- Beranda
- Stories from the Heart
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)
...
TS
ayahnyabinbun
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)

Assalamualaikum semua.
Ini hanya goresan tinta imajinasi seorang lelaki tua yang telat menemukan hasratnya dalam hal menulis.
No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus ya.
Cerita ini murni Fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat mohon di maklumi.
Terakhir.
Selamat menikmati bacaan ringan ini.
Spoiler for Prolog:
-Jakarta-
UGD RS di jakarta.
"Bagaimana istri saya sus!? " tanya seorang pria kepada suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Maaf pak masih kritis saya tidak bisa memberitahu lebih rinci kondisi istri bapak, itu wewenang dokter," jawab suster cepat kemudian dia berlalu meninggalkan lelaki itu.
Lelaki itu pun bersandar di tembok rumah sakit, raut mukanya terlihat lemas dan pucat kedua tangannya gemetar tatkala menutup wajahnya.
"Maafkan aku Naura, hiks, maafkan aku, " gumam lelaki itu sambil terisak menangis tersedu-sedu.
Seberkas cahaya membentuk sosok manusia berjongkok di depan lelaki itu, "jangan menangis sayang, ini memang sudah waktuku, jaga anak kita ya, dia ganteng seperti kamu, cup. " seru sesosok cahaya tersebut sambil mencium kening sang lelaki, dan cahaya itu pun berlalu bersama sesosok laki-laki berjubah putih yang menemaninya.
Lelaki itu mengangguk lesu sambil tersenyum tipis, melihat ruh istrinya menghilang menuju ufuk matahari dikala senja.
"Krieeek" suara pintu UGD terbuka, keluar seorang dokter dan beberapa suster menggendong seorang bayi.
"Pak Bagas, bayi bapak kami bersihkan dulu di ruang bayi ya pak, dokter ingin bicara dengan bapak," jawab suster dengan lemah lembut ke lelaki itu.
Lelaki itu pun berdiri, berjalan pelan menuju dokter yang menundukkan kepala di depan lelaki itu, gurat penyesalan terlihat dari wajah sang dokter.
"Sudah tidak apa-apa dok, saya sudah tahu, sehebat apapun anda tidak bisa melawan takdir, " jawab lelaki itu sambil menepuk pundak sang dokter.
"Ba-bagaimana bapak bisa tahu!? " jawab dokter dengan rona kebingungan.
Lelaki itu kemudian berlalu menuju ruangan bayi, langkah demi langkah terasa berat, tangisan tak terbendung dari kedua matanya, lelaki itu memukul-mukul dadanya agar menyisakan kelegaan saat ia bernafas.
"OOOEeeeK...OOOEEEEK...OOOEEEK," seketika tangis bayi memecah kesunyian lorong rumah sakit, lelaki itu mempercepat langkah demi langkahnya, terlihat seorang bayi sedang di gendong suster, menangis dengan kencangnya.
"Silakan pak di gendong anaknya, sudah saya bersihkan dedek bayinya," jawab suster ke lelaki itu.
Sang lelaki menerima si bayi dari tangan suster, menggendong dengan penuh kehati-hatian, sang bayi yang tadi menangis kencang seketika terdiam di pelukan lembut sang ayah.
"Mau di beri nama siapa pak bayinya?" tanya suster.
"Surya, Surya dikala senja. " jawab bapak Bagas lirih.
Spoiler for Chapter 1 : sang Surya:
Jakarta, 2018.
"TENG!! TENG!! TENG!!" bunyi bel terdengar hingga ujung jalan setapak depan sebuah sekolah, segerombolan anak tunggang langgang berlarian menuju gerbang sekolah tersebut.
Pak Kusni penjaga sekolah, merangkap satpam, merangkap manusia terlihat mendorong gerbang dengan kepayahan, faktor usia seperti menggerogoti tenaganya yang dulu seperti kuda jantan, nafasnya terdengar mengebu-gebu seperti pemain film erotis tahun 80an, padahal gerbang sekolahnya hanya ada satu, bayangkan bila sekolah ini memiliki 7 gerbang layaknya pintu neraka, mungkin senin beliau sudah di kebumikan.
Dari ufuk timur terdengar suara dengan lantang.
"HEI KUSNI!!! HENTIKAN!!! GUA MASIH MAU SEKOLAH KUSNI!!!"
Remaja itu berlari bersama gerombolan murid yang telat bagai babi hutan.
Pak Kusni yang sedang mendorong gerbang terdiam sesaat, lalu melihat asal suara tersebut, matanya melotot melihat remaja tersebut berlari seperti maling BH yang dikejar warga, dengan sisa tenaga tuanya di dorong gerbang itu dengan tergesa-gesa,
"bocah sialan itu tak boleh masuk..! TIDAK BOLEH MASUK..! YOU SHALL NOT PASS..!" gumam lelaki tua itu sambil mengutip kata-kata Gandalf Lord Of The Ring.
"SIALAN KAU KUSNI! GUA TIDAK AKAN KALAH DENGAN TUA BANGKA MACAM KAU KUSNI!!" teriak lagi remaja itu dengan lantang, langkah kakinya semakin kencang ia sampai lupa resleting celananya masih menganga memberikan sensasi cooling breeze di sekujur pangkal pahanya.
Mendengar itu Kusni geram, ia semakin menggebu-gebu mendorong gerbang, akan tetapi, "KREEK!!" suara tulang bergeser bersua, teriakan tertahan mengema di kalbu Kusni.
"AAARRRGGHH!! AMPUN GUSTI!! PINGGANGKU!!" sakit encok strata tiga Kusni kambuh, tubuh kusni tertahan gerbang, tanpa adanya gerbang mungkin tubuh Kusni akan tersungkur ke tanah, ada hubungan simbiosis mutualisme yang ironis antara Kusni dan gerbang.
"Pagi beh, kambuh?! AHAAY!" ejek remaja itu ke pak Kusni sambil berlenggang menuju kelas.
Sakit, malu, vertigo menjadi satu, itulah yang di rasakan Kusni sekarang, melihat murid itu berlalu membuat matanya berkaca-kaca seutas kata terucap dari bibir Kusni.
"Dasar bocah KAMPRET!!" Kusni tertahan mematung sambil menggenggam gerbang sekolah yang masih seperempat terbuka.
Kelas 2-A sudah di penuhi manusia-manusia unggulan, datang setiap pagi untuk mencari ilmu, bersiap-siap menatap masa depan dengan penuh harapan cemerlang, di belakang dua insan lelaki saling bercakap.
