- Beranda
- Stories from the Heart
JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]
...
TS
rosemallow
JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]
![JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]](https://s.kaskus.id/images/2019/10/14/10708448_201910140406130459.png)
Spoiler for Baca ini!:
PREV STORY << PELET PERAWAN [TAMAT]
PREV STORY << AMARAH DESA JIN [TAMAT]
JAMPE POPOTONGAN (JAMPI MANTAN SUAMI)
Seorang pemuda terduduk disebuah saung dengan beralas bambu yang dibuat sedemikian rupa hingga menjadi sebuah alas panggung dengan atap dari daun kelapa, ditengah sawah yang luas.
Pemuda itu memang terlihat sudah lumayan dewasa, belum menikah sama sekali. Umurnya diperkirakan sekitar 27-28 tahunan, dengan jenggot tebal tak memanjang, kulit coklat gelap dengan badan kurus berotot kering itu dikenal dengan nama Dedi. Tak banyak yang ia lakukan hanya merenungi nasibnya sekarang ini.
Mungkin tidak hanya ditanah sunda, tapi jika ada pemuda yang dengan umur yang sudah matang belum menikah itu menjadikannya sebuah masalah. Dedi sering minder karena dia tidak percaya diri dengan dirinya, dia sering berpikir jika fisik dan kemiskinannya adalah masalah utamanya sekarang.
Waktu itu tahun 2004, ketika aku masih SD berumur sekitar 8 tahun.
Suatu sore,
Bapakku datang kerumah dengan seseorang yang ku tahu sebelumnya, dan dia itu adalah dedi. Dedi hanya tersenyum kepadaku yang sedang makan dengan ibuku.
Bapakku duduk di kursi ruang tamu begitupun dedi yang duduk persis disebelahnya
"Diuk rada dituan atuh ded!" (Duduk agak kesana dong ded) ucap bapakku sembari tertawa kecil
Dedi hanya membalas senyum kemudian menggeser sedikit menjauh dari bapakku.
Umurku yang sekecil itu hanya menatap biasa melihatnya,
"Atuh mah, jieunkeun kopi atuh" (mah, buatin kopi dong!) Seru bapakku menyuruh ibuku yang baru saja selesai makan bersamaku.
Ibuku pergi ke dapur dan membuatkan kopi untuk bapak dan Dedi.
Singkatnya, dedi mulai bekerja dengan bapakku. Pikirku karena kasihan melihat keluarganya yang tidak terlalu berkecukupan dalam memenuhi kehidupannya sehari-hari.
Dedi tinggal bersama ibunya yang janda, adik laki-lakinya yang berbeda 6 tahun dengannya dan 3 keponakannya yang diketahui ibunya sedang bekerja di Arab saudi. Tapi jarang sekali memberikan uang kepada mereka. Maka dari itu seringkali mereka melakukan pekerjaan apapun tanpa mengeluh.
Meskipun dedi sering merasa minder, tapi dia juga sempat menyukai banyak wanita dikampung kami. Berkali-kali penolakan berujung dengan kesedihan yang dialami dedi. Meskipun begitu wanita kampungpun mempunyai selera yang sangat tinggi.
Karena bekerja dengan bapak, aku sering bertemu dengannya dirumah. Dedi adalah pemuda yang ramah, dia mempunyai etika yang sangat baik. Dia sangat murah senyum.
Hingga suatu ketika, wajahnya tidak seperti biasanya, dia hanya terdiam dengan ekspresi yang sedih. Hal itu memancing ibuku untuk bertanya keadaannya,
"Kunaon ded? Teu biasana?" (Kenapa ded? Gak biasanya) Tanya ibuku. Aku yang berada disitu pula sedang menonton Tv, menoleh sengaja dengan keingin tahuan yang besar
"Teu aya nanaon teh!" (Gak ada apa-apa teh!) Jelasnya kemudian tersenyum.
Ibuku hanya mengangguk tak memaksa dedi untuk bercerita.
Setelah menerima uang dari bapakku, dedipun pulang.
