Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]


Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.


Spoiler for INDEX:


Spoiler for MULUSTRASI:


Spoiler for Peraturan:


Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.


Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 17-05-2026 02:21
xxxochezxxxAvatar border
DayatMadridistaAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
471.3K
4.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#2501
Penelitian_Part 1
 Awal tahun, pengumuman essay ilmiah yang bakal ngebawa ane dan Keket ke Perancis diumumkan. Tapi sayang beribu sayang, Keket yang bantuin ane nulis essay ane malah nggak lolos karena essay dia nggak masuk kategori oke menurut para juri.

“Aku belum beruntung sayang.” Kata keket lirih.

“Maafin aku yang, akunya yang kurang support kamu. Maafin banget ya?” kata ane.

“Nggak apa-apa, setidaknya salah satu dari kita udah bisa menggapai mimpi kesana. Nanti aku titip mata aku disana lewat kamu ya. Ceritain semua detail disana ya sayang.”

“Ket….”

“Nggak apa-apa kok sayang……” dan tiba-tiba air matanya tumpah membasahi pipi.

“Nah kan bener. Aku tau banget kamu yang bener-bener ngeharapin bisa berangkat. Malah aku yang keterima. Maafin aku sayang.” Kata ane sambil memeluk dia dari samping.

“Aku nggak apa-apa, dan aku akan dukung kamu.” Katanya.

Sisanya, kami lebih banyak membahas kenapa essay Keket bisa gagal. Tentunya dengan asumsi kami sendiri, karena nggak bisa juga kan nanya sama Jurinya, karena sifatnya rahasia atau confidential. Keket begitu shock melihat kenyataan ini. Andai bisa ditukar, ane rela posisi ane ditukar sama dia. Dia aja yang berangkat kesana. Dia mau kesana karena passionnya terhadap ilmu pengetahuan alam, passionnya dengan apa-apa yang berbau penelitian yang akan menghasilkan hal baru untuk kemaslahatan orang banyak itu bisa diwujudkan disana.

Saintis dari seluruh dunia banyak yang berlomba-lomba untuk belajar disana. Walaupun bisa dibilang penduduknya agak kurang ramah terhadap pendatang, apalagi yang berkulit coklat, kayak ane. Kalau Keket mah pasti bisa kamuflase, wong mukanya aja kayak bule. Hehehe.

--

Hari keberangkatan ane ke Jawa Tengah akhirnya tiba. Ane dan Keket sudah mempersiapkan segalanya untuk keperluan disana. Rencananya ane akan penelitian disana sampai bulan Maret. Ane berpamitan dengan Mama, dan sempat video call dulu dengan Dania, doi udah deket aje sama cowok dari Jepang katanya. Anjir lah emang adik ane ini. Keket juga sudah menelepon ibunya di Sumedang sana. Kami berangkat dengan menggunakan transportasi kereta jarak jauh. Sekitar 9 atau 10 jam perjalanan kami menuju ke kota itu.

“Seru banget ya, akhirnya kita bisa jalan-jalan lagi dalam balutan penelitian kamu.” Kata Keket.

“Ini perjalanan jauh pertama kita kan ya setelah dari Lombok dulu? hehehe.” Kata ane.

“Iya, bener banget. Dan aku harap ini bisa berkesan ya sayang.”

“Pasti dong. Kalau ada kamu apa yang nggak jadi berkesan sih?”

“yeee, si raja gombal balik lagi nih. Cium juga nih.”

“Nih cium…..”

Tiba-tiba Keket langsung menyambar kilat bibir ane yang udah dimonyongkan kearah mukanya. Cepat tapi berasa enak. Hehehe.

“Eh ada yang liat nggak ini tadi?” kata ane.

“Ah biarin aja kali. Disana ada CCTV juga tuh.”

“Waduh, malu aku Ket. Haha. Tapi yaudahlah, itung-itung rejeki buat pemantau CCTV nya ya.”

“Iya, santai aja Ja. Hehe.”

Ane makan malam dengan bekal yang udah dipersiapkan dari rumah. Oh iya, ane udah ngenalin Keket ke Mama dari waktu habis Papa ane meninggal. Dania juga kayaknya udah mulai bisa terima keberadaan Keket disamping ane, karena dia mau ngobrol sama Keket pas videocall, mana pake sok berbahasa inggris lagi anjir amat. Haha. Mama ane hanya nitip untuk dijagain Ijanya, jangan kebablasan. Dalam hati ane bilang, lah ini bablas kemana-mana kan emang. Hehehe. 

Sampai dikota tujuan, ane dan Keket memutuskan untuk diam aja dulu distasiunnya. Maklum karena masih jam 1 atau 2 pagi waktu itu. Ane dan dia bergantian untuk tidur karena was-was juga membawa barang-barang kami terutama peralatan tempur untuk penelitian ane. Keket dan ane juga bawa laptop, kamera dan HP masing-masing, jadi kebayang kan gimana was-wasnya pendatang didaerah antah berantah, dini hari pula. Sekitaran jam 7 paginya kami baru keluar stasiun dan mencari angkutan untuk menuju ke desa tempat penelitian.

Desanya ini cukup jauh dari pusat kota, ada dekat pesisir pantai. Tapi uniknya lebih banyak penduduknya yang menjadi petani ketimbang menjadi nelayan. Ane dan Keket cukup terkejut juga melihat kenyataan kayak gitu. Tapi yaudah nanti mungkin dengan ane berbaur sama masyarakat disini, ane dan Keket bakal mengetahui jawabannya. Kami disambut sama Pak RW yang ada didesa itu. Pak Amat namanya. Pak Amat ini yang menjadi perantara kemudahan ane untuk mengambil lokasi penelitian di desa ini.

Pak Amat menyediakan rumahnya yang cukup besar dan memiliki 4 kamar. Satu untuk kamarnya dia dengan istrinya, satu lagi kamar anak sulungnya yang udah nikah dan pindah kekota, nah kamar ini dijadikan tempat ane tidur. Sementara kamar satunya punya anak keduanya yang udah nikah juga, ikut suaminya ke desa sebelah, nah ini ditempatin Keket dan satu lagi ada kamar dibelakang milik putri bungsu Pak Amat. Namanya Sita. Sita ini memilih bekerja daripada kuliah. Dia seharusnya satu angkatan dibawah Diani, alias tiga tahun dibawah ane.

Setelah perkenalan dengan istri Pak Amat dan anak bungsunya, ane dan Keket diantar masuk ke kamar oleh anaknya. Kami lalu mandi dikamar mandi belakang yang terpisah bangunannya dari rumah utama. Air disana nggak terasa segar dan sedikit asin karena mungkin dekat dengan laut.

--

Nggak kerasa udah satu bulan aja ane dan Keket ada di desa ini. Ane san Keket juga banyak bersosialisasi dengan masyarakat desa sini, plus juga banyak dibantu sama Sita. Anaknya cerdas sebenarnya, tapi sayang dia memilih untuk nggak melanjutkan pendidikannya. Dia juga banyak membantu ane dan Keket saat sampling, baik pengambilan sampel di alam ataupun melakukan kuesioner ke warga desa.

Ane dan Keket hanya bisa membalasnya dengan berbagi ilmu pengetahuan yang kami tahu. Dia punya komputer, sehingga isi laptop ane dan keket terkait dengan ilmu-ilmu yang kami dapatkan di kampus, kami transfer ke dia.

"Kak, makasih ya udah banyak ngasih tau aku tentang ilmu-ilmu sains yang rumit kayak gini. Kayaknya aku emang minat sama pelajaran-pelajaran kayak gini." Katanya ke ane dan Keket.

"Sama-sama Ta, kamu harus jadi orang cerdas, jangan cuma pintar oke?” kata Keket menyemangati.

"Ngomong-ngomong Kakak berdua ini pacaran ya? Serasi banget ya. Mana tinggi-tinggi lagi." Kata Sita.

"Iya ya? Hehehe. Begitulah. Alhamdulillah kalau dibilang serasi mah." Kata ane.

"Iya, ih aku senang liatnya. Aku mau deh punya pacar serasi kayak gini. Romantis lagi." Katanya lagi.

"Aku sama Keket mah nggak romantis, kami juga sering berantem kok. Bahkan kalau berantem serem. Bisa sampai menghilang." Kata ane sambil melirik Keket.

"Menghilang? Gimana ceritanya kak? Hahaha."

"Iya aku ninggalin Ija tanpa kabar berbulan-bulan. Hehehe. Kasian dia begitu ketemu aku lagi kayak orang nggak keurus." Kata Keket meledek.

"Begitulah, kejam emang ni orang cakep-cakep Ta. Hehehe." Kata ane.

"Haha ngeri juga ya Kak Keket." Kata Sita.

"Iya emang ni bocah ngeselin." Kata ane.

"Heh, lebih ngeselin kamu kali." Kata Keket sambil mencubit perut ane.

"Aaah sakiiit Ket. Ampun deh. Liat. Dia jahat kan?" Kata ane sambil memegangi perut kanan ane.

"Haha kalian seru banget sih kak. Mudah-mudahan aku bisa dapat jodoh yang serasi kayak gini ya nanti."

"Amiiiin...." Kata ane dan Keket berbarengan.

Di desa ini Keket sangat cepat mendapatkan popularitas. Gimana nggak? Dengan badan semampainya, plus bemper menawan dan muka yang rupawati, serta kulitnya yang bersih dia begitu mudah dikenali. Agak berbeda dengan pemudi-pemudi desa yang sebenarnya banyak yang lucu-lucu, tapi lugu banget dan kurang banyak ngerti tentang dandan. Kawan-kawan main Sita semenjak kedatangan kami jadi sering main kerumah Sita. Terutama yang laki-laki. Beberapa cowok sepertinya kesengsem dengan Keket.

Ane tentu aja ga kehabisan akal. Dengan mereka yang rela ngelakuin apa aja buat menarik perhatian Keket, ane dan Keket jadi memberdayakan mereka. Bukan memanfaatkan ya, tapi berbagi ilmu yang nantinya bisa mereka pakai juga. Jadi nggak unskilled lagi. Kesannya memang kayak memanfaatkan, tapi mereka senang karena banyak ilmu baru dan bisa mereka manfaatkan nantinya.

"Mas, mbak, sampeyan ini udah cakep-cakep, pintar-pintar, sudah begitu nggak takut bergaul dengan kami-kami ini anak kampung yang nggak sekolah. Resepe opo tho?" Kata salah seorang pemuda desa.

"Ya, kita manusia itu saling membutuhkan dan kita itu sam di mata Tuhan. Jadi ya nggak usah membeda-bedakan. Kebetulan kami lebih beruntung dari mas-mas disini. Makanya kami juga sekalian mau berbagi ilmu pengetahuan gratis buat mas-mas disini biar tambah pintar dan tambah wawasannya. Semoga mas-mas disini pada mau ya." Kata Keket.

Semua serempak menjawab mau dan menganggukkan kepala. Alhamdulillah.

Suatu malam, ane dan Keket jalan-jalan dipinggir pantai. Kami mengingat masa-masa pertama kami jalan jauh yang akhirnya menumbuhkan rasa sayang diantara kami berdua. Lombok benar-benar selalu kami ingat sebagai destinasi kenangan kami. Sampai detik ini ane begitu, nggak tau kalau Keket.

"Kalau seandainya kita nikah muda, gimana ya Ja?” kata Keket.

"Kenapa nggak? Tapi..akan lebih baik jangan muda-muda banget, karena sayang ilmu yang udah kita dapetin selama kuliah kalau nggak bisa bermanfaat buat orang banyak kan Ket. Ingat salah satu tujuan kita masuk ke kampus kita kan karena itu."

"Iya sayang. Aku inget kok. Tapi rasa-rasanya aku udah malas untuk memulai dari awal lagi Ja. Aku udah pingin sama kamu aja. Selamanya, makanya aku pingin kita cepat-cepat menikah."

"Iya aku ngerti. Mudah-mudahan emang ada jalan ya. Tapi kamu memulai bener-bener dari nol sama aku?"

"Kenapa nggak? Kita sama-sama punya otak yang baik dikasih sama Tuhan, kenapa nggak dimanfaatin secara optimal? Aku yakin bisa kok kalau kita kerjasama."

"Iya bener yank. Ih, seneng deh aku dengan pemikiran kamu yang selalu visioner kayak gini."

"Mulai deeeh......"

"Yeee beneran Ket. Kenikmatan apa lagi yang nggak bisa aku dapetin dari kamu? Cakep, otak encer, visioner. Hanya aja beda hobi kita ya. Hehehe."

"Iya sih. Bener ya Ja, kita itu beda banget hobinya. Apalagi kamu anak bandn yang suka mainin lagu-lagu kenceng yang sebenernya aku nggak suka. Hehe."

"Tapi nggak jadi halangan kan?"

"Nggak sih. Aku berusaha ngertiin kamu, karena kamu juga kayak gitu ke aku."

"Aku cuma bisa kasih kayak gitu aja yank ke kamu. Aku nggak punya apa-apa lagi Ket."

"Kamu dengan kemampuanmu yang banyak, bisa bikin sesuatu kok pasti. Sementara aku mungkin bisa juga, tapi aku sadar kodrat wanita itu ikut suaminya. Mungkin kalau suami aku mikirnya kayak kamu, aku bisa lebih banyak berkreasi dan berekspresi deh
Hehe."

"Iya dong. Aku ngebebasin. Apalagi sayang banget kalau otak kamu nggak dimaksimalin penggunaannya untuk berbuat baik kan. Hehe."

Kami larut dalam obrolan seru, ringan, dan modus. Karena kondisi pantai gelap tanpa penerangan, kami sempat melakukan make out agak lama, berguling-guling dipasir, yang akhirnya malah gatel-gatel. Haha. Pulang-pulang, pemandangan kami yang banyak pasir disana sini membuat Sita dan ibunya heran. Kami cuma beralasan terperosok diparit dekat hutan mangrove. Padahal mah....hehehe..
Diubah oleh yanagi92055 02-10-2019 13:20
sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 34 lainnya memberi reputasi
33
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.