- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/20/10668384_20200520011303.jpg)
Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.
Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.
Spoiler for INDEX:
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for Peraturan:
Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.
Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 17-05-2026 02:21
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
472K
4.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#2632
Penelitian_Part 2
Pada bulan terakhir penelitian ane, waktu tinggal sisa 2 minggu lagi didesa itu, Keket dapat telepon dari keluarganya di Sumedang karena katanya ibunya sakit keras dan menginginkan Keket Pulang. Ane nggak bisa apa-apa jadinya kan, namanya Ibu kalau udah meminta ya kudu nurut.
"Aku harus pulang Ja. Gimana ya?" Kata Keket sedih.
"Nggak bisa nunggu dulu, tanggung loh ini. Tinggal dikit lagi yank." Kata ane
"Iya tapi gimana, aku ditelpon keluarga dirumah. Ibuku sakit katanya. Aku nggak mau kenapa-kenapa sama ibu aku Ja. Tolong ngertiin ya?"
Ane diam agak lama untuk berpikir.
"Yaudah deh Ket nggak apa-apa. Besok pagi kita beli tiket dulu ke kota ya, buat perjalanan kamu besok siangnya lagi. Kamu mau langsung ke rumah aja?"
"Iya kayaknya langsung kerumah aja deh."
"Oke deh. Yang penting tenangin diri kamu dulu ya sayang." Kata ane sambil menyuruhnya minum teh.
Keket meminum teh yang dibuatkan oleh Sita tadi. Tehnya segar banget entah kenapa. Bisa menenangkan hati.
"Kamu nggak apa-apa kan disini tanpaku? Kamu bisa minta tolong pemuda desa sini, atau Sita juga. Kan dia fast learner tuh."
"Aku sih berat sebenernya. Karena teman diskusi aku nggak ada. Mana sinyal susah lagi kan. Kalau ngehubungin kamu pasti susah banget. Terus Sita kan kalau pagi sampe sore kerja. Gimana ceritanya dia bisa banyak bantu yank? Ya paling nanti minta sama pemuda desa aja."
"Iya sih, palingan malem ya Sita bantu kamu. Seenggaknya dia udah mau bantu. Kan dia juga nawarin tuh."
"Iya sayang. Aku sadar aku nggak boleh egois, karena ini menyangkut keluarga kamu kan."
"Iya yank...."
Lalu kami berpelukan di kamar yang ditempati Keket. Kami berpelukan sangat lama, sebelum akhirnya Sita mengetuk pintu tanda makan malam sudah siap. Ane membuka pintu dan Sita agak terkejut dengan adanya ane didalam kamar Keket yang ketutup dari luar.
"Eh maaf ganggu kak, lanjut aja dulu ya. Nanti kalau udah tinggal ke meja makan aja ya, makanannya udah tak siapin."
"Iya Ta nggak apa-apa kok. Aku lagi bantu beresin barang-barang Keket. Soalnya dia mau balik ke Sumedang."
"Hah kok buru-buru kak? Ada apa?" Tanya Sita.
"Ibuku sakit Ta, jadi aku diminta pulang."
"Oh maaf kak aku nggak tau. Tapi semoga lekas sembuh ya ibunya kakak."
"Iya nggak apa-apa kok Ta."
"Yaudah kalau udah selesai beres-beres ayo makan dulu ya kakak-kakak." Kata Sita sambil tersenyum.
--
Paginya ane dan Keket pergi ke kota dengan meminjam motor Pak Amat. Lumayan jauh juga perjalanan, tapi tanpa macet tentunya. Sepanjang perjalanan kami bercanda ria dan tentunya bicara-bicara modus yang nggak ada abisnya. Keket begitu menikmati suasana pedesaan dengan hamparan sawah yang luas serta menghijau. Ane pun juga sama menikmatinya.
Kami sampai di stasiun dan menanyakan pembelian tiket disebelah mana. Setelah ditunjukkan, ane dan Keket langsung menuju ke tempat pembelian kereta jarak jauh. Setelah selesai kami mencari makan siang dulu disekitaran stasiun.
