Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
Selamat Datang di Thread Gue 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Diubah oleh yanagi92055 08-09-2020 10:31
al.galauwiAvatar border
nacity.ts586Avatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 79 lainnya memberi reputasi
78
300K
4.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#926
Ke Timur_Part 1
Intensitas gue dan Dee semakin erat sehabis kejadian itu. Dia selalu menantikan saat-saat akan bertemu gue di weekend. Jika nggak bisa ketemu atau ada halangan, kami berdua, terutama dia, akan kecewa.

Bagaimana kabarnya Feni? Dia baik-baik aja kok. Bahkan rencananya di akhir Mei ini gue dan dia ditugaskan keluar kota. Ngapain dia ikut? Kan bukan orang teknik? Dia ikut karena kebijakan kantor gue yang seperti memberikan bonus jalan-jalan kepada orang-orang non teknik.

Sehabis meeting pada hari kamis gue dan Feni seperti biasa makan siang di tempat favorit kami. Dia juga terlihat lebih ceria dari biasanya.

“Ja gue seneng deh, akhirnya gue kebagian pergi keluar kota juga. Haha. Bareng lo lagi.”

“ini bukan rekayasa lo kan Fen yang minta sama manajer buat berangkat bareng gue? Hehe.”

“Haha nggak Ja, itu murni kok. Gue aja awalnya kaget. Tanya Ratna aja. Pas pak manajer approve, ternyata berangkatnya sama lo.”

“Wah Mas Sigit nih jangan-jangan kerjaannya.” Kata gue dalam hati.

“kenapa Ja kok bengong? Nggak seneng lo ya?”

“Nggak kok Fen. Gue seneng banget bahkan. Hehe.”

“Kenapa? Kepikiran cewek lo ya, pas mau jalan sama gue gini?”

“Haha nggak Fen. Santai kali. Gue malah mikir nanti di Makassar bisa jalan kemana.” Kata gue berbohong.

“Lo udah pernah kesana belum sih sebelumnya?”

“Belum pernah Fen, makanya gue bingung mau kemana aja nanti.”

“Yaudah nanti browsing aja yuk, liat-liat destinasi wisatanya apa aja yang ada disana.”

“Iya bener, yaudah ntar kita browsing bareng ya.”
Kami menghabiskan sisa makanan kami sebelum akhirnya kembali ke kantor.

Mas Sigit memanggil gue ke ruangannya. Gue mengiyakan setelah gue beribadah dulu.

“Ya ada apa mas?” tanya gue.

“Ja, lo pegang proyek Bank A ya? Bisa kan?” jawab dia.

“Hah? Yakin mas? Gue baru setaun kali disini. Ntar yang lain gimana? Kan yang lebih senior dari gue banyak Mas.”

“Heh, lo itu kan udah lulus ujian sertifikasi tingkat pertama, tanpa HER, yang bikin lo jadi lulusan termuda sejak asosiasi profesi ini berdiri. Terus lo mau nolak kerjaan kayak gini? Ini nggak susah Ja, Cuma butuh ketekunan, sama waktu lo yang agak lebih banyak. Tapi kan ada kompensasi lembur Ja. Mau ya? Gue nggak bisa mercayain ke orang lain soalnya.”

“Pengalaman di lapang gue kan dibanding yang lain yang udah puluhan taun di bidang ini kalah banget Mas. Jangan kayak gitu lah.”

“Pak Astafi percayanya sama lo Ja.”

“Kenapa nggak Pak Astafi ngomong sama gue langsung?”

“ya kan ada hierarki kali Ja. Jadinya di delegasiin dulu ke gue buat ngomong ke lo. Gimana?”

“Hmmm..aduh mas gue masih nggak pede, soalnya pengalaman gue masih minim banget dilapang dibanding yang lain. Oke secara teori gue emang menang banyak, sekarang predikat gue bahkan sama dengan bapak-bapak senior lainnya itu disini. Tapi secara praktek lapang, gue masih kalah jauh sama mereka Mas. Gue juga nggak enak, masa masih seumuran gue udah pegang komando. Berarti ntar tim gue bapak-bapak itu dong? Emang mau dikomandoin sama gue? Emang mau ditentuin pembagian kerjanya sama gue?”

