- Beranda
- Stories from the Heart
SEIKAT DUSTA
...
TS
alunaziya
SEIKAT DUSTA
SEIKAT DUSTA

(Part 1)
Sudah dua tahun Dinar menjadi tulang punggung keluarga, setelah kecelakaan parah menimpa sang suami yang membuatnya hanya bisa duduk di atas kursi roda. Dia mengelola sebuah toko bunga, pemberian dari Ibu mertua.
Setiap hari, Dinar menjalani rutinitas dengan ikhlas. Mencoba menjadi istri yang setia untuk suami, ibu yang baik untuk sang putri, juga menantu yang selalu dibanggakan oleh mertua.
Jenuh?
Pasti.
Sebagai manusia biasa, kejenuhan kerap menghinggapi terutama bila malam datang, saat suami telah terlelap dan mata tak jua terpejam. Satu hal yang bisa mengusir rasa sepi adalah dengan berselancar lewat dunia maya, dunia tanpa batas yang bisa membawa ke setiap tempat yang bahkan tak pernah dia lihat atau dikenal sebelumnya.
Malam itu, saat Dinar sedang asyik stalking di akun medsos-nya, dia mendapat chatt dari akun asing.
'Hai, Dinar. Masih ingat aku?'
Dinar mengernyitkan dahi, kemudian meng-klik profil akun tersebut dan mulai meng-scroll pemiliknya, seorang wanita. Agak lama dia terdiam, mencoba mengingat wajah dalam gambar itu hingga kemudian tersenyum dan buru-buru mengirimkan balasan.
'Sofi?'
Dia melirik suami yang telah terlelap di sebelahnya.
'Iya. Apa kabar?'
'Baik. Kamu?'
'Baik juga. Gila! Sudah berapa tahun ini? Kita dekat loh, ternyata. Ketemuan, yuk. Kangen ....'
Dinar tak langsung membalas chatt itu, hanya menghela napas berat dan sekali lagi menatap suami yang telah terlihat tenang dalam tidurnya.
'Aku ijin suami dulu, ya? Besok aku kabari lagi'
'Oke. See you.'
'Ya.'
Dinar mematikan ponsel, meletakkannya di atas meja kemudian kembali rebah di sisi Hardian, suaminya.
Cahaya rembulan, membias masuk dari kaca jendela yang tirainya dibiarkan terbuka, sesekali menyinari wajah tampan itu, tenang. Perlahan mengusap wajah itu, kemudian beringsut mendekat dan mengecupnya lembut.
"Selamat tidur, Mas," bisiknya.
Lalu rebah kembali dan mencoba memejamkan kedua matanya, berharap bisa mengulang kembali masa indah dulu meski hanya lewat minpi.
___
Paginya, saat Dinar telah selesai mengerjakan tugas dapur dan mulai bersiap untuk berangkat ke toko. Dia kembali menghampiri suaminya yang telah rapi dan duduk di depan televisi, menonton acara berita pagi.
Seperti biasa, Ibu mertua akan segera datang dan menemani Hardian sampai dia pulang bekerja sore hari nanti.
"Mas," Dinar duduk berjongkok di depan kursi roda itu, meraih kedua tangannya.
Hardian hanya diam, membalas tatapan wanita yang dicintainya itu dengan hangat.
"Aku ada janji ketemu dengan teman lama. Jadi mungkin agak pulang terlambat. Boleh, Mas?" Pelan dia mengutarakan niatnya dengan hati-hati.
Pria itu hanya mengedipkan kedua matanya, tersenyum dengan lembut.
"Sofi, teman SMA dulu. Cuma sebentar," lanjutnya lagi.
Kali ini Hardian mengangguk dan membalas genggaman tangan istrinya meski dengan gerakan yang lemah, tapi sudah cukup membuat Dinar tersenyum senang.
"Makasih, Mas."
Cup!
Satu kecupan mendarat di pipi Hardian, bersamaan dengan datangnya seorang wanita tengah baya dari arah pintu. Sedikit berjalan cepat menghampiri mereka.
"Macet banget jalannya. Mami datang terlambat, Nak. Maaf," serunya agak terengah.
"Nggak apa-apa, Mi," sahutnya seraya mengusap sisa lipstik yang sedikit menempel di pipi suaminya.
Mami meletakkan sebuah bungkusan di atas kursi dan melangkah mendekat, mengusap bahu anak semata wayang yang hanya diaa menatapnya.
"Sudah sarapan?"
"Sudah, Mi. Tolong titip Mas Har, ya. Dinar berangkat dulu."
"Iya." Wanita yang masih ayu itu mengangguk.
"Oh, iya, Mi. Mungkin nanti saya pulang agak malam, ada janji."
"Klien?"
"Teman, Mi. Perempuan, kok." Dinar tersenyum, mencoba meyakinkan Mami yang menatapnya curiga.
"Sudah ijin suamimu?" Dia melirik ke arah Hardian.
"Sudah. Dinar berangkat sekarang, Mi."
"Hem, hati-hati, Nak." Dia membiarkan tangannya dicium sang menantu.
Dinar mengangguk kemudian beralih mencium tangan suaminya sebelum pergi dengan langkah cepat karena hari telah beranjak siang.
Hardian hanya menatap kepergian Dinar dengan hati yang sedih, seandainya saja kecelakaan itu tidak merenggut semua yang dia miliki, pasti sekarang dialah yang akan pergi setiap pagi untuk bekerja demi keluarga ini.
"Makan buah, ya. Mami tadi sudah kupasin."
Pria itu tak menyahut, hanya memperhatikan ibunya mulai mengeluarkan beberapa kotak berisi potongan buah dan beberapa makanan lain dalam wadah.
Pedih hatinya melihat tangan yang tampak mulai keriput itu menyuapi dengan telaten, tak bosan merawat dan melayaninya di saat sang istri terpaksa harus pergi untuk bekerja.
"Kita beruntung mempunyai Dinar, Nak. Istrimu itu benar-benar bisa di andalkan," bisiknya lembut.
Hardian hanya tersenyum, karena merasa menjadi pria paling beruntung memiliki Dinar. Istri yang tak pernah meninggalkannya meski keadaan kini telah berubah.
____
Seharian mengurusi toko, mengemasi bunga yang telah layu untuk disetorkan ke pengepul, juga sesekali ikut mengantarkan pesanan bunga saat diburu-buru. Hal yang biasa bagi Dinar yang dibantu oleh seorang pegawai, Santi. Mereka cukup pintar berbagi peran jika toko sedang ramai, pun jika pesanan agak sepi, mereka akan menghabiskan waktu dengan sedikit bersantai.
Dinar menggembok pintu, mengeceknya kembali sebelum memasukkan kunci itu ke dalam tas.
"Saya pulang dulu, ya, Bu." Santi berpamitan.
"Bawa motorku saja, San. Aku ada janji hari ini, jadi kayaknya naik taksi." Dinar mengangsurkan kunci motor yang langsung diterima Santi.
"Baik, Bu. Kalau begitu saya duluan," sahutnya tersenyum.
"Iya. Hati-hati, San."
Gadis itu hanya mengangguk dan sejurus kemudian, pergi dengan motor matic yang sering digunakan untuk mengantarkan bunga ke alamat pelanggan.
Dinar melirik arloji di tangannya, kemudian bergegas meninggalkan toko, berjalan menuju jalan besar di depannya, menyeberang dan menyetop sebuah taksi.
Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, memeriksa kembali chatt dari Sofi sahabatnya, kemudian memberitahukan alamat yang dia tuju kepada supir taksi. Sebuah restaurant mahal yang belum pernah dia kunjungi, tapi beberapa kali pernah ke sana untuk mengantarkan bunga.
Sedikit ragu, Dinar memasuki area restaurant. Suasana tidak terlalu ramai, meskipun ada beberapa meja yang penuh oleh pelanggan. Dilihatnya kembali ponsel di tangan dan bersiap untuk menelepon, bersama dengan seruan dari arah lain memanggil namanya.
" Din! Sebelah sini ... Dinar!"
Dinar menoleh ke arah suara dan melihat seorang wanita cantik bergaun hijau lumut melambai ke arahnya.
Dengan bergegas, dia berjalan mendekat. Bahkan temannya itu justru berlari menyongsong dan memeluknya dengan erat.
"Dinaarr ... kangen banget. Apa kabar kamu?"
"Baik, Sof. Kamu makin cantik. Senangnya bisa ketemu lagi."
Mereka berpelukan agak lama, bahkan menangis meskipun kemudian tertawa terbahak dan membuat beberapa pengunjung lain sempat memperhatikan.
"Tuh, jadi lebay, kan? Malah nangis begini. Ayo duduk, Din." Sofi mempersilakan temannya duduk.
Dinar hanya mengangguk saat menyadari ada orang lain yang juga duduk di meja yang sama.
"Kenalkan, Din. Ini suamiku ... Galang."
"Halo. Saya Dinar," angguknya sembari menjabat tangan lelaki itu.
"Halo." Datar saja, dia menyahut.
"Kebetulan dia ada waktu, jadi sekalian makan di sini. Nggak apa-apa, kan?"
"Oh, ya. Tentu saja, Sof."
"Ayo, duduk. Kita makan dulu." Sofi menyodorkan segelas air putih ke depan Dinar seraya melambai memanggil waiter.
"Kamu mau pesan apa, Din?"
"Apa saja, Sof," sahutnya seraya meletakkan gelas kembali.
"Steak aja, ya? Nggak lagi diet, kan?"
"Enggak." Dinar hanya tertawa mendengar gurauan sahabatnya itu.
Sofi masih seperti yang dulu, cantik dan ceria meskipun agak sedikit cerewet. Bahkan Dinar pernah mengidolakan gadis itu semasa sekolah dulu.
"Kamu kerja atau ...." Sofi tak melanjutkan pertanyaannya.
"Iya. Aku punya toko bunga, tidak terlalu besar. Meneruskan punya mertua," sahutnya.
"Oh, iya. Aku pernah lihat di akunmu. Berapa anakmu, Din?"
"Satu, cewek. Sekolah di luar kota," sahutnya lagi.
"Wah, senangnya. Kami belum dikasih sampai sekarang, Din. Doakan, ya?"
Dinar terdiam, hanya mengangguk saat melihat Sofi mengusap pipi suaminya, tanpa canggung. Entah kenapa hati wanita itu begitu sedih melihat kemesraan mereka, angannya langsung tertuju pada sosok Hardian, sang suami yang kini hanya duduk di kursi roda.
"Oh, iya. Suamimu?" Sofi menatap Dinar, masih dengan senyum manisnya.
Dinar tak langsung menyahut, hanya membalasnya dengan senyuman dan menatap mereka bergantian kemudian beralih meraih gelas bening berisi air mineral.
"Suamiku di rumah. Masih dalam perawatan," gumamnya.
"Sakit?" Sofi terlihat menyesal dan meraih tangan sahabatnya itu, menggenggamnya.
"Iya. Kecelakaan, sudah lama." Lirih dia menyahut.
"Maaf, ya, Din."
"Nggak apa-apa, Sof."
"Mudah-mudahan cepat membaik, ya?"
"Terima kasih."
"Ayo. Makan," ajaknya saat pesanan mereka datang.
Dinar hanya mengangguk, melihat ke arah Galang, suami sahabatnya yang jarang bersuara. Tampak asyik dengan ponselnya, sesekali hanya mendehem saat Sofi meminta pendapatnya, selebihnya diam tanpa menimpali percakapan mereka.
Hampir satu jam mereka berbagi cerita, hingga akhirnya Dinar menyadari kalau dia sudah sangat terlambat untuk pulang.
"Sof, aku pulang dulu, ya? Sudah malam, nih."
"Oh, ya. Jam berapa, sekarang?" Sofi mengangkat sebelah tangannya, menengok arloji, "Aku antar, yuk."
"Ndak usah, Sof. Aku naik taksi saja," sahutnya.
"Jangan gitu,dong, Din. Aku yang mengajakmu ketemu, jadi sudah sepantasnya mengantar pulang. Sekalian kenalan sama suamimu, ya?"
Dinar hanya diam sejenak, memandang wajah suami temannya itu sebentar. Dingin, sama sekali tak melihat ke arahnya.
Sofi tiba-tiba berdiri dan menggandengnya ke luar meninggalkan Galang yang masih duduk.
"Sudah. Ayo, keluar dulu."
Dinar hanya menurut dan mengikuti Sofi berjalan keluar dari restaurant, menuju ke area parkir dan masuk ke sebuah mobil. Tak berapa lama, Galang menyusul masuk dan duduk di belakang kemudi. Sejurus kemudian, kami melaju meninggalkan tempat itu, berbaur di keramaian jalan ibu kota.
"Ceritakan soal suamimu, bagaimana dia bisa kecelakaan, Din?"
"Mah!" Suara berat itu menyela, dari arah depan.
Sofi menoleh wajah Galang yang tampak tak menyukai pertanyaannya.
"Nggak apa-apa," sahut Dinar saat menyadari ketidak nyamanan itu.
"Tuh! Dinar aja nggak apa-apa, kok. Kita ini sahabatan udah lama, Pah. Rese, deh."
"Itu kurang sopan," gumamnya masih menyetir.
"Ya, sudah. Lupakan saja, Din," sahutnya.
"Itu sudah dua tahun, Sof," Dinar mencoba mencairkan perdebatan kecil itu, kemudian melanjutkan saat sahabatnya menoleh, "Kecelakaan tunggal."
"Oh. Parah?" Sofi menatapnya prihatin.
Dinar hanya mengangguk, dengan memaksakan senyum tipisnya.
"Hemm ... " Dia mengangguk, "Sedikit membaik sekarang, masih rutin terapi dan mulai ada perkembangan."
"Maaf, Din."
"Nggak apa-apa, Sof. Suamiku orang yang tabah, dia tidak mudah menyerah. Mami juga selalu siap membantu saat aku bekerja," sahutnya lagi.
Tiba-tiba dering ponsel mencairkan kesenduan yang sempat terlihat di wajah Dinar. Suara itu dari dalam tas milik Sofi.
"Sebentar, ya?" Sofi menerima telepon dengan agak mengecilkan suara, bahasa Inggris.
Dinar melihat keluar kaca mobil, gerimis. Kenapa tiba-tiba? Padahal seharian tadi cuaca sangat cerah, pikirnya.
Mobil masih melaju dengan tenang, menyibak padatnya kendaraan yang berbaris saling menyusul.
" Pah, turunin aku di depan, ya?" Tiba-tiba Sofi berseru ke arah suaminya setelah mengakhiri percakapan di ponsel.
"Ada apa?" Pria itu menatap dari bayangan kaca.
"Mama harus ke kantor, sekarang. Urgent," sahutnya membenahi sesuatu di dalam tas yang sebelumnya tergeletak di jok depan.
Dinar hanya memperhatikan sahabatnya itu dengan sedikit bingung. Perlahan mobil itu melambat dan menepi ke kiri jalan.
"Maaf, ya, Din? Lain kali saja ke rumahmu, aku buru-buru. Sudah ditunggu Bos. Suamiku yang akan mengantar."
"Nggak usah, Sof. Aku naik taksi saja," tolaknya juga bergegas turun.
"Tidak-tidak. Mas Galang yang akan mengantarmu, Din. Please ... aku merasa nggak enak kalau kamu harus pulang sendiri." Sofi menahan tangan sahabatnya itu, melarang turun.
"Tapi, Sof."
"Dia nggak galak, Dinar. Aku janji kamu akan pulang dengan selamat." Wanita itu meyakinkan Dinar kemudian berbalik dan mendorrong pintu mobil.
Dinar hanya diam menatapnya keluar dan menutup pintu mobil itu kembali.
Greb!
"Hati-hati ya, Pah. Harus sampai rumah, loh. Bye, Dinar ...." Sofi melambai ke arahnya setelah mencium pria dingin yang masih duduk di belakang kemudi itu.
Dinar hanya tersenyum, menatap sahabatnya itu berlari menyeberang saat jalanan terlihat jeda dan melambai ke sebuah taksi yang kebetulan melintas.
Perlahan mobil pun kembali berjalan setelah taksi yang ditumpangi Sofi meluncur ke arah berlawanan. Bulir bening mulai membasahi kaca dan menghalangi pandangan.
Untuk beberapa lama, mereka terdiam. Sesekalu pandangan bertemu tanpa sengaja saat Dinar menatap bayangan kaca.
"Sebaiknya, saya naik taksi saja, Pak." Dinar memberanikan diri untuk mengutarakan kegundahannya.
Diam memandang bayangan dalam kaca , berharap ada tanggapan. Lagi-lagi hening, tidak ada jawaban, akhirnya melemparkan pandangan ke luar mobil.
"Temani aku minum kopi, ya?" Lirih, hampir tidak terdengar.
Seketika Dinar menoleh menatapnya bayangan wajah pria itu dari bayangan kaca.
Degh!
