- Beranda
- Stories from the Heart
Kumpulan Kisah Mistis
...
TS
sinsin2806
Kumpulan Kisah Mistis

Hai Gansist, selamat datang di thread kumpulan kisah mistis. Jadi disini nanti akan rutin diposting kisah-kisah mistis nyata pengalaman sy pribadi, keluarga, dan teman-teman.
Saya memang penakut tapi sangat tertarik dengan hal-hal seperti ini. Saya hidup dikampung dimana dilingkungan saya ini masih sangat kental dengan hal-hal ghoib diluar nalar manusia. Tidak bisa dipungkiri kita hidup berdampingan dengan "mereka", jadi jagalah sikap dimanapun kita berada.
Saya memang penakut tapi sangat tertarik dengan hal-hal seperti ini. Saya hidup dikampung dimana dilingkungan saya ini masih sangat kental dengan hal-hal ghoib diluar nalar manusia. Tidak bisa dipungkiri kita hidup berdampingan dengan "mereka", jadi jagalah sikap dimanapun kita berada.
Spoiler for Spoiler Index:
Kisah 1
"Abang Somay Yang Terus Mengikuti Ku"
"Abang Somay Yang Terus Mengikuti Ku"
Kisah ini menimpa adik sepupu sy namanya Tiara, dia adalah anak perempuan dari Lik Kiroh (adik ibu saya). Kami hanya terpaut usia satu tahun saja, dia lebih muda dari saya. Kami bersekolah di SMA yang berbeda, dia memilih sekolah yang lebih dekat jaraknya hanya sekitar 6 km dari rumah yaitu MA Cokroaminoto Wanadadi. Kisah ini menjadi awal dia ketempelan "sesuatu" yang membuatnya tidak bisa bersekolah selama 2 bulan lebih. Saya akan menceritakan kisah ini dari perspektif Tiara.
"Weh,, wehhh,, kabar gembira, kabar gembira" teriak Mirna teman kelasku
"Kabar apa si? heboh" balasku
"Kita jadi kemah dong nanti tgl 12 hari Jumat, tadi pak Nur ngabarin" terangnya
Aku, Mirna dan Dewi memang menjadi anggota pramuka Saka Bhayangkara tingkat Kabupaten sebagai perwakilan dari sekolah kami. Dan memang telah diwacanakan akan diadakan perkemahan tahun ini di Desa Gumelem, Kec Susukan, Kab.Banjarnegara. Tapi kemaren tanggalnya belum dipastikan.
"Akhirnya bisa piknik juga, walaupun acara kemah wkwk" cetusku.
Sampailah di hari-H Jumat pagi semua anggota berkumpul di Alun-alun kota Banjarnegara, kita menaiki truk besar sampai di desa Gumelem, tempat perkemahan tepatnya ada di bukit Ilangan. Bukit ini dianggap tempat suci oleh warga sekitar. Karena bukit ini berada di tengah-tengah Desa Gumelem, dipuncak bukit apa petilasan makam Ki Ageng Giring (Girilangan). Banyak warga dari berbagai daerah melakukan ziarah ke sini. Ki Ageng Giring ini adalah seorang penyebar agama Islam dari Kerajaan Mataram yang berkelana sampai ke Desa Gumelem dan wafat di desa ini. Dibukit ini selain terdapat makam Ki Ageng Giring, ada juga masjid kuno peninggalan wali, bangunan peninggalan keraton dan pemandian air hangat (Pemandian Pingit). Pemandian ini dianggap sakral oleh beberapa kalangan, karena dipercaya airnya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.
Dalam perjalanan menuju puncak bukit, terdapat jalan setapak batu dan dikanan kiri jalan setapak ini merupakan makam desa Gumelem, makam warga sekitar. Dan dikomplek pertama sebelum puncak Ilangan terdapat makam Ki Ageng Gumelem. Ki Ageng Gumelem ini adalah panglima perang yang diutus oleh panembahan senopati dari Kerajaan Mataram untuk merawat makam ki Ageng Giring.

Gambar : Jalan setapak menuju puncak bukit (yang dikanan kirinya adalah makam warga)
sumber : disini
Disana anggota kami tidak mendirikan tenda, kami menempati sebuah bangunan yang ada ditengah-tengah kuburan. sebuah bangunan tua yang beratap tapi tidak berdinding, bangunanya seperti pendopo yang hanya ada atap dan tiang. Komandan pramuka kami namanya mas Awan (sekarang sudah almarhum) mewanti-wanti kami para anggotanya untuk menjaga tutur kata dan perilaku selama berkemah disini, dan untuk para gadis yang sedang berhalangan dilarang keras untuk masuk ke wilayah pemakaman yang ada dipuncak. Kebanyakan anggota laki-laki adalah mereka yang bisa melihat "sesuatu" begitu juga denganku, dari kecil aku memang peka terhadap masalah satu ini, setiap ada makhluk yang tidak kasat mata, aku bisa merasakan kehadiranya. entah dari bau maupun penglihatan.
Anggota kami sampai di tengah bukit kira-kira pagi menjelang siang, sangat sejuk udaranya, walaupun tempat ini dikelilingi dengan kuburan, sepanjang mata melihat hanya pohon-pohon dan petilasan, tidak mengurangi keindahan tempat ini. di dekat pendopo tempat kami tidur ada satu pohon beringin yang sangat besar, siang hari sama sekali tidak terlihat menyeramkan. Ketika kegiatan belum dimulai aku, Mirna, Dewi dan beberapa teman lain setuju untuk berjalan-jalan ke puncak bukit. Disana kami menemukan petilasan Ki Ageng Giring dan memasuki gerbangnya, gerbangnya tidak dikunci jadi siapapun bisa masuk. Pintunya cukup rendah jadi kami harus membungkukan badan untuk masuk ke dalam. Di belakang gerbang terdapat semacam cawan-cawan yang terbuat dari batu, kata senior kami itu sengaja disiapkan oleh warga setempat untuk orang-orang yang ingin berkomunikasi supranatural. entah fungsi cawannya untuk apa.