“Justru itu tantangannya. Mereka bisa dilapangan dan jago karena pengalaman, tapi lo kan tau dari teori dulu, terus lo praktekin dilapang. Jadinya kerja lo nggak melenceng. Dan gue mau lo perbaiki cara kerja bapak-bapak itu pelan-pelan. Biar nggak bias kalau ngehasilin report jadinya nanti. Oh iya, pendidikan buat sertifikasi tingkat lanjutan yang madya udah mau buka tuh, lo ikutan ya?”

“Haduh lo maksa banget sih mas. Gue nggak yakin sama kemampuan gue saat ini. Pengalaman gue baru setaun banget ini loh mas. Kalau pendidikan gue mau banget ikutan mas, tapi kalau pegang proyek jadi leader, gue kayaknya ntar dulu deh mas. Mungkin taun depan kalau tawaran ini masih ada, gue mau coba jalanin. Gimana?”

“Hmmn, gue yang kena damprat deh ini nanti..hahaha. yaudah, berarti bener ya yakin, lo nggak mau sama posisi ini?”

“Nggak dulu mas maaf, belum berani gue. Hehe.”

“Yaudah nanti lo ke Ratna ya, buat ngurus administrasi. Nanti kan lo mau didaftarin buat ikutan pendidikan tingkat madya ya.”

“Oke siap Mas. Gue permisi dulu ya.”

Sesuatu yang benar-benar diluar dugaan gue. Ternyata proyek yang hampir semua bapak-bapak dikantor ini incar, malah mau ditawarkan ke gue. Bukan gue gimana-gimana, gue hanya belum pede dengan minimnya pengalaman gue dilapang. Plus lagi, gue masih baru, sedangkan mereka udah belasan tahun ada di industri ini. Biarlah mereka dulu yang dikasih kesempatan kan.

Jumat pun tiba, dan gue pun sudah bersiap untuk perjalanan menuju ke Makassar. Gue akan berada disana selama dua hari aslinya, tapi karena sekalian weekend, gue memutuskan untuk hari minggu saja pulangnya. Gue bersama Feni jalannya.

Orang-orang dikantor auto curiga dan malah cie-ciein gue dan Feni. Tapi gue dan Feni cuek aja dan Cuma ketawa-ketawa aja.

“Bangun Fen. Ah lo mah susah banget, ntar kita telat.”

“Jam berapa ini Ja?”

“Jam 1 malam. Buruan mandi. Gue juga belum nih. Kita kan jam 4.40 pagi pesawatnya. Kita mesti ada disana sekitar 1 jam sebelum Fen, ayo.”

“Iyaaa. Sebentar dulu gue ngumpulin nyawa.”

“Yaudah jangan tidur lagi tapi yak.”

Feni menumpang nginap dikostan gue malam itu, karena lokasinya lebih dekat dari bandara daripada rumah Feni. Lalu gue mandi duluan. Baru juga mulai nyalain shower, eh tiba tiba pintu kamar mandi dibuka. Guenya juga lupa ngunci, soalnya biasa sendiri kan jadi ngapain dikunci. Feni malah gabung sama gue mandi, katanya biar cepet. Gue menghadap ke arah berlawanan sama dia.

“Fen lo ngigo? Ini gue masih mandi kali.”

“Ah elah katanya mau buru-buru? Yaudah bareng aja santai kenapa sih.”

“Yaudah bebas deh Fen haha.”

“Lo kayak nggak pernah liat cewek tanpa busana aja sih.”

“Kalo ternyata nggak gimana?”

“Ya nggak mungkin laaah. Hahaha.”

“Sok tau banget lo Fen.”

“Kalo bener, gue remes batang lo ya.”

“Bebas Fen.”

“Haha, suka nantangin ni anak. Awas aja lo Ja.”

Gue akhirnya menyelesaikan mandi gue. Gue sempat melihat dengan jelas tubuh Feni tanpa sehelai benang pun, karena dia mandi pakai gayung dan air yang ada di ember. Kinclong banget badannya.

Mengingatkan gue dengan bodi Ara si anak periang kesayangan gue. Mirip banget sampe bentuk gunung kembarnya pun mirip. Ah elah, gue malah jadi kangen sama Ara. Feni juga kayaknya rajin merawat bagian sensitifnya. Terbukti dengan tidak ada sehelai rambut pun disana yang keliatan sama gue dari jauh. Tapi nggak tau kalau dari deket.