Jantungnya terasa berhenti berdetak saat beradu pandang dengan mata tajam itu. Namun buru-buru berpaling ke arah lain sedikit gusar.
"Eh!?" Dinar hanya kebingungan dan tak mampu berkata-kata.
Mobil kemudian berbelok, menepi ke halaman sebuah mini market. Dinar hanya memperhatikan saat suami Sofi itu keluar mobil, menutupnya kembali dan berlari kecil menerobos gerimis, mendorong pintu kaca bangunan berlampu terang itu.
Gerimis semakin deras, malampun semakin merangkak menjemput rembulan yang enggan beranjak dari persembunyiannya. Dinar terlihat menikmati lelehan air yang memercik di luar kaca.
Apa yang aku lakukan? Sedang apa disini? Seperti tersadar, Dinar menepuk kepala sendiri dan mencari tas tangan yang sebelumnya dia letakan di bangku samping.
"Sepertinya mau hujan." Tiba-tiba Galang telah duduk di depannya, menyodorkan dua cup kopi panas, "Tolong, pegang sebentar. Kita cari tempat yang agak nyaman," lanjutnya.
Lagi-lagi Dinar hanya diam, menurut saja saat mengambil alih gelas dari tangan pria itu.
Mobil kembali melaju, menerjang gerimis yang mulai menjadi rintik hujan. Hanya ada hening diantara keduanya, sesekali pandangan mereka bertemu lewat bayangan kaca tapi kemudian segera berpaling.
"Tolong turunkan saya di halte depan, Pak." Entah darimana keberanian itu muncul, Dinar ingin segera terlepas dari situasi yang membuatnya canggung ini.
Tanpa menjawab, Galang pun mengurangi laju mobil, perlahan berhenti di sebuah halte di kiri jalan. Pria itu mematikan mesin dan menatap wanita di belakangnya dari bayangan kaca.
Dinar menyodorkan gelas kopi yang sejak tadi di pegangnya, Galang diam sebentar kemudian menerima gelas itu. Setelah mengangguk sebagaibtanda terima kasih, wanita itu bergegas keluar dari mobil, sedikit berlari menuju halte. Dia pun duduk sembari mengeringkan rambutnya yang sedikit basah.
Sepi, hanya rintik hujan yang terdengar rancaksyahdu menghias malam. Mobil Galang masih di tempat semula. Tak berapa lama, dia tampak turun, dengan santai berjalan menghampiri wanita itu, duduk disebelahnya. Dinar hanya menoleh saat pria itu menyodorkan segelas kopi padanya.
"Hampir dingin. Sayang kalau di buang," gumamnya lirih.
Dinar seperti terlena dengan suara berat itu, tangannya menerima gelas itu kemudian menyesapnya perlahan.
Hening lagi, tampak beberapa mobil yang lewat dan berlalu. Semilir angin dingin menghembus, menghantarkan kebisuan yang menyimpan sejuta terka dalam hati keduanya.
Tak terasa, gelas pun telah kosong, saat sebuah mobil taksi berhenti di depan mereka.
Din!
Supir taksi membunyikan klakson, membuyarkan Dinar dari lamunannya.
Sedikit kaget, dia sontak berdiri dan meraih tas yang semula tergeletak di dekatnya.
"Terima kasih kopinya, Pak. Saya permisi," pamitnya agak membungkuk.
Dinar berbalik dan berjalan mendekati taksi, tapi kemudian langkahnya tiba-tiba berhenti.
Degh! Degh!
Seperti ada hawa panas yang mengalir di tangannya, perlahan menghangatkan sekujur tubuh.
Apa ini?
Sudah lama dia tak merasakan sensasi ini.
Dinar diam terpaku, perlahan menoleh menatap tangannya, ada tangan lain disana, menggenggam dengan erat, terasa hangat, benar-benar hangat.
Tak ada kata yang terucap, hanya ada tatapan sayu yang kian meredup. Seperti rintik hujan yang mengiringi taksi, perlahan pergi meninggalkan halte dan dua hati yang terdampar sepi.
(bersambung)

(Part 1)
Sudah dua tahun Dinar menjadi tulang punggung keluarga, setelah kecelakaan parah menimpa sang suami yang membuatnya hanya bisa duduk di atas kursi roda. Dia mengelola sebuah toko bunga, pemberian dari Ibu mertua.
Setiap hari, Dinar menjalani rutinitas dengan ikhlas. Mencoba menjadi istri yang setia untuk suami, ibu yang baik untuk sang putri, juga menantu yang selalu dibanggakan oleh mertua.
Jenuh?
Pasti.
Sebagai manusia biasa, kejenuhan kerap menghinggapi terutama bila malam datang, saat suami telah terlelap dan mata tak jua terpejam. Satu hal yang bisa mengusir rasa sepi adalah dengan berselancar lewat dunia maya, dunia tanpa batas yang bisa membawa ke setiap tempat yang bahkan tak pernah dia lihat atau dikenal sebelumnya.
Malam itu, saat Dinar sedang asyik stalking di akun medsos-nya, dia mendapat chatt dari akun asing.
'Hai, Dinar. Masih ingat aku?'
Dinar mengernyitkan dahi, kemudian meng-klik profil akun tersebut dan mulai meng-scroll pemiliknya, seorang wanita. Agak lama dia terdiam, mencoba mengingat wajah dalam gambar itu hingga kemudian tersenyum dan buru-buru mengirimkan balasan.
'Sofi?'
Dia melirik suami yang telah terlelap di sebelahnya.
'Iya. Apa kabar?'
'Baik. Kamu?'
'Baik juga. Gila! Sudah berapa tahun ini? Kita dekat loh, ternyata. Ketemuan, yuk. Kangen ....'
Dinar tak langsung membalas chatt itu, hanya menghela napas berat dan sekali lagi menatap suami yang telah terlihat tenang dalam tidurnya.
'Aku ijin suami dulu, ya? Besok aku kabari lagi'
'Oke. See you.'
'Ya.'
Dinar mematikan ponsel, meletakkannya di atas meja kemudian kembali rebah di sisi Hardian, suaminya.
Cahaya rembulan, membias masuk dari kaca jendela yang tirainya dibiarkan terbuka, sesekali menyinari wajah tampan itu, tenang. Perlahan mengusap wajah itu, kemudian beringsut mendekat dan mengecupnya lembut.
"Selamat tidur, Mas," bisiknya.
Lalu rebah kembali dan mencoba memejamkan kedua matanya, berharap bisa mengulang kembali masa indah dulu meski hanya lewat minpi.
___
Paginya, saat Dinar telah selesai mengerjakan tugas dapur dan mulai bersiap untuk berangkat ke toko. Dia kembali menghampiri suaminya yang telah rapi dan duduk di depan televisi, menonton acara berita pagi.
Seperti biasa, Ibu mertua akan segera datang dan menemani Hardian sampai dia pulang bekerja sore hari nanti.
"Mas," Dinar duduk berjongkok di depan kursi roda itu, meraih kedua tangannya.
Hardian hanya diam, membalas tatapan wanita yang dicintainya itu dengan hangat.
"Aku ada janji ketemu dengan teman lama. Jadi mungkin agak pulang terlambat. Boleh, Mas?" Pelan dia mengutarakan niatnya dengan hati-hati.
Pria itu hanya mengedipkan kedua matanya, tersenyum dengan lembut.
"Sofi, teman SMA dulu. Cuma sebentar," lanjutnya lagi.
Kali ini Hardian mengangguk dan membalas genggaman tangan istrinya meski dengan gerakan yang lemah, tapi sudah cukup membuat Dinar tersenyum senang.
"Makasih, Mas."
Cup!
Satu kecupan mendarat di pipi Hardian, bersamaan dengan datangnya seorang wanita tengah baya dari arah pintu. Sedikit berjalan cepat menghampiri mereka.
"Macet banget jalannya. Mami datang terlambat, Nak. Maaf," serunya agak terengah.
"Nggak apa-apa, Mi," sahutnya seraya mengusap sisa lipstik yang sedikit menempel di pipi suaminya.
Mami meletakkan sebuah bungkusan di atas kursi dan melangkah mendekat, mengusap bahu anak semata wayang yang hanya diaa menatapnya.
"Sudah sarapan?"
"Sudah, Mi. Tolong titip Mas Har, ya. Dinar berangkat dulu."
"Iya." Wanita yang masih ayu itu mengangguk.
"Oh, iya, Mi. Mungkin nanti saya pulang agak malam, ada janji."
"Klien?"
"Teman, Mi. Perempuan, kok." Dinar tersenyum, mencoba meyakinkan Mami yang menatapnya curiga.
"Sudah ijin suamimu?" Dia melirik ke arah Hardian.
"Sudah. Dinar berangkat sekarang, Mi."
"Hem, hati-hati, Nak." Dia membiarkan tangannya dicium sang menantu.
Dinar mengangguk kemudian beralih mencium tangan suaminya sebelum pergi dengan langkah cepat karena hari telah beranjak siang.
Hardian hanya menatap kepergian Dinar dengan hati yang sedih, seandainya saja kecelakaan itu tidak merenggut semua yang dia miliki, pasti sekarang dialah yang akan pergi setiap pagi untuk bekerja demi keluarga ini.
"Makan buah, ya. Mami tadi sudah kupasin."
Pria itu tak menyahut, hanya memperhatikan ibunya mulai mengeluarkan beberapa kotak berisi potongan buah dan beberapa makanan lain dalam wadah.
Pedih hatinya melihat tangan yang tampak mulai keriput itu menyuapi dengan telaten, tak bosan merawat dan melayaninya di saat sang istri terpaksa harus pergi untuk bekerja.
"Kita beruntung mempunyai Dinar, Nak. Istrimu itu benar-benar bisa di andalkan," bisiknya lembut.
Hardian hanya tersenyum, karena merasa menjadi pria paling beruntung memiliki Dinar. Istri yang tak pernah meninggalkannya meski keadaan kini telah berubah.
____
Seharian mengurusi toko, mengemasi bunga yang telah layu untuk disetorkan ke pengepul, juga sesekali ikut mengantarkan pesanan bunga saat diburu-buru. Hal yang biasa bagi Dinar yang dibantu oleh seorang pegawai, Santi. Mereka cukup pintar berbagi peran jika toko sedang ramai, pun jika pesanan agak sepi, mereka akan menghabiskan waktu dengan sedikit bersantai.
Dinar menggembok pintu, mengeceknya kembali sebelum memasukkan kunci itu ke dalam tas.
"Saya pulang dulu, ya, Bu." Santi berpamitan.
"Bawa motorku saja, San. Aku ada janji hari ini, jadi kayaknya naik taksi." Dinar mengangsurkan kunci motor yang langsung diterima Santi.
"Baik, Bu. Kalau begitu saya duluan," sahutnya tersenyum.
"Iya. Hati-hati, San."
Gadis itu hanya mengangguk dan sejurus kemudian, pergi dengan motor matic yang sering digunakan untuk mengantarkan bunga ke alamat pelanggan.
Dinar melirik arloji di tangannya, kemudian bergegas meninggalkan toko, berjalan menuju jalan besar di depannya, menyeberang dan menyetop sebuah taksi.
Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, memeriksa kembali chatt dari Sofi sahabatnya, kemudian memberitahukan alamat yang dia tuju kepada supir taksi. Sebuah restaurant mahal yang belum pernah dia kunjungi, tapi beberapa kali pernah ke sana untuk mengantarkan bunga.
Sedikit ragu, Dinar memasuki area restaurant. Suasana tidak terlalu ramai, meskipun ada beberapa meja yang penuh oleh pelanggan. Dilihatnya kembali ponsel di tangan dan bersiap untuk menelepon, bersama dengan seruan dari arah lain memanggil namanya.
" Din! Sebelah sini ... Dinar!"
Dinar menoleh ke arah suara dan melihat seorang wanita cantik bergaun hijau lumut melambai ke arahnya.
Dengan bergegas, dia berjalan mendekat. Bahkan temannya itu justru berlari menyongsong dan memeluknya dengan erat.
"Dinaarr ... kangen banget. Apa kabar kamu?"
"Baik, Sof. Kamu makin cantik. Senangnya bisa ketemu lagi."
Mereka berpelukan agak lama, bahkan menangis meskipun kemudian tertawa terbahak dan membuat beberapa pengunjung lain sempat memperhatikan.
"Tuh, jadi lebay, kan? Malah nangis begini. Ayo duduk, Din." Sofi mempersilakan temannya duduk.
Dinar hanya mengangguk saat menyadari ada orang lain yang juga duduk di meja yang sama.
"Kenalkan, Din. Ini suamiku ... Galang."
"Halo. Saya Dinar," angguknya sembari menjabat tangan lelaki itu.
"Halo." Datar saja, dia menyahut.
"Kebetulan dia ada waktu, jadi sekalian makan di sini. Nggak apa-apa, kan?"
"Oh, ya. Tentu saja, Sof."
"Ayo, duduk. Kita makan dulu." Sofi menyodorkan segelas air putih ke depan Dinar seraya melambai memanggil waiter.
"Kamu mau pesan apa, Din?"
"Apa saja, Sof," sahutnya seraya meletakkan gelas kembali.
"Steak aja, ya? Nggak lagi diet, kan?"
"Enggak." Dinar hanya tertawa mendengar gurauan sahabatnya itu.
Sofi masih seperti yang dulu, cantik dan ceria meskipun agak sedikit cerewet. Bahkan Dinar pernah mengidolakan gadis itu semasa sekolah dulu.
"Kamu kerja atau ...." Sofi tak melanjutkan pertanyaannya.
"Iya. Aku punya toko bunga, tidak terlalu besar. Meneruskan punya mertua," sahutnya.
"Oh, iya. Aku pernah lihat di akunmu. Berapa anakmu, Din?"
"Satu, cewek. Sekolah di luar kota," sahutnya lagi.
"Wah, senangnya. Kami belum dikasih sampai sekarang, Din. Doakan, ya?"
Dinar terdiam, hanya mengangguk saat melihat Sofi mengusap pipi suaminya, tanpa canggung. Entah kenapa hati wanita itu begitu sedih melihat kemesraan mereka, angannya langsung tertuju pada sosok Hardian, sang suami yang kini hanya duduk di kursi roda.
"Oh, iya. Suamimu?" Sofi menatap Dinar, masih dengan senyum manisnya.
Dinar tak langsung menyahut, hanya membalasnya dengan senyuman dan menatap mereka bergantian kemudian beralih meraih gelas bening berisi air mineral.
"Suamiku di rumah. Masih dalam perawatan," gumamnya.
"Sakit?" Sofi terlihat menyesal dan meraih tangan sahabatnya itu, menggenggamnya.
"Iya. Kecelakaan, sudah lama." Lirih dia menyahut.
"Maaf, ya, Din."
"Nggak apa-apa, Sof."
"Mudah-mudahan cepat membaik, ya?"
"Terima kasih."
"Ayo. Makan," ajaknya saat pesanan mereka datang.
Dinar hanya mengangguk, melihat ke arah Galang, suami sahabatnya yang jarang bersuara. Tampak asyik dengan ponselnya, sesekali hanya mendehem saat Sofi meminta pendapatnya, selebihnya diam tanpa menimpali percakapan mereka.
Hampir satu jam mereka berbagi cerita, hingga akhirnya Dinar menyadari kalau dia sudah sangat terlambat untuk pulang.
"Sof, aku pulang dulu, ya? Sudah malam, nih."
"Oh, ya. Jam berapa, sekarang?" Sofi mengangkat sebelah tangannya, menengok arloji, "Aku antar, yuk."
"Ndak usah, Sof. Aku naik taksi saja," sahutnya.
"Jangan gitu,dong, Din. Aku yang mengajakmu ketemu, jadi sudah sepantasnya mengantar pulang. Sekalian kenalan sama suamimu, ya?"
Dinar hanya diam sejenak, memandang wajah suami temannya itu sebentar. Dingin, sama sekali tak melihat ke arahnya.
Sofi tiba-tiba berdiri dan menggandengnya ke luar meninggalkan Galang yang masih duduk.
"Sudah. Ayo, keluar dulu."
Dinar hanya menurut dan mengikuti Sofi berjalan keluar dari restaurant, menuju ke area parkir dan masuk ke sebuah mobil. Tak berapa lama, Galang menyusul masuk dan duduk di belakang kemudi. Sejurus kemudian, kami melaju meninggalkan tempat itu, berbaur di keramaian jalan ibu kota.
"Ceritakan soal suamimu, bagaimana dia bisa kecelakaan, Din?"
"Mah!" Suara berat itu menyela, dari arah depan.
Sofi menoleh wajah Galang yang tampak tak menyukai pertanyaannya.
"Nggak apa-apa," sahut Dinar saat menyadari ketidak nyamanan itu.
"Tuh! Dinar aja nggak apa-apa, kok. Kita ini sahabatan udah lama, Pah. Rese, deh."
"Itu kurang sopan," gumamnya masih menyetir.
"Ya, sudah. Lupakan saja, Din," sahutnya.
"Itu sudah dua tahun, Sof," Dinar mencoba mencairkan perdebatan kecil itu, kemudian melanjutkan saat sahabatnya menoleh, "Kecelakaan tunggal."
"Oh. Parah?" Sofi menatapnya prihatin.
Dinar hanya mengangguk, dengan memaksakan senyum tipisnya.
"Hemm ... " Dia mengangguk, "Sedikit membaik sekarang, masih rutin terapi dan mulai ada perkembangan."
"Maaf, Din."
"Nggak apa-apa, Sof. Suamiku orang yang tabah, dia tidak mudah menyerah. Mami juga selalu siap membantu saat aku bekerja," sahutnya lagi.
Tiba-tiba dering ponsel mencairkan kesenduan yang sempat terlihat di wajah Dinar. Suara itu dari dalam tas milik Sofi.
"Sebentar, ya?" Sofi menerima telepon dengan agak mengecilkan suara, bahasa Inggris.
Dinar melihat keluar kaca mobil, gerimis. Kenapa tiba-tiba? Padahal seharian tadi cuaca sangat cerah, pikirnya.
Mobil masih melaju dengan tenang, menyibak padatnya kendaraan yang berbaris saling menyusul.
" Pah, turunin aku di depan, ya?" Tiba-tiba Sofi berseru ke arah suaminya setelah mengakhiri percakapan di ponsel.
"Ada apa?" Pria itu menatap dari bayangan kaca.
"Mama harus ke kantor, sekarang. Urgent," sahutnya membenahi sesuatu di dalam tas yang sebelumnya tergeletak di jok depan.
Dinar hanya memperhatikan sahabatnya itu dengan sedikit bingung. Perlahan mobil itu melambat dan menepi ke kiri jalan.
"Maaf, ya, Din? Lain kali saja ke rumahmu, aku buru-buru. Sudah ditunggu Bos. Suamiku yang akan mengantar."
"Nggak usah, Sof. Aku naik taksi saja," tolaknya juga bergegas turun.
"Tidak-tidak. Mas Galang yang akan mengantarmu, Din. Please ... aku merasa nggak enak kalau kamu harus pulang sendiri." Sofi menahan tangan sahabatnya itu, melarang turun.
"Tapi, Sof."
"Dia nggak galak, Dinar. Aku janji kamu akan pulang dengan selamat." Wanita itu meyakinkan Dinar kemudian berbalik dan mendorrong pintu mobil.
Dinar hanya diam menatapnya keluar dan menutup pintu mobil itu kembali.
Greb!
"Hati-hati ya, Pah. Harus sampai rumah, loh. Bye, Dinar ...." Sofi melambai ke arahnya setelah mencium pria dingin yang masih duduk di belakang kemudi itu.
Dinar hanya tersenyum, menatap sahabatnya itu berlari menyeberang saat jalanan terlihat jeda dan melambai ke sebuah taksi yang kebetulan melintas.
Perlahan mobil pun kembali berjalan setelah taksi yang ditumpangi Sofi meluncur ke arah berlawanan. Bulir bening mulai membasahi kaca dan menghalangi pandangan.
Untuk beberapa lama, mereka terdiam. Sesekalu pandangan bertemu tanpa sengaja saat Dinar menatap bayangan kaca.
"Sebaiknya, saya naik taksi saja, Pak." Dinar memberanikan diri untuk mengutarakan kegundahannya.
Diam memandang bayangan dalam kaca , berharap ada tanggapan. Lagi-lagi hening, tidak ada jawaban, akhirnya melemparkan pandangan ke luar mobil.
"Temani aku minum kopi, ya?" Lirih, hampir tidak terdengar.
Seketika Dinar menoleh menatapnya bayangan wajah pria itu dari bayangan kaca.
Degh!
Jantungnya terasa berhenti berdetak saat beradu pandang dengan mata tajam itu. Namun buru-buru berpaling ke arah lain sedikit gusar.
"Eh!?" Dinar hanya kebingungan dan tak mampu berkata-kata.
Mobil kemudian berbelok, menepi ke halaman sebuah mini market. Dinar hanya memperhatikan saat suami Sofi itu keluar mobil, menutupnya kembali dan berlari kecil menerobos gerimis, mendorong pintu kaca bangunan berlampu terang itu.
Gerimis semakin deras, malampun semakin merangkak menjemput rembulan yang enggan beranjak dari persembunyiannya. Dinar terlihat menikmati lelehan air yang memercik di luar kaca.
Apa yang aku lakukan? Sedang apa disini? Seperti tersadar, Dinar menepuk kepala sendiri dan mencari tas tangan yang sebelumnya dia letakan di bangku samping.
"Sepertinya mau hujan." Tiba-tiba Galang telah duduk di depannya, menyodorkan dua cup kopi panas, "Tolong, pegang sebentar. Kita cari tempat yang agak nyaman," lanjutnya.
Lagi-lagi Dinar hanya diam, menurut saja saat mengambil alih gelas dari tangan pria itu.
Mobil kembali melaju, menerjang gerimis yang mulai menjadi rintik hujan. Hanya ada hening diantara keduanya, sesekali pandangan mereka bertemu lewat bayangan kaca tapi kemudian segera berpaling.
"Tolong turunkan saya di halte depan, Pak." Entah darimana keberanian itu muncul, Dinar ingin segera terlepas dari situasi yang membuatnya canggung ini.
Tanpa menjawab, Galang pun mengurangi laju mobil, perlahan berhenti di sebuah halte di kiri jalan. Pria itu mematikan mesin dan menatap wanita di belakangnya dari bayangan kaca.
Dinar menyodorkan gelas kopi yang sejak tadi di pegangnya, Galang diam sebentar kemudian menerima gelas itu. Setelah mengangguk sebagaibtanda terima kasih, wanita itu bergegas keluar dari mobil, sedikit berlari menuju halte. Dia pun duduk sembari mengeringkan rambutnya yang sedikit basah.
Sepi, hanya rintik hujan yang terdengar rancaksyahdu menghias malam. Mobil Galang masih di tempat semula. Tak berapa lama, dia tampak turun, dengan santai berjalan menghampiri wanita itu, duduk disebelahnya. Dinar hanya menoleh saat pria itu menyodorkan segelas kopi padanya.
"Hampir dingin. Sayang kalau di buang," gumamnya lirih.
Dinar seperti terlena dengan suara berat itu, tangannya menerima gelas itu kemudian menyesapnya perlahan.
Hening lagi, tampak beberapa mobil yang lewat dan berlalu. Semilir angin dingin menghembus, menghantarkan kebisuan yang menyimpan sejuta terka dalam hati keduanya.
Tak terasa, gelas pun telah kosong, saat sebuah mobil taksi berhenti di depan mereka.
Din!
Supir taksi membunyikan klakson, membuyarkan Dinar dari lamunannya.
Sedikit kaget, dia sontak berdiri dan meraih tas yang semula tergeletak di dekatnya.
"Terima kasih kopinya, Pak. Saya permisi," pamitnya agak membungkuk.
Dinar berbalik dan berjalan mendekati taksi, tapi kemudian langkahnya tiba-tiba berhenti.
Degh! Degh!
Seperti ada hawa panas yang mengalir di tangannya, perlahan menghangatkan sekujur tubuh.
Apa ini?
Sudah lama dia tak merasakan sensasi ini.
Dinar diam terpaku, perlahan menoleh menatap tangannya, ada tangan lain disana, menggenggam dengan erat, terasa hangat, benar-benar hangat.
Tak ada kata yang terucap, hanya ada tatapan sayu yang kian meredup. Seperti rintik hujan yang mengiringi taksi, perlahan pergi meninggalkan halte dan dua hati yang terdampar sepi.
(bersambung)
Diubah oleh alunaziya 18-03-2022 08:48
christianahi924 dan 25 lainnya memberi reputasi
22
24.4K
253
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
alunaziya
#76
SEIKAT DUSTA
SEIKAT DUSTA
(part 32)
Ia menutup pintu dengan hati-hati setelah lebih dulu mematikan lampu kamar hingga menyisakan temaram lewat cahaya lampu kecil di ujung tempat tidur. Meninggalkan anak bertubuh montok itu terlelap dengan gerakan napas yang teratur dan terlentang bebas di dalam box tempat tidur.
"Sudah tidur?" Suara pelan itu sedikit membuat wanita bertubuh ramping itu terkejut, kemudian tersenyum.
"Eh ... Ibu. Kaget, aku," sahutnya pelan. "Sudah. Kasihan dia. Kecapaian mungkin," lanjutnya.
"Besok. Bawa Cello ke Spa. Dia butuh relaksasi. Aku sudah buatkan janji."
"Wah ... makasih banyak, Bu. Baru saja mau nyari referensi malah udah dicariin," sahutnya seraya mengiringi langkah Diana menuju ke ruang tengah. Televisi masih menyala dan menyiarkan sebuah acara talk-show.
"Nanti, kapan-kapan aku ajak Cello seharian. Boleh, ya? Makin pinter aja, dia. Gemes,deh."
"Hu-um, Bu. Nggak nyangka juga dia bisa bertumbuh dengan baik. Mudah-mudahan dia tidak kaget setelah pindah ke mari," ucapnya tersenyum.
Selama hampir tiga tahun, Sofi memang menetap di Negeri Paman Sam. Selain demi kesembuhan suaminya, ia pun berharap bisa menutup lembaran kelam tentang Dinar, sahabatnya. Bukan hal yang mudah untuk melupakan semua kejadian yang bak mimpi buruk itu, tapi perlahan ia pun bisa melaluinya dengan asa yang tersisa.
"Di mana suamimu?" tanya Diana tiba-tiba setelah mereka terdiam agak lama. Sofi tidak segera menjawab, hanya membalas tatapan wanita cantik itu dengan raut yang sedikit berubah. Sendu. "Ada perkembangan?" tantanya lagi.
Kali ini Sofi menggeleng dan terdengar menghela napas. Pandangannya beralih ke pintu yang tertutup. "Belum ada donor yang pas. Sepertinya dia harus siap menerima situasi terburuk. Entahlah," gumamnya.
"Bukankah ... itu lebih baik?" ucap Diana sedikit ragu. Seketika Sofi terdiam menatapnya tak mengerti. "Maksudku-- kalau dia benar-benar harus buta. Bukankah itu bagus? Artinya dia tidak akan melihat wanita lain lagi?" ralatnya agak tergagap.
Sofi terpaku, angannya kembali membayang. Berganti dengan perjuangannya demi kesembuhan Galang di tengah kehamilan yang semakin membesar. Galang harus menjalani serangkaian operasi akibat pendarahan yaang cukup hebat di kepalanya sehingga menyebabkan lelaki itu harus kehilangan penglihatannya secara perlahan.
Krekk!
Mereka menoleh saat terdengar suara pintu terbuka, disusul seorang pemuda yang mendorong masuk seorang pria yang duduk di kursi roda denga perlahan. Seketika Sofi berdiri dan menyambutnya dengan wajah yang berseri.
"Sudah pulang?" tanyanya seraya mengambil alih posisi pemuda itu. "Biar aku saja yang antar ke kamar," ucapnya.
"Tidak, Mah. Sepertinya kau masih ada tamu. Biar Bian yang mengantarku," sanggah Galang yang membuat Sofi urung untuk mendorong kursi itu. Ditatapnya wajah sang suami yang terlihat lelah, pandangannya lurus tapi nanar dan kosong.
"Papa ... tidak apa-apa, kan?" tanyanya seraya menyentuh kening lelaki itu. "Papa sakit?"
"Aku tidak apa-apa, Mah. Hanya lelah saja dan ingin tidur cepat," sahutnya seraya meraih jemari sang istri dan menggenggamnya lembut. Ada senyum di bibir pucat itu, tampak dipaksakan. "Papa ke kamar dulu, ya?" lirihnya.
Sofi hanya mengangguk, lalu menatap pemuda yang telah merawat suaminya itu dengan penuh harap. Perlahan kursi itu pun di dorong meninggalkannya, menuju kamar utama. Sofi kembali duduk di depan Diana yang hanya memperhatikan mereka tanpa kata.
"Sepertinya dia lelah," gumam wanita itu.
"Dia banyak berubah. Kegagalan kadang bisa menjadi awal sesuatu yang lebih baik. Cello memang seperti obat paling ampuh bagi kalian berdua. Jika orang lain pasti memilih untuk melepaskan pernikahan, kau justru tetap bertahan. Itu yang aku suka darimu, Sofi."
"Ibu ...." Sofi hanya tercekat mendengar ucapan wanita itu. Jalan yang dia pilih, tidak semudah yang orang lain pikirkan. "Maaf sudah banyak merepotkan Ibu Diana selama ini. Maaf juga karena waktu itu tidak bisa hadir saat pemakaman Bapak," lirihnya.
Diana hanya membalas dengan senyuman, lalu mengangguk dan menyambut uluran tangan wanita bermata indah itu. "Tidak apa-apa, Sofi. Kau juga sedang mengalamibmada sulit waktu itu. Doakan saja yang terbaik, itu sudah lebih dari cukup," ucapnya.
"Terima kasih sudah menjadi penyelamat bagi kami, Bu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi kalau Bu Diana tidak berada di sisi kami selama ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas semua kebaikan Ibu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Bukankah sudah kubilang kalau kita keluarga? Aku tak suka kau menganggapku seperti orang lain, Sofi. Itu membuatku sedih."
"Bu ...."
"Kau kan tahu kalau aku ini tidak punya siapa-siapa? Orang tua, anak pun tak punya, bahkan suami juga pergi terlebih dulu meninggalkan aku sendirian."
"Ibu jangan bicara seperti itu. Ada kami, ada Cello yang juga selalu akan menyanyangi Ibu Diana. Jangan merasa sendiri. Maaf karena selama ini kami harus tinggal jauh dari Ibu," ucapnya yang disusul dengan sebuah pelukan hangat dan lama.
"Terima kasih sudah menerimaku, Sofi. Terima kasih ...." Lirih wanita itu berbisik seraya mengusap punggung Sofi dengan lembut. Perlahan pelukan itu pun terlepas. "Aku pulang, ya?" ucapnya setelah menyeka sudut matanya yang basah.
"Kenapa tidak menginap saja, Bu? Banyak kamar di sini. Tidur di kamar Cello juga bisa," sahutnya.
Terdengar suara tangis dari dalam kamar Cello. Mereka saling pandang kemudian sama-sama berdiri. Sofi bergegas meninggalkan Diana yang menyusulnya setelah meraih tas di atas meja.
Cello terbangun dan membuat Sofi harus menggendong serta menenangkannya kembali. Wanita itu memang memilih untuk merawat sendiri sang buah hati tanpa bantuan Babysitter. Ia hanya meminta bantuan seorang perawat pria untuk membantunya mengurus semua keperluan Galang, suaminya yang beberapa tahun terakhir harus kehilangan penglihatannya.
"Aku pulang, ya? Besok aku mampir sepulang dari kantor," bisik Diana yang hanya berdiri di ambang pintu. Sofi hanya mengangguk dan membiarkan wanita itu menutup pintu meninggalkannya yang sibuk menimang Cello untuk menidurkannya.
---
Diana bergegas menuju mobil yang terparkir di halaman. Baru saja hendak membuka pintu, ia melihat bayangan dari balik spion lalu menoleh dan menemukan Galang yang datang dengan di dorong oleh seorang perawat.
"Tolong tinggalkan kami," ucap Galang saat mereka sudah berhadapan.
"Baik, Pak." Perawat berwajah tampan itu bergegas pergi meninggalkan mereka.
Agak lama mereka terdiam. Diana hanya berdiri menatap pria di depannya dengan senyum yang tersungging di sudut bibir tipisnya.
"Apa yang terjadi padanya?" tanyanya lirih.
Diana hanya mengangkat sepasang alisnya lalu tergelak kecil seraya mengedarkan pandang ke sekeliling yang terlihat tenang.
"Apa yang kau bicarakan?" Wanita itu berbalik bertanya, seolah tak mengerti.
"Kau tahu betul apa yang kumaksud, Diana. Kau bilang dia akan baik-baik saja asal semua kulakukan sesuai permintaanmu. Apa yang kau lakukan pada keluarga mereka? Ada hubungan apa kau dengan Dinar?" ucapnya dengan suara tertahan.
Diana hanya tertawa kecil untuk beberapa saat, lalu terdiam menatap wajah Galang yang terlihat tegang.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri. Masih untung Sofi mau menampungmu. Bukannya sadar diberi kesempatan hidup lagi dan menjaga anak istri, malah sibuk memikirkan wanita lain. Kau yakin masih punya hati?"
"Aku tidak pernah meninggalkan mereka, Diana."
"Tapi kau tetap menyimpan duri yang terus melukai istrimu, Galang! Kau tahu?!"
"Itu tidak benar," sangkalnya lirih.
"Tidak?! Mulutmu mungkin tidak pernah lagi menyebut nama wanita itu, tapi wajahmu menjelaskan semuanya, Brengs*k! Kau pikir kami bodoh?"
Galang membisu.
"Tiga tahun di sana, ternyata tidak membuatmu melupakan wanita itu. Hebat. Bahkan kematian tidak bisa merubah semuanya? Kau pikir dia masih memiliki perasaan yang sama? Jangan terlalu berharap, Galang." Ketus suara wanita itu membuatnya semakin terdiam.
Terdengar helaan napas agak panjang. Diana terlihat menahan diri agar tidak membuat suara yang bisa membuat Sofi terganggu dan menemukan mereka berada di tempat itu. Bagaimanapun, ia tak ingin semua yang dijaga selama ini hancur begitu cepat. Sofi sudah menjadi bagian dari hidupnya yang tak ingin dia lepaskan.
"Aku tak ingin Sofi semakin menderita. Kau begitu penting baginya. Lalu Cello. Apa kau juga lupa dengan tanggung jawabmu yang terabaikan atas anak itu? Darah dagingmu?"
"Aku hanya ingin tahu. Apa maksud dari kata-katamu waktu itu, Diana. Kenapa kau bilang akan menjaga mereka asal aku tetap hidup? Seharusnya kau biarkan aku mati saja waktu itu."
"Egois!"
"Apa maksudmu?"
"Kau pikir dengan mati bisa membuat semua jadi lebih baik? Wanita itu sudah membuat otakmu jadi tidak waras. Kalau tidak karena Sofi yang memohon, sudah kubiarkan kau selesai di meja operasi waktu itu. Tak tahu diri!" Makian itu keluar begitu saja tanpa mempedulikan wajah tegang Galang yang bahkan sampai mengepalkan tangannya sendiri.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan, Diana?" geramnya dengan suara bergetar.
"Menurutmu?" sahutnya dengan datar.
"Siapa kau ... Diana? Kenapa kau harus mencampuri urusan kami? Apa hubunganmu dengan Dinar?"
"Aku adalah satu-satunya orang yang paling melihatnya hancur. Kau mengerti?"
"Apa maksudmu?" tanya semakin tak mengerti.
"Aku akan mengambil semua darinya. Semua ... yang seharusnya menjadi milikku."
"Kau ...?"
"Aku masih membutuhkanmu, Galang. Kau adalah Pion penting untuk membuat semua rencanaku berjalan sempurna."
"Rencana apa? Jelaskan padaku, Diana! Apa yang akan kau lakukan padanya, hah?!"
"Terus saja berteriak dan biarkan istrimu mengetahui tentang kebodohanmu ini, Galang. Kita lihat siappa yang lebih menderita."
"Kau ...."
"Jangan lupa kalau kau berhutang banyak padaku, Galang. Aku tidak memberinya dengan percuma. Suatu hari kau harus membayarnya. Selamat malam," ucapnya sebelum berbalik dan masuk ke dalam mobil.
Lelaki itu terpekur dengan tangan mengepal, beberapa kali terlihat menghantam bantalan kursi tempatnya terdiam. Rahang tampak merapat, menahan emosi yang dengan payah ia tahan.
"Sebaiknya kita masuk sekarang, Pak." Pemuda itu telah berada di dekatnya setelah mobil yang dikendarai oleh Diana telah pergi. "Bapak ... tidak apa-apa?" tanyanya saat mendapati wajah tegang sang Tuan yang tidaak biasa.
"Kau harus membantuku kali ini, Bian. Tolong aku ...." Pelan dan agak berbisik dia berucap seraya mencengkeram tangan pemuda tampan itu dengan erat.
"Ap- apa maksud, Bapak?" tanyanya terbata, tidak mengerti.
"Kau harus mengantarku besok. Jangan beri tahu Ibu. Mengerti?"
Pemuda bernama Bian itu terdiam, tampak bingung dengan perubahan sikap Galang yang tidak biasa. Setidaknya, setelah tiga tahun berlalu. Sepertinya tugasnya bertambah berat dibandingkan saat mereka tinggal di luar negeri tempo hari.
(next)
(part 32)
Ia menutup pintu dengan hati-hati setelah lebih dulu mematikan lampu kamar hingga menyisakan temaram lewat cahaya lampu kecil di ujung tempat tidur. Meninggalkan anak bertubuh montok itu terlelap dengan gerakan napas yang teratur dan terlentang bebas di dalam box tempat tidur.
"Sudah tidur?" Suara pelan itu sedikit membuat wanita bertubuh ramping itu terkejut, kemudian tersenyum.
"Eh ... Ibu. Kaget, aku," sahutnya pelan. "Sudah. Kasihan dia. Kecapaian mungkin," lanjutnya.
"Besok. Bawa Cello ke Spa. Dia butuh relaksasi. Aku sudah buatkan janji."
"Wah ... makasih banyak, Bu. Baru saja mau nyari referensi malah udah dicariin," sahutnya seraya mengiringi langkah Diana menuju ke ruang tengah. Televisi masih menyala dan menyiarkan sebuah acara talk-show.
"Nanti, kapan-kapan aku ajak Cello seharian. Boleh, ya? Makin pinter aja, dia. Gemes,deh."
"Hu-um, Bu. Nggak nyangka juga dia bisa bertumbuh dengan baik. Mudah-mudahan dia tidak kaget setelah pindah ke mari," ucapnya tersenyum.
Selama hampir tiga tahun, Sofi memang menetap di Negeri Paman Sam. Selain demi kesembuhan suaminya, ia pun berharap bisa menutup lembaran kelam tentang Dinar, sahabatnya. Bukan hal yang mudah untuk melupakan semua kejadian yang bak mimpi buruk itu, tapi perlahan ia pun bisa melaluinya dengan asa yang tersisa.
"Di mana suamimu?" tanya Diana tiba-tiba setelah mereka terdiam agak lama. Sofi tidak segera menjawab, hanya membalas tatapan wanita cantik itu dengan raut yang sedikit berubah. Sendu. "Ada perkembangan?" tantanya lagi.
Kali ini Sofi menggeleng dan terdengar menghela napas. Pandangannya beralih ke pintu yang tertutup. "Belum ada donor yang pas. Sepertinya dia harus siap menerima situasi terburuk. Entahlah," gumamnya.
"Bukankah ... itu lebih baik?" ucap Diana sedikit ragu. Seketika Sofi terdiam menatapnya tak mengerti. "Maksudku-- kalau dia benar-benar harus buta. Bukankah itu bagus? Artinya dia tidak akan melihat wanita lain lagi?" ralatnya agak tergagap.
Sofi terpaku, angannya kembali membayang. Berganti dengan perjuangannya demi kesembuhan Galang di tengah kehamilan yang semakin membesar. Galang harus menjalani serangkaian operasi akibat pendarahan yaang cukup hebat di kepalanya sehingga menyebabkan lelaki itu harus kehilangan penglihatannya secara perlahan.
Krekk!
Mereka menoleh saat terdengar suara pintu terbuka, disusul seorang pemuda yang mendorong masuk seorang pria yang duduk di kursi roda denga perlahan. Seketika Sofi berdiri dan menyambutnya dengan wajah yang berseri.
"Sudah pulang?" tanyanya seraya mengambil alih posisi pemuda itu. "Biar aku saja yang antar ke kamar," ucapnya.
"Tidak, Mah. Sepertinya kau masih ada tamu. Biar Bian yang mengantarku," sanggah Galang yang membuat Sofi urung untuk mendorong kursi itu. Ditatapnya wajah sang suami yang terlihat lelah, pandangannya lurus tapi nanar dan kosong.
"Papa ... tidak apa-apa, kan?" tanyanya seraya menyentuh kening lelaki itu. "Papa sakit?"
"Aku tidak apa-apa, Mah. Hanya lelah saja dan ingin tidur cepat," sahutnya seraya meraih jemari sang istri dan menggenggamnya lembut. Ada senyum di bibir pucat itu, tampak dipaksakan. "Papa ke kamar dulu, ya?" lirihnya.
Sofi hanya mengangguk, lalu menatap pemuda yang telah merawat suaminya itu dengan penuh harap. Perlahan kursi itu pun di dorong meninggalkannya, menuju kamar utama. Sofi kembali duduk di depan Diana yang hanya memperhatikan mereka tanpa kata.
"Sepertinya dia lelah," gumam wanita itu.
"Dia banyak berubah. Kegagalan kadang bisa menjadi awal sesuatu yang lebih baik. Cello memang seperti obat paling ampuh bagi kalian berdua. Jika orang lain pasti memilih untuk melepaskan pernikahan, kau justru tetap bertahan. Itu yang aku suka darimu, Sofi."
"Ibu ...." Sofi hanya tercekat mendengar ucapan wanita itu. Jalan yang dia pilih, tidak semudah yang orang lain pikirkan. "Maaf sudah banyak merepotkan Ibu Diana selama ini. Maaf juga karena waktu itu tidak bisa hadir saat pemakaman Bapak," lirihnya.
Diana hanya membalas dengan senyuman, lalu mengangguk dan menyambut uluran tangan wanita bermata indah itu. "Tidak apa-apa, Sofi. Kau juga sedang mengalamibmada sulit waktu itu. Doakan saja yang terbaik, itu sudah lebih dari cukup," ucapnya.
"Terima kasih sudah menjadi penyelamat bagi kami, Bu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi kalau Bu Diana tidak berada di sisi kami selama ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas semua kebaikan Ibu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Bukankah sudah kubilang kalau kita keluarga? Aku tak suka kau menganggapku seperti orang lain, Sofi. Itu membuatku sedih."
"Bu ...."
"Kau kan tahu kalau aku ini tidak punya siapa-siapa? Orang tua, anak pun tak punya, bahkan suami juga pergi terlebih dulu meninggalkan aku sendirian."
"Ibu jangan bicara seperti itu. Ada kami, ada Cello yang juga selalu akan menyanyangi Ibu Diana. Jangan merasa sendiri. Maaf karena selama ini kami harus tinggal jauh dari Ibu," ucapnya yang disusul dengan sebuah pelukan hangat dan lama.
"Terima kasih sudah menerimaku, Sofi. Terima kasih ...." Lirih wanita itu berbisik seraya mengusap punggung Sofi dengan lembut. Perlahan pelukan itu pun terlepas. "Aku pulang, ya?" ucapnya setelah menyeka sudut matanya yang basah.
"Kenapa tidak menginap saja, Bu? Banyak kamar di sini. Tidur di kamar Cello juga bisa," sahutnya.
Terdengar suara tangis dari dalam kamar Cello. Mereka saling pandang kemudian sama-sama berdiri. Sofi bergegas meninggalkan Diana yang menyusulnya setelah meraih tas di atas meja.
Cello terbangun dan membuat Sofi harus menggendong serta menenangkannya kembali. Wanita itu memang memilih untuk merawat sendiri sang buah hati tanpa bantuan Babysitter. Ia hanya meminta bantuan seorang perawat pria untuk membantunya mengurus semua keperluan Galang, suaminya yang beberapa tahun terakhir harus kehilangan penglihatannya.
"Aku pulang, ya? Besok aku mampir sepulang dari kantor," bisik Diana yang hanya berdiri di ambang pintu. Sofi hanya mengangguk dan membiarkan wanita itu menutup pintu meninggalkannya yang sibuk menimang Cello untuk menidurkannya.
---
Diana bergegas menuju mobil yang terparkir di halaman. Baru saja hendak membuka pintu, ia melihat bayangan dari balik spion lalu menoleh dan menemukan Galang yang datang dengan di dorong oleh seorang perawat.
"Tolong tinggalkan kami," ucap Galang saat mereka sudah berhadapan.
"Baik, Pak." Perawat berwajah tampan itu bergegas pergi meninggalkan mereka.
Agak lama mereka terdiam. Diana hanya berdiri menatap pria di depannya dengan senyum yang tersungging di sudut bibir tipisnya.
"Apa yang terjadi padanya?" tanyanya lirih.
Diana hanya mengangkat sepasang alisnya lalu tergelak kecil seraya mengedarkan pandang ke sekeliling yang terlihat tenang.
"Apa yang kau bicarakan?" Wanita itu berbalik bertanya, seolah tak mengerti.
"Kau tahu betul apa yang kumaksud, Diana. Kau bilang dia akan baik-baik saja asal semua kulakukan sesuai permintaanmu. Apa yang kau lakukan pada keluarga mereka? Ada hubungan apa kau dengan Dinar?" ucapnya dengan suara tertahan.
Diana hanya tertawa kecil untuk beberapa saat, lalu terdiam menatap wajah Galang yang terlihat tegang.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri. Masih untung Sofi mau menampungmu. Bukannya sadar diberi kesempatan hidup lagi dan menjaga anak istri, malah sibuk memikirkan wanita lain. Kau yakin masih punya hati?"
"Aku tidak pernah meninggalkan mereka, Diana."
"Tapi kau tetap menyimpan duri yang terus melukai istrimu, Galang! Kau tahu?!"
"Itu tidak benar," sangkalnya lirih.
"Tidak?! Mulutmu mungkin tidak pernah lagi menyebut nama wanita itu, tapi wajahmu menjelaskan semuanya, Brengs*k! Kau pikir kami bodoh?"
Galang membisu.
"Tiga tahun di sana, ternyata tidak membuatmu melupakan wanita itu. Hebat. Bahkan kematian tidak bisa merubah semuanya? Kau pikir dia masih memiliki perasaan yang sama? Jangan terlalu berharap, Galang." Ketus suara wanita itu membuatnya semakin terdiam.
Terdengar helaan napas agak panjang. Diana terlihat menahan diri agar tidak membuat suara yang bisa membuat Sofi terganggu dan menemukan mereka berada di tempat itu. Bagaimanapun, ia tak ingin semua yang dijaga selama ini hancur begitu cepat. Sofi sudah menjadi bagian dari hidupnya yang tak ingin dia lepaskan.
"Aku tak ingin Sofi semakin menderita. Kau begitu penting baginya. Lalu Cello. Apa kau juga lupa dengan tanggung jawabmu yang terabaikan atas anak itu? Darah dagingmu?"
"Aku hanya ingin tahu. Apa maksud dari kata-katamu waktu itu, Diana. Kenapa kau bilang akan menjaga mereka asal aku tetap hidup? Seharusnya kau biarkan aku mati saja waktu itu."
"Egois!"
"Apa maksudmu?"
"Kau pikir dengan mati bisa membuat semua jadi lebih baik? Wanita itu sudah membuat otakmu jadi tidak waras. Kalau tidak karena Sofi yang memohon, sudah kubiarkan kau selesai di meja operasi waktu itu. Tak tahu diri!" Makian itu keluar begitu saja tanpa mempedulikan wajah tegang Galang yang bahkan sampai mengepalkan tangannya sendiri.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan, Diana?" geramnya dengan suara bergetar.
"Menurutmu?" sahutnya dengan datar.
"Siapa kau ... Diana? Kenapa kau harus mencampuri urusan kami? Apa hubunganmu dengan Dinar?"
"Aku adalah satu-satunya orang yang paling melihatnya hancur. Kau mengerti?"
"Apa maksudmu?" tanya semakin tak mengerti.
"Aku akan mengambil semua darinya. Semua ... yang seharusnya menjadi milikku."
"Kau ...?"
"Aku masih membutuhkanmu, Galang. Kau adalah Pion penting untuk membuat semua rencanaku berjalan sempurna."
"Rencana apa? Jelaskan padaku, Diana! Apa yang akan kau lakukan padanya, hah?!"
"Terus saja berteriak dan biarkan istrimu mengetahui tentang kebodohanmu ini, Galang. Kita lihat siappa yang lebih menderita."
"Kau ...."
"Jangan lupa kalau kau berhutang banyak padaku, Galang. Aku tidak memberinya dengan percuma. Suatu hari kau harus membayarnya. Selamat malam," ucapnya sebelum berbalik dan masuk ke dalam mobil.
Lelaki itu terpekur dengan tangan mengepal, beberapa kali terlihat menghantam bantalan kursi tempatnya terdiam. Rahang tampak merapat, menahan emosi yang dengan payah ia tahan.
"Sebaiknya kita masuk sekarang, Pak." Pemuda itu telah berada di dekatnya setelah mobil yang dikendarai oleh Diana telah pergi. "Bapak ... tidak apa-apa?" tanyanya saat mendapati wajah tegang sang Tuan yang tidaak biasa.
"Kau harus membantuku kali ini, Bian. Tolong aku ...." Pelan dan agak berbisik dia berucap seraya mencengkeram tangan pemuda tampan itu dengan erat.
"Ap- apa maksud, Bapak?" tanyanya terbata, tidak mengerti.
"Kau harus mengantarku besok. Jangan beri tahu Ibu. Mengerti?"
Pemuda bernama Bian itu terdiam, tampak bingung dengan perubahan sikap Galang yang tidak biasa. Setidaknya, setelah tiga tahun berlalu. Sepertinya tugasnya bertambah berat dibandingkan saat mereka tinggal di luar negeri tempo hari.
(next)
ilafit dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup