Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]


Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.


Spoiler for INDEX:


Spoiler for "You":



Spoiler for MULUSTRASI:


Spoiler for Peraturan:


Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.


Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
suryosAvatar border
xxxochezxxxAvatar border
DayatMadridistaAvatar border
DayatMadridista dan 113 lainnya memberi reputasi
106
465.8K
4.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#1800
Pengalaman Pertama Sofi

Perkuliahan semester 7 ane sudah dimulai, masuk ke bulan 3 dan dunia perkuliahan ane semakin menyenangkan dengan banyaknya ilmu-ilmu terapan dengan pengaplikasian langsung dilapangan. Semua berjalan lancar seperti hubungan ane dengan Keket dan Sofi. Kemana Harmi dan Ara? Ane emang sengaja agak ngurangin intensitas dengan mereka berdua. Ane juga belum konfirmasi ke Ara perihal biaya akomodasi kami selama di Singapura. 

Keket ternyata lebih memilih untuk cuti kuliah 1 semester. Hal ini dia lakukan karena kegalauan dia terhadap hubungannya dengan ane, jadi dia memilih untuk rehat, sebelum acara kangen-kangenan itu. Padahal skripsinya udah jadi dan tinggal sidang aja.

Dia lebih memilih untuk magang di ibukota, sembari bantu-bantu untuk kembali ke kampus sebagai asisten dosen luar biasa. Angkatan Harmi sekarang yang akan pegang kendali di Himpunan, dan sebentar lagi posisi ane akan lengser dan digantikan oleh adik-adik kelas yang potensial.  

"Aku udah daftar wisuda Ja. Nanti kamu dampingin aku ya. Selain pasti orang tua aku juga." Kata Sofi.

"Wah bagus dong. Lancar banget ya kamu enak deh skripsinya. Tapi implikasi buat kehidupan realnya seberapa gede sih penelitian kamu itu?” kata ane.

"Yah seenggaknya ini bisa ngasih masukan buat masyarakat desa sih."

"Segitu doang?"

"Ya yang penting aku mah lulus dulu."

"Hmmm. Gitu ya. Sayang padahal skripsi itu bisa jadi ajang kontribusi nyata kita buat masyarakat loh. Isu yang diangkat kampus kita ini kan sebenernya terkait sama penaikan derajat masyarakat terutama kalangan bawah yank."

"Iya sih tapi ya gimana ya, aku nggak berpikir sejauh itu sih, kalau kamu mah emang mikirnya begitu mulu kan."

"Ya kan tujuan aku kuliah disini untuk itu salah satunya."

"Haha udah ah, nggak usah dibahas. Yang penting sekarang aku udah mau wisuda, dan kamu jadi pendamping wisudawan nanti ya."

"Oke deh sayang."

Hambar. Itu yang bisa ane gambarkan. Hubungan ane dan Sofi udah cukup lama, tapi ya stagnan. Gitu-gitu aja. Banyak perbedaan yang nyata diantara pola pikir kami. Tapi yaitu tadi, ane masih penasaran untuk menggali lebih jauh potensi anak ini. 

"Eh udah magrib nih, kolam mesti tutup. Pasang alarm peringatan dulu Ja."

"Oke."

Lalu ane menekan tombol alarm peringatan dari ruang operator buat memperingatkan para pengunjung kolam untuk menyelesaikan kegiatannya di kolam renang. Satu persatu pengunjung naik dan menuju kamar bilas, ada juga yang langsung handukan kemudian ganti baju kemudian keluar area. Pengunjung selalu tampak puas, apalagi ditambah dengan atraksi-atraksi tertentu yang ane idekan beberapa waktu lalu. Biasanya atraksi ini berlangsung di akhir pekan. 

"Aku masuk dulu ya, mau ganti baju dulu." Kata Sofi sambil menunjuk ruang ganti staff.

"Oke yank." Kata ane.

Disitu ane iseng pas dia diruang ganti, ane mau masuk.  Mumpung dikolam ini udah nggak ada orang sama sekali karena penjaga kolam sedang di perintahkan untuk kerumah Sofi oleh kakaknya. Rencana berjalan mulus. Ane berhasil mengagetkan dia yang waktu itu hanya memakai bra dan celana panjang, tanpa kaos dan kerudung.

Diluar dugaan, ane pikir dia akan marah besar, ternyata dia cuma kaget, ketawa dan mencubit ane dengan keras dilengan. Sakit sih, tapi lumayan bisa liat daleman Sofi selewat. Haha. Kulit putihnya terlihat jelas ditubuhnya. Dia memakai bra hitam waktu itu. Dan benar banget dugaan ane, gunung kembar Sofi ukurannya masif walaupun nggak segede punya Keket. Hehe. Rambutnya lurus dan dipotong sebahu. 

