- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/20/10668384_20200520011303.jpg)
Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.
Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.
Spoiler for INDEX:
Spoiler for "You":
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for Peraturan:
Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.
Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
466.5K
4.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#1651
Pergi Agak Jauh_Part 3
Paginya Ara ngebangunin ane. Sekalian mau sarapan. Wajahnya udah sumringah lagi kayak biasanya. Ternyata dia udah mandi. Yaudah ane habisin dulu sarapannya dan kemudian mandi. Selesai mandi, Ara ngajak jalan-jalan, katanya dia juga mau nyobain naik MRT yang stasiunnya nggak begitu jauh dari homestay ane. Ane dan Ara kemudian berjalan kaki ke stasiun MRT terdekat.
"Ja gue mau naik MRT, di Indonesia kapan adanya ya?"
"Kapan-kapan Ra. Haha. Ngurusin pemberantasan korupsi aja nggak kelar-kelar, apalagi ngebangun infrastruktur canggih kayak gini. Gue pernah denger ada isu untuk ngebangun, tapi gue nggak yakin bakal kelaksana dengan baik."
"Yah, positif aja dulu kali mikirnya Ja. Kali aja pemerintah bisa ngewujudin moda transportasi yang baik buat rakyatnya."
"Yah berdoa aja. Sekarang transportasi yang paling banyak dipake kayak kereta aja kondisinya begitu banget, biar kata udah nggak ada lagi kereta ekonomi atau kereta jarak jauh yang penumpangnya pada diri, ya tetap aja belum maksimal fasilitasnya kan. Tapi gue apresiasi sih Ra. ada kemajuan."
"Kadang itu masyarakat kita juga sih yang susah diatur, yang bikin fasilitas yang ada jadi nggak bisa dimaksimalin. Hidup di Indonesia itu kebanyakan suka-sukanya masyarakatnya, kebiasaan jadi orang kaya kali ya, negeri itu kan negeri kaya, makanya mental sebagian orangnya jadi macem anak tajir yang maunya enaknya doang. Hahaha."
"Iya bener Ra. Gue juga mikirnya gitu. Yang mesti diubah itu ya pola pikirnya. Jangan kebanyakan manja, terus taatin aturan. Buktinya orang-orang Indo yang ada disini bisa kok diatur dan tunduk sama aturan setempat yang ada."
"Iya Ja. Bisa kok sebenernya nurut, asalkan ditegasin aja. Terus penegak hukumnya ya negakin hukum yang bener, jangan silau sama harta. Ahahaha."
"Nah itu dia tu Ra, gampang bener kalau ada duit ya. Tapi kayaknya semua negara jugq gitu sih, cuma nggak di ekspos aja, kita taunya dari negara lain kan cuma berita-berita yang bagus aja, yang jelek-jelek jarang banget keekspos. Haha."
Obrolan hangat Ara dan ane membuat ane sangat nyaman. Pengetahuan Ara semakin luas karena jaringannya pun semakin luas. Hebat anak ini. Bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Tanpa bantuan dan embel-embel orangtua yang tajir, atau koneksi-koneksi yang biasa disebut orang dalam. Dia benar-benar berjuang dari nol. Harusnya sih, banyak cowok yang seneng sama anak ini.
Ara bukan model cewek-cewek tajir yang semuanya bisa didapet dengan asal sebut kemudian dengan uang orangtuanya langsung terkabul. Ane pribadi juga kurang suka cewek model gini. Percuma cakep dan tajir kalau nggak bisa apa-apa. Malah kesannya jadi gobl*k ane liatnya. Menang tajir duit bapaknya, dan kalau bapaknya udah wafat kebingungan nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Hahaha. Contohnya, cewek-cewek cakep tajir instagram yang followersnya banyak, yang cuma posting foto selfie dengan caption absurd, tapi likenya banyak dan komen-komennya muji-muji. Halunya ketinggian ini para followersnya. Coba si cewek-cewek ini suruh struggling macem Ara? Kalau nggak mencret-mencret ditengah jalan. Hahaha.
