- Beranda
- Stories from the Heart
AMARAH DESA JIN [KISAH NYATA]
...
TS
rosemallow
AMARAH DESA JIN [KISAH NYATA]
![AMARAH DESA JIN [KISAH NYATA]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/26/10708448_201909260452540118.png)
Spoiler for WAJIB BACA!:
PELET PERAWAN
Layar laptop menyinari ruangan yang gelap itu, tanganku tak henti memijit satu persatu tombol kotak berwarna hitam diatas laptopku. Pandanganku terfokus lurus melihat layar yang membuatku enggan melirik ke tempat lain. Kakiku melipat bersila diatas karpet bercorak polkadot, sesekali ku angkat gelas berisi air putih yang berada disebelah meja kecil tempat laptop itu ku letakkan.
Ku arahkan mataku ke bagian ujung bawah kanan layar laptopku, tak terasa waktu menunjukkan pukul 20:00, 7 Jam sudah aku terfokus membuat paper tugas kuliahku di hari minggu ini. Hari ini aku hanya berniat untuk menyelesaikan tugasku itu, karena besok adalah deadline pengumpulan tugas ini.
Ku angakt tangan dan aku luruskan, ku rapatkan jemari tanganku dan menariknya, mengisyaratkan otot-ototku telah lama kaku . suara gertakan tulang tulang sendiku riuh bersautan.
“Alhamdulillah, selesai oge” (Alhamdulillah selesai juga!) ucapku merebahkan badanku diatas karpet. Ku tatap langit-langit kamar yang gelap, ruangan 4x3m itu terlihat seperti gua kecil.
Aku melamun…
Alunan dering telponku merusak lamunanku.
Aku spontan melirik ke arah handphone yang layarnya menyala itu, ku ambil dan kulihat ternyata ibuku menelpon.
Tak pikir panjang, akupun menjawabnya
“Assalamu’alaikum” ucap ibuku
“Wa’alaikumsalam” jawabku sembari berjalan ke dispenser untuk mengisi gelas yang kosong.
“Dek dimana?” Tanya ibuku lirih dengan bibir yang terdengar gemetaran
Sembari mengisi gelas dengan air putih itu aku menjawab “dikosan mah, aya naon nyah?” (dikosan bu, ada apa ya?)
“Uwak Isah tos teu aya dek” (Uwak Isah sudah meninggal dek) kata ibuku dengan nada yang haru
Aku tak langsung menjawab, aku hanya termenung menatap kosong gallon didepanku, tanganku tak bisa berhenti menekan keran dispenser hingga air tumpah menyeruah dari dalam gelas yang ku isi.
“Innalilahi wa inna ilaihiroji’un” ucapku lirih dibarengi airmata yang perlahan mengalir dipipi kemudian jatuh setelah menempel dari daguku.
Uwak Isah, Ya nama Asli uwakku, Ibu dari Lita.
Terakhir aku melihat beliau ketika aku sebelum berangkat ke kota B, untuk berkuliah. Umurku sekarang sudah 17 tahun. Aku tidak percaya jika aku tidak ada disisinya ketika hari-hari terakhirnya didunia. Aku sangat menyesali itu.
Tak kuat ku menahan tangis yang memaksa keluar dari kedua mataku, aku terduduk memeluk lututku dengan handphone yang masih menyala yang tidak lagi aku hiraukan. Aku menangis hebat malam itu, hingga ku tertidur.
Esok hari, jadwal kuliahku sangat padat, Karena aku masih ada di semester-semester awal. Aku ingin sekali pulang, tapi orangtuaku menolak.
Mereka menyuruhku memberikan doa saja disini, karena tidak mungkin aku pulang karena jarak ke kampungku yang jalanannya saja susah untuk dilewati kendaraan, terjal dan berkelok-kelok, membuat waktu perjalanan menuju kesana memakan waktu 10 jam lebih dengan kendaraan darat.
Rasa menyesal menyesap terus didalam hatiku, melakukan kegiatanpun dirasa tidak membuatku melupakan rasa sesal ini.
“Enya halo” ucap suara sendu dibalik telpon
“Teh, maaf nyah… abdi teu tiasa pulang ka rumah” (Teh, maaf ya. Aku gak bisa pulang ke rumah) kataku lirih
“Enya, teu kunanaon dek. Da pan adek teh dikota nuju balajar” (Iya, gak apa-apa dek. Kan kamu di kota sedang belajar) jawab lita mencoba membuatku tidak merasa khawatir.