"Kamu nakal ya yank. Hehe. Keluar dong ah, malu aku." Katanya sambil mencubit lengan ane.

"Haha. Kan mau surprise yank." 

"Mau ngagetin aku, apa mau mesum? Hehe." 

"Ya mesum lah, ngapain lagi. Kan udah kosong. Hehehe."

"Yeee, maunya kamu mah. Udah, mau keluar ga? Kalau nggak aku ngambek sama kamu." Katanya mengancam.

"Oke-oke sayang. Haha. Maaf ya." Kata ane.

"Sanaaaa." Katanya sembari tertawa kecil. 

Lalu ane menunggu di depan ruang ganti staf, ada sofa kecil tapi empuk buat didudukin. Ane pernah juga ketiduran di sofa itu saking nyamannya. Haha. Nggak lama Sofi keluar dan udah berpakaian lengkap. Dia duduk disamping ane dan meminum kopi yang udah ane buatkan barusan. 

"Yank, aku senang deh ngejalanin hubungan ini sama kamu." Kata Sofi.

"Oh iya? Aku juga yank. Seru. Tapi emang kadang kita suka ribut-ribut nggak penting sih. Hehe. Udah mana kalau kamu kalah langsung ngambek, diemin aku aja terus yank haha." Kata ane.

"Iya abisnya kamu tuh susah banget argumennya dibantah. Heran deh." Katanya sambil memonyongkan bibir.

"Lah kan aku ngomong berdasarkan fakta dan termasuk ilmiah argumennya. Nggak asal-asalan yank. Hehe."

"Iya iya Mr. Smart. Kamu tuh ya emang deh." 

"Yank, kamu suka kangen nggak sih kalau lagi ngambek sama aku berhari-hari gitu?”

"Kangen, tapi aku tahan aja, biar kamu penasaran. Hehe."

"Oh gitu? Wah ini sih ngerjain namanya ya. Awas ntar aku bales kamu ya. Hehe." 

Lalu perbincangan ringan kami lebih banyak ngomongin adik-adik kelas yang rencananya bakal jadi kandidat pengurus himpunan, padahal si Sofi ini nggak pernah masuk jadi pengurus himpunan. Perbincangan kami kemudian terdiam agak lama, ane bingung mau ngebahas apaan lagi. Ruang operator juga semakin dingin karena AC nya belum dimatikan. Lalu entah gimana ceritanya ane malah duduk makin mepet sama Sofi dan Sofi juga mendekat ke ane.

"Eh yank, kamu tu belum pernah ciuman ya?" Tanya ane iseng.

"Belum yank. Kok nanya kayak gitu sih? Aku bakal kasih kalau orang itu ngasih kepastian."

"Kepastian gimana yank?"

"Kepastian kalau dimasa depan mau nikahin aku."

"Wah jauh amat kamu mikirnya yank."

"Ya nggak apa-apa, namanya juga buat masa depan yang lebih baik."

"Tapi sayang tau kalau nggak pernah nyoba. Pengalaman jadi nol. Kan nggak asik ntar sama si calon suami kalau nggak ngerti ciuman gitu. Haha."

"Iya sih, tapi aku mau coba bertahan aja yank. Kamu emang nggak mau jadi calon suami aku?"

"Mau tapi masih lama sayang. Kita masih muda-muda, sayang aja kalau pikirannya nikah-nikah melulu. Kayak kamu udah susah-susah kuliah, ya rasain dulu pengalaman kerja sebelum memutuskan buat nikah. Karena nggak semua cowok membolehkan istrinya buat kerja. Sedangkan ilmu kamu sayang kalau nguap gitu aja setelah lulus kan?”

"Jodoh kan nggak ada yang tau yank."

"Ya emang, tapi seenggaknya ya dinikmatin aja dulu selagi masih muda kan."

"Iya sih yank tapi aku takut aja kalau ternyata nanti ngecewain."

"Kita nggak pernah tau kalau kita nggak coba dulu yank."

"Hhmm..gitu ya yank."

Kami kemudian terdiam lamaaa banget. Bingung lagi mau bahas apaan. Tiba-tiba Sofi mendekatkan mukanya ke ane, dan ane pun merespon dengan mendekatkan muka ane ke dia.

"Salah yank ini kayak gini." Tiba-tiba Sofi menjauh dari ane.

"Iya maaf."

"Kamu mau tapi?”

"Aku sih mau coba, kamu?"

"Aku belum pernah kayak gini Ja sebelumnya."

"Yaudah rileks aja sayang. Nggak usah mikir gimana-gimana oke?”

"Hmm oke. Aku malu Ja. Hehe."

