- Beranda
- Stories from the Heart
JATMIKO THE SERIES
...
TS
breaking182
JATMIKO THE SERIES
JATMIKO THE SERIES
Quote:
EPISODE 1 : MISTERI MAYAT TERPOTONG
Quote:
EPISODE 2 : MAHKLUK SEBERANG ZAMAN
Quote:
EPISODE 3 : HANCURNYA ISTANA IBLIS
Diubah oleh breaking182 07-02-2021 01:28
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
25
58K
Kutip
219
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#124
PART 14
Quote:
Siang hari itu setelah beberes dan mandi Mia masih termenung di depan cermin rias. Pikirannya masih kacau balau, hatinya masih belum yakin bahwa apa yang dialaminya semalam itu hanya mimpi belaka. Meski Dito pun sudah meyakinkan hatinya. Akan tetapi, Mia masih belum bisa percaya. Entah sudah berapa lama Mia termangu –mangu. Tiba –tiba memandang tanpa berkedip pantulan bayangannya di cermin. Lalu ia meraba telinga kanannya dimana di sana mengantung sebuah anting berbentuk ular yang sedang melingkar. Lalu ia raba telinga kirinya. Dirabanya sekali lagi tidak terasa ada anting yang menggantung. Disibakkan rambutnya yang masih agak basah itu. Di telinga kirinya kosong.
Buru –buru Mia bergegas meninggalkan kamar. Tanpa ia sadari Mia telah duduk di batu lebar berbentuk altar yang terletak di bibir lembah. Heran, pikirnya. Mengapa ia reflek untuk mengunjungi tempat ini lagi. Ia tercenung. Membisu bagai seonggok bebatuan. Sesekali kaki kanannya bergerak untuk menghindari seekor binatang melata kecil yang disebut kaki seribu. Tepat pada saat yang sama ia lihat sesuatu yang lain. Terselip di celah dua buah batu yang menjorok ke rerumputan. Sesuatu yang bekilauan tertimpa cahaya matahari dan ketika ia pertajam matanya. Benda itu ia pungut dengan tangan gemetar. Sebuah anting berbentuk ular melingkar.
Mia mengamat - amati anting yang ada dalam genggaman tangan kanannya dengan jantung berdebar. Sesaat Mia mencoba mengabaikan temuannya itu. Akan tetapi, warna bentuk dan besarnya sama benar dengan anting miliknya yang telah raib. Tentulah anting itu itu terjatuh dari telinga kiri Mia, tetapi mengapa jatuhnya di tempat ini? Pertanyaan besar itu berkecamuk dalam batin Mia. Jangan –jangan memang benar malam tadi ia tidak bermimpi. Melainkan suatu kenyataan. Mendadak perasaan tidak enak menyelinap di sanubarinya. Ia teringat mimpi buruknya tadi malam. Seolah - olah tubuhnya melayang –layang dan tatkala membuka mata ia sudah terbaring di atas batu berbentuk altar yang kini ia duduki. Apakah semua itu bukan sekedar mimpi...Atau.....
Pundaknya terasa dingin seketika. Nalurinya membisikkan bahwa saat itu ia tengah diawasi seseorang. Reflek. Lehernya berputar dengan sepasang mata memandang ke sekitar tempat itu. Tak ada siapa-siapa yang kelihatan. kecuali rumah - rumah yang berdiri megah. Diam membatu seolah tidak berpenghuni. Suasana di sekitarnya sepi tanpa ada tanda – tanda kehidupan.
Takut takut, ia menoleh ke belakang. Memandang tonjolan batu yang paling tinggi paling curam dari batu - batu lainnya. Ia mengharapkan dengan cemas, di atas sana tegak sesosok tubuh kehitam – hitaman, tinggi dan tanpa kepala. Namun selain langit yang biru jernih serta sekelompok awan putih perak ia tidak melihat apa - apa lagi.
“Pasti! Pasti ada yang mengawasiku" desahnya gemetar.
