- Beranda
- Supranatural
Rumahku.
...
TS
User telah dihapus
Rumahku.
Halo agan & aganwati, ini tulisan pertamaku di Forum Kaskus. Yang akan aku tulis ini nanti benar-benar pengalaman yang aku alami sendiri bersama dengan orang-orang Yang ada di sekitarku. Tujuanku menulis thread ini bukan untuk bisa viral atau aji mumpung karena sedang tren menulis kisah-kisah horor. Nantinya, terserah agan & aganwati semua kalau mau percaya atau tidak dengan cerita yang saya ceritakan nanti. Oiya, karena beberapa kali saya pernah menceritakan pengalamanku ini ke beberapa teman, mohon bagi teman-teman yang ternyata nantinya ikut membaca tulisanku ini agar tetap merahasiakan identitas asliku ya 
Sebelumnya perkenalkan dulu, sebut saja saya “A” karena A adalah huruf pertama dari nama kecilku hasil dari pemberian almarhum eyang. Saat ini umurku udah menginjak hampir 27 tahun, cukup tua ya untuk memulai menulis di Kaskus apalagi baru akan mulai di era ini
Aku anak ke-4 dari 7 bersaudara (iya 7 bro). Wkwk
Saat ini sedang magang kerja untuk menyelesaikan syarat profesiku. Aku tinggal di kota Solo, dan bertempat tinggal di salah satu kampung padat penduduk yang erat dengan budaya batiknya, dan kental dengan budaya Jawa karena kebetulan sangat berdekatan dengan Keraton Kasunanan Solo. (Sekali lagi untuk yang tau siapa saya plis jangan dibocorin ya 😅) yang paling harus dimengerti, aku bukanlah seorang indigo atau apalah itu bahasanya. Aku hanya manusia biasa, yang kadang kita diberi kesempatan untuk bisa bersinggungan ataupun melihat makhluk ciptaan Tuhan lainnya.
Yang akan saya ceritakan ini adalah pengalamanku selama tinggal di rumah hasil dari pembangunan bapakku yang selesainya pun bertahun-tahun. Oiya sebelumnya aku tinggal di Sragen, tempat dinas bapakku karena bapak adalah seorang PNS. Setelah mulai TK sekitar tahun ‘97 aku mulai pindah ke Solo, ikut dengan eyang di rumah eyangku, rumah yang akan aku ceritakan ini letaknya tidak jauh dari rumah eyangku ini. Rumah bapakku ini mulai dibangun sekitar akhir tahun ‘96an, sempat berhenti pembangunannya pada masa krisis moneter akan tetapi bangunannya sudah berdiri, hanya saja selama beberapa tahun itu belum ditempati dan belum finishing pembangunannya. Pembangunan dilakukan secara bertahap, dalam kurun waktu kurang lebih 7-8 tahun. Sehingga selama beberapa tahun itu rumah ini pun kosong.
Tanah rumah ini didapat bapak dari eyangku, yang dulunya membeli tanah seluas kurang lebih 1000an meter, awalnya akan dibangun sebuah hotel, akan tetapi seiring berjalan waktu, dan eyang yang sudah memutuskan berhenti berbisnis batik setelah ibadah haji di sekitar tahun 60an sehingga mengurungkan niatnya untuk membangun hotel, pada akhirnya tanah dibagi-bagi beberapa petak untuk anak-anaknya. Dan bapakku mendapat bagian tanah yang terletak di sisi paling ujung selatan, ada di siku jalan. Jauh sebelum dibangun dulunya tanah ini dipakai oleh eyang untuk berjualan jam di bagian depan, dan dibagian belakang dibangun WC umum oleh eyang untuk dipakai warga sekitar MCK.
Kalau saya tidak salah ingat, pada akhirnya rumah ini selesai finishing di tahun 2004, tapi belum juga langsung ditempati. Karena pada waktu itu bapak masih dinas di Sragen, dan anak2nya pun enggan untuk pindah ke sana dari rumah eyang, hanya kadang aku & kakak pertamaku atau beberapa saudara kandungku lainnya sering tidur di sana di akhir pekan. Akhirnya di awal taun 2005 ketika aku menginjak kelas 2 SMP kurang lebihnya kita sekeluarga pindah ke rumah tersebut.