"Itu udah sampai kita Ja. Asyik pengalaman pertama nih gue naik ginian. Haha."
"Pasti asyik banget Ra."
"Ayo Ja."
Ara menggandeng tangan ane untuk menuju lebih cepat ke stasiun MRT. Stasiunnya keren banget dan luar biasa bersih. Ane sempat membuat foto-foto dan juga memfoto Ara sebagai modelnya. Anak ini manis banget kalau backgroundnya juga bagus dan bersih. Haha. Kemudian kami naik MRT dan sepanjang perjalanan Ara terus aja nyerocos. Tapi ane menikmati setiap detik bareng dia ketika itu.
--
Nggak kerasa kami udah balik lagi ke stasiun awal dan kemudian turun. Ara sangat senang. Karena masih pagi kami kembali jalan-jalan. Kali ini menyusuri jalan yang banyak gedung perkantorannya. Disana juga banyak tersedia wifi gratisan ternyata.
"Nanti kita mau manggung dimana lagi Ja?”
"Ya tergantung lo maunya masukin kita ke acara apaan."
"Maksud gue, kita mau coba manggung dinegara mana lagi?"
"Jepang Ra Jepang. Hehehe."
"Gue usahain ya Ja. Mudah-mudahan aja ada jalan."
"Amiiin. Kalau kita bisa kesana, wah seru banget pasti."
Kami sampai di homestay dan anak-anak pada nyariin ane dan Ara.
"Lo berdua kemana sih kita cariin nggak ada dari pagi."
"Jalan-jalan dong. Makanya pada bangun pagi jadi orang. Haha." Ledek Ara.
"Yee, Ija mah enak, dibangunin sama lo, dikasih servis juga kali ya. Lah kita nggak ada yang bangunin. Yang bangun duluan malah pusaka kita sendiri-sendiri. Hahaha." Kata Arko.
"Eh itu sih DL namanya Ko. Haha." Kata ane.
Lalu kami ngobrol-ngobrol di hall homestay dan bertemu anak-anak band dari Indonesia lainnya. Ujungnya kami berfoto bersama-sama dan setelah kembali ke Indonesia mau coba ngadain kolaborasi dan mengundang band-band lain di Indonesia untuk berpartisipasi. Kan enak jadi ngebangun komunitas baru yang seru.
"Din, di Indo lo tinggal dimana?" Tanya ane ke salah satu dancer di band unik dari Indonesia, namanya Dinar.
"Gue sih di Jakarta, kadang di Bogor kadang di Bandung. Gue masih SMA Ja. Kalau lo?"
"Gue jauh banget, di pedesaan. Kuliahnya juga gitu. beda level sama lo lah Din."
"Haha kuliah ada lagi level-levelan. Emang lo kuliah dimana?" Tanya Dinar.
Ane menyebutkan universitas tempat ane menimba ilmu dan kemudian Dinar sempat agak terkejut.
"Seriusan lo? Gila. Bisa ya lo ngebagi otak lo. Haha. Hebat lo Ja."
"nggak gitu juga sih. Kami berempat di band itu ngeband ya biar nggak stres karena kuliah kami yang geblek dan nguras otak itu Din. Haha."
Lalu ane menyebutkan dimana aja anggota band ane bersekolah. Dinar makin kaget.
"Buset, ini sih super amat. Haha. Jarang loh anak band yang sekolahnya beres. Banyakan berantakan karena fokusnya lebih ke musik. Dan jurusannya juga nggak yang berat-berat gitu juga Ja."
"Iya beberapa yang pernah gue kasih tau juga kaget, tapi ya kalau nggak gini kami bisa gila Din. Hahaha."
"Eh gue minta nomor Indo lo dong Ja. Kali kita bisa ketemu lagi dilain waktu."
"Oke, ini nomor gue. 08xxxx "
"Sekarang sini gue kasih nomor gue ke lo."
"Nih ketik aja di HP gue din."
