- Beranda
- Stories from the Heart
JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]
...
TS
rosemallow
JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]
![JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]](https://s.kaskus.id/images/2019/10/14/10708448_201910140406130459.png)
Spoiler for Baca ini!:
PREV STORY << PELET PERAWAN [TAMAT]
PREV STORY << AMARAH DESA JIN [TAMAT]
JAMPE POPOTONGAN (JAMPI MANTAN SUAMI)
Seorang pemuda terduduk disebuah saung dengan beralas bambu yang dibuat sedemikian rupa hingga menjadi sebuah alas panggung dengan atap dari daun kelapa, ditengah sawah yang luas.
Pemuda itu memang terlihat sudah lumayan dewasa, belum menikah sama sekali. Umurnya diperkirakan sekitar 27-28 tahunan, dengan jenggot tebal tak memanjang, kulit coklat gelap dengan badan kurus berotot kering itu dikenal dengan nama Dedi. Tak banyak yang ia lakukan hanya merenungi nasibnya sekarang ini.
Mungkin tidak hanya ditanah sunda, tapi jika ada pemuda yang dengan umur yang sudah matang belum menikah itu menjadikannya sebuah masalah. Dedi sering minder karena dia tidak percaya diri dengan dirinya, dia sering berpikir jika fisik dan kemiskinannya adalah masalah utamanya sekarang.
Waktu itu tahun 2004, ketika aku masih SD berumur sekitar 8 tahun.
Suatu sore,
Bapakku datang kerumah dengan seseorang yang ku tahu sebelumnya, dan dia itu adalah dedi. Dedi hanya tersenyum kepadaku yang sedang makan dengan ibuku.
Bapakku duduk di kursi ruang tamu begitupun dedi yang duduk persis disebelahnya
"Diuk rada dituan atuh ded!" (Duduk agak kesana dong ded) ucap bapakku sembari tertawa kecil
Dedi hanya membalas senyum kemudian menggeser sedikit menjauh dari bapakku.
Umurku yang sekecil itu hanya menatap biasa melihatnya,
"Atuh mah, jieunkeun kopi atuh" (mah, buatin kopi dong!) Seru bapakku menyuruh ibuku yang baru saja selesai makan bersamaku.
Ibuku pergi ke dapur dan membuatkan kopi untuk bapak dan Dedi.
Singkatnya, dedi mulai bekerja dengan bapakku. Pikirku karena kasihan melihat keluarganya yang tidak terlalu berkecukupan dalam memenuhi kehidupannya sehari-hari.
Dedi tinggal bersama ibunya yang janda, adik laki-lakinya yang berbeda 6 tahun dengannya dan 3 keponakannya yang diketahui ibunya sedang bekerja di Arab saudi. Tapi jarang sekali memberikan uang kepada mereka. Maka dari itu seringkali mereka melakukan pekerjaan apapun tanpa mengeluh.
Meskipun dedi sering merasa minder, tapi dia juga sempat menyukai banyak wanita dikampung kami. Berkali-kali penolakan berujung dengan kesedihan yang dialami dedi. Meskipun begitu wanita kampungpun mempunyai selera yang sangat tinggi.
Karena bekerja dengan bapak, aku sering bertemu dengannya dirumah. Dedi adalah pemuda yang ramah, dia mempunyai etika yang sangat baik. Dia sangat murah senyum.
Hingga suatu ketika, wajahnya tidak seperti biasanya, dia hanya terdiam dengan ekspresi yang sedih. Hal itu memancing ibuku untuk bertanya keadaannya,
"Kunaon ded? Teu biasana?" (Kenapa ded? Gak biasanya) Tanya ibuku. Aku yang berada disitu pula sedang menonton Tv, menoleh sengaja dengan keingin tahuan yang besar
"Teu aya nanaon teh!" (Gak ada apa-apa teh!) Jelasnya kemudian tersenyum.
Ibuku hanya mengangguk tak memaksa dedi untuk bercerita.
Setelah menerima uang dari bapakku, dedipun pulang.