Dan berbagai kejadian dimulai dari sini. . . . .

Sebelumnya perkenalkan dulu, sebut saja saya “A” karena A adalah huruf pertama dari nama kecilku hasil dari pemberian almarhum eyang. Saat ini umurku udah menginjak hampir 27 tahun, cukup tua ya untuk memulai menulis di Kaskus apalagi baru akan mulai di era ini

Aku anak ke-4 dari 7 bersaudara (iya 7 bro). Wkwk
Saat ini sedang magang kerja untuk menyelesaikan syarat profesiku. Aku tinggal di kota Solo, dan bertempat tinggal di salah satu kampung padat penduduk yang erat dengan budaya batiknya, dan kental dengan budaya Jawa karena kebetulan sangat berdekatan dengan Keraton Kasunanan Solo. (Sekali lagi untuk yang tau siapa saya plis jangan dibocorin ya 😅) yang paling harus dimengerti, aku bukanlah seorang indigo atau apalah itu bahasanya. Aku hanya manusia biasa, yang kadang kita diberi kesempatan untuk bisa bersinggungan ataupun melihat makhluk ciptaan Tuhan lainnya.
Yang akan saya ceritakan ini adalah pengalamanku selama tinggal di rumah hasil dari pembangunan bapakku yang selesainya pun bertahun-tahun. Oiya sebelumnya aku tinggal di Sragen, tempat dinas bapakku karena bapak adalah seorang PNS. Setelah mulai TK sekitar tahun ‘97 aku mulai pindah ke Solo, ikut dengan eyang di rumah eyangku, rumah yang akan aku ceritakan ini letaknya tidak jauh dari rumah eyangku ini. Rumah bapakku ini mulai dibangun sekitar akhir tahun ‘96an, sempat berhenti pembangunannya pada masa krisis moneter akan tetapi bangunannya sudah berdiri, hanya saja selama beberapa tahun itu belum ditempati dan belum finishing pembangunannya. Pembangunan dilakukan secara bertahap, dalam kurun waktu kurang lebih 7-8 tahun. Sehingga selama beberapa tahun itu rumah ini pun kosong.
Tanah rumah ini didapat bapak dari eyangku, yang dulunya membeli tanah seluas kurang lebih 1000an meter, awalnya akan dibangun sebuah hotel, akan tetapi seiring berjalan waktu, dan eyang yang sudah memutuskan berhenti berbisnis batik setelah ibadah haji di sekitar tahun 60an sehingga mengurungkan niatnya untuk membangun hotel, pada akhirnya tanah dibagi-bagi beberapa petak untuk anak-anaknya. Dan bapakku mendapat bagian tanah yang terletak di sisi paling ujung selatan, ada di siku jalan. Jauh sebelum dibangun dulunya tanah ini dipakai oleh eyang untuk berjualan jam di bagian depan, dan dibagian belakang dibangun WC umum oleh eyang untuk dipakai warga sekitar MCK.
Kalau saya tidak salah ingat, pada akhirnya rumah ini selesai finishing di tahun 2004, tapi belum juga langsung ditempati. Karena pada waktu itu bapak masih dinas di Sragen, dan anak2nya pun enggan untuk pindah ke sana dari rumah eyang, hanya kadang aku & kakak pertamaku atau beberapa saudara kandungku lainnya sering tidur di sana di akhir pekan. Akhirnya di awal taun 2005 ketika aku menginjak kelas 2 SMP kurang lebihnya kita sekeluarga pindah ke rumah tersebut.
Dan berbagai kejadian dimulai dari sini. . . . .
PRA PINDAHAN
SOSOK HITAM DAN BAYANGAN
PERABOT KUNO
PEMBERSIHAN I
PEMBERSIHAN II
SOSOK HITAM DAN BAYANGAN ITU (?)
