakai kemeja kotak-kotak yang dibuka kancingnya sehingga tanktop hitamnya terlihat, kelihatan cakep banget. apalagi dia juga pakai kacamata hitam keluaran merk terkenal Chanel. Dijamin ori kalo dia yang make mah. Anak orang kaya. Haha.

Sampai di Pulau itu, gue langsung takjub dengan air laut dipesisir pantai sampai tubirnya yang berwarna biru toska. Bening banget, sampai pasir putihnya juga keliatan jelas banget. luar biasa banget deh itu. Gue udah beberapa kali ke pantai-pantai di Indonesia, tapi ini salah satu yang paling keren menurut gue.

“Gilee ini sih. Bukan maen. Keren banget Fen. Asli.”

“Haha iya Ja, gue juga takjub banget liatnya.”

“Kesempatan yang bagus banget ini yak, apalagi bisa jalan-jalan sama lo Fen.”

“Haha. Serius nih lo seneng jalan-jalan sama gue?”

“Ya seneng lah, daripada gue jalan-jalan sama bapak-bapak dikantor kan mending gue jalan sama lo, lebih enak dipandang. Banyak bonusnya
lagi. Haha.”

“Dih gue ngasih bonus apaan emang?”

“Lah lo tanpa busana gue foto-fotoin buat koleksi, kan itu bonus namanya. Hahaha.”

“Jangan disebar…gue sunat lo ntar.”

“Haha nggak lah, ngapain. Gue kan nggak dendam apa-apa sama lo. lagian dulu mantan-mantan gue juga suka ngasih kayak gitu, tapi akhirnya gue hapusin semuanya. Gue nggak mau ada kenangan apapun soalnya.”

“Nggak mau ada kenangan apapun? Berarti kalo nanti gue pisah sama lo kayak misalnya gue pindah kerja atau lo yang pindah kerja, kenangan kita lo apusin semuanya dong?”

“Ini kan nggak melibatkan perasaan Fen. Kalo yang melibatkan perasaan baru deh.”

“Ooooh.. gitu ya. oke deh Ja. hehehe.”

Kami selanjutnya menikmati pemandangan dengan berjalan-jalan ditepi pantai dan menikmati deburan ombak yang menggerus pasir putih dan menjadi buih setelahnya. Asyik banget. Gue sangat suka dengan suara deburan ombak dilaut. Untungnya Feni bawa makanan yang cukup berat ditasnya. Karena disana nggak ada tukang jualan sama sekali. Yaiyalah pulau kecil nggak berpenghuni gitu kan. Kalau ada yang tinggal, mungkin dia Forrest Gump. Haha.

Gue mendapatkan spot untuk rebahan di pantai. Saat itu wisatawan lain lagi ada disisi lain pulau, sementara gue dan Feni menjelajah masuk kedalam pulau dan nggak lama udah muncul disisi seberang pulaunya. Gue juga sempet melihat ada semacam gazebo-gazebo kecil gitu. Menikmati semilir angin dipesisir pantai dengan pasir berwarna putih itu menyenangkan banget. Feni duduk disebelah gue yang lagi rebahan.

“Andai aja kita bisa pacaran ya Ja.”

“Iya Fen….”

“Gue itu kepingin punya pacar lagi, sejak sekian lama gue nggak nemu cowok yang pas. Setelah gue ketemu sama lo dan nyaman sama lo,
lonya malah memilih orang lain. Mungkin kita terlalu lama tarik ulur kali ya Ja….”

“Kayaknya begitu Fen. Gue saat itu sempet mengharapkan lo jadi cewek gue. Asli deh. Cuma waktu itu mungkin karena kita belum lama kenal dan gue udah pedekate sama Dee, plus jadian kita juga kilat, jadinya gue harus milih Dee, Fen. Maafin gue.”

“Iya Ja. Itu yang gue seselin sampai sekarang.”

“Udah nggak usah gitu, kan toh kita tetep deket ini kan.”

“Ya tapi kalau tanpa status gitu kan nggak seru juga Ja.”

“Apanya yang nggak seru? Kita aja ini udah kayak pacaran beneran.”

“Haha. Tapi nggak ngew*. Mana berasa pacarannya?”

“Katanya lo belum pernah?”

“Ehhm..emang belum pernah. Tapi di lingkungan pertemanan gue, hal itu kayak udah lumrah terjadi.”

