- Beranda
- Stories from the Heart
Milk & Mocha
...
TS
panpanochio
Milk & Mocha

Halo semua, ijinin gue seorang newbie untuk menceritakan sebuah kisah dari pengalaman gue, mungkin bagi beberapa orang pengalaman gue ini ga menarik. Perkenalkan nama gue Rendra, selamat datang di thread ini.
Cerita ini sepenuhnya real bagi orang-orang yang mengalaminya. Maka, gue bakalan pake nama asli mereka demi melindungi privasi. Nggak, becanda.
Quote:
Jangan lupa RATE and REPLY

Spoiler for Prolog:
Spoiler for Index:
Diubah oleh panpanochio 16-07-2020 21:04
fauzan.rifaza dan 55 lainnya memberi reputasi
52
21.2K
169
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
panpanochio
#96
PART 15
TERPESONA
Pandangan pertama..
Terpesona ku dengan bola matamu
Berhasil membuatku terpaku
Memancarkan sinar seperti hangatnya mentari pagiku
Garis senyummu menambah asmara saat ku menatapmu
Kau memang bukan yang aku dambakan
Namun hati merespon perlahan
Hadirmu secerah sinar mentari
Sulit untukku hindari
Asli. Gue gak ngerti, ini maksudnya kode Cita suka sama gue apa gimana deh. Isi dari tulisannya, terlihat bahwa itu tertuju buat gue, gimana enggak, isinya persis menceritakan gimana kita berkenalan. Gue menekan tombol hati pada tulisan yang Cita buat di platform Steller. Tulisan yang Cita buat, lagi-lagi membuat gue semakin percaya diri bahwa ia memiliki perasaan yang sama ke gue. Cita berhasil membuat gue tersenyum-senyum sepanjang hari itu.
Siang ini gue udah selesai kelas, dan bersiap mau pulang. Gue dan teman gue bernama Rama berjalan menuju parkiran. Saat ditengah jalan, gue bertemu dengan Bowo teman gue juga. Sekilas tentang Rama dan Bowo, mereka adalah teman pertama gue di kampus ini selain teman-teman dari SMK gue yang masuk kampus ini. Mereka satu kelas dengan gue waktu di tahun pertama -semester 1 dan 2-, sewaktu tahun pertama kami ini seperti geng, yaa geng Kupu-Kupu, mahasiswa yang kerjaannya Kuliah Pulang saja. Sayangnya di semester 3 ini Bowo berpisah kelas dengan gue dan Rama karena di tahun ini kelas di acak oleh pimpinan kampus.
Gue beserta Rama dan Bowo pergi menuju tempat billiard terdekat dengan kampus gue, jadilah kami menuju ke tempat billiard dengan menggunakan mobil Bowo yang ia bawa ke kampus.
“Eh Ren gimana lu sama yang anak kelas B, siapa namanya? Cita ya?” ucap Bowo saat kami sudah berada di mobilnya.
“Kasih tau Ren yang tadi” sahut Rama dari bangku belakang
“Hahaha nih Wo lu liat sendiri deh”
Gue menunjukkan tulisan Cita yang pagi tadi juga gue tunjukkan ke Rama.
“Wah ini mah lampu ijo Ren. Pantesan aja lu waktu ke puncak beli kue banyak banget, ternyata ada cewe yang di akalin”
“Iyalah, kalo suka mah harus usaha Wo biar dapet”
“Halah. Eh lu diomongin ama temen gue di kelas Ren, sama si Ita”
Bowo bercerita bahwa gue diomongin oleh temannya di kelas, Ita menanyakan seisi kelas siapa saja yang mengenal gue sosok Rendra dan seperti apa sosok Rendra itu. Ita adalah teman Cita juga, mungkin Cita bercerita ke teman-temannya. Hahaha ngapain ya Cita cerita-cerita ke temannya. Makin GR aja gue.