Diubah oleh User telah dihapus 25-09-2019 10:59
d.caesar dan 11 lainnya memberi reputasi
8
8.1K
49
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Supranatural
15.9KThread•14.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
User telah dihapus
#22
PEMBERSIHAN II
Setelah kedatangan sang Kyai beberapa minggu sebelumnya, keadaan di rumah berangsur membaik. Belum ada kejadian2 aneh lagi, kecuali bayangan2 sekelebat yang itu mungkin juga sudah biasa teman2 alami sehari2. Namun, mengingat pesan sang Kyai bahwa pagar itu tidak bersifat permanen, bapak pun mencari cara dengan bertanya2 kepada saudara2 untuk dicarikan Kyai agar rumah kami ini didoakan . Akhirnya, dari beberapa teman kerja bapak didapat lah alamat seorang yang dianggap pintar dalam hal2 seperti itu. Beliau juga masih dari Sragen. Namun berbeda dengan kyai sebelumnya, beliau tidak mau dipanggil “orang pintar” atau “kyai”. Beliau masih terlihat muda, mungkin sekitar umur 35-40 tahunan. Datang dengan Al Qur’an bawaannya sendiri, yang terlihat lusuh tandanya Al Qur’an tersebut sering dibaca.
Aku lupa tepatnya hari apa ketika beliau datang ke rumah kami, beliau datang sore hari sebelum magrib tiba. Setelah sholat, beliau melihat-lihat keadaan rumah kami. Kali ini berbeda dengan kyai sebelumnya, beliau tidak menjawab apapun ketika ditanya apa wujud makhluk2 yang ada di rumah kami. Beliau berkata, semuanya sama. Memang pada dasarnya semua jin itu sama wujudnya, tapi mereka bisa berubah-ubah seenak hati sesuai keinginan mereka. Karena waktu sudah masuk jam makan malam, ibu menyiapkan makan malam untuk kami semua. Akan tetapi, beliau menolak untuk ikut makan. Alasannya satu, beliau takut jika beliau makan nantinya dianggap bantuan yang diberikan oleh beliau dianggap tidak ikhlas, ternyata beliau membawa makan & sebotol minuman sendiri dari rumah yang dibawa di dalam tasnya. Setelah semua selesai makan kami melanjutkan untuk sholat isya berjama’ah. Selesai sholat, akhirnya beliau mulai berdoa, kami hanya menunggu ketika beliau mulai membuka Al Qur’an yang dibawanya tersebut. Sebelum memulai membaca ayat2 suci tadi beliau berpesan kepada kami, bahwa jangan ada yang menghentikan beliau apapun yang terjadi. Aku pun bertanya-tanya kenapa beliau menyampaikan hal tersebut.
Satu jam, dua jam, dan hampir 3 jam berlalu. Aku mulai mengantuk, sedangkan beliau masih terus membaca Al Qur’annya. Beberapa saat kemudian, karena tidak bisa menahan kantuk aku pun tertidur di mushola di samping ibuku. Belum berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena ada suara gaduh. Ternyata suara tersebut berasal dari lantai 3. Kami semua saling melihat satu sama lain, kami ingat pesan beliau bahwa apapun yang terjadi kami harus tenang dan tetap berdoa. Hal yang aneh mulai terjadi di jam-jam berikutnya, rasanya ruangan mushola itu penuh sesak. Seperti ada orang banyak yang berkumpul di satu ruangan. Padahal, hanya ada kami ber 7 di ruangan tersebut. ( ketiga adikku diungsikan di rumah eyang untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan)
Suara gaduh tadi bergiliran terjadi secara berpindah2, dari lantai 3 bergantian ke kamar tidur ayahku, ada juga suara seperti kaki orang yang berlarian terdengar berasal dari lantai 1. Memasuki tengah malam dan dini hari, beliau mengajak kami untuk sholat malam, kali ini, beliau meminta agar bapakku yang menjadi imam sholat, alasannya agar “yang ada di sini” tahu bahwa bapak lah yang berhak atas tanah yang kami tempati ini. Selain itu, tidak seperti sholat kami sebelumnya semalam, beliau mengajak kami untuk sholat di garasi. Iya betul, di garasi. Dan sekali lagi beliau berpesan bahwa apapun yang terjadi kami harus tetap melanjutkan sholat kami. Kejadian waktu sholat ini yang masih aku ingat sekali sampai sekarang. Mulai memasuki membaca surat Al Fatihah, pintu garasi kami yang notabenenya merukanan pintu tebal terbuat dari besi menimbulkan suara seperti digedor2. Padahal tidak ada siapapun selain kami di situ. Suara gedoran itu terus terjadi sampai bapak mengucapkan salam tanda sholat selesai dilakukan.
