- Beranda
- Stories from the Heart
Sarangkala (Kisah horor demit penculik bayi)
...
TS
endokrin
Sarangkala (Kisah horor demit penculik bayi)
Tanpa basa-basi lagi bagi agan dan sista yang sudah pernah membaca dongeng-dongeng saya sebelumnya kali ini saya ingin mempersembahkan sebuah dongeng baru

WARNING!!
Quote:
Saya mohon dengan sangat untuk tidak mengcopy paste cerita ini. semoga agan dan sista yang budiman bersikap bijaksana, dan mengerti bahwa betapa susahnya membuat cerita. Terima kasih
Quote:

Diubah oleh endokrin 11-11-2019 05:57
bagasdiamara269 dan 40 lainnya memberi reputasi
33
67.3K
Kutip
309
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
endokrin
#177
Quote:
CHAPTER 12
“Tidak sopan rasanya masuk ke kamar tanpa seijin pemiliknya. Memangnya kamu belum menemukan lampu disana ?” teriak kamu.
“Belum. Ya sudah kita tunggu saja. mungkin mati lampunya tidak akan lama.”
Tidak ada lagi obrolan. Si cikal dan keempat adiknya bersandar ke tembok dan saling berpelukan. Kamu duduk didepan mereka dengan lampu ponsel yang masih menyala. Kamu tidak tahu apa yang terjadi didapur, tapi tidak terdengarnya suara tangisan bayi berarti Sari dan Indah baik-baik saja disana.
Mungkin sudah sekitar tiga puluh menit lamanya, lampu tak juga menyala. Baterai ponsel kamu sudah hampir habis. Anak-anak kecil yang kamu jaga tampak sudah sangat ngantuk, beberapa kali menguap dan memejamkan mata namun kembali terjaga setelah mendengar petir yang terdengar diluar begitu sering.
“Kamu berani disini dulu sendirian ? kaka mau ngambil bantal dulu kedalam buat adik-adik kamu. Kasian mereka sudah ngantuk.”
Si cikal mengangguk, lalu kamu berjalan meninggalkannya yang sebenarnya tidak terlalu jauh jaraknya dari kamar ke ruang tengah namun karena ponsel Cuma satu jadi si cikal harus ditinggal dalam keadaan gelap.
Begitu kamu mau masuk ke kamar, dari kamar sebelah yang merupakan kamar bidan yuyun terdengar suara.
Brak ! brak! Brak! Brak!
Suara tersebut membuat kamu menghentikan langkah untuk memastikan apa yang kamu dengar benar-benar nyata. Namun suara itu kini berhenti, tidak begitu lama terdengar lagi. Kamu menghiraukan kemudian masuk kedalam kamar kamu sendiri dan mengambil empat bantal.
Namun begitu kamu keluar kamar, suara dari kamar bidan yuyun terdengar lagi. Membuat kamu penasaran dan juga merasakan takut dalam waktu yang bersamaan. Kamu memegang handle pintu kamar bu bidan, namun sebelum diputar kamu tiba-tiba melepaskannya lagi. Bukan alasan karena tidak sopan tapi bagaimana kalau saat dibuka kamu melihat hal yang mengerikan. Akhirnya kamu pergi keruang tengah dan membuang jauh-jauh rasa penasaranmu.
Si cikal dan keempat adiknya kini sudah terbaring diatas kasur busa tipis diruang tengah. Baterai ponsel kamu tinggal 15 persen lagi, tapi lampu belum juga menyala. Ketika melihat anak-anak sudah tertidur kamu memberanikan diri untuk meningglkan mereka untuk pergi ke dapur menyecek keadaan Sari dan indah.
Namun saat sampai didapur keadaan gelap gulita. Rupanya baterai ponsel Sari dan indah sudah habis lebih dulu. Keadan terdesak ketika baterai ponselmu juga hampir habis dengan cepat, kamu harus mencari penerangan atau tidur dalam keadaan gelap sampai esok hari jika lampu tidak menyala juga.
“Aku tadi ke kamar kita untuk mengambil bantal, aku mendengar suara dari kamar bu bidan.” Kata kamu.