Sesampainya di tempat billiard, kami memesan satu meja. Setelah memilih meja mana yang akan kita pakai, datanglah mba-mba pelayan yang biasa menyusun bola billiard. Perawakan mba-mba ini biasa aja, mungkin umurnya sudah kepala 3, maklum saja karena tempatnya tidak semewah tempat biasa gue bermain dulu. Iya gue bermain billiard dari jaman gue SMP kelas 2. Sebenernya ini adalah pertama kalinya kami bermain billiard bersama. Bowo ternyata lumayan juga skill bermainnya, berbeda dengan Rama yang baru belajar saat itu juga. Satu jam sudah kami bermain, kami memutuskan untuk pulang. Bowo mengantarkan gue dan Rama ke kampus karena kami membawa motor sendiri. Setelah sampai di kampus kami memutuskan untuk ibadah zuhur terlebih dahulu, dan pulang ke rumah masing-masing setelahnya.
Balik lagi ke cerita utama di insiden penembakan Cita. Insiden
“Rendra suka sama Cita. Apapun keputusan Cita, Rendra akan terima. Cita mau jadi pacar Rendra?” gue mengucapkan kalimat itu dengan tempo lebih pelan dari sebelumnya. Sejenak Cita terdiam, ia tersenyum
“Duh maaf ya Ren, gimana ya, Cita ga bisa kalo baru deket sama orang baru langsung pacaran.”
Mendengar pernyataan Cita seperti ada suara petir bersautan. Gak, lebay banget sih. Gue gak bisa berkata apapun, senyum getir merekah di wajah gue sambil menundukkan wajah gue. Gue bingung, bukan ini yang gue harapkan. Gue gak pernah menyangka dengan penolakan ini. Mungkin Andi benar, terlalu cepat bagi gue untuk mengambil keputusan ini.
“Oh iya yaudah gapapa Rendra paham”
Mungkin Cita masih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan masa lalunya, mungkin saja ia masih ingin waktu untuk sendiri. Lagian juga gue nya terlalu buru-buru. Lama kami saling diam, terdapat perubahan pada raut wajah Cita. Mungkin dia merasa gak enak karena sudah menolak gue.
“Yaudah yuk ke kelas” ucap gue memecah keheningan
Kami berjalan bersebelahan menuju kelas kami masing-masing. Cita, baru kali ini gue bertemu wanita seperti ia. Sikapnya yang manis, baik, dan polos membuat gue nyaman. Ah gue salah mengartikan sikap dia, dia memang bersikap baik ke semua orang, bukan ke gue aja. Gue cuma sok kepedean seakan dia juga ada rasa ke gue.
“Jadi gapapa tau Ren kakinya sakit malah ditanyain sepatunya baru” ucap cita sambil jalan yang diikuti tawa kecilnya. Gue memaksakan senyum gue, di saat seperti ini sulit rasanya untuk bersikap baik-baik aja.
“Udah sih masih aja di bahas” jawab gue sambil senyum kecil.
Kami berpisah di depan kelas gue. Gue memasuki kelas dan memilih bangku dekat dengan dinding. Gue masih terdiam, mengingat kejadian tadi. Ada rasa sesak di dada gue ketika mengingat pernyataan Cita tadi. Kejadian tadi membuat gue hilang semangat untuk sekedar mendengarkan penjelasan dosen yang sedang mengajar. Gak lama kemudian ada notifikasi dari hp gue bertuliskan nama Cita
“Rendraa” ah apa dia berubah pikiran? Gak, kayaknya gak mungkin.
“Kenapaa” jawab gue gak bersemangat
“Rendra tapi masih mau temenan sama cita kan?” gak tau Ta, aku gak tau bisa apa enggak bersikap biasa aja kalo kita ketemu
“Yaa iyalaah wkwk. Udah yang tadi gausah dipikirin”
“Tapi cita ga enak sama rendra takut rendra sakit hati. Maaf ya rendraa” udah ta, udah sakit hati.
“Hahaha engga ko gapapa”
“Rendra tetep nunggu cita. Gapapa kan?”
“Jangan nunggu cita, soalnya cita sendiri gatau kedepannya gimana. Apa tiba-tiba rendra yang pergi kan gatauu
cita juga belum bisa janjii”
“Rendra ga minta cita buat janji, kan udah rendra bilang, apapun keputusan cita rendra bakal terima. Tapi satu, rendra tetep bakal nunggu cita. Dan rendra bakal buktiin kalo rendra ga akan bosen nungguin cita”
Mulai saat itu, gue bertekad untuk menunggu cita apapun yang terjadi. Gak peduli gimana kedepannya, selama apapun akan tetap gue tunggu. Cita, aku akan nunggu kamu, aku akan tunjukin seberapa besar rasa sayang aku ke kamu. Aishh, lebay banget asli.
TERPESONA
Pandangan pertama..
Terpesona ku dengan bola matamu
Berhasil membuatku terpaku
Memancarkan sinar seperti hangatnya mentari pagiku
Garis senyummu menambah asmara saat ku menatapmu
Kau memang bukan yang aku dambakan
Namun hati merespon perlahan
Hadirmu secerah sinar mentari
Sulit untukku hindari
Asli. Gue gak ngerti, ini maksudnya kode Cita suka sama gue apa gimana deh. Isi dari tulisannya, terlihat bahwa itu tertuju buat gue, gimana enggak, isinya persis menceritakan gimana kita berkenalan. Gue menekan tombol hati pada tulisan yang Cita buat di platform Steller. Tulisan yang Cita buat, lagi-lagi membuat gue semakin percaya diri bahwa ia memiliki perasaan yang sama ke gue. Cita berhasil membuat gue tersenyum-senyum sepanjang hari itu.
Siang ini gue udah selesai kelas, dan bersiap mau pulang. Gue dan teman gue bernama Rama berjalan menuju parkiran. Saat ditengah jalan, gue bertemu dengan Bowo teman gue juga. Sekilas tentang Rama dan Bowo, mereka adalah teman pertama gue di kampus ini selain teman-teman dari SMK gue yang masuk kampus ini. Mereka satu kelas dengan gue waktu di tahun pertama -semester 1 dan 2-, sewaktu tahun pertama kami ini seperti geng, yaa geng Kupu-Kupu, mahasiswa yang kerjaannya Kuliah Pulang saja. Sayangnya di semester 3 ini Bowo berpisah kelas dengan gue dan Rama karena di tahun ini kelas di acak oleh pimpinan kampus.
Gue beserta Rama dan Bowo pergi menuju tempat billiard terdekat dengan kampus gue, jadilah kami menuju ke tempat billiard dengan menggunakan mobil Bowo yang ia bawa ke kampus.
“Eh Ren gimana lu sama yang anak kelas B, siapa namanya? Cita ya?” ucap Bowo saat kami sudah berada di mobilnya.
“Kasih tau Ren yang tadi” sahut Rama dari bangku belakang
“Hahaha nih Wo lu liat sendiri deh”
Gue menunjukkan tulisan Cita yang pagi tadi juga gue tunjukkan ke Rama.
“Wah ini mah lampu ijo Ren. Pantesan aja lu waktu ke puncak beli kue banyak banget, ternyata ada cewe yang di akalin”
“Iyalah, kalo suka mah harus usaha Wo biar dapet”
“Halah. Eh lu diomongin ama temen gue di kelas Ren, sama si Ita”
Bowo bercerita bahwa gue diomongin oleh temannya di kelas, Ita menanyakan seisi kelas siapa saja yang mengenal gue sosok Rendra dan seperti apa sosok Rendra itu. Ita adalah teman Cita juga, mungkin Cita bercerita ke teman-temannya. Hahaha ngapain ya Cita cerita-cerita ke temannya. Makin GR aja gue.
Sesampainya di tempat billiard, kami memesan satu meja. Setelah memilih meja mana yang akan kita pakai, datanglah mba-mba pelayan yang biasa menyusun bola billiard. Perawakan mba-mba ini biasa aja, mungkin umurnya sudah kepala 3, maklum saja karena tempatnya tidak semewah tempat biasa gue bermain dulu. Iya gue bermain billiard dari jaman gue SMP kelas 2. Sebenernya ini adalah pertama kalinya kami bermain billiard bersama. Bowo ternyata lumayan juga skill bermainnya, berbeda dengan Rama yang baru belajar saat itu juga. Satu jam sudah kami bermain, kami memutuskan untuk pulang. Bowo mengantarkan gue dan Rama ke kampus karena kami membawa motor sendiri. Setelah sampai di kampus kami memutuskan untuk ibadah zuhur terlebih dahulu, dan pulang ke rumah masing-masing setelahnya.
