- Beranda
- Stories from the Heart
Kumpulan Kisah Mistis
...
TS
sinsin2806
Kumpulan Kisah Mistis

Hai Gansist, selamat datang di thread kumpulan kisah mistis. Jadi disini nanti akan rutin diposting kisah-kisah mistis nyata pengalaman sy pribadi, keluarga, dan teman-teman.
Saya memang penakut tapi sangat tertarik dengan hal-hal seperti ini. Saya hidup dikampung dimana dilingkungan saya ini masih sangat kental dengan hal-hal ghoib diluar nalar manusia. Tidak bisa dipungkiri kita hidup berdampingan dengan "mereka", jadi jagalah sikap dimanapun kita berada.
Saya memang penakut tapi sangat tertarik dengan hal-hal seperti ini. Saya hidup dikampung dimana dilingkungan saya ini masih sangat kental dengan hal-hal ghoib diluar nalar manusia. Tidak bisa dipungkiri kita hidup berdampingan dengan "mereka", jadi jagalah sikap dimanapun kita berada.
Spoiler for Spoiler Index:
Kisah 1
"Abang Somay Yang Terus Mengikuti Ku"
"Abang Somay Yang Terus Mengikuti Ku"
Kisah ini menimpa adik sepupu sy namanya Tiara, dia adalah anak perempuan dari Lik Kiroh (adik ibu saya). Kami hanya terpaut usia satu tahun saja, dia lebih muda dari saya. Kami bersekolah di SMA yang berbeda, dia memilih sekolah yang lebih dekat jaraknya hanya sekitar 6 km dari rumah yaitu MA Cokroaminoto Wanadadi. Kisah ini menjadi awal dia ketempelan "sesuatu" yang membuatnya tidak bisa bersekolah selama 2 bulan lebih. Saya akan menceritakan kisah ini dari perspektif Tiara.
"Weh,, wehhh,, kabar gembira, kabar gembira" teriak Mirna teman kelasku
"Kabar apa si? heboh" balasku
"Kita jadi kemah dong nanti tgl 12 hari Jumat, tadi pak Nur ngabarin" terangnya
Aku, Mirna dan Dewi memang menjadi anggota pramuka Saka Bhayangkara tingkat Kabupaten sebagai perwakilan dari sekolah kami. Dan memang telah diwacanakan akan diadakan perkemahan tahun ini di Desa Gumelem, Kec Susukan, Kab.Banjarnegara. Tapi kemaren tanggalnya belum dipastikan.
"Akhirnya bisa piknik juga, walaupun acara kemah wkwk" cetusku.
Sampailah di hari-H Jumat pagi semua anggota berkumpul di Alun-alun kota Banjarnegara, kita menaiki truk besar sampai di desa Gumelem, tempat perkemahan tepatnya ada di bukit Ilangan. Bukit ini dianggap tempat suci oleh warga sekitar. Karena bukit ini berada di tengah-tengah Desa Gumelem, dipuncak bukit apa petilasan makam Ki Ageng Giring (Girilangan). Banyak warga dari berbagai daerah melakukan ziarah ke sini. Ki Ageng Giring ini adalah seorang penyebar agama Islam dari Kerajaan Mataram yang berkelana sampai ke Desa Gumelem dan wafat di desa ini. Dibukit ini selain terdapat makam Ki Ageng Giring, ada juga masjid kuno peninggalan wali, bangunan peninggalan keraton dan pemandian air hangat (Pemandian Pingit). Pemandian ini dianggap sakral oleh beberapa kalangan, karena dipercaya airnya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.
Dalam perjalanan menuju puncak bukit, terdapat jalan setapak batu dan dikanan kiri jalan setapak ini merupakan makam desa Gumelem, makam warga sekitar. Dan dikomplek pertama sebelum puncak Ilangan terdapat makam Ki Ageng Gumelem. Ki Ageng Gumelem ini adalah panglima perang yang diutus oleh panembahan senopati dari Kerajaan Mataram untuk merawat makam ki Ageng Giring.