Lantas ia menghambur turun dari batu dan lari secepat mungkin ke rumah. Untunglah akal sehatnya segera muncul. Mungkin hanya perasaannya saja yang mengatakan ia diawasi. Kalaupun ada orang jahil yang mengintipnya dari tempat tersembunyi. ia tak perlu takut. Ia harus menunjukkan bahwa ia seorang perempuan yang berhati tegar. Ia lantas melangkah dengan tenang dan sabar. Makin dekat ke rumah. Perasaan diawasi itu pun makin hilang pula .
Buru –buru Mia bergegas meninggalkan kamar. Tanpa ia sadari Mia telah duduk di batu lebar berbentuk altar yang terletak di bibir lembah. Heran, pikirnya. Mengapa ia reflek untuk mengunjungi tempat ini lagi. Ia tercenung. Membisu bagai seonggok bebatuan. Sesekali kaki kanannya bergerak untuk menghindari seekor binatang melata kecil yang disebut kaki seribu. Tepat pada saat yang sama ia lihat sesuatu yang lain. Terselip di celah dua buah batu yang menjorok ke rerumputan. Sesuatu yang bekilauan tertimpa cahaya matahari dan ketika ia pertajam matanya. Benda itu ia pungut dengan tangan gemetar. Sebuah anting berbentuk ular melingkar.
Mia mengamat - amati anting yang ada dalam genggaman tangan kanannya dengan jantung berdebar. Sesaat Mia mencoba mengabaikan temuannya itu. Akan tetapi, warna bentuk dan besarnya sama benar dengan anting miliknya yang telah raib. Tentulah anting itu itu terjatuh dari telinga kiri Mia, tetapi mengapa jatuhnya di tempat ini? Pertanyaan besar itu berkecamuk dalam batin Mia. Jangan –jangan memang benar malam tadi ia tidak bermimpi. Melainkan suatu kenyataan. Mendadak perasaan tidak enak menyelinap di sanubarinya. Ia teringat mimpi buruknya tadi malam. Seolah - olah tubuhnya melayang –layang dan tatkala membuka mata ia sudah terbaring di atas batu berbentuk altar yang kini ia duduki. Apakah semua itu bukan sekedar mimpi...Atau.....
Pundaknya terasa dingin seketika. Nalurinya membisikkan bahwa saat itu ia tengah diawasi seseorang. Reflek. Lehernya berputar dengan sepasang mata memandang ke sekitar tempat itu. Tak ada siapa-siapa yang kelihatan. kecuali rumah - rumah yang berdiri megah. Diam membatu seolah tidak berpenghuni. Suasana di sekitarnya sepi tanpa ada tanda – tanda kehidupan.
Takut takut, ia menoleh ke belakang. Memandang tonjolan batu yang paling tinggi paling curam dari batu - batu lainnya. Ia mengharapkan dengan cemas, di atas sana tegak sesosok tubuh kehitam – hitaman, tinggi dan tanpa kepala. Namun selain langit yang biru jernih serta sekelompok awan putih perak ia tidak melihat apa - apa lagi.
“Pasti! Pasti ada yang mengawasiku" desahnya gemetar.
Lantas ia menghambur turun dari batu dan lari secepat mungkin ke rumah. Untunglah akal sehatnya segera muncul. Mungkin hanya perasaannya saja yang mengatakan ia diawasi. Kalaupun ada orang jahil yang mengintipnya dari tempat tersembunyi. ia tak perlu takut. Ia harus menunjukkan bahwa ia seorang perempuan yang berhati tegar. Ia lantas melangkah dengan tenang dan sabar. Makin dekat ke rumah. Perasaan diawasi itu pun makin hilang pula .
Quote:
Sebuah mobil tua muncul dengan suara mesin menggerung gerung di jalan mendaki, lalu setelah lebih dulu terbatuk batuk berhenti di depan rumah bersamaan waktunya ketika Mia tiba di tempat yang sama. Lewat jendela mobil Dito melempar seulas senyum manis seraya melambaikan tangan. Mia berlari lari mendekat dan membukakan pintu mobil.
Dito turun, tertawa kecil kemudian sesekali bersin, seraya menyeka kening dengan sehelai sapu tangan. “ Kau baik - baik saja Mia?"
