- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/20/10668384_20200520011303.jpg)
Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.
Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.
Spoiler for INDEX:
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for Peraturan:
Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.
Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 17-05-2026 02:21
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
473K
4.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#2012
Akhir Tahun Manis
Akhir tahun band ane dapat job untuk ngisi festival tahunan di ancol. Bayarannya lumayan kata Ara. Jadinya ane dan teman-teman mau, kan cuma satu ini. Jadi nggak terlalu ribet juga dan masih bisa dijangkau tempatnya. Waktu itu juga adalah waktunya mempromosikan lagu baru band ane. Ane datang ke ancol sana bersama dengan Harmi. Keket waktu itu lagi pulang ke Sumedang. Ara seperti biasa dengan cerianya dan ketulusannya mengurus semua keperluan band ini.
Sepanggung, walaupun cuma 15 menit waktunya, bersama performer-performer hebat dan udah memiliki nama besar di tanah air itu sangat membanggakan buat kami. Band kami kebagian manggung sore, sekitar jam 16.00. penontonnya udah mulai membludak walaupun nggak semembludak pas malam. Tapi ini adalah pengalaman berharga banget. Kayaknya pengalaman manggung di Singapura itu menjadi salah satu riwayat paling mentereng band ane sehingga bisa manggung diacara ini.
“Kak, gue mau ketemu sama artis-artis itu bisa nggak ya?”
“Kayaknya bisa Mi. mereka kan ada di backstage ini juga.”
“Coba gue keliling-keliling deket sini dulu kali ya. hehe.”
“Yaudah Mi, silakan, tapi jangan jauh-jauh ya, kalau lo kenapa-kenapa ntar gue yang repot. Hehe.”
“Siap kakak kesayangan.” Katanya sambil tersenyum manis.
Mungkin Harmi mulai banyak perawatan ya, karena ane melihat wajahnya lebih mulus dan minim jerawat dan kayaknya kulitnya juga agak putihan dari sebelumnya. Ane nggak ambil pusing sih, cuma emang kayaknya ada perubahan disitu. Lucu banget sih ini anak jadinya. Haha.
Ara juga waktu itu penampilannya cakep banget lagi. Ane sebagai anak metal menyukai warna hitam, dan Ara memakai pakaian serba hitam kayak metal queen walaupun dia nggak suka-suka banget lagu metal. Make up-nya pun dibikin agak nuansa dark gitu. Keren deh pokoknya. Karena mungkin malam ini kami memainkan lagu-lagu yang agak sedikit dark juga nuansanya.
“Ara lo keren deh malam ini.” Kata ane.
“Makasih ya Ja. Jarang-jarang lo muji penampilan gue. Pasti ada maunya. Hehe.” Kata Ara.
“Nggak Ra, beneran kok lo keren banget malam ini.”
“Yah sesekali gue nggak dandan sok imut gitu kan bisa juga Ja.”
“Haha Iya Ra. Dan gue suka kok dandanan lo yang begini. Tapi ya gue nggak mau maksain juga lo harus begini terus dandannya Ra.”
“Iya Ja gue ngerti kok. Lo kan suka metal dari dulu, dan senang lah pasti gue dandan gini. Tapi ya gue sih nyesuaiin mood dan tema kita manggung aja. Hehe.”
“makasih ya Ra, lo udah kasih kesempatan gede lagi ke band ini buat manggung diacara kayak gini.”
“Sama-sama Ja.”
Lalu kami berpelukan dibackstage, yang lain ya biarin aja pada liat, toh udah biasa aja.
“Ja, gue udah nentuin mau kuliah dimana. Makasih banget ya si mama udah baik banget sama gue Ja.”
“Lo tau lah keluarga gue kalau sama pendidikan kayak apaan.”
“Setelah semua yang kita lewatin ya Ja.”
“Lo tu udah kayak bagian dari keluarga Ra buat keluarga gue.”
“Iya Ja. Makasih ya. makasih banget buat keluarga lo.”
“Iya Ra.”