“Nah yaudah ntar lo kayak gitu kalo udah dapet pacar beneran dong Fen. Hehe.”

“Tapi gue maunya sama rocky Ja, gimana dong?”

“Lo godain gue mulu sih Fen. Hehehe.”

“Lo tau nggak sih Ja, nih ya gue jujur sama lo. selama ini gue godain lo, bahkan sampe rela buat kayak semalem gitu, buat buktiin kalau lo emang yang terbaik buat gue saat ini Ja.”

“Maksud lo? Eh gue ini manusia super bangs*t yang pernah ada kali Fen. Lo udah tau gimana gue kan. Gue pun belum ada niatan untuk jadi bener juga. Lo mau gue pake asal-asalan tapi lo nggak bisa dapetin hati gue kayak yang gue lakuin sama Harmi, bahkan Ara yang udah gue sayang dari SMA? Bahkan dulu Keket awalnya juga gitu. Gue perawanin dia karena gue frustrasi berat dengan keadaan gue sama Zalina.”

“Iya gue ngerti banget Ja. tapi entah kenapa, gue ngerasa kayak cewek-cewek itu mungkin Ja. Cara lo memperlakukan gue, cara lo melindungi gue, cara lo ngejaga gue, itu malah yang bikin gue makin yakin sama pilihan gue yang saat ini udah dimilikin orang lain.”

“Terserah lo deh Fen, yang jelas gue nggak mau lo kecewa. Gue udah sayang banget sama persahabatan ini. Sama kayak Ara. Sekarang Ara menghilang. Gue ga mau lagi kehilangan. Terlalu banyak kehilangan Fen.”

Feni langsung menindih gue dan menciumi gue dengan brutal. Entah kenapa kali ini gue nggak berontak dan malah balas menciuminya lagi. Mungkin karena kebawa perasaan kali ya waktu itu. Gue dan Feni berguling dan gantian gue yang ada diatas feni. Gue tetap menciumi Feni dengan semangat. Turun ke leher, biar kata ada pasir juga hajar aja. Feni terlihat sangat menikmatinya. Lalu pelan-pelan gue membuka tanktop Feni dari perut dan gue buka keatas sampai leher. Gue menciumi perut Feni, terus sampai naik keatas. Belahan dadanya habis gue ciumi sampai berbekas merah-merah dan kemudian gue singkap branya yang berwarna merah. Kebetulan pengaitnya didepan. Jadi gue nggak susah-susah bukanya. Gunung kembar Feni terlihat sangat dekat dengan muka gue. tanpa babibu langsung saja gue memainkannya dengan lembut dan cukup lama juga. Empuk banget padahal nggak segede Keket. hehe.

Ketika gue berusaha untuk membuka celana jeans Feni, gue seperti tersadar ada yang salah. lalu gue berinisiatif memberhentikan permainan ini.

“Kenapa Ja?”

“Ini salah Fen. Maafin gue.”

“Udah nggak apa-apa gue juga mau kok.”

“Nggak Fen.”

Gue lalu memakaikan kembali bra Feni dan tanktopnya gue turunkan.

“Maafin gue Fen.”

“Ja lo kenapa sih?”

“Nggak Fen, ini salah.”

“Guenya kan juga mau Ja.”

“Jangan Fen, kalau kayak gini, tambah besar rasa sayang gue ke lo. dan itu yang gue nggak mau.”

“Jangan pakai hati kalau gitu. Have fun aja, lo kayak nggak pernah have fun aja untuk urusan gini.”

“Sama lo beda Fen. Gue nggak mau.”

“Beda gimana? Dulu bahkan sama Ara dan Harmi aja lo bisa.”

“Entah gue kerasukan apa ini, yang jelas belum saatnya kita kayak gini Fen. Gue masih takut untuk kehilangan Fen.” Kata gue sambil memeluknya.

“Maafin gue Ija sayang.”

Please jangan pakai kata sayang Fen. Gue takut.”

Kami tidak berbicara lagi. Hanya berpelukan. Tanpa disadari, Feni menangis. Gue hanya bisa memeluknya dan mengelus kepala belakangnya. Gue nggak mau kehilangan persahabatan ini kalau ada hati yang bermain. Gue takut saat itu. Lebih tepatnya masih sangat ketakutan akan kehilangan. Pada akhirnya gue dan Feni hanya saling melempar senyum dan kecupan kecil di bibir. Kemudian kami bergabung kembali dengan para wisatawan lainnya. Kami menunggu untuk kembali ke Pulau Sulawesi lagi.

