- Beranda
- Stories from the Heart
JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]
...
TS
rosemallow
JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]
![JAMPE POPOTONGAN [KISAH NYATA]](https://s.kaskus.id/images/2019/10/14/10708448_201910140406130459.png)
Spoiler for Baca ini!:
PREV STORY << PELET PERAWAN [TAMAT]
PREV STORY << AMARAH DESA JIN [TAMAT]
JAMPE POPOTONGAN (JAMPI MANTAN SUAMI)
Seorang pemuda terduduk disebuah saung dengan beralas bambu yang dibuat sedemikian rupa hingga menjadi sebuah alas panggung dengan atap dari daun kelapa, ditengah sawah yang luas.
Pemuda itu memang terlihat sudah lumayan dewasa, belum menikah sama sekali. Umurnya diperkirakan sekitar 27-28 tahunan, dengan jenggot tebal tak memanjang, kulit coklat gelap dengan badan kurus berotot kering itu dikenal dengan nama Dedi. Tak banyak yang ia lakukan hanya merenungi nasibnya sekarang ini.
Mungkin tidak hanya ditanah sunda, tapi jika ada pemuda yang dengan umur yang sudah matang belum menikah itu menjadikannya sebuah masalah. Dedi sering minder karena dia tidak percaya diri dengan dirinya, dia sering berpikir jika fisik dan kemiskinannya adalah masalah utamanya sekarang.
Waktu itu tahun 2004, ketika aku masih SD berumur sekitar 8 tahun.
Suatu sore,
Bapakku datang kerumah dengan seseorang yang ku tahu sebelumnya, dan dia itu adalah dedi. Dedi hanya tersenyum kepadaku yang sedang makan dengan ibuku.
Bapakku duduk di kursi ruang tamu begitupun dedi yang duduk persis disebelahnya
"Diuk rada dituan atuh ded!" (Duduk agak kesana dong ded) ucap bapakku sembari tertawa kecil
Dedi hanya membalas senyum kemudian menggeser sedikit menjauh dari bapakku.
Umurku yang sekecil itu hanya menatap biasa melihatnya,
"Atuh mah, jieunkeun kopi atuh" (mah, buatin kopi dong!) Seru bapakku menyuruh ibuku yang baru saja selesai makan bersamaku.
Ibuku pergi ke dapur dan membuatkan kopi untuk bapak dan Dedi.
Singkatnya, dedi mulai bekerja dengan bapakku. Pikirku karena kasihan melihat keluarganya yang tidak terlalu berkecukupan dalam memenuhi kehidupannya sehari-hari.
Dedi tinggal bersama ibunya yang janda, adik laki-lakinya yang berbeda 6 tahun dengannya dan 3 keponakannya yang diketahui ibunya sedang bekerja di Arab saudi. Tapi jarang sekali memberikan uang kepada mereka. Maka dari itu seringkali mereka melakukan pekerjaan apapun tanpa mengeluh.
Meskipun dedi sering merasa minder, tapi dia juga sempat menyukai banyak wanita dikampung kami. Berkali-kali penolakan berujung dengan kesedihan yang dialami dedi. Meskipun begitu wanita kampungpun mempunyai selera yang sangat tinggi.
Karena bekerja dengan bapak, aku sering bertemu dengannya dirumah. Dedi adalah pemuda yang ramah, dia mempunyai etika yang sangat baik. Dia sangat murah senyum.
Hingga suatu ketika, wajahnya tidak seperti biasanya, dia hanya terdiam dengan ekspresi yang sedih. Hal itu memancing ibuku untuk bertanya keadaannya,
"Kunaon ded? Teu biasana?" (Kenapa ded? Gak biasanya) Tanya ibuku. Aku yang berada disitu pula sedang menonton Tv, menoleh sengaja dengan keingin tahuan yang besar
"Teu aya nanaon teh!" (Gak ada apa-apa teh!) Jelasnya kemudian tersenyum.