Anggota kami sampai di tengah bukit kira-kira pagi menjelang siang, sangat sejuk udaranya, walaupun tempat ini dikelilingi dengan kuburan, sepanjang mata melihat hanya pohon-pohon dan petilasan, tidak mengurangi keindahan tempat ini. di dekat pendopo tempat kami tidur ada satu pohon beringin yang sangat besar, siang hari sama sekali tidak terlihat menyeramkan. Ketika kegiatan belum dimulai aku, Mirna, Dewi dan beberapa teman lain setuju untuk berjalan-jalan ke puncak bukit. Disana kami menemukan petilasan Ki Ageng Giring dan memasuki gerbangnya, gerbangnya tidak dikunci jadi siapapun bisa masuk. Pintunya cukup rendah jadi kami harus membungkukan badan untuk masuk ke dalam. Di belakang gerbang terdapat semacam cawan-cawan yang terbuat dari batu, kata senior kami itu sengaja disiapkan oleh warga setempat untuk orang-orang yang ingin berkomunikasi supranatural. entah fungsi cawannya untuk apa.
Semua kegiatan hari pertama berjalan dengan lancar, sampai pada sore hari menjelang waktu maghrib. Ada salah satu anggota wanita dari SMA Bawang yang kerasukan, dia terus menangis histeris. Suaranya sangat melengking, saat itu aku yang biasanya peka terhadap hal-hal seperti ini tidak melihat makhluk apa yang merasuki temanku ini, hanya saja aku melihat ada tukang somay pikul dibawah pohon beringin besar itu. Saat itu aku tidak berprasangka buruk karena aku mengira tukang somay itu hanyalah tukang somay biasa yang menjajakan makanan kesini karena tau disini sedang diadakan perkemahan.
Sampai malam tiba, jejak tilas dilakukan malam hari pukul 12 lewat. aku memilih untuk tidak mengikuti jejak tilas tersebut selain karena malas melihat tingkah konyol senior-senior yang berpura-pura menjadi hantu untuk menakut-nakuti kami juniornya, udara malam itu juga sangat dingin, jadi sejak pukul 11 malam aku sudah berbaring di pendopo bersama Mirna dan Dewi teman sekelasku. Aku tidak bisa tidur malam itu, sekilas ketika menengok kesebelah kanan, aku seperti melihat kain putih ditengah-tengah temanku yg sedang tidur. Aku mencoba untuk menengok kembali dan benar saja ada pocong yang berbaring disela-sela barisan. ow owww.
Aku hanya mencoba memejamkan mata dan memiringkan badan ke kiri agar tidak melihat pocong itu lagi, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Aku memandang kearah depan, kebetulan aku tidur disebelah paling kiri jadi di depanku adalah jalan setapak untuk menaiki/menuruni bukit. Dari kejauhan terlihat bayang-bayang orang sedang memikul sesuatu, aku terus memperhatikan bayang-bayang itu semakin lama bayang-bayang itu semakin jelas dan ternyata itu adalah penjual somay yang tadi sore aku lihat di bawah pohon beringin.
Daaaaarrrrrrr aku baru sadar, kenapa ada org jual somay larut malam begini, dan dia juga tidak membunyikan sesuatu seperti layaknya orang berjualan normal, aku merinding ketika mulai menyadari kalau itu bukanlah manusia. aku mencoba menutupi pandangan dengan selimut, lama-lama penasaran juga apa tukang somaynya masih disana, kuintip pelan-pelan ternyata dia masih disana dalam posisi yang sama. Kututup selimutku dengan tangan gemetar, aku tidak pernah menceritakan kejadian ini pd teman-temanku.
Paginya badan serasa lemas sekali, mungkin karena kurang tidur , pikirku. Tapi nyatanya hari itu aku pingsan 3 kali, bahkan akhirnya aku harus pulang terlebih dahulu dan tidak bisa melanjutkan perkemahan karena kondisi badanku yang terus-terusan pingsan. Aku tidak merasakan sesuatu yang lain selain lemas dan pundak berat. Sesampainya dirumah ibu membawaku berobat ke puskesmas 1 Wanadadi, dekat rumah. Dokter hanya memberiku beberapa obat dan langsung diperbolehkan pulang.
Tiga hari pasca pulang dari perkemahan aku masih belum bisa berangkat ke sekolah, badanku masih lemas, ketika sore hari hendak mandi pundakku terasa sangat berat dan ketika terbangun aku sudah tidur diranjang puskesmas, ya aku pingsan lagi.
kali ini aku dirawat 3 hari dirumah sakit. Ketika aku diperbolehkan pulang, dokter hanya berpesan untuk banyak minum supaya aku tidak dehidrasi dan tidak mudah pingsan. Sebulan sudah aku seperti ini, sempat 3 kali aku mencoba berangkat sekolah tapi jarak baru beberapa puluh meter dari rumah aku pingsan lagi. Aku seperti tidak diperbolehkan untuk keluar rumah, aku tidak pernah berpikir negatif.
Sampai suatu sore ketika bangun tidur q merasa kakiku tidak bisa digerakan, dan ketika aku arahkan pandanganku kebawah aku melihat seseorang dengan rambut panjang menutupi muka, sedang duduk diatas kakiku, aku berteriak histeris tapi tidak ada yg mendengar. aku menangis sekencang-kencangnya tp tetap tidak ada yang datang kekamarku, aku terus menangis dan berteriak memanggil ibu entah sampai berapa lama, tapi aku baru sadar ketika ibu datang membangunkanku. Aku sangat yakin tadi itu bukan mimpi, asumsiku aku pingsan karena terlalu histeris.
Akhirnya aku menceritakan kejadian td pada ibuku. "Ibu ga dengar apa2 dek, emang ga ada suara apa" kata ibu.
"Bu coba panggilin uwa Tanto (bapak TS), aku mau cerita ke uwa" kataku.
Lalu datanglah uwa ke kamarku, dan aku menceritakan semua kejadian tentang kakiku yg diduduki entah siapa, sampai semua kejadian selama di perkemahan. uwa mulai memegang kepalaku, dan membacakan doa. Lalu uwa berkata, sepertinya ada yg ngikutin km, nanti malam uwa mau sholat, memohon petunjuk bagaimana ngebuang yang ngikutin kamu ini.