"Makanannya enak ya, padahal warung kecil gini." Kata Keket.
"Ho oh. Nggak nyangka juga aku." Kata ane.
"Eh Ja, kan aku dulu pernah bilang tu, kalau seandainya kita nikah muda asyik kali ya?"
"Haha iya Ket. Aku inget. Emang enak kayaknya ya. Tapi aku tetap mau kerja dulu Ket, aku nggak bisa ngandelin siapa-siapa lagi selain kemampuanku sendiri."
"Iya sayang. Aku ngerti kok. Kan aku cuma ngebayangin aja kalau nikah muda gimana. Aku kan juga mau kerja dulu yank. Sayang ilmu kita kan kata kamu. Hehe."
"Hehe iya makanya itu."
"Tapi banyak ya ternyata didesa itu yang bahkan belum lulus SMA aja udah pada dinikahin. Gile juga ya."
"Nah itu yang mesti kita perbaiki deh. Mungkin karena minim edukasi jadinya gitu."
"Iya sih ya. Soalnya aku liat anak-anak masih ABG gitu gendong bayi kirain adiknya, eh taunya anaknya. Hahaha."
Selanjutnya obrolan kami banyak membahas masalah fenomena aneh didesa itu. Tentunya sekalian ngegosipin orang. Hehehe. Nggak kerasa udah jam 14.00, saatnya pulang.
--
Waktu Keket pulang sudah tiba. Kereta yang ditumpanginya akan berangkat sekitar jam 15.00. Ane akhirnya harus berpisah sementara dengan Keket. Setelah keretanya berangkat, ane pulang ke desa dengan hati yang sangat kecewa. Tapi ya harus dijalanin kan.
Sejauh tanpa Keket, penelitian ane lancar walaupun kurang semangat ngejalaninnya. Untungnya Sita dan para pemuda desa dengan baik hati mau membantu ane. Hari-hari setelahnya ane malah antar jemput Sita ke tempat kerjanya karena hitung-hitung untuk ucapan terima kasih udah banyak bantuin dan ngasih tempat tinggal sementara.
"Kak makan dulu yuk. Udah malam nih." Kata Sita.
"Iya sebentarnya Ta." Kata ane.
Ane lalu keluar dari kamar dan mulai makan bareng sama Sita dan Ibunya. Pak Amat sedang keluar dan katanya akan kembali tengah malam. Setelah makan, ane dan Sita lalu kembali ke kesibukan mengerjakan sampel penelitian ane. Sita bener-bener anak yang cerdas, sayang banget deh dia nggak mau kuliah. Sementara ibunya sedang kurang enak badan sehingga tidur lebih cepat.
"Kamu kenapa nggak kuliah sih? Kalau nggak mau ngebebanin orang tua kan bisa tuh ajuin beasiswa Ta."
"Aku belum mau kak, nanti aja, selama aku bisa bantu bapak dan ibu, aku ya kerja aja dulu."
"Tapi kamu mau janji nggak buat kuliah? Sayang kamu itu pinter, kamu bisa majuin desa ini dengan ilmu dari bangku kuliah Ta."
"Iya sih kak, aku juga kepikiran kayak gitu, tapi mungkin nanti ya."
"Asal jangan buru-buru nikah aja Ta. Hehehe."
"Haha aku nggak mau kayak teman-teman atau tetanggaku disini, masih muda udah pada gendong anak, aku masih mau nikmatin dulu kak, kerja, kuliah, senang-senang dulu deh di masa muda."
"Senang-senangnya sama aku aja. Hehehe." Ane mulai modus iseng.
"Hah? Emang mau senang-senang gimana kak?"
"Ya apapun yang seru-seru bisa lah Ta. Hehe."
Ane emang semenjak Keket cabut, banyak berinteraksi dengan Sita dan juga suka iseng ngegodain dan modusin Sita. Sitanya juga ngerespon positif, jadi yaudah kan lancar penelitian ane dibantu dengan senang hati sama dia. Hehe.
"Aku belum pernah pacaran sama orang dari kota kak. Hehe."
"Hah? Sama aja kali, kan sama-sama manusia. Kalau kamu pacaran sama domba dibelakang rumah ini tuh baru lain Ta."
"Hahaha. Ih si kakak lucu. Ya maksudku, pacaran sama orang kota itu kayaknya asyik. Aku liat kakak sama Kak Keket aja seru banget kayaknya."
"Haha bisa aja kamu Ta. Kebetulan aku emang beruntung dapetin dia Ta."
"Iya kak, ih aku seneng deh kalau liat cowok yang care gitu, kayak kakak ke kak keket. Hehe."
"Beneran? Aku kurang care apa sama kamu emang? Kan aku aja sekarang mastiin kamu sehat walafiat, utuh dari mulai berangkat sampai pulang lagi kerumah. Hehe."
"Hehe iya kak. Makasih banyak ya. Aku seneng banget kak kamu mau antar jemput aku, walaupun kerjaku kan tempatnya nggak jauh dari sini. Teman-teman aku nyangkanya aku kakak pacar aku. Tapi pas aku bilang bukan, mereka malah pada mau rebutan kenalan sama kamu. Hehehe. Lucu deh teman-temanku."
"Haha emang iya ya? Duh jadi enak deh. Tapi kamu seneng dong bisa dibonceng sama aku berarti?"
"Seneng kak. Apalagi dengan teman-temanku yang pada berebutan gitu jadi ada kebanggaan tersendiri buat aku, mereka yang ribut, aku yang enak. Hehehe."
"Iya Ta. Haha. Mau yang lebih enak lagi nggak?”
"Wah apaan kak lebih enaknya?"
Ane langsung aja mencium Sita tepat dibibir, agak lama, sebelum akhirnya ane lepas lagi. Mukanya memerah. Tapi ada senyum kecil darinya.
"A..aku kaget kak. Tapi aku suka." Katanya.
"Eeeh. Maaf ya Ta. Aku kebablasan. Duh gimana ya. Tapi kamu belom pernah ya dicium?"
"Hmmm..nggak apa-apa kak. Aku udah pernah kok ciuman. Hehe." Katanya sambil tersipu.
"Oh iya? Tapi beneran maafin aku ya Ta."
"Iya kak nggak apa-apa." Katanya sambil memegang tangan kiri ane.
Ane celingak celinguk, masih jam 21.00, lalu kemudian menerjang Sita lagi. Make out. Sita juga lumayan oke pergerakannya. Saling raba sana sini langsung. Setelahnya ane menyetopnya karena takut kebablasan.
"Maaf ya Ta, aduh kok malah jadi gini."
"Iya kak nggak apa-apa, aku suka kok. Aku sempet ngebayangin kayak gini juga pas liat serunya hubungan kamu sama Kak Keket kak."
"Aduh, maafin ya Ta. Harusnya nggak gini nih aku. Nggak tau diri bener aku."
"Iya kak, aku juga minta maaf, aku mikirnya yang nggak-nggak waktu ngebayangin kakak. Hehe. Tapi makasih ya Kak, aku seneng."
Sadis. Dia seneng katanya. Embat apa nggak ini?
--
Empat hari jelang berakhirnya penelitian ane didesa tersebut, ane udah sangat dekat dengan Sita. Tiap malam kalau nggak ane nyelinap kekamar Sita, ya sebaliknya. Tapi nggak sampe jauh banget hanya make out, grepe, minum susu langsung dari pabriknya yang nggak terlalu besar kayak Zalina, dan sejenis-sejenisnya.
Saat itu hari minggu dan ane mau beli tiket pulang. Sita menemani ane ke kota. Kami berangkat dari pagi banget. Setelah selesai beli tiket, ane sempat iseng nanya sama salah satu petugas di stasiun, hotel transit murah ada nggak disini. Ternyata ada katanya.
"Ta, iseng yuk sebentar mampir ke hotel, mau nggak? Tapi aku nggak maksa loh ya."
"Hotel? Ngapain? Kan dirumah juga bisa. Lagian nggak nginep kan sayang kak. Hehe."
"Nggak apa-apa, biar lebih bebas aja Ta. Mau nggak?"
"Hmmm..yaudah deh, terserah kakak. Tapi kita jangan kemalaman ya pulangnya."
"Iya, yuk."
Lalu ane dengan pemikiran yang udah gila banget ngajak check-in anak lugu ini. Nggak lugu-lugu banget juga sih sebenernya. Haha. Beres check-in, kami masuk dan bersih-bersih dulu. Disana lah ane bisa lihat dengan jelas tubuh Sita dari atas sampe bawah secara polosan. Hehe. Bagus juga nih. Jadi bikin sang* aja pokoknya tuh.
Sesi pertama dilalui tanpa penetrasi. Yang kedua pun sama. Barulah yang ketiga dia meminta.
"Kak boleh..aku mau.."
"Yakin nih kamu?”
"Bener kak. Aku mau ngerasain pertama kali sama kamu."
"Yakin? Nggak akan nyesel? Aku nggak bisa janjiin apapun ya Ta."
"Kamu nggak perlu janji apapun kak, ini murni aku yang mau."
Dan terjadilah prosesi yang iya-iya itu. Sebanyak kurang lebih 4 atau 5 ronde lah. Stamina Sita harus banyak digenjot lagi nih, karena cepat kecapekan dia. Seperti biasanya, darah dimana-mana, dan uniknya, pas check out ternyata nggak bayar denda loh. Haha. Sita juga kelihatan senang banget. Sepanjang perjalanan oulang kami dia selalu memeluk ane erat. Ada rasa bersalah banget, tapi ya dia yang mau kan.
Ane sampai dirumah udah agak malam dan Sita sempat diinterogasi. Tapi karena kami udah siapkan jawaban dan sinkron, jadinya aman.
--
Hari kepulangan ane akhirnya tiba. ane jujur aja berat buat ninggalin Sita dan juga desa itu. Penduduknya ramah banget dan welcome sama pendatang kayak ane. Sita juga sepertinya mulai suka sama ane lebih dalam. Gimana nggak, dari yang pertama di hotel, setiap malamnya sampai malam terakhir dia minta jatah, atau ane yang mulai godain dia duluan. Hehe.
"Jangan pernah lupain aku ya kak."
"Nggak bakal. Kamu kan udah baik banget sama aku, bantuin aku, ngasih itu ke aku, dan lebih baiknya lagi, orang tua kamu baik banget dan menyediakan semua yang aku perluin Ta disini."
"Iya kak. Aku seneng banget punya pengalaman bareng kakak gini, semua pengalaman ya. Dari mulai dikasih ilmu bener, sampai ilmu yang itu tuh. Hehe."
"Yee, ketagihan ya kamu? Hehe."
"Nggak tau kak, yang jelas ini aku bahagia banget kak. Dan tau nggak kak, dari awal-awal kamu ada disini sebenernya aku udah suka sama kakak, cuma aku nggak enak sama kak Keket yang cantik itu."
"Haha. Iya Ta. Makasih ya, ternyata ada juga yang suka aku."
"Ga cuma aku loh kak, anak-anak sini yang cewek-cewek juga tertarik, di tempat kerja aku juga tuh teman-temanku. Hehe. Tapi tetap aja ya aku yang beruntung."
"Iya, karena kamu yang aku pilih buat nemenin aku kemanapun disini. Makasih banyak banget ya Ta."
Lalu setelah ngobrol di teras sama Sita, ane berpamitan dengan Pak Amat dan Istrinya. Ane ke kota dengan menggunakan mobil yang disewakan Pak Amat. Ane menghubungi Keket sebelum jalan, dan katanya kondisi ibunya udah baikan. Syukurlah.
Ane juga ngehubungi Harmi dan Ara. Semuanya senang dengar kabar ane akan kembali. Ane juga senang akan bertemu dengan mereka semua nanti. Dan yang terpenting, penelitian ini berjalan dengan sukses dan penulisan skripsi ini bisa lebih cepat dirampungkan. Syukur-syukur sebelum berangkat ke Perancis udah tinggal nyicil dikit lagi.
"Aku harus pulang Ja. Gimana ya?" Kata Keket sedih.
"Nggak bisa nunggu dulu, tanggung loh ini. Tinggal dikit lagi yank." Kata ane
"Iya tapi gimana, aku ditelpon keluarga dirumah. Ibuku sakit katanya. Aku nggak mau kenapa-kenapa sama ibu aku Ja. Tolong ngertiin ya?"
Ane diam agak lama untuk berpikir.
"Yaudah deh Ket nggak apa-apa. Besok pagi kita beli tiket dulu ke kota ya, buat perjalanan kamu besok siangnya lagi. Kamu mau langsung ke rumah aja?"
"Iya kayaknya langsung kerumah aja deh."
"Oke deh. Yang penting tenangin diri kamu dulu ya sayang." Kata ane sambil menyuruhnya minum teh.
Keket meminum teh yang dibuatkan oleh Sita tadi. Tehnya segar banget entah kenapa. Bisa menenangkan hati.
"Kamu nggak apa-apa kan disini tanpaku? Kamu bisa minta tolong pemuda desa sini, atau Sita juga. Kan dia fast learner tuh."
"Aku sih berat sebenernya. Karena teman diskusi aku nggak ada. Mana sinyal susah lagi kan. Kalau ngehubungin kamu pasti susah banget. Terus Sita kan kalau pagi sampe sore kerja. Gimana ceritanya dia bisa banyak bantu yank? Ya paling nanti minta sama pemuda desa aja."
"Iya sih, palingan malem ya Sita bantu kamu. Seenggaknya dia udah mau bantu. Kan dia juga nawarin tuh."
"Iya sayang. Aku sadar aku nggak boleh egois, karena ini menyangkut keluarga kamu kan."
"Iya yank...."
Lalu kami berpelukan di kamar yang ditempati Keket. Kami berpelukan sangat lama, sebelum akhirnya Sita mengetuk pintu tanda makan malam sudah siap. Ane membuka pintu dan Sita agak terkejut dengan adanya ane didalam kamar Keket yang ketutup dari luar.
"Eh maaf ganggu kak, lanjut aja dulu ya. Nanti kalau udah tinggal ke meja makan aja ya, makanannya udah tak siapin."
"Iya Ta nggak apa-apa kok. Aku lagi bantu beresin barang-barang Keket. Soalnya dia mau balik ke Sumedang."
"Hah kok buru-buru kak? Ada apa?" Tanya Sita.
"Ibuku sakit Ta, jadi aku diminta pulang."
"Oh maaf kak aku nggak tau. Tapi semoga lekas sembuh ya ibunya kakak."
"Iya nggak apa-apa kok Ta."
"Yaudah kalau udah selesai beres-beres ayo makan dulu ya kakak-kakak." Kata Sita sambil tersenyum.
--
Paginya ane dan Keket pergi ke kota dengan meminjam motor Pak Amat. Lumayan jauh juga perjalanan, tapi tanpa macet tentunya. Sepanjang perjalanan kami bercanda ria dan tentunya bicara-bicara modus yang nggak ada abisnya. Keket begitu menikmati suasana pedesaan dengan hamparan sawah yang luas serta menghijau. Ane pun juga sama menikmatinya.
Kami sampai di stasiun dan menanyakan pembelian tiket disebelah mana. Setelah ditunjukkan, ane dan Keket langsung menuju ke tempat pembelian kereta jarak jauh. Setelah selesai kami mencari makan siang dulu disekitaran stasiun.
"Makanannya enak ya, padahal warung kecil gini." Kata Keket.
"Ho oh. Nggak nyangka juga aku." Kata ane.
"Eh Ja, kan aku dulu pernah bilang tu, kalau seandainya kita nikah muda asyik kali ya?"
"Haha iya Ket. Aku inget. Emang enak kayaknya ya. Tapi aku tetap mau kerja dulu Ket, aku nggak bisa ngandelin siapa-siapa lagi selain kemampuanku sendiri."
"Iya sayang. Aku ngerti kok. Kan aku cuma ngebayangin aja kalau nikah muda gimana. Aku kan juga mau kerja dulu yank. Sayang ilmu kita kan kata kamu. Hehe."
"Hehe iya makanya itu."
"Tapi banyak ya ternyata didesa itu yang bahkan belum lulus SMA aja udah pada dinikahin. Gile juga ya."
"Nah itu yang mesti kita perbaiki deh. Mungkin karena minim edukasi jadinya gitu."
"Iya sih ya. Soalnya aku liat anak-anak masih ABG gitu gendong bayi kirain adiknya, eh taunya anaknya. Hahaha."
Selanjutnya obrolan kami banyak membahas masalah fenomena aneh didesa itu. Tentunya sekalian ngegosipin orang. Hehehe. Nggak kerasa udah jam 14.00, saatnya pulang.
--
Waktu Keket pulang sudah tiba. Kereta yang ditumpanginya akan berangkat sekitar jam 15.00. Ane akhirnya harus berpisah sementara dengan Keket. Setelah keretanya berangkat, ane pulang ke desa dengan hati yang sangat kecewa. Tapi ya harus dijalanin kan.
Sejauh tanpa Keket, penelitian ane lancar walaupun kurang semangat ngejalaninnya. Untungnya Sita dan para pemuda desa dengan baik hati mau membantu ane. Hari-hari setelahnya ane malah antar jemput Sita ke tempat kerjanya karena hitung-hitung untuk ucapan terima kasih udah banyak bantuin dan ngasih tempat tinggal sementara.
"Kak makan dulu yuk. Udah malam nih." Kata Sita.
"Iya sebentarnya Ta." Kata ane.
Ane lalu keluar dari kamar dan mulai makan bareng sama Sita dan Ibunya. Pak Amat sedang keluar dan katanya akan kembali tengah malam. Setelah makan, ane dan Sita lalu kembali ke kesibukan mengerjakan sampel penelitian ane. Sita bener-bener anak yang cerdas, sayang banget deh dia nggak mau kuliah. Sementara ibunya sedang kurang enak badan sehingga tidur lebih cepat.
"Kamu kenapa nggak kuliah sih? Kalau nggak mau ngebebanin orang tua kan bisa tuh ajuin beasiswa Ta."
"Aku belum mau kak, nanti aja, selama aku bisa bantu bapak dan ibu, aku ya kerja aja dulu."
"Tapi kamu mau janji nggak buat kuliah? Sayang kamu itu pinter, kamu bisa majuin desa ini dengan ilmu dari bangku kuliah Ta."
"Iya sih kak, aku juga kepikiran kayak gitu, tapi mungkin nanti ya."
"Asal jangan buru-buru nikah aja Ta. Hehehe."
"Haha aku nggak mau kayak teman-teman atau tetanggaku disini, masih muda udah pada gendong anak, aku masih mau nikmatin dulu kak, kerja, kuliah, senang-senang dulu deh di masa muda."
"Senang-senangnya sama aku aja. Hehehe." Ane mulai modus iseng.
"Hah? Emang mau senang-senang gimana kak?"
"Ya apapun yang seru-seru bisa lah Ta. Hehe."
Ane emang semenjak Keket cabut, banyak berinteraksi dengan Sita dan juga suka iseng ngegodain dan modusin Sita. Sitanya juga ngerespon positif, jadi yaudah kan lancar penelitian ane dibantu dengan senang hati sama dia. Hehe.
"Aku belum pernah pacaran sama orang dari kota kak. Hehe."
"Hah? Sama aja kali, kan sama-sama manusia. Kalau kamu pacaran sama domba dibelakang rumah ini tuh baru lain Ta."
"Hahaha. Ih si kakak lucu. Ya maksudku, pacaran sama orang kota itu kayaknya asyik. Aku liat kakak sama Kak Keket aja seru banget kayaknya."
"Haha bisa aja kamu Ta. Kebetulan aku emang beruntung dapetin dia Ta."
"Iya kak, ih aku seneng deh kalau liat cowok yang care gitu, kayak kakak ke kak keket. Hehe."
"Beneran? Aku kurang care apa sama kamu emang? Kan aku aja sekarang mastiin kamu sehat walafiat, utuh dari mulai berangkat sampai pulang lagi kerumah. Hehe."
"Hehe iya kak. Makasih banyak ya. Aku seneng banget kak kamu mau antar jemput aku, walaupun kerjaku kan tempatnya nggak jauh dari sini. Teman-teman aku nyangkanya aku kakak pacar aku. Tapi pas aku bilang bukan, mereka malah pada mau rebutan kenalan sama kamu. Hehehe. Lucu deh teman-temanku."
"Haha emang iya ya? Duh jadi enak deh. Tapi kamu seneng dong bisa dibonceng sama aku berarti?"
"Seneng kak. Apalagi dengan teman-temanku yang pada berebutan gitu jadi ada kebanggaan tersendiri buat aku, mereka yang ribut, aku yang enak. Hehehe."
"Iya Ta. Haha. Mau yang lebih enak lagi nggak?”
"Wah apaan kak lebih enaknya?"
Ane langsung aja mencium Sita tepat dibibir, agak lama, sebelum akhirnya ane lepas lagi. Mukanya memerah. Tapi ada senyum kecil darinya.
"A..aku kaget kak. Tapi aku suka." Katanya.
"Eeeh. Maaf ya Ta. Aku kebablasan. Duh gimana ya. Tapi kamu belom pernah ya dicium?"
"Hmmm..nggak apa-apa kak. Aku udah pernah kok ciuman. Hehe." Katanya sambil tersipu.
"Oh iya? Tapi beneran maafin aku ya Ta."
"Iya kak nggak apa-apa." Katanya sambil memegang tangan kiri ane.
Ane celingak celinguk, masih jam 21.00, lalu kemudian menerjang Sita lagi. Make out. Sita juga lumayan oke pergerakannya. Saling raba sana sini langsung. Setelahnya ane menyetopnya karena takut kebablasan.
"Maaf ya Ta, aduh kok malah jadi gini."
"Iya kak nggak apa-apa, aku suka kok. Aku sempet ngebayangin kayak gini juga pas liat serunya hubungan kamu sama Kak Keket kak."
"Aduh, maafin ya Ta. Harusnya nggak gini nih aku. Nggak tau diri bener aku."
"Iya kak, aku juga minta maaf, aku mikirnya yang nggak-nggak waktu ngebayangin kakak. Hehe. Tapi makasih ya Kak, aku seneng."
Sadis. Dia seneng katanya. Embat apa nggak ini?
--
Empat hari jelang berakhirnya penelitian ane didesa tersebut, ane udah sangat dekat dengan Sita. Tiap malam kalau nggak ane nyelinap kekamar Sita, ya sebaliknya. Tapi nggak sampe jauh banget hanya make out, grepe, minum susu langsung dari pabriknya yang nggak terlalu besar kayak Zalina, dan sejenis-sejenisnya.
Saat itu hari minggu dan ane mau beli tiket pulang. Sita menemani ane ke kota. Kami berangkat dari pagi banget. Setelah selesai beli tiket, ane sempat iseng nanya sama salah satu petugas di stasiun, hotel transit murah ada nggak disini. Ternyata ada katanya.
"Ta, iseng yuk sebentar mampir ke hotel, mau nggak? Tapi aku nggak maksa loh ya."
"Hotel? Ngapain? Kan dirumah juga bisa. Lagian nggak nginep kan sayang kak. Hehe."
"Nggak apa-apa, biar lebih bebas aja Ta. Mau nggak?"
"Hmmm..yaudah deh, terserah kakak. Tapi kita jangan kemalaman ya pulangnya."
"Iya, yuk."
Lalu ane dengan pemikiran yang udah gila banget ngajak check-in anak lugu ini. Nggak lugu-lugu banget juga sih sebenernya. Haha. Beres check-in, kami masuk dan bersih-bersih dulu. Disana lah ane bisa lihat dengan jelas tubuh Sita dari atas sampe bawah secara polosan. Hehe. Bagus juga nih. Jadi bikin sang* aja pokoknya tuh.
Sesi pertama dilalui tanpa penetrasi. Yang kedua pun sama. Barulah yang ketiga dia meminta.
"Kak boleh..aku mau.."
"Yakin nih kamu?”
"Bener kak. Aku mau ngerasain pertama kali sama kamu."
"Yakin? Nggak akan nyesel? Aku nggak bisa janjiin apapun ya Ta."
"Kamu nggak perlu janji apapun kak, ini murni aku yang mau."
Dan terjadilah prosesi yang iya-iya itu. Sebanyak kurang lebih 4 atau 5 ronde lah. Stamina Sita harus banyak digenjot lagi nih, karena cepat kecapekan dia. Seperti biasanya, darah dimana-mana, dan uniknya, pas check out ternyata nggak bayar denda loh. Haha. Sita juga kelihatan senang banget. Sepanjang perjalanan oulang kami dia selalu memeluk ane erat. Ada rasa bersalah banget, tapi ya dia yang mau kan.
Ane sampai dirumah udah agak malam dan Sita sempat diinterogasi. Tapi karena kami udah siapkan jawaban dan sinkron, jadinya aman.
--
Hari kepulangan ane akhirnya tiba. ane jujur aja berat buat ninggalin Sita dan juga desa itu. Penduduknya ramah banget dan welcome sama pendatang kayak ane. Sita juga sepertinya mulai suka sama ane lebih dalam. Gimana nggak, dari yang pertama di hotel, setiap malamnya sampai malam terakhir dia minta jatah, atau ane yang mulai godain dia duluan. Hehe.
"Jangan pernah lupain aku ya kak."
"Nggak bakal. Kamu kan udah baik banget sama aku, bantuin aku, ngasih itu ke aku, dan lebih baiknya lagi, orang tua kamu baik banget dan menyediakan semua yang aku perluin Ta disini."
"Iya kak. Aku seneng banget punya pengalaman bareng kakak gini, semua pengalaman ya. Dari mulai dikasih ilmu bener, sampai ilmu yang itu tuh. Hehe."
"Yee, ketagihan ya kamu? Hehe."
"Nggak tau kak, yang jelas ini aku bahagia banget kak. Dan tau nggak kak, dari awal-awal kamu ada disini sebenernya aku udah suka sama kakak, cuma aku nggak enak sama kak Keket yang cantik itu."
"Haha. Iya Ta. Makasih ya, ternyata ada juga yang suka aku."
"Ga cuma aku loh kak, anak-anak sini yang cewek-cewek juga tertarik, di tempat kerja aku juga tuh teman-temanku. Hehe. Tapi tetap aja ya aku yang beruntung."
"Iya, karena kamu yang aku pilih buat nemenin aku kemanapun disini. Makasih banyak banget ya Ta."
Lalu setelah ngobrol di teras sama Sita, ane berpamitan dengan Pak Amat dan Istrinya. Ane ke kota dengan menggunakan mobil yang disewakan Pak Amat. Ane menghubungi Keket sebelum jalan, dan katanya kondisi ibunya udah baikan. Syukurlah.
Ane juga ngehubungi Harmi dan Ara. Semuanya senang dengar kabar ane akan kembali. Ane juga senang akan bertemu dengan mereka semua nanti. Dan yang terpenting, penelitian ini berjalan dengan sukses dan penulisan skripsi ini bisa lebih cepat dirampungkan. Syukur-syukur sebelum berangkat ke Perancis udah tinggal nyicil dikit lagi.
itkgid dan 31 lainnya memberi reputasi
32
Tutup
Zalina, 95% mirip Tala Ashe
Anin, 85% mirip Beby Cesara
Keket, 95% mirip, ane nggak kenal siapa ini, nemu di google
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043503.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043009.jpg)
Mulustrasi Ara, waktu masih SMA, 96% mirip![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/12/10668384_201909120424500824.png)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/13/10668384_201909130223080915.png)
serta apresiasi cendol