Kaskus

Story

cwhiskeytangoAvatar border
TS
cwhiskeytango
Gadis Bercadar Itu
Gadis Bercadar Itu

SEKUAT mana kita setia...
SEHEBAT mana kita merancang...
SELAMA mana kita menunggu...
SEKERAS mana kita bersabar...
SEJUJUR mana kita menerima kekasih kita...
SELAMA mana kita bertahan bersamanya...


Jika ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA tidak menulis jodoh kita bersama orang yang kita sukai, Kita tetap tidak akan Bersama dengannya walau engkau bersusah payah mendapatkannya. Maka cintailah orang sewajarnya .... kerana orang yang kita cintai belum pasti jodoh kita nanti, kadang yang engkau nilai baik untuk mu belum tentu baik untuk ALLAH.

Saat hati berkata "INGIN", namun ALLAH berkata "TUNGGU".
Saat AIR MATA harus menitis, namun ALLAH berkata "TERSENYUMLAH"
Saat segalanya terasa "MEMBOSANKAN", namun ALLAH berkata "TERUSLAH MELANGKAH".
~Kita merancang Allah juga merancang tetapi perancangan Allah lebih baik.~


Jodoh itu kan Rahasia Allah. Sweet kan? Allah itu maha LUAR BIASA. Dia mau memberi kejutan untuk kita. Dan kita pula akan senantiasa menanti, siapakah jodoh kita. Tapi, sebelum tiba masanya, selagi itulah Dia akan rahasiakan daripada kita. Allah buat seperti itu bukan sia-sia, tidak ada sia-sia dalam perancanganNya. Dia ingin kita persiapkan diri secukupnya sebelum jodoh itu sampai. Selagi ada masa yang disediakan Allah untuk kita ini, mari kita tambahkan ilmu di dada secukupnya untuk menjadi hambaNya yang bertaqwa. 

Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati yang tak kunjung datang, Allah SWT mempunyai Cinta dan Kasih yang lebih besar dari segalanya & Dia telah menciptakan seorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak. Ketika kau merasa bahawa kau mencintai seseorang, namun kau tahu cintamu tak terbalas Allah SWT tahu apa yang ada di depanmu & Dia sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu




I N D E X

Spoiler for EPISODE 1:
Diubah oleh cwhiskeytango 09-10-2019 18:57
wanitatangguh93Avatar border
bukhoriganAvatar border
husnamutiaAvatar border
husnamutia dan 22 lainnya memberi reputasi
19
26.7K
155
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
cwhiskeytangoAvatar border
TS
cwhiskeytango
#148
Part 19 - Anugerah
Aku keluar dari rumah Lia setelah berpamitan, baru saja aku hendak menutup pintu pagarnya, aku meliha Lia sedang berdiri di pintu. Ia menghampiriku menggunakan payung. Ia tersenyum manis padaku
"Makasih banyak" katanya
"Maaf aku lancang. Aku gamau ngerusak persahabatan kita" ucapku
"Rasa itu ga bisa dipaksa. Kalau kamu memang suka sama aku, itu hak kamu. Dan aku juga ingin kamu tau kalau akupun begitu" katanya
"Maksudnya?
"Aku juga suka sama kamu Danar. Udah sangat lama. Tapi aku juga gamau ngerusak persahabatan kita" katanya
"Kamu masih mau bersahabat dengan aku?" tanyaku
"Tentu saja. Tapi aku harap rasa suka ini ga membawa kesedihan nantinya. Danar, jodoh itu ditangan Allah. Jika suatu hari nanti aku bukanlah orang yang Dia pilihkan untuk kamu, aku berharap bisa terus menyayangi kamu sebagai sahabat kecilku" katanya
"Baiklah, aku paham kok" jawabku
"Jika suatu hari nanti kita disatukan, aku akan menjadi orang paling bahagia. Tapi jika tidak, aku berharap persahabatan kita bisa menjadi saksi, kalau kita pernah saling menyayangi" katanya
"Kita berdoa yang terbaik aja ya Lia" ucapku
"Iya Danar" jawabnya tersenyum
"Kalau gitu aku pulang ya. Kamu langsung tidur" ucapku
"Iya kamu hati-hati" katanya

Akupun pulang kerumahku. Setelah hari itu, aku kembali dekat dengan Lia. Dekat sebagai sahabat.

Beberapa bulan kemudian. Aku memasuki kuliah semester tiga. Ini berati aku sudah menjadi kaka tingkat dikampusku. Oh ya, bagaimana aku dengan Andin maupun Ersha? Semua baik-baik saja. Andin dan Permata masih suka membantuku membuat kue untuk jualan. Aku juga sudah mulai mengejar ketertinggalanku dikampus.

Suatu hari aku sedang berjualan di dekat taman fakultas. Aku berfikir sejenak kalau aku sudah merasa seperti mempekerjakan Andin dengan Permata. Meski mereka yang selalu menawarkan diri, tetapi aku tak bisa terus menerus mengiyakan tawaran mereka yang membuat waktu mereka tersita hanya olehku. Aku rasa aku akan bicara pada mereka untuk tidak membantuku lagi. Dan kebetulan ketika aku sedang berdagang dirumah, Andin dan Permata datang kerumahku
"Kebetulan kalian datang" ucapku
"Assalamualaikum. Ada apa emang?" tanya Andin
"Gini, gue ga enak sama lo sama Permata, udah beberapa bulan bantuin gue. Gue minta, lo berhenti ya. Gue ga enak sama kalian" kataku
"Loh kenapa? Kami ikhlas bantuin antum" kata Permata
"Kalian banyak bantu, makasih banget, tapi gue ga mau waktu kalian tersita buat bantuin gue. Padahal ada hal yang lebih penting" ucapku
"Engga kok. Gapapa" kata Andin
"Udahlah Din. Gue makasih banget sama kalian. Tapi gue bisa hadapi ini sendiri kok" ucapku
"Tapi kami hanya ingin bantu antum" kata Permata
"Bantu doa juga udah cukup" ucapku
"Tolong banget ya, hargai keputusan gue" lanjutku pada mereka

Andin dan Permata saling bertatapan dan kembali melihat kegiatanku
"Iya, tapi kita masih boleh bantu jual?" tanya Andin
"Ga usah Din. Gapapa kok" jawabku

Kulihat ada ekspresi sedikit kecewa dari Andin. Tapi aku tak mungkin terus mengandalkan bantuan mereka. Setelah itu mereka berpamitan untuk melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Sampai jam pulang sekolah tiba, kueku masih ada yang tersisa. Aku berniat untuk langsung pulang kerumah saja untuk mempersiapkan daganganku besok. Aku juga masih memiliki bahan-bahan kue yang masih tersisa jadi aku tak membeli bahan tambahan. Sisa uang yang tersisa dari dagangan hari ini aku tabungkan untuk biaya kuliahku dan biaya tak terduga nantinya.

Keesokan pagi, sebelum aku berangkat ke kampus, aku mencoba untuk menitipkan daganganku di warung-warung. Mungkin dengan cara ini bisa menambah penghasilanku dan juga mengurangi kesibukanku berdagang jika aku sedang ada tugas.
“Assalamualaikum bu” ucapku
“Waalaikumussalam, eh nak Danar. Mau beli apa?” tanya beliau
“Engga bu, emm boleh ga kalau saya nitip kue disini?” tanyaku
“Oh, boleh boleh” katanya
“Saya simpen 10 aja dulu ya bu. Ini saya simpan kue kecil aja. Harganya 1500, 500 nya untuk ibu” ucapku
“Oh gitu, iya iya, nak Danar mau berangkat kuliah?” tanya beliau
“Iya bu” jawabku
“Sok yang semangat hehe” katanya
“Iya insyaAllah, saya berangkat dulu bu, nanti sore saya kesini lagi. Assalamualaikum” ucapku
“Waalaikumussalam” jawab beliau

Akupun berangkat ke kampus menggunakan sepeda seperti biasanya. Saat perjalanan, aku mendapat telefon dari Lia. Obrolan singkatku dengan Lia, ia mengajakku untuk berangkat bareng ke kampus. Tapi aku berkata kalau aku membawa sepeda, dan ia ingin dibonceng olehku. Karena belum terlalu jauh, aku memutar balik dan bergerak menuju rumah Lia. Setibanya aku disana, kulihat ia sedang duduk di teras sambil mendengarkan lagu dari headsetnya.
“Assalamualaikum” ucapku
“Waalaikumussalam” jawabnya
“Berangkat bareng?” tanyaku
“Ayo” jawabnya tersenyum