Ibuku hanya mengangguk tak memaksa dedi untuk bercerita.
Setelah menerima uang dari bapakku, dedipun pulang.
Sepulangnya dedi, uwakku datang kerumah dengan membawa makanan. Sudah tradisi dikampung ini untuk bertukar makanan.
Aku mendengar uwakku menceritakan hal tentang dedi dan keluarganya
"Nya eta, karunya si dedi" (kasian si dedi) kata uwakku memulai pembicaraan
"Oh heeuh, kunaon emang teh?" (Oh iya, kenapa emangnya teh?)
Aku terus menguping pembicaraan ibu dengan uwakku. Cerita yang lumayan panjang kudengar. Ternyata
"Ibunya dedi, yakni Bi Uun diganggu oleh beberapa warga, mereka membuang dagangan bi uun yakni ikan, bi uun memang sering berkeliling kampung untuk menjual ikan-ikan tapi entah mengapa seringsekali bi uun mendapat perlakuan buruk dari warga sekitar, mulai dari dibicarakan aibnya sampai diperlakukan tidak senonoh"
Para warga sering menganggap keluarga dedi itu sebagai hinaan, mereka seringkali menertawakan kondisi keluarga dedi. Rumah yang hampir seperti gubuk, berdindingkan bilik dan lantainya hanya tanah, membuat keluarganya menjadi bulan-bulanan iseng para warga.
Rumah mereka berada diujung persawahan dibatas hutan, jauh dari pemukiman warga lain. Aku sering melihat rumahnya ketika ku biasa mencari belalang disawah yang sudah dipanen. Tampak reot pikirku. Rumah itu nampak sudah tak layak lagi untuk dihuni.
Hingga suatu ketika, sebuah kejadian yang menjadi buah bibir dikampungku terjadi tidak jauh dari rumah dedi diperbatasan hutan dan persawahan dikampung ini.
Begini ceritanya...
2 orang anak laki-laki beumur kisaran 15 tahun berjalan melewati rumah dedi dengan satu buah golok yang dipegang salah satu anak itu, sebut saja Dian dan adang. Dian dan adang berniat mencari jambu mete atau kita sering menyebutnya Mede. Yang memang banyak tumbuh dihutan belakang rumah dedi.
Kala itu waktu sudah tengah hari, adzan dzuhur pun baru saja berhenti berkumandang. Dian dan adang tak pernah merasa ada hal yang aneh, ini memang hutan yang biasa mereka masuki ketika mencari buah atau kayu bakar.
Setelah melewati rumah dedi, mereka berdua hanya memandang rumah reot itu kemudian masuk kedalam hutan.
Dengan seksama mereka menghampiri setiap pohon jambu mete dan melihat-lihat keatas mencari buah yang sudah matang dengan warna jingga sampai merah segar. Banyak sekali buah yang mereka temukan, hanya saja daging buah tidak mereka ambil, mereka hanya mengambil biji-biji metenya untuk mereka bakar dan makan.
2 jam mereka berkeliling didalam hutan dengan pohon-pohon besar menjulang, lelah menangkap mereka. Direbahkannya badan mereka berdua diatas dahan pohon mangga yang tidak terlalu tinggi tapi berbatang besar
Berniat untuk beristirahat sejenak sebelum mereka pulang.
"Dang, sia pernah nempo jurig?" (Dang, kamu pernah lihat hantu?) Tanya dian iseng
Adang hanya menggeleng dengan potongan buah mangga mentah berada digigitannya.
"Hayang nempo embung?" (Mau lihat gak?) Kata dian meneruskan
"Embung teuing!" (Nggak mau lah) jawab adang cuek
"Ah borangan, yeuh ku aing bere nyaho mun sia hayang nempo jurig!" (Ah penakut, nih aku kasih tahu kalo kamu pengen lihat hantu!) Jelas dian bangun dari baringnya
"Ih pan cik aing geh embung!" (Ih kan kata gua juga gak mau!) Ketus adang
"Heeuh ges repeh, yeuh kieu carana!" (Udah diem aja, gini nih caranya) ujar dian memegang bahu adang.