Sepulangnya dedi, uwakku datang kerumah dengan membawa makanan. Sudah tradisi dikampung ini untuk bertukar makanan.
Aku mendengar uwakku menceritakan hal tentang dedi dan keluarganya
"Nya eta, karunya si dedi" (kasian si dedi) kata uwakku memulai pembicaraan
"Oh heeuh, kunaon emang teh?" (Oh iya, kenapa emangnya teh?)
Aku terus menguping pembicaraan ibu dengan uwakku. Cerita yang lumayan panjang kudengar. Ternyata
"Ibunya dedi, yakni Bi Uun diganggu oleh beberapa warga, mereka membuang dagangan bi uun yakni ikan, bi uun memang sering berkeliling kampung untuk menjual ikan-ikan tapi entah mengapa seringsekali bi uun mendapat perlakuan buruk dari warga sekitar, mulai dari dibicarakan aibnya sampai diperlakukan tidak senonoh"
Para warga sering menganggap keluarga dedi itu sebagai hinaan, mereka seringkali menertawakan kondisi keluarga dedi. Rumah yang hampir seperti gubuk, berdindingkan bilik dan lantainya hanya tanah, membuat keluarganya menjadi bulan-bulanan iseng para warga.
Rumah mereka berada diujung persawahan dibatas hutan, jauh dari pemukiman warga lain. Aku sering melihat rumahnya ketika ku biasa mencari belalang disawah yang sudah dipanen. Tampak reot pikirku. Rumah itu nampak sudah tak layak lagi untuk dihuni.
Hingga suatu ketika, sebuah kejadian yang menjadi buah bibir dikampungku terjadi tidak jauh dari rumah dedi diperbatasan hutan dan persawahan dikampung ini.
Begini ceritanya...
2 orang anak laki-laki beumur kisaran 15 tahun berjalan melewati rumah dedi dengan satu buah golok yang dipegang salah satu anak itu, sebut saja Dian dan adang. Dian dan adang berniat mencari jambu mete atau kita sering menyebutnya Mede. Yang memang banyak tumbuh dihutan belakang rumah dedi.
Kala itu waktu sudah tengah hari, adzan dzuhur pun baru saja berhenti berkumandang. Dian dan adang tak pernah merasa ada hal yang aneh, ini memang hutan yang biasa mereka masuki ketika mencari buah atau kayu bakar.
Setelah melewati rumah dedi, mereka berdua hanya memandang rumah reot itu kemudian masuk kedalam hutan.
Dengan seksama mereka menghampiri setiap pohon jambu mete dan melihat-lihat keatas mencari buah yang sudah matang dengan warna jingga sampai merah segar. Banyak sekali buah yang mereka temukan, hanya saja daging buah tidak mereka ambil, mereka hanya mengambil biji-biji metenya untuk mereka bakar dan makan.
2 jam mereka berkeliling didalam hutan dengan pohon-pohon besar menjulang, lelah menangkap mereka. Direbahkannya badan mereka berdua diatas dahan pohon mangga yang tidak terlalu tinggi tapi berbatang besar
Berniat untuk beristirahat sejenak sebelum mereka pulang.
"Dang, sia pernah nempo jurig?" (Dang, kamu pernah lihat hantu?) Tanya dian iseng
Adang hanya menggeleng dengan potongan buah mangga mentah berada digigitannya.
"Hayang nempo embung?" (Mau lihat gak?) Kata dian meneruskan
"Embung teuing!" (Nggak mau lah) jawab adang cuek
"Ah borangan, yeuh ku aing bere nyaho mun sia hayang nempo jurig!" (Ah penakut, nih aku kasih tahu kalo kamu pengen lihat hantu!) Jelas dian bangun dari baringnya
"Ih pan cik aing geh embung!" (Ih kan kata gua juga gak mau!) Ketus adang
"Heeuh ges repeh, yeuh kieu carana!" (Udah diem aja, gini nih caranya) ujar dian memegang bahu adang.
Adang hanya terlihat sedikit panik sembari mengupas mangga mentah ditangannya.
"Sia botakan hulu sia, terus kerok halis sia, laju sataranjang terus ngaca! Tah sia bakal nempo jurig dikacana! Hahaha" (kamu botakin kepala kamu, terus cukur alis kamu, kemudian telanjang dan berkaca! Nah kamu bakal melihat hantu dikacanya! Hahaha) jelas dian diakhiri tawa yang sangat kencang.
Adang terlihat diam dan bingung" atuh etamah aing dian!" ( Itumah gua atuh dian) jelas adang sembari memukul dada dian hingga terjatuh dari dahan.
"Gedebuk" suara badan dian yang membentur tanah dengan dedaunan kering diatasnya. Dian hanya terus tertawa sambil mengeluh kakinya yang sedikit sakit.
"Modar sia!" (Rasain lu) kata Adang kemudian tertawa.
Tapi pada saat itu juga, adang tak mendengar suara dian yang tadi masih tertawa, dilihatnya ke bawah. Dian terlihat mengamati sesuatu dari kejauhan, itu membuat adang kemudian turun dari atas pohon.
"Yan, aya naon?" (Yan ada apa?) Tanya adang dibelakang dian sembari mengambil kantong keresek berisi biji jambu mete yang ia taruh diakar pohon mangga besar itu.
"Ssst, repeh... Itu naon nu hideung ngarumbay!" ,,(Ssst, diam... Itu apa yang hitam tergerai)
Bersambung
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART ENDING
Diubah oleh rosemallow 27-10-2019 21:03
minakjinggo007 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
25.4K
175
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rosemallow
#81
JAMPE POPOTONGAN [PART 6]
Suara teriakan keras itu berasal dari dalam rumah imas, semua warga terperanjat kaget. Mereka berdesak memenuhi bagian depan, pinggir bahkan belakang rumah imas. Aku tak bisa menerobos kerumunan orang-orang yang haus akan kenigintahuan perihal apa yang terjadi didalam sana.
Akan tetapi itu semua membuatku semakin penasaran ketika beberapa kali teriakan menghujam suasana saat itu, dengan badan yang kecil aku berusaha menerobos mencari celah-celah kaki orang-orang yang kebanyakan adalah para orang dewasa. Terkadang tertendang oleh kaki seseorang , aku tidak gentar masuk kedalam kerumunan itu.
Hingga kudapati dinding bambu tanda aku sudah berada dekat dengan rumah imas. Badan kecilku terhimpit hingga sesak kurasakan didalam dada, aku berontak mencubit perut seorang ibu-ibu gemuk yang badannya menghimpit, aku menempel dinding bilik itu. Hingga ia tersadar kesakitan kemudian memukul kepalaku. Aku hanya menatap kesal tak membalasnya, karena fokusku sudah berganti mengintip kedalam lubang bilik yang lumayan besar sehingga aku dapat melihat hal apa yang terjadi didalam sana.
Kulihat disebuah kamar, ada beberapa orang yang memang aku kenal. Dedi, abah sobir, Bi Uun dan Imas yang sedang menggeram dengan badan yang merangkak diatas ranjang. Aku terbengong kaget sekaligus mulai serius memperhatikan gelagat apa yang dilakukan imas.
Karena sudut pandanganku berada dibelakang imas, jadi aku hanya melihat wajah dedi, abah sobir dan bi uun saja, sementara wajah imas tak bisa aku lihat hanya rambut dan bagian belakang tubuh imas saja.
Imas menunjuk ke arah dedi sembari terus meneriakinya dengan sebutan "ORAY/ULAR", Imas seperti menghindari dedi dan tidak mau dekat dengan dedi. Prasangkaku, imas seperti ketakutan melihat sosok dedi yang mungkin saja yang dia lihat bukanlah dedi tapi seekor ular. Bi uun hanya terdiam pasrah, abah sobir yang dikenal memang seorang guru spiritual di kampungku mencoba untuk menenangkan imas yang susah untuk dikendalikan.
Abah sobir terus menyuruh dedi untuk keluar, tapi dedi bersikukuh menolaknya dia akan tetap berada disini bersama imas. Abah sobir terlihat sangat kesal dengan sikap egois dedi,
"Sia kaluar dedi, da pamajikan sia teh sieun nempo sia!" (Kamu keluar dedi, istrimu terlihat takut melihatmu!) Seru abah tegas sembari mendorong dedi.
Dedi tetap saja begitu, ia tetap berdiri tegap tak mau pergi dari kamar itu. Bi uun meronta memohon dedi agar pergi dari sini. Tak berbeda bahkan dedi malah mendorong balik bi uun hingga badan renta itu tersungkur.
Imas masih saja dengan posisi merangkaknya, dia teriak terus menerus bahkan menggeram dengan sangat kencang. Abah sobir menggeleng kepala mengatasi kejadian ini, dedi yang egois dan bersikukuh mengatasnamakan cinta terhadap imas yang membuatnya untuk bertahan berdiri dikamar ini, meskipun imas terus meneriakinya dan memanggilnya dengan sebutan ular. Tak hanya itu imas beberapa kali meludahinya. Imas terlihat memang bukan seperti Imas, terlebih dia sangat membenci dedi sekali.
Waktu menunjukkan sudah pkl 16:30 sore, kejadian ini belum selesai sama sekali.
Imas masih tetap saja begitu, ia tak melangkah sedikitpumpn dari posisinya, bahkan tubuhnya masih dalam posisi merangkak dalam beberapa jam. Aku yang mulai pegal menempelkan wajahku didepan lubang bilik itu beberapa kali melihat sekeliling yang memang sudah mulai tak seramai siang tadi, para warga satu persatu pergi. Hingga hanya menyisakan beberapa orang saja.
Aku kembali meneruskan mengawasi suasana didalam kamar sana, abah terlihat terduduk dengan gelas ditangannya. Bi uun duduk disebelah abah sobir dengan wajah yang sangat sedih. Dedi wajahnya tetap tegas dan berdiri tak bergerak sedikitpun, meski badannya penuh dengan keringat yang membasahi baju dan celananya.
Imas tetap seperti itu, Mulutnya tak henti mengucapkan kata yang sama sedari siang tadi.
Ketika ku masih serius dalam posisiku yang lebih baik ketimbang tadi yang masih banyak orang berkerumun dan terhimpit orang. Baju seragamku ditarik kasar oleh seseorang dari belakang.
"Dek, kunaon malah teu balik?" (Dek kenapa malah gak pulang?) Ucap bapak marah sembari menarikku
Aku tak sempat menjawab,
Langsung digendongnya dan berlalu pergi ke rumah. Saat aku berada digendongan bapak, selewat aku melihat seorang laki-laki umurnya sekitar 30an sedang berdiri dengan pandangan yang tak biasa, wajahnya sangat asing bagiku. Di tahun itu, sangat jarang ada orang pendatang ke kampung kami. Jadi aku pasti tahu orang-orang yang ada dikampungku dan orang baru. Karena aku merasa tak peduli, jadi aku tak terlalu memikirkannya.
Sore itupun aku dimarahi oleh kedua orangtuaku. Aku sedikit kesal sebenarnya, tapi pikiranku masih saja berada dirumah imas.
Setelah makan, Aku mengurung diri didalam kamar sembari memikirkan dan mencoba memecahkan apa yang sebenarnya terjadi dengan imas. Bak seperti detektif, aku menuliskan beberapa kejadian apa saja yang terjadi dengan imas, entah apa yang aku lihat sendiri atau mendengar dari perkataan orang lain.
Waktu tak terasa sudah pkl. 11 malam, tak terasa sekali waktu bergulir begitu cepat.
Akhirmya aku memutuskan untuk tidur, ku baringkan badanku diatas kasurku yang tak beranjang. Kutarik selimut dan membungkus badanku hingga hanya menyisakan bagian kepalaku saja, lampu yang kumatikan membuat kamarku sangat gelap sekali. Mataku mengantuk hebat malam itu, hingga ia menutup dengan sendirinya.
"BRAAKKKK" suara keras membangunkanku. Suara yang persis seperti pintu yang terbuka dan dibanting dengan sangat keras membuatku spontan membuka pintu kamar dan berlari kearah pintu depan yang sudah terbuka lebar.
