- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/20/10668384_20200520011303.jpg)
Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.
Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.
Spoiler for INDEX:
Spoiler for "You":
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for Peraturan:
Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.
Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
470.2K
4.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#1573
Pergi Agak Jauh_Part 1
Kunjungan lapangan tahun ini berasa berat banget buat ane. Keket benar-benar dingin, hanya mau berbicara kalau ada hal yang berkaitan dengan praktikum lapang aja. Bahkan ane mencoba melempar senyum ke dia pun, dia tetap nggak bergeming. Dia cuek aja kayak nggak ada ane disana. Tapi di sisi lain, Harmi selalu berusaha mencuri waktu untuk bertemu dengan ane.
"Kak, kok lo kayak khawatir banget gitu sih? Kan nggak ada yanh tau kita disini."
"Iya emang mungkin nggak ada yang tau kita disini sekarang, tapi pas kita jalan menuju sini apa lo yakin nggak ada yang liat kita?”
"Udah sih kak santai aja. Nggak ada yang liat."
"Gue takut kalau ada yang liat terus ada yang iseng bilang ke Keket, habis semua usaha gue Mi."
"Udah, gue jamin nggak ada yang liat. gue lanjutin ya Kak."
Harmi melanjutkan kegiatannya dengan memblow si Rocky sampai keujung-ujungnya. Luar biasa banget rasanya, dan sensasi cemas kayak gitu malah menambah adrenalin ane buat makin semangat main sama Harmi. Harmi ini gila banget asli kalau punya mau. Nggak maksa, tapi bisa bikin ane nurut.
"Lo tau darimana sih rumah ini kosong Mi?”
"Kan gue keliling dulu kak. Terus mastiin aman, baru deh gue ajak lo kesini." Kata Harmi lalu melanjutkan mengulum si Rocky.
"Gila lo Mi asli deh, niat banget lo."
"Ya nggak apa-apa, demi muasin lo yang lagi galau. Hehe." Katanya sambil melirik ane dari bawah.
"Tapi kok sekarang lo ngisepin jadi makin enak Mi, latian sama siapa lagi lo?"
"Kok lo kepo banget kak? Haha. Yang penting lo suka kan?"
"Suka Mi. Udah terusin."
Harmi begitu telaten melakukan treatment ke si Rocky. Jauh lebih telaten, karena mungkin ada motivasi dia untuk merebut hati ane dari Keket kali ya. Dia bilang salah satu jalan termudahnya ya ngasih semuanya gini. Haduh Harmi, gila banget lo jadi cewek. Nggak lama, ane mengkode akan keluar, dan ane nggak biarin dia mengarahkannya ke muka, ane tetap mengarahkannya kedalam mulutnya.
"Telen, biar sehat." Kata sakti ane keluar lagi akhirnya.
Harmi mengangguk dan kemudian menelannya, sehabis itu menunjukkannya ke ane dengan menjulurkan keluar lidahnya.
"Suka kak?"
Ane cuma mengangguk aja.
"Lanjutin nggak kak?" Goda Harmi.
"Kayaknya nggak deh Mi gue takut banget." Kata ane khawatir.
"Yakin? Quickie aja yuk."
Ane sempat menolak, tapi karena Harmi kuat banget usahanya, akhirnya ane luluh. Agresif parah ini Harmi lama-lama. Ane jadi agak takut dengan sikapnya kayak gini. Ane takut kedepannya malah bisa menghalalkan segala cara ni kalau gini ceritanya. Permainan cepat kami lakukan dengan posisi berdiri, ane dibelakang Harmi. Setelahnya kami segera keluar dari rumah kosong itu. Pada waktu itu sekitar jam 11 malam. Ane kembali ke rumah tempat ane tinggal yang bersebelahan dengan rumah Keket tinggal, tapi jauh dari rumah Harmi tinggal.
--
Praktikum lapang yang luar biasa membosankan ini akhirnya berakhir juga. Nggak ada sambutan positif dari Keket. Ane juga hanya bisa telponan dengan Sofi. Paling mungkin ya ane ngobrol dan kemana-mana sama Harmi, tapi itu bakal sangat mencolok. Jadinya ane merana aja meratapi nasib dan rasa bersalah. Pada saat pulang pun, Keket nggak lagi duduk bersama ane. Dia memilih duduk dengan asisten lain yang cewek.