Adang hanya terlihat sedikit panik sembari mengupas mangga mentah ditangannya.
"Sia botakan hulu sia, terus kerok halis sia, laju sataranjang terus ngaca! Tah sia bakal nempo jurig dikacana! Hahaha" (kamu botakin kepala kamu, terus cukur alis kamu, kemudian telanjang dan berkaca! Nah kamu bakal melihat hantu dikacanya! Hahaha) jelas dian diakhiri tawa yang sangat kencang.
Adang terlihat diam dan bingung" atuh etamah aing dian!" ( Itumah gua atuh dian) jelas adang sembari memukul dada dian hingga terjatuh dari dahan.
"Gedebuk" suara badan dian yang membentur tanah dengan dedaunan kering diatasnya. Dian hanya terus tertawa sambil mengeluh kakinya yang sedikit sakit.
"Modar sia!" (Rasain lu) kata Adang kemudian tertawa.
Tapi pada saat itu juga, adang tak mendengar suara dian yang tadi masih tertawa, dilihatnya ke bawah. Dian terlihat mengamati sesuatu dari kejauhan, itu membuat adang kemudian turun dari atas pohon.
"Yan, aya naon?" (Yan ada apa?) Tanya adang dibelakang dian sembari mengambil kantong keresek berisi biji jambu mete yang ia taruh diakar pohon mangga besar itu.
"Ssst, repeh... Itu naon nu hideung ngarumbay!" ,,(Ssst, diam... Itu apa yang hitam tergerai)
Bersambung
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART ENDING
Diubah oleh rosemallow 27-10-2019 21:03
minakjinggo007 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
25K
175
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rosemallow
#69
JAMPE POPOTONGAN [PART 5]
Esok hari,
Pagi-pagi sekali aku terbangun, kulihat didapur ada uwakku yang rumahnya persis dibelakang rumahku sedang mengobrol dengan ibuku yang sedang membersihkan sayuran. Waktu menunjukkan setengah 5 lewat, aku berjalan melewati ibu dan uwakku yang sedang mengobrol seru. Aku hanya melewati mereka sembari menundukkan kepala, kulihat ibuku menoleh kepadaku dan kemudian kembali fokus kearah uwakku.
Aku masuk kedalam kamar mandi yang memang letaknya berada dekat dengan dapur berniat mengambil wudhu. Dari dalam kamar mandi aku mendengar samar uwakku mengatakan hal tentang imas. Aku mendengar jika katanya semua warga merasa aneh dengan keberadaan imas di kampungku ini, terlebih imas tidak terlalu akrab dengan warga lain, meskipun sudah beberapa bulan tinggal di daerah ini.
Kejadian semalam yang terjadi kepada imas perlahan menjadi buah bibir dikalangan masyarakat. Kejadian itu menyebar hanya dalam semalam, memang sudah tidak asing lagi di kampungku ini, rumor atau kejadian apapun pasti akan sangat cepat menyebar dan diketahui oleh banyak warga.
Karena hal itu, membuat warga berlomba-lomba berspekulasi tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada imas semalam. Aku terdiam sejenak kemudian mulai memutar keran air dan berwudhu.
Dari pembicaraan uwak dan ibuku aku jadi tahu bagaimana reaksi warga terhadap keluarga dedi. Ketika siang kutanyakan perihal apa yang dikatakan uwakku, ibu tak banyak bicara. Beliau hanya mengatakan bahwa aku tidak patut untuk tahu hal ini, karena umurku yang masih belia waktu itu.
