Part 2. Lanjut di sini gan
Ibu dan pria tersebut kemudian masuk ke dalam rumah, sepertinya tanpa menyadari sepatu Gilda yang tertata di rak sepatu, karena kalau ibunya sadar, ia pasti sudah memanggil-manggil nama Gilda. Firasat Gilda kecil mengatakan padanya untuk tidak keluar kamar dan memanggil ibunya saat itu. Ia memilih berdiam di kamar sambil memasang telinganya tajam pada suara-suara di lantai bawah. Ia mendengar suara percakapan kecil antara ibunya dengan pria tersebut dalam suara pelan, dan… ganjil. Gilda menahan rasa penasarannya dan terus mendengarkan. Sebentar kemudian, suara ibunya berubah menjadi desahan-desahan kecil tertahan, sambil sesekali terucap nama pria tersebut. Jantung Gilda kecil berdegup cepat. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Ia mendengar langkah kaki, dan pintu kamar orang tuanya di lantai bawah terbuka, jantung Gilda semakin tidak karuan dan keringat dingin semakin deras mengalir. Ia memberanikan diri membuka pintu, berjinjit berjalan menuju tangga turun, merangkak dan mencoba mencari tahu melalui cela ventilasi kamar ibunya yang berdekatan dengan anak tangga. Di dalam kamar, Gilda kecil menyaksikan wajah ibunya mengadah ke atas mengap-mengap seperti ikan koi, mengeluarkan tarikan nafas seperti orang sakit asma. Sementara wajah pria berwajah kasar itu tengah tenggelam di buah dada ibunya yang montok, meremas-remas dengan kasar, dan menghisap puting kanan payudara ibunya yang besar dan coklat seperti bayi kelaparan hingga mengeluarkan suara kecapan yang menjijikan. Gilda melihat semakin kencang hisapan pria tersebut, ibunya mengeluarkan suara erangan yang makin kencang meski seperti berusaha di tahan. Kemudian ia menyaksikan pria membuka kedua kaki ibunya, membenahi posisinya di antara kaki ibunya, dan kemudian mendorong pinggangnya. Erangan ibunya makin kencang, sementara pria itu melanjutkan dengan memaju mundurkan pinggannya. Makin lama, makin cepat.
Kira-kira adegan itu berjalan selama lima menit, hingga akhirnya tubuh pria berkelenjotan, diikuti oleh pekikan mengerikan ibunya. Menyaksikan adegan itu, Gilda dalam diam kembali ke kamarnya. Membisu dalam degup jantung dan keringat dingin yang semakin menggila. Dunia di sekeliling Gilda mendadak seperti runtuh. Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi. Namun satu hal yang pasti sesuatu yang mengerikan dalam dirinya sedang menggeliat. Gilda berdiam tanpa suara di kamarnya, hingga mendengar Si Pria Berwajah Kasar dan ibunya keluar dari rumah. Gilda mengambil kesempatan itu untuk mengenakan pakaian sekolahnya lagi, dan pergi dari rumah. Ia menunggu jam pulang sekolah wajar untuk masuk ke rumah, saat ibunya sedang berada di dapur, seperti tidak ada yang berubah.
Hubungan ibu dan pria itu berakhir saat ayah mendapat laporan dari para tetangga. Ia mendengar, ayah sampai bersujud memohon pada para tokoh untuk tidak melakukan apapun dan membiarkan dia menyelesaikan semua itu sebagai kepala keluarga. Dilga ingat bahwa Sang Ibu menangis di atas paha ayah. Pemandangan yang memilukan, sekaligus memuakkan. Ayah memutuskan memboyong keluarga pindah dari tempat tersebut demi menjaga nama baik ibu. Dan bertahun-tahun setelah itu, di sore Oktober tadi, ia menyaksikan ayahnya menangis dan terguncang di depan jenazah ibu. Dari air mata dan gurat wajah tua itu, Gilda menyadari, bahwa Ayahnya memilih untuk mengenang ibu sebagai kekasih hidup dan matinya.
Tiba-tiba, Dilga merasa sesuatu yang hangat mengaliri pipinya. Ia meraba wajahnya, dan tahu-tahu, air mata itu jatuh semakin deras. Nafas Dilga terasa sesak, seperti sesuatu yang padat mengembang cepat dalam dadanya dan menghambat pernafasannya. Ingatan ibunya menyeruak, dan kali ini bukan ingatan pada siang yang celaka itu, melainkan ingatan-ingatan saat ibunya menyuapinya dengan bubur hangat dan merawatnya dengan telaten saat typus menyerangnya, ingatan saat ibu menggandeng erat tangannya dalam perjalanan hari pertama menuju sekolah, ingatan saat ibu memeluknya erat pada wisuda, atau mencium keningnya di Bandara saat Dilga ditugaskan ke Ketapang. Dilga menangis, mengabaikan resiko ia dihampiri oleh penjaga taman. Setelah semua ingatan itu berakhir, Dilga menarik nafas panjang, menenangkan pikirannya. Ia menatap permukaan Sungai Brantas itu sekali lagi, mengambil smartphone dari kantong celana, menekan beberapa tombol dan menelpon seseorang.
“Yo, sorry ganggu malam-malam. Ini Gilda… Iya, sorry. Gini, aku mau minta tolong dikit…” Dilga terus berbicara sambil berjalan menuju mobilnya.
Dua malam kemudian, di Kafe milik Ronald, Putri sedang duduk menghadap meja bar sambil menghirup susu hangatnya. Dihadapannya, Ronald duduk tegak seperti para pelamar yang tengah duduk di ruang wawancara kerja, bersiap menghadapi mimpi buruk apa yang akan diterimanya. Kafe sudah melewati jam sibuknya, dan hanya ada mereka berdua serta satu dua pelangga di sudut meja yang jauh, juga karyawan Ronald yang hilir mudik menyibukkan diri begitu membaca suasana tidak enak diantara bos dan tunangannya.
“Itu idemu?” Tanya Putri sambil menatap tajam pada Ronald.
“Maksudmu?”
“Gak usah nutupin!”, kata Putri dengan nada kesal. Ronald bergenjit takut, kekasihnya tipe wanita keras, dan sejak awal, dia sudah mengatakan pada Dilga rencananya untuk menunggu Putri pulang dan mencegatnya begitu keluar dari kantor adalah ide buruk.
“Dia bodoh, aku tahu sejak dulu. Tapi aku tidak menyangka dia bisa setolol itu…” Keluh Ronald begitu mendengar Dilga benar-benar melaksanan rencana itu, TANPA DIRINYA.
“Dia bersikeras menghadapimu sendiri.” Ujar Ronald. "Tapi, kukira kalian sudah bicara dengan benar kali ini."
Putri mendengus kesal sambil memandang kotak kecil coklat di depannya. Ronald membuka kotak tersebut dan menemukan sebilah kayu dengan ukiran foto dirinya dan Putri dalam balutan pakaian pengantin, dan ukiran indah bertuliskan “HAPPY WEDDING”. Ronald tahu barang seperti ini tidak bisa dibuat dalam waktu semalam, dan curiga kalau Dilga telah memaksa seseorang untuk mengerjakannya dalam waktu cepat.
“Dari mana ia dapat desain ini ya?” ujar Ronald sambil mengusap ukiran kayu tersebut.
“Bukan itu masalahnya!” Seru Putri.
Ronald menatap Putri yang masih kesal dan tersenyum. Ia meraih dan menggenggam tangan tunangannya itu. “Katakan bila aku salah, tapi aku tidak merasakan kemarahan pada wajah cemberut itu..” Godanya. “Hishh…” Putri menolak tangan Ronald, dan memutar kursinya berbalik memunggungi Ronald. Gadis itu diam melempar pandangan pada isi Kafe. Ronald mendesah sambil kembali fokus pada catatan penjualan hari itu.
“ Dia bilang, mau mencari Yuri, kau tahu? Itu mantannya, dia bilang mau meminta maaf dengan benar.” Ujar Ronald sambil melirik Putri. Namun, gadis itu tidak bereaksi.
“Dia harus mencari cara minta maaf yang baru..” gumam Putri.
“hah?”
“Gak papa.”, Ronald menyeringai. “Boleh kuundang dia di pesta kita?”
“Terserah kamu lah.”
Ronald diam tersenyum