Pas banget ane belum ngelepas pelukan dari Ara, Harmi masuk ke backstage. Anak-anak mengkode dan untungnya ane dan Ara cepat sadar lalu melepaskan pelukan kami. Harmi terlihat agak sedih, sementara Ara malah terlihat senang. Ane jadi agak kikuk disituasi seperti ini, tapi ya selow aja.
Ara kemudian keluar dari backstage untuk mengurusi segala macam, dan Harmi akhirnya diajak ngobrol sama Arko. Ane lalu mengambil HP dan chat Sofi. Baru kemarin ini ane akhirnya baikan sama dia. Dia mau membalas chat ane setelah seminggu lebih didiemin. Dia udah mulai cerita lagi dan ya normal-normalnya pacaran aja. Keket juga ane chat disaat yang bersamaan. Dia masih stay disana sampai awal januari. Dia mulai aktif lagi kan Januari taun berikutnya. Dia juga udah janji buat ngurusin skripsinya sampai beres sebelum bareng sama ane turun lapang buat penelitian skripsi ane.
“Guys, setengah jam lagi kita tampil ya. kalian siap-siap dulu.” Kata Ara tiba-tiba muncul dari balik pintu plastik backstage.
“Wah, gile nervous oy. Hahaha. Tapi pasti bisa.” Kata Ito.
“ayo kita doa dulu semuanya.” Ane meminta kumpul ditengah.
Ane kemudian juga mengajak Harmi dan merangkulnya untuk sama-sama berdoa dengan posisi melingkar. Setelah selesai berdoa dan meneriakkan yel-yel khas band ane, kami kembali ke bangku masing-masing dan mulai mempersiapkan segalanya. Kali ini kami membawa beberapa teman untuk jadi roadie dadakan kami, karena panggungnya besar banget dan butuh bantuan banyak orang, maka kami mengajak beberapa kawan dari band lain yang nggak ikutan manggung buat bantu-bantu, dari mulai setting alat, sampai berada di belakang mixer utama panggung untuk ngurusin output suara.
“Kak event ini gede banget, semangat ya kak.” Kata Harmi berbisik sambil memeluk ane didepan Ara.
“Iya Mi, makasih ya. gue bakal maksimal. Soalnya lo udah mau bela-belain dateng buat liat gue.” Kata ane.
“Iya kak.” Kata sambil tersenyum manis banget dan memegang pipi ane.
Ara hanya diam saja. Anak-anak lain juga sepertinya bodo amat kalau setelah ini bakal ada ribut-ribut di backstage. Anak-anak juga kayaknya nggak tau masalah siapa yang membiayai kami waktu di Singapura kemarin. Sebelum manggung ane nggak lupa untuk memeluk mereka satu persatu sebagai penyemangat dan agar kerjasama tim diatas panggung berjalan sebagaimana mestinya.
Waktu naik keatas panggung pun tiba. Ane luar biasa nervous karena belum pernah manggung dipanggung yang sebesar ini ukurannya. Lightingnya juga ciamik banget padahal masih terang. Cuaca kala itu cerah banget. Kami memainkan 3 lagu dengan 2 lagu milik kami sendiri serta 1 lagu cover band populer Indonesia.
Seperti biasa, setelah memainkan satu lagu, energi kami dipanggung barulah terkumpul maksimal dan lagu kedua kemudian diselingi jeda sebelum lagu penutup selalu berhasil dengan baik untuk dimainkan. Alat-alat tidak ada yang bermasalah dan kami selalu kagum dengan sound system kelas internasional ini. Indonesia industri musiknya nggak kalah keren kok.
Begitu turun, seperti biasa, Drian yang dipaksa keluar dari wilayah steril penonton menjadi sasaran foto-foto para penonton tersebut. Ane mendapatkan pelukan yang erat banget dari Harmi. Pas Harmi udahan meluk, eh langsung Ara kayak nggak mau kalah meluk ane. Tapi Ara juga meluk yang lainnya akhirnya, biar adil katanya. Hehe. Setelahnya kami istirahat dulu. Sekitar satu jam kami istirahat lalu ane mengajak Ara keluar dari area backstage. Ane mengajak dia ke tempat yang agak kondusif buat ngobrol.