“Serius dong, jangan cerita horror dalam keadaan sekarang.” Kata Indah.
“Serius. Suaranya seperti ada benda yang dipukul-pukul gitu, brak..brak. kadang bunyi itu berhenti tapi kadang terdengar lagi.”
“Mau kita cek ?” Kata Sari.
“Sudah tidak usah. Jangan mencari perkara.” Indah menarik ujung baju Sari.
“Bukan mencari perkara, sekalian kita mencari lilin atau lampu. Mumpung senter hp kamu masih menyala, kalau sudah padam, matilah kita gelap gelapan sampai pagi. Dan keliatannya si bayi juga sudah mulai nyenyak tidur nya. Siapa yang akan masuk kekamar bu bidan ? dan siapa yang akan menggendong bayi ke ruang tengah dan juga jaga anak-anak yang lain ?”
Indah tidak mau dua-duanya. Tapi tidak ada juga yang berani masuk ke kamar sendirian. Indah tidak mau ditinggal bersama si bayi dan anak-anak lainnya ditengah, keculi ponsel kamu dia yang pegang karena Indah tidak mau ditinggal dalam keadaan gelap tanpa Sari dan Kamu.
“Kalau ponsel kamu yang pegang lalu bagaimana nanti aku mencari lilinnya ?”
“Ya sudah kamu yang ikut ke kamar bu bidan biar aku yang jaga anak-anak.” Kata sari, namun Indah juga tidak mau.
“Bagaimana kalau aku dan sari tunggu si bayi dan kamu masuk sendirian kesana ?” Kamu tentu saja menolak permintaan indah tersebut, begitupun dengan Sari.
“Tidak ada waktu berdebat lagi, baterai ponselku sudah hampir habis.” Kamu mengingatkan.
“Aku ikut dengan kalian saja kekamar bu bidan. Si bayi tidak akan apa-apa ditinggal sendirian. Kan ada kaka-kakanya.”
“Tapi mereka sudah tidur diruang tengah.” Kata kamu.
“Kan Cuma ditinggal sebentar bukan sejam atau seharian.”
Sari dan kamu sepakat, daripada terus berdebat dan tidak ada ujungnya akhirnya kamu mengiyakan keinginan Indah mengingat baterai ponsel semakin darurat.
Setelah memindahkan si bayi ke ruang tengah dan menaruhnya disampaing kakaknya yang sudah tertidur, Kamu dan Juga Sari, Indah berjalan menuju kamar bu bidan. Dan benar saja, ketika sampai depan pintu terdengar suara yang tadi didengar kamu.
Brak! Brak! Brak!
Kamu memegang handle pintu dan kini memutarnya, begitu pintu terbuka sedikit, hawa dingin menerpa tubuh. Suara misterius itu terdengar semakin jelas bercampur dengan suara hujan. Kamu menelan ludah sempat ragu untuk melanjutkan masuk, namun Sari mendorong tubuh kamu dengan tatapan seakan memberi isyarat kalau ada apa-apa kami ada dibelakangmu.
Begitu pintu terbuka setengah, kepala kamu mengintip keadaan didalam dengan diterangi oleh sorot cahaya dari ponselmu. Kini kamu tahu dari mana suara itu berasal, jendela kamar bu bidan terbuka, angin berhasil membanting jendela itu secara terus menerus. Air hujan yang tertiup angin masuk membasahi sebagian tempat tidur bu bidan.
Kamu menyorotkan cahaya ponsel keluar jendela, yang pada siang hari jendela itu mengarah ke kebun singkong milik tetangga namun malam ini yang terlihat hanya kegelapan. Kamu melangkah masuk, Sari dan Indah mengikuti dari belakang.
Kamu merasa sedikit tenang, karena rasa penasaranmu pada suara misterius kini telah mendapat jawabannya. Kamu menyorotkan cahaya ke berbegai sudut untuk mencari lilin atau lampu. Tidak begitu banyak benda didalam kamar bu bidan, hanya ada lemari baju, ranjang besi yang tertutup kelambu dan meja rias yang memiliki kaca besar berbentuk oval yang pinggirannya dihiasi oleh ukuran dengan pola daun dan bunga.