Sepulangnya dedi, uwakku datang kerumah dengan membawa makanan. Sudah tradisi dikampung ini untuk bertukar makanan.
Aku mendengar uwakku menceritakan hal tentang dedi dan keluarganya
"Nya eta, karunya si dedi" (kasian si dedi) kata uwakku memulai pembicaraan
"Oh heeuh, kunaon emang teh?" (Oh iya, kenapa emangnya teh?)
Aku terus menguping pembicaraan ibu dengan uwakku. Cerita yang lumayan panjang kudengar. Ternyata
"Ibunya dedi, yakni Bi Uun diganggu oleh beberapa warga, mereka membuang dagangan bi uun yakni ikan, bi uun memang sering berkeliling kampung untuk menjual ikan-ikan tapi entah mengapa seringsekali bi uun mendapat perlakuan buruk dari warga sekitar, mulai dari dibicarakan aibnya sampai diperlakukan tidak senonoh"
Para warga sering menganggap keluarga dedi itu sebagai hinaan, mereka seringkali menertawakan kondisi keluarga dedi. Rumah yang hampir seperti gubuk, berdindingkan bilik dan lantainya hanya tanah, membuat keluarganya menjadi bulan-bulanan iseng para warga.
Rumah mereka berada diujung persawahan dibatas hutan, jauh dari pemukiman warga lain. Aku sering melihat rumahnya ketika ku biasa mencari belalang disawah yang sudah dipanen. Tampak reot pikirku. Rumah itu nampak sudah tak layak lagi untuk dihuni.
Hingga suatu ketika, sebuah kejadian yang menjadi buah bibir dikampungku terjadi tidak jauh dari rumah dedi diperbatasan hutan dan persawahan dikampung ini.
Begini ceritanya...
2 orang anak laki-laki beumur kisaran 15 tahun berjalan melewati rumah dedi dengan satu buah golok yang dipegang salah satu anak itu, sebut saja Dian dan adang. Dian dan adang berniat mencari jambu mete atau kita sering menyebutnya Mede. Yang memang banyak tumbuh dihutan belakang rumah dedi.
Kala itu waktu sudah tengah hari, adzan dzuhur pun baru saja berhenti berkumandang. Dian dan adang tak pernah merasa ada hal yang aneh, ini memang hutan yang biasa mereka masuki ketika mencari buah atau kayu bakar.
Setelah melewati rumah dedi, mereka berdua hanya memandang rumah reot itu kemudian masuk kedalam hutan.
Dengan seksama mereka menghampiri setiap pohon jambu mete dan melihat-lihat keatas mencari buah yang sudah matang dengan warna jingga sampai merah segar. Banyak sekali buah yang mereka temukan, hanya saja daging buah tidak mereka ambil, mereka hanya mengambil biji-biji metenya untuk mereka bakar dan makan.
2 jam mereka berkeliling didalam hutan dengan pohon-pohon besar menjulang, lelah menangkap mereka. Direbahkannya badan mereka berdua diatas dahan pohon mangga yang tidak terlalu tinggi tapi berbatang besar
Berniat untuk beristirahat sejenak sebelum mereka pulang.
"Dang, sia pernah nempo jurig?" (Dang, kamu pernah lihat hantu?) Tanya dian iseng
Adang hanya menggeleng dengan potongan buah mangga mentah berada digigitannya.
"Hayang nempo embung?" (Mau lihat gak?) Kata dian meneruskan
"Embung teuing!" (Nggak mau lah) jawab adang cuek
"Ah borangan, yeuh ku aing bere nyaho mun sia hayang nempo jurig!" (Ah penakut, nih aku kasih tahu kalo kamu pengen lihat hantu!) Jelas dian bangun dari baringnya
"Ih pan cik aing geh embung!" (Ih kan kata gua juga gak mau!) Ketus adang
"Heeuh ges repeh, yeuh kieu carana!" (Udah diem aja, gini nih caranya) ujar dian memegang bahu adang.
Adang hanya terlihat sedikit panik sembari mengupas mangga mentah ditangannya.