Sore hari jelang magrib, gue dan Feni datang lagi ke Pantai Losari. Kami menyaksikan sunset yang begitu romantis. Kali ini gue dan Feni bener-bener kebawa perasaan. Kalau nggak rame aja kami udah pasti ciuman lagi. Haha. Gue memeluk Feni dibahunya, sementara Feni melingkarkan tangannya dipinggang gue.

“Indah banget ya. momen ini romantis banget ya Ja.”

“He eh. Gue juga kebawa suasana romantis banget ini Fen.”

“Makasih ya Ja udah jadi yang terbaik buat gue saat ini. Walaupun gue nggak bisa milikin lo, tapi jujur gue nyaman banget ada dideket lo.”

“Iya Fen sama-sama. gue bersyukur kok kalo lo ngerasa nyaman sama gue.”

Chit chat ringan yang seru terjadi antara kami berdua sore itu. Bahkan ada bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengatakan kami cocok, semoga segera dilancarkan, dan sebagainya. Gue dan Feni hanya tersenyum aja. Hari itu terasa indah banget. Gue tau ini pelukan yang salah, tapi bukankah gue emang begitu ya? gue selalu jadi orang brengsek yang selalu menebar pelukan-pelukan ini? Gue sendiri bingung sama diri gue. kenapa gue bisa tahan godaan. Gue juga bingung kenapa gue bisa sok bijak sama Feni. Apa ini yang dinamakan sebuah trauma? Ah gue juga nggak ngerti dan gue nggak mau mikirin terlalu dalam. Gue Cuma mau menikmati senja itu bareng sama Feni.

Hari kepulangan kami telah tiba. Pagi-pagi Feni udah packing dan barang-barang gue juga udah diberesin masuk koper sama dia. Namanya kita simpel ya, jadi nggak ribet ini itu nya. Feni kurang ajar juga waktu itu. Ngebangunin gue dengan ngelus-ngelus Rocky. Dia bilang katanya nggak akan khawatir gue marah, karena dia yakin gue juga menikmati. Dan ya, gue menikmatinya. Apalagi laki-laki kan kalo pagi suka bangun sendiri tuh. Eh ditambah dielus-elus jadi makin kenceng aja. Haha. Gue malah menarik Feni dan kami melanjutkan sesuatu yang belum selesai di pantai kemarin. Tapi hanya sebatas berciuman sampai french kiss aja, dikit-dikit grepe juga. Tapi udah sampai disitu aja. Lalu gue mandi. Feni dan gue kemudian turun untuk sarapan.

“Nggak kerasa banget ya? udah selesai aja rangkaian “kerjaan” kita.” Kata gue.

“Haha Kerja yeee….” Kata Feni.

“Gue sih berharap ada kayak gini lagi Fen.”

“Gue juga mau, tapi pakai plus-plus-plus ya Ja. Jangan gini doang, tanggung Ja. hahaha.”

“Belum saatnya Feni……”

“Iya Ijaaaa……”

Kami boarding sekitar jam 12.30 waktu setempat. Pesawat take off setengah jam setelahnya. Gue banyak tidur dipesawat itu. Begitu juga Feni. Ketika kami tiba di Soetta, Feni ternyata dijemput sama saudaranya. Gue langsung minder ketika itu. Sebuah Ferrari yang dipakai menjemputnya. Haha. Gue mana bisa beli waktu itu.

“Beeeuh, ngeri amat Fen. Haha.”

“Haha biasalah sepupu gue emang suka beg*, bawa-bawa mobil bapaknya nggak pake mikir.”

“Yaudah gih, sampai ketemu besok ya Fen.”

“Iya ja. makasih buat pengalaman menyenangkannya ya.”

Feni memeluk gue lama sekali dibandara. Jadi inget pelukan yang lama dengan Keket waktu gue pulang dari Lombok dulu. Gue kemudian pulang naik bis bandara yang mengarah ke kostan gue. pengalaman bareng Feni ini sangat menyenangkan rupanya. Dan itu selalu gue ingat sampai sekarang.

Diubah oleh yanagi92055 25-10-2019 11:32
sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.