Beberapa bulan berlalu,
Imas semakin di anggap asing oleh para warga, meskipun ia berusaha untuk tetap bersosialisasi tapi respon para warga tidak terlalu memenuhi ekspektasinya. Wajahnya semakin murung bahkan lebih pucat dari sebelumnya, ketika datang kerumah untuk menemui ibuku. Ia nampak tersenyum kepada ibu dan terkadang datang dengan beberapa makanan bersama diana yang selalu berada disampingnya. Kejadian dulu ketika ia mengejang malam itu, ternyata bukan sebuah penyakit. Imas enggan menceritakan ke orang lain, tapi dia sering bercerita hal itu kepada ibuku. Maka dari itu aku jadi lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan imas.
Tak banyak yang ia ceritakan, ceritanya berinti jika imas sebelumnya memang sering mengalami hal yang tiba-tiba seperti malam lalu itu. Itulah yang membuatnya sedikit pucat karena terus memikirkannya dan merasakan lelah yang teramat.
Menikah dengan dedipun, sebenarnya ia sudah banyak mencari laki-laki entah pemuda bahkan duda banyak yang ia ajak menikah. Tapi selalu saja pada akhirnya mereka menolak. Hingga imas bertemu deden yang merupakan kenalannya dikota, dan memperkenalkannya kepada dedi.
Hanya saja ada satu hal!
Imas tak pernah mau bicara tentang Ayah bilogisnya Diana.
Setelah menempati rumah kontrakan itu selama kurang lebih 8 bulanan, dedi dan imas memutuskan untuk pindah kontrakan ke area yang lebih padat penduduk. Rumah kontrakannya berada sekitar 300 meter kebelakang dari rumah sepupuku, Lita.
Rumah kontrakan ini sebetulnya satu rumah, bukan satu petak saja. Rumah yang ditinggalkan oleh satu keluarga yang bercerai. Rumah yang cukup besar, tapi masih berdindingkan bambu anyam dengan lantai yang sudah disemen. Dengan teras tanpa pagar didepannya, memang sangat sederhana sekali.
Hingga suatu hari, Sepulang sekolah,
Aku sedang ditarik paksa oleh salah satu temanku, namanya dede. Ia menarikku untuk mengajak ke suatu tempat. Aku yang tak ingin dipaksa terus menerus olehnya, menolak mentah-mentah. Hingga beberapa temanku yang lain datang menghampiri.
"Hih maneh mah, hayu geura ikut!" (Hih kamumah, ayo cepet ikut!) Ajak dede memaksa
Aku menyerah dan mengikuti ajakan dede.
Aku dipaksa ikut untuk mandi ke sungai yang cukup besar yang berada dibelakang sumur umum yang dekat dengan musolah. Sebenarnya aku tidak diperbolehkan pergi ke sungai untuk berenang, karena orangtuaku akan sangat marah jika tahu aku mandi disungai.
Karena seolah mengerti akan hal itu, teman-temanku memakai jalan pintas ketimbang berjalan melewati sumur umum yang ramai dengan orang-orang. Jalan pintas yang kami lewati adalah kebun pisang yang diseberang rumah lita. Karena lebih dekat untuk sampai ke sungai.
Kebun pisang yang sangat rindang, padat ditumbuhi pohon pisang yang menjulang tinggi, setelah melewati kebun itu sampailah kita dibibir sungai itu, airnya jernih & tenang terlihat dari bagian yang dalam tapi deras dibagian yang dangkal dan terlihat batu-batu kali yang timbul membuat air sungai menjadi beriak.

Aku masih merasa enggan untuk berenang, terlebih aku takut dimarahi orang tuaku dan masalah utamanya adalah aku tidak bisa berenang. Aku masih duduk dipinggir sungai dengan seragam sekolahku. Dede dan 2 temanku yang lain sudah membasahi diri melompat kedalam sungai, aku merasa tertarik melihat mereka hingga ku tanggalkan pakaianku dan menyisakan celana dalamku saja. Aku perlahan hanya berjalan ke bagian sungai yang dangkal. Karena aku tidak berani untuk masuk lebih jauh kedalam sungai yang dalam itu.
