- Beranda
- Stories from the Heart
AMARAH DESA JIN [KISAH NYATA]
...
TS
rosemallow
AMARAH DESA JIN [KISAH NYATA]
![AMARAH DESA JIN [KISAH NYATA]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/26/10708448_201909260452540118.png)
Spoiler for WAJIB BACA!:
PELET PERAWAN
Layar laptop menyinari ruangan yang gelap itu, tanganku tak henti memijit satu persatu tombol kotak berwarna hitam diatas laptopku. Pandanganku terfokus lurus melihat layar yang membuatku enggan melirik ke tempat lain. Kakiku melipat bersila diatas karpet bercorak polkadot, sesekali ku angkat gelas berisi air putih yang berada disebelah meja kecil tempat laptop itu ku letakkan.
Ku arahkan mataku ke bagian ujung bawah kanan layar laptopku, tak terasa waktu menunjukkan pukul 20:00, 7 Jam sudah aku terfokus membuat paper tugas kuliahku di hari minggu ini. Hari ini aku hanya berniat untuk menyelesaikan tugasku itu, karena besok adalah deadline pengumpulan tugas ini.
Ku angakt tangan dan aku luruskan, ku rapatkan jemari tanganku dan menariknya, mengisyaratkan otot-ototku telah lama kaku . suara gertakan tulang tulang sendiku riuh bersautan.
“Alhamdulillah, selesai oge” (Alhamdulillah selesai juga!) ucapku merebahkan badanku diatas karpet. Ku tatap langit-langit kamar yang gelap, ruangan 4x3m itu terlihat seperti gua kecil.
Aku melamun…
Alunan dering telponku merusak lamunanku.
Aku spontan melirik ke arah handphone yang layarnya menyala itu, ku ambil dan kulihat ternyata ibuku menelpon.
Tak pikir panjang, akupun menjawabnya
“Assalamu’alaikum” ucap ibuku
“Wa’alaikumsalam” jawabku sembari berjalan ke dispenser untuk mengisi gelas yang kosong.
“Dek dimana?” Tanya ibuku lirih dengan bibir yang terdengar gemetaran
Sembari mengisi gelas dengan air putih itu aku menjawab “dikosan mah, aya naon nyah?” (dikosan bu, ada apa ya?)
“Uwak Isah tos teu aya dek” (Uwak Isah sudah meninggal dek) kata ibuku dengan nada yang haru
Aku tak langsung menjawab, aku hanya termenung menatap kosong gallon didepanku, tanganku tak bisa berhenti menekan keran dispenser hingga air tumpah menyeruah dari dalam gelas yang ku isi.
“Innalilahi wa inna ilaihiroji’un” ucapku lirih dibarengi airmata yang perlahan mengalir dipipi kemudian jatuh setelah menempel dari daguku.
Uwak Isah, Ya nama Asli uwakku, Ibu dari Lita.
Terakhir aku melihat beliau ketika aku sebelum berangkat ke kota B, untuk berkuliah. Umurku sekarang sudah 17 tahun. Aku tidak percaya jika aku tidak ada disisinya ketika hari-hari terakhirnya didunia. Aku sangat menyesali itu.
Tak kuat ku menahan tangis yang memaksa keluar dari kedua mataku, aku terduduk memeluk lututku dengan handphone yang masih menyala yang tidak lagi aku hiraukan. Aku menangis hebat malam itu, hingga ku tertidur.
Esok hari, jadwal kuliahku sangat padat, Karena aku masih ada di semester-semester awal. Aku ingin sekali pulang, tapi orangtuaku menolak.
Mereka menyuruhku memberikan doa saja disini, karena tidak mungkin aku pulang karena jarak ke kampungku yang jalanannya saja susah untuk dilewati kendaraan, terjal dan berkelok-kelok, membuat waktu perjalanan menuju kesana memakan waktu 10 jam lebih dengan kendaraan darat.
Rasa menyesal menyesap terus didalam hatiku, melakukan kegiatanpun dirasa tidak membuatku melupakan rasa sesal ini.