Besokanya uwa ngabarin ke ibu, katanya yang ngikutin aku ini bapak2 jualan bawa pikulan depan belakang, makanya selama ini yg dirasain berat dan lemas karna mikul dagangan depan belakang kata uwa. kata uwa ini dingajiin aja tiap abis maghrib, aku jg disuruh ikut ngaji, nanti uwa tetep bantu dg kirim doa di sepertiga malam. Alhamdulilah kadang rasa berat dipundak hilang, wlwpun kadang muncul lagi, tapi sebulan kemudian aku benar2 sudah sembuh dari ketempelan dan bisa bersekolah seperti dulu lagi, berkat izin alloh dan bantuan uwa yg telah membantu doa setiap sepertiga malam, serta keluarga yg telah bersedia membacakan ayat2 alquran setiap hari.
Diubah oleh sinsin2806 18-10-2019 14:31
erinomonogatari dan 8 lainnya memberi reputasi
9
6.4K
37
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sinsin2806
#16
Kisah 4 "Mimpi Yang Mengubah Pandangan Hidupku"
Kisah ini terjadi kepada adik bungsu ibuku,, namanya Lik Didi. Kisah ini akan bercerita dari sudut pandang Lik Didi.
Dulu semua ora di desaku mengira aku gila, ya memang tahun 2010 selama hampir 6 bulan, aku berbicara sendiri seperti orang gila. Banyak dari mereka yang berasumsi bahwa aku gila karena tidak bisa menerima ilmu hitam yang aku pelajari di perantauan, benteng diriku tidak cukup kuat menerima ilmu-ilmu ghoib jadi mereka menyebut ilmu itu menghancurkan diriku dan aku gila.
Tapi nyatanya tidaklah seperti omongan mereka, aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku, aku seperti tidak sadar dengan apa yang aku lakukan selama kurun waktu 6 bulan tersebut, tapi setelah keadaanku membaik, kejadian ini benar-benar mengubah pandangan hidupku tentang bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan kita sesuai dengan syariat islam.
Aku tidak menyangka, kedatanganku ke Sukabumi akan merubah hidupku.
Aku, lulusan STM Cokroaminoto 2 Banjarnegara, jurusan Otomotif tahun 2009. Setahun setelah lulus sekolah aku masih belum bekerja. Bukanya aku tidak mencoba, aku telah mengirim lamaran kesana-kesini tapi apalah daya mungkin memang aku belum dikehendaki untuk mendapatkan pekerjaan. Sampai akhirnya ada temanku (Namanya Toto) yang menawarkan untuk ikut berangkat dan mendaftar bersama di salah satu Pabrik di Sukabumi, yaitu pabrik Long*** yang berproduksi membuat headset.
Toto : "Cuk, ayo ikut aku daftar kerja di Sukabumi, udah pasti ketrima asal cukup umur. Ga pake tes-tes an dijamin masuk"
Aku : " Kerja apa cuk? kalo ga pasti aku gamau, jauh-jauh itu lho sayang biayanya kalo ga ketrima. Uda kasian aku sama si mbok, uda biayain aku cari kerja kesana-sini tapi belum ada yang ketrima"
Toto : "Percaya aja cuk, uda pasti masuk. Pakdhe ku yang jamin, dia kerja disana uda puluhan tahun cuk"
Aku : "Berangkatlah kalo emng gitu, daripada disini nganggur, malu aku lama-lama begini. Tapi ajaklah anak-anak yang lain biar rame disana kerja banyak temennya"
Toto : "Iya cuk, aku ya udah ngajakin Aji sama Febri. Kita berempat aja lah"
Aku : "Iya terserah kamulah siapa aja yang mau diajakin"
Toto : "Kamu langsung ijin sama simbok mu loh ya, ini butuh cepet soalnya beberpa hari kedepan harus uda berangkat kita, aku nanti telpon pakdhe dulu, hari apa yang pakdhe bisa jemput kita. Jangan lupa minta uang saku yang banyak"
Aku : "Iya... iya sangguplah mbokku, asal ga sampe jual rumah !"
Toto : "Weleh gayamu, mau kerja di sukabumi aja pake jual rumah dulu, mau kerja ke Korea baru jual rumah"
Akhirnya ditentukan 3 hari setelah percakapan itu, tepatnya hari sabtu sore kami berangkat (Aku, Toto, Aji dan Febri) menyewa travel, agar bisa sampai alamat. Maklum masing-masing dari kami masih katro belum pernah pergi bekerja di luar kota, dan pakdhe Toto juga sedang tidak sempat menjemput, jadilah alternatif nya sewa travel.
Sesampainya disana, minggu pagi kami beristirahat di rumah Pakdhenya Toto, tapi ternyata disana pakdhe mengontrak dan bukan rumah sendiri (Padahal expektasi ku, selama sampai mendapat gajian pertama di sukabumi aku dan yg lain bisa ikut tinggal dulu sementara di rumahnya, tapi apa daya, pakdhe nya juga sama2 mengontrak). Selain kami tidak mau merepotkan pakdhe, kondisi kontrakan pakdhe sangatlah sempit, hanya ada 2 ruangan. Itupun sudah penuh dengan barang2. Tidak kebayang ya kalau kami menginap disni mau tidur dimana. pasti di teras depan kontrakan sudah pasti.
Setelah mengobrol panjang lebar dengan pakdhe nya, diberitahukanlah kalau kita semua akan pergi ke pabrik nya nanti hari senin pagi jam 8. Dan nanti sore pakdhe akan menemani kami mencari kontrakan, cukup satu kontrakan saja untuk kami berempat. karena uang saku masing2 dari kami kecil, jadi kami memutuskan untuk patungan membayar uang kontrakanya.