Selesai sholat, kami semua kembali ke mushola yang terletak di lantai 2. Kali ini beliau mengajak kami sekeluarga berdoa, dan doa pun dimulai dengan dipimpin oleh beliau. Doa bersama kami itu menandai selesainya ritual semalaman yang kami lakukan. Setelah itu, beliau menyampaikan kepada kami bahwa Insya Allah semua yang mengganggu telah pergi. Ada beberapa yang tetap memilih untuk tinggal namun berjanji bahwa tidak akan pernah mengganggu kami. Selain itu, beliau juga berpesan agar selalu menghiasi rumah kami dengan suara bacaan ayat2 suci Al Qur’an dan agar semua penghuni di rumah kami ta’at melakukan sholat 5 waktu. Karena mereka akan takut untuk mengganggu orang yang mempunyai iman yang kuat. Jam di rumah kami masih menunjukkan waktu yang terlalu pagi, bahkan adzan subuh pun belum berkumandang. Namun beliau tetap bersikukuh untuk pamit pulang meskipun bapak meminta untuk tinggal sebentar sekedar menunggu sampai subuh datang. Sebelum pulang, bapak sempat memberikan amplop sekedar tanda terima kasih kami sekeluarga akan tetapi amplop itu ditolak oleh beliau. Karena beliau beralasan semua yang dilakukan itu ikhlas untuk membantu kami sekeluarga. Subhanallah.
Benarlah, setelah kedatangan beliau hari itu rumah kami menjadi terasa semakin sejuk. Berbeda dengan hari2 sebelumnya, rumah kami terlihat sangat singup. Kami pun selalu mengingat pesan beliau, agar selalu mejaga sholat kami di rumah kami ini. Dan alhamdulillah, kejadian2 aneh itu tak lagi terulang di rumah kami lagi. Bukan sama sekali, tapi hanya beberapa kali memang mereka masih menampakkan eksistensi mereka namun sama sekali tidak mengganggu kami yang memang kami anggap sudah biasa bagi kami.
RUMAHKU I
TAMAT.
Aku lupa tepatnya hari apa ketika beliau datang ke rumah kami, beliau datang sore hari sebelum magrib tiba. Setelah sholat, beliau melihat-lihat keadaan rumah kami. Kali ini berbeda dengan kyai sebelumnya, beliau tidak menjawab apapun ketika ditanya apa wujud makhluk2 yang ada di rumah kami. Beliau berkata, semuanya sama. Memang pada dasarnya semua jin itu sama wujudnya, tapi mereka bisa berubah-ubah seenak hati sesuai keinginan mereka. Karena waktu sudah masuk jam makan malam, ibu menyiapkan makan malam untuk kami semua. Akan tetapi, beliau menolak untuk ikut makan. Alasannya satu, beliau takut jika beliau makan nantinya dianggap bantuan yang diberikan oleh beliau dianggap tidak ikhlas, ternyata beliau membawa makan & sebotol minuman sendiri dari rumah yang dibawa di dalam tasnya. Setelah semua selesai makan kami melanjutkan untuk sholat isya berjama’ah. Selesai sholat, akhirnya beliau mulai berdoa, kami hanya menunggu ketika beliau mulai membuka Al Qur’an yang dibawanya tersebut. Sebelum memulai membaca ayat2 suci tadi beliau berpesan kepada kami, bahwa jangan ada yang menghentikan beliau apapun yang terjadi. Aku pun bertanya-tanya kenapa beliau menyampaikan hal tersebut.