--*--
Balik lagi ke cerita utama di insiden penembakan Cita. Insiden

“Rendra suka sama Cita. Apapun keputusan Cita, Rendra akan terima. Cita mau jadi pacar Rendra?” gue mengucapkan kalimat itu dengan tempo lebih pelan dari sebelumnya. Sejenak Cita terdiam, ia tersenyum
“Duh maaf ya Ren, gimana ya, Cita ga bisa kalo baru deket sama orang baru langsung pacaran.”
Mendengar pernyataan Cita seperti ada suara petir bersautan. Gak, lebay banget sih. Gue gak bisa berkata apapun, senyum getir merekah di wajah gue sambil menundukkan wajah gue. Gue bingung, bukan ini yang gue harapkan. Gue gak pernah menyangka dengan penolakan ini. Mungkin Andi benar, terlalu cepat bagi gue untuk mengambil keputusan ini.
“Oh iya yaudah gapapa Rendra paham”
Mungkin Cita masih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan masa lalunya, mungkin saja ia masih ingin waktu untuk sendiri. Lagian juga gue nya terlalu buru-buru. Lama kami saling diam, terdapat perubahan pada raut wajah Cita. Mungkin dia merasa gak enak karena sudah menolak gue.
“Yaudah yuk ke kelas” ucap gue memecah keheningan
Kami berjalan bersebelahan menuju kelas kami masing-masing. Cita, baru kali ini gue bertemu wanita seperti ia. Sikapnya yang manis, baik, dan polos membuat gue nyaman. Ah gue salah mengartikan sikap dia, dia memang bersikap baik ke semua orang, bukan ke gue aja. Gue cuma sok kepedean seakan dia juga ada rasa ke gue.
“Jadi gapapa tau Ren kakinya sakit malah ditanyain sepatunya baru” ucap cita sambil jalan yang diikuti tawa kecilnya. Gue memaksakan senyum gue, di saat seperti ini sulit rasanya untuk bersikap baik-baik aja.
“Udah sih masih aja di bahas” jawab gue sambil senyum kecil.
Kami berpisah di depan kelas gue. Gue memasuki kelas dan memilih bangku dekat dengan dinding. Gue masih terdiam, mengingat kejadian tadi. Ada rasa sesak di dada gue ketika mengingat pernyataan Cita tadi. Kejadian tadi membuat gue hilang semangat untuk sekedar mendengarkan penjelasan dosen yang sedang mengajar. Gak lama kemudian ada notifikasi dari hp gue bertuliskan nama Cita
“Rendraa” ah apa dia berubah pikiran? Gak, kayaknya gak mungkin.
“Kenapaa” jawab gue gak bersemangat
“Rendra tapi masih mau temenan sama cita kan?” gak tau Ta, aku gak tau bisa apa enggak bersikap biasa aja kalo kita ketemu
“Yaa iyalaah wkwk. Udah yang tadi gausah dipikirin”
“Tapi cita ga enak sama rendra takut rendra sakit hati. Maaf ya rendraa” udah ta, udah sakit hati.
“Hahaha engga ko gapapa”
“Rendra tetep nunggu cita. Gapapa kan?”
“Jangan nunggu cita, soalnya cita sendiri gatau kedepannya gimana. Apa tiba-tiba rendra yang pergi kan gatauu
cita juga belum bisa janjii”“Rendra ga minta cita buat janji, kan udah rendra bilang, apapun keputusan cita rendra bakal terima. Tapi satu, rendra tetep bakal nunggu cita. Dan rendra bakal buktiin kalo rendra ga akan bosen nungguin cita”
Mulai saat itu, gue bertekad untuk menunggu cita apapun yang terjadi. Gak peduli gimana kedepannya, selama apapun akan tetap gue tunggu. Cita, aku akan nunggu kamu, aku akan tunjukin seberapa besar rasa sayang aku ke kamu. Aishh, lebay banget asli.
Diubah oleh panpanochio 22-10-2019 16:05
ariid memberi reputasi
1