“Ra, ceritain ke gue deh lo dapet uang darimana buat akomodasi kita waktu ke Singapura dulu.”
“Hah? Nggak penting Ja, udah lewat lama juga kan itu.”
“Tapi kali ini gue mau tau Ra.”
“Hmmm….nggak usah deh Ja.”
“Ra. Liat gue..gue..mau..tau.” kata ane sambil mengarahkan pandangan Ara ke mata ane.
“I..iya..iya gue cerita…”
“Nah gitu dong. Hehe.”
“Hmmm…jadi gini Ja. Gue itu kebingungan awalnya masalah uang akomodasi. Lalu gue inget katanya si Harmi kan anak dari orang berada, siapa tau dia bisa bantu, paling nggak bisa ngenalin link orang yang bisa gue kontak buat kasih proposal. Terus gue janjian ketemuan sama
Harmi. Dan gue nggak bilang sama lo.”
“Oke…terus…”
“Terus abis itu kita deal-dealan Ja. Jadi Harmi akan datang nonton, dan yang akan membiayai akomodasi kita itu sepupunya yang namanya Rozi.”
“Dan makanya lo ngebiarin gue nemenin Harmi dan ketemu Harmi seharian bahkan sampai larut. Gitu kan?”
Ara hanya mengangguk.
“Ra, kok lo tega sih? Itu sama aja kayak ngumpanin gue ke Harmi dong, demi kepentingan kita semua. Gue sih nggak masalah karena buat kepentingan kita semua. Tapi paling nggak lo ngomong dulu kek sama gue.”
“Iya maafin gue. Oh iya, dan pas lo diapartemen Rozi, dia cabut agak lama kan? Dia jalan sama gue Ja.”
“Hah? Oh iya? Jalan kemana aja lo?”
“Cuma jalan-jalan keliling kota pake mobil dia, kekantor dia, makan bareng dia.”
“Udah gitu doang? Kok lama banget?”
“Hmmm….”
“Jujur aja sama gue Ra.”
“Guee….gue sempat make out sama dia dikantor dia Ja. Tapi sumpah, gue nggak ada maksud apapun Ja, nggak pake hati, gue cuma kebawa suasana aja, karena gue juga ditawarin minum Ja. Kita nggak sampe jauh banget kok.”
“………..”
“Maafin gue Ja.”
“Hmm..nggak apa-apa Ra. Pantesan pas dikamar gue nyium bau alkohol dari mulut lo.” Ane kemudian tersenyum ke dia. Senyum menahan sakit.
Ane egois banget ya waktu itu. Udah jelas ada Sofi yang resmi, Keket yang utama dicintai, Harmi yang siap menerima ane, tapi masih sakit perasaannya ketika dengar Ara ngelakuin hal itu. Bener-bener susah banget.
“Ija, lo nggak apa-apa kan?” kata Ara sambil menggoyang bahu ane.
“Eeeh, nggak..nggak apa-apa Ra.” Kata ane.
“Hmm..lo jealous?”
“Ng…nggak kok Ra.”
“Jujur sama gue, tadi aja lo nyuruh gue jujur Ja.”
“Hm…iya jujur gue agak jealous. Tapi nggak apa-apa, lo harus bisa lepas dari bayang-bayang gue Ra.”
“Gue nggak tau gimana perasaan gue sekarang, tapi gue senang banget lo jealous karena itu Ja.”
“Nggak apa-apa Ra, gue ngerti kok. Ini permasalahan hati gue. Gue yang egois Ra, padahal gue udah ada Keket juga.”
“Gue biasa-biasa aja sama yang namanya Rozi itu Ja. Tapi emang kesannya kayak gue murahan banget gara-gara demi akomodasi gue rela buat diapa-apain sama dia.”
“Gue nggak pernah mandang lo kayak gitu Ra.”
“Iya Ja. Gue ngerasa bersalah banget waktu itu. Apalagi sama lo.”
“Udah Ra, yang penting gue udah tau fakta, dan gue senang lo mau cerita sama gue. Makasih ya Ra.” Lalu ane memeluk Ara.
“Maafin gue ya Ja.” Dia balas peluk pinggang ane.