“Kenapa jendelanya bisa terbuka ?”
“Mungkin bu bidan kemarin lupa menguncinya. Cepet kamu tutup dulu, sebelum kasur bu bidan semakin basah.”Kamu menyerahkan ponsel ke sari untuk melanjutkan mencari lilin, sementar kamu naik ketas ranjang untuk menutup jendela.
Brak!!
Tiba tiba saja jendela membanting kedalam karena tertiup angin yang kencang. Sontak membuat kamu meloncat kebelakang sambil mengeluarkan akta umpatan karena kaget. Kamu bangun dan meminta Sari untuk mengarahkan cahaya ponsel kearah jendela untuk jaga-jaga saat daun jendela tertiup angina lagi dia bisa melihatnya dan tidak dibuat kaget lagi.
Namun ketika cahaya ponsel yang kecil disorotkan kearah luar jendela yang gelap gulita. Dari arah luar seperti ada pantulan cahaya yang kamu lihat. Cahaya itu seperti sepasang mata berbentuk oval waranya biru terang. Letaknya persis seajar dengan kepala kamu.
Kamu dibuat terpaku sesaat untuk mengamati cahaya itu, Sari dan Indah mungkin tidak melihatnya karena tertutup kepalamu. Namun kamu pun tidak memberitahu meraka, kamu hanya ingin memastikan terlebih dahulu bahwa apa yang dilihatnya bukan cuma sekedar bayangan dari ketakutannya saja tapi benar-benar nyata.
“Mungkin ga kucing hujan hujanan, bukankah kucing takut air yah ?” Tanya kamu kepada Sari dan Indah tanpa menolehkan kepala kearah mereka.”
“Hah, apa maksudnya ?”
“Mata kucing menyalakan kalau dalam gelap kan?” lanjut kamu menghiraukan pertanyaan Sari.
“Kamu melihat kucing diluar sana.” Kata sari sambil naik keatas ranjang mendekati kamu.
“Dimana ?”
“Itu sebaris dengan kepala kita.”
Mendengar ucapan Kamu, Sari reflek berbalik kebalakang dan turun dari atas ranjang dengan cepat. Padahal Sari belum melihat apa yang kamu bilang.
“Kenapa ?”
“Mana ada kucing setinggi kita.”
Kamu baru tersadar, lalu menutup mata dan mengambil daun jendela dengan maksud untuk menutupnya cepat. Namun saat daun jendela coba ditarik kedalam, tangamu merasakan bahwa ada sesuatu yang menahan daun jendela itu dari arah luar. Kamu menariknya lagi kali ini dengan sedikit tenaga ekstra, namun masih susah untuk ditarik kebalakang.
“Bantu aku.”
“Kenapa ?” Tanya Indah.
Belum sempat kamu menjawab pertanyaan, kali ini kamu mulai kesal bercampur dengan takut sehingga kamu menarik daun jendela itu dengan sekuat tenaga, dan hasilnya kali ini daun jendela tertarik dengan gampang. Akibatnya daun jendela tertarik kebelakang dengan cepat dan menghabilsakan bunyi yang keras karena benturan sedangkan kamu jatuh terpental kebelakang.
“Ada apa ?” Sari dan Indah mencoba membangunkan kamu dari lantai.
Beberapa saaat kemudian Kamu, Sari dan Indah mendengar suara langkah kaki dengan jelas. Suara kaki itu seperti sedang berjalan didinding luar kamar, suara kaki yang menginjang tembok rumah. Kamu, Sari dan Indah diam sejenak mendengarkan dengan seksama. Hingg akhirnya langkah kaki itu menjauh terututup suara hujan yang kemudian diakhiri dengan suara gebrakan pintu diluar kamar.
“Pintu terbuka ?” Kata Sari.
Tidak begitu lama terdengar suara tangisan bayi dari ruang tengah.
Bersambung.....
Jangan lupa like, comen, share and subcribe
Diubah oleh endokrin 24-10-2019 05:43
regmekujo dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Kutip
Balas