- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Nyata: SAYUNI (Extended)
...
TS
ayaswords
Kisah Nyata: SAYUNI (Extended)

Quote:
Waktu berjalan sungguh cepat. Tak terasa sudah hampir satu minggu aku bekerja. Beruntung aku adalah tipe orang yang cepat berbaur dengan lingkungan sekitar—jadi menyesuaikan diri sengan orang-orang baru bukan masalah besar bagiku.
Beruntungnya, tempatku bekerja hanyalah perusahaan kecil, jadi jumlah karyawannya pun tidak lebih dari sepuluh orang. Dalam waktu singkat aku sudah kerasan dan akrab dengan semua orang.
Bentuk kantorku lebih mirip seperti rumah singgah dan memang terletak di tengah-tengah salah satu komplek perumahan di pusat kota. Setiap hari, aku bekerja disana bersama tim administrasi yang berjumlah 3 orang. Tidak banyak, tapi karena orangnya asyik-asyik, bersama mereka kantor kecil ini rasanya hangat dan ramai. Tim marketing lapangan juga datang sekali-kali kalau memang sedang tidak ada tugas diluar.
Semuanya berjalan cukup baik. Aku juga mulai berhasil melupakan hal-hal aneh yang terjadi padaku, karena kegiatan di kantor sudah cukup menguras energi. Walau selelah apapun tidur malamku masih tak nyenyak, aku berusaha tidak memikirkannya. Mungkin suatu saat nanti semuanya akan normal dengan sendirinya, begitu pikirku.
Sampai akhirnya, hari-hari itu datang.
Mulai hari senin itu, semua orang di kantor akan sibuk karena perusahaan kami sedang berpartisipasi dalam sebuah event. Hanya aku satu-satunya yang ditugaskan untuk menjaga 'kandang'; sehingga hampir selama sepekan aku akan selalu sendirian.
"Begitu ada kerjaan diluar event, aku bakal serahin ke kamu supaya kamu bisa handle." Kak Farah berusaha menghiburku. Ia tahu aku belum biasa sendirian di tempat kerja kami. Aku juga pernah mengatakan padanya kalau aku mudah bosan, aku lebih senang sibuk daripada diam saja—sedangkan selama hampir satu minggu menunggu sendirian di kantor, pasti tak akan banyak yang bisa kukerjakan. "Anak-anak marketing sekali-sekali pasti kesini buat printbrosur. Aku, Irwan sama Manda juga pasti gantian kesini kok buat ngecek."
Dengan hati-hati aku berkata, "Kak... apa aku gabisa ikutan aja? Atau gantian gitu... sama siapaaa gitu...?"
"Maaf, tapi gak bisa... anak-anak yang lain udah ngantri buat dikasih bagian di event ini. Karena kamu baru masuk, jadi terpaksa kamu yang ditumbalin," Kak Farah menjawab dengan senyum menyesal. "Cuma sampe jum'at, kok. Yang penting kantor gak kosong. Katanya Manda lagi cari OB baru juga buat gantiin yang lama, semoga minggu ini ketemu dan bisa mulai kerja biar kamu ada temen. Kalau bosen, kamu boleh browsing deh. Nonton film kek, apa kek. Asal jangan tidur, takutnya kita kedatengan tamu."
Aku tahu keputusannya sudah bulat. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menurut. Aku cukup sadar diri untuk tidak terlalu menunjukkan keberatanku—bisa-bisa dibilang tidak tahu diri, sudah dikasih kerjaan paling ringan tapi masih saja mengeluh.
Tapi... seandainya Kak Farah tahu kalau masalahnya bukan hanya aku mudah bosan.
Seandainya ia tahu bahwa 'tidak sibuk' dan 'tidak bersama banyak orang' mungkin akan membuatku sulit untuk tidak menghiraukan hal-hal aneh yang kualami.
Aku sangat ingin bercerita padanya, tapi tidak bisa. Siapa yang akan percaya hal-hal tak masuk akal begini? Orang normal pasti berpikir kalau aku hanya mengada-ngada—atau bahkan berpikir kalau aku mengidap stress berat hingga gangguan mental.
Jika bukan aku yang mengalaminya sendiri—jika aku mendengar cerita ini dari orang lain, aku juga akan berpikir seperti itu.
"Yaudah, aku caw, ya!" pamit Kak Farah, membuyarkan lamunanku. Kedua tangannya dipenuhi gembolan. "Kalau ada apa-apa kabarin aja. Hp kamu juga harus aktif terus, ya!"
"Siap, Kak!" jawabku, memasang senyum lebar. "Kak Irwan mana?"
"Udah di depan sih, nunggu di mobil, kayaknya. Daaaah!"
"Hati-hati ya, Kak!" Aku melambaikan tangan sampai Kak Farah berlalu. Lalu aku menarik nafas dalam-dalam. Berusaha menyemangati diri dan mengisi pikiranku dengan hal-hal positif.
Aku harus menyibukkan diri, aku harus menyibukkan diri, aku harus menyibukkan diri.
Belum lama aku duduk di kursi, membuka website perusahaan untuk melihat barangkali ada ruang untuk artikel baru yang bisa kuisi sambil mengulang-ngulang kalimat itu di kepala; tiba-tiba dari pintu ruanganku yang terhubung ke ruang penyimpanan, aku melihat Kak Irwan melintas dan masuk ke ruangan itu.
Apa ada yang tertinggal? Pikirku. Aku segera bangkit berdiri dan menghampirinya. Hendak membantu barangkali ia sedang mencari sesuatu.
"Kak I—," ucapanku seketika terpotong. Betapa terkejutnya aku karena tidak ada siapapun disana.
Ruangan itu kosong. Pintunya pun bahkan tidak terbuka. Seolah memang tidak ada orang yang baru saja masuk kesana.
Dengan cepat berlari kembali ke ruanganku, ke arah jendela, lalu melihat ke arah garasi.
Aku menelan ludah.
Mobil mereka sudah tidak ada. Mereka sudah pergi sedari tadi. Dan aku memang ingat aku mendengar suara mesin dan pintu pagar yang ditutup saat mereka pergi tadi.
Lalu... barusan itu apa lagi?
Sekujur tubuhku merinding. Aku tak bisa melepaskan pandanganku dari pintu ke ruangan penyimpanan. Kalau dia masuk, tentu dia akan keluar lagi, bukan?
Bagian belakang tubuhku mulai terasa panas lagi. "Nggak.” Aku berbicara pada diriku sendiri. Aku mencubit dan menepuk-nepuk pipiku. "Kamu cuma ngayal, Je. Jangan mikir yang aneh-aneh."
Saat itu, aku belum tahu hal buruk apa yang akan terjadi selanjutnya.
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh ayaswords 24-11-2019 20:19
bukhorigan dan 24 lainnya memberi reputasi
23
35.8K
296
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayaswords
#147
PART 18: Pukul 3 Pagi
Saat itu juga, tengkukku merinding. Gamblang sekali Teh Rani ini. Soal makhluk yang mengikutiku, aku tentu sudah tahu. Tapi kalau tiba-tiba diperjelas begitu, sia-sia sudah usaha kerasku untuk mengabaikannya selama ini.
Dan lagi... apa maksud Teh Rani dengan makhluk ini adalah 'kiriman'? Apakah maksudnya... ada seseorang yang mengirim 'itu' untuk mengusik hidupku? Tapi siapa? Kenapa? Apa tujuannya?
Begitu banyak pertanyaan mengambang di otakku. Entah bagaimana aku tidak berani mengutarakannya pada Teh Rani—karena aku terlalu takut mendengar jawabannya.
"Kamu nggak mau tanya bentuknya?" tanya Teh Rani, menanggapi kediamanku.
Aku menggeleng.
"Dia yang menjaga kamu juga," Teh Rani mengarahkan dagunya ke bahu kananku. "kamu nggak mau tahu bentuknya?"
"Nggak, Teh. Aku... masih belum siap ngebayanginnya."
Teh Rani tertawa. "Kamu harus mengerti... kalau Teteh frontal begini tujuannya ya supaya kamu terbiasa. Supaya kamu lama-lama gak takut lagi,” ujarnya. "Teteh juga dulu begitu. Berusaha gak melihat, berusaha gak membayangkan, berusaha gak memikirkan. Tapi makin teteh berusaha, semakin parah juga mereka mengganggu teteh. Jadi jalan satu-satunya ya diterima, dihadapi."
Yang benar saja, pikirku. Sampai kapanpun aku tidak akan terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
"Teh... apa teteh tahu siapa yang melakukan ini sama aku?" tanyaku ragu-ragu.
Teh Rani terdiam sebentar. Ia memejamkan matanya, keliatannya sedang berusaha fokus untuk mendapatkan sesuatu. Lalu tak lama, kedua matanya terbuka. "Kamu punya pacar, ya?"
"Iya."
"Maaf... tapi, ada perempuan yang suka, ya, sama pacar kamu?"
"Hmm... iya." Aku mulai gugup. Bagaimana ia bisa tahu? Dan, kenapa pembicaraannya tiba-tiba mengarah kesini?
Teh Rani menanggapi jawabanku dengan anggukkan pelan. "Kamu... pernah berbuat sesuatu sama perempuan itu sampai dia bisa sakit hati sama kamu?"
Pertanyaan itu membuatku terdiam cukup lama, otakku berpikir keras. "Gak tahu... tapi aku gak pernah merasa begitu,” jawabku. Teh Rani hanya menganggukkan kepalanya lagi, tidak bicara apapun, namun entah bagaimana aku merasa tatapannya penuh arti. Setelah itu, aku terhenyak sendiri karena baru menyadari sesuatu. "Teh... apa perempuan itu yang melakukan semua ini?"
"Siapa lagi,” jawab Teh Rani.
KLATAK! Tiba-tiba sebuah bunyi dari arah lemari baju mengagetkanku. Sudah lama ini tidak terjadi, namun pintu geser lemari itu entah sejak kapan terbuka lagi—padahal aku bisa ingat dengan jelas kalau aku tak pernah meninggalkannya dalam keadaan seperti itu. Suara tawa Teh Rani pun terdengar dari layar ponsel, membuyarkan lamunanku.
"Ada yang mau ngajak saya kenalan rupanya. Teman kamu banyak juga, ya," ujarnya. "Coba switch kameranya."
Aku pun menukar gambar kamera, agar teh Teh Rani bisa melihat pemandangan di hadapanku.
"Gerakin pelan-pelan." pinta Teh Rani. Akupun menuruti kata-katanya, sampai ia bilang, "Stop disitu."
Sekarang, gambar lemari terekam di layar ponselku. Tengkukku merinding lagi. Sejak tadi, aku tidak menyebut apapun soal lemari. Aku hanya memikirkannya. Tapi sepertinya Teh Rani tahu sesuatu tentang lemari itu. Aku menunggu komentarnya dengan sedikit berdebar. "Apa ada yang teteh lihat?"
"Iya. Itu, tepat di sudut dekat pintu lemari yang terbuka," jawabnya, lalu ia mengatakan sesuatu yang tak akan pernah kulupakan. "Satu perempuan, satu laki-laki. Mereka sudah ada di tempat ini sejak lama. Tapi gak jahat kok. Biasanya mereka berdiri saja disitu mandangin kamu. Kayak sekarang."
***
Mataku masih lekat terpejam. Tapi suara-suara itu datang lagi, berisik sekali memenuhi isi kepalaku. Suara-suara yang terasa sangat nyata, bergema dan sesekali berdengung hingga terasa di telingaku.
Tidurku gelisah. Aku memutar tubuhku ke kanan dan ke kiri, tapi tak bisa menemukan posisi yang pas. Udara rasanya begitu panas meski aku memakai baju tipis dan kipas anginku menyala di putaran paling kencang.
Itu, dan suara-suara bising di kepalaku akhirnya sukses membuatku terbangun. Suasana di kamarku remang-remang seperti biasanya, satu-satunya sumber cahaya adalah dari televisi yang kubiarkan menyala, namun kumatikan suaranya. Kugapai ponsel di samping bantalku.
Seperti biasa, aku terbangun tepat di pukul 03.00 pagi.
Aku mengelap keringat di keningku. Saat terbangun, suara-suara di kepalaku itu langsung hilang. Tapi tidak dengan hawa panas yang kurasakan. Apakah udara di kamar ini memang sepanas ini, ataukah... panasnya memang menguar dari tubuhku?
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Mengucap istighfar dan berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuatku takut. Setelah berbicara dengan Teh Rani, sebelum tidur tadi aku tak bisa melepaskan pandangan dari sudut lemari, dan aku juga berusaha menahan hasrat untuk menengok ke sebelah kiri—takut kalau-kalau aku akan melihat 'makhluk' itu. Aku jadi sangat paranoid. Mungkin itu sebabnya tidurku juga jadi tidak nyenyak.
Aku mengalihkan perhatianku kembali ke ponsel. Ada pesan dari Adi yang belum kubaca karena malam tadi aku sudah tertidur. Aku sempat mengirim lagi pesan padanya, menceritakan secara singkat tentang apa yang dikatakan Teh Rani padaku. Termasuk tentang Gita, meski aku tahu ia pasti tak akan percaya.
Tapi anehnya, ia tidak mengatakan apapun tentang hal itu. Ia hanya membalas:
'Besok kan libur, kamu ikut aku. Aku punya kenalan Ustadz yang mungkin bisa bantu kamu. Aku jemput jam 9 ya. Nanti pagi abis bangun langsung siap-siap.'
Baru saja aku memasang alarm, lalu meletakkan kembali ponselku untuk kembali tidur karena tidak seperti hari-hari weekend biasanya, besok aku harus bangun lebih pagi. Namun tiba-tiba, aku mendengar suara-suara diluar.
"Pasti kucing si ibu lagi," gumamku kesal. Ini biasa terjadi setiap malam, kucing liar yang dipelihara Bu Wati memang sering patroli untuk mencari makanan di tong-tong sampah kecil di luar setiap kamar kos. Biasanya, setiap pagi aku harus membereskan tong sampahku yang isinya sudah berserakan di lantai. Di lingkungan rumah kosanku, tak pernah sekalipun kulihat kucing lain selain kucing Bu Wati. Jadi, dia pasti pelakunya.
Aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan pintu. Berniat mengusir kucing itu dan mengikat plastik sampahku agar ia tak bisa mengacak-acaknya.
"Husss!" hardikku. Benar saja, ketika aku keluar, kulihat kucing Bu Wati sedang berusaha mencari-cari sesuatu di tong sampahku. Saat kuusir, dengan cepat ia berlari menjauh. Akupun mengikat plastik sampahku dengan dua ikatan kencang. "Dengan gini kamu gak akan bisa bongkar-bongkar lagi, kucing nakal!"
Akupun kembali masuk dan mengunci pintu. Namun belum sampai semenit aku berbaring sambil memejamkan mata, suara-suara diluar kembali terdengar. Kali ini lebih ribut. Duk, duk, duk! Kudengar pintu kamarku diseruduk oleh kepala kecil kucing itu. Pasti ia ingin mencoba masuk, pikirku. Secepat kilat aku berlari ke pintu.
"Hei ka—" hardikanku terputus ketika melihat kucing itu tidak ada disana. Cepat sekali perginya, padahal jarak antara terdengarnya suara itu sampai aku keluar untuk mengecek terbilang hanya hitungan detik.
Tong sampahku sudah dalam kondisi terguling dan plastik sampahnya keluar dari posisi awalnya, mesti isinya tidak berserakan karena tadi sudah kuikat kencang. Akupun menggeram kesal. Besok harus kuceritakan hal ini pada Bu Wati, supaya kucing itu dibiarkan diluar lingkungan kosan saja kalau malam tiba.
Namun betapa terkejutnya aku ketika tak sengaja kulihat kucing Bu Wati di lantai bawah. Kupikir ia masih ada di sekitar lantai dua, karena tidak mungkin dalam waktu beberapa detik saja dia sudah berada di sana—kecuali kalau kucing itu lompat dari balkon dengan jarak setinggi ini.
Tiba-tiba kucing itu mengeong, beberapa kali mengeong keras sambil melihat ke atas.
Ke arahku.
Dan lagi... apa maksud Teh Rani dengan makhluk ini adalah 'kiriman'? Apakah maksudnya... ada seseorang yang mengirim 'itu' untuk mengusik hidupku? Tapi siapa? Kenapa? Apa tujuannya?
Begitu banyak pertanyaan mengambang di otakku. Entah bagaimana aku tidak berani mengutarakannya pada Teh Rani—karena aku terlalu takut mendengar jawabannya.
"Kamu nggak mau tanya bentuknya?" tanya Teh Rani, menanggapi kediamanku.
Aku menggeleng.
"Dia yang menjaga kamu juga," Teh Rani mengarahkan dagunya ke bahu kananku. "kamu nggak mau tahu bentuknya?"
"Nggak, Teh. Aku... masih belum siap ngebayanginnya."
Teh Rani tertawa. "Kamu harus mengerti... kalau Teteh frontal begini tujuannya ya supaya kamu terbiasa. Supaya kamu lama-lama gak takut lagi,” ujarnya. "Teteh juga dulu begitu. Berusaha gak melihat, berusaha gak membayangkan, berusaha gak memikirkan. Tapi makin teteh berusaha, semakin parah juga mereka mengganggu teteh. Jadi jalan satu-satunya ya diterima, dihadapi."
Yang benar saja, pikirku. Sampai kapanpun aku tidak akan terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
"Teh... apa teteh tahu siapa yang melakukan ini sama aku?" tanyaku ragu-ragu.
Teh Rani terdiam sebentar. Ia memejamkan matanya, keliatannya sedang berusaha fokus untuk mendapatkan sesuatu. Lalu tak lama, kedua matanya terbuka. "Kamu punya pacar, ya?"
"Iya."
"Maaf... tapi, ada perempuan yang suka, ya, sama pacar kamu?"
"Hmm... iya." Aku mulai gugup. Bagaimana ia bisa tahu? Dan, kenapa pembicaraannya tiba-tiba mengarah kesini?
Teh Rani menanggapi jawabanku dengan anggukkan pelan. "Kamu... pernah berbuat sesuatu sama perempuan itu sampai dia bisa sakit hati sama kamu?"
Pertanyaan itu membuatku terdiam cukup lama, otakku berpikir keras. "Gak tahu... tapi aku gak pernah merasa begitu,” jawabku. Teh Rani hanya menganggukkan kepalanya lagi, tidak bicara apapun, namun entah bagaimana aku merasa tatapannya penuh arti. Setelah itu, aku terhenyak sendiri karena baru menyadari sesuatu. "Teh... apa perempuan itu yang melakukan semua ini?"
"Siapa lagi,” jawab Teh Rani.
KLATAK! Tiba-tiba sebuah bunyi dari arah lemari baju mengagetkanku. Sudah lama ini tidak terjadi, namun pintu geser lemari itu entah sejak kapan terbuka lagi—padahal aku bisa ingat dengan jelas kalau aku tak pernah meninggalkannya dalam keadaan seperti itu. Suara tawa Teh Rani pun terdengar dari layar ponsel, membuyarkan lamunanku.
"Ada yang mau ngajak saya kenalan rupanya. Teman kamu banyak juga, ya," ujarnya. "Coba switch kameranya."
Aku pun menukar gambar kamera, agar teh Teh Rani bisa melihat pemandangan di hadapanku.
"Gerakin pelan-pelan." pinta Teh Rani. Akupun menuruti kata-katanya, sampai ia bilang, "Stop disitu."
Sekarang, gambar lemari terekam di layar ponselku. Tengkukku merinding lagi. Sejak tadi, aku tidak menyebut apapun soal lemari. Aku hanya memikirkannya. Tapi sepertinya Teh Rani tahu sesuatu tentang lemari itu. Aku menunggu komentarnya dengan sedikit berdebar. "Apa ada yang teteh lihat?"
"Iya. Itu, tepat di sudut dekat pintu lemari yang terbuka," jawabnya, lalu ia mengatakan sesuatu yang tak akan pernah kulupakan. "Satu perempuan, satu laki-laki. Mereka sudah ada di tempat ini sejak lama. Tapi gak jahat kok. Biasanya mereka berdiri saja disitu mandangin kamu. Kayak sekarang."
***
Mataku masih lekat terpejam. Tapi suara-suara itu datang lagi, berisik sekali memenuhi isi kepalaku. Suara-suara yang terasa sangat nyata, bergema dan sesekali berdengung hingga terasa di telingaku.
Tidurku gelisah. Aku memutar tubuhku ke kanan dan ke kiri, tapi tak bisa menemukan posisi yang pas. Udara rasanya begitu panas meski aku memakai baju tipis dan kipas anginku menyala di putaran paling kencang.
Itu, dan suara-suara bising di kepalaku akhirnya sukses membuatku terbangun. Suasana di kamarku remang-remang seperti biasanya, satu-satunya sumber cahaya adalah dari televisi yang kubiarkan menyala, namun kumatikan suaranya. Kugapai ponsel di samping bantalku.
Seperti biasa, aku terbangun tepat di pukul 03.00 pagi.
Aku mengelap keringat di keningku. Saat terbangun, suara-suara di kepalaku itu langsung hilang. Tapi tidak dengan hawa panas yang kurasakan. Apakah udara di kamar ini memang sepanas ini, ataukah... panasnya memang menguar dari tubuhku?
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Mengucap istighfar dan berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuatku takut. Setelah berbicara dengan Teh Rani, sebelum tidur tadi aku tak bisa melepaskan pandangan dari sudut lemari, dan aku juga berusaha menahan hasrat untuk menengok ke sebelah kiri—takut kalau-kalau aku akan melihat 'makhluk' itu. Aku jadi sangat paranoid. Mungkin itu sebabnya tidurku juga jadi tidak nyenyak.
Aku mengalihkan perhatianku kembali ke ponsel. Ada pesan dari Adi yang belum kubaca karena malam tadi aku sudah tertidur. Aku sempat mengirim lagi pesan padanya, menceritakan secara singkat tentang apa yang dikatakan Teh Rani padaku. Termasuk tentang Gita, meski aku tahu ia pasti tak akan percaya.
Tapi anehnya, ia tidak mengatakan apapun tentang hal itu. Ia hanya membalas:
'Besok kan libur, kamu ikut aku. Aku punya kenalan Ustadz yang mungkin bisa bantu kamu. Aku jemput jam 9 ya. Nanti pagi abis bangun langsung siap-siap.'
Baru saja aku memasang alarm, lalu meletakkan kembali ponselku untuk kembali tidur karena tidak seperti hari-hari weekend biasanya, besok aku harus bangun lebih pagi. Namun tiba-tiba, aku mendengar suara-suara diluar.
"Pasti kucing si ibu lagi," gumamku kesal. Ini biasa terjadi setiap malam, kucing liar yang dipelihara Bu Wati memang sering patroli untuk mencari makanan di tong-tong sampah kecil di luar setiap kamar kos. Biasanya, setiap pagi aku harus membereskan tong sampahku yang isinya sudah berserakan di lantai. Di lingkungan rumah kosanku, tak pernah sekalipun kulihat kucing lain selain kucing Bu Wati. Jadi, dia pasti pelakunya.
Aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan pintu. Berniat mengusir kucing itu dan mengikat plastik sampahku agar ia tak bisa mengacak-acaknya.
"Husss!" hardikku. Benar saja, ketika aku keluar, kulihat kucing Bu Wati sedang berusaha mencari-cari sesuatu di tong sampahku. Saat kuusir, dengan cepat ia berlari menjauh. Akupun mengikat plastik sampahku dengan dua ikatan kencang. "Dengan gini kamu gak akan bisa bongkar-bongkar lagi, kucing nakal!"
Akupun kembali masuk dan mengunci pintu. Namun belum sampai semenit aku berbaring sambil memejamkan mata, suara-suara diluar kembali terdengar. Kali ini lebih ribut. Duk, duk, duk! Kudengar pintu kamarku diseruduk oleh kepala kecil kucing itu. Pasti ia ingin mencoba masuk, pikirku. Secepat kilat aku berlari ke pintu.
"Hei ka—" hardikanku terputus ketika melihat kucing itu tidak ada disana. Cepat sekali perginya, padahal jarak antara terdengarnya suara itu sampai aku keluar untuk mengecek terbilang hanya hitungan detik.
Tong sampahku sudah dalam kondisi terguling dan plastik sampahnya keluar dari posisi awalnya, mesti isinya tidak berserakan karena tadi sudah kuikat kencang. Akupun menggeram kesal. Besok harus kuceritakan hal ini pada Bu Wati, supaya kucing itu dibiarkan diluar lingkungan kosan saja kalau malam tiba.
Namun betapa terkejutnya aku ketika tak sengaja kulihat kucing Bu Wati di lantai bawah. Kupikir ia masih ada di sekitar lantai dua, karena tidak mungkin dalam waktu beberapa detik saja dia sudah berada di sana—kecuali kalau kucing itu lompat dari balkon dengan jarak setinggi ini.
Tiba-tiba kucing itu mengeong, beberapa kali mengeong keras sambil melihat ke atas.
Ke arahku.
Diubah oleh ayaswords 13-10-2019 11:19
pulaukapok dan 18 lainnya memberi reputasi
19