Kaskus

Story

deadtreeAvatar border
TS
deadtree
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
Halo,

sengaja aku buat akun baru untuk nulis cerita ini. Bukan karena apa-apa, aku gak mau ada yang tau siapa aku dan orang-orang yang akan kuceritakan disini. Sengaja juga gak daftar kreator, ahaha karena tujuanku nulis cuma pengen ngeluarin uneg-uneg yang aku simpen selama ini.

Cerita ini gak ada bagus-bagusnya, gak ada romantis-romantisnya, isinya cuma aku dan semua cobaan hidup yang kutelan sendiri dan akhirnya juga harus bangkit sendiri.

Quote:


Oke, aku mulai ya....

- Chapter 1 - Adik Ibuku
- Chapter 2 - Puber & Foto Mesum
- Chapter 3 - Kata Ibu, Aku Aib
- Chapter 4 - Aku dan Kakak Part 1
- Chapter 5 - Aku dan Kakak Part 2
- Chapter 6 - Ayah & Ibu
- Chapter 7 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 1
- Chapter 8 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 2
- Chapter 9 - Duniaku Abu-abu Part 1
- Chapter 10 - Duniaku Abu-abu Part 2
- Chapter 11 - Duniaku Abu-abu Part 3
- Chapter 12 - Babak Baru
- Chapter 13 - Sama Saja
- Chapter 14 - Mas Ibra
- Chapter 15 - Berawal Dari Twitter
- Chapter 16 - Aku Ini Murahan
- Chapter 17 - Gelap
- Chapter 18 - Duniaku Hancur
- Chapter 19 - Tuhan
- Chapter 20 - Kusut
- Chapter 21 - Selalu Begini Berulang-ulang
- Chapter 22 - Mulai Dari Nol
- Chapter 23 - Gereja dan Ustadz
- Chapter 24 - Kambing Hitam
- Chapter 25 - Cinta Yang Salah
- Chapter 26 - Selembar Perselingkuhan
- Chapter 27 - Tunas


SIDE STORY:
1 - Major Depressive Disorder
2 - Adara Putra [Part 1]

Prolog:

Namaku Kamila, saat ini umurku hampir 28 tahun. Berkeluarga? belum. Ingin berkeluarga? Ya, mungkin. Aku bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan Jakarta. Sejak umur 17 tahun, aku tinggal sendiri di kota ini. Tanpa satupun anggota keluarga atau kerabat jauh. Tak ada yang kukenal saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini 10 tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2009.

Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia. 

Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.

Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.

"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.

"Kenapa om?", tanyaku.

Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"

Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.

"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda. 
 "Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.

Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.


Ch.2: Puber & Foto Mesum
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.

Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.

Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).

Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat  tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.

2 menit berlalu, aku seperti mendengar bunyi-bunyian di depan pintu kamarku. Seperti bunyi gesekan ke pintu kamar. Jantungku mulai berdegup kencang, di rumah sedang tak ada siapa-siapa seingatku. Lalu siapa yang sedang berdiri di depan pintu kamarku? Kulihat di celah bagian bawah pintu, nampak bayangan orang yang berdiri mondar-mandir namun tak ada suara hanya dengusan nafasnya yang terdengar sedikit berat. Aku semakin panik, saat itu aku hanya bisa memikirkan maling yang masuk rumah karena beberapa tahun lalu rumahku juga kemalingan dan malingnya membawa pisau hampir menyerangku yang baru saja tiba di rumah saat itu.