Aku membonceng Lia menuju kampus. Selama perjalanan Lia tak banyak bicara selain menikmati perjalanan hingga akhirnya kami tiba di kampus.
“Kamu pulang jam berapa?” tanyanya
“Jadwalnya sih jam 12 siang” jawabku
“Kalau gitu, pulangnya bareng yah” katanya
“Emang kamu pulang jam berapa?” tanyaku
“Hari ini sih cuma satu matkul aja, jadi paling jam sembilan juga udah bubar” katanya
“Loh, nanti kamu nunggu dong. Ga bete emang?” tanyaku
“Engga lah. Aku bisa ke perpus dulu kok” katanya
“Oke aja sih kalau maunya gitu” jawabku
“Yaudah, aku ke kelas ya, sampai ketemu lagi” katanya

Aku juga berjalan menuju kelasku. Setibanya aku dikelas, aku menyimpan tas dan langsung berjalan menuju kursiku. Aku tak menggelar dagangan karena jam kuliah akan dimulai. Aku juga melihat Andin yang sedang mengobrol dengan Toga. Dan Andin sepertinya tak menyadari kedatanganku. Kuliahpun dimulai. Aku begitu konsentrasi pada kuliahku. Aku tak ingin terlambat lagi dan mengecewakan orang tuaku. Selesailah mata kuliah pertama. Ada jeda waktu sekitar 15 menit sampai masuk mata kuliah kedua.
“Lo lagi deket sama Lia ya” tanya Andin tiba-tiba
“Gue emang deket sama dia. Dia kan sahabat gue” jawabku
“Lo suka ya sama dia” tanyanya
“Kenapa emang?” tanyaku
“Gapapa. Gue mau ke belakang dulu” katanya sambil tiba-tiba pergi

Beberapa saat ia kembali, ia mengambil tas yang ada disampingku dan ia pindah duduk kedepan. Pada jam pulang, aku mendapat SMS dari Lia bahwa ia sudah menungguku di taman fakultasku. Aku langsung menghampirinya kesana. Setibanya disana, kulihat gadis yang tengah duduk di kursi taman sambil memegang sebuah buku kecil di tangannya.
“Assalamualaikum” sapaku
“Waalaikumussalam” jawabnya
“Maaf ya jadi nunggu” ucapku
“Engga kok. Pulang sekarang?” tanyanya
“Ayok” jawabku

Kami pulang menggunakan sepeda yang aku bawa. Aku jadi teringat saat dulu pertama kali aku membonceng Lia saat masih kecil. Dulu aku mengebut dan Lia tak berpegangan sehingga membuat ia jatuh dan menangis. Selama perjalanan, memoriku kembali pada masa-masa kecilku bersama Lia. Dan sekarang gadis kecil itu tengah tumbuh menjadi wanita yang cantik. Tibalah kami dirumah Lia.
“Masuk dulu yuk” ajaknya
“Emm gapapa gitu?”
“Gapapa. Yuk” katanya

Akupun mengikutinya masuk kedalam. Aku disambut baik oleh ibunya Lia. Saat itu Lia sedang masuk ke kamarnya untuk menyimpan barang-barangnya. Aku menunggu di ruang tengah seorang diri. Tiba-tiba ibunya Lia menghampiriku dan duduk disampingku
“Gimana keadaanmu nak?” tanya beliau
“Alhamdulillah sehat bu” jawabku
“Kamu masih jualan kue?” tanyanya
“Alhamdulillah masih bu, cuma sekarang beberapa dititip di warung” ucapku
“Ibu mau menawarkan kerja sama nih” katanya
“Kerjasama gimana ya?” tanyaku
“Gini, ibu baru aja buka toko kecil di deket kampus kamu sama Lia” katanya
“Iya, lalu?” tanyaku
“Kamu bisa kan jadi supplier ibu buat di toko?” tanya beliau
“Eh, ibu serius?” tanyaku
“Serius hehe. Kamu bisa?” tanya beliau lagi
“Bisa bu bisa, insyaAllah bisa” jawabku dengan antusias
“Jadi untuk sekarang kamu hanya perlu kirim seminggu sekali aja. Apa aja jenisnya terserah nak Danar aja” katanya
“Emm, baik bu, kapan saya harus kirim?” tanyaku
“Nanti hari minggu aja. Sekalian ke toko ibu” katanya
“Baik bu” jawabku
“Yasudah, ibu tinggal kedapur dulu. Kamu ngobrol-ngobrol aja sama Lia. Kalau mau apa-apa ambil aja” katanya
“Iya bu, makasih banyak” ucapku