Kemudian kami berciuman sesaat mumpung sepi.
“Gue nggak mau kehilangan lo Ja.”
Sepanggung, walaupun cuma 15 menit waktunya, bersama performer-performer hebat dan udah memiliki nama besar di tanah air itu sangat membanggakan buat kami. Band kami kebagian manggung sore, sekitar jam 16.00. penontonnya udah mulai membludak walaupun nggak semembludak pas malam. Tapi ini adalah pengalaman berharga banget. Kayaknya pengalaman manggung di Singapura itu menjadi salah satu riwayat paling mentereng band ane sehingga bisa manggung diacara ini.
“Kak, gue mau ketemu sama artis-artis itu bisa nggak ya?”
“Kayaknya bisa Mi. mereka kan ada di backstage ini juga.”
“Coba gue keliling-keliling deket sini dulu kali ya. hehe.”
“Yaudah Mi, silakan, tapi jangan jauh-jauh ya, kalau lo kenapa-kenapa ntar gue yang repot. Hehe.”
“Siap kakak kesayangan.” Katanya sambil tersenyum manis.
Mungkin Harmi mulai banyak perawatan ya, karena ane melihat wajahnya lebih mulus dan minim jerawat dan kayaknya kulitnya juga agak putihan dari sebelumnya. Ane nggak ambil pusing sih, cuma emang kayaknya ada perubahan disitu. Lucu banget sih ini anak jadinya. Haha.
Ara juga waktu itu penampilannya cakep banget lagi. Ane sebagai anak metal menyukai warna hitam, dan Ara memakai pakaian serba hitam kayak metal queen walaupun dia nggak suka-suka banget lagu metal. Make up-nya pun dibikin agak nuansa dark gitu. Keren deh pokoknya. Karena mungkin malam ini kami memainkan lagu-lagu yang agak sedikit dark juga nuansanya.
“Ara lo keren deh malam ini.” Kata ane.
“Makasih ya Ja. Jarang-jarang lo muji penampilan gue. Pasti ada maunya. Hehe.” Kata Ara.
“Nggak Ra, beneran kok lo keren banget malam ini.”
“Yah sesekali gue nggak dandan sok imut gitu kan bisa juga Ja.”
“Haha Iya Ra. Dan gue suka kok dandanan lo yang begini. Tapi ya gue nggak mau maksain juga lo harus begini terus dandannya Ra.”
“Iya Ja gue ngerti kok. Lo kan suka metal dari dulu, dan senang lah pasti gue dandan gini. Tapi ya gue sih nyesuaiin mood dan tema kita manggung aja. Hehe.”
“makasih ya Ra, lo udah kasih kesempatan gede lagi ke band ini buat manggung diacara kayak gini.”
“Sama-sama Ja.”
Lalu kami berpelukan dibackstage, yang lain ya biarin aja pada liat, toh udah biasa aja.
“Ja, gue udah nentuin mau kuliah dimana. Makasih banget ya si mama udah baik banget sama gue Ja.”
“Lo tau lah keluarga gue kalau sama pendidikan kayak apaan.”
“Setelah semua yang kita lewatin ya Ja.”
“Lo tu udah kayak bagian dari keluarga Ra buat keluarga gue.”
“Iya Ja. Makasih ya. makasih banget buat keluarga lo.”
“Iya Ra.”
Pas banget ane belum ngelepas pelukan dari Ara, Harmi masuk ke backstage. Anak-anak mengkode dan untungnya ane dan Ara cepat sadar lalu melepaskan pelukan kami. Harmi terlihat agak sedih, sementara Ara malah terlihat senang. Ane jadi agak kikuk disituasi seperti ini, tapi ya selow aja.
Ara kemudian keluar dari backstage untuk mengurusi segala macam, dan Harmi akhirnya diajak ngobrol sama Arko. Ane lalu mengambil HP dan chat Sofi. Baru kemarin ini ane akhirnya baikan sama dia. Dia mau membalas chat ane setelah seminggu lebih didiemin. Dia udah mulai cerita lagi dan ya normal-normalnya pacaran aja. Keket juga ane chat disaat yang bersamaan. Dia masih stay disana sampai awal januari. Dia mulai aktif lagi kan Januari taun berikutnya. Dia juga udah janji buat ngurusin skripsinya sampai beres sebelum bareng sama ane turun lapang buat penelitian skripsi ane.