“Tah kitu, ulah sok sieun diambeukan kolot geura!” (nah gitu, jangan suka takut dimarahin orangtua) ucap dede kemudian tertawa
Aku hanya tersenyum sembari membaringkan badanku diatas batu kerikil didasar sungai yang dangkal ini. Ahh… sungguh nyaman, pikirku dalam hati. Kemudian dede perlahan berjalan kearahku, sementara kedua temanku naik ke tebing berencana untuk melompat kembali.
Ditengah aku sedang bercanda dengan dede dengan menyiprat-nyipratkan air. Kejadian yang tidak bisa aku lupakan terjadi kepada kedua temanku.
Mereka menaiki tebing dengan sangat bersemangat, disebelah tebing ada sebuah lubang besar yang berisi air yang berasal dari selokan yang awalnya dari persawahan kemudian melewati beberapa rumah warga dan pos ronda dekat dengan sumur kemudian berakhir di lubang besar dekat sungai ini. Saat itu mereka tidak fokus pada lubang besar itu, karena lubang itu memang tidak menarik bagi mereka, entah kenapa padahal airnya lumayan jernih meskipun tempat pembuangan, ya mungkin karena di daerahku masih sangatlah asri jadi warga senantiasa selalu menjaga kebersihan, dan tidak mmbuang sampah ke selokan atau sungai.
Hingga mereka berdua tersadar dengan suara seseorang yang menggumam tapi lebih seperti merintih. Mereka kebingungan, aku dan dede tidak terlalu memperhatikan mereka kala itu. Kedua temanku penasaran dan mencari sumber suara itu diatas tebing yang biasa mereka pakai untuk melompat.
Suaranya seakan semakin keras, hingga menyadarkanku dan dede. Waktu diperkirakan sudah tengah hari dan angin menghembus mengenai pepohonan, jadi aku berpikir jika itu hanyalah suara angin.
Kedua temanku menatap ngeri dan kemudian berjalan perlahan mendekati lubang besar tempat pembuangan, karena mereka yakin suara itu berasal dari lubang itu. Dengan keberanian yang mereka punya, perlahan mereka melongok kearah dasar dari lubang itu.
BETAPA MENGERIKANNYA, apa yang mereka lihat
Mereka melihat sosok makhluk hitam sedang terduduk mengambang diatas air pembuangan itu, wajahnya hitam legam dengan rambut urak-urakkan & wajahnya yang rusak dengan kaki yang terlihat pengkor/lumpuh. Tak ayal, setelah melihat makhluk mengerikan itu mereka langsung berteriak dan berlari. Aku yang terperanjat kaget langsung ikut berlari dan mengambil tas dan baju seragamku, begitupun dede.
Kita tak mempedulikan ilalang atau semak, kita terus berlari sampai ke pemukiman mengejar kedua temanku. Hingga mereka berhenti di pos ronda dengan nafas yang tersenggal-senggal, akupun bertanya kesal “maraneh kunaon?” (kalian kenapa?)
“jurig, aing nempo jurig gempor!” (hantu, aku liat hantu gempor) jawab mereka bergidik ngeri. Aku langsung terperanjat kaget mendengar nama makhluk itu.
Makhluk yang menjadi legenda dikampung kami, makhluk itu memang terkenal sangat iseng, dia sering menampakan diri tidak hanya disekitar sungai tapi di selokan juga dia sering muncul dengan wujud hitam dengan kaki yang lumpuh atau dalam bahasa kami GEMPOR. Ia sering menangis merintih dan suka meminta ingin digendong untuk berpindah ke tempat lain. Jangankan mau menggendong, melihatnya saja kami bergidik ngeri.
Jadi sebenarnya sudah bukan hal baru jika ada kejadian penampakan makhluk iseng itu. Minta digendong tapi kemunculan penampakannya bisa berbeda-beda, entah diselokan, sumur bahkan disungai. Sungguh Aneh.
Hingga kami kaget dan heran melihat orang-orang berlarian menuju ke arah suatu rumah, aku hanya berdiri dan mulai memakai seragamku, sementara dede dan kedua temanku kembali lagi ke sungai untuk mengambil seragam mereka, meskipun dengan badan yang gemetar serta perasaan takut yang mendalam.
Sepupuku lita berlari didepanku, kemudian mengajakku untuk mengikutinya berlari kearah suatu rumah!
“dek hayu, teh imas kumat!” (dek ayo, teh imas kambuh!)
Aku hanya memandang heran, mengapa orang-orang sangat antusias sekali dengan hal ini. Karena aku juga penasaran akhirnya aku ikut berlari menuju rumah imas. Disana orang banyak berkumpul mengerumuni rumah dedi. Aku tak melihat dedi atau imas karena terlalu banyak orang disana,
“ORAAAAAY!” (ULAAAARR) Teriak seorang wanita.
Bersambung...
PART 6
Pagi-pagi sekali aku terbangun, kulihat didapur ada uwakku yang rumahnya persis dibelakang rumahku sedang mengobrol dengan ibuku yang sedang membersihkan sayuran. Waktu menunjukkan setengah 5 lewat, aku berjalan melewati ibu dan uwakku yang sedang mengobrol seru. Aku hanya melewati mereka sembari menundukkan kepala, kulihat ibuku menoleh kepadaku dan kemudian kembali fokus kearah uwakku.
Aku masuk kedalam kamar mandi yang memang letaknya berada dekat dengan dapur berniat mengambil wudhu. Dari dalam kamar mandi aku mendengar samar uwakku mengatakan hal tentang imas. Aku mendengar jika katanya semua warga merasa aneh dengan keberadaan imas di kampungku ini, terlebih imas tidak terlalu akrab dengan warga lain, meskipun sudah beberapa bulan tinggal di daerah ini.
Kejadian semalam yang terjadi kepada imas perlahan menjadi buah bibir dikalangan masyarakat. Kejadian itu menyebar hanya dalam semalam, memang sudah tidak asing lagi di kampungku ini, rumor atau kejadian apapun pasti akan sangat cepat menyebar dan diketahui oleh banyak warga.
Karena hal itu, membuat warga berlomba-lomba berspekulasi tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada imas semalam. Aku terdiam sejenak kemudian mulai memutar keran air dan berwudhu.
Dari pembicaraan uwak dan ibuku aku jadi tahu bagaimana reaksi warga terhadap keluarga dedi. Ketika siang kutanyakan perihal apa yang dikatakan uwakku, ibu tak banyak bicara. Beliau hanya mengatakan bahwa aku tidak patut untuk tahu hal ini, karena umurku yang masih belia waktu itu.
Beberapa bulan berlalu,
Imas semakin di anggap asing oleh para warga, meskipun ia berusaha untuk tetap bersosialisasi tapi respon para warga tidak terlalu memenuhi ekspektasinya. Wajahnya semakin murung bahkan lebih pucat dari sebelumnya, ketika datang kerumah untuk menemui ibuku. Ia nampak tersenyum kepada ibu dan terkadang datang dengan beberapa makanan bersama diana yang selalu berada disampingnya. Kejadian dulu ketika ia mengejang malam itu, ternyata bukan sebuah penyakit. Imas enggan menceritakan ke orang lain, tapi dia sering bercerita hal itu kepada ibuku. Maka dari itu aku jadi lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan imas.
Tak banyak yang ia ceritakan, ceritanya berinti jika imas sebelumnya memang sering mengalami hal yang tiba-tiba seperti malam lalu itu. Itulah yang membuatnya sedikit pucat karena terus memikirkannya dan merasakan lelah yang teramat.
Menikah dengan dedipun, sebenarnya ia sudah banyak mencari laki-laki entah pemuda bahkan duda banyak yang ia ajak menikah. Tapi selalu saja pada akhirnya mereka menolak. Hingga imas bertemu deden yang merupakan kenalannya dikota, dan memperkenalkannya kepada dedi.
Hanya saja ada satu hal!
Imas tak pernah mau bicara tentang Ayah bilogisnya Diana.
Setelah menempati rumah kontrakan itu selama kurang lebih 8 bulanan, dedi dan imas memutuskan untuk pindah kontrakan ke area yang lebih padat penduduk. Rumah kontrakannya berada sekitar 300 meter kebelakang dari rumah sepupuku, Lita.
Rumah kontrakan ini sebetulnya satu rumah, bukan satu petak saja. Rumah yang ditinggalkan oleh satu keluarga yang bercerai. Rumah yang cukup besar, tapi masih berdindingkan bambu anyam dengan lantai yang sudah disemen. Dengan teras tanpa pagar didepannya, memang sangat sederhana sekali.
Hingga suatu hari, Sepulang sekolah,
Aku sedang ditarik paksa oleh salah satu temanku, namanya dede. Ia menarikku untuk mengajak ke suatu tempat. Aku yang tak ingin dipaksa terus menerus olehnya, menolak mentah-mentah. Hingga beberapa temanku yang lain datang menghampiri.
"Hih maneh mah, hayu geura ikut!" (Hih kamumah, ayo cepet ikut!) Ajak dede memaksa
Aku menyerah dan mengikuti ajakan dede.
Aku dipaksa ikut untuk mandi ke sungai yang cukup besar yang berada dibelakang sumur umum yang dekat dengan musolah. Sebenarnya aku tidak diperbolehkan pergi ke sungai untuk berenang, karena orangtuaku akan sangat marah jika tahu aku mandi disungai.
Karena seolah mengerti akan hal itu, teman-temanku memakai jalan pintas ketimbang berjalan melewati sumur umum yang ramai dengan orang-orang. Jalan pintas yang kami lewati adalah kebun pisang yang diseberang rumah lita. Karena lebih dekat untuk sampai ke sungai.
Quote:
Kebun pisang yang sangat rindang, padat ditumbuhi pohon pisang yang menjulang tinggi, setelah melewati kebun itu sampailah kita dibibir sungai itu, airnya jernih & tenang terlihat dari bagian yang dalam tapi deras dibagian yang dangkal dan terlihat batu-batu kali yang timbul membuat air sungai menjadi beriak.

Aku masih merasa enggan untuk berenang, terlebih aku takut dimarahi orang tuaku dan masalah utamanya adalah aku tidak bisa berenang. Aku masih duduk dipinggir sungai dengan seragam sekolahku. Dede dan 2 temanku yang lain sudah membasahi diri melompat kedalam sungai, aku merasa tertarik melihat mereka hingga ku tanggalkan pakaianku dan menyisakan celana dalamku saja. Aku perlahan hanya berjalan ke bagian sungai yang dangkal. Karena aku tidak berani untuk masuk lebih jauh kedalam sungai yang dalam itu.
“Tah kitu, ulah sok sieun diambeukan kolot geura!” (nah gitu, jangan suka takut dimarahin orangtua) ucap dede kemudian tertawa
Aku hanya tersenyum sembari membaringkan badanku diatas batu kerikil didasar sungai yang dangkal ini. Ahh… sungguh nyaman, pikirku dalam hati. Kemudian dede perlahan berjalan kearahku, sementara kedua temanku naik ke tebing berencana untuk melompat kembali.
Ditengah aku sedang bercanda dengan dede dengan menyiprat-nyipratkan air. Kejadian yang tidak bisa aku lupakan terjadi kepada kedua temanku.
Mereka menaiki tebing dengan sangat bersemangat, disebelah tebing ada sebuah lubang besar yang berisi air yang berasal dari selokan yang awalnya dari persawahan kemudian melewati beberapa rumah warga dan pos ronda dekat dengan sumur kemudian berakhir di lubang besar dekat sungai ini. Saat itu mereka tidak fokus pada lubang besar itu, karena lubang itu memang tidak menarik bagi mereka, entah kenapa padahal airnya lumayan jernih meskipun tempat pembuangan, ya mungkin karena di daerahku masih sangatlah asri jadi warga senantiasa selalu menjaga kebersihan, dan tidak mmbuang sampah ke selokan atau sungai.
Hingga mereka berdua tersadar dengan suara seseorang yang menggumam tapi lebih seperti merintih. Mereka kebingungan, aku dan dede tidak terlalu memperhatikan mereka kala itu. Kedua temanku penasaran dan mencari sumber suara itu diatas tebing yang biasa mereka pakai untuk melompat.
Suaranya seakan semakin keras, hingga menyadarkanku dan dede. Waktu diperkirakan sudah tengah hari dan angin menghembus mengenai pepohonan, jadi aku berpikir jika itu hanyalah suara angin.
Kedua temanku menatap ngeri dan kemudian berjalan perlahan mendekati lubang besar tempat pembuangan, karena mereka yakin suara itu berasal dari lubang itu. Dengan keberanian yang mereka punya, perlahan mereka melongok kearah dasar dari lubang itu.
BETAPA MENGERIKANNYA, apa yang mereka lihat
Mereka melihat sosok makhluk hitam sedang terduduk mengambang diatas air pembuangan itu, wajahnya hitam legam dengan rambut urak-urakkan & wajahnya yang rusak dengan kaki yang terlihat pengkor/lumpuh. Tak ayal, setelah melihat makhluk mengerikan itu mereka langsung berteriak dan berlari. Aku yang terperanjat kaget langsung ikut berlari dan mengambil tas dan baju seragamku, begitupun dede.
Kita tak mempedulikan ilalang atau semak, kita terus berlari sampai ke pemukiman mengejar kedua temanku. Hingga mereka berhenti di pos ronda dengan nafas yang tersenggal-senggal, akupun bertanya kesal “maraneh kunaon?” (kalian kenapa?)
“jurig, aing nempo jurig gempor!” (hantu, aku liat hantu gempor) jawab mereka bergidik ngeri. Aku langsung terperanjat kaget mendengar nama makhluk itu.
Makhluk yang menjadi legenda dikampung kami, makhluk itu memang terkenal sangat iseng, dia sering menampakan diri tidak hanya disekitar sungai tapi di selokan juga dia sering muncul dengan wujud hitam dengan kaki yang lumpuh atau dalam bahasa kami GEMPOR. Ia sering menangis merintih dan suka meminta ingin digendong untuk berpindah ke tempat lain. Jangankan mau menggendong, melihatnya saja kami bergidik ngeri.
Jadi sebenarnya sudah bukan hal baru jika ada kejadian penampakan makhluk iseng itu. Minta digendong tapi kemunculan penampakannya bisa berbeda-beda, entah diselokan, sumur bahkan disungai. Sungguh Aneh.
Hingga kami kaget dan heran melihat orang-orang berlarian menuju ke arah suatu rumah, aku hanya berdiri dan mulai memakai seragamku, sementara dede dan kedua temanku kembali lagi ke sungai untuk mengambil seragam mereka, meskipun dengan badan yang gemetar serta perasaan takut yang mendalam.
Sepupuku lita berlari didepanku, kemudian mengajakku untuk mengikutinya berlari kearah suatu rumah!
“dek hayu, teh imas kumat!” (dek ayo, teh imas kambuh!)
Aku hanya memandang heran, mengapa orang-orang sangat antusias sekali dengan hal ini. Karena aku juga penasaran akhirnya aku ikut berlari menuju rumah imas. Disana orang banyak berkumpul mengerumuni rumah dedi. Aku tak melihat dedi atau imas karena terlalu banyak orang disana,
“ORAAAAAY!” (ULAAAARR) Teriak seorang wanita.
Bersambung...
PART 6
Diubah oleh rosemallow 19-10-2019 17:56
banditos69 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tutup