Selang beberapa detik diantara kepanikanku, tiba-tiba cahaya putih itu kembali muncul di ventilasi kamar. Kali ini diiringi dengan bunyi 'ckrekkk' berkali-kali, yang menyadarkanku kalau itu ternyata flash kamera. Aku semakin panik, ada orang memotretku dari luar, dan sialnya posisiku saat itu setengah telanjang. "MAMPUS", gumamku dalam hati. Aku gemetaran, tak tau harus berbuat apa. Badanku kaku, aku hanya bisa pura-pura tak tau apa yang terjadi saat itu. Tapi tak dapat dipungkiri, aku sudah mau hampir menangis berharap orang itu cepat-cepat pergi. Namun disela-sela ketakutanku, tiba-tiba aku mendengar suara,

"Ngapain Mas Sapri? Ventilasinya rusak?", tanya orang itu. Aku tak mendengar sahutan dari orang yang tengah berdiri di depan pintu kamarku.

'Anj***********ng', umpatku lirih. Orang yang daritadi memotretku ternyata Om Sapri. Mau apa dia dengan foto-fotoku? Apa dia lupa kalau aku ini anak dari saudara yang sudah membesarkannya? Kenapa dia malah bertindak tidak senonoh seperti ini?

Banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalaku, tanpa kusadari aku mulai menangis tersedu-sedu di dalam kamar tanpa berani keluar. Sampai malam tiba dan kakak serta papaku pulang, aku masih belum berani keluar kamar.

Papa mengetuk-ngetuk pintu kamarku bertanya kenapa aku mengurung diri. Aku takut, tapi kupaksakan keluar. Kubuka pintu kamar perlahan, masih dengan sedikit terisak. Papa kebingungan melihatku yang amburadul dengan rambut acak-acakan dan mata yang sembab.

"Kenapa dik?", tanya Papaku.

"Gak kenapa-kenapa pa, cuma banyak PR adik capek", sahutku masih dengan sedikit bergetar.

Papa mengelus kepalaku pelan dan memelukku. Dia menyuruhku untuk segera mandi, berganti pakaian dan mengajakku makan malam. Sepanjang makan malam, aku diam membisu. Tak ada sepatah kata yang berani kukeluarkan.

Beberapa hari setelah itu, aku sudah kembali ceria. Aku tak lagi memikirkan apa yang terjadi, yah namanya anak sekolah. Seperti biasa, pukul 14.00 aku langsung bergegas pulang ke rumah untuk melanjutkan novel teenlit yang belum selesai kubaca. Di rumah juga sepi, hanya ada aku dan beberapa tukang. Tak lama setelah aku pulang, kakakku juga pulang dari sekolahnya. Dia langsung lari ke ruang keluarga dan bermain game konsolnya yang baru dibeli beberapa hari lalu. Kubiarkan sajalah, fikirku. 

Aku langsung masuk ke kamar, mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Hari ini terlalu panas dan aku terlalu gerah untuk langsung baca novel, karena itu kuputuskan untuk mandi dan makan siang dahulu.

Kamar mandiku terletak di belakang ruang keluarga, di area dapur bersih menuju ke dapur kotor dan di depan kamar mandi terdapat lorong selebar 2 meter yang cukup gelap jika tidak dinyalakan lampu. Ditengah-tengah aktifitas mandiku yang berisik karena aku juga bersenandung, lagi-lagi aku terkejut dengan cahaya putih yang muncul sekelebat di atas ventilasi pintu kamar mandiku. Aku langsung panik, "Anj*ng, aku telanjang loh ini! Om Sapri gak kapok-kapok!", umpatku dalam hati. Dengan cepat aku bersembunyi di pojok belakang pintu kamar mandi agar dia tak bisa memotretku dari sela ventilasi. Bunyi kamera itu masih terus kudengar sekitar 3-4 kali selama aku bersembunyi dan kemudian hening, tak ada suara apa-apa. Dan sesaat Om Sapri memanggilku, "Dik? Kamu di kamar mandi? Om baru mau pipis nih. Masih lama gak?", tanyanya menyelidik.

Tak ada kata yang keluar dari mulutku, aku diam tak berani bersuara. Om Sapri kembali memanggil, "Dik? Kamu gausah takut Om cuma nanya", timpalnya lagi.

'Hah? Takut? Apa-apaan sih? Apa maksudnya? Kenapa dia malah jadi seperti om-om cabul yang mau merudapaksaku?', aku masih tak bersuara sama sekali, hanya bisa menangis dalam diam dan ketakutanku. Jantungku berdegub kencang sekali dengan ketakutanku diapa-apakan dan tanpa kusadari sudah 1 jam aku mengurung diri di dalam kamar mandi sampai kakakku menggedor-gedor kamar mandi dengan paniknya, "Dik? Dik??!!! Kamu pingsan? Mandi kok gak kelar-kelar? Dikkk????".

"Iya kak, aku cuma lagi gosok-gosok kaki", sahutku lega. Kakakku ternyata masih ada di luar.

"Yaudah cepetan mandinya, kita makan siang. Kakak laper", jawabnya.

"Iya kak, ini udah kok".

Aku tak berani menatap Om Sapri setelah itu, aku juga tak berani menceritakan pada siapa-siapa perkara hal ini. Beberapa bulan berlalu semenjak itu, tak ada lagi teror foto-foto itu, aku fikir masalah sudah selesai. Mungkin aku yang terlalu panik.

Tapi ternyata? Belum, belum selesai. Masih ada yang akan terjadi di depanku....

AKAN ADA KELANJUTANNYA, PANJANG GAN HAHA.

AKU AKAN CURHAT BERKALA, KARENA SAMBIL KERJA.
NAMANYA JUGA CURHAT :").

MOHON MASUKANNYA KALAU ADA KEKURANGAN, TRIMS.

 



Diubah oleh deadtree 20-12-2019 10:59
qisatriaAvatar border
pencarilendi170Avatar border
jamalfirmans282Avatar border
jamalfirmans282 dan 61 lainnya memberi reputasi
60
130.5K
629
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
deadtreeAvatar border
TS
deadtree
#158
Chapter 17 - Gelap

Tak terasa aku sudah memasuki bulan September 2013, bulan dimana aku pada akhirnya lulus juga dengan keringat, darah air mata. Herri sempat mengunjungiku sekali saat aku sidang TA dan kami saat itu berhubungan intim sekali. Herri nampaknya belum pernah melakukan hubungan intim dengan wanita lain selain aku (ini menurut pengakuannya), dan dibuktikan dengan dia hanya berhasil bertahan tak sampai 1 menit. Sejak itu kami hampir tak pernah berhubungan intim.
Aku mengabari Ibu bahwa aku akan diwisuda tanggal 7 bulan ini dan memintanya untuk datang. Tapi dengan ketusnya dia bilang tak bisa hadir karena alasan ini itu, belakangan aku baru tahu ternyata Ibu baru saja mengadakan pesta pertunangan Kakakku dengan calon istrinya, iya aku tidak diundang. Jangankan diundang, dikabaripun tidak. Aku tahu karena Ibu keceplosan di telepon dia baru saja habis puluhan juta, dia gak mau keluar uang buat datang ke acara gak penting seperti wisudaku. Aku hanya tercekat mendengar omongan Ibu, karena aku ingat sekali Ibu selalu heboh dan bahagia sekali saat Kakak wisuda DIII dan wisuda S1, sampai mengadakan acara syukuran di rumah.
Hatiku nyeri sekali saat tahu Kakak tunangan, dia juga ikut-ikutan Ibu tak memberitahuku. Mungkin mereka sudah cukup muak denganku, entahlah. Aku cerita ke Herri kalau aku akan wisuda tanggal 7. Herri senang bukan main saat itu karena dia sudah selesai menyusun skripsi dan tinggal menunggu penjadwalan sidang. Herri bilang dia akan datang dan mendampingiku saat wisuda agar aku tak perlu merasa kesepian. Ohya, beberapa bulan lalu aku menceritakan masa laluku ke Herri agar Herri tak perlu merasa dibohongi olehku. Dia sempat menangis dan mengutuk perbuatan orang-orang itu namun dia bilang aku harus tetap bangkit dan jadi Kamila yang sukses. Aku senang sekali mendengar kalimat Herri, perasaanku semakin besar untuknya.
Aku menelepon Mas Ibra untuk memberitahunya kabar baik ini, karena bagaimanapun juga Mas Ibra punya jasa besar dibalik kelulusanku. Dan benar saja, dia senang sekali mendengar kabar wisudaku. Kami mengobrol cukup lama sampai akhirnya aku tau Mas Ibra sudah punya pasangan di Australia dan katanya dalam waktu dekat akan bertunangan. Aku bahagia mendengarnya, paling tidak aku dan dia sudah sama-sama bisa berdamai dengan masalah kami masing-masing.
Seusai aku wisuda, sebulan kemudian giliran Herri yang diwisuda. Saat itu aku merasa jalanku dengan Herri sangat dimudahkan dalam urusan pendidikan. Herri memutuskan untuk mencari pekerjaan ke Jakarta dan pindah di akhir tahun 2013. Aku menyemangatinya karena aku tau saat itu dia sangat amat mencita-citakan menjadi seorang PR kondang di Ibukota. Awalnya Herri memutuskan untuk tinggal di rumah tantenya di Pamulang namun diurungkan niat itu karena jarak yang cukup jauh. Akhirnya Herri meminta izin untuk tinggal denganku, dan keluarganya mengizinkan. Akhirnya Herri ikut mengontrak disamping kontrakanku, aku meminjamkannya kendaraan setiap dia ingin pergi melamar pekerjaan atau kadang kami berdua pergi naik kereta untuk menghemat ongkos.

---
Di pertengahan Januari, ada yang aneh dengan Ibunya Herri. Dia nampak dingin menanggapi pesan singkat yang kukirim. Sampai akhirnya aku tau kenapa. Ibu merasa aku dan Jakarta sudah merubah tabiat anaknya yang jarang menghubunginya dan selalu pura-pura sibuk padahal Herri baru saja diterima kerja di TV swasta saat itu. Aku yang tidak merasa, membantah omongan Ibunya dan bilang Herri memang seperti itu. Semenjak masuk kerja sebulan yang lalu, Herri pindah ke Mampang agar lebih dekat ke kantornya. Dia juga jadi jarang menghubungiku bahkan aku yang seringkali mengingatkannya untuk menghubungi Ibunya. Herri hanya iya-iya saja tapi tetap tak perduli dengan saranku. Ibunya tetap bersikukuh akulah yang jadi penyebab retaknya hubungan mereka. Aku yang dari dulu paling malas masuk dalam konflik tak lagi membalas pesan dari Ibunya Herri.
Pada minggu ketiga Februari 2014, Ibuku meneleponku. Dia bilang Kakak akan menikah di akhir Januari, minggu depan. Aku senang sekali Ibu mengabariku dan aku berniat pulang dengan tabunganku sendiri. Tapi Ibu bilang aku tak perlu pulang, karena buang-buang ongkos dan ini cuma sekedar perayaan bukan hal yang penting. Ibu juga bilang, aku cuma akan jadi bahan omongan karena sudah tak perawan jadi lebih baik aku tak usah pulang. Hancur sekali hatiku saat itu, setengah mati aku berusaha memperbaiki diriku untuk keluarga tapi tetap saja dianggap kurang untuk mereka. Bahkan kakakku yang biasanya membelaku, kini sudah tak pernah terdengar lagi suaranya.
Dalam tangisku aku menelepon Herri untuk segera ke rumahku sepulang kerja. Dia yang panik mendengarku menangis langsung izin dari kantor dan bergegas menuju rumahku di Bintaro. Setibanya di rumah, Herri memelukku dan bertanya apa yang terjadi, aku ceritakan semuanya dalam tangisku. Dia mengajakku ke kamar dan memintaku untuk berbaring dan minum agar aku bisa sedikit lebih tenang. Herri mencium keningku dan berkata kalau semua akan baik-baik saja.
Diluar hujan deras disertai petir yang menggelegar, Herri yang masih menenangkanku mulai timbul birahinya. Aku tau karena di celananya mulai keras dan menempel ke betisku. Dia kemudian menciumku perlahan dan malam itu kami melakukan hubungan intim.

---
Pagi itu, bulan Mei 2014. Aku terbangun dengan rasa mual yang menjadi-jadi di perutku. Aku berlari ke kamar mandi dan langsung muntah tak karuan. Tak banyak yang keluar tapi entah kenapa rasanya mual sekali aku tak kuat. Sepertinya karena aku terlalu banyak makan keripik pedas kemarin malam. Rasa mual itu tak mau pergi sampai sore hari Herri menjemputku untuk pergi makan. Aku dan dia memutuskan untuk pergi ke Convenience Store di Taman Menteng Bintaro. Herri membeli beberapa cemilan, onigiri dan sebotol alkohol. Dia ingin menyelesaikan sedikit pekerjaannya sambil pacaran denganku.
Sore itu Herri nampak begitu serius sampai tak satupun makanan dan minuman itu disentuhnya, malah aku yang menghabiskan alkohol dan onigiri sendirian. Setelah Herri selesai dengan pekerjaannya dia malah mengejekku karena menghabiskan semua makanan itu sendirian. Aku yang setengah mabuk diantar Herri pulang sore itu.
Seminggu berlalu, aku yang masih terus mual-mual meski sudah kapok makan pedas mulai curiga. Aku sudah hampir 3 bulan tidak menstruasi, ditambah lagi nafsu makanku yang mulai membludak dan aku yang selalu mual muntah di pagi hari. Aku yang berfikir tidak mungkin sampai hamil, karena Herri hanya bisa bertahan kurang dari 5 menit langsung meremehkan fikiran negatifku. Tapi entah kenapa kakiku juga tetap melangkah ke klinik terdekat dan beli 2 testpack sekaligus untuk aku tes keesokan harinya. Sengaja Herri kuminta menginap malam itu tanpa kuceritakan kecurigaanku.
Pagi-pagi sekali aku yang sudah mulai mual-mual langsung menuju kamar mandi dan menampung air pipisku di mangkuk kecil. Kuambil 1 testpack dan kucelupkan setengah ke dalam mangkuk. Beberapa saat mulai muncul satu garis dan kemudian disusul garis kedua. Jantungku mulai berdegub kencang tak karu-karuan, aku gemetaran dan ketakutan. Buru-buru kurobek testpack kedua, kucelupkan lagi dan lagi-lagi muncul dua garis berwarna merah.
Tubuhku lemas, tapi sedikit senang karena aku hamil. Selama ini aku takut mandul karena jarang sekali mens. Aku menahan mualku dan langsung masuk ke kamar, membangunkan Herri. Setengah sadar Herri bertanya kenapa aku bangunkan dia sepagi itu,

"Kenapa sih Mil?", tanyanya kesal.
"A...aku hamil", ucapku ketakutan sambil menyodorkan 2 hasil tes itu padanya.

Herri terdiam, matanya menatap 2 hasil itu tajam. Keningnya mengerenyit dan bibirnya dikatupkan rapat. Sejurus kemudian dia buka suara cukup keras, "GUGURIN!!!".


Di chapter ini aku punya 2 bukti sebenarnya. 1 bukti foto saat aku minum2 bareng Herri dan 1 lagi foto testpack. Tapi entah kenapa yg testpack hilang dan foto bareng Herri ini aku takut ngepostnya. Walau udah aku blur tapi kalau si "Herri" ini lihat dia pasti tau itu foto dia, aku gak mau bikin masalah lagi. Gimana?
Diubah oleh deadtree 16-09-2019 17:01
ariid
emzehd26
nomorelies
nomorelies dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.