“Guys, setengah jam lagi kita tampil ya. kalian siap-siap dulu.” Kata Ara tiba-tiba muncul dari balik pintu plastik backstage.
“Wah, gile nervous oy. Hahaha. Tapi pasti bisa.” Kata Ito.
“ayo kita doa dulu semuanya.” Ane meminta kumpul ditengah.
Ane kemudian juga mengajak Harmi dan merangkulnya untuk sama-sama berdoa dengan posisi melingkar. Setelah selesai berdoa dan meneriakkan yel-yel khas band ane, kami kembali ke bangku masing-masing dan mulai mempersiapkan segalanya. Kali ini kami membawa beberapa teman untuk jadi roadie dadakan kami, karena panggungnya besar banget dan butuh bantuan banyak orang, maka kami mengajak beberapa kawan dari band lain yang nggak ikutan manggung buat bantu-bantu, dari mulai setting alat, sampai berada di belakang mixer utama panggung untuk ngurusin output suara.
“Kak event ini gede banget, semangat ya kak.” Kata Harmi berbisik sambil memeluk ane didepan Ara.
“Iya Mi, makasih ya. gue bakal maksimal. Soalnya lo udah mau bela-belain dateng buat liat gue.” Kata ane.
“Iya kak.” Kata sambil tersenyum manis banget dan memegang pipi ane.
Ara hanya diam saja. Anak-anak lain juga sepertinya bodo amat kalau setelah ini bakal ada ribut-ribut di backstage. Anak-anak juga kayaknya nggak tau masalah siapa yang membiayai kami waktu di Singapura kemarin. Sebelum manggung ane nggak lupa untuk memeluk mereka satu persatu sebagai penyemangat dan agar kerjasama tim diatas panggung berjalan sebagaimana mestinya.
Waktu naik keatas panggung pun tiba. Ane luar biasa nervous karena belum pernah manggung dipanggung yang sebesar ini ukurannya. Lightingnya juga ciamik banget padahal masih terang. Cuaca kala itu cerah banget. Kami memainkan 3 lagu dengan 2 lagu milik kami sendiri serta 1 lagu cover band populer Indonesia.
Seperti biasa, setelah memainkan satu lagu, energi kami dipanggung barulah terkumpul maksimal dan lagu kedua kemudian diselingi jeda sebelum lagu penutup selalu berhasil dengan baik untuk dimainkan. Alat-alat tidak ada yang bermasalah dan kami selalu kagum dengan sound system kelas internasional ini. Indonesia industri musiknya nggak kalah keren kok.
Begitu turun, seperti biasa, Drian yang dipaksa keluar dari wilayah steril penonton menjadi sasaran foto-foto para penonton tersebut. Ane mendapatkan pelukan yang erat banget dari Harmi. Pas Harmi udahan meluk, eh langsung Ara kayak nggak mau kalah meluk ane. Tapi Ara juga meluk yang lainnya akhirnya, biar adil katanya. Hehe. Setelahnya kami istirahat dulu. Sekitar satu jam kami istirahat lalu ane mengajak Ara keluar dari area backstage. Ane mengajak dia ke tempat yang agak kondusif buat ngobrol.
“Ra, ceritain ke gue deh lo dapet uang darimana buat akomodasi kita waktu ke Singapura dulu.”
“Hah? Nggak penting Ja, udah lewat lama juga kan itu.”
“Tapi kali ini gue mau tau Ra.”
“Hmmm….nggak usah deh Ja.”
“Ra. Liat gue..gue..mau..tau.” kata ane sambil mengarahkan pandangan Ara ke mata ane.
“I..iya..iya gue cerita…”
“Nah gitu dong. Hehe.”