Lalu ane bergabung kembali dengan teman-teman band untuk mohon pamit karena mau ketemu sama Harmi. Ito mengiyakan karena kemarin sudah mendengar percakapan kami. Lagi-lagi Ara menghilang.
"Ra kok lo udah dikamar lagi aja? Lo sakit lagi?”
"Nggak apa-apa Ja."
"Gue mau ijin dulu ya, ada Harmi disini ternyata. Gue mau ketemu dulu sama dia Ra."
"Oke, hati-hati ya dijalan Ja."
Ane lalu mendekat ke Ara dan kemudian berbisik.
"Ara, maafin gue ya. Maaf banget."
Ara hanya mengangguk dan kemudian tersenyum dan memegang pipi ane.
"Yaudah gih, jalan aja dulu ya."
--
Ane jalan-jalan sama Harmi dengan hati yang nggak karuan. Ane have fun sama Harmi, tapi ane juga mikirin perasaan Ara. Ane pun bingung dengan perasaan ane sendiri. Kenapa jadi mikirin Ara lagi sih? Ada apa sama dia. Kenapa ane jadi kepikiran dia terus.
Setelah makan siang ane diajak ke apartemen sepupu Harmi yang letaknya di lokasi premium yang mahalnya amit-amit pasti propertinya. Ane disambut oleh sepupunya. Namanya Rozi. Dia menetap disini sejak SMP katanya, dia seumuran sama ane. Kemudian ane masuk ke apartemennya yang bergaya skandinavian, banyak ornamen putih didalamnya, membuat apartemen ini segar banget dan nyaman buat ditinggalin.
"Ja, lo disini dulu aja ya, gue ada janji sama temen gue dulu. Lo jagain Harmi ya." Kata Rozi.
"Heh, gue udah gede ngapain dijagain." Kata Harmi.
"Haha kali aja lo mau terjun dari lantai paling atas." Kata Rozi asal.
"Haha gile juga si Harmi kalau beneran." Kata ane.
"Dia anaknya nekat Ja. Hati-hati aja. Udah ya gue cabut dulu." Kata Rozi kemudian keluar dan menghilang dibalik pintu.
"Well, kita mau ngapain disini?” kata ane.
"Ya lo main game kek atau apa gitu kak, anggep aja apartemen lo sendiri." Kata Harmi.
"Lah, mana bisa gitu Mi. Haha. Nggak enak lah gue."
Ane dan Harmi memilih untuk nonton film. Ada televisi LED mungkin 60 inch kali ya, lengkap dengan perangkat home theaternya. Ane dan Harmi memilih nonton horor. Seru juga ya nonton di rumah sendiri kayak gini.
"Kak gue takut."
"Yaudah, mau udahan aja?"
"Eh nggak usah, kan ada lo ini jadi ada yang nemenin. Hehe." Kata Harmi manja.
"Hadeh Mi, bilang aja mau gelendotan sama gue lo. Haha. Yaudah sini."
"Iya kak, tau aja lo."
Ane dan Harmi melanjutkan sampai 2 film dan Rozi belum juga pulang. Harmi yang bosan akhirnya melakukan tingkah aneh. Dia menelpon Rozi dan katanya dia akan kembali dalam 2 jam. Kesorean ini mah ane bisa-bisa. Kemudian Harmi membuka semua pakaiannya dan tiba-tiba langsung duduk dipangkuan ane.
"Gimana kak, asyik nggak pemandangannya?”
"Apaan sih Mi? Aduh lo gila banget deh. Ntar kalau Rozi tiba-tiba pulang gimana?"
"Gue udah mastiin dia masih lama baliknya. Lo liat aja ya, diem disitu."
Kemudian Harmi seperti memperagakan goyangan dan lekuk lekuk tubuhnya berasa kayak stripper. Edan, si rocky otomatis tegang dong. Tapi ane diam aja nggak berani ngapa-ngapain. Aksi striptis tanpa musik ini kemudian dilanjutkan dengan membuka celana ane. Agak sempit celana jeans ane, jadi Harmi juga agak repot buat ngebukanya. Haha. Dia kemudian mulai mengulum si rocky, dengan lembut, tapi ane tau ini bukan pakai hati, lebih ke nafsu. Gila nih. Sensasinya gokil banget si Harmi makin hari. Hahaha. Setelahnya ya udah pada tau pasti, 3 apa 4 ronde kami selesaikan dengan prosesi memasukkan calon penerus bangsa ke tenggorokan Harmi. Kami ketiduran karena mungkin capek. Untung udah sempat pakai baju dulu. Karena pas bangun tau-tau Rozi udah di dalam dan cuma cengar cengir doang. Lalu ane pamit sama Harmi dan Rozi. Ane bilang sampai ketemu lagi nanti dikampus.
Hari kepulangan kami ke tanah air tiba, semua barang pribadi dan peralatan band sudah siap dibawa. Kami menunggu mobil carteran mengangkut kami. Sekitar 10 menitan kami sudah sampai bandara. Perjalanan yang menyenangkan banget menurut ane, anak-anak termasuk Ara juga merasakan hal yang sama, bahkan Ara sangat termotivasi buat mendorong kami bikin full album, agar bisa lebih memudahkan dia mengajukan proposal ke acara-acara didalam maupun luar negeri.
Sesampainya di Bandara Soetta, kami saling berpelukan dan salaman sebelum berpisah kerumah masing-masing. Ane dijemput Pak Min, dan Ara ikut ane sekalian ane antar pulang.
"Ja, gue bahagia banget deh."
"Makasih banyak ya Ra. Pengalaman ini keren banget buat gue Ra."
"Iya, sama-sama Ja."
Obrolan kami yang ringan-ringan malah berakhir dengan ciuman yang lumayan lama, dan pakai hati. Ane tau Pak Min ngeliat aktivitas kami dibelakang dari spion tengah, tapi ane memilih bodo amat. Toh pak Min juga udah kenal Ara dari lama. Hehehe.
"Ija, gue tau perasaan lo tumbuh lagi ke gue." Kata Ara lembut.
"Nggak tau Ra." Kata ane.
Ara dan ane hanya bertatapan lalu kemudian tersenyum.
"Ja gue mau naik MRT, di Indonesia kapan adanya ya?"
"Kapan-kapan Ra. Haha. Ngurusin pemberantasan korupsi aja nggak kelar-kelar, apalagi ngebangun infrastruktur canggih kayak gini. Gue pernah denger ada isu untuk ngebangun, tapi gue nggak yakin bakal kelaksana dengan baik."
"Yah, positif aja dulu kali mikirnya Ja. Kali aja pemerintah bisa ngewujudin moda transportasi yang baik buat rakyatnya."
"Yah berdoa aja. Sekarang transportasi yang paling banyak dipake kayak kereta aja kondisinya begitu banget, biar kata udah nggak ada lagi kereta ekonomi atau kereta jarak jauh yang penumpangnya pada diri, ya tetap aja belum maksimal fasilitasnya kan. Tapi gue apresiasi sih Ra. ada kemajuan."
"Kadang itu masyarakat kita juga sih yang susah diatur, yang bikin fasilitas yang ada jadi nggak bisa dimaksimalin. Hidup di Indonesia itu kebanyakan suka-sukanya masyarakatnya, kebiasaan jadi orang kaya kali ya, negeri itu kan negeri kaya, makanya mental sebagian orangnya jadi macem anak tajir yang maunya enaknya doang. Hahaha."
"Iya bener Ra. Gue juga mikirnya gitu. Yang mesti diubah itu ya pola pikirnya. Jangan kebanyakan manja, terus taatin aturan. Buktinya orang-orang Indo yang ada disini bisa kok diatur dan tunduk sama aturan setempat yang ada."
"Iya Ja. Bisa kok sebenernya nurut, asalkan ditegasin aja. Terus penegak hukumnya ya negakin hukum yang bener, jangan silau sama harta. Ahahaha."
"Nah itu dia tu Ra, gampang bener kalau ada duit ya. Tapi kayaknya semua negara jugq gitu sih, cuma nggak di ekspos aja, kita taunya dari negara lain kan cuma berita-berita yang bagus aja, yang jelek-jelek jarang banget keekspos. Haha."
Obrolan hangat Ara dan ane membuat ane sangat nyaman. Pengetahuan Ara semakin luas karena jaringannya pun semakin luas. Hebat anak ini. Bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Tanpa bantuan dan embel-embel orangtua yang tajir, atau koneksi-koneksi yang biasa disebut orang dalam. Dia benar-benar berjuang dari nol. Harusnya sih, banyak cowok yang seneng sama anak ini.
Ara bukan model cewek-cewek tajir yang semuanya bisa didapet dengan asal sebut kemudian dengan uang orangtuanya langsung terkabul. Ane pribadi juga kurang suka cewek model gini. Percuma cakep dan tajir kalau nggak bisa apa-apa. Malah kesannya jadi gobl*k ane liatnya. Menang tajir duit bapaknya, dan kalau bapaknya udah wafat kebingungan nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Hahaha. Contohnya, cewek-cewek cakep tajir instagram yang followersnya banyak, yang cuma posting foto selfie dengan caption absurd, tapi likenya banyak dan komen-komennya muji-muji. Halunya ketinggian ini para followersnya. Coba si cewek-cewek ini suruh struggling macem Ara? Kalau nggak mencret-mencret ditengah jalan. Hahaha.
"Itu udah sampai kita Ja. Asyik pengalaman pertama nih gue naik ginian. Haha."
"Pasti asyik banget Ra."
"Ayo Ja."
Ara menggandeng tangan ane untuk menuju lebih cepat ke stasiun MRT. Stasiunnya keren banget dan luar biasa bersih. Ane sempat membuat foto-foto dan juga memfoto Ara sebagai modelnya. Anak ini manis banget kalau backgroundnya juga bagus dan bersih. Haha. Kemudian kami naik MRT dan sepanjang perjalanan Ara terus aja nyerocos. Tapi ane menikmati setiap detik bareng dia ketika itu.
--
Nggak kerasa kami udah balik lagi ke stasiun awal dan kemudian turun. Ara sangat senang. Karena masih pagi kami kembali jalan-jalan. Kali ini menyusuri jalan yang banyak gedung perkantorannya. Disana juga banyak tersedia wifi gratisan ternyata.
"Nanti kita mau manggung dimana lagi Ja?”
"Ya tergantung lo maunya masukin kita ke acara apaan."
"Maksud gue, kita mau coba manggung dinegara mana lagi?"
"Jepang Ra Jepang. Hehehe."
"Gue usahain ya Ja. Mudah-mudahan aja ada jalan."
"Amiiin. Kalau kita bisa kesana, wah seru banget pasti."
Kami sampai di homestay dan anak-anak pada nyariin ane dan Ara.
"Lo berdua kemana sih kita cariin nggak ada dari pagi."
"Jalan-jalan dong. Makanya pada bangun pagi jadi orang. Haha." Ledek Ara.
"Yee, Ija mah enak, dibangunin sama lo, dikasih servis juga kali ya. Lah kita nggak ada yang bangunin. Yang bangun duluan malah pusaka kita sendiri-sendiri. Hahaha." Kata Arko.
"Eh itu sih DL namanya Ko. Haha." Kata ane.
Lalu kami ngobrol-ngobrol di hall homestay dan bertemu anak-anak band dari Indonesia lainnya. Ujungnya kami berfoto bersama-sama dan setelah kembali ke Indonesia mau coba ngadain kolaborasi dan mengundang band-band lain di Indonesia untuk berpartisipasi. Kan enak jadi ngebangun komunitas baru yang seru.
"Din, di Indo lo tinggal dimana?" Tanya ane ke salah satu dancer di band unik dari Indonesia, namanya Dinar.
"Gue sih di Jakarta, kadang di Bogor kadang di Bandung. Gue masih SMA Ja. Kalau lo?"
"Gue jauh banget, di pedesaan. Kuliahnya juga gitu. beda level sama lo lah Din."
"Haha kuliah ada lagi level-levelan. Emang lo kuliah dimana?" Tanya Dinar.
Ane menyebutkan universitas tempat ane menimba ilmu dan kemudian Dinar sempat agak terkejut.
"Seriusan lo? Gila. Bisa ya lo ngebagi otak lo. Haha. Hebat lo Ja."
"nggak gitu juga sih. Kami berempat di band itu ngeband ya biar nggak stres karena kuliah kami yang geblek dan nguras otak itu Din. Haha."
Lalu ane menyebutkan dimana aja anggota band ane bersekolah. Dinar makin kaget.
"Buset, ini sih super amat. Haha. Jarang loh anak band yang sekolahnya beres. Banyakan berantakan karena fokusnya lebih ke musik. Dan jurusannya juga nggak yang berat-berat gitu juga Ja."
"Iya beberapa yang pernah gue kasih tau juga kaget, tapi ya kalau nggak gini kami bisa gila Din. Hahaha."
"Eh gue minta nomor Indo lo dong Ja. Kali kita bisa ketemu lagi dilain waktu."
"Oke, ini nomor gue. 08xxxx "
"Sekarang sini gue kasih nomor gue ke lo."
"Nih ketik aja di HP gue din."
Lalu ane bergabung kembali dengan teman-teman band untuk mohon pamit karena mau ketemu sama Harmi. Ito mengiyakan karena kemarin sudah mendengar percakapan kami. Lagi-lagi Ara menghilang.
"Ra kok lo udah dikamar lagi aja? Lo sakit lagi?”
"Nggak apa-apa Ja."
"Gue mau ijin dulu ya, ada Harmi disini ternyata. Gue mau ketemu dulu sama dia Ra."
"Oke, hati-hati ya dijalan Ja."
Ane lalu mendekat ke Ara dan kemudian berbisik.
"Ara, maafin gue ya. Maaf banget."
Ara hanya mengangguk dan kemudian tersenyum dan memegang pipi ane.
"Yaudah gih, jalan aja dulu ya."
--
Ane jalan-jalan sama Harmi dengan hati yang nggak karuan. Ane have fun sama Harmi, tapi ane juga mikirin perasaan Ara. Ane pun bingung dengan perasaan ane sendiri. Kenapa jadi mikirin Ara lagi sih? Ada apa sama dia. Kenapa ane jadi kepikiran dia terus.
Setelah makan siang ane diajak ke apartemen sepupu Harmi yang letaknya di lokasi premium yang mahalnya amit-amit pasti propertinya. Ane disambut oleh sepupunya. Namanya Rozi. Dia menetap disini sejak SMP katanya, dia seumuran sama ane. Kemudian ane masuk ke apartemennya yang bergaya skandinavian, banyak ornamen putih didalamnya, membuat apartemen ini segar banget dan nyaman buat ditinggalin.
"Ja, lo disini dulu aja ya, gue ada janji sama temen gue dulu. Lo jagain Harmi ya." Kata Rozi.
"Heh, gue udah gede ngapain dijagain." Kata Harmi.
"Haha kali aja lo mau terjun dari lantai paling atas." Kata Rozi asal.
"Haha gile juga si Harmi kalau beneran." Kata ane.
"Dia anaknya nekat Ja. Hati-hati aja. Udah ya gue cabut dulu." Kata Rozi kemudian keluar dan menghilang dibalik pintu.
"Well, kita mau ngapain disini?” kata ane.
"Ya lo main game kek atau apa gitu kak, anggep aja apartemen lo sendiri." Kata Harmi.
"Lah, mana bisa gitu Mi. Haha. Nggak enak lah gue."
Ane dan Harmi memilih untuk nonton film. Ada televisi LED mungkin 60 inch kali ya, lengkap dengan perangkat home theaternya. Ane dan Harmi memilih nonton horor. Seru juga ya nonton di rumah sendiri kayak gini.
"Kak gue takut."
"Yaudah, mau udahan aja?"