“Maaf Fen, gue liat dikit tadi. Hehe.” Kata gue sambil melewatinya dan menuju pintu keluar.

“Haha santai aja Ja. Gue juga liat punya lo. Mayan lah buat orang Indo.”

“Diiih. Apaan nih maksudnya? Ngehina kurang setrong gitu maksud lo?”

“Haha nggak kok, cukup lah bikin cewek klepek-klepek.”

“Bangke lo Fen, jangan mancing-mancing. Haha. Udah buruan ntar kita telat.”

“Iyeee..buru sono lo keluar.”

Gue berpakaian duluan, dan nggak lama Feni keluar handukan doang tanpa apapun didalamnya. Dengan entengnya juga dia buka handuk didepan gue, dan membiarkan gue melihat dengan jelas badannya dia.

“Lo tuh lagi godain gue bukan sih Fen?”

“Lo aja mikirnya mesum Ja.”

“Yee, tapi kan bisa pake BH sama celana dalem lo di kamar mandi kali. Ngapain lo tanpa busana disini lagi?” dia nggak jawab.

“Gue udah siap. Barang-barang lo udah di packing kan semua?”

“Udaah. Gue juga yang bantuin masuk-masukin barang lo ke koper kan.”

“haha iya, thanks Fen.”

Tanpa gue duga, Feni dandannya cepet banget. Dan emang dia berpakaian simpel kala itu. Kayak mau kerja biasa aja dengan polesan bedak serta pewarna bibir yang berwarna cerah. Simpel tapi eye catching. Dia juga pakai sepatu sneakers sama kayak gue.

Gue kalau ke lapang biasanya emang pakai sneakers, kecuali kalau medannya berat kayak hutan atau tambang, gue pasti pakai sepatu boot gue.

Gue dan Feni berangkat menuju ke pemberhentian bis bandara. Kemudian nggak lama bis datang dan kami naik. Sepanjang perjalanan kami tertidur pulas. Nggak kerasa udah sampai aja di bandara Soetta. Gue dan Feni dapat maskapai yang terbaik waktu menuju ke Makassar, mungkin kantor lagi tajir kali ya. Haha.

Selesai check in, gue dan Feni masuk keruang tunggu setelah melewati beberapa kali check. Feni dan gue membawa 1 koper aja buat berdua. Berasa kayak orang pacaran aja. Celana dalam dan BH Feni ditumpuk bareng sama celana dalam gue. Haha.

Pesawat berangkat sesuai dengan waktu yang sudah terjadwal. Memang salah satu Bandara yang keren ini manajemennya. Jarang banget delay kalau dari Soetta. Tapi banyak kasus delay maskapai yang menuju ke Soetta dari daerah-daerah di Indonesia.

“Akhirnya pengganti rencana kita ke Anyer hampir setaun lalu, kesampaian ya Ja.”

“Haha iya Fen.”

“Lo seneng nggak sih kalau jalan sama gue Ja?”

“Seneng lah Fen. Kan gue jadi ada temen. Haha.”

“udah gitu doang?”

“Lah emang mestinya gimana?”

“Ya gue pikir lo excited banget gitu pergi sama cewek lucu imut ini. Haha.”

“Seneng sih Fen, apalagi kalau gue bisa kerjain.”

“Haha ngerjain gue apaan lo?”

“Ada dah. Pokoknya kejutan, kalo lo mau.”

“Dih mau kasih kejutan malah minta persetujuan. Gimana sih lo Ja? Haha.”

“Haha iya juga ya.”

Gue dan Feni bondingnya udah kentel banget. Kami emang sahabatan deket. Tapi kadang-kadang ngarah ke arah mesum juga sih. Mungkin ini yang dimaksud sama Friend With Benefit ala Feni, nggak melulu soal seksualitas, tapi emang santai aja udah. Ngobrol bareng ngebahas urusan selangkangan, ganti baju didepan muka, tidur bareng dan sebagainya. Tapi yaudah segitu doang.

Kadang kalau Feni lagi mabuk terus pulang ke kostan gue itu rasanya pingin banget gue kerjain kan. Haha. Tapi nggak deh, kasian hidupnya nanti. Mana dia ngaku masih perawan lagi kan. Sepintas ketika gue melihat beberapa kali dia polosan, emang gue sedikit percaya ini anak masih perawan. Tapi masa iya?
sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 23 lainnya memberi reputasi
24
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.