"Sia botakan hulu sia, terus kerok halis sia, laju sataranjang terus ngaca! Tah sia bakal nempo jurig dikacana! Hahaha" (kamu botakin kepala kamu, terus cukur alis kamu, kemudian telanjang dan berkaca! Nah kamu bakal melihat hantu dikacanya! Hahaha) jelas dian diakhiri tawa yang sangat kencang.
Adang terlihat diam dan bingung" atuh etamah aing dian!" ( Itumah gua atuh dian) jelas adang sembari memukul dada dian hingga terjatuh dari dahan.
"Gedebuk" suara badan dian yang membentur tanah dengan dedaunan kering diatasnya. Dian hanya terus tertawa sambil mengeluh kakinya yang sedikit sakit.
"Modar sia!" (Rasain lu) kata Adang kemudian tertawa.
Tapi pada saat itu juga, adang tak mendengar suara dian yang tadi masih tertawa, dilihatnya ke bawah. Dian terlihat mengamati sesuatu dari kejauhan, itu membuat adang kemudian turun dari atas pohon.
"Yan, aya naon?" (Yan ada apa?) Tanya adang dibelakang dian sembari mengambil kantong keresek berisi biji jambu mete yang ia taruh diakar pohon mangga besar itu.
"Ssst, repeh... Itu naon nu hideung ngarumbay!" ,,(Ssst, diam... Itu apa yang hitam tergerai)
Bersambung
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART ENDING
Diubah oleh rosemallow 27-10-2019 21:03
minakjinggo007 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
25.3K
175
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rosemallow
#112
JAMPE POPOTONGAN [PART 8]
Abah kemudian sejenak terdiam, ia terlihat memikirkan jalan keluar yang harus dia dan dedi tempuh agar imas bisa kembali pada biasanya. Abah memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi terhadap imas bahkan bisa saja menimpa keluarganya dedi.
Kemudian abah berbicara setengah berbisik kepada dedi, jika sebenarnya abah mencurigai seseorang yang terlihat asing, dan dia selalu ada disetiap imas kumat.
Pemikiran abah dan aku sama, ternyata abahpun melihat sosok laki-laki yang mencurigakan itu. Saat itu dedi dan abah sepakat untuk mencari tahu siapa laki-laki yang ia curigai, abah menganggap jika laki-laki itu bisa saja memang mantan suaminya imas dan memang ia adalah yang menguna-guna imas menjadi seperti itu atau bisa jadi seseorang yang sangat berhubungan penting dengan imas dan kejadian ini.
Terlebih, anggapan abah tentang itu menjadi sangat akurat ketika tidak ada yang mengetahui siapa orang itu. Dedi hanya mengangguk mengikuti arahan abah untuk mencari tahu siapa laki-laki itu.
Beberapa haripun berlalu …
Pada sore hari, Seperti biasa aku dan teman-temanku pergi ke rumah seorang guru ngaji yang memang tempat stau-satunya untuk belajar mengaji dikampungku.
Kami berjalan tanpa berpikir hal lain sore itu, sebenarnya hari itu sudah mulai memasuki malam karena langit masih terlalu terang, jadi ba’da maghribpun masih terasa sore hari.
Setelah sampai di tempat mengaji, suasana begitu riuh. Semua orang membicarakan satu hal yang sangat membuatku tertarik.
Hal ini adalah tentang dedi dan laki-laki misterius yang selalu datang ketika imas mengalami hal-hal yang tidak masuk akal. Akupun menyeloroh duduk didepan temanku yang mempunyai informasi ini. Karena hal tentang imas akans elalu menajdi topic panas setiap ahrinya, semua orang menjadi tampak antusias mencari tahu kejadian-kejadian apa yang akan terjadi lagi.
Begini cerita temanku,
2 hari yang lalu, Pada malam hari selepas isya, dedi dan abah sepakat untuk mencari tahu siapa laki-laki asing yang tidak ada yang mengenali. Kampungku bukan kampung dengan rumah yang padat dan berdempet-dempet.