Dalam suasana gelap remang diruang tamu, aku melihat kearah teras yang lampunya memang tetap menyala itu, berdiri seorang wanita yang tak lain adalah ibuku sendiri. Aku tak mengerti apa yang beliau lakukan didepan rumah pada jam segini. Aku tetap memperhatikannya dari jendela ruang tamu. Ibuku terlihat seperti sedang mengobrol dengan seseorang, anehnya aku tak melihat siapapun yang berada didepan ibuku.
Halaman rumah yang luas dengan kuburan pribadi keluargaku dan pohon-pohon yang rindang serta sumur tepat disebelahnya membuatku merinding. Aku ketakutan memandangi hal ini, aku takut terjadi hal yang buruk terhadap ibuku.
Hingga, ibuku membalikkan badannya kemudian berjalan masuk kearah rumah. Aku yang menyadari itu langsung mencegat ibuku kemudian bertanya penasaran.
Ibuku terlihat sedikit melompat kaget ketika aku mencegatnya
"Mah, tadi ngobrol sareng saha?" ( Mah, tadi ngobrol sama siapa?) Tanyaku dengan tiba-tiba
"Biasa dek" jawab ibuku
Biasa? Otakku spontan menggali informasi sebelumnya yang pernah ibu ceritakan kepadaku. Hingga aku teringat, dan ternyata hal seperti ini memang pernah dialami ibuku sedari beliau mempunyai anak pertama yakni kakak perempuanku, berarti semenjak tahun 1989.
Jadi, ibuku sering dihampiri malam-malam oleh sosok-sosok perempuan dengan umur yang bervariasi tergantung siapa yang ibuku mandikan.
Ya, ibuku seorang pemandi jenazah.
Semua orang mengenal ibuku memiliki keahlian yang jarang sekali kita temui. Sebenarnya ini adalah turun temurun di keluarga ibuku, karena kakekku pun sama seorang pemandi jenazah pada zaman dahulu.
Kenapa ibuku sering dihampiri sosok-sosok tak kasat mata itu, karena setiap ibuku memandikan seorang wanita yang meninggal, biasanya mereka akan datang pada malam hari dan mengucapkan Terimakasih bahkan memberikan beberapa benda yang sebenarnya itu adalah benda ghaib, yang wujud nyatanya tidak pernah ada.
Setelah mengingat hal itu, ibuku menyuruh ku untuk kembali tidur.
Esok hari,
Kejadian yang menimpa keluarga dedi menjadi trending topik hari ini, aku hanya penasaran apa yang akhirnya terjadi setelah aku dipaksa pulang kemarin.
Semua orang bahkan disekolah, aku mendengar para murid perempuan sibuk mengobrol membicarakan hal itu. Hingga ku dengar seseorang mengatakan "GUGUNA".
Bersambung
PART 7
Akan tetapi itu semua membuatku semakin penasaran ketika beberapa kali teriakan menghujam suasana saat itu, dengan badan yang kecil aku berusaha menerobos mencari celah-celah kaki orang-orang yang kebanyakan adalah para orang dewasa. Terkadang tertendang oleh kaki seseorang , aku tidak gentar masuk kedalam kerumunan itu.
Hingga kudapati dinding bambu tanda aku sudah berada dekat dengan rumah imas. Badan kecilku terhimpit hingga sesak kurasakan didalam dada, aku berontak mencubit perut seorang ibu-ibu gemuk yang badannya menghimpit, aku menempel dinding bilik itu. Hingga ia tersadar kesakitan kemudian memukul kepalaku. Aku hanya menatap kesal tak membalasnya, karena fokusku sudah berganti mengintip kedalam lubang bilik yang lumayan besar sehingga aku dapat melihat hal apa yang terjadi didalam sana.
Kulihat disebuah kamar, ada beberapa orang yang memang aku kenal. Dedi, abah sobir, Bi Uun dan Imas yang sedang menggeram dengan badan yang merangkak diatas ranjang. Aku terbengong kaget sekaligus mulai serius memperhatikan gelagat apa yang dilakukan imas.
