alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
103
Lapor Hansip
23-01-2019 07:57

Love’s Speedometer

intro


Love’s Speedometer

“Cowok gue gak peka banget ih heran deh.” Lagi-lagi Sisi mengeluh soal pacarnya yang dianggap tidak peka.

“Ya lo juga sih, udah tau cowok lo begitu masih aja dipacarin.” Joana menanggapi ketus sambil memutar-mutar sedotan es jeruk di hadapannya.

“Abis gimana dong, gue tuh sayang banget sama dia Jo. Lo kan juga punya cowok, masa gak paham sih yang gue rasain?” Sisi masih membela pacarnya meskipun di saat bersamaan ia juga kesal dengan pria itu.

“Lagian lo tiap hari keluhannya selalu sama, ‘cowok gue gak peka’. Bosen tau dengernya. Gue yakin si Kyna diem-diem juga ngerasa hal yang sama kaya gue. Ya kan?” Joana menyenggol lengan Kyna yang sedari tadi sedang asyik menyeruput jus melon kesukaannya.

“Eh? Kenapa?” Kyna yang tiba-tiba diajak bicara sedikit terkejut.

“Ah dia sih gak bakal paham yang kita obrolin. Pacaran aja belom pernah.” Terlihat senyum sinis di wajah Sisi.

“Parah lo kalo ngomong. Jangan masukin hati Kyn, tau sendiri kan Sisi kalo ngomong gak disaring.” Joana berusaha menengahi kedua teman akrabnya di kampus itu.

“Hmm, ngomongin cowok Sisi lagi ya? Tenang Jo, gue udah mulai kebal sama omongan nusuknya Sisi. Lagian bener juga kalo gue belom pernah pacaran.” Di luar dugaan Joana, Kyna justru menanggapi kata-kata menusuk dari Sisi dengan santai.

Dalam lingkaran persahabatan ketiga gadis itu, Kyna memang yang paling tidak banyak bicara jika topik pembicaraan mulai menyangkut pada hubungan percintaan. Bukannya Kyna apatis dan masa bodo dengan masalah sahabatnya, tapi karena dirinya merasa belum pernah terpikir untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Padahal usia Kyna sudah menginjak 20 tahun. Usia dimana Sisi dan Joana masing-masing sudah mempunyai 2 mantan pacar.

“Lo gak pengen gitu Kyn punya pacar?” Joana melirik ke arah Kyna yang duduk di sebelah kanannya.

“Nggak.” Kyna menjawab singkat.

“Tapi kalo naksir cowok pernah dong?” Sisi ikut penasaran.

“Ya pernah sih beberapa kali. SMP sama temen sekelas terus SMA sama kakak kelas. Tapi gue bingung sih, itu masuknya naksir atau sekedar mengagumi ya? Soalnya gue cuma suka aja ngeliat mereka jago main basketnya. Anehnya pas salah satunya nembak gue, guenya ragu-ragu.” Kyna menatap ke arah Sisi yang kebetulan duduk di hadapannya.

“Ya setidaknya kita tau kalo lo masih normal karena masih tertarik sama cowok. Gue sempet mikir lo tuh anti sama cowok. Paham kan maksudnya?” Joana tertawa dengan kesimpulannya sendiri.

“Eh, sial lo, ya gak gitu juga kali Jo. Kalian aja yang gak pernah liat gue bareng cowok. Di lingkungan rumah, gue punya temen main cowok kok.” Kyna tampak sedikit kesal.

“Syukur deh ternyata temen kita masih normal. Ya nggak Jo?” Sisi mengangkat alisnya, meminta persetujuan. Joana tak menjawab, hanya tertawa terbahak-bahak tanpa menghiraukan Kyna yang semakin menekuk wajahnya karena kesal.

*****


Setelah mengobrol santai dengan kedua temannya di kantin kampus, Kyna langsung pulang meskipun hari belum terlalu sore. Ia memutuskan pulang lebih cepat dari biasanya karena ada tugas yang harus segera ia selesaikan. Sesampainya di rumah, Kyna langsung merebahkan diri di sofa panjang berwarna krim yang berada di ruang tamu.

“Ih kaget mama, kirain kamu belom pulang.” Ibu Kyna yang baru saja mengambil air minum dari dapur terkejut melihat pintu depan yang terbuka lebar dan kondisi anaknya yang tertelungkup di sofa.

“Capek aku, sampe lupa ngucap salam.” Kyna langsung bangkit dan mencium tangan ibunya.

“Pulang cepet kok capek.” Ibunya kemudian duduk di bagian sofa yang lain.

“Aku capek diledekin Sisi sama Joana.” Kyna cemberut.

“Kenapa sih? Emang mereka ngomong apa?” Tanya ibunya dengan lembut.

“Ah aku gak mau cerita, pasti mama nanti ikut-ikutan ngeledek. Udah ah aku ke kamar dulu.” Kyna menyambar tasnya dan langsung beranjak menuju kamarnya.

“Oooh, mama tau kayanya soal apa. Makanya kamu cepetan punya pacar biar gak diledekin terus.” Ibu Kyna malah semakin meledek anaknya yang jelas-jelas sedang kesal.

“Tuh kan, sebel ah.” Kyna menutup pintu kamarnya agak keras saking kesalnya.

Kyna membanting tubuhnya ke atas tempat tidur kesayangannya, sementara tasnya ia lemparkan begitu saja ke lantai. Ia tak habis pikir kenapa hari ini terasa sangat menyebalkan. Kalau soal ledekan ibunya mungkin masih bisa diterima, tapi ini dari Sisi dan Joana yang biasanya tidak pernah menyinggung masalah percintaannya. Ah!

“Drrrt … Drrrt … “ Tiba-tiba smarthphone yang masih berada dalam saku celananya bergetar tanda ada panggilan masuk.

“Siapa?” Kyna bertanya dalam hati sembari merogoh-rogoh sakunya, kemudian melihat nama yang tertera di layar, “Aka.”

“Halo, ngapain Ka? Tumben amat nelpon gue.” Masih terbawa emosi, Kyna malah menjawab telepon itu dengan ketus.

“Weh galak amat lo, lagi PMS ya?” Suara pria dibalik telepon itu justru semakin membuat hati Kyna merasa panas.

“Apaan sih lo. Udah ah gue tutup!” Kyna meninggikan suaranya.

“Eeeeh ntar dulu. Lo udah pulang kuliah kan? Tadi gue liat lo masuk rumah. Mana balikin flashdisk gue yang kemarenan lo pinjem. Gue butuh nih.” Aka menyela sebelum telepon benar-benar terputus.

“Oh itu, yaudah lo aja sini ke rumah gue.” Akhirnya nada suara Kyna sekarang lebih tenang.

“Makanya dengerin dulu kalo orang ngomong. Lagian lo kenapa sih? Sewot amat kayanya.” Aka berusaha mengetahui apa yang terjadi dengan tetangga sekaligus teman bermain sedari kecilnya itu.

“Lagi kesel aja gue. Yaudah cepetan ke sini kalo mau ambil flashdisk. Lagian tinggal ngelangkah aja pake nelpon segala.” Kyna mengapit smarthphone dengan bahunya, sementara kedua tangannya sibuk mengacak isi laci meja tulisnya, mencari flashdisk yang dimaksud Aka.

“Kan memastikan yang masuk tadi beneran lo apa jelmaan lo doang. Lagian kesel kenapa sih, mau sekalian curhat?” Aka menjawab santai sambil menawarkan layanan menjadi teman curhat.

“Sial, emang gue hantu. Hmm besok-besok aja deh curhatnya, gue banyak tugas nih.” Kyna kembali duduk di tepi tempat tidurnya setelah menemukan barang yang dicarinya.

“Oh oke. Yaudah gue OTW nih ke rumah lo. Sambut dengan senyuman pokoknya ya.” Aka mengakhiri panggilan telepon itu dengan tawa yang terdengar menjengkelkan di telinga Kyna.

*****


Beberapa hari kemudian …

“Jadi kenapa waktu itu lo kesel? Masih mau diomongin apa udah dilupain nih?” Aka menanyakan perihal kekesalan Kyna tempo hari.

“Hmm sebenernya udah lupa. Gara-gara lo tanyain jadi inget lagi.” Kyna melirik sebal.

“Yee, kan gue pengen nuntasin kalo emang bener ada masalah. Jangan dipendem-pendem ntar jadi bisul.” Aka meledek.

“Yaudah berhubung jadi keinget lagi, gue mau ceritain sekaligus ngasih pertanyaan buat lo.” Kyna menunjuk hidung Aka saat mengucapkan “Lo!”

“Jangan susah-susah ya pertanyaannya, gue belom bikin contekan jawabannya.” Aka memang selalu seperti ini, suka sekali bercanda dan tak pernah terlihat serius.

“Garing lo. Jadi singkatnya sih gini, kemarenan gue diledekin gara-gara belom pernah pacaran sama dua temen kuliah gue. Emang salah ya Ka?” Kyna menjelaskan singkat, kemudian menunggu respon teman bicaranya.

“Sebelum gue jawab, emangnya apa alasan lo belom pengen pacaran?”

“Kenapa ya? Gue juga bingung. Sebenernya gue sempet naksir cowok dan cowok itu juga pernah nembak. Tapi rasanya gue perlu waktu lama buat memutuskan mau punya komitmen untuk pacaran atau nggak. Dan kayaknya gara-gara itu mungkin orang yang awalnya bilang suka sama gue pelan-pelan mundur. Guenya kelaman mikir.” Kyna menjelaskan.

“Hmm logikanya, kalo itu cowok suka sama lo pasti bakal nunggu sampe lo nya bener-bener yakin. Tapi salah juga sih kalo bikin orang kelamaan nunggu, apalagi kalo dia gak paham alasannya.” Aka melipat kedua tangannya di dada.

“Iya sih bener juga.” Kyna mengangguk-anggukan kepalanya.

“Tapi gue juga sedikit paham deh sama yang lo maksud. Semacam lo masih ragu gitu kan sama perasaan lo sendiri? Lo gak tau apakah yang lo rasain itu cinta atau perasaan lain yang menyamar. Ah gue ngomong apa sih?”

“Iya iya, bener gitu kok. Padahal temen gue kayanya gampang banget jatuh cinta, bilang suka terus jadian sama orang yang dia suka itu. Tapi kok gue susah banget ya?” Kyna tampak antusias mengiakan.

“Kalo menurut gue, keputusan untuk berkomitmen menyukai satu orang secara intense alias pacaran itu emang perlu waktu. Bisa jadi kecepatannya beda-beda tergantung orangnya.”

“Maksudnya?” Kyna masih sedikit kebingungan.

“Gini, kita anggaplah keputusan pacaran itu adalah tujuannya dan keyakinan itu kendaraannya. Lo dan temen lo mengendarai kendaraan yang sama. Lo melaju dengan kecepatan 20 km/jam, sedangkan temen lo 40 km/jam. Nah pasti temen lo yang bakal sampe duluan kan?” Aka menggerak-gerakkan tangannya seperti guru yang mengajar di depan kelas.

“Hmm gitu ya. Bisa dibilang tergantung angka yang tertera di speedometer-nya kan?”

“Yup, begitulah.” Aka menganguk bangga dengan penjelasannya.

“Eh btw, tumben lo pinter.” Kyna heran kenapa Aka bisa menjelaskan hal seperti ini. Padahal Aka sendiri tidak pernah bercerita soal naksir cewek atau terlihat punya pacar. Apa memang semua pria seperti itu? Tidak suka menceritakan hal pribadi.

“Gue tebak, pasti lo mikir gue sotoy kan, gue aja belom pernah naksir cewek. Gitu kan?” Seolah bisa melihat isi kepala Kyna, Aka sukses memprediksi isi kepala gadis itu dengan sangat akurat. Kyna hanya mengangguk saking takjubnya.

“Yaudah sekalian aja gue kasih tau sama lo deh. Sebenernya selama ini gue naksir cewek tapi gue sendiri gak sadar kalo itu namanya naksir. Anggaplah speedometer gue saat itu gak lebih dari 5 km/jam.” Raut wajah Aka sedikit berubah. Ia tampak lebih serius dari sebelumnya.

“Wih, lo kok gak pernah cerita sama gue. Terus kenapa baru sekarang lo ceritain?” Kyna justru menanggapi dengan riang.

“Kenapa ya? Mungkin karena gue udah mulai yakin sama perasaan gue. Anggaplah sekarang gue mau gas pol angka speedometer-nya” Aka tertawa.

“Asik, gue bakal dukung lo Ka. Kalo perlu bantuin dorong biar cepet sampe tujuan.” Kyna ikut tertawa.

“Serius mau bantu dorong?”

“Kalo gue bisa bantu, kenapa nggak? Emang siapa ceweknya?” Kyna tampak antusias dan tak sabar mendengar nama gadis yang ditaksir Aka sahabatnya.
Aka sendiri tidak langsung menjawab. Ia tersenyum lebar sebelum akhirnya mengucapkan sebuah nama.

“Namanya Kyna Almira.” Mata Aka yang berbinar menatap tajam mata Kyna.
 

to be continue....

Love’s Speedometer


Sumber: Dok. Pribadi


Thread created by Kaskus ID kaniarf (also known as Kyna Nixie)
Diubah oleh kaniarf
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fachreal5 dan 10 lainnya memberi reputasi
9
Love’s Speedometer
14-09-2019 21:13
Quote:Original Posted By rudaltof
oke, terimakasih atas responnya emoticon-Big Grin

at least sekarang kamu jadi tahu kenapa jumlah viewer dari dulu cuma 4000? dimulai januari dan sampai detik ini. sembilan bulan lamanya melalang buana di kaksus namun masih berkutat di angka segitu???

Sadar kan? Berarti menandakan ada sesuatu yang salah sama ceritanya. Entah alur yang hambar, diksi yang masih perlu dipertajam, penokohan yang kurang hidup dan hal-hal lain sebagainya yang harus ditingkatan lagi.

jangan baper yaaaa (serius jangan down), gue cuma memberi saran agar skill menulis kamu jauh lebih baik kokemoticon-Cendol Gan emoticon-Cendol Gan


Ane rasa viewers Kaskus dan berapa lama thread tersebut nangkring di sini gak bisa dijadikan acuan apakah karya tersebut emas atau sampah. Jadi untuk yang satu itu saya kurang setuju sama agan.

Untuk masalah kekurangan, karena saya bukan profesional, maka saya memang mengakui belum sempurna dan masih banyak belajar.

emoticon-terimakasih
profile-picture
akandra.dd memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
rasa-yang-tak-pernah-ada
Stories from the Heart
jumiati-itu-adalah-aku
Stories from the Heart
the-marionette
Stories from the Heart
my-fucking-romance
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.