"Ya nggak apa-apa, ngapain malu?”

Lalu Sofi yang maju duluan akhirnya. Dia langsung menyentuh bibir ane dengan bibirnya. Kaku banget. Namanya baru pertama kali. Nggak ada gerakan sama sekali. Diam doang. Haha. Lalu ane yang inisiatif melakukan pergerakan. Akhirnya Sofi mengikuti. Eh lama kelamaan malah dia yang pegang kendali.

"Ini salah banget Ja." Sofi tiba-tiba menyudahi dan kemudian menangis.

"Kan dibilang jangan mikir gimana-gimana."

"Iya tapi ngerasa bersalah banget. Aku malah ngasih ciuman pertama aku bukan ke suami aku."

"Aduh udah deh Sof, jangan mikir kejauhan, kamu nikmatin masa muda kamu dulu yank."

"Iya tapi tetap aja hatinya rasanya nggak enak yank."

"Maafin aku sayang. Tapi beneran deh, kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh yank."

"Hhmmm..iya, aku sih ngerasa enak, tapi aku juga ngerasa salah yank."

"Udah, buang jauh-jauh rasa salah kamu."

"Iya sayang. Maafin aku." Lalu dia memeluk ane erat.

"Iya yank. Nggak usah ngerasa salah, cobain aja mumpung masih muda. Oke yank?" Kata ane sambil tersenyum kemudian mengelus kepalanya yang tertutup kerudung.

Tiba-tiba Sofi balik lagi ke pangkuan ane. Ane sempat kaget, tapi yaudah dia posisinya udah di pangkuan ane dan kemudian dia mulai duluan. Hahaha. Kami cukup lama berciuman dan dia sangat suka french kiss ternyata. Bermain dengan lidah katanya seru. Laaaah. Jadi nagih dia. Haha.

"Neng.........." Suara laki laki yang lembut tiba-tiba mengagetkan ane dan Sofi.

Ane dan Sofi panik dan shock karena suara tersebut. Suara itu datang dari dinding luar ruang operator. Jadi, ruang operator ini terhubung langsung dengan bagian luar gedung, dimana terdapat tempat parkir untuk mobil. Ruang operator ini menghadap ke tempat parkir tersebut dan menghadap kedalam hall gedung, jadi ada dua sisi. Di sisi yang menghadap tempat parkir terdapat kaca gelap yang berfungsi untuk memonitor parkiran. Belum ada cctv saat itu di kolamnya. Disebelah kaca besar ini ada pintu sebagai akses masuk staf dari luar. Ane dikode untuk masuk keruang ganti. Sementara Sofi keluar menemui orang itu. Agak lama Sofi berbincang dengan orang itu.

Sofi kemudian masuk lagi dan menyuruh ane keluar. Ane melihat dia menangis.

"Gimana Sof?”

"Dia liat kita Ja."

"Terus? Dia siapa ya?"

"Dia sepupu aku yang megang panti asuhan."

Mati. Orang-orang konservatif kayak gitu biasanya reseknya minta ampun. Mungkin bisa diceramahin berhari-hari nanti si Sofi mengenai surga dan neraka.

"Katanya apa lagi?”

"Kata dia, aku udah bikin malu keluarga. Tapi dia nggak akan bilang ke nyokap atau kakak-kakak aku. Dia cuma bilang jangan diulangin lagi."

"Hoo mungkin karena dia masih muda kali ya?"

"Dia umurnya 3 tahun dibawah kita. Iya mudah-mudahan, dia ngerti hasrat anak muda gimana, dan walaupun agamis dia masih bisa memaklumin."

"Maafin aku sayang."

"Aku ngerasa bersalah banget Ja. Kalau gini terus, mending kita udahan aja ya."

"Eeeh jangan dong. Masa gini aja terus bubar?"

"Kamu emang mau apa lagi? Kan udah dapet ciuman dari aku?"

"Yeh, aku macarin kamu nggak cuma mau gitu doang kali yank."

"Terus apa?"

"Ya menangin hati kamu sepenuhnya lah, aku seriusin."

"Beneran?”

"Ya bener, ngapain aku susah-susah pedekate, lama, terus ngejalanin ini sejauh ini sama kamu."

"Hmm iya yank. Maafin aku udah mikir jelek sama kamu."

Lalu ane peluk dia lagi yang masih menangis. Dari ciuman pertama kali dengan Sofi ini, barulah rasa sayang ane semakin bertambah. Aduh makin ruwet aja ini. Yang Ara dan Harmi dikurangin. Eh yang Sofi malah bertambah. Ini kapan 100% buat Keketnya? Bingung.

Diubah oleh yanagi92055 20-09-2019 10:55
sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.