Karena sudut pandanganku berada dibelakang imas, jadi aku hanya melihat wajah dedi, abah sobir dan bi uun saja, sementara wajah imas tak bisa aku lihat hanya rambut dan bagian belakang tubuh imas saja.
Imas menunjuk ke arah dedi sembari terus meneriakinya dengan sebutan "ORAY/ULAR", Imas seperti menghindari dedi dan tidak mau dekat dengan dedi. Prasangkaku, imas seperti ketakutan melihat sosok dedi yang mungkin saja yang dia lihat bukanlah dedi tapi seekor ular. Bi uun hanya terdiam pasrah, abah sobir yang dikenal memang seorang guru spiritual di kampungku mencoba untuk menenangkan imas yang susah untuk dikendalikan.
Abah sobir terus menyuruh dedi untuk keluar, tapi dedi bersikukuh menolaknya dia akan tetap berada disini bersama imas. Abah sobir terlihat sangat kesal dengan sikap egois dedi,
"Sia kaluar dedi, da pamajikan sia teh sieun nempo sia!" (Kamu keluar dedi, istrimu terlihat takut melihatmu!) Seru abah tegas sembari mendorong dedi.
Dedi tetap saja begitu, ia tetap berdiri tegap tak mau pergi dari kamar itu. Bi uun meronta memohon dedi agar pergi dari sini. Tak berbeda bahkan dedi malah mendorong balik bi uun hingga badan renta itu tersungkur.
Imas masih saja dengan posisi merangkaknya, dia teriak terus menerus bahkan menggeram dengan sangat kencang. Abah sobir menggeleng kepala mengatasi kejadian ini, dedi yang egois dan bersikukuh mengatasnamakan cinta terhadap imas yang membuatnya untuk bertahan berdiri dikamar ini, meskipun imas terus meneriakinya dan memanggilnya dengan sebutan ular. Tak hanya itu imas beberapa kali meludahinya. Imas terlihat memang bukan seperti Imas, terlebih dia sangat membenci dedi sekali.
Waktu menunjukkan sudah pkl 16:30 sore, kejadian ini belum selesai sama sekali.
Imas masih tetap saja begitu, ia tak melangkah sedikitpumpn dari posisinya, bahkan tubuhnya masih dalam posisi merangkak dalam beberapa jam. Aku yang mulai pegal menempelkan wajahku didepan lubang bilik itu beberapa kali melihat sekeliling yang memang sudah mulai tak seramai siang tadi, para warga satu persatu pergi. Hingga hanya menyisakan beberapa orang saja.
Aku kembali meneruskan mengawasi suasana didalam kamar sana, abah terlihat terduduk dengan gelas ditangannya. Bi uun duduk disebelah abah sobir dengan wajah yang sangat sedih. Dedi wajahnya tetap tegas dan berdiri tak bergerak sedikitpun, meski badannya penuh dengan keringat yang membasahi baju dan celananya.
Imas tetap seperti itu, Mulutnya tak henti mengucapkan kata yang sama sedari siang tadi.
Ketika ku masih serius dalam posisiku yang lebih baik ketimbang tadi yang masih banyak orang berkerumun dan terhimpit orang. Baju seragamku ditarik kasar oleh seseorang dari belakang.
"Dek, kunaon malah teu balik?" (Dek kenapa malah gak pulang?) Ucap bapak marah sembari menarikku
Aku tak sempat menjawab,
Langsung digendongnya dan berlalu pergi ke rumah. Saat aku berada digendongan bapak, selewat aku melihat seorang laki-laki umurnya sekitar 30an sedang berdiri dengan pandangan yang tak biasa, wajahnya sangat asing bagiku. Di tahun itu, sangat jarang ada orang pendatang ke kampung kami. Jadi aku pasti tahu orang-orang yang ada dikampungku dan orang baru. Karena aku merasa tak peduli, jadi aku tak terlalu memikirkannya.
Sore itupun aku dimarahi oleh kedua orangtuaku. Aku sedikit kesal sebenarnya, tapi pikiranku masih saja berada dirumah imas.
Setelah makan, Aku mengurung diri didalam kamar sembari memikirkan dan mencoba memecahkan apa yang sebenarnya terjadi dengan imas. Bak seperti detektif, aku menuliskan beberapa kejadian apa saja yang terjadi dengan imas, entah apa yang aku lihat sendiri atau mendengar dari perkataan orang lain.
Waktu tak terasa sudah pkl. 11 malam, tak terasa sekali waktu bergulir begitu cepat.
Akhirmya aku memutuskan untuk tidur, ku baringkan badanku diatas kasurku yang tak beranjang. Kutarik selimut dan membungkus badanku hingga hanya menyisakan bagian kepalaku saja, lampu yang kumatikan membuat kamarku sangat gelap sekali. Mataku mengantuk hebat malam itu, hingga ia menutup dengan sendirinya.
"BRAAKKKK" suara keras membangunkanku. Suara yang persis seperti pintu yang terbuka dan dibanting dengan sangat keras membuatku spontan membuka pintu kamar dan berlari kearah pintu depan yang sudah terbuka lebar.
Dalam suasana gelap remang diruang tamu, aku melihat kearah teras yang lampunya memang tetap menyala itu, berdiri seorang wanita yang tak lain adalah ibuku sendiri. Aku tak mengerti apa yang beliau lakukan didepan rumah pada jam segini. Aku tetap memperhatikannya dari jendela ruang tamu. Ibuku terlihat seperti sedang mengobrol dengan seseorang, anehnya aku tak melihat siapapun yang berada didepan ibuku.
Halaman rumah yang luas dengan kuburan pribadi keluargaku dan pohon-pohon yang rindang serta sumur tepat disebelahnya membuatku merinding. Aku ketakutan memandangi hal ini, aku takut terjadi hal yang buruk terhadap ibuku.
Hingga, ibuku membalikkan badannya kemudian berjalan masuk kearah rumah. Aku yang menyadari itu langsung mencegat ibuku kemudian bertanya penasaran.
Ibuku terlihat sedikit melompat kaget ketika aku mencegatnya
"Mah, tadi ngobrol sareng saha?" ( Mah, tadi ngobrol sama siapa?) Tanyaku dengan tiba-tiba
"Biasa dek" jawab ibuku
Biasa? Otakku spontan menggali informasi sebelumnya yang pernah ibu ceritakan kepadaku. Hingga aku teringat, dan ternyata hal seperti ini memang pernah dialami ibuku sedari beliau mempunyai anak pertama yakni kakak perempuanku, berarti semenjak tahun 1989.
Jadi, ibuku sering dihampiri malam-malam oleh sosok-sosok perempuan dengan umur yang bervariasi tergantung siapa yang ibuku mandikan.
Ya, ibuku seorang pemandi jenazah.
Semua orang mengenal ibuku memiliki keahlian yang jarang sekali kita temui. Sebenarnya ini adalah turun temurun di keluarga ibuku, karena kakekku pun sama seorang pemandi jenazah pada zaman dahulu.
Kenapa ibuku sering dihampiri sosok-sosok tak kasat mata itu, karena setiap ibuku memandikan seorang wanita yang meninggal, biasanya mereka akan datang pada malam hari dan mengucapkan Terimakasih bahkan memberikan beberapa benda yang sebenarnya itu adalah benda ghaib, yang wujud nyatanya tidak pernah ada.
Setelah mengingat hal itu, ibuku menyuruh ku untuk kembali tidur.
Esok hari,
Kejadian yang menimpa keluarga dedi menjadi trending topik hari ini, aku hanya penasaran apa yang akhirnya terjadi setelah aku dipaksa pulang kemarin.
Semua orang bahkan disekolah, aku mendengar para murid perempuan sibuk mengobrol membicarakan hal itu. Hingga ku dengar seseorang mengatakan "GUGUNA".
Bersambung
PART 7
Diubah oleh rosemallow 22-10-2019 13:02
banditos69 dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Tutup