“Enya halo” ucap suara sendu dibalik telpon
“Teh, maaf nyah… abdi teu tiasa pulang ka rumah” (Teh, maaf ya. Aku gak bisa pulang ke rumah) kataku lirih
“Enya, teu kunanaon dek. Da pan adek teh dikota nuju balajar” (Iya, gak apa-apa dek. Kan kamu di kota sedang belajar) jawab lita mencoba membuatku tidak merasa khawatir.
“Nya teh” (Iya teh) ucapku
Kamipun berbincang banyak di telpon saat itu, Lita menceritakan banyak hal.
Lita sekarang bekerja di sebuah supermarket kecil dikampung kami, Ya kampung kecil tidak terlalu banyak perubahan semenjakku kecil, Ya… perubahan hidupnya sangat dirasa sekali, dulu keluarganya sangat kaya bahkan menjadi orang terkaya di kampungku saat itu. Banyak orang yang menyegani keluarganya dahulu, Jujur akupun sangat iri dengan keadaan keluarganya dahulu. Dia bisa membeli apapun yang dia mau, tapi sekarang dia harus berpeluh untuk mendapatkan uang untuknya makan.
Dia masih tinggal di rumah yang dulu, hanya saja sekarang terlihat lebih tidak terawat atau banyak di beberapa sisi yang seharusnya sudah mulai di renovasi dan terpaksa dia pun mengontrakkan beberapa kamar untuk para pendatang yang bekerja di pabrik baru di kampung kami.
Sore itu,
Seorang lelaki mengintip dibalik pohon mangga besar di sebelah supermarket tempat Lita bekerja. Laki-laki itu mengawasi lita dengan sangat seksama, jari-jarinya tak henti ia gerakan . tatapannya tajam seperti akan menerkam.
Terlihat Lita sedang membereskan satu persatu barang dagangan yang di depan toko, pertanda dia akan tutup. Tetapi laki-laki itu masih saja berdiri memandangnya dibalik pohon itu, perlahan dia berjalan maju ke arah lita yang tetap fokus membereskan dagangannya.
Angin dingin sore itu mengusap tengkuk lita dengan lembut, membuatnya sedikit bergidik kedinginan. Sembari mengusap tengkuknya dengan tangan kiri dia berujar.
“Aduh, tiris amat nyah “ (aduh, dingin sekali ya)
Ia menatap kosong, ketika bayangan seseorang tengah berdiri di belakangnya, senja yang kekuningan sejenak membuatnya panik. Lita cemas …
“DORRRRR”
Tubuh Lita sejenak membeku, tangannya mematung berhenti melakukan aktifitas. Badannya spontan berbalik. Lita berteriak
“Aaaaakkkk…. Ih si aa, sok kabisaan ngareuwasan abdi wae!” (ih si aa, kebisaaan ngagetin aku terus) ucap lita kesal
“hehe, atuh anjeun mun reuwas teh sok lucu katingalna, nya atuh hayuk geura uih” (hehe, kamu tuh kalo kaget suka lucu keliatnya, iya atuh ayo cepet pulang) ucap laki-laki itu dengan nada berat
“Nya, kedeung hiji deui ngabereskeun ieu” (iya, sebentar satu lagi ngeberesin ini) ucap lita tersipu malu.
Setelah membereskan semuanya, Lita pun naik motor dibonceng oleh laki-laki itu.
Anto,
Laki-laki dengan badan sedikit pendek dengan kulit coklat berwajah manis itu setiap hari menjemput lita dari bekerja, Dia adalah suaminya lita. Mereka baru menikah beberapa bulan yang lalu, mereka menikah karena dulu suaminya menjadi tukang ojek lita untuk pergi dan pulang bekerja, karena kebersamaanya setiap hari, tumbuhlah suka diantara mereka hingga mereka memutuskan untuk menikah.
Malam hari,
Suara kucing mengeluh meronta dari kebun pisang sebrang rumah lita. Kehidupan malam terasa hening kala itu, Lita memandang halam rumahnya yang ditumbuhi banyak tanaman-tanaman kecil yang ditanam oleh ibunya. Ia melamun sedih dan melenguh mengingat kedua orang tuanya. Airmatapun menetes pelan melewati kedua pipinya yang merona, hingga matanya tak sengaja melihat bayangan hitam keluar dari kegelapan arah jalanan umum didepan rumah lita melesat masuk melewati gerbang rumahnya. Diapun berbalik dan menutup gorden rumahnya dengan tatapan kaget sekaligus cemas.
Tiba-tiba suara pintu dipukul dengan keras dari arah pintu depan.
Bersambung....
AMARAH DESA JIN [PART 2]
AMARAH DESA JIN [PART 3]
AMARAH DESA JIN [PART 4]
AMARAH DESA JIN [PART 5]
AMARAH DESA JIN [PART 6]
AMARAH DESA JIN [PART 7]
AMARAH DESA JIN [PART 8]
ENDING
Diubah oleh rosemallow 21-10-2019 06:48
3.maldini dan 35 lainnya memberi reputasi
34
36.9K
148
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rosemallow
#51
AMARAH DESA JIN [PART 6]
SAHA SIA?!!!!
Teriak seseorang dengan suara yang berat dan menggelegar, Lita terperanjat kaget memeluk Anto yang ada disebelahnya. Abi menejrit kaget dan menangis sejadi-jadinya, badannya meronta dengan sekuat tenaga. Anehnya badan Lita terasa tak kuat menahan kekuatan abi yang seorang anak kecil berusia 2 tahun itu, kain gendongannya lepas dan membuat Abi terjatuh terduduk. Anto terlihat panik dengan raut muka yang meringis ketakutan diambil lah abi yang masih terduduk yang menjerit-jerit lalu ia gendong. Lita terlihat lemas menyandar ke bahu anto.
Wanita itu hanya tersenyum melihat kejadian itu, dan berkata
“teu nanaon neng!” (gak apa-apa neng!)
“teu nanaon kumaha nyai, suara saha eta teh?” (gak apa-apa gimana nyai? Suara siapa itu?) Tanya Anto sedikit emosi
“mangkana, hayu ka leubet!” (makanya, ayo ke dalam) ajak wanita itu dengan ramahnya, tak lupa bibirnya memberi senyuman aneh, yang tidak disukai oleh Lita.

Lita memandang pasrah dengan tangan yang menggenggam erat tangan anto, sembari berjalan kedalam rumah wanita itu. Abi sejenak terdiam, ia lebih tenang dibandingkan tadi. ANto sedikit tenang dan mulai berjalan bersama lita.
Didalam terlihat ada satu orang laki-laki muda terduduk bersila dengan tatapan yang kosong, laki-laki itu hanya terduduk tanpa ekspresi apapun. Lita menatap ngeri sosok yang dilihatnya itu, ia mengeratkan lagi genggamannya ditangan anto.
Wanita itu kemudian mempersilahkan duduk Lita dan Anto, sementara abi masih ada pada gendongan anto. Merekapun duduk.
Temaram isi rumah wanita itu tidak berbeda dengan keadaan diluar rumahnya, benar-benar tidak biasanya lita nasuk kedalam rumah seperti ini. Tapi, dia merasa heran jika ia memang seorang dukun sesuai pemikiran lita kenapa tidak ada hal-hal yang berbau sesajen atau kemenyan yang lita pikirkan.
Lita memandang menyeluruh melihati isi ruangan itu, tak ada yang menarik hanya tembok biasa dan beberapa lampu tempel menghias rumah itu.
Sejenak, suasana hening.
Anto tak berani bercakap lebih dulu, ia ingin mendengar wanita yang sering disebut Nyai itu berbicara terlebih dahulu. Matanya menatap nanar laki-laki yang berada didepannya itu.
“Ieu anak nyai, jasadna doang. Eusina mah makhluk nu ngaganggu keluarga anjeun!” (ini anak nyai, jasadnya aja. Isinya mah makhluk yang mengganggu keluarga kamu!) jelas Nyai dengan suara lirih hampir berbisik.
Anto menatap kaget, dia merespon tidak biasa dengan apa yang dikatakan Nyai. Kenapa dia bisa tahu apa yang terjadi dengan keluargaku, tepatnya Abi.
“terus kumaha nyi?” (terus bagaimana nyi?) Tanya abi menyeloroh
Nyai hanya terdiam menatap anak laki-lakinya, entah apa yang dilakukannya. Nyai hanya terdiam sejenak, ia mengusap wajah anaknya itu dengan lembut hingga kemudian hal yang tak terduga terjadi dihadapan mereka semua.
Anak itu bereaksi mengerikan, matanya menatap tajam ke arah Anto dan Lita yang sedang terduduk. Anak itu menggertakkan giginya, membuat siapapun yang mendengarnya akan merasakan ngilu.
“Saha sia?” ( siapa kamu?) ucap Nyai memulai pembicaraan.
Anto menepuk-nepuk punggung nyai yang duduk membelakanginya, anto berkata “Ieu keur naon nyai?” (ini sedang apa nyai?)
Nyai menjelaskan jika ini adalah tahap mediasi agar jin yang mengganggu keluargamu masuk kedalam raga anaknya. Nyai ingin menanyakan apa yang dia lakukan dan apa alasannya mengganggu manusia. ANto hanya mengangguk dengan badan yang terus bergetar, tangannya pun tak kuasa menggenggam tangan lita lagi. Terlihat Lita hanya diam memeluk abi anaknya dengan erat, abi hanya menatap kosong wajah ibunya.
Dibawah lampu tempel yang remang, wajah itu terpejam. Matanya menutup dan tiba-tiba terbuka dengan lebar. Tangannya menerkam erat lututnya yang masih bersila. Badannya terus bergetar, kepalanya godek, bergerak kekanan kekiri. Mulutnya komat kamit, seperti membaca mantra atau apalah namanya. Makhluk yang didalam tubuh anaknya Nyai itu perlahan mengangkat kepalanya dan berbicara dengan suara yang besar dan menggelegar,
“AING MURKA KA SARIA!” (saya marah kepada kalian!)
Kami semua menatap kaget sekaligus heran, apa kesalahan Keluarga Lita hingga membuatnya begitu marah?
“ULAH SOK KITU, AI NGAMBEUK TEH ULAH SOK NGAGANGGU KA MURANGKALIH!” (Jangan seperti itu, jika marah jangan mengganggu anak kecil!)
“AING TEU PEDULI!” (Saya tidak peduli) balas makhluk itu melotot tajam. Makhluk itu berdiri membuat kuda-kuda seolah akan bertarung, Nyai sigap menahan tubuh anaknya itu.
“AING LAIN NGAJAK GELUT! CICING DIUK DEUI!” (Saya bukan mengajak berkelahi! Diam duduk lagi!) kata Nyai menendang lutut laki-laki itu hingga terduduk.
Lita bersembunyi dibalik badan Anto dengan Abi yang masih saja terdiam dengan mata yang ditutupi telapak tangan lita!
Makhluk itu terduduk dengan wajah yang sangat kesal!
Semilir angin menerobos masuk kedalam rumah itu, pintu yang sengaja tidak ditutup itu menyeringai sepi, perlahan beberapa orang datang dan berdiri melihat dari luar rumah. Mereka berdiri dengan tatapan serius dengan ekspresi hampir datar. Semakin lama semakin banyak orang datang, tapi entah kenapa tidak ada satupun orang yang berani masuk. Mereka tampak sangat penasaran dengan apa yang terjadi dirumah Nyai.
Lita hanya bingung melihat orang-orang yang berdiri diluar sana! Mungkin mereka tetangga si Nyai yang lain, tapi lita berpikir jika ia tidak melihat rumah lain tapi mungkin saja Karena gelap jadi lita tidak ngeuh dengan hal itu.
“Neng, ulah ditempokeun!” (Neng jangan diliatin!) Anto dengan sigap menolehkan kepala lita kehadapannya yang sedari tadi memandangi orang-orang yang berada diluar. Karena penasaran lita menoleh kembali kearah luar rumah itu, LENYAP! Tak ada satupun orang yang baru saja riuh diluar sana!
“Anto, kendalikeun pamajikan maneh!” (Anto kendalikan istri kamu!) seru Nyai marah, karena lita tidak menggubris larangan si Nyai.
Tiba-tiba makhluk itu menggeram dengan kencang.
“GGGRRMMM…GGGRRMMM….” Suara makhluk itu persis suara macan.
“SOK NGOMONG, ULAH LOBA SIKAP!” (silahkan bicara, jangan banyak sikap!) ketus Nyai
Makhluk itu masih saja menggeram dengan diakhiri tawanya yang keras dan menggelegar!
“AING REK MAWA BUDAK ETA!” (Saya akan membawa anak itu!) Jawab makhluk itu sembari menujuk kearah ABi.
Abi menjerit memeluk ibunya yang sedari tadi terkulai lemas. ANto terlihat sangat pucat, dia sangat ketakutan!
Tangan Nyai memukul jari makhluk itu “NGEUNAH BAE SIA!” (enak aja lu!) tegas nyai
“AI SIA SAHA? KU AING TANYA! JAWAB!” (Lu siapa? Saya Tanya! Jawab!) seru Nyai lagi.
Mata makhluk itu terpejam kembali dan menunduk dengan tangan yang berada diatas lututnya, seketika suasana hening.
Semua orang terdiam, Anto tak berani menggerakkan tangan kaki atau bahkan tubuhny, mereka membeku. Abi memeluk ibunya dengan wajah yang membenam dibalik baju ibunya. Lita memegang erat badan Abi dengan penuh ketakutan.
Perlahan mulut dari anak Nyai itu membuka, kemudian dia berkata “AING JENG RAKYAT AING TEU RESEP, TEMPAT HIRUP AING MAEN DIBERSIHKEUN KAWAS KITU!” (saya dan rakyat saya tidak suka, tempat tinggal saya dibersihkan seperti itu) Jawab makhluk dengan wajah yang murka.
“TEMPAT SIA NUMANA?” (tempat anda yang mana?) Tanya Nyai serius
“KEBON CAU! AING TE BOGA IMAH JENG RAKYAT AING”
(Kebun Pisang! Saya tidak punya rumah untuk rakyat saya!) jawab makhluk itu
Seperti jatuh dari jurang yang dalam, Anto dan Lita bertatap muka membuka mata mereka lebar-lebar. Mereka mulai teringat beberapa kejadian aneh yang terjadi entah penampakan yang banyak terjadi sekitar kebun pisang itu, hal aneh dengan keluarga mereka, yang dialami orang sekitar bahkan BU RW!
“MANTAKNA SIA URUS BANGSA SIA ULAH SOK NGAGANGGU BANGSA MANUSA!”
(Makanya anda urus bangsa anda, jangan mengganggu bangsa manusia!) ucap Nyai “PAN SIA PAMIMPINNA!” (kan anda pemimpinnya) lanjut Nyai.

Makhluk itu Menyeringai menunjukkan senyumnya!
Bersambung….
AMARAH DESA JIN [PART 7]
Teriak seseorang dengan suara yang berat dan menggelegar, Lita terperanjat kaget memeluk Anto yang ada disebelahnya. Abi menejrit kaget dan menangis sejadi-jadinya, badannya meronta dengan sekuat tenaga. Anehnya badan Lita terasa tak kuat menahan kekuatan abi yang seorang anak kecil berusia 2 tahun itu, kain gendongannya lepas dan membuat Abi terjatuh terduduk. Anto terlihat panik dengan raut muka yang meringis ketakutan diambil lah abi yang masih terduduk yang menjerit-jerit lalu ia gendong. Lita terlihat lemas menyandar ke bahu anto.
Wanita itu hanya tersenyum melihat kejadian itu, dan berkata
“teu nanaon neng!” (gak apa-apa neng!)
“teu nanaon kumaha nyai, suara saha eta teh?” (gak apa-apa gimana nyai? Suara siapa itu?) Tanya Anto sedikit emosi
“mangkana, hayu ka leubet!” (makanya, ayo ke dalam) ajak wanita itu dengan ramahnya, tak lupa bibirnya memberi senyuman aneh, yang tidak disukai oleh Lita.

Lita memandang pasrah dengan tangan yang menggenggam erat tangan anto, sembari berjalan kedalam rumah wanita itu. Abi sejenak terdiam, ia lebih tenang dibandingkan tadi. ANto sedikit tenang dan mulai berjalan bersama lita.
Didalam terlihat ada satu orang laki-laki muda terduduk bersila dengan tatapan yang kosong, laki-laki itu hanya terduduk tanpa ekspresi apapun. Lita menatap ngeri sosok yang dilihatnya itu, ia mengeratkan lagi genggamannya ditangan anto.
Wanita itu kemudian mempersilahkan duduk Lita dan Anto, sementara abi masih ada pada gendongan anto. Merekapun duduk.
Temaram isi rumah wanita itu tidak berbeda dengan keadaan diluar rumahnya, benar-benar tidak biasanya lita nasuk kedalam rumah seperti ini. Tapi, dia merasa heran jika ia memang seorang dukun sesuai pemikiran lita kenapa tidak ada hal-hal yang berbau sesajen atau kemenyan yang lita pikirkan.
Lita memandang menyeluruh melihati isi ruangan itu, tak ada yang menarik hanya tembok biasa dan beberapa lampu tempel menghias rumah itu.
Sejenak, suasana hening.
Anto tak berani bercakap lebih dulu, ia ingin mendengar wanita yang sering disebut Nyai itu berbicara terlebih dahulu. Matanya menatap nanar laki-laki yang berada didepannya itu.
“Ieu anak nyai, jasadna doang. Eusina mah makhluk nu ngaganggu keluarga anjeun!” (ini anak nyai, jasadnya aja. Isinya mah makhluk yang mengganggu keluarga kamu!) jelas Nyai dengan suara lirih hampir berbisik.
Anto menatap kaget, dia merespon tidak biasa dengan apa yang dikatakan Nyai. Kenapa dia bisa tahu apa yang terjadi dengan keluargaku, tepatnya Abi.
“terus kumaha nyi?” (terus bagaimana nyi?) Tanya abi menyeloroh
Nyai hanya terdiam menatap anak laki-lakinya, entah apa yang dilakukannya. Nyai hanya terdiam sejenak, ia mengusap wajah anaknya itu dengan lembut hingga kemudian hal yang tak terduga terjadi dihadapan mereka semua.
Anak itu bereaksi mengerikan, matanya menatap tajam ke arah Anto dan Lita yang sedang terduduk. Anak itu menggertakkan giginya, membuat siapapun yang mendengarnya akan merasakan ngilu.
“Saha sia?” ( siapa kamu?) ucap Nyai memulai pembicaraan.
Anto menepuk-nepuk punggung nyai yang duduk membelakanginya, anto berkata “Ieu keur naon nyai?” (ini sedang apa nyai?)
Nyai menjelaskan jika ini adalah tahap mediasi agar jin yang mengganggu keluargamu masuk kedalam raga anaknya. Nyai ingin menanyakan apa yang dia lakukan dan apa alasannya mengganggu manusia. ANto hanya mengangguk dengan badan yang terus bergetar, tangannya pun tak kuasa menggenggam tangan lita lagi. Terlihat Lita hanya diam memeluk abi anaknya dengan erat, abi hanya menatap kosong wajah ibunya.
Dibawah lampu tempel yang remang, wajah itu terpejam. Matanya menutup dan tiba-tiba terbuka dengan lebar. Tangannya menerkam erat lututnya yang masih bersila. Badannya terus bergetar, kepalanya godek, bergerak kekanan kekiri. Mulutnya komat kamit, seperti membaca mantra atau apalah namanya. Makhluk yang didalam tubuh anaknya Nyai itu perlahan mengangkat kepalanya dan berbicara dengan suara yang besar dan menggelegar,
“AING MURKA KA SARIA!” (saya marah kepada kalian!)
Kami semua menatap kaget sekaligus heran, apa kesalahan Keluarga Lita hingga membuatnya begitu marah?
“ULAH SOK KITU, AI NGAMBEUK TEH ULAH SOK NGAGANGGU KA MURANGKALIH!” (Jangan seperti itu, jika marah jangan mengganggu anak kecil!)
“AING TEU PEDULI!” (Saya tidak peduli) balas makhluk itu melotot tajam. Makhluk itu berdiri membuat kuda-kuda seolah akan bertarung, Nyai sigap menahan tubuh anaknya itu.
“AING LAIN NGAJAK GELUT! CICING DIUK DEUI!” (Saya bukan mengajak berkelahi! Diam duduk lagi!) kata Nyai menendang lutut laki-laki itu hingga terduduk.
Lita bersembunyi dibalik badan Anto dengan Abi yang masih saja terdiam dengan mata yang ditutupi telapak tangan lita!
Makhluk itu terduduk dengan wajah yang sangat kesal!
Semilir angin menerobos masuk kedalam rumah itu, pintu yang sengaja tidak ditutup itu menyeringai sepi, perlahan beberapa orang datang dan berdiri melihat dari luar rumah. Mereka berdiri dengan tatapan serius dengan ekspresi hampir datar. Semakin lama semakin banyak orang datang, tapi entah kenapa tidak ada satupun orang yang berani masuk. Mereka tampak sangat penasaran dengan apa yang terjadi dirumah Nyai.
Lita hanya bingung melihat orang-orang yang berdiri diluar sana! Mungkin mereka tetangga si Nyai yang lain, tapi lita berpikir jika ia tidak melihat rumah lain tapi mungkin saja Karena gelap jadi lita tidak ngeuh dengan hal itu.
“Neng, ulah ditempokeun!” (Neng jangan diliatin!) Anto dengan sigap menolehkan kepala lita kehadapannya yang sedari tadi memandangi orang-orang yang berada diluar. Karena penasaran lita menoleh kembali kearah luar rumah itu, LENYAP! Tak ada satupun orang yang baru saja riuh diluar sana!
“Anto, kendalikeun pamajikan maneh!” (Anto kendalikan istri kamu!) seru Nyai marah, karena lita tidak menggubris larangan si Nyai.
Tiba-tiba makhluk itu menggeram dengan kencang.
“GGGRRMMM…GGGRRMMM….” Suara makhluk itu persis suara macan.
“SOK NGOMONG, ULAH LOBA SIKAP!” (silahkan bicara, jangan banyak sikap!) ketus Nyai
Makhluk itu masih saja menggeram dengan diakhiri tawanya yang keras dan menggelegar!
“AING REK MAWA BUDAK ETA!” (Saya akan membawa anak itu!) Jawab makhluk itu sembari menujuk kearah ABi.
Abi menjerit memeluk ibunya yang sedari tadi terkulai lemas. ANto terlihat sangat pucat, dia sangat ketakutan!
Tangan Nyai memukul jari makhluk itu “NGEUNAH BAE SIA!” (enak aja lu!) tegas nyai
“AI SIA SAHA? KU AING TANYA! JAWAB!” (Lu siapa? Saya Tanya! Jawab!) seru Nyai lagi.
Mata makhluk itu terpejam kembali dan menunduk dengan tangan yang berada diatas lututnya, seketika suasana hening.
Semua orang terdiam, Anto tak berani menggerakkan tangan kaki atau bahkan tubuhny, mereka membeku. Abi memeluk ibunya dengan wajah yang membenam dibalik baju ibunya. Lita memegang erat badan Abi dengan penuh ketakutan.
Perlahan mulut dari anak Nyai itu membuka, kemudian dia berkata “AING JENG RAKYAT AING TEU RESEP, TEMPAT HIRUP AING MAEN DIBERSIHKEUN KAWAS KITU!” (saya dan rakyat saya tidak suka, tempat tinggal saya dibersihkan seperti itu) Jawab makhluk dengan wajah yang murka.
“TEMPAT SIA NUMANA?” (tempat anda yang mana?) Tanya Nyai serius
“KEBON CAU! AING TE BOGA IMAH JENG RAKYAT AING”
(Kebun Pisang! Saya tidak punya rumah untuk rakyat saya!) jawab makhluk itu
Seperti jatuh dari jurang yang dalam, Anto dan Lita bertatap muka membuka mata mereka lebar-lebar. Mereka mulai teringat beberapa kejadian aneh yang terjadi entah penampakan yang banyak terjadi sekitar kebun pisang itu, hal aneh dengan keluarga mereka, yang dialami orang sekitar bahkan BU RW!
“MANTAKNA SIA URUS BANGSA SIA ULAH SOK NGAGANGGU BANGSA MANUSA!”
(Makanya anda urus bangsa anda, jangan mengganggu bangsa manusia!) ucap Nyai “PAN SIA PAMIMPINNA!” (kan anda pemimpinnya) lanjut Nyai.

Makhluk itu Menyeringai menunjukkan senyumnya!
Bersambung….
AMARAH DESA JIN [PART 7]
Diubah oleh rosemallow 04-10-2019 16:42
banditos69 dan 13 lainnya memberi reputasi
14