Jarak rumah kami biasa terpisah beebrapa motor dari rumah satu ke rumah yang lainnya.
Dedi terlihat serius merokok didepan sebuah warung, matanya serius menelisik melihati seseorang yang tengah berjalan dibawah cahaya lampu kekuningan dipinggir jalan.

Dedi perlahan bangun dari duduknya kemudian berjalan pelan menyamakan langkah kaki pria itu yang berjalan menjauh dari warung. Dedi tak ada berpikir apa-apa lagi, dia hanya ingin tahu siapa laki-laki ini. Jika memang benar dia adalah mantan suami imas dan telah mengganggu rumah tangganya, dedi tidak segan untuk membalas perbuatan kejinya itu.
10 menit mereka berjalan, laki-laki itu tidak Nampak curiga dengan dedi yang berjalan mengikutinya didalam kegelapan malam. Suasana kebun dan pohon rindang tak urung membuat dedi bingung dengan apa yang sebenarnya dilakukan laki-laki itu, hingga ia harus berjalan lumayan jauh dari warung tempat dedi duduk tadi.
Tak tersadar, dedi memergokinya datang kesebuah rumah yang tidak asing baginya yang tak lain adalah rumah teman masa kecilnya, Deden.
Dedi sejenak tertegun bingung dengan apa yang ia saksikan itu. Ada hubungan apa? Laki-laki itu dengan deden? Mengapa dia pergi kerumah temannya itu.
Dedi kemudian menyembunyikan diri dibalik pohon waru beberapa meter dari halaman teras rumah deden.
Keluar seorang pria yang tak lain adalah deden, duduk didepan rumahnya sembari menyalami laki-laki yang dicurigai dedi itu. Dedi semakin bingung dengan hal ini, karena deden terlihat sangat akrab dengan laki-laki itu. Dedi pun berpikir negative kepada deden, pantas saja ia tak pernah datang lagi kerumah dedi dan imas setelah acara pernikahan kami. Dedi baru sadar akan hal itu, apa yang sebenarnya mereka perbuat.
Dedi bingung pasrah apa yang harus dia lakukan, kenapa dia sangat gugup sekali malam itu. Deden tengah mengobrol dengan laki-laki itu. Terlalu jauh dedi mengamati mereka, perlahan dedi berjalan menuju rumahnya. Ia memutuskan untuk berpura-pura bertamu ke rumah deden.
Kata salam berkumandnag dari mulut dedi, wajah mereka terlihat kaget melihat sosok dedi yang berdiri dengan senyum yang menyngging dari wajahnya. Nampak kepanikan terlihat dari wajah mereka berdua, hal apa yang mereka pikirkan membuat dedi semakin curiga.
“Eh ded, aya naon?” (eh ded, ada apa?) Tanya deden spontan
Dedi hanya mengangkat bahunya, kemudian duduk tanpa dipersilakan. Bak memergoki orang yang telah berbuat salah, dedi ebrkata seenaknya dengan nada yang sedikit mengancam,
“oh ieu, alas an sia teu ulin deui ka imah aing? Sekongkol lain?” (oh ini alas an lug a main lagi ke rumah gua? Kalian sekongkol?)
Deden terlihat kaget sekaligus bingung, tapi laki-laki asing itu Nampak tertegun menundukkan kepalanya.
Suasana malam itu Nampak mencekam, api amarah berkobar dalam diri dedi kala itu. Deden hanya terdiam menatap bingung. Dedi menggebrak meja dengan keras, kata-katakeluar bak tak ada beban dalam diri Dedi
"Ngaku moal saria?" (Ngaku gak kalian?) Ancam dedi
"Ded, Ded cicing heula Ded ulah doang kieu atuh" (Ded, Ded diam dulu Ded jangan seperti ini) mohon Deden sembari memegang tangan Dedi.
Dedi berdiri dengan mata tajam memandangi laki-laki asing itu. Deden dengan sigap menjelaskan suatu hal yang membuat Dedi mengalihkan pandangannya.
"Ded, sabenerna urang rek ngomong ka maneh, cuman di waktu anu tepat. Tapi mun maneh geus kaburu doang kieu, geus lah urang omongkeun didieu wae, diuk heula maneh!" (Ded, sebenarnya aku mau ngomong, cuma diwaktu yang tepat. Tapi kalo kamu sudah seperti ini, yasudah aku bicarakan disini saja, kamu bisa duduk dulu!) Seru Deden diikuti badan Dedi yang perlahan menduduki kursi.
"Ieu ngarana Yosep" (ini namanya Yosep) kata Deden sembari memegang bahu pria asing itu
Dedi hanya mengangguk tak ikhlas.
"Yosep teh adina popotongan Imas" (Yosep ini adik dari mantan suami Imas) terus Deden
"Nah ceuk aing naon!" (Nah, kata gua apa!) Jawab Dedi setengah bangun dari duduknya.
Deden mendudukkan badan Dedi kembali, "engke heula sia teh!" (Nanti dulu lu tuh)
"Budak ieu teh, Aya maksud Alus kadieu teh!" (Anak ini, ada maksud baik kesini tuh!) Kembali Deden menjelaskan.
Deden menjelaskan hal yang membuat Dedi benar-benar tak kuasa menahan tangis.
Yosep adalah adik dari mantan suaminya Imas, Rizal. Rizal adalah seorang lelaki pekerja keras yang sebenarnya dahulu dia sangat mencintai Imas, tak beda dengan Dedi.
Rizal akan melakukan banyak hal hanya untuk Imas. Akan tetapi, suatu ketika Imas meminta cerai kepada Rizal yang hanya Imas saja yang tahu. Karena Rizal tidak tahu alasan kenapa Imas meminta hal yang paling ditakuti Rizal tersebut.
Setelah bercerai, sebenarnya Imas sudah tahu jika Rizal menggunakan jalan pintas untuk membuatnya kembali kepada Rizal dengan cara yang sangat mengerikan. Itulah alasan kenapa tidak ada laki-laki yang bertahan lama dengan Imas, semuanya merasakan apa yang Dedi rasakan, beruntung mereka mengalami hal itu saat sebelum menjadi sepasang suami istri.
Deden pun sebenarnya baru tahu semua ini, Imas memaksanya untuk dicarikan seorang suami. Kemudian Deden terpikir kepada Dedi dan dengan mudah, Dedipun mau untuk menikahi imas.
Yosep datang ke sini, sebenarnya ia merasa kasihan kepada Imas terlebih Diana keponakannya. Sebenarnya dia bingung apa yang harus ia lakukan.
Tapi yosep tahu satu hal yang dikatakan oleh kakaknya, jika ingin ini semua berakhir.
"A, nyaho teu?" (A tau gak?) Ucap Yosep memotong penjelasan Deden.
Dedi menoleh tajam ke arah Yosep.
Bersambung...
PART 9 (Ending)
Kemudian abah berbicara setengah berbisik kepada dedi, jika sebenarnya abah mencurigai seseorang yang terlihat asing, dan dia selalu ada disetiap imas kumat.
Pemikiran abah dan aku sama, ternyata abahpun melihat sosok laki-laki yang mencurigakan itu. Saat itu dedi dan abah sepakat untuk mencari tahu siapa laki-laki yang ia curigai, abah menganggap jika laki-laki itu bisa saja memang mantan suaminya imas dan memang ia adalah yang menguna-guna imas menjadi seperti itu atau bisa jadi seseorang yang sangat berhubungan penting dengan imas dan kejadian ini.
Terlebih, anggapan abah tentang itu menjadi sangat akurat ketika tidak ada yang mengetahui siapa orang itu. Dedi hanya mengangguk mengikuti arahan abah untuk mencari tahu siapa laki-laki itu.
Beberapa haripun berlalu …
Pada sore hari, Seperti biasa aku dan teman-temanku pergi ke rumah seorang guru ngaji yang memang tempat stau-satunya untuk belajar mengaji dikampungku.
Kami berjalan tanpa berpikir hal lain sore itu, sebenarnya hari itu sudah mulai memasuki malam karena langit masih terlalu terang, jadi ba’da maghribpun masih terasa sore hari.
Setelah sampai di tempat mengaji, suasana begitu riuh. Semua orang membicarakan satu hal yang sangat membuatku tertarik.
Hal ini adalah tentang dedi dan laki-laki misterius yang selalu datang ketika imas mengalami hal-hal yang tidak masuk akal. Akupun menyeloroh duduk didepan temanku yang mempunyai informasi ini. Karena hal tentang imas akans elalu menajdi topic panas setiap ahrinya, semua orang menjadi tampak antusias mencari tahu kejadian-kejadian apa yang akan terjadi lagi.
Begini cerita temanku,
2 hari yang lalu, Pada malam hari selepas isya, dedi dan abah sepakat untuk mencari tahu siapa laki-laki asing yang tidak ada yang mengenali. Kampungku bukan kampung dengan rumah yang padat dan berdempet-dempet.
Jarak rumah kami biasa terpisah beebrapa motor dari rumah satu ke rumah yang lainnya.
Dedi terlihat serius merokok didepan sebuah warung, matanya serius menelisik melihati seseorang yang tengah berjalan dibawah cahaya lampu kekuningan dipinggir jalan.

Dedi perlahan bangun dari duduknya kemudian berjalan pelan menyamakan langkah kaki pria itu yang berjalan menjauh dari warung. Dedi tak ada berpikir apa-apa lagi, dia hanya ingin tahu siapa laki-laki ini. Jika memang benar dia adalah mantan suami imas dan telah mengganggu rumah tangganya, dedi tidak segan untuk membalas perbuatan kejinya itu.
10 menit mereka berjalan, laki-laki itu tidak Nampak curiga dengan dedi yang berjalan mengikutinya didalam kegelapan malam. Suasana kebun dan pohon rindang tak urung membuat dedi bingung dengan apa yang sebenarnya dilakukan laki-laki itu, hingga ia harus berjalan lumayan jauh dari warung tempat dedi duduk tadi.
Tak tersadar, dedi memergokinya datang kesebuah rumah yang tidak asing baginya yang tak lain adalah rumah teman masa kecilnya, Deden.
Dedi sejenak tertegun bingung dengan apa yang ia saksikan itu. Ada hubungan apa? Laki-laki itu dengan deden? Mengapa dia pergi kerumah temannya itu.
Dedi kemudian menyembunyikan diri dibalik pohon waru beberapa meter dari halaman teras rumah deden.
Keluar seorang pria yang tak lain adalah deden, duduk didepan rumahnya sembari menyalami laki-laki yang dicurigai dedi itu. Dedi semakin bingung dengan hal ini, karena deden terlihat sangat akrab dengan laki-laki itu. Dedi pun berpikir negative kepada deden, pantas saja ia tak pernah datang lagi kerumah dedi dan imas setelah acara pernikahan kami. Dedi baru sadar akan hal itu, apa yang sebenarnya mereka perbuat.
Dedi bingung pasrah apa yang harus dia lakukan, kenapa dia sangat gugup sekali malam itu. Deden tengah mengobrol dengan laki-laki itu. Terlalu jauh dedi mengamati mereka, perlahan dedi berjalan menuju rumahnya. Ia memutuskan untuk berpura-pura bertamu ke rumah deden.
Kata salam berkumandnag dari mulut dedi, wajah mereka terlihat kaget melihat sosok dedi yang berdiri dengan senyum yang menyngging dari wajahnya. Nampak kepanikan terlihat dari wajah mereka berdua, hal apa yang mereka pikirkan membuat dedi semakin curiga.
“Eh ded, aya naon?” (eh ded, ada apa?) Tanya deden spontan
Dedi hanya mengangkat bahunya, kemudian duduk tanpa dipersilakan. Bak memergoki orang yang telah berbuat salah, dedi ebrkata seenaknya dengan nada yang sedikit mengancam,
“oh ieu, alas an sia teu ulin deui ka imah aing? Sekongkol lain?” (oh ini alas an lug a main lagi ke rumah gua? Kalian sekongkol?)