“Nya teh” (Iya teh) ucapku
Kamipun berbincang banyak di telpon saat itu, Lita menceritakan banyak hal.
Lita sekarang bekerja di sebuah supermarket kecil dikampung kami, Ya kampung kecil tidak terlalu banyak perubahan semenjakku kecil, Ya… perubahan hidupnya sangat dirasa sekali, dulu keluarganya sangat kaya bahkan menjadi orang terkaya di kampungku saat itu. Banyak orang yang menyegani keluarganya dahulu, Jujur akupun sangat iri dengan keadaan keluarganya dahulu. Dia bisa membeli apapun yang dia mau, tapi sekarang dia harus berpeluh untuk mendapatkan uang untuknya makan.
Dia masih tinggal di rumah yang dulu, hanya saja sekarang terlihat lebih tidak terawat atau banyak di beberapa sisi yang seharusnya sudah mulai di renovasi dan terpaksa dia pun mengontrakkan beberapa kamar untuk para pendatang yang bekerja di pabrik baru di kampung kami.
Sore itu,
Seorang lelaki mengintip dibalik pohon mangga besar di sebelah supermarket tempat Lita bekerja. Laki-laki itu mengawasi lita dengan sangat seksama, jari-jarinya tak henti ia gerakan . tatapannya tajam seperti akan menerkam.
Terlihat Lita sedang membereskan satu persatu barang dagangan yang di depan toko, pertanda dia akan tutup. Tetapi laki-laki itu masih saja berdiri memandangnya dibalik pohon itu, perlahan dia berjalan maju ke arah lita yang tetap fokus membereskan dagangannya.
Angin dingin sore itu mengusap tengkuk lita dengan lembut, membuatnya sedikit bergidik kedinginan. Sembari mengusap tengkuknya dengan tangan kiri dia berujar.
“Aduh, tiris amat nyah “ (aduh, dingin sekali ya)
Ia menatap kosong, ketika bayangan seseorang tengah berdiri di belakangnya, senja yang kekuningan sejenak membuatnya panik. Lita cemas …
“DORRRRR”
Tubuh Lita sejenak membeku, tangannya mematung berhenti melakukan aktifitas. Badannya spontan berbalik. Lita berteriak
“Aaaaakkkk…. Ih si aa, sok kabisaan ngareuwasan abdi wae!” (ih si aa, kebisaaan ngagetin aku terus) ucap lita kesal
“hehe, atuh anjeun mun reuwas teh sok lucu katingalna, nya atuh hayuk geura uih” (hehe, kamu tuh kalo kaget suka lucu keliatnya, iya atuh ayo cepet pulang) ucap laki-laki itu dengan nada berat
“Nya, kedeung hiji deui ngabereskeun ieu” (iya, sebentar satu lagi ngeberesin ini) ucap lita tersipu malu.
Setelah membereskan semuanya, Lita pun naik motor dibonceng oleh laki-laki itu.
Anto,
Laki-laki dengan badan sedikit pendek dengan kulit coklat berwajah manis itu setiap hari menjemput lita dari bekerja, Dia adalah suaminya lita. Mereka baru menikah beberapa bulan yang lalu, mereka menikah karena dulu suaminya menjadi tukang ojek lita untuk pergi dan pulang bekerja, karena kebersamaanya setiap hari, tumbuhlah suka diantara mereka hingga mereka memutuskan untuk menikah.
Malam hari,
Suara kucing mengeluh meronta dari kebun pisang sebrang rumah lita. Kehidupan malam terasa hening kala itu, Lita memandang halam rumahnya yang ditumbuhi banyak tanaman-tanaman kecil yang ditanam oleh ibunya. Ia melamun sedih dan melenguh mengingat kedua orang tuanya. Airmatapun menetes pelan melewati kedua pipinya yang merona, hingga matanya tak sengaja melihat bayangan hitam keluar dari kegelapan arah jalanan umum didepan rumah lita melesat masuk melewati gerbang rumahnya. Diapun berbalik dan menutup gorden rumahnya dengan tatapan kaget sekaligus cemas.