Ane pulang ke kostan dengan perasaan yang luar biasa hambar. Kacau banget pikiran ane. Nggak jelas banget. Akhirnya sehabis mandi ane langsung tidur aja, kebangunnya besok siangnya. Karena perkuliahannya udah selesai, jadi teman-teman kostan yang pada nggak jadi asisten kayak mata kuliah ane udah pada pulang duluan.
Satu-satunya penghiburan ane waktu itu adalah undangan manggung diluar negeri untuk pertama kalinya. Koneksi Ara dengan beberapa teman forumnya yang anggotanya banyak berasal dari luar negeri akhirnya bisa membuat band ane diboyong keluar negeri. Namun mirisnya adalah, mereka hanya menanggung ongkos pergi dan pulang aja untuk 6 orang, sementara akomodasi disana nggak dikasih sama sekali. Ara lagi-lagi putar otak dan berhasil mendapatkan sponsor dari salah satu orang kenalannya juga. Entah gimana, pokoknya dia akhirnya dapat mengcover 80% biaya hidup kami selama 4 hari disana.
Liburan panjang pergantian tahun ajaran udah masuk minggu kedua, dan ini adalah saatnya untuk berangkat ke negeri tetangga, Singapura. Ara emang hebat. Semuanya udah diurus sama dia, jadi kami pemain udah tinggal main band aja yang bener, nggak usah mikir macam-macam lagi. Ada tiga band yang berangkat dari negeri kita tercinta menuju kesana. Salah satu bandnya ini unik konsepnya. 4 orang main alat, 1 orang vokalis, 3 orang dance. Lagu-lagu mereka juga unik, dan pastinya anaknya asyik-asyik.
"Tumben nggak bawa cem-ceman?" Ara meledek ane.
"Mana bisa Ra, kan nggak ada duitnya buat bayar sendiri. Haha." Kata ane.
"Yaudah nanti berarti lo harus temenin gue kemana-mana."
"Beres, itung-itung buat ngebales terima kasih karena usaha lo yang hebat ini Ra." Kata ane sambil ngusap-ngusap kepala Ara.
"Peluk dulu, baru gue terima ucapan lo." Kata Ara.
"Yeee, maunya banget sih lo. Haha."
"Emang gue mau. Hehehe."
"Yaudah sini."
Ane berpelukan dibandara sebelum kami berangkat. Untung anak-anak pada nggak lihat. Tapi lihat juga nggak apa-apa, udah biasa juga. Kami berangkat sekitar jam 16.00 waktu sini. Waktu berbeda sekitar 1 jam lebih duluan di Singapura. Ane pernah sebelumnya ke negara ini waktu liburan bareng keluarga, tapi jaman ane masih SMP dulu. Udah lama banget.
Kami menginap di sebuah dormitory yang ornamen depannya bercat merah-merah, dan bangunannya ini seperti bangunan klasik. Interiornya asyik banget buat dipandangi. Kasurnya ada dua level dan masing-masing ruangan terdapat dua kasur. Sehingga sekamar bisa berempat. Seolah udah pada tau, ane dan Ara dipisah berdua kamarnya. Ara mengambil satu kamar aja, untuk berdua ane. Anak ini emang kurang ajar, sengaja di set kayak gini.
Malam pertama di negeri orang kami habiskan untuk jalan-jalan malam. Karena kami manggung pada hari jumat malam, dan saat ini masih kamis malam, jadi ya santai aja dulu. Kami mencari berbagai macam makanan, terutama street foodnya. Untuk membedakan mana makanan haram dan halal pun nggak susah, karena Ara memakai kerudung, jika ada makanan haram maka penjualnya akan menyilangkan tangannya. Seru banget. Ara sengaja mengajak ane berpisah dengan anak-anak berempat itu. Ara begitu bersemangat kayak biasanya. Ane senang juga melihat dia kayak gitu.
"Ja lo seneng banget nggak sih?"
"Banget Ra. Luar biasa banget pengalaman gue ini. Walaupun gue udah pernah kesini, tapi lebih nikmat lagi karena ini usaha kita sendiri, usaha lo Ra. Makasih banyak ya Ra buat semua usaha lo."