Deden terlihat kaget sekaligus bingung, tapi laki-laki asing itu Nampak tertegun menundukkan kepalanya.
Suasana malam itu Nampak mencekam, api amarah berkobar dalam diri dedi kala itu. Deden hanya terdiam menatap bingung. Dedi menggebrak meja dengan keras, kata-katakeluar bak tak ada beban dalam diri Dedi
"Ngaku moal saria?" (Ngaku gak kalian?) Ancam dedi
"Ded, Ded cicing heula Ded ulah doang kieu atuh" (Ded, Ded diam dulu Ded jangan seperti ini) mohon Deden sembari memegang tangan Dedi.
Dedi berdiri dengan mata tajam memandangi laki-laki asing itu. Deden dengan sigap menjelaskan suatu hal yang membuat Dedi mengalihkan pandangannya.
"Ded, sabenerna urang rek ngomong ka maneh, cuman di waktu anu tepat. Tapi mun maneh geus kaburu doang kieu, geus lah urang omongkeun didieu wae, diuk heula maneh!" (Ded, sebenarnya aku mau ngomong, cuma diwaktu yang tepat. Tapi kalo kamu sudah seperti ini, yasudah aku bicarakan disini saja, kamu bisa duduk dulu!) Seru Deden diikuti badan Dedi yang perlahan menduduki kursi.
"Ieu ngarana Yosep" (ini namanya Yosep) kata Deden sembari memegang bahu pria asing itu
Dedi hanya mengangguk tak ikhlas.
"Yosep teh adina popotongan Imas" (Yosep ini adik dari mantan suami Imas) terus Deden
"Nah ceuk aing naon!" (Nah, kata gua apa!) Jawab Dedi setengah bangun dari duduknya.
Deden mendudukkan badan Dedi kembali, "engke heula sia teh!" (Nanti dulu lu tuh)
"Budak ieu teh, Aya maksud Alus kadieu teh!" (Anak ini, ada maksud baik kesini tuh!) Kembali Deden menjelaskan.
Deden menjelaskan hal yang membuat Dedi benar-benar tak kuasa menahan tangis.
Yosep adalah adik dari mantan suaminya Imas, Rizal. Rizal adalah seorang lelaki pekerja keras yang sebenarnya dahulu dia sangat mencintai Imas, tak beda dengan Dedi.
Rizal akan melakukan banyak hal hanya untuk Imas. Akan tetapi, suatu ketika Imas meminta cerai kepada Rizal yang hanya Imas saja yang tahu. Karena Rizal tidak tahu alasan kenapa Imas meminta hal yang paling ditakuti Rizal tersebut.
Setelah bercerai, sebenarnya Imas sudah tahu jika Rizal menggunakan jalan pintas untuk membuatnya kembali kepada Rizal dengan cara yang sangat mengerikan. Itulah alasan kenapa tidak ada laki-laki yang bertahan lama dengan Imas, semuanya merasakan apa yang Dedi rasakan, beruntung mereka mengalami hal itu saat sebelum menjadi sepasang suami istri.
Deden pun sebenarnya baru tahu semua ini, Imas memaksanya untuk dicarikan seorang suami. Kemudian Deden terpikir kepada Dedi dan dengan mudah, Dedipun mau untuk menikahi imas.
Yosep datang ke sini, sebenarnya ia merasa kasihan kepada Imas terlebih Diana keponakannya. Sebenarnya dia bingung apa yang harus ia lakukan.
Tapi yosep tahu satu hal yang dikatakan oleh kakaknya, jika ingin ini semua berakhir.
"A, nyaho teu?" (A tau gak?) Ucap Yosep memotong penjelasan Deden.
Dedi menoleh tajam ke arah Yosep.
Bersambung...
PART 9 (Ending)
Diubah oleh rosemallow 25-10-2019 09:31
banditos69 dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Tutup