Dapatlah kami satu kontrakan, yang didalamnya sudah ada kamar mandi luasnya sekitar 7x8m mungkin. Didalamnya sama sekali kosong tidak ada barang2 apapun, harganya 200rb per kamar, jadi masing2 dari kami iuran 50rb. Kami menghabiskan malam pertama dikontrakan itu, dingin sekali karna kami tidur hanya beralaskan baju2 yang kami bawa, berselimutkan kain sarung serta berbantal tas. Benar-benar syahdu.............
Paginya pukul 7.30 masing-masing dari kami sudah rapih berpakaian hitam putih, membawa stopmap dan sudah siap untuk bertempur. Kami sudah diberi arahan oleh pakdhe, jadi pakdhe tidak menemani kami saat mendaftar karena dia harus bekerja shift pagi, dia posisnya dalah staff line operasional biasa. Jadi kami hanya diarahkan untuk melewati jalan ini menuju gerbang belakang pabrik, nanti ada satpam disana yang akan mengarahkan kami untuk selanjutnya.
Lokasi pabrik ada di puncak bukit, dari kontrakan kami harus terus jalan menanjak kira-kira 20 menit, 10 menit awal masih bisa dilihat rumah warga disisi kanan-kiri jalan, 10 menit selanjutnya jalanan semakin menanjak dan sepanjang mata memandang kanan-kiri jalan setapak hanya ada hamparan pemakaman. Berarti pabrik ini ada ditengah-tengah pemakaman warga. woww emejing
Di pos satpam ternyata sudah banyak sekali rombongan2 lain entah dari mana, kami semua diarahkan untuk ke ruangan besar, banyak kursi dan meja (sepertinya temat makan siang buruh pabrik), ada sekitar 50 orang yang digiring ke ruangan itu. Kami disana diinstruksikan untuk mengisi semua formulir dan tes (ternyata ada tes tertulis dan tes kesehatan disana). Singkat cerita ya, karna bukan disini inti ceritanya.
Aku menjadi satu-satunya orang yang diterima bekerja di pabrik itu dari rombonganku.
Toto, Aji, Febri tidak ada yang diterima. Aku sama sekali tidak ragu, untuk mengambil pekerjaan ini walaupun semua teman-temanku tidak diterima. Teman-temanku yang tidak diterima ini akhirnya memutuskan pulang ke rumah setelah 5 hari berada di Sukabumi, dan aku memilih mengontrak dengan 2 teman baik dari sukabumi yang baru aku kenal beberapa hari disana (Heru, Amin). Teman-teman satu kontrakanku sangat taat beragama, masalah sholat sudah pasti, bahkan setelah pulang shift setiap dari mereka selalu menyempatkan untuk tadarus.
Semua berjalan lancar sampai tepat hari ke-7, aku seharusnya masuk shift pagi. Tapi hari itu aku merasakan sakit perut hebat, benar-benar baru merasakan sakit perut seperti ini sulit untuk dijelaskan. Heru dan Amin hari itu masuk shift malam, jadi posisi mereka ada di kontrakan,, mereka bingung dengan keadaanku, tak lama datanglah Mas Nanang, tentangga samping kontrakan.
Nanang : "Didi kenapa ? suaranya kedengeran sampe samping"
Heru : "Itu mas katanya sakit perut. Tapi dari pagi begitu, terus kaya aneh gitu lho mas, suaranya"
Amin : "Takut aku mas, apa dibawa ke puskesmas aja, pinjem motor mas Nanang bentar? Takut kenapa-kenapa"
Nanang : "Ntar dulu, ini dingajiin aja. Ini kaya si Hasan nih kemaren pulang shift malem begini nih, udah ngajiin aja semua nya aku bantu ngaji juga"
Mereka mengaji dan mengelilingiku, jadi posisiku ada ditengah-tengah.
Malam sebelum aku sakit perut hebat ini, aku bermimpi, aku bertemu seorang kakek kami duduk berhadapan di atas kayu di tengah hutan. kakek berkata kepadaku.
Kakek : " Nak, bebanmu itu berat. Bukan cuma tanggung jawab atas dirimu sendiri, tapi keluargamu. Keluarga besarmu. Tindakan yang melenceng dari setiap keluargamu kamu juga ikut andil. Apalagi keluargamu yang bermain-main dengan musyrik itu berat sekali pertanggung jawabanya di akhirat (Diperlihatkan keburukan masing-masing keluarga, yg saya tidak mungkin beberkan disini) Kalau kamu ingin menyelamatkan mereka, mulailah dari dirimu dulu, lalu bawalah keluargamu kejalan yang di ridhoi. Itu semua ada lah tanggung jawabmu"
Dalam mimpi tersebut, aku seperti berkaca pada keburukan sendiri, serta seperti menonton keburukan-keburukan yang telah dilakukan oleh keluargaku, aku menangis dalam mimpi itu.
Entah kenapa pagi itu sebelum sakit terasa, aku merasa ingin sekali pulang. Setelah dibacakan ayat-ayat alquarn kurang lebih satu jam, perutku terasa mulai enak, aku bisa duduk duduk. Mas Nanang mengambil buah apel hijau kecil dari kamarnya, dia berkata .
Nanang : "Kamu mau pulang?"
Aku : (Dalam hai kaget, kok mas Nanang tau. aku bahkan belum membicarakanya dengan Heru dan Amin) "Iya mas, rasanya pingin banget pulang"
Nanang : "Masalah disini baiknya diselesaikan disini, jangan dibawa pergi"
Aku : " Aku ga ada masalah apa-apa disini mas, rasanya cuma kangen rumah aja pingin pulang" (Aku kurang mengerti ucapan mas Nanang saat itu, karena aku pikir masalah dengan sesama pekerja atau apa, dan aku sama sekali tidak punya masalah)
Nanang : (Memberikan apel kepadaku) " Coba kamu pecahinn apel ini bisa ga?"
Aku : (aku langsung melempar apel itu ketembok, tapi tidak pecah apelnya) "Lho ga pecah mas, bentar aku coba lagi"
Aku mengambil apel baru dan melemparnya kearah bawah, aku yakin kali ini akan pecah, karna aku melemparnya sekuat tenaga. Tapi nyatanya tetap tidak pecah.
Aku : "Eh tetep gamau pecah mas, susah"
Nanang : "Coba kamu pecahin pake tangan kamu, jangan dilempar" sambil menyodorkan apel baru kepadaku.
Aku : (Dalam hati, mana bisa mecahin pake tangan, yang dilempar aja gabisa pecah apalagi pake tangan yang ada sakit. Aku menggunakan telapak tangan bawah, aku sengaja mengurangi kekuatan, karena kau yakin percuma dengan sekuat tenaga juga tidak akan bisa pecah)
"Praakkk" suara tanganku, ternyata apel itu bisa pecah terbagi menjadi beberapa bagian.
Nanang : " Tindakan kalo dilakukan buru-buru dan penuh emosi ga akan ada hasilnya, sekuat apapun kamu berusaha tetep aja ga akan ada hasilnya, tapi ketika kamu pelan-pelan dan menghayati kamu justru akan tau hasilnya. Sama kayak orang ngaji, ngaji itu gausah asal cepat selesai dan lantang, tapi harus pelan-pelan dan menghayati , biar kamu tau apa pesan yang ada didalamnya"
Mas nanang merapihkan sisa-sisa pecahan buah apel ke dalam plastik dan meyuruhku membuangnya ke selokan depan, aku mengangkat plasti itu tapi isinya langsung berserakan, ternyata plastinya bolong. Mas Nanang membersihkan serpihan apel nya lagi dan membungkus dengan plastik tadi tp dibagian yang tidak bolong, didepan kontrakan aku kembali menumpahkan serpihan apel, dan di pinggir jalan aku menumpahkanya lagi, akhirnya aku biarkan serpihan apel itu dipinggir jalan dan aku lempar plastinya diatas serpihan apel tsb.
Sepanjang siang sampai malam, aku terus menggigil dan ingin sekali pulang. Mas Nanang berkali kali mencoba membujuku untuk pulang nanti saja setelah kondisi badan sehat kembali, namun aku bersikukuh ingin pulang malam itu. Mas Nanang tentu saja tidak tega, membiarkanku pulang malam itu, lalu dia berjanji besok pagi akan mengantarkanku ke terminal. Yang ada dipikiranku saat itu hanyalah rumah, rumah dan rumah ingin sekali lekas bisa sampai rumah.
Aku naik bis jurusan tegal karena bis ke wonosobo/purwokerto sdh habis, dari tegal naik bis jurusan purwokerto dan dari purwokerto naik bis jurusan wonosobo turun di proyek.
Di terminal keadaanku baik-baik saja hanya terkadang menggigil kedinginan. Setelah berpamitan dengan mas Nanang aku manaiki bis. Sepanjang perjalanan ke tegal, aku merasa pundaku semakin lama semakin berat, lemas, dan tanpa sadar aku mulai berbicara sendiri. Bahkan sampai penumpang yang duduk disebelahku pindah ke kursi belakang. Di terminal Tegal, aku dipapah oleh kernet bis sampai ke tempat untuk menunggu bis arah purwokerto. Aku sudah tidak memiliki tenaga untuk berdiri saja lemas sekali. Untung saja di terminal Tegal aku bertemu orang baik, yang mau mengantarku sampai rumah.
Dia adalah Pak Warman, dia berdomisili di Sumatera tapi dia sedang ingin mengunjungi kerabat nya di Purwokerto, dia iba melihat keadaanku sehingga dia memutuskan untuk mengantarkan aku pulang. Aku bersyukur bertemu orang baik seperti beliau, dimana kebanyakan orang saat itu menjauhiku karena takut melihatku berbicara sendiri, namun pak Warman ini tidak segan menanyaiku dan bahkan bersedia mengantarkanku pulang. Singkat cerita, pukul 00.30 malam aku baru sampai di depan rumahku, aku benar-benar lemas saat itu, sampai harus dihotong kedalam rumah. Tapi anehnya ketika aku di dudukan di kursi depan, tenagaku sepertii terisi kembali. Aku bisa berdiri dan berteriak kepada bapaku untuk mengumpulkan semua anggota keluarga. Aku mempunya 6 orang kakak, kebetulanya rumahnya berdekatan berderet jadi gampang untuk memanggilnya.
(Ini apa yang aku rasakan) semua angota keluarga kumpul, kakak2ku-istri dan anak-anak2nya. aku melihat mereka semua berwajah hitam dan sangat kotor, jadi aku menyuruh mereka semua duduk berbaris karena aku ingin memandikan mereka semua agar terlihat bersih kembali. Aku membuka 2 botol aqua yang aku bawa dari sukabumi, aku menuangkan satu tutup botol air ke ubun-ubun setiap orang.
(Ini yang aku dengar dari bapak , tentang apa yg terjadi malam itu . Setelah aku sembuh total)
Aku berteriak malam itu sampai pagi seperti orang gila, dengan terus berkata "terkutuklah kalian semua disini", dan katanya aku terus memaki dan mengatai setiap anggota keluarga. Aku juga membuat kegaduhan untuk memanggil semua anggota keluarga. Aku memukul setiap orang yang ada di depanku. Serta aku menuduh satu orang kakaku namanya Lik Pono sebagai sumber malapetaka dikeluarga ini. Dia yang menyebarkan aura buruk, sehingga dia harus dibunuh di depan anggota keluarga. Kalau tidak dibunuh seperti itu, dia tetap akan mati karena takdirnya memang mati, tapi dengan cara yang lebih sadis. Aku menyebutkan pada tanggal berapa Lik Pono ini akan ditemukan di Sungai dengan keadaan badan tercabik-cabik dibunuh orang. Dan terus mengulangi perkataan itu.
Aku tidak tau apa yang terjadi selanjutnya kepadaku, aku tidak ingat. Tapi setelah 6 bulan dan ketika aku sudah terlihat seperti layaknya orang normal. Bapak baru menceritakan apa yang terjadi setelah kejadian malam itu.
Katanya selama 5 bulan aku selalu berbicara sendiri, entah dengan siapa. Jika ada yang menegurku, atau mengajak bicara aku tidak pernah merespon. Aku hanya terus berbicara sendiri, tapi sebulan terakhir sebelum aku sembuh, aku tidak lagi berbicara sendiri, tapi berdikir terus menerus katanya.
Aku sama sekali tidak ingat apa yang telah terjadi dalam 6 bulan itu, tapi yang aku rasakan setelahnya aku selalu ingin mendekatkan diri kepada Tuhan, aku selalu pergi ke masjid. Bahkan waktu yang aku habiskan dimasjid lebih banyak dari pada waktu yang aku habiskan dirumah. Sekarang aku hanya ingin terus mendekatkann diri kepada Tuhan.
Kisah ini terjadi kepada adik bungsu ibuku,, namanya Lik Didi. Kisah ini akan bercerita dari sudut pandang Lik Didi.
Dulu semua ora di desaku mengira aku gila, ya memang tahun 2010 selama hampir 6 bulan, aku berbicara sendiri seperti orang gila. Banyak dari mereka yang berasumsi bahwa aku gila karena tidak bisa menerima ilmu hitam yang aku pelajari di perantauan, benteng diriku tidak cukup kuat menerima ilmu-ilmu ghoib jadi mereka menyebut ilmu itu menghancurkan diriku dan aku gila.
Tapi nyatanya tidaklah seperti omongan mereka, aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku, aku seperti tidak sadar dengan apa yang aku lakukan selama kurun waktu 6 bulan tersebut, tapi setelah keadaanku membaik, kejadian ini benar-benar mengubah pandangan hidupku tentang bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan kita sesuai dengan syariat islam.
Aku tidak menyangka, kedatanganku ke Sukabumi akan merubah hidupku.
Aku, lulusan STM Cokroaminoto 2 Banjarnegara, jurusan Otomotif tahun 2009. Setahun setelah lulus sekolah aku masih belum bekerja. Bukanya aku tidak mencoba, aku telah mengirim lamaran kesana-kesini tapi apalah daya mungkin memang aku belum dikehendaki untuk mendapatkan pekerjaan. Sampai akhirnya ada temanku (Namanya Toto) yang menawarkan untuk ikut berangkat dan mendaftar bersama di salah satu Pabrik di Sukabumi, yaitu pabrik Long*** yang berproduksi membuat headset.
Toto : "Cuk, ayo ikut aku daftar kerja di Sukabumi, udah pasti ketrima asal cukup umur. Ga pake tes-tes an dijamin masuk"
Aku : " Kerja apa cuk? kalo ga pasti aku gamau, jauh-jauh itu lho sayang biayanya kalo ga ketrima. Uda kasian aku sama si mbok, uda biayain aku cari kerja kesana-sini tapi belum ada yang ketrima"
Toto : "Percaya aja cuk, uda pasti masuk. Pakdhe ku yang jamin, dia kerja disana uda puluhan tahun cuk"
Aku : "Berangkatlah kalo emng gitu, daripada disini nganggur, malu aku lama-lama begini. Tapi ajaklah anak-anak yang lain biar rame disana kerja banyak temennya"
Toto : "Iya cuk, aku ya udah ngajakin Aji sama Febri. Kita berempat aja lah"
Aku : "Iya terserah kamulah siapa aja yang mau diajakin"
Toto : "Kamu langsung ijin sama simbok mu loh ya, ini butuh cepet soalnya beberpa hari kedepan harus uda berangkat kita, aku nanti telpon pakdhe dulu, hari apa yang pakdhe bisa jemput kita. Jangan lupa minta uang saku yang banyak"
Aku : "Iya... iya sangguplah mbokku, asal ga sampe jual rumah !"
Toto : "Weleh gayamu, mau kerja di sukabumi aja pake jual rumah dulu, mau kerja ke Korea baru jual rumah"
Akhirnya ditentukan 3 hari setelah percakapan itu, tepatnya hari sabtu sore kami berangkat (Aku, Toto, Aji dan Febri) menyewa travel, agar bisa sampai alamat. Maklum masing-masing dari kami masih katro belum pernah pergi bekerja di luar kota, dan pakdhe Toto juga sedang tidak sempat menjemput, jadilah alternatif nya sewa travel.
Sesampainya disana, minggu pagi kami beristirahat di rumah Pakdhenya Toto, tapi ternyata disana pakdhe mengontrak dan bukan rumah sendiri (Padahal expektasi ku, selama sampai mendapat gajian pertama di sukabumi aku dan yg lain bisa ikut tinggal dulu sementara di rumahnya, tapi apa daya, pakdhe nya juga sama2 mengontrak). Selain kami tidak mau merepotkan pakdhe, kondisi kontrakan pakdhe sangatlah sempit, hanya ada 2 ruangan. Itupun sudah penuh dengan barang2. Tidak kebayang ya kalau kami menginap disni mau tidur dimana. pasti di teras depan kontrakan sudah pasti.
Setelah mengobrol panjang lebar dengan pakdhe nya, diberitahukanlah kalau kita semua akan pergi ke pabrik nya nanti hari senin pagi jam 8. Dan nanti sore pakdhe akan menemani kami mencari kontrakan, cukup satu kontrakan saja untuk kami berempat. karena uang saku masing2 dari kami kecil, jadi kami memutuskan untuk patungan membayar uang kontrakanya.
Dapatlah kami satu kontrakan, yang didalamnya sudah ada kamar mandi luasnya sekitar 7x8m mungkin. Didalamnya sama sekali kosong tidak ada barang2 apapun, harganya 200rb per kamar, jadi masing2 dari kami iuran 50rb. Kami menghabiskan malam pertama dikontrakan itu, dingin sekali karna kami tidur hanya beralaskan baju2 yang kami bawa, berselimutkan kain sarung serta berbantal tas. Benar-benar syahdu.............
Paginya pukul 7.30 masing-masing dari kami sudah rapih berpakaian hitam putih, membawa stopmap dan sudah siap untuk bertempur. Kami sudah diberi arahan oleh pakdhe, jadi pakdhe tidak menemani kami saat mendaftar karena dia harus bekerja shift pagi, dia posisnya dalah staff line operasional biasa. Jadi kami hanya diarahkan untuk melewati jalan ini menuju gerbang belakang pabrik, nanti ada satpam disana yang akan mengarahkan kami untuk selanjutnya.
Lokasi pabrik ada di puncak bukit, dari kontrakan kami harus terus jalan menanjak kira-kira 20 menit, 10 menit awal masih bisa dilihat rumah warga disisi kanan-kiri jalan, 10 menit selanjutnya jalanan semakin menanjak dan sepanjang mata memandang kanan-kiri jalan setapak hanya ada hamparan pemakaman. Berarti pabrik ini ada ditengah-tengah pemakaman warga. woww emejing
Di pos satpam ternyata sudah banyak sekali rombongan2 lain entah dari mana, kami semua diarahkan untuk ke ruangan besar, banyak kursi dan meja (sepertinya temat makan siang buruh pabrik), ada sekitar 50 orang yang digiring ke ruangan itu. Kami disana diinstruksikan untuk mengisi semua formulir dan tes (ternyata ada tes tertulis dan tes kesehatan disana). Singkat cerita ya, karna bukan disini inti ceritanya.
Aku menjadi satu-satunya orang yang diterima bekerja di pabrik itu dari rombonganku.
Toto, Aji, Febri tidak ada yang diterima. Aku sama sekali tidak ragu, untuk mengambil pekerjaan ini walaupun semua teman-temanku tidak diterima. Teman-temanku yang tidak diterima ini akhirnya memutuskan pulang ke rumah setelah 5 hari berada di Sukabumi, dan aku memilih mengontrak dengan 2 teman baik dari sukabumi yang baru aku kenal beberapa hari disana (Heru, Amin). Teman-teman satu kontrakanku sangat taat beragama, masalah sholat sudah pasti, bahkan setelah pulang shift setiap dari mereka selalu menyempatkan untuk tadarus.
Semua berjalan lancar sampai tepat hari ke-7, aku seharusnya masuk shift pagi. Tapi hari itu aku merasakan sakit perut hebat, benar-benar baru merasakan sakit perut seperti ini sulit untuk dijelaskan. Heru dan Amin hari itu masuk shift malam, jadi posisi mereka ada di kontrakan,, mereka bingung dengan keadaanku, tak lama datanglah Mas Nanang, tentangga samping kontrakan.
Nanang : "Didi kenapa ? suaranya kedengeran sampe samping"
Heru : "Itu mas katanya sakit perut. Tapi dari pagi begitu, terus kaya aneh gitu lho mas, suaranya"
Amin : "Takut aku mas, apa dibawa ke puskesmas aja, pinjem motor mas Nanang bentar? Takut kenapa-kenapa"
Nanang : "Ntar dulu, ini dingajiin aja. Ini kaya si Hasan nih kemaren pulang shift malem begini nih, udah ngajiin aja semua nya aku bantu ngaji juga"
Mereka mengaji dan mengelilingiku, jadi posisiku ada ditengah-tengah.
Malam sebelum aku sakit perut hebat ini, aku bermimpi, aku bertemu seorang kakek kami duduk berhadapan di atas kayu di tengah hutan. kakek berkata kepadaku.
Kakek : " Nak, bebanmu itu berat. Bukan cuma tanggung jawab atas dirimu sendiri, tapi keluargamu. Keluarga besarmu. Tindakan yang melenceng dari setiap keluargamu kamu juga ikut andil. Apalagi keluargamu yang bermain-main dengan musyrik itu berat sekali pertanggung jawabanya di akhirat (Diperlihatkan keburukan masing-masing keluarga, yg saya tidak mungkin beberkan disini) Kalau kamu ingin menyelamatkan mereka, mulailah dari dirimu dulu, lalu bawalah keluargamu kejalan yang di ridhoi. Itu semua ada lah tanggung jawabmu"
Dalam mimpi tersebut, aku seperti berkaca pada keburukan sendiri, serta seperti menonton keburukan-keburukan yang telah dilakukan oleh keluargaku, aku menangis dalam mimpi itu.
Entah kenapa pagi itu sebelum sakit terasa, aku merasa ingin sekali pulang. Setelah dibacakan ayat-ayat alquarn kurang lebih satu jam, perutku terasa mulai enak, aku bisa duduk duduk. Mas Nanang mengambil buah apel hijau kecil dari kamarnya, dia berkata .
Nanang : "Kamu mau pulang?"
Aku : (Dalam hai kaget, kok mas Nanang tau. aku bahkan belum membicarakanya dengan Heru dan Amin) "Iya mas, rasanya pingin banget pulang"
Nanang : "Masalah disini baiknya diselesaikan disini, jangan dibawa pergi"
Aku : " Aku ga ada masalah apa-apa disini mas, rasanya cuma kangen rumah aja pingin pulang" (Aku kurang mengerti ucapan mas Nanang saat itu, karena aku pikir masalah dengan sesama pekerja atau apa, dan aku sama sekali tidak punya masalah)
Nanang : (Memberikan apel kepadaku) " Coba kamu pecahinn apel ini bisa ga?"
Aku : (aku langsung melempar apel itu ketembok, tapi tidak pecah apelnya) "Lho ga pecah mas, bentar aku coba lagi"
Aku mengambil apel baru dan melemparnya kearah bawah, aku yakin kali ini akan pecah, karna aku melemparnya sekuat tenaga. Tapi nyatanya tetap tidak pecah.
Aku : "Eh tetep gamau pecah mas, susah"
Nanang : "Coba kamu pecahin pake tangan kamu, jangan dilempar" sambil menyodorkan apel baru kepadaku.
Aku : (Dalam hati, mana bisa mecahin pake tangan, yang dilempar aja gabisa pecah apalagi pake tangan yang ada sakit. Aku menggunakan telapak tangan bawah, aku sengaja mengurangi kekuatan, karena kau yakin percuma dengan sekuat tenaga juga tidak akan bisa pecah)
"Praakkk" suara tanganku, ternyata apel itu bisa pecah terbagi menjadi beberapa bagian.
Nanang : " Tindakan kalo dilakukan buru-buru dan penuh emosi ga akan ada hasilnya, sekuat apapun kamu berusaha tetep aja ga akan ada hasilnya, tapi ketika kamu pelan-pelan dan menghayati kamu justru akan tau hasilnya. Sama kayak orang ngaji, ngaji itu gausah asal cepat selesai dan lantang, tapi harus pelan-pelan dan menghayati , biar kamu tau apa pesan yang ada didalamnya"
Mas nanang merapihkan sisa-sisa pecahan buah apel ke dalam plastik dan meyuruhku membuangnya ke selokan depan, aku mengangkat plasti itu tapi isinya langsung berserakan, ternyata plastinya bolong. Mas Nanang membersihkan serpihan apel nya lagi dan membungkus dengan plastik tadi tp dibagian yang tidak bolong, didepan kontrakan aku kembali menumpahkan serpihan apel, dan di pinggir jalan aku menumpahkanya lagi, akhirnya aku biarkan serpihan apel itu dipinggir jalan dan aku lempar plastinya diatas serpihan apel tsb.
Sepanjang siang sampai malam, aku terus menggigil dan ingin sekali pulang. Mas Nanang berkali kali mencoba membujuku untuk pulang nanti saja setelah kondisi badan sehat kembali, namun aku bersikukuh ingin pulang malam itu. Mas Nanang tentu saja tidak tega, membiarkanku pulang malam itu, lalu dia berjanji besok pagi akan mengantarkanku ke terminal. Yang ada dipikiranku saat itu hanyalah rumah, rumah dan rumah ingin sekali lekas bisa sampai rumah.
Aku naik bis jurusan tegal karena bis ke wonosobo/purwokerto sdh habis, dari tegal naik bis jurusan purwokerto dan dari purwokerto naik bis jurusan wonosobo turun di proyek.
Di terminal keadaanku baik-baik saja hanya terkadang menggigil kedinginan. Setelah berpamitan dengan mas Nanang aku manaiki bis. Sepanjang perjalanan ke tegal, aku merasa pundaku semakin lama semakin berat, lemas, dan tanpa sadar aku mulai berbicara sendiri. Bahkan sampai penumpang yang duduk disebelahku pindah ke kursi belakang. Di terminal Tegal, aku dipapah oleh kernet bis sampai ke tempat untuk menunggu bis arah purwokerto. Aku sudah tidak memiliki tenaga untuk berdiri saja lemas sekali. Untung saja di terminal Tegal aku bertemu orang baik, yang mau mengantarku sampai rumah.
Dia adalah Pak Warman, dia berdomisili di Sumatera tapi dia sedang ingin mengunjungi kerabat nya di Purwokerto, dia iba melihat keadaanku sehingga dia memutuskan untuk mengantarkan aku pulang. Aku bersyukur bertemu orang baik seperti beliau, dimana kebanyakan orang saat itu menjauhiku karena takut melihatku berbicara sendiri, namun pak Warman ini tidak segan menanyaiku dan bahkan bersedia mengantarkanku pulang. Singkat cerita, pukul 00.30 malam aku baru sampai di depan rumahku, aku benar-benar lemas saat itu, sampai harus dihotong kedalam rumah. Tapi anehnya ketika aku di dudukan di kursi depan, tenagaku sepertii terisi kembali. Aku bisa berdiri dan berteriak kepada bapaku untuk mengumpulkan semua anggota keluarga. Aku mempunya 6 orang kakak, kebetulanya rumahnya berdekatan berderet jadi gampang untuk memanggilnya.
(Ini apa yang aku rasakan) semua angota keluarga kumpul, kakak2ku-istri dan anak-anak2nya. aku melihat mereka semua berwajah hitam dan sangat kotor, jadi aku menyuruh mereka semua duduk berbaris karena aku ingin memandikan mereka semua agar terlihat bersih kembali. Aku membuka 2 botol aqua yang aku bawa dari sukabumi, aku menuangkan satu tutup botol air ke ubun-ubun setiap orang.
(Ini yang aku dengar dari bapak , tentang apa yg terjadi malam itu . Setelah aku sembuh total)
Aku berteriak malam itu sampai pagi seperti orang gila, dengan terus berkata "terkutuklah kalian semua disini", dan katanya aku terus memaki dan mengatai setiap anggota keluarga. Aku juga membuat kegaduhan untuk memanggil semua anggota keluarga. Aku memukul setiap orang yang ada di depanku. Serta aku menuduh satu orang kakaku namanya Lik Pono sebagai sumber malapetaka dikeluarga ini. Dia yang menyebarkan aura buruk, sehingga dia harus dibunuh di depan anggota keluarga. Kalau tidak dibunuh seperti itu, dia tetap akan mati karena takdirnya memang mati, tapi dengan cara yang lebih sadis. Aku menyebutkan pada tanggal berapa Lik Pono ini akan ditemukan di Sungai dengan keadaan badan tercabik-cabik dibunuh orang. Dan terus mengulangi perkataan itu.
Aku tidak tau apa yang terjadi selanjutnya kepadaku, aku tidak ingat. Tapi setelah 6 bulan dan ketika aku sudah terlihat seperti layaknya orang normal. Bapak baru menceritakan apa yang terjadi setelah kejadian malam itu.
Katanya selama 5 bulan aku selalu berbicara sendiri, entah dengan siapa. Jika ada yang menegurku, atau mengajak bicara aku tidak pernah merespon. Aku hanya terus berbicara sendiri, tapi sebulan terakhir sebelum aku sembuh, aku tidak lagi berbicara sendiri, tapi berdikir terus menerus katanya.
Aku sama sekali tidak ingat apa yang telah terjadi dalam 6 bulan itu, tapi yang aku rasakan setelahnya aku selalu ingin mendekatkan diri kepada Tuhan, aku selalu pergi ke masjid. Bahkan waktu yang aku habiskan dimasjid lebih banyak dari pada waktu yang aku habiskan dirumah. Sekarang aku hanya ingin terus mendekatkann diri kepada Tuhan.
aan1984 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup
