Quote:
Terik matahari siang itu menyengat, aku berpeluh kesah, berkali-kali menyeka dahi yang berkeringat. Satu minggu lagi, bulan ramadhan datang, marhaban ya ramadhan. Dan aku masih tak tahu arah, harus kemana aku melangkah. Aku tidak yakin, untuk pergi ke rumah Paman yang ada di Jawa Timur atau masih menetap disini, entah kemana.
Siang itu jam tanganku sudah menunjuk ke angka dua belas. Aku sudah berjalan jauh meninggalkan kampung halamanku, kini suara adzan memanggil hatiku untuk segera merapat ke masjid.
Masjid Jami Al-Huda, yang terletak di sisi jalan protokol, terlihat begitu ramai jama'ah yang hadir disana. Aku memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam, mengambil air wudhu, berdoa sebisaku. Aku mulai menyesal, kenapa tidak dari dulu aku belajar agama, baca doa wudhu saja tidak bisa, bagaimana nantinya kalau aku jadi imam kelak kalau sudah berkeluarga.
Selesai wudhu, aku bergegas masuk ke dalam, ikut berjamaah. Alhamdulilah, aku masih ingat doa-doa sholat, karena aku sempat menghafal doa-doa tersebut ketika masih kecil dulu.
Tentram, damai, dan tak ada kata lagi yang bisa aku gambarkan ketika itu. Selesai melaksanakan ibadah sholat dzuhur, aku terduduk merenung, meratapi semua kesalahanku, mulai dari menipu orang tua, mabuk, menyakiti hati perempuan, malak, berkelahi, narkoba, dan huru-hara lainnya. Aku berdoa sebisaku, berharap semua doa-doaku dapat terkabul, aku yakin itu.
Satu persatu jamaah sholat dzuhur sudah pulang, tinggal aku dan seorang imam di dalam. Bahkan Imam pun sudah beranjak pergi, dia sedikit menoleh ke arahku berada. Mungkin heran melihatku menangis sedu, berdoa.
Setelah melaksanakan ibadah sholat dzuhur, aku beranjak keluar dari masjid, dan seorang Imam yang tadi, menyapaku dengan hangat. "Sendirian dek?"
Aku menoleh, tersenyum. "Iya," jawabku singkat.
"Dari mana mau kemana?"
"Dari rumah, entah mau pergi kemana sekarang. Aku tidak tahu arah." Aku duduk, memakai sepatu.
"Loh kok tidak tahu?" Imam tadi semakin penasaran.
Akhirnya, ku ceritakan semua kronologiku dari awal sampai aku di usir dari rumah. Imam tersebut menepuk bahuku, prihatin melihatku. Beliau memberikan beberapa saran terhadapku, aku mengangguk, lantas memahami.
***
Matahari kian menyengat, aku kembali melanjutkan perjalanan. Duduk di sisi jalan, menunggu angkutan umun datang, melambaikan tangan, angkutan merapat. Aku lekas masuk ke dalam, beberapa murid berseragam sekolah sudah berbaris rapi duduk di dalam. Aku tidak kebagian tempat duduk, terpaksa berdiri di samping kernet.
Melihat anak sekolah memakai seragam putih abu-abu, mengingatkanku akan masa indah itu. Ketika pertama kali berkenalan dengan Vina. Romantis sih tidak, tapi berkesan, entah apa itu namanya.
Di kelas X.3, Vina merupakan murid yang pandai, bahkan cantik dan pendiam. Kami satu kelas, tapi kami tak pernah saling sapa-menyapa. Dia pemalu, sedangkan aku sendiri, sok gak mau kenal dulu. Bukannya sombong, dulu sewaktu kelas satu, bakat playboy-ku mulai muncul dan membuatku semakin percaya diri. Mungkin ada sekitar tiga-empat cewek yang sedang mendekatiku. Tiga kelas satu, dan yang satunya-kakak kelas.
Keempat cewek tersebut ku tolak mentah-mentah karena memang hanya ada satu perasaan cinta yang terdalam di hatiku saat itu, yakni Vina si gadis pendiam dan kutu buku.
"Gila lo! Lo nolak keempat cewek yang ngajak jalan?" Doni geleng-geleng menatapku aneh.
"Ya, kenapa emang?"
"Dasar, sok ganteng kau." Doni terlihat sebal melihat gayaku.
"Kau iri?"
"Hah, sory ya, gini-gini gue juga masih laku kali!"
"Lah, mana cewekmu itu?" Aku tertawa, meledek.
"Belum saatnya lah, entar juga lo tau." Wajah Doni macam kepiting rebung.
Obrolan yang asyik akan tetapi membosankan, yah itulah Doni, sahabat sebangku. Setiap hari selalu sibuk dengannya. Sampai-sampai aku di bawa masuk ke dalam geng-nya, geng arjuna. Mengenal Roni, bertemu Lisa, dan bertaruh memperebutkan hati gadis tomboy, Putri.
Tapi dari kesemua itu, yang paling berkesan di hati adalah Rahma. Eh, kok Rahma sih, Vina maksudku. Rahma juga cantik, tapi tak sebaik Vina. Dia sosok perempuan yang sempurna di mataku. Sayang kesempurnaan itu berakhir dengan kehancuran. Itu semua jelas kesalahanku.
Pertemuanku dengan Vina tak semudah membalikan telapak tangan. Ada banyak hal konyol yang kadang membuatku tertawa sendiri dalam lamunan. Seperti waktu itu, dia sedang sibuk mencari novel di perpustakaan sekolah. Kebetulan aku sedang mencari buku geografi, dan di sudut perpustakaan yang lumayan sepi, kami saling bersitatap. Vina menarik pandangannya, malu, salah tingkah, kembali mencari novel di rak buku.
"Kamu Vina kan?" Aku berusaha membuka obrolan.
Dia berhenti mencari buku, menoleh ke arahku, "Ya, ada apa Hanafi?"
"Sedang nyari buku apa?"
"Novel Fiksi, kamu sendiri?"
"Buku pelajaran Geografi. Tapi kok gak ketemu ya?" Aku berlagak sok binggung.
"Ye lah, ini kan rak buku khusus novel. Kalau mau cari buku pelajaran, ada di sebelah rak ini."
Alamak! Aku benar-benar dibuat malu di hadapannya, salah tingkah, menggaruk kepala. "Oh, salah ya, maaf, soalnya baru kali ini masuk ke perpus."
"Oh, begitu ya," jawabnya singkat. Tatapannya datar.
Hari itu, aku belum berani mengobrol lebih banyak, masih canggung. Hari kedua sudah berani ber-basa-basi. Hari ketiga sudah berkembang lebih baik. Keempat sudah mulai saling bertegur sapa, dan di hari kelima, aku berusaha memantapkan hati untuk mengajaknya makan malam.
"Vina!" Aku berseru dari depan perpustakan.
Vina terhenti, menoleh ke belakang, lantas wajahnya meng-ekspresikan 'Apa'. Tanpa buang-buang waktu, lari ke arahnya.
"Nanti malam ada acara gak?"
"Nanti malam? Sepertinya belajar deh." Vina tersenyum, kembali berjalan, masuk ke dalam perpustakaan.
"Kan malam minggu?" Aku kembali menggoda, tak mau menyerah.
"Oh ya ya, sampai lupa." Vina menyeringai.
"Makan malam mau gak?"
"Makan malam?" Vina melongo.
"Ya, makan malam?" Aku memastikan, "Mau kan?"
"Ya, boleh." jawab Vina singkat, lekas melempar senyum tipis yang sangat manis.
"Yes!" Aku meluapkan ekspresi keberhasilanku dengan melompat. "Oh ya, kita ketemu dimana? Aku ke rumahmu, atau ketemu langsung di tempat?"
"Tempat aja ya.."
"Kalau di kafe dekat kota, gimana?"
"Boleh. Jam berapa?" tanya Vina, merespon.
"Jam setengah delapan. Oke?"
"Oke." Vina kembali melempar senyum ter-aduhainya saat itu, membuat degup jantung tak beraturan.
Oh..Vina, engkau sekarang sudah membenciku mungkin.
"Hey, anak muda! Kau mau turun dimana?" Kernet angkutan menghancurkan nostalgiaku, padahal sedang dalam waktu yang paling indah.
"Di terminal dekat pasar baru bang." Aku menjawab ketus.
"Mana ongkosnya?" Kernet menagih, macam Pak Ogah saja.
"Iya, iya, sebentar." Aku mengambil beberapa lembar uang dari saku celana.
Angkutan merapat ke tempat tujuanku, yakni terminal bus pasar baru. Jam tangan melingkarku sudah menunjuk ke angka tiga sore, suara adzan sudah berkumandang. Tiga hari lagi menjelang bulan suci ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Sebelum mencari bus, aku menyisahkan waktu untuk sholat di masjid terdekat. Setiap kali aku bersujud, damai dan tentram rasanya hati ini. Galau dan resah tak lagi terasa.
Selepas sholat ashar, aku bersiap diri untuk memesan tiket bus jurusan jawa timur. Bolak-balik, tak pula ku temui bus jurusan jawa timur, kebanyakan jurusan ke jawa tengah. Aku menyeka peluh di dahi, mengambil napas dalam-dalam, kembali melangkah di keramaian warga.
"Pak, numpang tanya, bus jurusan jawa timur kok gak ada ya?" Aku bertanya kepada bapak-bapak yang menjadi petugas parkir di terminal.
"Oh, disini tidak ada dek, kalau mau cari, pergi ke agen saja, pesan dulu."
"Dimana Pak?"
"Adek lurus saja dari sini, belok kanan, kalau ada gang kecil, masuk saja, lurus nanti ada pertigaan, belok kanan lagi, nah disitu." Bapak itu bersemangat menjelaskan detil lokasi.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, dek."
Tekad sudah membulat, ku putuskan untuk pergi ke jawa timur hari ini juga kalau bisa, sebelum uang ini habis. Berjalan mengikuti petunjuk dari bapak tadi. Matahari mulai merosot ke ufuk barat, senja kian datang.
Sial. Di pertigaan jalan gang yang sepi, aku di hadang oleh tiga orang preman bertubuh kekar, dipenuhi rantai dan tato.
"Serahkan uangmu?" Salah satu dari mereka mengancamku menggunakan pisau.
Aku mengundurkan langkah ke belakang, tapi kedua rekannya sudah memagariku. Aku menelan ludah, kalau aku beri semua uangku, nanti rencanaku pergi ke jawa timur gagal dong.
"Hey, jangan bengong, cepat sini, mana uangnya."
"Aku tidak punya uang bang." Aku memasang wajah memelas.
"Geledah celana dan tas-nya," preman itu menyuruh anak buahnya. Berkali-kali merogoh saku celana dan kemeja. Dan saat mereka hendak mengambil tas-ku, aku lekas menendang perut salah satu dari mereka. Aku berusaha lari. Tapi mereka berhasil menangkapku, dan detik itu pula, aku tak berdaya. Mereka memukuliku hingga berdarah-darah, habis itu mereka berhasil kabur membawa uang yang ku taruh di dalam tas. Musnah sudah harapanku untuk bertolak ke Jawa Timur.
Detik itu, aku tak bisa berbuat apa-apa, tubuh ini seakan remuk, tak berdaya, hanya bisa terlentang lemah di aspal. Tapi, aku melihat sesuatu yang ganjil di hadapanku. Seseorang gadis cantik berkerdung, memegang kitab suci, di terpa cahaya senja yang indah. Dia berteriak minta tolong. Aku tidak bisa apa-apa setelah kejadian itu, sepertinya aku tak sadarkan diri.
***
Saat terbangun, aku sudah berada di atas dipan, dengan jarum infus yang menancap ke tangan. Aku berusaha bangun, di sekitar terlihat sosok bibi yang tertidur menungguku. Aku menelan ludah, kenapa bibi bisa ada disini?
"Eh, Den Hanafi sudah sadar." Bibi terbangun, mengucek mata, lekas duduk di sebelahku.
"Bi, dimana aku?"
"Tadi kamu habis di pukuli oleh orang, dan beruntungnya tadi—bibi bertemu dengan seorang gadis yang meminta tolong, ternyata pas bibi lihat, itu Den Hanafi." Bibi menjelaskan kronologinya.
"Gadis?"
"Ya den, dia yang pertama kali menemukan Aden tergeletak lemah di pertigaan gang. Kebetulan tadi bibi habis pulang dari rumah, dan hendak berangkat ke rumah Aden."
"Bi, tolong jangan sampaikan kabar ini ke Ibu ya?" Aku memohon.
"Tapi Den ."
"Bi, aku mohon. Aku tidak ingin, Ibu mengkhawatirkanku."
"Tapi bibi sudah menelpon Ibu tadi, waktu Aden sedang tak sadarkan diri."
"Aduh, lalu bagaimana?" Aku menepuk dahi.
"Awalnya Ibu panik, tapi bibi berusaha menenangkannya, dan katanya, nanti malam Ibu akan datang ke sini."
Selepas kejadian menggerikan itu—yang bisa saja nyawaku tak terselamatkan, andai kata para preman tadi nekat menusukku dengan pisau tajam. Aku menghela napas panjang, bersyukur masih diberi kesempatan hidup. Tapi, siapa gadis berkerudung, memegang kitab suci, diterpa cahaya senja itu? Aku masih penasaran dengan sosoknya.
"Bi, bibi tahu tidak, siapa nama gadis yang sudah menolongku tadi?"
Bibi yang sedang membuatkan susu, menoleh, "Bibi tidak tahu Den, tapi bibi sering lihat gadis cantik itu."
"Dimana Bi? Dimana?" Aku bersemangat.
"Diminum dulu Den, susunya." Bibi memberikan susu, aku lekas meneguknya sampai habis.
"Dimana bi?" Aku kembali bertanya.
"Di masjid, yah, di masjid." Bibi menjawab ragu.
"Masjid mana Bi? Masjid kan banyak?"
"Kalau tidak salah, di masjid agung besar, di pusat kota. Waktu ada pengajian dulu, bibi sempat bertemu sapa dengannya."
Astaga! Masjid agung? Itu kan letaknya sangat jauh dari lokasi kejadianku tadi. Apalagi itu kejadian beberapa bulan yang lalu, waktu ada pengajian. Hah, kalaupun aku mencarinya di acara pengajian akbar itu, mana mungkin aku bisa bertemu dengannya. Ah, mustahil.
Tok..tok..tok. (Suara ketukan pintu).
Bibi lekas membuka, dan ternyata Ibu serta adikku. Mereka berdua datang tanpa Bapak, tanpa memberitahu Bapak. Kalaupun memberitahu, pastinya tidak akan di izinkan. Ibu lekas memelukku, memegang-megang wajahku yang lebam, meneteskan air mata, adikku juga. Bibi ikut terharu, aku pun ikut meneteskan air mata.
"Nak, kamu gak papa kan?" Ibu masih memegang wajahku.
"Iya Bu, Hanafi baik-baik saja kok."
"Setelah sembuh, sebaiknya kamu pulang ke rumah lagi ya. Biar Ibu yang akan bujuk Bapak."
"Tidak Bu. Hanafi tidak bisa pulang. Ini sudah menjadi takdir Hanafi."
"Terus, mau pergi kemana kamu nak? Ibu khawatir, kamu kenapa-napa lagi."
Aku memegang tangan Ibu, meyakinkan, "Tenang Bu, Allah SWT selalu bersamaku. Aku tidak takut."
Ibu kembali memelukku erat. Seakan tak ingin melepaskan anak laki-laki tunggalnya pergi begitu saja. Tapi, aku sudah berjanji dan bersumpah, kalau aku tidak akan kembali pulang, sebelum aku sukses dan menjadi orang baik.
Malam itu, menjadi pertemuan terakhirku dengan Ibu, adikku dan bibi, sebelum bulan suci ramadhan datang. Satu hari lagi, aku memutuskan untuk melanjutkan jalan takdirku yang sesungguhnya. Aku akan berjuang di jalan-ku, jalan yang telah ku pilih. Melupakan huru-hara, cinta, dan masa-masa indah sekolah yang kini telah lenyap di masa mudaku.