Gambar : Jalan setapak menuju puncak bukit (yang dikanan kirinya adalah makam warga)
sumber : disini
Disana anggota kami tidak mendirikan tenda, kami menempati sebuah bangunan yang ada ditengah-tengah kuburan. sebuah bangunan tua yang beratap tapi tidak berdinding, bangunanya seperti pendopo yang hanya ada atap dan tiang. Komandan pramuka kami namanya mas Awan (sekarang sudah almarhum) mewanti-wanti kami para anggotanya untuk menjaga tutur kata dan perilaku selama berkemah disini, dan untuk para gadis yang sedang berhalangan dilarang keras untuk masuk ke wilayah pemakaman yang ada dipuncak. Kebanyakan anggota laki-laki adalah mereka yang bisa melihat "sesuatu" begitu juga denganku, dari kecil aku memang peka terhadap masalah satu ini, setiap ada makhluk yang tidak kasat mata, aku bisa merasakan kehadiranya. entah dari bau maupun penglihatan.
Anggota kami sampai di tengah bukit kira-kira pagi menjelang siang, sangat sejuk udaranya, walaupun tempat ini dikelilingi dengan kuburan, sepanjang mata melihat hanya pohon-pohon dan petilasan, tidak mengurangi keindahan tempat ini. di dekat pendopo tempat kami tidur ada satu pohon beringin yang sangat besar, siang hari sama sekali tidak terlihat menyeramkan. Ketika kegiatan belum dimulai aku, Mirna, Dewi dan beberapa teman lain setuju untuk berjalan-jalan ke puncak bukit. Disana kami menemukan petilasan Ki Ageng Giring dan memasuki gerbangnya, gerbangnya tidak dikunci jadi siapapun bisa masuk. Pintunya cukup rendah jadi kami harus membungkukan badan untuk masuk ke dalam. Di belakang gerbang terdapat semacam cawan-cawan yang terbuat dari batu, kata senior kami itu sengaja disiapkan oleh warga setempat untuk orang-orang yang ingin berkomunikasi supranatural. entah fungsi cawannya untuk apa.
Anggota kami sampai di tengah bukit kira-kira pagi menjelang siang, sangat sejuk udaranya, walaupun tempat ini dikelilingi dengan kuburan, sepanjang mata melihat hanya pohon-pohon dan petilasan, tidak mengurangi keindahan tempat ini. di dekat pendopo tempat kami tidur ada satu pohon beringin yang sangat besar, siang hari sama sekali tidak terlihat menyeramkan. Ketika kegiatan belum dimulai aku, Mirna, Dewi dan beberapa teman lain setuju untuk berjalan-jalan ke puncak bukit. Disana kami menemukan petilasan Ki Ageng Giring dan memasuki gerbangnya, gerbangnya tidak dikunci jadi siapapun bisa masuk. Pintunya cukup rendah jadi kami harus membungkukan badan untuk masuk ke dalam. Di belakang gerbang terdapat semacam cawan-cawan yang terbuat dari batu, kata senior kami itu sengaja disiapkan oleh warga setempat untuk orang-orang yang ingin berkomunikasi supranatural. entah fungsi cawannya untuk apa.
Semua kegiatan hari pertama berjalan dengan lancar, sampai pada sore hari menjelang waktu maghrib. Ada salah satu anggota wanita dari SMA Bawang yang kerasukan, dia terus menangis histeris. Suaranya sangat melengking, saat itu aku yang biasanya peka terhadap hal-hal seperti ini tidak melihat makhluk apa yang merasuki temanku ini, hanya saja aku melihat ada tukang somay pikul dibawah pohon beringin besar itu. Saat itu aku tidak berprasangka buruk karena aku mengira tukang somay itu hanyalah tukang somay biasa yang menjajakan makanan kesini karena tau disini sedang diadakan perkemahan.
