- Beranda
- Stories from the Heart
Jurnal Langit : Malam Terakhir Sebelum Kematian (KUMPULAN CERPEN)
...
TS
raganagori
Jurnal Langit : Malam Terakhir Sebelum Kematian (KUMPULAN CERPEN)
Selamat malam, agan-agan.
Cuma mau menyampaikan, STAY SAFE AND MAINTAIN YOUR HEALTH.
Dunia sedang dilanda musibah epidemi yang mematikan, Namun percayalah ini bukanlah yang pertama bagi manusia. Tetap berkepala dingin, bergerak, dan jaga diri serta orang-orang yang disayangi.
Sedikit tambahan, ada cerita baru, karena ane entah lagi kesambet inspirasi dari mana. Selamat menikmati.
NEW STORY :
Catatan Keempat Belas : Satu Hari dalam Hidup Elang
CATATAN JURNAL LANGIT :
Catatan Pertama : Penghibur Bagi Yang Kesepian
Catatan Kedua : Belajar Untuk Mencintaimu
Catatan Ketiga : Rasa Yang Dibawa Oleh hujan
Catatan Keempat : Tangan Kurus Ibu
Catatan Kelima : Lucid Dream
Catatan Keenam : Tidak Ada Makam Di Kotaku
Catatan 7.1 : Translucent (part 1)
Catatan 7.2 : Translucent (part 2)
Catatan Kedelapan : Garis Batas
Catatan 9.1 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 1)
Catatan 9.2 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 2)
Catatan Kesepuluh : Dua Denyut
Catatan Kesebelas : Punggung Ibu
Catatan 12.1 : Kisah Kisah Bulan Oktober (Part I)
Catatan 12.2 : Kisah Klise Bulan Oktober (Part II)
Catatan Ketiga belas : Separuh dan Kau
Cuma mau menyampaikan, STAY SAFE AND MAINTAIN YOUR HEALTH.
Dunia sedang dilanda musibah epidemi yang mematikan, Namun percayalah ini bukanlah yang pertama bagi manusia. Tetap berkepala dingin, bergerak, dan jaga diri serta orang-orang yang disayangi.
Sedikit tambahan, ada cerita baru, karena ane entah lagi kesambet inspirasi dari mana. Selamat menikmati.
NEW STORY :
Catatan Keempat Belas : Satu Hari dalam Hidup Elang
CATATAN JURNAL LANGIT :
Catatan Pertama : Penghibur Bagi Yang Kesepian
Catatan Kedua : Belajar Untuk Mencintaimu
Catatan Ketiga : Rasa Yang Dibawa Oleh hujan
Catatan Keempat : Tangan Kurus Ibu
Catatan Kelima : Lucid Dream
Catatan Keenam : Tidak Ada Makam Di Kotaku
Catatan 7.1 : Translucent (part 1)
Catatan 7.2 : Translucent (part 2)
Catatan Kedelapan : Garis Batas
Catatan 9.1 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 1)
Catatan 9.2 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 2)
Catatan Kesepuluh : Dua Denyut
Catatan Kesebelas : Punggung Ibu
Catatan 12.1 : Kisah Kisah Bulan Oktober (Part I)
Catatan 12.2 : Kisah Klise Bulan Oktober (Part II)
Catatan Ketiga belas : Separuh dan Kau
Diubah oleh raganagori 09-05-2020 02:46
tien212700 dan 56 lainnya memberi reputasi
57
11.1K
Kutip
35
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
raganagori
#29
Kisah Klise Bulan Oktober (Part I)
Kisah klise yang ditulis secara impulsif di Minggu membosankan. Selamat menikmati.
![kaskus-image]()
picture by: dreamstime.com
Tirai panggung Oktober tergulung, menghamparkan horizon luas dengan permukaan Sungai Pawan yang memantulkan mendung di lauzardi. Bau hujan seakan pecah dan menguapkan aroma kalut dari akar-akar bakau. Gilda berdiri mematung dengan tangan bersandar pada pagar kayu rendah pembatas antara rumah makan Aston Villa dengan Sungai Pawan yang anggun mengalir dan membelah daratan Ketapang.
Pemuda itu meraih kembali smartphone dari saku celana jinsnya, dan membaca chat dari ayahnya yang berisi pesan singkat nan jelas, seperti vonis ketua adat saat menghakimi penabrak babi milik warganya.
Ibu meninggal jam 12 tadi
Butuh beberapa waktu bagi Gilda untuk mencerna makna pesan tersebut. Ia berdiri dari kursinya, berjalan menuju sudut restoran apung tersebut, dan menelpon ayahnya yang bicara dengan nafas yang tertahan di ujung sana. Gilda tidak ingat kapan terakhir ia melihat ayahnya tampak begitu emosional. Bahkan saat mengetahui fakta bahwa Ibu telah berselingkuh, ayah hanya diam mendengarkan penjelasannya, lalu pergi ke belakang rumah mengambil wudlu.
“ Adek pulang sore ini.” Ujar Gilda singkat, dan menutup telepon. Ia lalu mengambil sebatang rokok dari kantung kemejanya, menyalakan korek, membakar ujung putung rokok, dan menghirup dalam-dalam kepulan asap tembakau itu. Gilda tidak pernah menggemari hal-hal klise dalam bacaan-bacaan novel, cerpen, atau film; dan Oktober itu menghadianya dengan klise yang paling dibencinya : ibunya meninggal awal musim hujan, saat mendung menggelayuti langit, tepat pada hari ulang tahunnya.
Gilda segera mengurus kepulangannya pada orang kantor. Ia mengajukan cuti berkabung tiga hari, lalu berkemas menuju bandara sore itu juga. Sebelum jadwal keberangkatannya, Gilda mampir ke sebuah kos-kosan sempit di samping hotel Borneo, masuk begitu saja, dan mengetuk sebuah pintu kamar nomor 7. Seorang perempuan berusia tiga puluhan bertubuh montok, pipi tembem, dan berambut hitam panjang lurus terurai muncul dari dalam kamar. Ia tampak terkejut dan tak sempat berkata apapun saat Gilda menyelonong masuk.
“Kok gak berkabar? Tumben…” Tanya wanita itu sambil mengunci pintu kamar.
“Terburu-buru. Mau berangkat sebentar lagi…” Jawab Gilda pendek seraya meletakkan koper kecilnya di sudut ruangan. Wanita itu memperhatikan sekilas barang bawaan Gilda. Dia mengalihkan pandangannya pada pemuda itu yang tanpa banyak cakap melepaskan seluruh pakaiannya. Ia menggulung senyum, “Dasar nafsuan. Udah tau terburu-buru, masih sempet mampir…” dia tertawa kecil dan duduk di pinggir ranjang.
“Ibuku meninggal.” Ujar Gilda seraya berjalan mendekati ranjang, dan mendorong bahu wanita itu hingga tubuh seksinya terjatuh ke ranjang. Wanita itu mendelik. Ia tampak bingung. “Ibu.. meninggal? Terus ngapain...” belum sempat wanita itu menyelesaikan pertanyaannya, bibir tebal nan menggoda itu disumpal oleh ciuman ganas Gilda. Tangan pemuda itu dengan cekatan meraih ujung kaos hitam Sang Wanita, menarik celana pendeknya, membuka kait bra, dan menelenjangi pertahanan terakhir di bagian bawah Sang Wanita. Bibir Gilda memburu dengan ganas, seperti pengelana gurun yang menemukan Oase. Ia menyesap setiap cairan mulut, membuat Sang Wanita kesulitan bernafas. Kemudian pemuda itu beralih ke sepasang buah dada besar dan dengan kalap mengisap puting yang merupakan titik sensitif Sang Wanita. Sambil menggap-menggap menarik nafas, mengerang kecil menahan rangsangan luar biasa, Sang Wanita berujar, “Abang gila!”
“Mungkin. Dan sekarang, orang gila ini akan merudapaksamu hingga kedua kaki ini tidak akan bisa berjalan besok pagi. Dengan bayaran lebih, tentunya.” Dan Gilda menepati omongannya. Selesai bercinta selama satu jam, Gilda mengeluarkan lima belas lembar uang seratus ribu dan menyerahkannya pada wanita itu. Tanpa banyak bicara, dia mengambil kopernya, dan pergi.
Di pesawat, Gilda duduk diam dan menatap kosong pada jendela pesawat. Pesawat itu terbang tinggi hingga menembus langit kelabu, dan menujukkan matahari senja yang rupanya masih bersinar di balik awan. Melihat itu, perasaan Gilda semakin tidak menentu.
Setelah perjalanan tiga jam(termasuk transit satu jam di Pontianak), Gilda memanggil salah satu taksi bandara dan menyebutkan alamat rumahnya. Sepanjang perjalanan, ia memilih diam dan menjawab sekedarnya saat Si Supir memulai pembicaraan. Sesampainya di gang masuk, ia dapat melihat sekumpulan orang berpakaian hitam hilir mudik di rumahnya. Sang Supir taksi menyadari apa yang terjadi, dan menyampaikan belasungkawa. Gilda mengangguk. Membayar taksi dan keluar menyeret koper melewati kumpulan orang-orang yang berkumpul di depan pintunya. Gilda menyalami beberapa di antara mereka, dan mengangguk dalam mendengar ucapan belasungkawa mereka. Pemuda itu kemudian masuk ke kamar orang tuanya, dan menemukan sosok ayahnya tengah duduk di tepi kasur dengan pakaian serba hitam. Kedua matanya tampak kosong menatap lantai keramik. Gilda melempar koper ke sisi kamar, dan duduk bersimpuh pada lutut ayahnya.
“Sudah tidak apa-apa. Adek di sini.” Ujar Gilda berusaha menenangkan ayahnya. Lelaki renta yang telah menjalani tujuh puluh tahuh kehidupannya dalam luka itu menatap dalam mata putra bungsunya, dan perlahan mengusap rambut Gilda. Seulas senyum lemah ia guratkan.
“Kakak mu sebentar lagi juga datang…” ujar ayahnya pelan. “Baik. Kita tunggu kakak datang untuk menguburkan ibu…” Tiba-tiba, salah seorang wanita paruh baya, tetangga orang tuanya mengetuk pintu kamar.
“Mas Gilda… ada yang mau kita bicarakan sebentar…” Gilda mengangguk padanya, mencium kening ayahnya, dan berjalan keluar menuju ruang tamu.
“Ada apa?” Tanya Gilda. Ia merasa ada yang tidak beres. Beberapa tetangga dekat rumahnya memasang tampang bingung, saling melirik satu sama lain. Ia mengeryit, namun mampu menebak apa sumber masalahnya saat matanya menangkap satu sosok berjenggot putih berwibawa berpakaian koko putih dan kopiah hitam mengibaskan tangan memanggilnya ke depan rumah.
“Kita tidak bisa tahlilan di rumah Mas Gilda.” Ujar pria berjenggot itu yang merupakan Kiai di perumahannya.
“Karena anjing?”
“Ya. Karena anjing.”
Gilda melempar pandang ke sudut pekarangan rumah. Ciko, anjing berbulu coklat abu-abu pucat yang ia pungut pada ulang tahun ke tujuh belas, tampak bergulung di atas kursi kesayangannya. Sepasang mata besarnya yang polos membalas tatapan Gilda seperti anak kecil. Gilda menarik nafas.
“Kalau begitu panggil pendeta, biksu, atau siapapun yang tidak keberatan mendoakan ibu saya. Kalau tidak ada, saya sendiri yang akan mendoakan ibu saya. Saya tidak perduli, dan saya tidak yakin ruh orang yang meninggal masih peduli dengan agama yang mendoakannya.” Ujar Gilda membalikkan punggung meninggalkan Si Kiai yang wajahnya tampak memerah. Ia tampaknya ingin mengucapkan sesuatu, namun beberapa pria kenalan Gilda, menahannya, dan memohon maaf pada Si Kiai.
Pada akhirnya, tahlilan tetap dilakukan di rumah Gilda, namun Si Kiai menolak masuk dan mengatakan akan mendoakan dari rumah, Gilda tidak perduli. Pembacaan doa dipimpin oleh teman Gilda. Menjelang Isya, Kakak Gilda, Andra tiba di rumah. Ia jatuh tertunduk di depat jenazah ibu dan menangis sesenggukan. Gilda mengahampiri Sang Kakak, mengusap punggungnya. Andra berpaling dan memeluk erat adiknya. “Mana ayah?”, tanyanya. “Di kamar.” Andra bangkit dan berjalan cepat menuju kamar ayah. Selepas salat Isya, jenasah ibu mulai dikebumikan di pemakaman dekat perumahan. Semua selesai begitu cepat, takzim, dan abu-abu, bagi Gilda.
Malam pertama setelah ibunya meninggal, Andra memilih untuk menemani Sang Ayah tidur di kamar, ia juga telah mengajukan cuti berkabung di kantornya, jadi dia ingin menghargai setiap detik bersama satu-satunya orang tua mereka yang tersisa. Gilda mengiyakan dengan senang, menganggumi perubahan drastis sikap kakaknya. Diam-diam, Gilda mengenang sikap Andra yang selalu menomorduakan Ibu dan Ayah dibanding setiap wanita yang dikencaninya. Mungkin perpisahannya yang terakhir dengan seorang dokter wanita, putri keluarga politisi di Jambi, mengajarkannya sesuatu.
Malam semakin larut. Melihat ayah dan Andra yang sudah terlelap berpelukan di kamar tidur, Gilda meraih kunci mobil keluarga, mengirim pesan chat untuk keluar sebentar pada kakaknya, dan meluncur menuju pusat kota Surabaya. Ia berhenti pada Kafe milik teman SMA-nya, Ronald, dan menemukan teman lamanya itu tengah menunduk di balik mesin kasir. Ronald menunjukkan keterkejutannya pada kedatangan Gilda. Pemuda itu menjelaskan singkat alasan kepulangannya yang mendadak seperti seorang ayah yang mengabarkan anaknya yang sedang sakit pada teman kantor. Ronald tertegun sejenak, namun kemudian menggelengkan kepala.
“Innalillahi wa inna lillahi rajiun…”, ucap Ronald. Gilda mengangguk. “Kopi hitam. Tanpa gula.”
“Kamu datang jauh-jauh ke sini, hanya untuk secangkir kopi hitam tanpa gula?”
“Ya…”
“Dan satu dua wajah lama, mungkin.” Gumam Gilda seraya mengambil sebatang rokok, membakar, dan mulai mengepulkan asap putih ke ruangan kafe.
“Wow… aku tersanjung. Tapi kukira timingmu tidak bisa lebih baik dari saat ini.”
“Masksudmu?”
Mata Ronald melirik ke belakang Gilda, di pintu masuk kafe. Gilda mengikuti matanya. Di sana, sesosok perempuan bertubuh mungil dan ramping melangkah masuk. Gilda ingat wajah itu, atau lebih tepatnya, dia tidak akan bisa lupa. Rambutnya kini panjang berombak hingga bahu, tubuhnya masih ramping namun beberapa bagian telah tumbuh matang dibandingkan 10 tahun lalu. Matanya yang coklat jernih dan hidung kecilnya masih sama seperti terakhir kali Gilda mengingatnya. Wanita itu tidak menyadari keberadaan Gilda hingga beberapa langkah mendekati meja bar. Kakinya berhenti, dan sepasang mata coklat yang memancarkan sinar lembut saat pertama masuk tadi mendadak berubah tajam seolah ia tengah dicegat oleh om-om mesum, ah, mungkin tidak jauh beda juga, pikir Gilda. Wanita itu bernama Putri, teman sekelasnya waktu SMA, dan salah satu orang yang pernah menjadi sahabat terdekat Gilda.
Tidak ada kata yang terucap di antara mereka bertiga. Putri melempar tatapan tajam menusuk pada Ronald yang hanya bisa salah tingkah menggeleng-gelengkan kepala. Gilda sendiri membeku di tempat duduknya. Putri melirik sekilas pada sosok Gilda, sebelumnya akhirnya berbalik dan melangkah cepat keluar kafe. Dua pria itu hanya bisa diam melihat Putri pergi melaju dengan sepeda motornya.
“Kau tahu dia akan ke sini?” Tanya Gilda.
“Ya. Dan aku tidak tahu kamu mau ke sini.” Jawab Ronald sambil menenggak secangkir teh dingin. “Sudah kubilang, waktumu benar-benar tepat malam ini.”, lanjut Ronald. Gilda menghela nafas sambil menundukkan kepala pada bar.
Gilda dan Putri, persahabatan mereka pecah dengan cara terburuk yang bisa dibayangkan banyak orang. Waktu itu perjalanan wisata tahunan yang diadakan sekolah mereka untuk siswa Kelas 11. Perjalanan biasa yang seharusnya menyenangkan, namun menimbulkan aib memalukan, karena Gilda ketahuan mencium bibir Putri, membuka kemejanya, dan menghisap puting payudara sahabatnya saat gadis tersebut sedang tertidur di bis, di samping Gilda.
“Malam sial.” Gumam Gilda.
“Kukira sial bukan kata yang tepat untuk mendefinisikan hari saat ibumu meninggal…”
“Hei, mau temani aku? Seperti biasa?” ajak Gilda. Pemuda itu merujuk pada karaoke malam tempat mereka selalu menghabiskan separuh malam dalam short time dengan para LC di sudut kota.
“Bung, makam ibumu masih basah dan gembur malam ini! Suruh junior kecilmu puasa, setidaknya sampai kau kembali ke Ketapang!”, seru Ronald.
“Ya… terlambat untuk itu..”
“Kenapa?”
“Sebelum ke Bandara tadi, aku sudah menyewa pramuria.” Ucap Gilda datar.
Ronald menghembuskan nafas berat sambil mengusap wajahnya.
“Dengar. Aku tidak pernah menghakimu atas apapun yang pernah terjadi di masa lalu. Benar, kan? Maksudku, setelah semuanya, kita berdua masih bisa ngopi bersama seperti sekarang…”
Gilda mengangguk sambil menyeruput kopinya.
“ Karena itu, untuk sekali ini, dengarkan saran baik dari kawanmu yang baik hati ini. Sekali saja. Dan aku tidak menuntutmu berhasil.”
“Soal apa?”
“Minta maaf padanya.”
“Sudah. Sepuluh tahun lalu. Dan kau tahu apa kelanjutannya.”
“Ya, aku tahu. Termasuk caramu minta maaf dengan preteks konyol bahwa kau hanya menyentuh bibirnya, dan itu di bawah pengaruh penyakit tidurmu itu, God, seriously? Aku tidak bisa menghitung itu dalam permintaan maaf.”
Gilda menghirup kopinya lagi, dilanjutkan dengan satu kepulan asap rokok di udara. Ia tidak bisa memandang Ronald pada matanya. Ia bilang tidak akan menghakimi dirinya, namun situasi saat ini, jelas bahwa Ronald brengsek ini sedang menjatuhkan vonis padanya.
Waktu terus mengalir dengan kaku. Pikiran Gilda semakin pekat oleh kabut yang merasuk melalui udara malam. Ia memutuskan untuk beranjak pergi, mencari suaka lain di mana masa lalu akan berhenti menghukumnya. Ia membayar kopi hitam dan berjalan beberapa langkah untuk pergi hingga suara Ronald kembali menghentikannya,
“Aku akan menikah, kau tahu? Tiga bulan dari sekarang.”
Gilda menengok. “Wow, selamat.” Ucapnya datar.
“ Ya…” Matanya terfokus pada cangkir kosong Gilda, dan mulai membereskannya.
“Dengan siapa?”, Tanya Gilda.
“Putri.”, jawab Ronald sambil membersihkan cangkir Gilda dari ampas kopi yang pekat.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Gilda kehilangan seleranya untuk menyentuh tubuh wanita. Ia mengemudi mobil berputar-putar pusat kota Surabaya, kota familiar yang menjadi latar cerita kehidupannya selama dua puluh dua tahun pertama. Lalu entah kenapa, Gilda menghentikan mobilnya di sebuah taman di pinggir Sungai Brantas. Taman itu sudah ditutup, namun Gilda melompat masuk melalui rantai pembatas yang rendah, dan duduk di salah satu bangku besi dekat pinggir sungai. Hanya ada sedikit penerangan temaram di taman tersebut. Ia pernah sekali berkencan di sana dengan seorang gadis mantan adik kelasnya di SMA. Mereka berpacaran saat bertemu kembali di kampus. Namun kisah mereka berakhir dengan cepat, karena gadis itu sadar Gilda hanya berpacaran untuk menidurinya.
“Kamu bukan Kak Gilda yang dulu aku kagumi.”, itu ucapan terakhirnya. Ya, sekali lagi, klise.
Well, maaf menghancurkan impianmu, pikir Gilda saat itu. Terakhir Gilda mendengar gadis itu kini bekerja di bawah Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Kontak mereka benar-benar terputus, dan sepertinya gadis benar-benar berupaya menghapus keberadaan Gilda dari ingatannya.
Diterangi oleh sinar temaram lampur taman, Gilda dapat melihat sedikit bagian dari permukaan Sungai Brantas yang mencekam. Angin malam Oktober berhembus dan menyelipkan sebaris pikiran yang membuatnya menggigil. Sungai Brantas sangat lebar dan dalam, jika saat ini dia jatuh tenggelam, tidak ada orang yang mengetahuinya, terutama di taman yang sudah tertutup ini. Ia akan mati dengan jasad membengkak. Ia membayangkan seperti apa ekspresi orang-orang yang dikenalnya saat mengetahui ia meninggal.
Gilda mengenang ibunya. Juni, sebelas tahun yang lalu, ia pulang ke rumah lebih cepat karena rapat seluruh guru, dan menemukan rumah dalam kondisi kosong tidak terkunci. Gilda memanggil-manggil nama ibunya, namun tidak ada jawaban. Mengira sedang keluar ke tetangga, Gilda memasukkan sepatunya dengan rapi di rak sepatu, naik ke kamarnya di lantai dua, menutup pintu kamar, dan berberes diri sebelum mulai membaca komik. Sebentar kemudian, ia mendengar bunyi pagar besi rumahnya dibuka. Gilda mengintip melalui jendela kamarnya yang menghadap langsung pada jalan depan. Ia terkejut dan heran mendapati ibunya datang bersama dengan seorang lelaki berwajah keras, perut buncit khas peminum keras, dengan rambut coklat terbakar matahari yang memanjang hingga leher. Gilda mengenal pria tersebut sebagai penerima gadai motor di lingkungannya, ia tahu karena ayah dan ibunya pernah menggadaikan motor ke orang tersebut. .
Spoiler for Kisah Klise Bulan Oktober (part I):
picture by: dreamstime.com
Tirai panggung Oktober tergulung, menghamparkan horizon luas dengan permukaan Sungai Pawan yang memantulkan mendung di lauzardi. Bau hujan seakan pecah dan menguapkan aroma kalut dari akar-akar bakau. Gilda berdiri mematung dengan tangan bersandar pada pagar kayu rendah pembatas antara rumah makan Aston Villa dengan Sungai Pawan yang anggun mengalir dan membelah daratan Ketapang.
Pemuda itu meraih kembali smartphone dari saku celana jinsnya, dan membaca chat dari ayahnya yang berisi pesan singkat nan jelas, seperti vonis ketua adat saat menghakimi penabrak babi milik warganya.
Ibu meninggal jam 12 tadi
Butuh beberapa waktu bagi Gilda untuk mencerna makna pesan tersebut. Ia berdiri dari kursinya, berjalan menuju sudut restoran apung tersebut, dan menelpon ayahnya yang bicara dengan nafas yang tertahan di ujung sana. Gilda tidak ingat kapan terakhir ia melihat ayahnya tampak begitu emosional. Bahkan saat mengetahui fakta bahwa Ibu telah berselingkuh, ayah hanya diam mendengarkan penjelasannya, lalu pergi ke belakang rumah mengambil wudlu.
“ Adek pulang sore ini.” Ujar Gilda singkat, dan menutup telepon. Ia lalu mengambil sebatang rokok dari kantung kemejanya, menyalakan korek, membakar ujung putung rokok, dan menghirup dalam-dalam kepulan asap tembakau itu. Gilda tidak pernah menggemari hal-hal klise dalam bacaan-bacaan novel, cerpen, atau film; dan Oktober itu menghadianya dengan klise yang paling dibencinya : ibunya meninggal awal musim hujan, saat mendung menggelayuti langit, tepat pada hari ulang tahunnya.
Gilda segera mengurus kepulangannya pada orang kantor. Ia mengajukan cuti berkabung tiga hari, lalu berkemas menuju bandara sore itu juga. Sebelum jadwal keberangkatannya, Gilda mampir ke sebuah kos-kosan sempit di samping hotel Borneo, masuk begitu saja, dan mengetuk sebuah pintu kamar nomor 7. Seorang perempuan berusia tiga puluhan bertubuh montok, pipi tembem, dan berambut hitam panjang lurus terurai muncul dari dalam kamar. Ia tampak terkejut dan tak sempat berkata apapun saat Gilda menyelonong masuk.
“Kok gak berkabar? Tumben…” Tanya wanita itu sambil mengunci pintu kamar.
“Terburu-buru. Mau berangkat sebentar lagi…” Jawab Gilda pendek seraya meletakkan koper kecilnya di sudut ruangan. Wanita itu memperhatikan sekilas barang bawaan Gilda. Dia mengalihkan pandangannya pada pemuda itu yang tanpa banyak cakap melepaskan seluruh pakaiannya. Ia menggulung senyum, “Dasar nafsuan. Udah tau terburu-buru, masih sempet mampir…” dia tertawa kecil dan duduk di pinggir ranjang.
“Ibuku meninggal.” Ujar Gilda seraya berjalan mendekati ranjang, dan mendorong bahu wanita itu hingga tubuh seksinya terjatuh ke ranjang. Wanita itu mendelik. Ia tampak bingung. “Ibu.. meninggal? Terus ngapain...” belum sempat wanita itu menyelesaikan pertanyaannya, bibir tebal nan menggoda itu disumpal oleh ciuman ganas Gilda. Tangan pemuda itu dengan cekatan meraih ujung kaos hitam Sang Wanita, menarik celana pendeknya, membuka kait bra, dan menelenjangi pertahanan terakhir di bagian bawah Sang Wanita. Bibir Gilda memburu dengan ganas, seperti pengelana gurun yang menemukan Oase. Ia menyesap setiap cairan mulut, membuat Sang Wanita kesulitan bernafas. Kemudian pemuda itu beralih ke sepasang buah dada besar dan dengan kalap mengisap puting yang merupakan titik sensitif Sang Wanita. Sambil menggap-menggap menarik nafas, mengerang kecil menahan rangsangan luar biasa, Sang Wanita berujar, “Abang gila!”
“Mungkin. Dan sekarang, orang gila ini akan merudapaksamu hingga kedua kaki ini tidak akan bisa berjalan besok pagi. Dengan bayaran lebih, tentunya.” Dan Gilda menepati omongannya. Selesai bercinta selama satu jam, Gilda mengeluarkan lima belas lembar uang seratus ribu dan menyerahkannya pada wanita itu. Tanpa banyak bicara, dia mengambil kopernya, dan pergi.
Di pesawat, Gilda duduk diam dan menatap kosong pada jendela pesawat. Pesawat itu terbang tinggi hingga menembus langit kelabu, dan menujukkan matahari senja yang rupanya masih bersinar di balik awan. Melihat itu, perasaan Gilda semakin tidak menentu.
Setelah perjalanan tiga jam(termasuk transit satu jam di Pontianak), Gilda memanggil salah satu taksi bandara dan menyebutkan alamat rumahnya. Sepanjang perjalanan, ia memilih diam dan menjawab sekedarnya saat Si Supir memulai pembicaraan. Sesampainya di gang masuk, ia dapat melihat sekumpulan orang berpakaian hitam hilir mudik di rumahnya. Sang Supir taksi menyadari apa yang terjadi, dan menyampaikan belasungkawa. Gilda mengangguk. Membayar taksi dan keluar menyeret koper melewati kumpulan orang-orang yang berkumpul di depan pintunya. Gilda menyalami beberapa di antara mereka, dan mengangguk dalam mendengar ucapan belasungkawa mereka. Pemuda itu kemudian masuk ke kamar orang tuanya, dan menemukan sosok ayahnya tengah duduk di tepi kasur dengan pakaian serba hitam. Kedua matanya tampak kosong menatap lantai keramik. Gilda melempar koper ke sisi kamar, dan duduk bersimpuh pada lutut ayahnya.
“Sudah tidak apa-apa. Adek di sini.” Ujar Gilda berusaha menenangkan ayahnya. Lelaki renta yang telah menjalani tujuh puluh tahuh kehidupannya dalam luka itu menatap dalam mata putra bungsunya, dan perlahan mengusap rambut Gilda. Seulas senyum lemah ia guratkan.
“Kakak mu sebentar lagi juga datang…” ujar ayahnya pelan. “Baik. Kita tunggu kakak datang untuk menguburkan ibu…” Tiba-tiba, salah seorang wanita paruh baya, tetangga orang tuanya mengetuk pintu kamar.
“Mas Gilda… ada yang mau kita bicarakan sebentar…” Gilda mengangguk padanya, mencium kening ayahnya, dan berjalan keluar menuju ruang tamu.
“Ada apa?” Tanya Gilda. Ia merasa ada yang tidak beres. Beberapa tetangga dekat rumahnya memasang tampang bingung, saling melirik satu sama lain. Ia mengeryit, namun mampu menebak apa sumber masalahnya saat matanya menangkap satu sosok berjenggot putih berwibawa berpakaian koko putih dan kopiah hitam mengibaskan tangan memanggilnya ke depan rumah.
“Kita tidak bisa tahlilan di rumah Mas Gilda.” Ujar pria berjenggot itu yang merupakan Kiai di perumahannya.
“Karena anjing?”
“Ya. Karena anjing.”
Gilda melempar pandang ke sudut pekarangan rumah. Ciko, anjing berbulu coklat abu-abu pucat yang ia pungut pada ulang tahun ke tujuh belas, tampak bergulung di atas kursi kesayangannya. Sepasang mata besarnya yang polos membalas tatapan Gilda seperti anak kecil. Gilda menarik nafas.
“Kalau begitu panggil pendeta, biksu, atau siapapun yang tidak keberatan mendoakan ibu saya. Kalau tidak ada, saya sendiri yang akan mendoakan ibu saya. Saya tidak perduli, dan saya tidak yakin ruh orang yang meninggal masih peduli dengan agama yang mendoakannya.” Ujar Gilda membalikkan punggung meninggalkan Si Kiai yang wajahnya tampak memerah. Ia tampaknya ingin mengucapkan sesuatu, namun beberapa pria kenalan Gilda, menahannya, dan memohon maaf pada Si Kiai.
Pada akhirnya, tahlilan tetap dilakukan di rumah Gilda, namun Si Kiai menolak masuk dan mengatakan akan mendoakan dari rumah, Gilda tidak perduli. Pembacaan doa dipimpin oleh teman Gilda. Menjelang Isya, Kakak Gilda, Andra tiba di rumah. Ia jatuh tertunduk di depat jenazah ibu dan menangis sesenggukan. Gilda mengahampiri Sang Kakak, mengusap punggungnya. Andra berpaling dan memeluk erat adiknya. “Mana ayah?”, tanyanya. “Di kamar.” Andra bangkit dan berjalan cepat menuju kamar ayah. Selepas salat Isya, jenasah ibu mulai dikebumikan di pemakaman dekat perumahan. Semua selesai begitu cepat, takzim, dan abu-abu, bagi Gilda.
Malam pertama setelah ibunya meninggal, Andra memilih untuk menemani Sang Ayah tidur di kamar, ia juga telah mengajukan cuti berkabung di kantornya, jadi dia ingin menghargai setiap detik bersama satu-satunya orang tua mereka yang tersisa. Gilda mengiyakan dengan senang, menganggumi perubahan drastis sikap kakaknya. Diam-diam, Gilda mengenang sikap Andra yang selalu menomorduakan Ibu dan Ayah dibanding setiap wanita yang dikencaninya. Mungkin perpisahannya yang terakhir dengan seorang dokter wanita, putri keluarga politisi di Jambi, mengajarkannya sesuatu.
Malam semakin larut. Melihat ayah dan Andra yang sudah terlelap berpelukan di kamar tidur, Gilda meraih kunci mobil keluarga, mengirim pesan chat untuk keluar sebentar pada kakaknya, dan meluncur menuju pusat kota Surabaya. Ia berhenti pada Kafe milik teman SMA-nya, Ronald, dan menemukan teman lamanya itu tengah menunduk di balik mesin kasir. Ronald menunjukkan keterkejutannya pada kedatangan Gilda. Pemuda itu menjelaskan singkat alasan kepulangannya yang mendadak seperti seorang ayah yang mengabarkan anaknya yang sedang sakit pada teman kantor. Ronald tertegun sejenak, namun kemudian menggelengkan kepala.
“Innalillahi wa inna lillahi rajiun…”, ucap Ronald. Gilda mengangguk. “Kopi hitam. Tanpa gula.”
“Kamu datang jauh-jauh ke sini, hanya untuk secangkir kopi hitam tanpa gula?”
“Ya…”
“Dan satu dua wajah lama, mungkin.” Gumam Gilda seraya mengambil sebatang rokok, membakar, dan mulai mengepulkan asap putih ke ruangan kafe.
“Wow… aku tersanjung. Tapi kukira timingmu tidak bisa lebih baik dari saat ini.”
“Masksudmu?”
Mata Ronald melirik ke belakang Gilda, di pintu masuk kafe. Gilda mengikuti matanya. Di sana, sesosok perempuan bertubuh mungil dan ramping melangkah masuk. Gilda ingat wajah itu, atau lebih tepatnya, dia tidak akan bisa lupa. Rambutnya kini panjang berombak hingga bahu, tubuhnya masih ramping namun beberapa bagian telah tumbuh matang dibandingkan 10 tahun lalu. Matanya yang coklat jernih dan hidung kecilnya masih sama seperti terakhir kali Gilda mengingatnya. Wanita itu tidak menyadari keberadaan Gilda hingga beberapa langkah mendekati meja bar. Kakinya berhenti, dan sepasang mata coklat yang memancarkan sinar lembut saat pertama masuk tadi mendadak berubah tajam seolah ia tengah dicegat oleh om-om mesum, ah, mungkin tidak jauh beda juga, pikir Gilda. Wanita itu bernama Putri, teman sekelasnya waktu SMA, dan salah satu orang yang pernah menjadi sahabat terdekat Gilda.
Tidak ada kata yang terucap di antara mereka bertiga. Putri melempar tatapan tajam menusuk pada Ronald yang hanya bisa salah tingkah menggeleng-gelengkan kepala. Gilda sendiri membeku di tempat duduknya. Putri melirik sekilas pada sosok Gilda, sebelumnya akhirnya berbalik dan melangkah cepat keluar kafe. Dua pria itu hanya bisa diam melihat Putri pergi melaju dengan sepeda motornya.
“Kau tahu dia akan ke sini?” Tanya Gilda.
“Ya. Dan aku tidak tahu kamu mau ke sini.” Jawab Ronald sambil menenggak secangkir teh dingin. “Sudah kubilang, waktumu benar-benar tepat malam ini.”, lanjut Ronald. Gilda menghela nafas sambil menundukkan kepala pada bar.
Gilda dan Putri, persahabatan mereka pecah dengan cara terburuk yang bisa dibayangkan banyak orang. Waktu itu perjalanan wisata tahunan yang diadakan sekolah mereka untuk siswa Kelas 11. Perjalanan biasa yang seharusnya menyenangkan, namun menimbulkan aib memalukan, karena Gilda ketahuan mencium bibir Putri, membuka kemejanya, dan menghisap puting payudara sahabatnya saat gadis tersebut sedang tertidur di bis, di samping Gilda.
“Malam sial.” Gumam Gilda.
“Kukira sial bukan kata yang tepat untuk mendefinisikan hari saat ibumu meninggal…”
“Hei, mau temani aku? Seperti biasa?” ajak Gilda. Pemuda itu merujuk pada karaoke malam tempat mereka selalu menghabiskan separuh malam dalam short time dengan para LC di sudut kota.
“Bung, makam ibumu masih basah dan gembur malam ini! Suruh junior kecilmu puasa, setidaknya sampai kau kembali ke Ketapang!”, seru Ronald.
“Ya… terlambat untuk itu..”
“Kenapa?”
“Sebelum ke Bandara tadi, aku sudah menyewa pramuria.” Ucap Gilda datar.
Ronald menghembuskan nafas berat sambil mengusap wajahnya.
“Dengar. Aku tidak pernah menghakimu atas apapun yang pernah terjadi di masa lalu. Benar, kan? Maksudku, setelah semuanya, kita berdua masih bisa ngopi bersama seperti sekarang…”
Gilda mengangguk sambil menyeruput kopinya.
“ Karena itu, untuk sekali ini, dengarkan saran baik dari kawanmu yang baik hati ini. Sekali saja. Dan aku tidak menuntutmu berhasil.”
“Soal apa?”
“Minta maaf padanya.”
“Sudah. Sepuluh tahun lalu. Dan kau tahu apa kelanjutannya.”
“Ya, aku tahu. Termasuk caramu minta maaf dengan preteks konyol bahwa kau hanya menyentuh bibirnya, dan itu di bawah pengaruh penyakit tidurmu itu, God, seriously? Aku tidak bisa menghitung itu dalam permintaan maaf.”
Gilda menghirup kopinya lagi, dilanjutkan dengan satu kepulan asap rokok di udara. Ia tidak bisa memandang Ronald pada matanya. Ia bilang tidak akan menghakimi dirinya, namun situasi saat ini, jelas bahwa Ronald brengsek ini sedang menjatuhkan vonis padanya.
Waktu terus mengalir dengan kaku. Pikiran Gilda semakin pekat oleh kabut yang merasuk melalui udara malam. Ia memutuskan untuk beranjak pergi, mencari suaka lain di mana masa lalu akan berhenti menghukumnya. Ia membayar kopi hitam dan berjalan beberapa langkah untuk pergi hingga suara Ronald kembali menghentikannya,
“Aku akan menikah, kau tahu? Tiga bulan dari sekarang.”
Gilda menengok. “Wow, selamat.” Ucapnya datar.
“ Ya…” Matanya terfokus pada cangkir kosong Gilda, dan mulai membereskannya.
“Dengan siapa?”, Tanya Gilda.
“Putri.”, jawab Ronald sambil membersihkan cangkir Gilda dari ampas kopi yang pekat.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Gilda kehilangan seleranya untuk menyentuh tubuh wanita. Ia mengemudi mobil berputar-putar pusat kota Surabaya, kota familiar yang menjadi latar cerita kehidupannya selama dua puluh dua tahun pertama. Lalu entah kenapa, Gilda menghentikan mobilnya di sebuah taman di pinggir Sungai Brantas. Taman itu sudah ditutup, namun Gilda melompat masuk melalui rantai pembatas yang rendah, dan duduk di salah satu bangku besi dekat pinggir sungai. Hanya ada sedikit penerangan temaram di taman tersebut. Ia pernah sekali berkencan di sana dengan seorang gadis mantan adik kelasnya di SMA. Mereka berpacaran saat bertemu kembali di kampus. Namun kisah mereka berakhir dengan cepat, karena gadis itu sadar Gilda hanya berpacaran untuk menidurinya.
“Kamu bukan Kak Gilda yang dulu aku kagumi.”, itu ucapan terakhirnya. Ya, sekali lagi, klise.
Well, maaf menghancurkan impianmu, pikir Gilda saat itu. Terakhir Gilda mendengar gadis itu kini bekerja di bawah Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Kontak mereka benar-benar terputus, dan sepertinya gadis benar-benar berupaya menghapus keberadaan Gilda dari ingatannya.
Diterangi oleh sinar temaram lampur taman, Gilda dapat melihat sedikit bagian dari permukaan Sungai Brantas yang mencekam. Angin malam Oktober berhembus dan menyelipkan sebaris pikiran yang membuatnya menggigil. Sungai Brantas sangat lebar dan dalam, jika saat ini dia jatuh tenggelam, tidak ada orang yang mengetahuinya, terutama di taman yang sudah tertutup ini. Ia akan mati dengan jasad membengkak. Ia membayangkan seperti apa ekspresi orang-orang yang dikenalnya saat mengetahui ia meninggal.
Gilda mengenang ibunya. Juni, sebelas tahun yang lalu, ia pulang ke rumah lebih cepat karena rapat seluruh guru, dan menemukan rumah dalam kondisi kosong tidak terkunci. Gilda memanggil-manggil nama ibunya, namun tidak ada jawaban. Mengira sedang keluar ke tetangga, Gilda memasukkan sepatunya dengan rapi di rak sepatu, naik ke kamarnya di lantai dua, menutup pintu kamar, dan berberes diri sebelum mulai membaca komik. Sebentar kemudian, ia mendengar bunyi pagar besi rumahnya dibuka. Gilda mengintip melalui jendela kamarnya yang menghadap langsung pada jalan depan. Ia terkejut dan heran mendapati ibunya datang bersama dengan seorang lelaki berwajah keras, perut buncit khas peminum keras, dengan rambut coklat terbakar matahari yang memanjang hingga leher. Gilda mengenal pria tersebut sebagai penerima gadai motor di lingkungannya, ia tahu karena ayah dan ibunya pernah menggadaikan motor ke orang tersebut. .
Diubah oleh raganagori 06-10-2019 21:43
tangguhdyoichi memberi reputasi
1
Kutip
Balas