Tiba-tiba suara pintu dipukul dengan keras dari arah pintu depan.
Bersambung....
AMARAH DESA JIN [PART 2]
AMARAH DESA JIN [PART 3]
AMARAH DESA JIN [PART 4]
AMARAH DESA JIN [PART 5]
AMARAH DESA JIN [PART 6]
AMARAH DESA JIN [PART 7]
AMARAH DESA JIN [PART 8]
ENDING
Diubah oleh rosemallow 21-10-2019 06:48
3.maldini dan 35 lainnya memberi reputasi
34
36.7K
148
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rosemallow
#29
AMARAH DESA JIN [PART 4]
Begini Mimpinya
Suatu sore wanita itu berjalan-jalan sore dengan perasaan yang sangat bahagia, suasananya sangat nyaman untuk menikmati daerah itu.
Wanita itu bermimpi berada di daerah kampung kami, kebetulan ia memang istri dari ketua RW didaerah kami. Wanita itu berjalan hingga berada didepan rumah lita, didepan rumah liita ia tersadar bahwa ada sebuah perumahan mewah dan megah. Bangunan rumah itu sangat bagus dan indah sekali. Tidak ada rumah di kampung ini yang bisa menandingi keindahan rumah-rumah yang berdiri kokoh itu.
Dengan berjalan hati-hati wanita itu pelan masuk kedalam perumahan itu, tak hentinya ia menatap takjub tempat itu, hingga perhatiannya tercuri oleh kumpulan tanaman Bungan yang tak kalah indah, dengan warna cerah nan berkilau dari kejauhan, daun hijaunya pun melengkapi keindahan yang tak bisa diutarakan dengan kata-kata.
Dia hanya memandangnya dari jauh, hingga ia memberanikan diri untuk meminta benih dari bunga itu agar dia bisa menanamnya di kebun miliknya sendiri.
Terlihat sosok lelaki paruh baya sedang berdiri memperhatikan wanita itu dengan sangat serius. Wanita itu berjalan cepat menghampiri pria yang sedari tadi melihatnya.
Wanita itu mulai mengucapkan kata-katanya
"Pak, abdi hoyong binih ieu kembang. Meni endahnya kembangna teh" ( pak, saya ingin benih bunga ini, sangat indah ya bunganya) ucap wanita itu sembari setengah tersenyum dan menunjuk bunga itu.
"Ulah, Nu aing, sia ulah nyokot NU aing" (jangan, punya saya! Anda jangan mengambil milik saya!) Jawab pria itu dengan nada yang sangat kasar
Wanita itu memaksa, dia terus meronta menginginkan bunga itu. Tapi Pria itu tegas menolaknya mentah-mentah.
Kesal, wanita itu berjalan cepat dan memetik salah satu bunga yang indah itu. Dengan sigap pria itu memegang tangan wanita itu dengan keras bertujuan melindungi tanaman bunga miliknya.
Wanita itu meringis kesakitan.
Hingga dia terbangun.
Mimpi yang singkat tapi terasa lama itu membuat wanita itu bengong kebingungan.
Wanita yang diketahui Bu RW itu, bangun tidur dengan keringat yang terus mengucur. Ditatapnya jam dinding menunjukkan pukul 2 malam. Suasana masih gelap, semilir angin malam mengetuk jendela yang sedari tadi terbuka.
Bu RW hanya terdiam menatap kosong jendela itu, saat Bu RW akan turun dari ranjang untuk menutup jendela. Ia sontak meringis kesakitan, tangan kanannya bengkak memerah hampir melepuh. Ia merasa aneh bahkan bergidik ngeri.
Kenapa tanganku? Pikirnya
Sesaat dia teringat mimpi itu, ternyata mimpinya benar-benar terjadi karena tangannya benar-benar terasa sangat sakit sekali.

Dia berjalan tergopoh menahan sakit di tangannya, tetesan air matanya mengalir lamban mengusap pipinya yang sudah berkeriput. Ia keluar kamarnya mencari anaknya.
Bu RW memanggil anaknya yang tidur di kamar lain. Perlahan tangannya mengeluarkan bau yang sangat busuk, nanah melingkar erat mengalir ditiap bagian kulit tangannya. Ia semakin meringis kesakitan, mengapa harus seperti ini, bukankah itu hanya mimpi? Kenapa akibatnya sampai terasa kedalam dunia nyata? Ada apa dengan semua ini.
Bu RW tak kuasa menahan sakit hingga ia memutuskan untuk duduk di kursi dan masih terus menangis memanggil-manggil nama anaknya.
"Jaka... Jaka... Jaka" teriak Bu RW
Tak lama gontai terlihat seorang pemuda tampan berkulit putih berbadan tegap tinggi datang menghampiri Bu RW, dia tak kalah kaget melihat tangan ibunya yang membusuk. Diangkatnya ibunya dan membangunkan istrinya, dan langsung membawa Bu RW pergi menuju puskesmas.
Setelah diperiksa, ada hal yang janggal yang dirasa Bu RW. Sangat janggal, dia terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi?
Selesailah, dokter membungkus tangan Bu RW itu. Dokter hanya bergidik ngeri setelah mendengar cerita dari Bu RW yang sangat tidak masuk akal.
PKL. 04:00 Dinihari,
Bu RW duduk di ranjangnya ditemani menantunya yang mencoba terlelap tidur disebelahnya.. dengan tangan kiri yang dipegang erat oleh menantunya ia melamun memikirkan mimpi yang menjadi kenyataan itu.
Dia teringat dengan rumah lita yang didepannya ada perumahan yang bagus sekali.
Pagi menyingsing,...
Matahari mulai menunjukkan eksistensinya lagi setelah tertutup bulan semalaman, cahayanya begitu cerah menemani embun menetes dari daun ke daun. Para petani bersenda gurau berjalan menuju ladang mereka, gelak tawa menghias setiap langkah kaki mereka.
Terlihat Anto sibuk membersihkan gerobak bakso didepan rumahnya, Lita sedang berada di dapur fokus memilah-milah pakaian kotor yang akan ia cuci pagi ini. Daster coklat bermotif bunga kenanga itu sedikit basah karena keringat, ternyata ia baru saja menguras bak kamar mandi dan berniat melanjutkan untuk mencuci.
Hingga Lita terbengong mengingat-ingat sesuatu.
"Oh nya, baju si dedek" Lita langsung berlari mengambil baju kotor anaknya yang kemarin ia taruh diatas lemari kecil dikamarnya.
Saat lita membuka pintu kamarnya, dia terkaget melihat anaknya Abi sedang menangis keras sambil menunjuk sudut ruangan kamar. Lita sontak menarik badan Abi dan mencoba menenangkannya
"Ada apa dek? Teu Aya nanaon!" (Ada apa dek, gak ada apa-apa!) Ucap Lita menenangkan. Abi tak berhenti menangis, malah tangisannya semakin keras. Jari telunjuknya masih saja menunjuk-nunjuk sudut ruangan tersebut. Abi meronta-ronta ingin keluar dari kamar itu.
Lita pun membawanya keluar dan mencoba menghiburnya dengan melihat bapaknya yang sedang sibuk mencuci mangkok-mangkok.
"Kunaon si dedek teh?" (Kenapa si dedek tuh?) Tanya Anto setengah tersenyum kepada Abi
"Duka a, tadi teh nunjuk-nunjuk ka arah pojok kamar" (gatau a, tadi dia nunjuk-nunjuk ke arah sudut kamar) kata Lita sedikit ngeri
Tiba-tiba Abi tertawa terbahak-bahak, arah matanya melihat ke arah belakang Anto yang terdapat pot daun Sri rezeki. Anto dan Lita bertatapan dan mengernyitkan dahi mereka, tanda bingung apa yang terjadi dengan Abi. Padahal dibelakang Anto itu tidak ada siapa-siapa, kenapa Abi tiba-tiba tertawa?
Lita dan Anto pun tampak sangat kebingungan. Mereka tidak mengerti apa yang dilihat Abi. Tersenyum Abi memandang Lita,
"Mah, itu ada teteh-teteh mau beli bakso" (ucapan anak kecil yang disempurnakan) kata Abi menunjuk ke gerobak bakso.
Lita spontan menengok ke arah gerobak, nyatanya tidak ada satu orangpun disana. Tidak ada siapa-siapa, Lita bergidik ngeri dia langsung membawa lari Abi kedalam rumah, Abi menangis histeris kembali. Dia menarik-narik kerah daster Lita
"Mamah takut, mamah takut" ucap Abi meronta-ronta.
Lita tak menghiraukan perkataan Abi. Takut apa pikir lita disini tidak apa-apa, Lita emosi saat itu dengan keanehan Abi yang tidak masuk akal. Apa yang dia lihat? Sungguh merepotkan dipagi hari seperti ini. Terpaksa Lita menidurkan Abi dikamar yang berbeda, jika tidak tidur Lita tidak akan bisa membereskan rumah, mencuci dan memasak. Ketika sedang mencoba menidurkan Abi, Lita melamun memikirkan apa yang terjadi dengan Abi, mengapa dia aneh sekali seolah-olah dia melihat sosok yang tidak bisa kami lihat. Dia terkadang menangis, terkadang tertawa seperti ada yang mengajaknya bermain.
Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin?
Waktu berjalan begitu cepat, sore hari menelungkup siang.
Ramai sekali pembeli yang mengerumuni gerobak baksonya Anto. Terlihat Lita sibuk memblender buah mangga yang dipesan seorang pembeli, Anto juga sama ia sibuk memasukkan sayuran, bihun dan mie kuning kedalam mangkuk baksonya.
Abi terduduk disebuah kursi kecil dengan tusukan bakso di tangan kanannya, ia terlihat tenang sambil tersenyum-senyum memandangi pohon melati yang masih saja betah berdiri dihalaman rumah Lita. Tak mengerti apa yang Abi lihat.
Seketika pandangannya teralihkan dengan kedatangan seorang wanita dengan tangan yang dibungkus kain kasa dituntun oleh seorang wanita lebih muda disampingnya.
Ya Bu RW datang kerumah Lita.
Abi langsung berlari ketakutan dan memeluk kaki Lita yang baru saja selesai membuat jus untuk pelanggannya.
Ternyata Lita pun melihat kedatangan Bu RW yang sepertinya memang sangat jarang sekali terlihat berjalan-jalan disekitaran kampung.
"Eh ibu, Bade meser bakso sanes nya Bu?" (Eh ibu, mau beli bakso ya Bu?) Tanya Lita sembari memandangi tangan Bu RW yang terbungkus itu.
"Nya, ieu minantu ibu hoyong bakso cenah!" (Iya ini, menantu ibu pengen bakso katanya) jawab Bu RW sembari mempersilakan Menantunya untuk memesan bakso.
Bu RW berjalan mendekati Lita sambil membisikkan sesuatu, hingga Lita mempersilahkan Bu RW masuk kedalam rumahnya diikuti Abi yang berjalan dibelakang Lita.
Lita menutup pintu rumahnya, duduklah mereka di ruang tamu.
Bu RW kembali berbisik...
"Anu bener Bu? Lita teh sieun!" (Yang bener Bu? Lita takut!) Ucap Lita sembari memeluk Abi yang ada dipangkuannya.
"Nya geulis, ibu ge teu terang ieu kumaha bisa kieu! Dina impian ibu teh nyah, dihareup rumah Lita teh anu kamari-kamari Aya kebon cau teh berubah jadi perumahan anu Alus pisan, Hade pisan neng" (iya cantik, ibu juga ga tau ini kenapa bisa seperti ini. Dalam mimpi ibu tuh, didepan rumah Lita yang kemarin ada kebun pisang itu berubah menjadi perumahan yang bagus banget, indah banget neng) cerita Bu RW sembari menunjuk ke arah sebrang rumah Lita dibalik jendela.
" Oh jadi, panangan ibu teh dicekeul ku bapak-bapak di impian, tapi pas bangun tidur teh malah busuk kawas kieu nyah Bu? Serem pisan Bu." (Oh jadi, tangan ibu tuh dipegang sama bapak-bapak di mimpi, tapi pas bangun tidur tangan ibu malah membusuk seperti ini ya Bu? serem banget bu) Jelas lita
Bu RW hanya mengangguk.
Lita pun menceritakan kejadian kemarin dan tadi pagi yang terjadi kepada Abi.
Bu RW langsung tersadar dan mengaitkan kejadian demi kejadian dengan lahan yang dulunya kebun pisang itu. Mereka berdua berpikir dengan apa yang sebenarnya menimpa mereka dan apa hubungannya dengan kebun pisang yang sudah 3 generasi berdiri itu.
"HA HA HA HA .... " Tawa keras mengagetkan mereka berdua
Bersambung....
AMARAH DESA JIN [PART 5]
Suatu sore wanita itu berjalan-jalan sore dengan perasaan yang sangat bahagia, suasananya sangat nyaman untuk menikmati daerah itu.
Wanita itu bermimpi berada di daerah kampung kami, kebetulan ia memang istri dari ketua RW didaerah kami. Wanita itu berjalan hingga berada didepan rumah lita, didepan rumah liita ia tersadar bahwa ada sebuah perumahan mewah dan megah. Bangunan rumah itu sangat bagus dan indah sekali. Tidak ada rumah di kampung ini yang bisa menandingi keindahan rumah-rumah yang berdiri kokoh itu.
Dengan berjalan hati-hati wanita itu pelan masuk kedalam perumahan itu, tak hentinya ia menatap takjub tempat itu, hingga perhatiannya tercuri oleh kumpulan tanaman Bungan yang tak kalah indah, dengan warna cerah nan berkilau dari kejauhan, daun hijaunya pun melengkapi keindahan yang tak bisa diutarakan dengan kata-kata.
Dia hanya memandangnya dari jauh, hingga ia memberanikan diri untuk meminta benih dari bunga itu agar dia bisa menanamnya di kebun miliknya sendiri.
Terlihat sosok lelaki paruh baya sedang berdiri memperhatikan wanita itu dengan sangat serius. Wanita itu berjalan cepat menghampiri pria yang sedari tadi melihatnya.
Wanita itu mulai mengucapkan kata-katanya
"Pak, abdi hoyong binih ieu kembang. Meni endahnya kembangna teh" ( pak, saya ingin benih bunga ini, sangat indah ya bunganya) ucap wanita itu sembari setengah tersenyum dan menunjuk bunga itu.
"Ulah, Nu aing, sia ulah nyokot NU aing" (jangan, punya saya! Anda jangan mengambil milik saya!) Jawab pria itu dengan nada yang sangat kasar
Wanita itu memaksa, dia terus meronta menginginkan bunga itu. Tapi Pria itu tegas menolaknya mentah-mentah.
Kesal, wanita itu berjalan cepat dan memetik salah satu bunga yang indah itu. Dengan sigap pria itu memegang tangan wanita itu dengan keras bertujuan melindungi tanaman bunga miliknya.
Wanita itu meringis kesakitan.
Hingga dia terbangun.
Mimpi yang singkat tapi terasa lama itu membuat wanita itu bengong kebingungan.
Wanita yang diketahui Bu RW itu, bangun tidur dengan keringat yang terus mengucur. Ditatapnya jam dinding menunjukkan pukul 2 malam. Suasana masih gelap, semilir angin malam mengetuk jendela yang sedari tadi terbuka.
Bu RW hanya terdiam menatap kosong jendela itu, saat Bu RW akan turun dari ranjang untuk menutup jendela. Ia sontak meringis kesakitan, tangan kanannya bengkak memerah hampir melepuh. Ia merasa aneh bahkan bergidik ngeri.
Kenapa tanganku? Pikirnya
Sesaat dia teringat mimpi itu, ternyata mimpinya benar-benar terjadi karena tangannya benar-benar terasa sangat sakit sekali.

Dia berjalan tergopoh menahan sakit di tangannya, tetesan air matanya mengalir lamban mengusap pipinya yang sudah berkeriput. Ia keluar kamarnya mencari anaknya.
Bu RW memanggil anaknya yang tidur di kamar lain. Perlahan tangannya mengeluarkan bau yang sangat busuk, nanah melingkar erat mengalir ditiap bagian kulit tangannya. Ia semakin meringis kesakitan, mengapa harus seperti ini, bukankah itu hanya mimpi? Kenapa akibatnya sampai terasa kedalam dunia nyata? Ada apa dengan semua ini.
Bu RW tak kuasa menahan sakit hingga ia memutuskan untuk duduk di kursi dan masih terus menangis memanggil-manggil nama anaknya.
"Jaka... Jaka... Jaka" teriak Bu RW
Tak lama gontai terlihat seorang pemuda tampan berkulit putih berbadan tegap tinggi datang menghampiri Bu RW, dia tak kalah kaget melihat tangan ibunya yang membusuk. Diangkatnya ibunya dan membangunkan istrinya, dan langsung membawa Bu RW pergi menuju puskesmas.
Setelah diperiksa, ada hal yang janggal yang dirasa Bu RW. Sangat janggal, dia terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi?
Selesailah, dokter membungkus tangan Bu RW itu. Dokter hanya bergidik ngeri setelah mendengar cerita dari Bu RW yang sangat tidak masuk akal.
PKL. 04:00 Dinihari,
Bu RW duduk di ranjangnya ditemani menantunya yang mencoba terlelap tidur disebelahnya.. dengan tangan kiri yang dipegang erat oleh menantunya ia melamun memikirkan mimpi yang menjadi kenyataan itu.
Dia teringat dengan rumah lita yang didepannya ada perumahan yang bagus sekali.
Pagi menyingsing,...
Matahari mulai menunjukkan eksistensinya lagi setelah tertutup bulan semalaman, cahayanya begitu cerah menemani embun menetes dari daun ke daun. Para petani bersenda gurau berjalan menuju ladang mereka, gelak tawa menghias setiap langkah kaki mereka.
Terlihat Anto sibuk membersihkan gerobak bakso didepan rumahnya, Lita sedang berada di dapur fokus memilah-milah pakaian kotor yang akan ia cuci pagi ini. Daster coklat bermotif bunga kenanga itu sedikit basah karena keringat, ternyata ia baru saja menguras bak kamar mandi dan berniat melanjutkan untuk mencuci.
Hingga Lita terbengong mengingat-ingat sesuatu.
"Oh nya, baju si dedek" Lita langsung berlari mengambil baju kotor anaknya yang kemarin ia taruh diatas lemari kecil dikamarnya.
Saat lita membuka pintu kamarnya, dia terkaget melihat anaknya Abi sedang menangis keras sambil menunjuk sudut ruangan kamar. Lita sontak menarik badan Abi dan mencoba menenangkannya
"Ada apa dek? Teu Aya nanaon!" (Ada apa dek, gak ada apa-apa!) Ucap Lita menenangkan. Abi tak berhenti menangis, malah tangisannya semakin keras. Jari telunjuknya masih saja menunjuk-nunjuk sudut ruangan tersebut. Abi meronta-ronta ingin keluar dari kamar itu.
Lita pun membawanya keluar dan mencoba menghiburnya dengan melihat bapaknya yang sedang sibuk mencuci mangkok-mangkok.
"Kunaon si dedek teh?" (Kenapa si dedek tuh?) Tanya Anto setengah tersenyum kepada Abi
"Duka a, tadi teh nunjuk-nunjuk ka arah pojok kamar" (gatau a, tadi dia nunjuk-nunjuk ke arah sudut kamar) kata Lita sedikit ngeri
Tiba-tiba Abi tertawa terbahak-bahak, arah matanya melihat ke arah belakang Anto yang terdapat pot daun Sri rezeki. Anto dan Lita bertatapan dan mengernyitkan dahi mereka, tanda bingung apa yang terjadi dengan Abi. Padahal dibelakang Anto itu tidak ada siapa-siapa, kenapa Abi tiba-tiba tertawa?
Lita dan Anto pun tampak sangat kebingungan. Mereka tidak mengerti apa yang dilihat Abi. Tersenyum Abi memandang Lita,
"Mah, itu ada teteh-teteh mau beli bakso" (ucapan anak kecil yang disempurnakan) kata Abi menunjuk ke gerobak bakso.
Lita spontan menengok ke arah gerobak, nyatanya tidak ada satu orangpun disana. Tidak ada siapa-siapa, Lita bergidik ngeri dia langsung membawa lari Abi kedalam rumah, Abi menangis histeris kembali. Dia menarik-narik kerah daster Lita
"Mamah takut, mamah takut" ucap Abi meronta-ronta.
Lita tak menghiraukan perkataan Abi. Takut apa pikir lita disini tidak apa-apa, Lita emosi saat itu dengan keanehan Abi yang tidak masuk akal. Apa yang dia lihat? Sungguh merepotkan dipagi hari seperti ini. Terpaksa Lita menidurkan Abi dikamar yang berbeda, jika tidak tidur Lita tidak akan bisa membereskan rumah, mencuci dan memasak. Ketika sedang mencoba menidurkan Abi, Lita melamun memikirkan apa yang terjadi dengan Abi, mengapa dia aneh sekali seolah-olah dia melihat sosok yang tidak bisa kami lihat. Dia terkadang menangis, terkadang tertawa seperti ada yang mengajaknya bermain.
Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin?
Waktu berjalan begitu cepat, sore hari menelungkup siang.
Ramai sekali pembeli yang mengerumuni gerobak baksonya Anto. Terlihat Lita sibuk memblender buah mangga yang dipesan seorang pembeli, Anto juga sama ia sibuk memasukkan sayuran, bihun dan mie kuning kedalam mangkuk baksonya.
Abi terduduk disebuah kursi kecil dengan tusukan bakso di tangan kanannya, ia terlihat tenang sambil tersenyum-senyum memandangi pohon melati yang masih saja betah berdiri dihalaman rumah Lita. Tak mengerti apa yang Abi lihat.
Seketika pandangannya teralihkan dengan kedatangan seorang wanita dengan tangan yang dibungkus kain kasa dituntun oleh seorang wanita lebih muda disampingnya.
Ya Bu RW datang kerumah Lita.
Abi langsung berlari ketakutan dan memeluk kaki Lita yang baru saja selesai membuat jus untuk pelanggannya.
Ternyata Lita pun melihat kedatangan Bu RW yang sepertinya memang sangat jarang sekali terlihat berjalan-jalan disekitaran kampung.
"Eh ibu, Bade meser bakso sanes nya Bu?" (Eh ibu, mau beli bakso ya Bu?) Tanya Lita sembari memandangi tangan Bu RW yang terbungkus itu.
"Nya, ieu minantu ibu hoyong bakso cenah!" (Iya ini, menantu ibu pengen bakso katanya) jawab Bu RW sembari mempersilakan Menantunya untuk memesan bakso.
Bu RW berjalan mendekati Lita sambil membisikkan sesuatu, hingga Lita mempersilahkan Bu RW masuk kedalam rumahnya diikuti Abi yang berjalan dibelakang Lita.
Lita menutup pintu rumahnya, duduklah mereka di ruang tamu.
Bu RW kembali berbisik...
"Anu bener Bu? Lita teh sieun!" (Yang bener Bu? Lita takut!) Ucap Lita sembari memeluk Abi yang ada dipangkuannya.
"Nya geulis, ibu ge teu terang ieu kumaha bisa kieu! Dina impian ibu teh nyah, dihareup rumah Lita teh anu kamari-kamari Aya kebon cau teh berubah jadi perumahan anu Alus pisan, Hade pisan neng" (iya cantik, ibu juga ga tau ini kenapa bisa seperti ini. Dalam mimpi ibu tuh, didepan rumah Lita yang kemarin ada kebun pisang itu berubah menjadi perumahan yang bagus banget, indah banget neng) cerita Bu RW sembari menunjuk ke arah sebrang rumah Lita dibalik jendela.
" Oh jadi, panangan ibu teh dicekeul ku bapak-bapak di impian, tapi pas bangun tidur teh malah busuk kawas kieu nyah Bu? Serem pisan Bu." (Oh jadi, tangan ibu tuh dipegang sama bapak-bapak di mimpi, tapi pas bangun tidur tangan ibu malah membusuk seperti ini ya Bu? serem banget bu) Jelas lita
Bu RW hanya mengangguk.
Lita pun menceritakan kejadian kemarin dan tadi pagi yang terjadi kepada Abi.
Bu RW langsung tersadar dan mengaitkan kejadian demi kejadian dengan lahan yang dulunya kebun pisang itu. Mereka berdua berpikir dengan apa yang sebenarnya menimpa mereka dan apa hubungannya dengan kebun pisang yang sudah 3 generasi berdiri itu.
"HA HA HA HA .... " Tawa keras mengagetkan mereka berdua
Bersambung....
AMARAH DESA JIN [PART 5]
Diubah oleh rosemallow 02-10-2019 16:19
banditos69 dan 11 lainnya memberi reputasi
12