Sampai malam tiba, jejak tilas dilakukan malam hari pukul 12 lewat. aku memilih untuk tidak mengikuti jejak tilas tersebut selain karena malas melihat tingkah konyol senior-senior yang berpura-pura menjadi hantu untuk menakut-nakuti kami juniornya, udara malam itu juga sangat dingin, jadi sejak pukul 11 malam aku sudah berbaring di pendopo bersama Mirna dan Dewi teman sekelasku. Aku tidak bisa tidur malam itu, sekilas ketika menengok kesebelah kanan, aku seperti melihat kain putih ditengah-tengah temanku yg sedang tidur. Aku mencoba untuk menengok kembali dan benar saja ada pocong yang berbaring disela-sela barisan. ow owww.
Aku hanya mencoba memejamkan mata dan memiringkan badan ke kiri agar tidak melihat pocong itu lagi, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Aku memandang kearah depan, kebetulan aku tidur disebelah paling kiri jadi di depanku adalah jalan setapak untuk menaiki/menuruni bukit. Dari kejauhan terlihat bayang-bayang orang sedang memikul sesuatu, aku terus memperhatikan bayang-bayang itu semakin lama bayang-bayang itu semakin jelas dan ternyata itu adalah penjual somay yang tadi sore aku lihat di bawah pohon beringin.
Daaaaarrrrrrr aku baru sadar, kenapa ada org jual somay larut malam begini, dan dia juga tidak membunyikan sesuatu seperti layaknya orang berjualan normal, aku merinding ketika mulai menyadari kalau itu bukanlah manusia. aku mencoba menutupi pandangan dengan selimut, lama-lama penasaran juga apa tukang somaynya masih disana, kuintip pelan-pelan ternyata dia masih disana dalam posisi yang sama. Kututup selimutku dengan tangan gemetar, aku tidak pernah menceritakan kejadian ini pd teman-temanku.
Paginya badan serasa lemas sekali, mungkin karena kurang tidur , pikirku. Tapi nyatanya hari itu aku pingsan 3 kali, bahkan akhirnya aku harus pulang terlebih dahulu dan tidak bisa melanjutkan perkemahan karena kondisi badanku yang terus-terusan pingsan. Aku tidak merasakan sesuatu yang lain selain lemas dan pundak berat. Sesampainya dirumah ibu membawaku berobat ke puskesmas 1 Wanadadi, dekat rumah. Dokter hanya memberiku beberapa obat dan langsung diperbolehkan pulang.
Tiga hari pasca pulang dari perkemahan aku masih belum bisa berangkat ke sekolah, badanku masih lemas, ketika sore hari hendak mandi pundakku terasa sangat berat dan ketika terbangun aku sudah tidur diranjang puskesmas, ya aku pingsan lagi.
kali ini aku dirawat 3 hari dirumah sakit. Ketika aku diperbolehkan pulang, dokter hanya berpesan untuk banyak minum supaya aku tidak dehidrasi dan tidak mudah pingsan. Sebulan sudah aku seperti ini, sempat 3 kali aku mencoba berangkat sekolah tapi jarak baru beberapa puluh meter dari rumah aku pingsan lagi. Aku seperti tidak diperbolehkan untuk keluar rumah, aku tidak pernah berpikir negatif.
Sampai suatu sore ketika bangun tidur q merasa kakiku tidak bisa digerakan, dan ketika aku arahkan pandanganku kebawah aku melihat seseorang dengan rambut panjang menutupi muka, sedang duduk diatas kakiku, aku berteriak histeris tapi tidak ada yg mendengar. aku menangis sekencang-kencangnya tp tetap tidak ada yang datang kekamarku, aku terus menangis dan berteriak memanggil ibu entah sampai berapa lama, tapi aku baru sadar ketika ibu datang membangunkanku. Aku sangat yakin tadi itu bukan mimpi, asumsiku aku pingsan karena terlalu histeris.
Akhirnya aku menceritakan kejadian td pada ibuku. "Ibu ga dengar apa2 dek, emang ga ada suara apa" kata ibu.
"Bu coba panggilin uwa Tanto (bapak TS), aku mau cerita ke uwa" kataku.
Lalu datanglah uwa ke kamarku, dan aku menceritakan semua kejadian tentang kakiku yg diduduki entah siapa, sampai semua kejadian selama di perkemahan. uwa mulai memegang kepalaku, dan membacakan doa. Lalu uwa berkata, sepertinya ada yg ngikutin km, nanti malam uwa mau sholat, memohon petunjuk bagaimana ngebuang yang ngikutin kamu ini.
Besokanya uwa ngabarin ke ibu, katanya yang ngikutin aku ini bapak2 jualan bawa pikulan depan belakang, makanya selama ini yg dirasain berat dan lemas karna mikul dagangan depan belakang kata uwa. kata uwa ini dingajiin aja tiap abis maghrib, aku jg disuruh ikut ngaji, nanti uwa tetep bantu dg kirim doa di sepertiga malam. Alhamdulilah kadang rasa berat dipundak hilang, wlwpun kadang muncul lagi, tapi sebulan kemudian aku benar2 sudah sembuh dari ketempelan dan bisa bersekolah seperti dulu lagi, berkat izin alloh dan bantuan uwa yg telah membantu doa setiap sepertiga malam, serta keluarga yg telah bersedia membacakan ayat2 alquran setiap hari.
Diubah oleh sinsin2806 18-10-2019 14:31
erinomonogatari dan 8 lainnya memberi reputasi
9
6.5K
37
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sinsin2806
#20
Kisah 5 "Lampor"
Gansist disini pasti udah ga asing sama istilah Lampor ya? Di daerahku Lampor seringkali dikaitkan dengan hilangnya seseorang saat bedhug maghrib. Bedhug maghrib apa si? Yaitu saat dikumandangkanya adzan maghrib diiringi dengan suara pukulan bedhug di masjid. Kalau ada anak kecil yang belum pulang saat adzan mahrib dan sudah dicari kemana-mana tidak ketemu, pasti dibawa Lampor. Anggapan masyarakat disini seperti itu.
Kebanyakan korban Lampor ini anak-anak yang masih berumur 6-13 tahun. Dan biasanya korban lampor ini baru ditemukan tengah malam, tempat ditemukanyapun bukan di tempat yang belum terjamah, tapi kebanyakan mereka ditemukan di tempat yang sudah dilewati berpuluh-puluh kali oleh para warga yang mencari. Lalu kenapa setelah melewati berpuluh-puluh kali warga tidak melihat keberadaan korban lampor ini?
Konon katanya, lampor selalu menutupi korbanya. Jadi manusia tidak akan bisa melihat korban dengan mata telanjang, walaupun si korban ada di depan mata.
Seminggu yang lalu, dusun saya dihebohkan dengan hilangnya seorang warga. Namanya pak Juhudi, 47 tahun. Sekitar pukul 4 sore, dia memberitahu istrinya bahwa dia akan merumput untuk memberi makan kambing-kambingnya di sekitar Alas Cengkoreh.
Alas Cengkoreh adalah alas lebat yang letaknya diatas dusun kami. Pepohonan disana sangat rimbun, dan jalan setapaknya juga kecil. Hanya bapak-bapak yang berani masuk ke Alas ini.
Pak Juhudi memang sering merumput ke alas ini, tapi hari itu dia berangkat sore karena siangnya dia ada urusan dan tidak sempat merumput. Sampai adzan maghrib ditunggu-tunggu pak Juhudi masih belum sampai rumah, istrinya hanya menanyakan ke Adiknya yang rumahnya hanya berselang 3 rumah takut-takut suaminya mampir ke Rumah Adiknya setelah merumput, namun setelah dicek Pak Juhudi tidak ada disana. Istrinya masih berpikir positif mungkin sebentar lagi pulang.
Adzan Isya berkumandang, namun belum juga ada tanda-tanda kepulangan Pak Juhudi. Istrinya mulai resah, dia mulai mencari-cari ke rumah tetangga menanyakan apakah tadi sore ada yang pergi ke Alas Cengkoreh dan apakah bertemu dengan suaminya disana. Namun pengakuan dari Pak Ratin dan Pak Sam yang sore itu juga ke Alas Cengkoreh keduanya tidak melihat atau berpapasan dengan Pak Juhudi. Bisa dimaklumi karena alas itu sangat luas.
Karena rasa solidaritas dan perhatian sesama warga malam itu sekitar pukul 8.00, 12 orang warga laki-laki sudah berkumpul di samping mushola dusun membawa senter dan beberapa bilah siap untuk pergi ke Alas, sedangkan gerombolan ibu-ibu menunggu di rumah Pak Juhudi menemani dan menenangkan istrinya. Pukul 9.30 Istri pak Juhudi mendapatkan telepon dari Andi salah satu warga yang ikut pergi ke Alas, katanya disana dibagi menjadi 3 tim, tapi belum ada tim yang menemukan pak Juhudi. Padahal mereka sudah berteriak, antar tim saja bisa saling mendengar teriakan, harusnya pak Juhudi juga mendengar teriakan salah satu tim, karena masing-masing tim berjalan ke arah yang berbeda.
namun hasilnya masih nihil.
Istrinya dirumah semakin panik mendengar kabar tersebut, bukan apa. kami hanya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti pak Juhudi terjatuh ke jurang dan terluka, atau disana bertemu Celeng (babi hutan) karena dialas itu masih banyak sekali celengnya.
Beberapa orang yang sudah sepuh (tua) merasa kelelahan, akhirnya pukul 10.00 diputuskan ketiga tim untuk kembali ke dusun. Dan akan dilanjutkan pencarianya lagi dengan personil yang muda-muda saja. Sesampainya didusun, masing-masing tim saling bertukar informasi mengenai kemajuan pencarianya, jalur mana sajakah yang sudah dilewati dsb.
Pukul 11.00 malam dilanjutkan pencarian kedua, kali ini hanya 7 orang yang berangkat mencari, sudah diputuskan bila sampai jam 1 pagi tetap belum ada tanda-tanda pak Juhudi, pencarian akan dilanjutkan besok pagi, mengingat pencahayaan yang minim dan semakin malam semakin dingin udaranya.
Benar saja sampai pukul 1 pagi, pak Juhudi masih belum bisa ditemukan, warga sudah kembali kerumah masing-masing hanya ada beberapa anggota keluarga yang masih di rumah Pak juhudi untuk menemani istri dan anaknya.
Lewat pukul 02.00 pagi, Mas Nakim yang masih duduk-duduk di depan rumah dari kejauhan seperti melihat bayangan orang memikul sesuatu yang besar, setelah dilihat-lihat dan semakin dekat ternyata itu Pak Juhudi, dia pulang dengan memikul rumput dan daun singkong, dia hanya memakai celana pendek tanpa kaos.
Semua kaget dan senang melihat pak Juhudi pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apapun, tapi merumput dimanakah pak Juhudi kenapa bisa sampai pagi begini?
Setelah santai pak Juhudi bercerita, bahwa dia memang ingat dia pergi merumput ketika waktu sudah sore, awalnya diapun berniat sebelum adzan maghrib dia sudah harus keluar dari Alas dan pulang. Tapi ketika dia sedang asyik merumput dia mendengar adzan, dalam hati wah sudah adzan maghrib harus bergegas pulang, namun ketika dia melihat sekeliling cuaca terang sekali dan terik, seperti memasuki waktu dzuhur.
Disana ia mulai bingung, apa mungkin ini baru dzuhur? Karena dilihatnya masih terang benderang, Pak Juhudi melanjutkan merumput lagi, sampai dia merasa sangat dahaga, dia mengingat didekat sana ada pancuran air, pergilah dia ke pancuran air sambil membawa hasil rumput td.
Disana dia meminu sedikit air pancuran dan rebahan di pinggir pancuran, tanpa ia sadari ia terlelap didekat pancuran entah telah berapa lama.
Sampai tiba-tiba ia merasa ada yang menginjak kakinya, dia bangun dan menyadari warga dusunnya sedang berjalan di samping pak Juhudi, ada yang menginjak kakinya, tanganya, bahkan kepala pak Juhudi hampir saja terinjak. Pak Juhudi mengaku dia sudah berteriak-teriak memaki mereka yang menginjak--injak dirinya, namun heranya warga tsb seperti tidak ada yang mendengarnya, bahkan menolah ke arah Pak Juhudi saja tidak.
Mas Nakim berkata : "Wah mas, nek koe mau turu neng jejer pancuran ya berarti aku lewat kono juga tapi kok ya aku ra weruh koe" "wah mas, kalo kamu tadi tidur di samping pancuran berarti aku juga lewat saa tadi, tapi kau ga liat kamu"
Wah berarti Lampor tidak hanya menyukai anak kecil ya, buktinya sekarang dia sudah mau menyesatkan bapak-bapak juga
Gansist disini pasti udah ga asing sama istilah Lampor ya? Di daerahku Lampor seringkali dikaitkan dengan hilangnya seseorang saat bedhug maghrib. Bedhug maghrib apa si? Yaitu saat dikumandangkanya adzan maghrib diiringi dengan suara pukulan bedhug di masjid. Kalau ada anak kecil yang belum pulang saat adzan mahrib dan sudah dicari kemana-mana tidak ketemu, pasti dibawa Lampor. Anggapan masyarakat disini seperti itu.
Kebanyakan korban Lampor ini anak-anak yang masih berumur 6-13 tahun. Dan biasanya korban lampor ini baru ditemukan tengah malam, tempat ditemukanyapun bukan di tempat yang belum terjamah, tapi kebanyakan mereka ditemukan di tempat yang sudah dilewati berpuluh-puluh kali oleh para warga yang mencari. Lalu kenapa setelah melewati berpuluh-puluh kali warga tidak melihat keberadaan korban lampor ini?
Konon katanya, lampor selalu menutupi korbanya. Jadi manusia tidak akan bisa melihat korban dengan mata telanjang, walaupun si korban ada di depan mata.
Seminggu yang lalu, dusun saya dihebohkan dengan hilangnya seorang warga. Namanya pak Juhudi, 47 tahun. Sekitar pukul 4 sore, dia memberitahu istrinya bahwa dia akan merumput untuk memberi makan kambing-kambingnya di sekitar Alas Cengkoreh.
Alas Cengkoreh adalah alas lebat yang letaknya diatas dusun kami. Pepohonan disana sangat rimbun, dan jalan setapaknya juga kecil. Hanya bapak-bapak yang berani masuk ke Alas ini.
Pak Juhudi memang sering merumput ke alas ini, tapi hari itu dia berangkat sore karena siangnya dia ada urusan dan tidak sempat merumput. Sampai adzan maghrib ditunggu-tunggu pak Juhudi masih belum sampai rumah, istrinya hanya menanyakan ke Adiknya yang rumahnya hanya berselang 3 rumah takut-takut suaminya mampir ke Rumah Adiknya setelah merumput, namun setelah dicek Pak Juhudi tidak ada disana. Istrinya masih berpikir positif mungkin sebentar lagi pulang.
Adzan Isya berkumandang, namun belum juga ada tanda-tanda kepulangan Pak Juhudi. Istrinya mulai resah, dia mulai mencari-cari ke rumah tetangga menanyakan apakah tadi sore ada yang pergi ke Alas Cengkoreh dan apakah bertemu dengan suaminya disana. Namun pengakuan dari Pak Ratin dan Pak Sam yang sore itu juga ke Alas Cengkoreh keduanya tidak melihat atau berpapasan dengan Pak Juhudi. Bisa dimaklumi karena alas itu sangat luas.
Karena rasa solidaritas dan perhatian sesama warga malam itu sekitar pukul 8.00, 12 orang warga laki-laki sudah berkumpul di samping mushola dusun membawa senter dan beberapa bilah siap untuk pergi ke Alas, sedangkan gerombolan ibu-ibu menunggu di rumah Pak Juhudi menemani dan menenangkan istrinya. Pukul 9.30 Istri pak Juhudi mendapatkan telepon dari Andi salah satu warga yang ikut pergi ke Alas, katanya disana dibagi menjadi 3 tim, tapi belum ada tim yang menemukan pak Juhudi. Padahal mereka sudah berteriak, antar tim saja bisa saling mendengar teriakan, harusnya pak Juhudi juga mendengar teriakan salah satu tim, karena masing-masing tim berjalan ke arah yang berbeda.
namun hasilnya masih nihil.
Istrinya dirumah semakin panik mendengar kabar tersebut, bukan apa. kami hanya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti pak Juhudi terjatuh ke jurang dan terluka, atau disana bertemu Celeng (babi hutan) karena dialas itu masih banyak sekali celengnya.
Beberapa orang yang sudah sepuh (tua) merasa kelelahan, akhirnya pukul 10.00 diputuskan ketiga tim untuk kembali ke dusun. Dan akan dilanjutkan pencarianya lagi dengan personil yang muda-muda saja. Sesampainya didusun, masing-masing tim saling bertukar informasi mengenai kemajuan pencarianya, jalur mana sajakah yang sudah dilewati dsb.
Pukul 11.00 malam dilanjutkan pencarian kedua, kali ini hanya 7 orang yang berangkat mencari, sudah diputuskan bila sampai jam 1 pagi tetap belum ada tanda-tanda pak Juhudi, pencarian akan dilanjutkan besok pagi, mengingat pencahayaan yang minim dan semakin malam semakin dingin udaranya.
Benar saja sampai pukul 1 pagi, pak Juhudi masih belum bisa ditemukan, warga sudah kembali kerumah masing-masing hanya ada beberapa anggota keluarga yang masih di rumah Pak juhudi untuk menemani istri dan anaknya.
Lewat pukul 02.00 pagi, Mas Nakim yang masih duduk-duduk di depan rumah dari kejauhan seperti melihat bayangan orang memikul sesuatu yang besar, setelah dilihat-lihat dan semakin dekat ternyata itu Pak Juhudi, dia pulang dengan memikul rumput dan daun singkong, dia hanya memakai celana pendek tanpa kaos.
Semua kaget dan senang melihat pak Juhudi pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apapun, tapi merumput dimanakah pak Juhudi kenapa bisa sampai pagi begini?
Setelah santai pak Juhudi bercerita, bahwa dia memang ingat dia pergi merumput ketika waktu sudah sore, awalnya diapun berniat sebelum adzan maghrib dia sudah harus keluar dari Alas dan pulang. Tapi ketika dia sedang asyik merumput dia mendengar adzan, dalam hati wah sudah adzan maghrib harus bergegas pulang, namun ketika dia melihat sekeliling cuaca terang sekali dan terik, seperti memasuki waktu dzuhur.
Disana ia mulai bingung, apa mungkin ini baru dzuhur? Karena dilihatnya masih terang benderang, Pak Juhudi melanjutkan merumput lagi, sampai dia merasa sangat dahaga, dia mengingat didekat sana ada pancuran air, pergilah dia ke pancuran air sambil membawa hasil rumput td.
Disana dia meminu sedikit air pancuran dan rebahan di pinggir pancuran, tanpa ia sadari ia terlelap didekat pancuran entah telah berapa lama.
Sampai tiba-tiba ia merasa ada yang menginjak kakinya, dia bangun dan menyadari warga dusunnya sedang berjalan di samping pak Juhudi, ada yang menginjak kakinya, tanganya, bahkan kepala pak Juhudi hampir saja terinjak. Pak Juhudi mengaku dia sudah berteriak-teriak memaki mereka yang menginjak--injak dirinya, namun heranya warga tsb seperti tidak ada yang mendengarnya, bahkan menolah ke arah Pak Juhudi saja tidak.
Mas Nakim berkata : "Wah mas, nek koe mau turu neng jejer pancuran ya berarti aku lewat kono juga tapi kok ya aku ra weruh koe" "wah mas, kalo kamu tadi tidur di samping pancuran berarti aku juga lewat saa tadi, tapi kau ga liat kamu"
Wah berarti Lampor tidak hanya menyukai anak kecil ya, buktinya sekarang dia sudah mau menyesatkan bapak-bapak juga
gembogspeed dan 4 lainnya memberi reputasi
5