"Sama-sama Ja. Kita kan jadi bisa jalan-jalan gratis kesini. Inget nggak kita pernah punya impian kesini waktu kita SMA dulu?"
"Iya Ra gue masih inget. Haha. Lucu ya. Akhirnya kita bener-bener bisa sampai kesini. Tapi usaha lo luar biasa banget Ra."
"Usaha gue mau keren kaya apapun kalau kalian jelek ya nggak akan ngehasilin apapun lah. Kita ini tim yang solid, saling dukung. Cuma belum saling cinta aja. Hehehe."
"Haha. Iya Ra. Tim ini keren banget ya. Gue berharap kita terus sampai entah kapan. Selama mungkin. Soal cinta, lo bisa nemuin cinta lo diluar sana Ra."
"Gue udah nemuin cinta gue, tapi cinta gue mencintai orang yang dia cintai. Miris ya jadi gue."
"Udah Ra, nggak usah mulai. Nanti kita jadi nggak asyik ah. Ayo jalan-jalan lagi."
Ara menggandeng tangan ane, udah kayak pacaran aja. Sejenak ane merasa sangat bahagia, walaupun ada kegalauan besar disana. Keket udah ane kasih tau tentang ini, tapi nggak ada balasan apapun darinya. Bahkan ane menuliskan surat dan diselip dibawah pintu kostannya, yang ane yakin pasti dibaca sama dia. Sementara Sofi malah girang banget melihat hal ini sebagai prestasi ane dan dia ikutan bangga. Begitu juga Harmi. Kalau dia malah berharap bisa ikutan kesini, tapi sayang karena keterbatasan dana, dia nggak bisa ikut.
Pulang dari jalan-jalan malam yang menyenangkan bareng Ara, ane beristirahat dan malah ketiduran, mungkin capek banget kali ya. Ara tidur memeluk ane, udah kayak pacar beneran. Kami nggak melakukan hal yang iya iya malam itu. Pas paginya baru lah ada 2-3 ronde sebelum sarapan. Hehe. Ara benar-benar ceria waktu itu, dan entah kenapa, rasa yang dulu pernah ada seperti kembali lagi setelah melihatnya begini. Aduh, Ara...Ara...nyusahin gue aja lo ah.
"Kak, kok lo kayak khawatir banget gitu sih? Kan nggak ada yanh tau kita disini."
"Iya emang mungkin nggak ada yang tau kita disini sekarang, tapi pas kita jalan menuju sini apa lo yakin nggak ada yang liat kita?”
"Udah sih kak santai aja. Nggak ada yang liat."
"Gue takut kalau ada yang liat terus ada yang iseng bilang ke Keket, habis semua usaha gue Mi."
"Udah, gue jamin nggak ada yang liat. gue lanjutin ya Kak."
Harmi melanjutkan kegiatannya dengan memblow si Rocky sampai keujung-ujungnya. Luar biasa banget rasanya, dan sensasi cemas kayak gitu malah menambah adrenalin ane buat makin semangat main sama Harmi. Harmi ini gila banget asli kalau punya mau. Nggak maksa, tapi bisa bikin ane nurut.
"Lo tau darimana sih rumah ini kosong Mi?”
"Kan gue keliling dulu kak. Terus mastiin aman, baru deh gue ajak lo kesini." Kata Harmi lalu melanjutkan mengulum si Rocky.
"Gila lo Mi asli deh, niat banget lo."
"Ya nggak apa-apa, demi muasin lo yang lagi galau. Hehe." Katanya sambil melirik ane dari bawah.
"Tapi kok sekarang lo ngisepin jadi makin enak Mi, latian sama siapa lagi lo?"
"Kok lo kepo banget kak? Haha. Yang penting lo suka kan?"
"Suka Mi. Udah terusin."
Harmi begitu telaten melakukan treatment ke si Rocky. Jauh lebih telaten, karena mungkin ada motivasi dia untuk merebut hati ane dari Keket kali ya. Dia bilang salah satu jalan termudahnya ya ngasih semuanya gini. Haduh Harmi, gila banget lo jadi cewek. Nggak lama, ane mengkode akan keluar, dan ane nggak biarin dia mengarahkannya ke muka, ane tetap mengarahkannya kedalam mulutnya.
"Telen, biar sehat." Kata sakti ane keluar lagi akhirnya.
Harmi mengangguk dan kemudian menelannya, sehabis itu menunjukkannya ke ane dengan menjulurkan keluar lidahnya.
"Suka kak?"
Ane cuma mengangguk aja.
"Lanjutin nggak kak?" Goda Harmi.
"Kayaknya nggak deh Mi gue takut banget." Kata ane khawatir.
"Yakin? Quickie aja yuk."
Ane sempat menolak, tapi karena Harmi kuat banget usahanya, akhirnya ane luluh. Agresif parah ini Harmi lama-lama. Ane jadi agak takut dengan sikapnya kayak gini. Ane takut kedepannya malah bisa menghalalkan segala cara ni kalau gini ceritanya. Permainan cepat kami lakukan dengan posisi berdiri, ane dibelakang Harmi. Setelahnya kami segera keluar dari rumah kosong itu. Pada waktu itu sekitar jam 11 malam. Ane kembali ke rumah tempat ane tinggal yang bersebelahan dengan rumah Keket tinggal, tapi jauh dari rumah Harmi tinggal.
--
Praktikum lapang yang luar biasa membosankan ini akhirnya berakhir juga. Nggak ada sambutan positif dari Keket. Ane juga hanya bisa telponan dengan Sofi. Paling mungkin ya ane ngobrol dan kemana-mana sama Harmi, tapi itu bakal sangat mencolok. Jadinya ane merana aja meratapi nasib dan rasa bersalah. Pada saat pulang pun, Keket nggak lagi duduk bersama ane. Dia memilih duduk dengan asisten lain yang cewek.
Ane pulang ke kostan dengan perasaan yang luar biasa hambar. Kacau banget pikiran ane. Nggak jelas banget. Akhirnya sehabis mandi ane langsung tidur aja, kebangunnya besok siangnya. Karena perkuliahannya udah selesai, jadi teman-teman kostan yang pada nggak jadi asisten kayak mata kuliah ane udah pada pulang duluan.
Satu-satunya penghiburan ane waktu itu adalah undangan manggung diluar negeri untuk pertama kalinya. Koneksi Ara dengan beberapa teman forumnya yang anggotanya banyak berasal dari luar negeri akhirnya bisa membuat band ane diboyong keluar negeri. Namun mirisnya adalah, mereka hanya menanggung ongkos pergi dan pulang aja untuk 6 orang, sementara akomodasi disana nggak dikasih sama sekali. Ara lagi-lagi putar otak dan berhasil mendapatkan sponsor dari salah satu orang kenalannya juga. Entah gimana, pokoknya dia akhirnya dapat mengcover 80% biaya hidup kami selama 4 hari disana.
Liburan panjang pergantian tahun ajaran udah masuk minggu kedua, dan ini adalah saatnya untuk berangkat ke negeri tetangga, Singapura. Ara emang hebat. Semuanya udah diurus sama dia, jadi kami pemain udah tinggal main band aja yang bener, nggak usah mikir macam-macam lagi. Ada tiga band yang berangkat dari negeri kita tercinta menuju kesana. Salah satu bandnya ini unik konsepnya. 4 orang main alat, 1 orang vokalis, 3 orang dance. Lagu-lagu mereka juga unik, dan pastinya anaknya asyik-asyik.
"Tumben nggak bawa cem-ceman?" Ara meledek ane.
"Mana bisa Ra, kan nggak ada duitnya buat bayar sendiri. Haha." Kata ane.
"Yaudah nanti berarti lo harus temenin gue kemana-mana."
"Beres, itung-itung buat ngebales terima kasih karena usaha lo yang hebat ini Ra." Kata ane sambil ngusap-ngusap kepala Ara.
"Peluk dulu, baru gue terima ucapan lo." Kata Ara.
"Yeee, maunya banget sih lo. Haha."
"Emang gue mau. Hehehe."
"Yaudah sini."
Ane berpelukan dibandara sebelum kami berangkat. Untung anak-anak pada nggak lihat. Tapi lihat juga nggak apa-apa, udah biasa juga. Kami berangkat sekitar jam 16.00 waktu sini. Waktu berbeda sekitar 1 jam lebih duluan di Singapura. Ane pernah sebelumnya ke negara ini waktu liburan bareng keluarga, tapi jaman ane masih SMP dulu. Udah lama banget.
Kami menginap di sebuah dormitory yang ornamen depannya bercat merah-merah, dan bangunannya ini seperti bangunan klasik. Interiornya asyik banget buat dipandangi. Kasurnya ada dua level dan masing-masing ruangan terdapat dua kasur. Sehingga sekamar bisa berempat. Seolah udah pada tau, ane dan Ara dipisah berdua kamarnya. Ara mengambil satu kamar aja, untuk berdua ane. Anak ini emang kurang ajar, sengaja di set kayak gini.
Malam pertama di negeri orang kami habiskan untuk jalan-jalan malam. Karena kami manggung pada hari jumat malam, dan saat ini masih kamis malam, jadi ya santai aja dulu. Kami mencari berbagai macam makanan, terutama street foodnya. Untuk membedakan mana makanan haram dan halal pun nggak susah, karena Ara memakai kerudung, jika ada makanan haram maka penjualnya akan menyilangkan tangannya. Seru banget. Ara sengaja mengajak ane berpisah dengan anak-anak berempat itu. Ara begitu bersemangat kayak biasanya. Ane senang juga melihat dia kayak gitu.
"Ja lo seneng banget nggak sih?"
"Banget Ra. Luar biasa banget pengalaman gue ini. Walaupun gue udah pernah kesini, tapi lebih nikmat lagi karena ini usaha kita sendiri, usaha lo Ra. Makasih banyak ya Ra buat semua usaha lo."
"Sama-sama Ja. Kita kan jadi bisa jalan-jalan gratis kesini. Inget nggak kita pernah punya impian kesini waktu kita SMA dulu?"
"Iya Ra gue masih inget. Haha. Lucu ya. Akhirnya kita bener-bener bisa sampai kesini. Tapi usaha lo luar biasa banget Ra."
"Usaha gue mau keren kaya apapun kalau kalian jelek ya nggak akan ngehasilin apapun lah. Kita ini tim yang solid, saling dukung. Cuma belum saling cinta aja. Hehehe."
"Haha. Iya Ra. Tim ini keren banget ya. Gue berharap kita terus sampai entah kapan. Selama mungkin. Soal cinta, lo bisa nemuin cinta lo diluar sana Ra."
"Gue udah nemuin cinta gue, tapi cinta gue mencintai orang yang dia cintai. Miris ya jadi gue."
"Udah Ra, nggak usah mulai. Nanti kita jadi nggak asyik ah. Ayo jalan-jalan lagi."
Ara menggandeng tangan ane, udah kayak pacaran aja. Sejenak ane merasa sangat bahagia, walaupun ada kegalauan besar disana. Keket udah ane kasih tau tentang ini, tapi nggak ada balasan apapun darinya. Bahkan ane menuliskan surat dan diselip dibawah pintu kostannya, yang ane yakin pasti dibaca sama dia. Sementara Sofi malah girang banget melihat hal ini sebagai prestasi ane dan dia ikutan bangga. Begitu juga Harmi. Kalau dia malah berharap bisa ikutan kesini, tapi sayang karena keterbatasan dana, dia nggak bisa ikut.
Pulang dari jalan-jalan malam yang menyenangkan bareng Ara, ane beristirahat dan malah ketiduran, mungkin capek banget kali ya. Ara tidur memeluk ane, udah kayak pacar beneran. Kami nggak melakukan hal yang iya iya malam itu. Pas paginya baru lah ada 2-3 ronde sebelum sarapan. Hehe. Ara benar-benar ceria waktu itu, dan entah kenapa, rasa yang dulu pernah ada seperti kembali lagi setelah melihatnya begini. Aduh, Ara...Ara...nyusahin gue aja lo ah.
itkgid dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Zalina, 95% mirip Tala Ashe
Anin, 85% mirip Beby Cesara
Keket, 95% mirip, ane nggak kenal siapa ini, nemu di google
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043503.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043009.jpg)
Mulustrasi Ara, waktu masih SMA, 96% mirip![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/12/10668384_201909120424500824.png)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/13/10668384_201909130223080915.png)
serta apresiasi cendol