"Eh nggak usah, kan ada lo ini jadi ada yang nemenin. Hehe." Kata Harmi manja.
"Hadeh Mi, bilang aja mau gelendotan sama gue lo. Haha. Yaudah sini."
"Iya kak, tau aja lo."
Ane dan Harmi melanjutkan sampai 2 film dan Rozi belum juga pulang. Harmi yang bosan akhirnya melakukan tingkah aneh. Dia menelpon Rozi dan katanya dia akan kembali dalam 2 jam. Kesorean ini mah ane bisa-bisa. Kemudian Harmi membuka semua pakaiannya dan tiba-tiba langsung duduk dipangkuan ane.
"Gimana kak, asyik nggak pemandangannya?”
"Apaan sih Mi? Aduh lo gila banget deh. Ntar kalau Rozi tiba-tiba pulang gimana?"
"Gue udah mastiin dia masih lama baliknya. Lo liat aja ya, diem disitu."
Kemudian Harmi seperti memperagakan goyangan dan lekuk lekuk tubuhnya berasa kayak stripper. Edan, si rocky otomatis tegang dong. Tapi ane diam aja nggak berani ngapa-ngapain. Aksi striptis tanpa musik ini kemudian dilanjutkan dengan membuka celana ane. Agak sempit celana jeans ane, jadi Harmi juga agak repot buat ngebukanya. Haha. Dia kemudian mulai mengulum si rocky, dengan lembut, tapi ane tau ini bukan pakai hati, lebih ke nafsu. Gila nih. Sensasinya gokil banget si Harmi makin hari. Hahaha. Setelahnya ya udah pada tau pasti, 3 apa 4 ronde kami selesaikan dengan prosesi memasukkan calon penerus bangsa ke tenggorokan Harmi. Kami ketiduran karena mungkin capek. Untung udah sempat pakai baju dulu. Karena pas bangun tau-tau Rozi udah di dalam dan cuma cengar cengir doang. Lalu ane pamit sama Harmi dan Rozi. Ane bilang sampai ketemu lagi nanti dikampus.
Hari kepulangan kami ke tanah air tiba, semua barang pribadi dan peralatan band sudah siap dibawa. Kami menunggu mobil carteran mengangkut kami. Sekitar 10 menitan kami sudah sampai bandara. Perjalanan yang menyenangkan banget menurut ane, anak-anak termasuk Ara juga merasakan hal yang sama, bahkan Ara sangat termotivasi buat mendorong kami bikin full album, agar bisa lebih memudahkan dia mengajukan proposal ke acara-acara didalam maupun luar negeri.
Sesampainya di Bandara Soetta, kami saling berpelukan dan salaman sebelum berpisah kerumah masing-masing. Ane dijemput Pak Min, dan Ara ikut ane sekalian ane antar pulang.
"Ja, gue bahagia banget deh."
"Makasih banyak ya Ra. Pengalaman ini keren banget buat gue Ra."
"Iya, sama-sama Ja."
Obrolan kami yang ringan-ringan malah berakhir dengan ciuman yang lumayan lama, dan pakai hati. Ane tau Pak Min ngeliat aktivitas kami dibelakang dari spion tengah, tapi ane memilih bodo amat. Toh pak Min juga udah kenal Ara dari lama. Hehehe.
"Ija, gue tau perasaan lo tumbuh lagi ke gue." Kata Ara lembut.
"Nggak tau Ra." Kata ane.
Ara dan ane hanya bertatapan lalu kemudian tersenyum.
Diubah oleh yanagi92055 11-10-2019 01:33
itkgid dan 24 lainnya memberi reputasi
25
Tutup
Zalina, 95% mirip Tala Ashe
Anin, 85% mirip Beby Cesara
Keket, 95% mirip, ane nggak kenal siapa ini, nemu di google
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043503.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043009.jpg)
Mulustrasi Ara, waktu masih SMA, 96% mirip![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/12/10668384_201909120424500824.png)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/13/10668384_201909130223080915.png)
serta apresiasi cendol