“Hmmm…jadi gini Ja. Gue itu kebingungan awalnya masalah uang akomodasi. Lalu gue inget katanya si Harmi kan anak dari orang berada, siapa tau dia bisa bantu, paling nggak bisa ngenalin link orang yang bisa gue kontak buat kasih proposal. Terus gue janjian ketemuan sama
Harmi. Dan gue nggak bilang sama lo.”
“Oke…terus…”
“Terus abis itu kita deal-dealan Ja. Jadi Harmi akan datang nonton, dan yang akan membiayai akomodasi kita itu sepupunya yang namanya Rozi.”
“Dan makanya lo ngebiarin gue nemenin Harmi dan ketemu Harmi seharian bahkan sampai larut. Gitu kan?”
Ara hanya mengangguk.
“Ra, kok lo tega sih? Itu sama aja kayak ngumpanin gue ke Harmi dong, demi kepentingan kita semua. Gue sih nggak masalah karena buat kepentingan kita semua. Tapi paling nggak lo ngomong dulu kek sama gue.”
“Iya maafin gue. Oh iya, dan pas lo diapartemen Rozi, dia cabut agak lama kan? Dia jalan sama gue Ja.”
“Hah? Oh iya? Jalan kemana aja lo?”
“Cuma jalan-jalan keliling kota pake mobil dia, kekantor dia, makan bareng dia.”
“Udah gitu doang? Kok lama banget?”
“Hmmm….”
“Jujur aja sama gue Ra.”
“Guee….gue sempat make out sama dia dikantor dia Ja. Tapi sumpah, gue nggak ada maksud apapun Ja, nggak pake hati, gue cuma kebawa suasana aja, karena gue juga ditawarin minum Ja. Kita nggak sampe jauh banget kok.”
“………..”
“Maafin gue Ja.”
“Hmm..nggak apa-apa Ra. Pantesan pas dikamar gue nyium bau alkohol dari mulut lo.” Ane kemudian tersenyum ke dia. Senyum menahan sakit.
Ane egois banget ya waktu itu. Udah jelas ada Sofi yang resmi, Keket yang utama dicintai, Harmi yang siap menerima ane, tapi masih sakit perasaannya ketika dengar Ara ngelakuin hal itu. Bener-bener susah banget.
“Ija, lo nggak apa-apa kan?” kata Ara sambil menggoyang bahu ane.
“Eeeh, nggak..nggak apa-apa Ra.” Kata ane.
“Hmm..lo jealous?”
“Ng…nggak kok Ra.”
“Jujur sama gue, tadi aja lo nyuruh gue jujur Ja.”
“Hm…iya jujur gue agak jealous. Tapi nggak apa-apa, lo harus bisa lepas dari bayang-bayang gue Ra.”
“Gue nggak tau gimana perasaan gue sekarang, tapi gue senang banget lo jealous karena itu Ja.”
“Nggak apa-apa Ra, gue ngerti kok. Ini permasalahan hati gue. Gue yang egois Ra, padahal gue udah ada Keket juga.”
“Gue biasa-biasa aja sama yang namanya Rozi itu Ja. Tapi emang kesannya kayak gue murahan banget gara-gara demi akomodasi gue rela buat diapa-apain sama dia.”
“Gue nggak pernah mandang lo kayak gitu Ra.”
“Iya Ja. Gue ngerasa bersalah banget waktu itu. Apalagi sama lo.”
“Udah Ra, yang penting gue udah tau fakta, dan gue senang lo mau cerita sama gue. Makasih ya Ra.” Lalu ane memeluk Ara.
“Maafin gue ya Ja.” Dia balas peluk pinggang ane.
Kemudian kami berciuman sesaat mumpung sepi.
“Gue nggak mau kehilangan lo Ja.”
Diubah oleh yanagi92055 24-09-2019 17:17
itkgid dan 28 lainnya memberi reputasi
27
Tutup
Zalina, 95% mirip Tala Ashe
Anin, 85% mirip Beby Cesara
Keket, 95% mirip, ane nggak kenal siapa ini, nemu di google
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043503.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043009.jpg)
Mulustrasi Ara, waktu masih SMA, 96% mirip![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/12/10668384_201909120424500824.png)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/13/10668384_201909130223080915.png)
serta apresiasi cendol