Lia datang dan duduk disampingku. Ia langsung saja tersenyum seperti mengejekku.
“Cie jadi juragan hehe” kata Lia
“Ih apaan hhe. Alhamdulillah” ucapku
“Hehe. Iya, nanti abis pulang kuliah aku juga ikut bantu jaga toko kok” katanya
“Oh ya? Bagus bagus hehe, biar kamu ga nganggur hehe” ucapku
“Enak aja, aku ga pernah nganggur. Tapi suka kamu anggurin huuu” katanya
“Engga ih. Ini kan di apelin hehe” ucapku
“Terus harus apa ngapelin teh hehe” tanyaku
“Emm. Ajak aku jalan-jalan” katanya
“Mau jalan kemana? Mending pake sepeda” ucapku
“Iih ga jalan kaki juga atuh. Kita pake motor ayah aja” katanya
“Emang boleh?” tanyaku
“Boleh, STNKnya kan ada di aku. Kita ke Braga aja yuk” ajaknya
“Ayo deh” jawabku

Liapun bersiap-siap dan aku hanya tetap mengenakan pakaian yang apa adanya saja. Tak lama ia kembali dan memberikan kunci motornya padaku.
“Bu, Lia sama Danar mau pergi dulu” kata Lia
“Mau kemana nak?” tanya ibunya Lia
“Mau jalan-jalan bu. Boleh ga?” tanya Lia
“Iya boleh. Jangan pulang terlalu malam ya” katanya
“Baik bu” ucapku

Kamipun berangkat menuju tempat yang dimaksud. Selama perjalanan, kami saling bercanda ria. Terkadang Lia bernyanyi dengan sedikit keras, tapi aku dapat merasakan kebahagiaan yang ada dalam dirinya. Ga peduli orang-orang menganggap kami norak atau apalah. Kami benar-benar menikmati hari yang seharusnya dinikmati. Kami tiba di jalan Braga dan langsung memarkirkan motor disitu.
“Danar,sini, kita foto” katanya sambil mengeluarkan kamera kecil dari tasnya
“Loh, bawa kamera?” tanyaku
“Bawa dong. Momen kaya gini tuh pantas untuk diabadikan” katanya

Kami berfoto dengan beberapa gaya. Banyaknya sih Lia yang banyak gaya. Kami juga sempat meminta salah satu tukang parkir disitu untuk memotret kami berdua. Setelah kami puas berfoto, Lia mengajakku untuk pergi ke daerah kampus kami. Ia ingin menunjukkan dimana lokasi toko kuenya. Kurang lebih empat puluh menit perjalanan kami baru tiba di tujuan. Memang kondisi jalan agak sedikit macet. Kami berhenti di sebuah toko yang masih tertutup. Toko tersebut bernamakan ‘Syifa Cake’. Nama toko di ambil dari nama Lia. Liana Asyfa.
“Nah nanti aku bakal jaga disini. Kamu nanti kirim kue kesini” kata Lia
“Deket banget dari kampus ya hehe”
“Iya hhe. Soalnya nanti aku juga bakal jaga disini kan. Jadi biar ga jauh gitu. Eh kebetulan ibu kenal sama yang punya tempat, jadi ya bisa nego nego hehe” kata Lia
“Alhamdulillah kalau gitu”
“Kamu itu jago bikin kue. Aku yakin suatu hari kamu bakal punya toko kue dimana-mana hehe” kata Lia
“Aamiin” ucapku
“Udah mau magrib. Pulang yu” katanya
“Ayo”

disya1628
ni12345
delet3
delet3 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.