Mia berjalan mengiringi Dito masuk ke dalam rumah. Begitu mereka di pintu. Dito bersin lagi .
"Flu?" tanya Mia.
"He-eh...."
"Aneh!"
“ Apa anehnya orang kena flu?" rungut Dito setengah tersinggung, seraya membiarkan tas ranselnya diambil Mia yang kemudian membawanya masuk ke dalam dan meletakkan di atas meja.
"Aku tadi ikut Pak Parman dalam penggerebekan seorang bandar narkotik di kawasaan Pantai Wedi Ombo. Hujan sedang turun. Derasnya bukan main”
“Eh, apakah di sini tidak hujan? "
Sebagai jawaban Mia justru balas bertanya: “ Kau keluar malam ya?"
"Kapan?" tanya Dito bingung.
"Tadi malam."
"Apa maksudmu Mia ?"
“Bukankah sepanjang malam tadi ku tidur di...."
“ Ah, aku hanya ingin tahu ", Mia memotong dengan cepat.
Mia angkat bahu. Lantas sambil bergegas ke belakang. Lalu ia berhenti. Ia mengawasi Dito yang juga tengah melakukan hal yang sama terhadapnya.
Lantas bertanya dengan penuh selidik : "Oh ya, ketika aku sedang mengeringkan rambutku di depan cermin. Tiba –tiba aku baru sadar, anting ku yang sebelah telah lenyap.Kau tahu dimana aku menemukannya?"
Dito membasahi bibir.
Berpikir sebentar. lalu: "Soal anting mu yang hilang, aku sama sekali tidak tahu menahu. Mengapa soal sepele itu harus kau tanyakan kepadaku Mia?"
Belum lagi Mia menjawab, pintu penghubung ke rumah induk diketuk dari dalam. Dito membukanya dan induk semang mereka berdiri di sana. Menghadiahkan seulas senyum keibuan untuk muda mudi yang tengah bersitegang itu. Perempuan berusia lanjut itu memandang mereka silih berganti. Lantas mendengus dengan nada menyesal: "Oh...Rupanya aku telah memilih waktu yang tidak cocok!"
“ Barusan kami memang lagi asyik...!" Dito menyeringai sumbang.
Sementara Mia diam - diam menyelinap masuk dapur.
"Ada apa Bu Endah?"
"Pak Parlin menanyakanmu tadi. Katanya kalian berdua sudah ada janji...."
"Janji?!"
“ Aku...." protes yang keluar dari mulut Dito terhenti ketika matanya beradu dengan sorot mata bu Endah yang berkilau tajam.
Bersin sebentar. Dito kemudian merubah nada suaranya menjadi serius.
"Astagaaaa!”, ia berseru lantang.
"Memang aku berjanji untuk menemui Pak Parlin dua hari yang lalu untuk menyelesaikan surat- surat pindah kami yang belum beres. Wah, wah. Dia marah tentunya... “
“ Tidak" , Bu Endah memotong cepat.
“ Oh, syukurlah. Kapan aku harus datang menemuinya Bu Endah?"
"Katanya sekarang juga kalau kau ada waktu...."
Di dapur, Mia yang mendengar percakapan itu dengan pikiran melantur tidak menentu. Selaksa pertanyaan bersemanyam di hatinya. Tanpa satupun yang ia tahu jawabannya.
Dito turun, tertawa kecil kemudian sesekali bersin, seraya menyeka kening dengan sehelai sapu tangan. “ Kau baik - baik saja Mia?"
Mia berjalan mengiringi Dito masuk ke dalam rumah. Begitu mereka di pintu. Dito bersin lagi .
"Flu?" tanya Mia.
"He-eh...."
"Aneh!"
“ Apa anehnya orang kena flu?" rungut Dito setengah tersinggung, seraya membiarkan tas ranselnya diambil Mia yang kemudian membawanya masuk ke dalam dan meletakkan di atas meja.
"Aku tadi ikut Pak Parman dalam penggerebekan seorang bandar narkotik di kawasaan Pantai Wedi Ombo. Hujan sedang turun. Derasnya bukan main”
“Eh, apakah di sini tidak hujan? "
Sebagai jawaban Mia justru balas bertanya: “ Kau keluar malam ya?"
"Kapan?" tanya Dito bingung.
"Tadi malam."
"Apa maksudmu Mia ?"
“Bukankah sepanjang malam tadi ku tidur di...."
“ Ah, aku hanya ingin tahu ", Mia memotong dengan cepat.
Mia angkat bahu. Lantas sambil bergegas ke belakang. Lalu ia berhenti. Ia mengawasi Dito yang juga tengah melakukan hal yang sama terhadapnya.
Lantas bertanya dengan penuh selidik : "Oh ya, ketika aku sedang mengeringkan rambutku di depan cermin. Tiba –tiba aku baru sadar, anting ku yang sebelah telah lenyap.Kau tahu dimana aku menemukannya?"
Dito membasahi bibir.
Berpikir sebentar. lalu: "Soal anting mu yang hilang, aku sama sekali tidak tahu menahu. Mengapa soal sepele itu harus kau tanyakan kepadaku Mia?"
Belum lagi Mia menjawab, pintu penghubung ke rumah induk diketuk dari dalam. Dito membukanya dan induk semang mereka berdiri di sana. Menghadiahkan seulas senyum keibuan untuk muda mudi yang tengah bersitegang itu. Perempuan berusia lanjut itu memandang mereka silih berganti. Lantas mendengus dengan nada menyesal: "Oh...Rupanya aku telah memilih waktu yang tidak cocok!"
“ Barusan kami memang lagi asyik...!" Dito menyeringai sumbang.
Sementara Mia diam - diam menyelinap masuk dapur.
"Ada apa Bu Endah?"
"Pak Parlin menanyakanmu tadi. Katanya kalian berdua sudah ada janji...."
"Janji?!"
“ Aku...." protes yang keluar dari mulut Dito terhenti ketika matanya beradu dengan sorot mata bu Endah yang berkilau tajam.
Bersin sebentar. Dito kemudian merubah nada suaranya menjadi serius.
"Astagaaaa!”, ia berseru lantang.
"Memang aku berjanji untuk menemui Pak Parlin dua hari yang lalu untuk menyelesaikan surat- surat pindah kami yang belum beres. Wah, wah. Dia marah tentunya... “
“ Tidak" , Bu Endah memotong cepat.
“ Oh, syukurlah. Kapan aku harus datang menemuinya Bu Endah?"
"Katanya sekarang juga kalau kau ada waktu...."
Di dapur, Mia yang mendengar percakapan itu dengan pikiran melantur tidak menentu. Selaksa pertanyaan bersemanyam di hatinya. Tanpa satupun yang ia tahu jawabannya.
Quote:
Dito menghempaskan tubuhnya di sofa merah ruang tengah. Di seberangnya Mia tampak asyik menonton acara di layar televisi yang menyala. Gadis itu sama sekali tidak menghiraukan Dito yang tampak gelisah di tempat duduknya. Sesekali pemuda berambut ikal itu mendeham seperti sengaja untuk memancing Mia agar tidak mengabaikan kehadirannya. Akan tetapi, upayanya itu sia –sia belaka. Mia masih tetap tidak bergeming. Hingga pada akhirnya Dito menyerah juga.
"Maaf...Aku pergi agak lama," Dito setengah berbisik.
"Pak Parlin sedikit rewel. Sehingga pembicaraan jadi bertele tele. Tetapi semua sudah beres sekarang "
"Hem!"
“ Masih marah?'' Dito beringsut beranjak dari sofanya kemudian duduk di samping Mia.
"Aku mengabaikan maksud dan tujuan kita di tempat ini. Dan aku berjanji mulai besok akan fokus membantu membuka dan menyelidiki kasus yang tengah kau hadapi “
" Aku bisa mengatasi permasalahanku sendiri “, desah Mia berpura - pura.
"Tetapi kau harus berterus terang. Mia. Aku harus minta maaf karena tadi malam aku memang keluar”
“ Aku mendengar suara mencurigakan yang mengitari rumah ini, langkah –langkah kaki lebih dari sepasang. Mungkin belasan, atau puluhan pasang kaki. Bahkan sesekali langkah –langkah itu berhenti tepat di balik tembok kamar kita “
"Aku... aku tak mendengar apa -apa"
"Tentu saja Mia. Kau terlalu banyak menelan obat. Kau benar - benar tidur seperti orang mati "
Mia teringat mimpi buruknya.
“ Dito, aku melihat dengan jelas orang - orang itu. Wajah mereka dicoreng-moreng. Bukan, mereka memakai sejenis topeng yang aneh. Berkelakuan aneh, bernyanyi sebuah lirik yang tidak jelas. Itu bukan bernyanyi tetapi seperti sedang melakukan ritual pemujaan. Dan ..........."
" Itu hanya perasaanmu Mia" ,Dito mendengus setelah tubuhnya tegang sesaat.
“ Lalu apa yang kau temui setelah kau keluar rumah tengah malam buta itu? “, Mia bertanya sembari mematikan televisi menggunakan remote yang sedari tadi ada di genggaman tangannya.
Hening sesaat.
"Aku kehilangan jejak, langkah –langkah kaki mereka tiba –tiba raib. Hilang tidak berbekas. Bekas –bekas tapak kakinya pun satupun tidak aku temui. Tanaman bunga masih tetap rapi tidak ada tanda terinjak ataupun tersibak sedikitpun “
Mia menggigit bibirnya sendiri. Apakah benar yang dikatakan oleh Dito?
“ Lalu aku kembali masuk ke rumah. Duduk sendirian di ruangan tengah ini sampai pagi menjelang. Dini hari telpon berbunyi Pak Parman mengajakku untuk meliput penggerebekan gembong narkotik yang bersembunyi di kawasan Wedi Ombo"
Mia menarik nafas panjang, “ Maafkan aku Dito. Aku telah berprasangka buruk padamu. Mulai sekarang kita harus bahu membahu mengungkap kasus usang ini “
Aku setuju, memang dari awal kedatangan kita kesini untuk tujuan itu”, ujar Dito dengan bersemangat.
Lalu keduanya tertawa gembira, ganjalan batu di dada Mia tiba –tiba langsung mencair dan menguap entah kemana.
"Mia, aku lapar."
“ Makanlah. Semua sudah terhidang di meja makan!"
Tanpa menunggu Dito, Mia beranjak ke ruang makan yang hanya bersebelahan dengan ruang tengah. Tidak berapa lama Dito telah muncul di tempat itu. Terlihat di permukaan meja makan terhidang santapan sore yang terlihat menggugah selera dan memacu nafsu makan untuk lebih lari dengan cepat.
“ Sini ku ambilkan, “ Mia mengambil piring yang sudah terlungkup di atas meja makan. Tangannya dengan cekatan mengambil nasi dan lauk yang telah berada di atas permukaan meja makan.
“ Sudah cukup Mia, jangan terlalu banyak. Perutku tentu tidak akan muat dijejali dengan makanan sebanyak itu “
Tangan Dito terulur meraih piring yang diangsurkan oleh Mia. Tanpa sengaja kemeja lengan panjang di bagian pergelangan tangan kanan sedikit tersingkap. Terlihat lingkaran sebesar cincin berwarna merah kehitam hitaman. Seperti tattoo.
Mia memperhatikannya terheran –heran karena lingkaran sebesar cincin yang aneh itu sepertinya tidak ada sebelumnya. Atau karena Dito sering memakai kemeja atau kaos berlengan panjang ?Ia mau bertanya. Namun, Dito sudah asik dengan makanan yang berada di permukaan piringnya. Seketika Mia melupakan tattoo ganjil di pergelangan tangan kanan itu. Mia pun tidak perduli.
"Maaf...Aku pergi agak lama," Dito setengah berbisik.
"Pak Parlin sedikit rewel. Sehingga pembicaraan jadi bertele tele. Tetapi semua sudah beres sekarang "
"Hem!"
“ Masih marah?'' Dito beringsut beranjak dari sofanya kemudian duduk di samping Mia.
"Aku mengabaikan maksud dan tujuan kita di tempat ini. Dan aku berjanji mulai besok akan fokus membantu membuka dan menyelidiki kasus yang tengah kau hadapi “
" Aku bisa mengatasi permasalahanku sendiri “, desah Mia berpura - pura.
"Tetapi kau harus berterus terang. Mia. Aku harus minta maaf karena tadi malam aku memang keluar”
“ Aku mendengar suara mencurigakan yang mengitari rumah ini, langkah –langkah kaki lebih dari sepasang. Mungkin belasan, atau puluhan pasang kaki. Bahkan sesekali langkah –langkah itu berhenti tepat di balik tembok kamar kita “
"Aku... aku tak mendengar apa -apa"
"Tentu saja Mia. Kau terlalu banyak menelan obat. Kau benar - benar tidur seperti orang mati "
Mia teringat mimpi buruknya.
“ Dito, aku melihat dengan jelas orang - orang itu. Wajah mereka dicoreng-moreng. Bukan, mereka memakai sejenis topeng yang aneh. Berkelakuan aneh, bernyanyi sebuah lirik yang tidak jelas. Itu bukan bernyanyi tetapi seperti sedang melakukan ritual pemujaan. Dan ..........."
" Itu hanya perasaanmu Mia" ,Dito mendengus setelah tubuhnya tegang sesaat.
“ Lalu apa yang kau temui setelah kau keluar rumah tengah malam buta itu? “, Mia bertanya sembari mematikan televisi menggunakan remote yang sedari tadi ada di genggaman tangannya.
Hening sesaat.
"Aku kehilangan jejak, langkah –langkah kaki mereka tiba –tiba raib. Hilang tidak berbekas. Bekas –bekas tapak kakinya pun satupun tidak aku temui. Tanaman bunga masih tetap rapi tidak ada tanda terinjak ataupun tersibak sedikitpun “
Mia menggigit bibirnya sendiri. Apakah benar yang dikatakan oleh Dito?
“ Lalu aku kembali masuk ke rumah. Duduk sendirian di ruangan tengah ini sampai pagi menjelang. Dini hari telpon berbunyi Pak Parman mengajakku untuk meliput penggerebekan gembong narkotik yang bersembunyi di kawasan Wedi Ombo"
Mia menarik nafas panjang, “ Maafkan aku Dito. Aku telah berprasangka buruk padamu. Mulai sekarang kita harus bahu membahu mengungkap kasus usang ini “
Aku setuju, memang dari awal kedatangan kita kesini untuk tujuan itu”, ujar Dito dengan bersemangat.
Lalu keduanya tertawa gembira, ganjalan batu di dada Mia tiba –tiba langsung mencair dan menguap entah kemana.
"Mia, aku lapar."
“ Makanlah. Semua sudah terhidang di meja makan!"
Tanpa menunggu Dito, Mia beranjak ke ruang makan yang hanya bersebelahan dengan ruang tengah. Tidak berapa lama Dito telah muncul di tempat itu. Terlihat di permukaan meja makan terhidang santapan sore yang terlihat menggugah selera dan memacu nafsu makan untuk lebih lari dengan cepat.
“ Sini ku ambilkan, “ Mia mengambil piring yang sudah terlungkup di atas meja makan. Tangannya dengan cekatan mengambil nasi dan lauk yang telah berada di atas permukaan meja makan.
“ Sudah cukup Mia, jangan terlalu banyak. Perutku tentu tidak akan muat dijejali dengan makanan sebanyak itu “
Tangan Dito terulur meraih piring yang diangsurkan oleh Mia. Tanpa sengaja kemeja lengan panjang di bagian pergelangan tangan kanan sedikit tersingkap. Terlihat lingkaran sebesar cincin berwarna merah kehitam hitaman. Seperti tattoo.
Mia memperhatikannya terheran –heran karena lingkaran sebesar cincin yang aneh itu sepertinya tidak ada sebelumnya. Atau karena Dito sering memakai kemeja atau kaos berlengan panjang ?Ia mau bertanya. Namun, Dito sudah asik dengan makanan yang berada di permukaan piringnya. Seketika Mia melupakan tattoo ganjil di pergelangan tangan kanan itu. Mia pun tidak perduli.
1980decade dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas
Tutup