Satu jam, dua jam, dan hampir 3 jam berlalu. Aku mulai mengantuk, sedangkan beliau masih terus membaca Al Qur’annya. Beberapa saat kemudian, karena tidak bisa menahan kantuk aku pun tertidur di mushola di samping ibuku. Belum berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena ada suara gaduh. Ternyata suara tersebut berasal dari lantai 3. Kami semua saling melihat satu sama lain, kami ingat pesan beliau bahwa apapun yang terjadi kami harus tenang dan tetap berdoa. Hal yang aneh mulai terjadi di jam-jam berikutnya, rasanya ruangan mushola itu penuh sesak. Seperti ada orang banyak yang berkumpul di satu ruangan. Padahal, hanya ada kami ber 7 di ruangan tersebut. ( ketiga adikku diungsikan di rumah eyang untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan)
Suara gaduh tadi bergiliran terjadi secara berpindah2, dari lantai 3 bergantian ke kamar tidur ayahku, ada juga suara seperti kaki orang yang berlarian terdengar berasal dari lantai 1. Memasuki tengah malam dan dini hari, beliau mengajak kami untuk sholat malam, kali ini, beliau meminta agar bapakku yang menjadi imam sholat, alasannya agar “yang ada di sini” tahu bahwa bapak lah yang berhak atas tanah yang kami tempati ini. Selain itu, tidak seperti sholat kami sebelumnya semalam, beliau mengajak kami untuk sholat di garasi. Iya betul, di garasi. Dan sekali lagi beliau berpesan bahwa apapun yang terjadi kami harus tetap melanjutkan sholat kami. Kejadian waktu sholat ini yang masih aku ingat sekali sampai sekarang. Mulai memasuki membaca surat Al Fatihah, pintu garasi kami yang notabenenya merukanan pintu tebal terbuat dari besi menimbulkan suara seperti digedor2. Padahal tidak ada siapapun selain kami di situ. Suara gedoran itu terus terjadi sampai bapak mengucapkan salam tanda sholat selesai dilakukan.
Selesai sholat, kami semua kembali ke mushola yang terletak di lantai 2. Kali ini beliau mengajak kami sekeluarga berdoa, dan doa pun dimulai dengan dipimpin oleh beliau. Doa bersama kami itu menandai selesainya ritual semalaman yang kami lakukan. Setelah itu, beliau menyampaikan kepada kami bahwa Insya Allah semua yang mengganggu telah pergi. Ada beberapa yang tetap memilih untuk tinggal namun berjanji bahwa tidak akan pernah mengganggu kami. Selain itu, beliau juga berpesan agar selalu menghiasi rumah kami dengan suara bacaan ayat2 suci Al Qur’an dan agar semua penghuni di rumah kami ta’at melakukan sholat 5 waktu. Karena mereka akan takut untuk mengganggu orang yang mempunyai iman yang kuat. Jam di rumah kami masih menunjukkan waktu yang terlalu pagi, bahkan adzan subuh pun belum berkumandang. Namun beliau tetap bersikukuh untuk pamit pulang meskipun bapak meminta untuk tinggal sebentar sekedar menunggu sampai subuh datang. Sebelum pulang, bapak sempat memberikan amplop sekedar tanda terima kasih kami sekeluarga akan tetapi amplop itu ditolak oleh beliau. Karena beliau beralasan semua yang dilakukan itu ikhlas untuk membantu kami sekeluarga. Subhanallah.
Benarlah, setelah kedatangan beliau hari itu rumah kami menjadi terasa semakin sejuk. Berbeda dengan hari2 sebelumnya, rumah kami terlihat sangat singup. Kami pun selalu mengingat pesan beliau, agar selalu mejaga sholat kami di rumah kami ini. Dan alhamdulillah, kejadian2 aneh itu tak lagi terulang di rumah kami lagi. Bukan sama sekali, tapi hanya beberapa kali memang mereka masih menampakkan eksistensi mereka namun sama sekali tidak mengganggu kami yang memang kami anggap sudah biasa bagi kami.
RUMAHKU I
TAMAT.
chisaa dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup