Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]


Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.


Spoiler for INDEX:


Spoiler for "You":



Spoiler for MULUSTRASI:


Spoiler for Peraturan:


Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.


Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
xxxochezxxxAvatar border
DayatMadridistaAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
467.5K
4.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#2299
Side Story : Kak Lia


Ane akan bercerita bagaimana hubungan ane dengan Kak Lia. Nggak  banyak yang bisa diceritakan sebenarnya karena hubungannya lebih ke hubungan fisik aja, dan mungkin dianya yang kesepian. Ketertarikan fisik yang membuat ane dan Kak Lia menjadi dekat. Dia lebih banyak berada diluar Indonesia karena pekerjaannya di maskapai internasional.

Seingat ane, dia bedanya 5 tahun lebih tua dari ane, waktu itu ane 21, jadi dia 26 tahun. Tapi segala atribut yang melekat dalam dirinya itu bikin nggak berasa kalau dia lebih tua 5 tahun. Semuanya kencang, terawat, bersih, dan selalu wangi. Mungkin karena FA diajarkan cara berpenampilan yang baik dan merawat diri yang baik, dia jadi terbiasa dengan perawatan maksimal tubuhnya. Plus lagi orangnya asyik diajak ngobrol dan sangat berpikiran terbuka.

Sebenarnya dia nggak terlalu tinggi buat ukuran pramugari sekitar 167 cm. Tinggi sendiri diantara saudari-saudarinya. Tapi proporsi bobot tubuh dan tinggi badannya sangat ideal. Nggak ada lemak berlebih disekitar perut, dilengan, atau dibagian manapun tubuhnya. Luar biasa banget lah. Bemper depan dia menang telak dari Sofi, walaupun bentuknya sama, hanya aja punya Kak Lia lebih ngabisin space di branya. Hahaha. Sejak pertemuan pertama kami di peresmian kolam renang milik keluarga Sofi, ane tau Kak Lia banyak mencuri pandang ke ane. Hehe. Tapi ane nggak terlalu ambil pusing karena Sofi aja belum kelar urusannya.

Ane lupa persisnya kapan, Kak Lia mulai chat dengan ane. Dia tau nomer ane dari Sofi, jelas, dengan alasan biar bisa kontrol kalau Sofi kemana-mana dan nggak bisa dihubungi, bisa ngehubungi ane. Dari ngobrol-ngobrol biasa, sampai ngajak ngobrol dan ketemuan di ibukota, dirumahnya dia. Jadi sebenarnya, ane lebih duluan tau lokasi rumah Kak Lia dibanding Sofi. Hehehe. Pertemuan pertama kami dirumah Kak Lia berjalan sangat lancar.

Ane baru tau juga kalau Kak Lia sangat open minded, beda dengan saudara-saudaranya. Mungkin karena lingkungan pergaulannya kali ya. Dia saat itu juga satu-satunya dikeluarga Sofi yang belum memakai kerudung. Rambutnya yang panjangnya sampai dibawah bahu dicat cokelat agak terang, sangat cocok dengan kulitnya yang putih. Lebih putih dari Sofi kulit kakaknya ini. Awalnya ane malu-malu mau masuk, tapi karena dia santai aja yaudah ane langsung masuk.

Saat itu dirumahnya dia tinggal sendiri, Sofi juga belum pindah kesana. Waktu ane pertama kesana, dia udah ninggalin kesan menggoda banget. Pakai tanktop putih yang keliatan tali branya yang berwarna hitam, terus pakai hotpants hitam, dengan rambut dikuncir keatas. Dia sama sekali nggak risih  dengan kedatangan ane. Anenya yang deg-degan.

“Kak, ada aku.”

“Ya terus?”

“Kakak nggak apa-apa aku liatin pakai baju tidur gitu?”

“Ya santai aja Ja. Aku nggak kenapa-kenapa. Kamu kan anak baik toh.” Katanya sambil senyum.

“Iya kak. Hehehe.” Kata ane canggung.

Lalu dia kebelakang dan kembali dengan minuman botol, Amer. Udah lama banget ane nggak minum amer. Haha.

“Wah seru nih kak, ada minuman gini disini.”

“Iya dong, masa teh manis melulu. Hehehe.”

“Hahaha. Iya sih kak. Makasih ya kak udah ngundang aku kesini.”

“Iya sama-sama Ja. Aku pingin tau lebih banyak soal kamu Ja.”

“Mau tau apa kak tentang aku?”

“Ya latar belakang kamu, apa aja yang pernah kamu lakuin dikampus, terus gimana pelajaran kamu, gitu-gitu lah.” Katanya.

Lalu ane entah kenapa ngomongnya jujur banget soal keluarga ane ke dia. Ane juga cerita apa adanya tentang kehidupan cinta ane dikampus. Walaupun part Keket nggak ane ceritakan. Ane juga selalu berusaha untuk memuji-muji Sofi didepan kakaknya.

“Kamu terlalu berlebihan menilai Sofi Ja. Dia nggak sekeren itu juga kok.”

“Maksudnya?”

“Aku kenal siapa adik aku Ja. Dan dia itu sangat pendiam dan nggak ada inisiatifnya, tukang ngambek lagi. Walaupun diantara kami saudara-saudaranya, dia yang paling pintar Ja.”

“hmmm. Iya kak.”

Obrolan kami sangat cair, bahkan lebih cair daripada dengan Sofi. Aneh menurut ane, tapi ane sangat menikmati momen bersama dengan kak Lia malam itu. Sehabis makan malam, ane lanjut lagi ngobrol, kali ini sambil nonton DVD. Kak Lia senang film action, sama kayak ane. Sedangkan Sofi senang nonton drama.

Disela-sela nonton action, ane mulai curi-curi kesempatan untuk duduk lebih dekat dengan dia. Dari jarak sepanjang lengan ane aja, wanginya udah kecium. Aduh senang banget waktu itu. Lalu ane menebak parfum yang dia pakai, dan ternyata benar, itu mengejutkan dia. Karena agak ane bagi dia kalau cowok bisa hafal aroma parfum, apalagi aroma parfum cewek.

Selanjutnya karena tertarik dengan obrolan tentang parfum, Kak Lia yang bergerak makin dekat ke tempat ane duduk. Makin berasa aja wanginya. Kami berbincang dengan parfum sebagai bahasannya. Dia ternyata suka beli parfum dari negara-negara yang pernah dikunjunginya. Terutama dari jazirah arab, katanya banyak parfum-parfum yang oke punya dari sana, dan nggak ada yang bajakan tentunya.

“Kamu mau dibawain apaan? Nanti coba aku cariin deh.”

“Apa aja kak yang oke dari satu negara gitu kak. Hehe. Tapi favorit aku Aigner Black.”

“haha, yaudah nanti bisa lah aku coba cariin buat kamu. Biar makin oke. Cowok kalau wangi kan jadi makin keren auranya.”

“Yah, aku digodain nih ceritanya? Hehehe.”

“Menurut kamu? Hehe.”

Kami berdua terlibat obrolan yang ringan dan sangat modus. Sampai ada momen dia mengambil air mineral dan kemudian kepeleset dekat tempat ane duduk. Pokoknya kayak sinetron gitu deh, tapi nggak pakai slow motion. Yang jelas dia jatuh dipaha ane.

Liat-liatan agak lama, dan selanjutnya dia menarik leher ane dengan kedua tangan yang melingkar dileher ane. Ciuman deh. Haha. Ciumannya itu jelas banget ciuman nafsu. Kak Lia kayak udah ahli banget deh. Bibirnya yang sejenis sama Sofi pun jadi makin enak buat dikulum, agak tebel-tebel gimana gitu. Kak Lia terus malah naik ke sofa dan menindih ane. Ane banyakan diam aja dan ngikutin permainannya dia. Dia pas pertemuan pertama itu masih agak-agak malu-malu. Tapi uniknya, biar kata malu-malu, tapi kalau urusan nurunin celana tetap aja lincah.

Dia menurunkan celana ane sekaligus sama daleman. Rocky keluar lagi dan kenalan sama cewek lain lagi. Kali ini ceweknya udah matang, baik secara fisik maupun material, juga pemikiran. Ternyata begini sama cewek yang lebih dewasa itu ada sensasi tersendiri. Setelah beberapa waktu lalu sama anak SMA, kali ini sama wanita karir yang usianya cukup jauh dari ane. Haha. Lengkap petualangannya.

Sesi foreplay berlangsung cukup lama, sebelum Kak Lia memblow si rocky dengan telaten. Rasanya asyik banget. Haha. Ane juga lama-lama gatel juga pingin bergerak tangannya. Akhirnya ane inisiatif bergerak sembari Kak Lia sibuk mengurus rocky didalam mulutnya. Ane pelan-pelan membungkuk kemudian memasukkan tangan ane disela-sela gunung kembar kak Lia yang ketutupan tanktop sama bra doang. Wah asli ini maksimal banget. Kayak Sofi tapi paket combo double. Gedenya berlebihan. Haha.

Kegiatan grepe-grepe Kak Lia beres, saatnya membuka pakaiannya. Dia terus aja ngurus rocky sementara ane membuka pelan-pelan tanktopnya, sebentar dia lepas si rocky dari mulut biar kebuka semua, terus ngebuka branya yang berwarna hitam. Kami begitu larut dalam permainan malam itu. Gunung kembar Kak Lia sumpah itu kenceng banget, hampir sama kayak Keket, kayaknya sih turunan keluarganya Sofi gini semua modelnya, gede-gede, putih-putih. Ane berasa mau keluar, dan ane langsung berkata, “aku mau keluar didalem mulut ya kak. Telen ya kak, biar sehat.” Kak Lia hanya mengangguk dan kemudian mengeluarkan si rocky dari mulut, lalu ane mengelus rocky sedikit dan mengeluarkan calon penerus bangsa di mulut kak Lia yang udah terbuka.

Ketika mau berlanjut kebawah lagi, dia langsung menahan aksi ane ini.

“Stop. Aku belum bisa Ja.” Kata Kak Lia, sambil memegang tangan ane yang separuh udah masuk ke hotpants dia.

“Kenapa kak?” tanya ane.

“Kamu percaya kalau aku masih perawan?”

“Hah? Hmmm… nggak sih kak. Soalnya kakak udah ahli banget buat foreplay, dari mulai ciuman, baik, masa iya main coursenya malah nggak?”

“Kamu boleh percaya atau nggak, aku masih perawan. Sampai detik ini.”

“Beneran kak? Aduh…aku minta maaf kak, aku lancang.”

“Nggak apa-apa Ja, mungkin lain waktu Ja.”

“Tapi kak…..”

“Apa? Karena kamu pacar Sofi?”

Ane mengangguk.

“Aku nggak masalah mau kasih ini ke siapapun. Karena aku berpikir jaman sekarang buat senang-senang itu nggak masalah."

Gile pemikirannya nih. Ane kemudian terheran-heran. Lalu kak Lia memakai kembali pakaiannya. Ane juga ngikutin dia dengan makai celana ane lagi.

“Kak boleh nanya?”

“Apa aja silakan Ja.”

“Kenapa kakak mau sama aku? Dan kenapa kakak berani banget bilang nggak masalah ngasih perawan kakak ke siapapun?”

“Hmm…kayaknya kamu udah pernah dapat jawaban dari Sofi kan? Aku udah dengar cerita dari dia Ja. Awalnya aku penasaran makanya aku mau tau lebih jauh tentang kamu. Ternyata benar semua apa yang dibilang sama Sofi Ja. Bahkan pemikiran idealis kamu bisa nyamain pola pikir aku yang lebih tua dari kamu. Kamu juga kalau diajak ngobrol bikin lawan bicaranya itu jadi nyaman. Enak banget Ja. Dan kamu nggak main asal sosor aja jadi orang, tau sopan santun. Itu yang bikin aku makin penasaran dan nyaman aja sama kamu.”

“Iya kak. Aku udah dengar ini dari Sofi. Bahkan mantan-mantanku juga ngomong yang sama.”

“Padahal kamu juga nggak ganteng-ganteng amat, kurus lagi. Aku aja kalau lagi nge-date banyak yang gantengnya lebih-lebih dari kamu, badannya berisi pula, tapi rata-rata mereka semua cuma mau fisik aku aja. Mau dijadiin pajangan. Enak diajak jalan nggak malu-maluin.”

Ane berpikir dan ngomong dalam hati, nasibnya kok kayak Keket ya ini Kak Lia.

“Nah itu yang mau aku tanyain. Mau aja sama aku yang cuma mahasiswa, nggak punya apa-apa, nggak keren pula. Haha.”

“Kan tadi udah dijawab.”

“Hehe iya Kak.”

“Ja, tapi kamu janji jangan pernah singgung pertemuan kita ini ke Sofi ya. jangan pernah juga bahas tentang aku kalau lagi sama Sofi. Anaknya curigaan soalnya Ja.”

“iya kak, aku juga nggak enak sama dia kak.”

“Janji ya?” katanya lalu memeluk ane.

“Iya Kak.”

“Kamu juga janji ya, kalau aku lagi disini, kita ketemu?”

“hmm. Kalau waktunya pas, bisa kak aku usahain.” Kata ane sambil senyum.

“Gitu dong. Aku tu nggak pernah bener-bener dapet cowok yang bikin nyaman Ja. Sekalinya ada malah berondong. Ya ampun. Haha.”

“Yah, aku sih jadi aku apa adanya aja kak selalu.”

“Iya ini yang jadi daya tarik kamu Ja.”

Ane langsung mengingat semua cewek yang pernah berhubungan dengan ane, bilangnya begini juga.

“hehe. Iya kak.”

--

Hari-hari ane sampai sebelum putus dari Sofi itu dihiasi dengan selingan Kak Lia. Walaupun nggak intens, tapi ada lah kenangannya sedikit. Ada Sinta juga, dan yang sudah ada Ara, Harmi dan tentu aja Keket. Bingung, menguras tenaga, dan juga biaya. Untungnya kuliah ane nggak banyak keganggu. Band juga nggak keganggu. Tapi ane jadi sering pusing kepala. Pusing karena harus berbagi. Tapi mau ngelepas juga sayang. Hahaha. Sampai setelah putus dengan Sofi pun sebenarnya ane masih lanjut dengan Kak Lia. Tapi selalu aja kayak friend with benefit. nggak lebih. Hampir sih pernah. Haha.

Setelah pertemuan pertama itu, ane selalu usaha untuk ketemu dia ketika dia sedang off duty. Beberapa kali kami ketemu, makan, nonton, semua dia yang bayar. Hehe. Pada satu momen dia dapat jatah off seminggu full dan dia menginap di salah satu hotel paling prestisius di dekat Bundaran HI Jakarta. Ane diundang kesana buat nemenin dia. Kebetulan waktu itu ane juga lagi nggak banyak kegiatan. Ane lupa ngasih alasan ke Sofi dan Keket apa, seinget ane pulang kerumah karena ada saudara dari luar jawa datang berkunjung. Haha.

Ane nyamperin Kak Lia di hotel itu. Gila hotelnya bagus banget. Kak Lia dapat kamar yang menghadap ke jalan raya. Seperti biasa ane ngobrol-ngobrol ringan dan ane selalu berhasil membuat kak Lia ketawa-tawa sampai ngakak, begitu juga dengan cewek-cewek lain yang dekat dengan ane.  

“Kamu pernah mikir nggak sih kalau nikahin orang yang lebih tua dari kamu?” katanya tiba-tiba.

“Hmm. Belum pernah mikir sampai sana sih Kak. Tapi aku percaya takdir. Kalau emang takdirku begitu ya mau gimana, harus aku terima.” Kata ane.

“Aku tu nyaman banget sama kamu Ja. Aku juga kayaknya udah mulai jatuh hati sama kamu. Tapi kenapa mesti kamu ya? kenapa nggak yang lebih tua? Hehe. Bingung aku sendiri sama perasaanku.”

“Ya nggak tau aku kak. Aku kan hanya jadi apa adanya aku. Kalau kakak nyaman sama aku, ya Alhamdulillah kak.”

“Tapi aku nggak mau nikung adikku sendiri Ja. Gila aja.”

“Tapi kamu udah nikung dia secara fisik kak. Hehehe. Sofi aja kalau ngelakuin apa yang selalu kita lakuin pasti  marah-marah dan langsung ngambek sama aku.”

“Soalnya aku lebih terbuka pikirannya Ja daripada dia. Dia mah nggak gaul anaknya.”

“Iya, tapi kalau nggak ketemu dia dulu, kamu nggak bakal kenal aku kak.”

“hehe iya sih ya Ja.”

Lalu kami diam lama banget. Tapi nggak tau kenapa ane kayak ada rasa sayang ke Kak Lia waktu itu. Wah nggak bener banget ini. Dan Kak Lia memulai semuanya. Semua yang udah rutin kita lakuin setiap ketemu pasti diulang. Kecuali satu, penetrasi si rocky ke lubang surga, sampai saat itu dihotel premium itu. Kali ini entah gimana ceritanya Kak Lia keliatan banget bernafsu buat kayak gitu.

“Kata temen-temenku kalau kayak gini tuh enak. Kamu pasti udah pernah ya?" Kata Kak Lia menggoda ane.

"Hhmm. Udah pernah kak, sama mantanku. Kakak yakin belum pernah?”

"Semua yang aku lakuin sama kamu, udah pernah aku lakuin sama mantan, sama teman sepekerjaan, atau sama atasan, kecuali satu itu."

"Terus kakak kenapa mau ngasih pertamanya sama aku?"

"Karena kamu udah bener-bener bikin aku nyaman, kamu tau caranya ngehargain cewek, kamu tau cara sopan sama cewek, kamu tau semua yang aku mau tanpa harus dikode. Sayang banget aku nggak bisa milikin kamu Ja. Tapi nggak apa-apa, aku rela."

Ane langsung teringat sama Ara. Ara juga begini sama ane dulu waktu pertama kali.

"Yakin kak? Kamu nggak nyesel nantinya?"

Dia cuma menggeleng dan habis itu langsung menerjang ane dengan ganas. Dia bener-bener liar luar biasa. Kayak abis nonton bokep aja ini cewek. Haha. Dia bilang belum pernah ML tapi pergerakannya kayak nggak perlu diajarin lagi udah tau gimana yang bikin enak tuh. Foreplay ane bener-bener hot sama dia pas kali pertama dia bilang mau ngelakuin sama ane. Akhirnya tibalah saatnya. Ane seperti biasa buka semuanya dulu. Ane kagum sama badan telentang tanpa busana dihadapan ane ini. Semua bersih, persis kayak Zalina dulu. Wangi udah pasti. Dan ketika menjelajah bagian bawahnya, ane yakin dia beneran masih perawan.

"Kak, kamu yakin? Aku tanya sekali lagi nih."

"Iya Ija sayang."

Dan, setelah semua udah basah karena proses jilat menjilat, cium mencium, dan sebagai-sebagainya, penetrasi rocky ke rumah baru pun dimulai. Kak Lia terlihat menahan sakit yang teramat sangat. Dia menjambak rambut ane yang ada diposisi atas dia. Cukup lama posisi ini kami lakuin. Sampai akhirnya bertukar dia yang diatas. Dan ya, ane tau dia baru pertama kali karena harus diarahkan dulu buat nemu spot yang enak. Pengeluaran pertama ane diperutnya dia dengan seluruh tubuh rocky yang penuh dengan darah. Banyak banget darahnya sampai ane mencium aroma amis yang kuat.

Istirahat sebentar, Kak Lia jadi nagih malah minta melulu. Ane ingat waktu itu, satu jam ane kami lakukan sampai 8 atau 9 kali. Gila nih kakaknya Sofi. Kecapekan, ane dan dia ketiduran sampai akhirnya bangun tengah malam dan kelaparan. Hehe.

--

Begitulah awalnya. Seterusnya pertemuan kami selalu dihiasi oleh pertarungan kayak gini. Dan dimasa depan pada suatu waktu, ane pernah jujur-jujuran sama Ara tentang masalah ini, dia cuma bilang, "kamu udah kayak maniak. Hahaha."

Pernah suatu ketika ane diajak menginap dirumah kak Lia pas Sofi udah mulai pindah ke Jakarta. Kamar Sofi ada dilantai 2, sementara Kakaknya dilantai 1. Ane tidur di sofa lantai 1. Kak Lia malah godain ane dan malah ngajak main dikamarnya dia, sementara Sofi ada dilantai atas lagi tidur. Hahaha. Gila banget. Mending kalau mainnya sekali dua kali, ini sampe 5 kali apa tuh.

Pada momen ane putus dari Sofi, waktu itu ane sempat telpon Kak Lia cerita masalah itu. Dan abis itu ane sempat ketemuan dan dia mau mengisi kekosongan hati ane. Tapi ane bilang nggak bisa. Dan ane baru cerita tentang keberadaan Keket. Dia agak kecewa dan cemburu, tapi dia bisa nerima dengan bijak. Tentunya dengan syarat. Ane dan dia tetap FWB an.

Sampai ane memulai karir pekerjaan di ibukota kami masih suka ketemu ketika Kak Lia Off. Terakhir ketemu, dia ngasih undangan pernikahan. Tapi gilanya, abis ngasih undangan pernikahan, dia main dulu gila-gilaan sama ane, katanya hitung-hitung perpisahan sebelum menata hidup yang lebih baik.

Begitulah kisah singkat ane dengan Kak Lia yang cantik.

sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 32 lainnya memberi reputasi
33
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.