"Cok, film bokep yang kemaren elu kirim crash, kirim lagi dong bro," celoteh Bambang ke Ucok di baris belakang.
"BAH!! Handphone kau saza yang zadul Bams, buktinya zalan-zalan zaja tuh di hp ku, makanya beli hape zangan di pasar malam lai," jawab Ucok dengan logat medannya yang kental, sungguh percakapan yang menginspirasi kaum muda mudi INDONESIA.
"Eh eh eh, guru guru guru!" riuh anak-anak kelas 2-a, sesosok lelaki tinggi, atletis nan tampan terlihat di depan pintu, kemudian berlalu, berganti menjadi lelaki pendek, tambun dengan kepala botak di tengah layaknya lapangan bola, sekilas adegan tadi seperti iklan L-men yang gagal.
Pak Hartono masuk ke dalam kelas, melihat sekeliling kelas sambil menyapa.
"Pagi anak-anak!!", sapa pak Hartono.
"PAGI PAK GURUUU!!" Jawab murid-murid dengan serentak dan kompak.
Tiba-tiba seorang anak berdiri di depan pintu kelas, wajahnya terlihat kecapaian dan pucat.
"Yaaah! Telat!" ujar anak itu, pak Hartono menelisik dengan teliti anak yang terlambat itu, kemudian berujar "hei kamu! Berani kamu telat di jam saya! Kesini kamu!" perintah pak Hartono dengan galaknya, anak itu pun maju dengan perlahan, kepalanya menunduk malu tidak bisa menatap pak Hartono, "Push up 25 kali! Jikalau tidak sanggup silakan keluar kelas saya!!" ujar pak Hartono dengan tegas, ketika anak itu mengambil ancang-ancang untuk melakukan push up, sesosok mahkluk mengintip dari balik jendela di barisan pojok kanan belakang, matanya nanar namun tajam melihat situasi kelas.
"oke situasi aman," ujarnya dengan percaya diri, dengan mode silent ia menyelundupkan tasnya dari balik jendela menuju bangku belajar, lalu ia merangsek masuk dari celah jendela, bak ular kadut dengan licinnya ia masuk melewati celah lumayan sempit itu, setengah badannya sudah masuk ke dalam ruang kelas, tangan kirinya menyentuh meja kemudian ia mendorong sisa tubuhnya melalui tembok menggunakan tangan kanan, dengan sangat cepat dan tanpa satu makhluk pun mengetahui ia sudah masuk ke dalam kelas, dengan posisi menungging di atas meja, misi pun berhasil, ia turun dari meja kemudian menikmati pemandangan Budi yang sedang push up.
"Budi, terima kasih ya, tanpa elu sebagai pengalih perhatian gua ngak bisa sampai di dalam kelas, Budi, kamu, numero uno," gumam pria itu di dalam hati.
Iya, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Surya, anak dari bapak Bagas prakasa yang kalian liat kisah pilunya di prolog, anak ini tumbuh besar menjadi sosok lelaki tampan, pintar dan soleh, itu hanya menurut penuturan bapaknya sendiri.
Push up Budi sudah berada di angka 23 kali, keringat bercucuran dari kening sampai badan Budi, bahkan sampai muncul bercak basah di daerah selangkangannya, pergelangan tangannya mulai goyah, lututnya bergetar 4,5 skala richter, tubuh yang di rancang untuk main warnet seharian itu tidak mampu menerima push up lebih dari 20 kali.
"Pak, sudah ya pak, saya sudah tidak sanggup," nego Budi ke pak Hartono.
Pak Hartono sedikit terenyuh melihat Budi yang kecapaian, "aduh, kasihan kamu nak, ya sudah … tambah lima lagi push upnya, biar genap jadi 30," tutur pak Hartono dengan melepas topeng kesedihannya, mata Budi nanar namun kosong menatap lantai, terlihat raut penyesalan teramat sangat dari wajah Budi.
Pak Hartono mulai menuju meja ia mengambil daftar absensi lalu mulai mengabsen satu per satu muridnya, dimulai dari Ani, Deni dan seterusnya, murid-murid saling bersahutan saat nama mereka disebut pak Hartono, ketika mulut pak Hartono menyebut nama Surya, "HADIR PAK..!" sahut seseorang pemuda dari belakang dengan lantang.
Seisi kelas kaget, terperanga sambil menganga melihat Surya sudah di dalam kelas, pertanyaan dan praduga berkecamuk di hati mereka.
"Bagaimana ia bisa masuk!?"
"Sejak kapan ia ada di kelas?!"
"Kenapa aku ada di kelas ini!!" gumam Ari yang seharusnya masuk kelas 2-d.
semua perhatian itu berbanding terbalik dengan kondisi Budi yang tanpa perhatian satupun dari teman-temannya.
"Sakit, banget, tapi tak berdarah, sungguh biadab temen-temen gua, kata mereka kita teman sejati, selalu di hati, HILIH KINTHIL!!" ujar Budi di dalam hati kesal dengan teman-temannya.
Pelajaran berjalan setelah sesi absensi, pak Hartono mulai menjelaskan di depan kelas, suasana hening terasa, murid-murid mulai mendengarkan dengan seksama, kecuali Surya yang sedang terlelap di mejanya, posisinya yang berada paling belakang dan di tutupi Bambang yang jangkung dan Ucok yang bulat menjadikan tempat duduknya seperti vila di puncak, tempat paling nyaman untuk beristirahat.
"TOK TOK TOK TOK" bunyi ketukan pintu memecah keheningan kelas, pak Zul sang kepala sekolah sedang berdiri dengan seorang gadis cantik nan manis di sebelahnya, "pagi pak, maaf ganggu kelasnya, ini ada murid baru kelas 2-a," ujar pak Zul, "oh iya pak, silakan neng masuk, perkenalkan diri dulu sama teman yang lain," jawab pak Hartono sambil mempersilakan gadis itu masuk.
Sesosok gadis manis memakai hijab putih berjalan perlahan menuju depan kelas, wajah manisnya terlihat malu-malu ketika bertatap muka dengan murid-murid kelas 2-A, "pagi semua, nama aku Naura kelana subhi, panggil saja Naura," jawab Naura sambil tersenyum simpul memperlihatkan lesung pipinya, seketika itu juga rentetan panah asmara menusuk hati para lelaki di kelas 2-A, kecuali Surya yang sedang berkelana di pulau kapuk dan para murid perempuan yang menunjukkan ekspresi tersaingi secara jasmani dan rohani.
"kamu duduk di belakang ya nak Naura, soalnya bangku yang kosong cuman ada di sebelah sana, " ujar pak Hartono sambil menunjuk bangku disebelah Surya.
Naura pun berjalan menuju bangkunya, diiringi tatapan nakal murid laki-laki di kelas itu, ia kemudian duduk sambil mulai mengeluarkan peralatan belajarnya.
Bambang dan Ucok yang duduk di depan Naura pun sontak membalikkan badan untuk berkenalan.
"Hai Naura, namanya cantik secantik orangnya," puji Bambang dengan gaya sok coolnya.
"hei Naura, cantik kali kau, nanti pulang ku antar pakai motor ninja ku mau tak?" goda Ucok sambil menyisir jambul khatulistiwa miliknya.
Melihat gelagat kedua lelaki di depannya naura langsung ilfeel stadium akhir, didalam hatinya ia berteriak "TIDAAAAAAK..!" akan tetapi Naura hanya membalas dengan senyum malu tapi palsu ke kedua orang utan itu.
"ikh amit-amit jabang bayi, masa hari pertama di sekolah baru gua udah di godain cowok alay macem keset kayak gini, Ya tuhan salah apa hambamu ini, " ketus Naura di dalam hati.
"Jangan di anggap serius, mereka cuman bercanda."
"DEG...!!"
Rona wajah Naura terlihat terkejut, sebuah telepati terkirim langsung menuju fikirannya, ia mencari sumber telepati itu, dan matanya tertuju pada punggung lelaki teman sebangkunya, Surya.
Spoiler for Index:
PART 1
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
CHAPTER 6
CHAPTER 7
CHAPTER 8
CHAPTER 9
CHAPTER 10
CHAPTER 11
CHAPTER 12
CHAPTER 13
CHAPTER 14
CHAPTER 15
CHAPTER 16
CHAPTER 17
CHAPTER 18
CHAPTER 19
CHAPTER 20
CHAPTER 21
CHAPTER 22
CHAPTER 23
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
CHAPTER 28
CHAPTER 29
CHAPTER 30
PART 2
CHAPTER 2.1
CHAPTER 2.2
CHAPTER 2.3
CHAPTER 2.4
CHAPTER 2.5
CHAPTER 2.6
CHAPTER 2.7
CHAPTER 2.8
CHAPTER 2.9
CHAPTER 2.10
CHAPTER 2.11
CHAPTER 2.12
CHAPTER 2.13
CHAPTER 2.14
CHAPTER 2.15
CHAPTER 2.16
CHAPTER 2.17
CHAPTER 2.18
CHAPTER 2.19
CHAPTER 2.20
CHAPTER 2.21
CHAPTER 2.22
CHAPTER 2.23
CHAPTER 2.24
CHAPTER 2.25
CHAPTER 2.26
CHAPTER 2.27
CHAPTER 2.28
CHAPTER 2.29
Diubah oleh ayahnyabinbun 29-05-2022 00:42
namakuve dan 116 lainnya memberi reputasi
115
162.2K
Kutip
916
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#511
Chapter 2.15
Spoiler for sahabat:
Seorang anak kecil duduk di bangku pinggir taman seorang diri, sorot sendu matanya berpendar menatap teman-teman sejawatnya yang tengah berlalu lalang bermain bersama dengan riang gembira layaknya anak-anak kecil kebanyakan di jam istirahat pagi itu.
"Kamu tidak ikut bermain?" tanya seorang wanita yang datang perlahan dari belakang. Telapak tangannya dingin mengusap pucuk kepala anak kecil itu dengan lembut.
Anak kecil itu menepis tangan wanita tersebut dengan perlahan sambil menoleh kearah asal suara, anak kecil itu kemudian mengeleng-gelengkan kepalanya seraya kembali menatap kearah teman-temannya yang sedang bermain.
"Kamu kenapa? Sedang marahan sama teman-teman kamu?" tanya sang wanita kembali.
"Enggak kok, aku enggak malah ke meleka," jawab anak kecil itu dengan polosnya.
.
"Ooh … mau aku temani?" tanya sang wanita kembali.
Anak kecil itu mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan sang wanita itu. Sang wanita kemudian duduk disebelah sang anak kecil dibawah naungan rindangnya pohon beringin.
"Boleh saya tanya sesuatu ke kamu?"
"Apa?"
"Kamu … masih tidak takut dengan saya?" wanita itu tiba-tiba menoleh memperlihatkan wajah pucat pasi miliknya yang dihiasi dengan darah dan sedikit nanah mengalir dari atas kepala, matanya merah menatap nanar kearah manik mata sang anak kecil dengan bola mata yang hampir keluar dari rongganya.
Anak kecil itu hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari terkekeh kecil. "Kunti lucu," seru sang anak kecil dengan polos.
"Hmmm …" desal panjang tanda menyerah sang wanita yang tidak lain adalah kuntilanak penunggu pohon beringin dibelakang sang anak kecil.
"Kamu kenapa sih selalu duduk menyendiri disini?" tanya sang kunti sembari mengusap-usap memainkan rambutnya yang panjang.
Anak kecil itu menundukkan kepala, dengan rona sedih ia bersua, "aku tidak punya teman … semua teman aku menjauhi aku … kata mereka aku aneh," serunya pelan.
Sang Kunti hanya bisa melihat anak kecil itu dengan tatapan jengah, "kamu memang aneh … anak-anak lain akan menjerit ketakutan ketika melihat wujud aku ini, sedangkan kamu … kamu malah bilang aku lucu, sudah jelas sangat berbeda dengan mereka," seru Kunti dengan nada malas.
"Belbeda … tapi aku tidak ingin belbeda … aku ingin sama seperti teman-teman yang lain."
"Kamu mau jadi teman aku?"
Anak kecil itu menatap sang kuntilanak tersebut sembari tersenyum tipis.
"Namaku Senja … Kunti siapa namanya?" tanya Senja kecil dengan polosnya.
Ingatan masa lalu itu terlintas di fikiran Bagas, ia berjalan menatap punggung tegap milik Senja yang berjalan membelakanginya. Sudah hampir satu jam ia dan Senja beserta para jin-jin kera berjalan melewati hutan untuk menuju desa Raksa, mereka melewati hutan untuk meminimalisir bertemu dengan pasukan jin-jin hitam di jalan utama. Tiba-tiba tanpa aba-aba Senja menghentikan langkahnya membuat rombongan dibelakangnya ikut menghentikan derap langkah mereka.
"Ayah dengar itu?" bisik Senja.
Bagas terdiam mencoba mencari setitik suara di tengah hutan, sayup-sayup terdengar sebuah suara rintih kecil di balik semak-semak hutan.
"Suara itu dari bawah pohon besar itu yah," seru Senja sembari menunjuk sebuah pohon beringin besar yang ditutupi semak belukar disekitarnya.
"Kau disini jaga putri Karina dan yang lain, ayah yang akan melihat kesana," seru Bagas yang di ikuti anggukan pelan Senja.
Dengan waspada Bagas berjalan perlahan kearah pohon beringin besar tersebut mengikuti asal suara isak tangis dibaliknya, perlahan ia melewati semak belukar yang berada disekitar pohon tersebut dan menemukan sebuah rongga menganga di bawah pohon beringin itu, suara tangis itu tiba-tiba terhenti disaat Bagas berusaha menatap kedalam rongga tersebut.
-DOR-
-DOR-
Dua tembakan peluru air hampir mengenai wajah Bagas, untungnya Bagas segera mengelak dan berlindung di pinggir rongga pohon beringin tersebut.
-Klik-
-Klik-
-Klik-
-Klik-
Terdengar suara pelatuk senjata yang kehabisan amunisi dari dalam rongga pohon beringin, "Siapa pun didalam sana aku bukan orang jahat," seru Bagas lantang, dirasa sudah aman Bagas berusaha mengintip kembali kedalam.
"Ja-jangan mendekat …" pekik suara seorang gadis di dalam rongga pohon.
Bagas tercelkat disaat ia menatap kedalam, ia mendapati seorang gadis berhijab tengah mengacungkan senjata laras pendek kearahnya dengan seorang gadis berambut biru yang bersimpuh di pangkuan.
"Naura … kamu Naura kan!?" tanya Bagas sembari memicingkan pandangannya seakan tidak percaya dengan apa yang matanya lihat.
Naura menurunkan senjata milik Luna yang ia ambil dari dalam tas, perasaan lega segera menjalar diseluruh tubuhnya disaat ia mendapati om Bagaslah yang ternyata berada dibibir rongga pohon beringin itu dan seketika Naura terjatuh dan kehilangan kesadaran.
"Kunti hentikan kunti!!!" seru Senja kecil kearah depan kelas.
"AAAAAARRGGGHHH!! RUMAHKU!! KALIAN MANUSIA LAKNAT!! KALIAN MENGHANCURKAN RUMAHKU!!" Teriak seorang guru yang sedang berdiri di depan kelas, para murid-murid berkumpul di belakang ruang kelas dengan rona ketakutan melihat guru mereka di depan sana. Pintu kelas diganjal meja besar oleh sang guru sehingga para murid tidak bisa keluar untuk melarikan diri dan para guru lain yang hendak masuk untuk membantu terlihat kesusahan untuk masuk kedalam kelas karena pintu yang terhalang meja tersebut.
Dengan langkah tertatih-tatih sang guru melangkah kedepan, matanya melotot menatap nanar Senja, di tangan kanannya menggenggam sebuah gunting tajam yang biasa digunakan untuk membuat kerajinan tangan, gunting itu diayunkannya dengan sembarangan kearah depan dengan membabi buta.
"Hiks … maafin aku kunti," gumam Senja sembari terisak pelan, seketika sebuah jilatan api tak kasat mata menyelimuti kepalan tangan Senja dan tanpa aba-aba Senja berlari kearah sang guru, Senja menghindari ayunan gunting tajam tersebut dan langsung memeluk sang guru. Seketika kuntilanak yang merasuki tubuh sang guru menggeliat, ia terbakar seiiring jilatan api yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Sang guru terjatuh, tubuhnya lemah dengan nafas pelan keluar dari hidungnya, sedangkan sang kuntilanak melepaskan pelukan Senja dan menggeliat kesakitan, api dari telapak tangan Senja tersulut dan membakar habis tubuhnya hingga tak tersisa.
Murid-murid lain berkumpul di belakang kelas berpelukan sembari saling menangis sedangkan Senja kecil berdiri di depan kelas sendirian, perlahan ia membalikkan badannya dan berjalan kearah kerumunan teman-temannya.
"Jangan dekati kami anak aneh!"
"Benar!! Senja menakutkan! Aku takut, Bhuaaaa!"
"Jangan dekat-dekat!!"
"Menjauh sana!"
Sahut menyahut dari para murid di tengah gerombolan murid yang sedang menangis. Mendengar kalimat-kalimat tersebut Senja kecil menghentikan langkahnya, ia segera berjongkok lalu menangis sendu sembari memanggil sang ayah di dalam tiap derai tangisnya.
Sayup-sayup suara terdengar dan menyadarkan Naura, dengan perlahan gadis itu membuka mata dan melihat sekeliling mendapati tubuhnya sedang tertidur berselimutkan anyaman jerami kering.
"Kamu sudah sadar?" seru seorang lelaki disebelah Naura kala itu.
"Ini dimana om?" tanya Naura sembari bangun dari tidurnya.
"Desa Raksa … jangan terlalu banyak bergerak kamu masih belum begitu pulih," seru Bagas sembari menyodorkan botol air mineral kepada Naura.
Naura mengambil botol air mineral tersebut dan meminumnya dengan perlahan, "terima kasih om," serunya pelan sembari menundukkan kepala.
"Bagaimana kamu bisa sampai disini? Apa kamu tahu dimensi ini bukan tempat untuk main-main?! Apa Other yang memaksa kamu Ra untuk ikut mereka kesini?" tanya Bagas bertubi-tubi.
Naura hanya bisa terdiam sembari menggenggam erat jemari tangannya, bibirnya seakan kelu untuk menjawab semua pertanyaan yang bertubi-tubi itu, karena didalam lubuk hatinya ia tahu keberadaan dirinya disini merupakan sebuah kesalahan.
Bagas menatap Naura sembari menghela nafas pelan, "hmfh … ini pasti gara-gara Senja ya?" tanya Bagas sambil melirik Naura.
Mendengar nama Senja disebut Naura segera mengangkat wajahnya dan menatap Bagas dengan antusias, "Apa om bertemu dengan Senja?!" tanya Naura cepat.
Bagas melirik Naura sambil menghela nafas panjang, "Hmmm … dasar anak muda jaman sekarang, om sudah duga diusia Senja sekarang dia bakal dikejar-kejar wanita tapi om enggak nyangka dia bakal dikejar sampai ke dimensi ini," desal Bagas sembari menggelengkan kepalanya.
Naura hanya bisa salah tingkah dan kembali menundukkan kepalanya dengan rona merah menghiasi pipinya.
"Kamu enggak perlu khawatir dengan Senja, dia ada di depan sedang mengobati Luna di kamar yang lain," jelas Bagas kepada Naura.
"B-bagaimana keadaan Luna om dan a-apa Luna baik-baik saja?" tanya Naura kembali.
"Iya, dia baik-baik saja kamu tenang saja," jawab Bagas.
Rona lega terlihat di wajah Naura, "syukur alhamdulillah kalau begitu," timpal Naura.
"Sekarang bisa ceritakan apa yang terjadi sama kamu?" tanya Bagas.
Pada akhirnya Naura menceritakan segalanya pada Bagas, mulai dari bagaimana ia bertemu dengan Luna dan sampai ia diselamatkan jendral Arga dihutan Angkara.
"Hmmm … lalu bagaimana kalian bisa ada di hutan ini hanya berdua saja? Kemana Devan dan Saka yang tadi kamu sebutkan?" tanya Bagas.
"Di tengah jalan kami…" belum selesai menjawab suara ketukan pintu mengalihkan perhatian dua insan manusia itu.
-Krieeek-
Tiba-tiba pintu kayu ruangan itu terbuka perlahan memperlihatkan sesosok jin kera betina yang hendak masuk kedalam ruangan.
"Permisi," seru putri Karina sopan.
Naura dan Bagas menoleh kearah suara, "Naura perkenalkan … jin kera ini bernama Karina, beliau adalah putri dari kerajaan Pujakerana, Senja yang telah membebaskan beliau dan para rakyat Pujakerana yang berada di kawah hitam," jelas Bagas.
"Salam kenal nona Naura," seru Karina sembari menunduk memberi hormat.
"I-ia tuan putri, salam kenal juga," timpal Naura gugup.
"Ada anda kesini tuan putri?" tanya Bagas sopan.
Karina menatap Bagas lekat seraya bersua, "nona Luna sudah sadar dan beliau ingin berbicara empat mata dengan anda," jelas Karina.
"Oh … baiklah saya akan kesana menemui gadis itu," seru Bagas, "Naura … om tinggal dulu ya," seru Bagas yang diikuti anggukan Naura.
Disaat Bagas membuka pintu dan keluar dari ruangan terlihat sesosok pemuda yang tidak asing bagi Naura, pemuda itu berbicara sebentar dengan Bagas dan perlahan membuka pintu kayu. Naura segera memalingkan wajahnya seakan tidak ingin bertatap muka dengan pemuda yang tengah berdiri dibibir pintu itu.
"Putri Karina … bisa tinggalkan kami berdua saja?" seru Senja.
Putri Karina mengerti dan berdiri hendak beranjak pergi meninggalkan Naura dan Senja di dalam ruangan. Senja melangkah kearah Naura yang tengah terduduk diatas kasur jerami, kedua mata gadis itu masih enggan menatap wajah Senja secara langsung. Senja segera duduk bersimpuh disebelah Naura.
"Kamu sudah baikan Ra?" tanya Senja.
Naura hanya mengangguk pelan tanpa melihat lawan bicaranya. Senja menatap sendu Naura sembari tangannya ingin menggapai pundak Naura.
"Jangan sentuh aku," seru Naura dingin.
Senja segera menarik tangannya dan terdiam sesaat, "A-aku ingin minta maaf sama kamu Ra … aku salah sudah buat kamu khawatir," seru Senja terbata-bata.
Naura tercelkat mendengar kalimat dari Senja, ia perlahan menoleh kearah lawan bicaranya dan menatap wajah Senja dengan lekat.
"Waktu kecil aku mengalami insiden yang mengakibatkan aku susah untuk berinteraksi dengan orang kebanyakan, aku lebih memilih memiliki teman dari dimensi lain ketimbang teman manusia pada umumnya, itulah sebabnya aku berkeliaran di malam hari dan memilih berkerja sebagai pengusir hantu dibawah naungan kakek kamu Ra," jelas Senja sembari meraih tangan Naura, dengan tanpa penolakan Senja menggenggam tangan Naura, "disaat pertama kali kita bertemu entah kenapa aku ngerasa nyaman sama kamu, semakin lama aku kenal kamu semakin campur aduk perasaan ini, entah perasaan apa yang aku rasakan sekarang tapi satu hal yang pasti … aku ingin jadi sahabat kamu Ra dan aku ingin ngelindungi kamu," seru Senja sambil menatap manik mata Naura dalam-dalam.
"Kalau kita sahabat kenapa kamu ngejauhin aku?" tanya Naura.
"Karena aku enggak ingin kamu ikut sama aku kesini dan terluka, itu sebabnya aku diam-diam pergi untuk menyelamatkan teman-teman jin di gudang, tapi sepertinya itu semua sia-sia."
Naura terdiam kemudian menundukkan kepalanya, "kalau begitu aku juga mau minta maaf sama kamu, karena sudah mengejar mas Senja sampai sini," seru Naura pelan.
"Kamu enggak salah Ra, aku juga akan ngelakuin yang sama buat orang yang aku sayang," celetuk Senja dengan senyum simpul menghiasi bibirnya.
"Iiissshh … apaan sih! Dasar Senja rese!!" jengah Naura yang segera melepas genggaman tangan Senja.
"Jadi kita baikan?" tanya Senja.
Naura tersenyum manis sembari mengangguk mengiyakan pertanyaan Senja.
"TIDAK MUNGKIN!!!"
Suara teriakan dari luar ruangan mengalihkan perhatian Senja dan Naura.
"Ada apa itu mas?" tanya Naura.
"Enggak tau, aku lihat dulu kedepan ya?" seru Senja.
"Aku ikut."
"Enggak usah Ra, kamu istirahat saja disini," seru Senja.
"Enggak mau! Aku enggak mau ditinggal kamu lagi," kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Naura yang langsung membuat detak jantung Senja berderu tak menentu.
"Kamu bisa jalan?" tanya Senja dengan nada khawatir.
"Aku sudah sembuh kok, aku pingsan karena kehabisan energi sukma untuk fisik aku masih kuat," jelas Naura.
"Genggam tangan mas, biar aku tuntun," seru Senja.
Naura hanya bisa kembali mengangguk dengan pipi yang memanas.
Naura berdiri dan kemudian berjalan sambil dituntun oleh Senja, dua sejoli itu berpegangan tangan untuk keluar dari ruangan tersebut dan disuguhkan pemandangan putri Karina dan Luna yang tengah berdebat mengenai sesuatu hal.
"Jendral Arga tidak mungkin melakukan hal tersebut," seru putri Karina yang tengah bersimpuh di atas tanah, tubuhnya lemas setelah mendengar kesaksian Luna.
"Saya juga tidak ingin mempercayainya namun itu kenyataannya tuan putri, jendral Arga menyergap kelompok kami ditengah hutan, jika Devan dan Saka tidak menahan jendral Arga mungkin saya dan Naura sudah ditangkap dan diserahkan kepada Gundara," jelas Luna sembari melangkah perlahan kearah putri Karina.
"Hmmm..." desal Bagas yang tengah bersandar di dinding, ia tengah memikirkan sesuatu hal, "hanya ada satu kemungkinan yang paling masuk di akal yang telah terjadi dengan Arga," seru Bagas.
Semua mata menatap Bagas yang kala itu mulai berjalan kearah Luna dan putri Karina.
"Gendam … Arga telah terkena gendam milik Gundara, gendam yang telah membuat kerajaan Pujakerana jatuh ketangan Gundara, jika itu yang terjadi … pasukan pembebas Pujakerana sudah tamat."
#bersambung
"Kamu tidak ikut bermain?" tanya seorang wanita yang datang perlahan dari belakang. Telapak tangannya dingin mengusap pucuk kepala anak kecil itu dengan lembut.
Anak kecil itu menepis tangan wanita tersebut dengan perlahan sambil menoleh kearah asal suara, anak kecil itu kemudian mengeleng-gelengkan kepalanya seraya kembali menatap kearah teman-temannya yang sedang bermain.
"Kamu kenapa? Sedang marahan sama teman-teman kamu?" tanya sang wanita kembali.
"Enggak kok, aku enggak malah ke meleka," jawab anak kecil itu dengan polosnya.
.
"Ooh … mau aku temani?" tanya sang wanita kembali.
Anak kecil itu mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan sang wanita itu. Sang wanita kemudian duduk disebelah sang anak kecil dibawah naungan rindangnya pohon beringin.
"Boleh saya tanya sesuatu ke kamu?"
"Apa?"
"Kamu … masih tidak takut dengan saya?" wanita itu tiba-tiba menoleh memperlihatkan wajah pucat pasi miliknya yang dihiasi dengan darah dan sedikit nanah mengalir dari atas kepala, matanya merah menatap nanar kearah manik mata sang anak kecil dengan bola mata yang hampir keluar dari rongganya.
Anak kecil itu hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari terkekeh kecil. "Kunti lucu," seru sang anak kecil dengan polos.
"Hmmm …" desal panjang tanda menyerah sang wanita yang tidak lain adalah kuntilanak penunggu pohon beringin dibelakang sang anak kecil.
"Kamu kenapa sih selalu duduk menyendiri disini?" tanya sang kunti sembari mengusap-usap memainkan rambutnya yang panjang.
Anak kecil itu menundukkan kepala, dengan rona sedih ia bersua, "aku tidak punya teman … semua teman aku menjauhi aku … kata mereka aku aneh," serunya pelan.
Sang Kunti hanya bisa melihat anak kecil itu dengan tatapan jengah, "kamu memang aneh … anak-anak lain akan menjerit ketakutan ketika melihat wujud aku ini, sedangkan kamu … kamu malah bilang aku lucu, sudah jelas sangat berbeda dengan mereka," seru Kunti dengan nada malas.
"Belbeda … tapi aku tidak ingin belbeda … aku ingin sama seperti teman-teman yang lain."
"Kamu mau jadi teman aku?"
Anak kecil itu menatap sang kuntilanak tersebut sembari tersenyum tipis.
"Namaku Senja … Kunti siapa namanya?" tanya Senja kecil dengan polosnya.
Ingatan masa lalu itu terlintas di fikiran Bagas, ia berjalan menatap punggung tegap milik Senja yang berjalan membelakanginya. Sudah hampir satu jam ia dan Senja beserta para jin-jin kera berjalan melewati hutan untuk menuju desa Raksa, mereka melewati hutan untuk meminimalisir bertemu dengan pasukan jin-jin hitam di jalan utama. Tiba-tiba tanpa aba-aba Senja menghentikan langkahnya membuat rombongan dibelakangnya ikut menghentikan derap langkah mereka.
"Ayah dengar itu?" bisik Senja.
Bagas terdiam mencoba mencari setitik suara di tengah hutan, sayup-sayup terdengar sebuah suara rintih kecil di balik semak-semak hutan.
"Suara itu dari bawah pohon besar itu yah," seru Senja sembari menunjuk sebuah pohon beringin besar yang ditutupi semak belukar disekitarnya.
"Kau disini jaga putri Karina dan yang lain, ayah yang akan melihat kesana," seru Bagas yang di ikuti anggukan pelan Senja.
Dengan waspada Bagas berjalan perlahan kearah pohon beringin besar tersebut mengikuti asal suara isak tangis dibaliknya, perlahan ia melewati semak belukar yang berada disekitar pohon tersebut dan menemukan sebuah rongga menganga di bawah pohon beringin itu, suara tangis itu tiba-tiba terhenti disaat Bagas berusaha menatap kedalam rongga tersebut.
-DOR-
-DOR-
Dua tembakan peluru air hampir mengenai wajah Bagas, untungnya Bagas segera mengelak dan berlindung di pinggir rongga pohon beringin tersebut.
-Klik-
-Klik-
-Klik-
-Klik-
Terdengar suara pelatuk senjata yang kehabisan amunisi dari dalam rongga pohon beringin, "Siapa pun didalam sana aku bukan orang jahat," seru Bagas lantang, dirasa sudah aman Bagas berusaha mengintip kembali kedalam.
"Ja-jangan mendekat …" pekik suara seorang gadis di dalam rongga pohon.
Bagas tercelkat disaat ia menatap kedalam, ia mendapati seorang gadis berhijab tengah mengacungkan senjata laras pendek kearahnya dengan seorang gadis berambut biru yang bersimpuh di pangkuan.
"Naura … kamu Naura kan!?" tanya Bagas sembari memicingkan pandangannya seakan tidak percaya dengan apa yang matanya lihat.
Naura menurunkan senjata milik Luna yang ia ambil dari dalam tas, perasaan lega segera menjalar diseluruh tubuhnya disaat ia mendapati om Bagaslah yang ternyata berada dibibir rongga pohon beringin itu dan seketika Naura terjatuh dan kehilangan kesadaran.
"Kunti hentikan kunti!!!" seru Senja kecil kearah depan kelas.
"AAAAAARRGGGHHH!! RUMAHKU!! KALIAN MANUSIA LAKNAT!! KALIAN MENGHANCURKAN RUMAHKU!!" Teriak seorang guru yang sedang berdiri di depan kelas, para murid-murid berkumpul di belakang ruang kelas dengan rona ketakutan melihat guru mereka di depan sana. Pintu kelas diganjal meja besar oleh sang guru sehingga para murid tidak bisa keluar untuk melarikan diri dan para guru lain yang hendak masuk untuk membantu terlihat kesusahan untuk masuk kedalam kelas karena pintu yang terhalang meja tersebut.
Dengan langkah tertatih-tatih sang guru melangkah kedepan, matanya melotot menatap nanar Senja, di tangan kanannya menggenggam sebuah gunting tajam yang biasa digunakan untuk membuat kerajinan tangan, gunting itu diayunkannya dengan sembarangan kearah depan dengan membabi buta.
"Hiks … maafin aku kunti," gumam Senja sembari terisak pelan, seketika sebuah jilatan api tak kasat mata menyelimuti kepalan tangan Senja dan tanpa aba-aba Senja berlari kearah sang guru, Senja menghindari ayunan gunting tajam tersebut dan langsung memeluk sang guru. Seketika kuntilanak yang merasuki tubuh sang guru menggeliat, ia terbakar seiiring jilatan api yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Sang guru terjatuh, tubuhnya lemah dengan nafas pelan keluar dari hidungnya, sedangkan sang kuntilanak melepaskan pelukan Senja dan menggeliat kesakitan, api dari telapak tangan Senja tersulut dan membakar habis tubuhnya hingga tak tersisa.
Murid-murid lain berkumpul di belakang kelas berpelukan sembari saling menangis sedangkan Senja kecil berdiri di depan kelas sendirian, perlahan ia membalikkan badannya dan berjalan kearah kerumunan teman-temannya.
"Jangan dekati kami anak aneh!"
"Benar!! Senja menakutkan! Aku takut, Bhuaaaa!"
"Jangan dekat-dekat!!"
"Menjauh sana!"
Sahut menyahut dari para murid di tengah gerombolan murid yang sedang menangis. Mendengar kalimat-kalimat tersebut Senja kecil menghentikan langkahnya, ia segera berjongkok lalu menangis sendu sembari memanggil sang ayah di dalam tiap derai tangisnya.
Sayup-sayup suara terdengar dan menyadarkan Naura, dengan perlahan gadis itu membuka mata dan melihat sekeliling mendapati tubuhnya sedang tertidur berselimutkan anyaman jerami kering.
"Kamu sudah sadar?" seru seorang lelaki disebelah Naura kala itu.
"Ini dimana om?" tanya Naura sembari bangun dari tidurnya.
"Desa Raksa … jangan terlalu banyak bergerak kamu masih belum begitu pulih," seru Bagas sembari menyodorkan botol air mineral kepada Naura.
Naura mengambil botol air mineral tersebut dan meminumnya dengan perlahan, "terima kasih om," serunya pelan sembari menundukkan kepala.
"Bagaimana kamu bisa sampai disini? Apa kamu tahu dimensi ini bukan tempat untuk main-main?! Apa Other yang memaksa kamu Ra untuk ikut mereka kesini?" tanya Bagas bertubi-tubi.
Naura hanya bisa terdiam sembari menggenggam erat jemari tangannya, bibirnya seakan kelu untuk menjawab semua pertanyaan yang bertubi-tubi itu, karena didalam lubuk hatinya ia tahu keberadaan dirinya disini merupakan sebuah kesalahan.
Bagas menatap Naura sembari menghela nafas pelan, "hmfh … ini pasti gara-gara Senja ya?" tanya Bagas sambil melirik Naura.
Mendengar nama Senja disebut Naura segera mengangkat wajahnya dan menatap Bagas dengan antusias, "Apa om bertemu dengan Senja?!" tanya Naura cepat.
Bagas melirik Naura sambil menghela nafas panjang, "Hmmm … dasar anak muda jaman sekarang, om sudah duga diusia Senja sekarang dia bakal dikejar-kejar wanita tapi om enggak nyangka dia bakal dikejar sampai ke dimensi ini," desal Bagas sembari menggelengkan kepalanya.
Naura hanya bisa salah tingkah dan kembali menundukkan kepalanya dengan rona merah menghiasi pipinya.
"Kamu enggak perlu khawatir dengan Senja, dia ada di depan sedang mengobati Luna di kamar yang lain," jelas Bagas kepada Naura.
"B-bagaimana keadaan Luna om dan a-apa Luna baik-baik saja?" tanya Naura kembali.
"Iya, dia baik-baik saja kamu tenang saja," jawab Bagas.
Rona lega terlihat di wajah Naura, "syukur alhamdulillah kalau begitu," timpal Naura.
"Sekarang bisa ceritakan apa yang terjadi sama kamu?" tanya Bagas.
Pada akhirnya Naura menceritakan segalanya pada Bagas, mulai dari bagaimana ia bertemu dengan Luna dan sampai ia diselamatkan jendral Arga dihutan Angkara.
"Hmmm … lalu bagaimana kalian bisa ada di hutan ini hanya berdua saja? Kemana Devan dan Saka yang tadi kamu sebutkan?" tanya Bagas.
"Di tengah jalan kami…" belum selesai menjawab suara ketukan pintu mengalihkan perhatian dua insan manusia itu.
-Krieeek-
Tiba-tiba pintu kayu ruangan itu terbuka perlahan memperlihatkan sesosok jin kera betina yang hendak masuk kedalam ruangan.
"Permisi," seru putri Karina sopan.
Naura dan Bagas menoleh kearah suara, "Naura perkenalkan … jin kera ini bernama Karina, beliau adalah putri dari kerajaan Pujakerana, Senja yang telah membebaskan beliau dan para rakyat Pujakerana yang berada di kawah hitam," jelas Bagas.
"Salam kenal nona Naura," seru Karina sembari menunduk memberi hormat.
"I-ia tuan putri, salam kenal juga," timpal Naura gugup.
"Ada anda kesini tuan putri?" tanya Bagas sopan.
Karina menatap Bagas lekat seraya bersua, "nona Luna sudah sadar dan beliau ingin berbicara empat mata dengan anda," jelas Karina.
"Oh … baiklah saya akan kesana menemui gadis itu," seru Bagas, "Naura … om tinggal dulu ya," seru Bagas yang diikuti anggukan Naura.
Disaat Bagas membuka pintu dan keluar dari ruangan terlihat sesosok pemuda yang tidak asing bagi Naura, pemuda itu berbicara sebentar dengan Bagas dan perlahan membuka pintu kayu. Naura segera memalingkan wajahnya seakan tidak ingin bertatap muka dengan pemuda yang tengah berdiri dibibir pintu itu.
"Putri Karina … bisa tinggalkan kami berdua saja?" seru Senja.
Putri Karina mengerti dan berdiri hendak beranjak pergi meninggalkan Naura dan Senja di dalam ruangan. Senja melangkah kearah Naura yang tengah terduduk diatas kasur jerami, kedua mata gadis itu masih enggan menatap wajah Senja secara langsung. Senja segera duduk bersimpuh disebelah Naura.
"Kamu sudah baikan Ra?" tanya Senja.
Naura hanya mengangguk pelan tanpa melihat lawan bicaranya. Senja menatap sendu Naura sembari tangannya ingin menggapai pundak Naura.
"Jangan sentuh aku," seru Naura dingin.
Senja segera menarik tangannya dan terdiam sesaat, "A-aku ingin minta maaf sama kamu Ra … aku salah sudah buat kamu khawatir," seru Senja terbata-bata.
Naura tercelkat mendengar kalimat dari Senja, ia perlahan menoleh kearah lawan bicaranya dan menatap wajah Senja dengan lekat.
"Waktu kecil aku mengalami insiden yang mengakibatkan aku susah untuk berinteraksi dengan orang kebanyakan, aku lebih memilih memiliki teman dari dimensi lain ketimbang teman manusia pada umumnya, itulah sebabnya aku berkeliaran di malam hari dan memilih berkerja sebagai pengusir hantu dibawah naungan kakek kamu Ra," jelas Senja sembari meraih tangan Naura, dengan tanpa penolakan Senja menggenggam tangan Naura, "disaat pertama kali kita bertemu entah kenapa aku ngerasa nyaman sama kamu, semakin lama aku kenal kamu semakin campur aduk perasaan ini, entah perasaan apa yang aku rasakan sekarang tapi satu hal yang pasti … aku ingin jadi sahabat kamu Ra dan aku ingin ngelindungi kamu," seru Senja sambil menatap manik mata Naura dalam-dalam.
"Kalau kita sahabat kenapa kamu ngejauhin aku?" tanya Naura.
"Karena aku enggak ingin kamu ikut sama aku kesini dan terluka, itu sebabnya aku diam-diam pergi untuk menyelamatkan teman-teman jin di gudang, tapi sepertinya itu semua sia-sia."
Naura terdiam kemudian menundukkan kepalanya, "kalau begitu aku juga mau minta maaf sama kamu, karena sudah mengejar mas Senja sampai sini," seru Naura pelan.
"Kamu enggak salah Ra, aku juga akan ngelakuin yang sama buat orang yang aku sayang," celetuk Senja dengan senyum simpul menghiasi bibirnya.
"Iiissshh … apaan sih! Dasar Senja rese!!" jengah Naura yang segera melepas genggaman tangan Senja.
"Jadi kita baikan?" tanya Senja.
Naura tersenyum manis sembari mengangguk mengiyakan pertanyaan Senja.
"TIDAK MUNGKIN!!!"
Suara teriakan dari luar ruangan mengalihkan perhatian Senja dan Naura.
"Ada apa itu mas?" tanya Naura.
"Enggak tau, aku lihat dulu kedepan ya?" seru Senja.
"Aku ikut."
"Enggak usah Ra, kamu istirahat saja disini," seru Senja.
"Enggak mau! Aku enggak mau ditinggal kamu lagi," kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Naura yang langsung membuat detak jantung Senja berderu tak menentu.
"Kamu bisa jalan?" tanya Senja dengan nada khawatir.
"Aku sudah sembuh kok, aku pingsan karena kehabisan energi sukma untuk fisik aku masih kuat," jelas Naura.
"Genggam tangan mas, biar aku tuntun," seru Senja.
Naura hanya bisa kembali mengangguk dengan pipi yang memanas.
Naura berdiri dan kemudian berjalan sambil dituntun oleh Senja, dua sejoli itu berpegangan tangan untuk keluar dari ruangan tersebut dan disuguhkan pemandangan putri Karina dan Luna yang tengah berdebat mengenai sesuatu hal.
"Jendral Arga tidak mungkin melakukan hal tersebut," seru putri Karina yang tengah bersimpuh di atas tanah, tubuhnya lemas setelah mendengar kesaksian Luna.
"Saya juga tidak ingin mempercayainya namun itu kenyataannya tuan putri, jendral Arga menyergap kelompok kami ditengah hutan, jika Devan dan Saka tidak menahan jendral Arga mungkin saya dan Naura sudah ditangkap dan diserahkan kepada Gundara," jelas Luna sembari melangkah perlahan kearah putri Karina.
"Hmmm..." desal Bagas yang tengah bersandar di dinding, ia tengah memikirkan sesuatu hal, "hanya ada satu kemungkinan yang paling masuk di akal yang telah terjadi dengan Arga," seru Bagas.
Semua mata menatap Bagas yang kala itu mulai berjalan kearah Luna dan putri Karina.
"Gendam … Arga telah terkena gendam milik Gundara, gendam yang telah membuat kerajaan Pujakerana jatuh ketangan Gundara, jika itu yang terjadi … pasukan pembebas Pujakerana sudah tamat."
#bersambung
ariefdias dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Kutip
Balas