Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]


Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.


Spoiler for INDEX:


Spoiler for "You":



Spoiler for MULUSTRASI:


Spoiler for Peraturan:


Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.


Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
xxxochezxxxAvatar border
DayatMadridistaAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
468K
4.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#1418
Main Kerumah Sofi
Hari Rabu ane akhirnya memenuhi undangan Sofi untuk datang kerumahnya. Ane sebelumnya emang ijin dulu sama Keket buat main ketempat Sofi. Awalnya ane mikir bakalan jealous nih si Keket, tapi nyatanya malah nggak sama sekali. Ane meminjam mobil Harmi. Katanya pakai aja selagi dia masih ada kegiatan di himpunan. Lah ane ketuanya malah cabut. Haha. Ane emang bilangnya Cuma sebentar aja. Mantap nggak tuh. Ane melajukan mobil menuju rumah Sofi dengan santai, karena jalanan sore itu memang nggak semacet biasanya. Sekitar 45 menitan ane sampai di rumah Sofi yang nggak jauh lokasinya dari Kolam Renang usaha keluarganya itu. Ane udah masuk ke belokan rumah yang Sofi maksud. Ternyata disekitarannya ada pesantren, ada juga panti asuhan. Gila keluarganya pasti konservatif banget ini.

Lalu ane sampai disebuah rumah diujung jalan, posisi hoek. Rumahnya sangat megah. Dikampung ada rumah megah kayak gini bagi ane sangat mengejutkan. Dari situ Sofi membukakan pagarnya yang tingginya mungkin sekitar 4 atau 5 meter. Dia tersenyum ke ane yang berada dibalik kemudi. Sofi memakai kerudung terusan warna biru muda yang terlihat sederhana, tapi tetap menggoda. Hahaha. Sepertinya dia senang memakai pakaian yang pas dibadan, apalagi pas dirumah. Kaosnya ketat walaupun lengannya panjang. Disitu makin kelihatan kalau gunung kembar Sofi itu diatas rata-rata. Ane lalu turun dan sedikit gugup karena melihat Sofi yang berpakaian kayak gini.

“Hai Sof.” Kata ane sambil senyum.

“Ijaa, ah akhirnya lo datang juga. Ayo masuk yuk.” Kata Sofi girang lalu menggandeng tangan ane masuk.

Lalu ane memasuki teras rumahnya. Ukiran jati di kusen pintu masuk sangat cantik untuk dilewatkan pandangan. Lantai dari granit sudah bisa memastikan kalau Sofi adalah anak dari kalangan berada, sama kayak Harmi dan juga Anin. Didalamnya, luar biasa lega rumahnya. Rumah ini jauh lebih besar dari rumah orangtua ane. Luar biasa. Ane sempat iseng nanya berapa luas tanah tempat rumah ini berdiri, katanya sekitar 1.500 meter persegi. Gila. Luas banget. Jangan-jangan dibelakang ada semacam taman atau kolam renang kan.

Saat itu ternyata 11 orang kakak dari Sofi berkumpul dan ada ibunya juga. Ayah dari Sofi sudah lama meninggal, dari jaman Sofi masih SMP kelas 2 katanya. Lalu ane yang pernah dikenalkan sama kakak-kakaknya ini waktu acara di kolam menyapa satu-satu, berasa di absen. Hahaha. Dari 11 orang kakaknya ini, yang laki-laki hanya 4 orang, sisanya perempuan semua. Yang belum menikah tinggal Sofi, kakaknya yang persis diatasnya, atasnya lagi sama Kak Lia yang pramugari. Semuanya perempuan yang belum nikah. Kakaknya yang diatas Sofi ini mukanya mirip banget sama Sofi. Kalau kak Lia, dia bekerja di salah satu maskapai internasional yang berbasis di Uni Emirat Arab. Kenceng pasti ini duitnya ini. Hahaha.

“Ja, ayo gue kenalin sama Ibu gue.” Kata Sofi.

“Saya Firzy tante. Biasa dipanggil Ija. Saya teman kampusnya Sofi.”

“Oh iya. Kamu yang pernah diceritakan Sofi. Adik kelas ya?” kata ibunya.

“Iya benar tante.”

“Yaudah silakan menikmati hidangan ya.” katanya datar.

Dari sini ane melihat aura yang kurang bersahabat dari ibunya Sofi. Dan Sofi juga kayaknya menyadari hal tersebut.

“Maafin nyokap ya Ja. Dia biasa begitu sama semua yang dekat sama anak-anaknya yang perempuan.”

“hehee iya nggak apa-apa Sof. Eh tapi masa masih sore gue udah disuruh makan sih? Hahaha.”

“Yaudah mau kemana?”

“Keliling aja rumah lo Sof, boleh nggak? Gede bener ini rumah. Bisa nyasar gue nih. Haha.”

“Yah kan biar muat 12 orang, dan nanti kedepannya bakal 12 keluarga. Hehe. Amanat bapak itu katanya kalau tinggal jangan jauh-jauh, kumpul
aja disini semua biar desanya ramai. Gitu. Tapi semua malah milihnya keluar dari rumah ini sehabis berkeluarga. Kakak gue Kak Yeni yang
belum nikah bahkan ngekos di Jakarta, soalnya jauh banget. Kak Lia, dia ya lo tau sendiri mondar mandir aja, tapi dia punya rumah di Jakarta juga dan sering kosong, gue beberapa kali nginap disana. Serem sendirian Ja.”

“Bokap lo dulu orang yang berpengaruh ya kayaknya disini.”

“Bapak itu dulu pendiri pesantren yang didepan itu Ja. Terus punya panti asuhan yang disebrangnya. Dia juga ada beberapa usaha gitu Ja, tapi gue nggak pernah tau detailnya, dan gue juga nggak mau tau banget sih sebenarnya. Hehehe.”

“Oh gitu ya. eh tapi kok kayaknya keluarga lo nggak sekonservatif anak-anak dikampus kita ya?”

“Haha. Emang iya Ja. Kata bapak dan ibu, kalau berkeyakinan itu ya cukup beriman dan menjalankan amalan sesuai yang diperintahkan,
kalau berlebihan kan nggak bagus. Dan jangan mudah percaya sama mentor atau ustadnya, karena mereka kan juga manusia, bisa aja ada salahnya.”

“Wah bener ini udah pemikirannya Sof. Senang gue dengan pola pikir yang ditanamin sama orangtua lo.”

“Gue juga awalnya mikir kalau misalnya terlalu ketat nanti bakal susah gue dan kakak-kakak gue cari jodohnya. Hahaha.”

Akhirnya kami sampai dibagian belakang rumah dan benar aja, ada kolam renang besar serta pekarangan luas yang banyak ditanami aneka tanaman bunga dan buah. Adem banget, mana suhu udaranya pada dasarnya juga udah dingin kan.

“Lo punya kolam renang, tapi nggak bisa berenang, lo lagi ngelawak apa gimana? Hahaha.”

“Iya Ja, dari kecil gue males banget kalau diajarin buat berenang. Tapi akhirnya gue sadar kalau bisa berenang itu perlu Ja.”

“Gue privatin, sebulan jadi deh, mau nggak? Tapi latiannya keras. Hehehe.”

“Huummm mau deh. Asal lo ngajarinnya yang bener ya Ja.”

“Beres. Nggak perlu bayar Sof kalau buat lo. hehe.”

“haha. Nggak enak dong, lo kan salah satu penghasilannya dari ngajar renang ini gue denger dulu.”

“Sekarang udah nggak aktif lagi gue ngajarin renang Sof. Tapi ya masih rutin berenang kalau guenya.”

“hmm, yaudah kalau gitu, lo kan biasanya suka renang di dekat kampus, dan bayar. Gimana kalau lo kesini aja, gratis berenangnya. Hehe. Tapi sambil ajarin gue.”

“haha. Bisa sih, tapi kalau kemalaman gue gimana? Kan angkutannya udah pada nggak ada kalau lewat isya.”

“lo bawa aja itu motor yang ada digarasi. Lagian ini lo bawa mobil ini kan?”

“Ini mobil pinjeman Sof. Hehe.”

“Ohh. Hahaha. Yaudah pakai aja motor itu. Kalau nggak, misalnya kemaleman dan kecapekan lo nginep aja disini. Ada 14 kamar dirumah ini Ja. Bebas lo mau pakai yang mana aja.”

“Aduh keenakan gue ntar Sof. Haha. Kalau bebas milih, gue pinginnya yang kamarnya deket sama kamar lo ya.”

“kenapa emangnya?”

“Biar gue bisa isengin lo. hahaha.”

“Ijaaa. Jail lo ya. awas lo.” kata Sofi sambil mencubit pinggang kiri ane. Sakit banget.

“Aaaaawwww… Sof sakit banget tau. Aduuuuh.” Kata ane.

“Eh maaf ya Ja, kekencengan ya gue nyubitnya?” tanyanya khawatir.

“Nggak sih biasa aja, kan gue sekalian ngetes seberapa perhatiannya lo sama gue. Hahahaha.” Kata ane, padahal emang beneran sakit.

“Nggak lucu Ja. Hahaha.”

Lalu kami menikmati malam dipinggir kolam renang dengan minum kopi yang katanya diimpor dari India. Pokoknya aneh banget rasanya. Haha.

“Eh disini nggak ada asisten rumah tangga Sof?”

“Ada Cuma 1, itu juga kalau sore pulang Ja.”

“Oh gitu. Gue pikir nggak ada, hebat juga lo kan jadinya ngeberesin rumah segede gini tiap hari.”

“Kalau kolam ini biasanya ada karyawan Kak Lia di kolam sana yang bantu-bantu bersihin. Dia emang dulu kerja disini sebagai tukang kebun, terus karena kerjaannya bagus dia pegang kolam sana Ja. Dia ngutus stafnya buat bersihin kolam ini.”

“Eh skripsi lo udah sampai mana?”

“Udah mau beres Ja. Tinggal kesimpulan saran.”

“Wah mantap. Sama kayak Keket Sof. Dia juga tuh.”

“Haha. Lo bantuin dia ga?”

“Bantuin Sof. Hehe.”

“Bagus itu baru bertanggungjawab. Hehe.”

“bertanggungjawab buat apaan? Kan dia bukan siapa-siapa. Hehe.”

“Hmm iya sih. Eh tapi lo pernah mikir nggak sih kalau misalnya lo digantungin gini, lo mau coba sama yang lain?”

“Mikir Sof. Salah satu incaran gue kan lo.” ane ngomong spontan aja gitu. Gobl*k.

“Hah? Lo juga suka sama gue Ja? Haha. Ngapain? Gue nggak ga punya apa-apa dan nggak banyak kebisaannya. Beda banget sama Keket.”

“Yah daripada gue nggak jelas kan. Toh kata Keket juga kita bisa-bisa aja ngejalin hubungan sama orang lain kalau seandainya ada. Aneh ya pikirannya dia. Haha.”

“Haha iya aneh sih. Tapi ya nggak apa-apa juga. Eh tapi lo mau coba nggak?”

“Coba apa?”

“Jalanin sama gue?”

“Pacaran gitu maksud lo?”

Sofi Cuma mengangguk dan senyum.

“Hmm. Gimana ya, gue takut ngecewain lo Sof. Gue sayang banget sama Keket. Tapi kalau nggak jelas ya gue kan mau juga coba sama yang lain biar jelas. Tapi kalau gue begini, nanti lo pasti jealous-jealousan sama Keket Sof.”

“Ya nggak apa-apa, jealous tanda sayang kan Ja?”

“Eh Sof, kenapa jadi kebalik gini ya? lo ngajakin pacaran. Haha.”

“Yah, kan ini gue nawarin, mungkin kalau hubungannya jelas, lo jadi lebih nyaman.”

“Lo udah pernah pacaran belum sih sebelumnya?”

“Ada, seangkatan gue, tapi beda fakultas Ja. Waktu tingkat satu, sebentar doang. Hehe.”

“Terus ngapain aja?”

“Ya Cuma jalan, makan, minum, berangkat bareng ke kampus. Udah gitu doang.”

“Seriusan? Basi amat. Hahaha.”

“Ya gitu deh.”

“ntar deh, kalau sama gue, pasti seru.”

“gitu ya? seseru apa sih?” katanya menggoda ane.

“Ya seru aja pokoknya. Nanti juga lo tau.”

“Jadi?”

“Jadi apa Sof?”

“Kita?”

“Mau lo gimana?”

“Iya, gue mau nyoba sama lo ya Ja.” Katanya sambil tersenyum malu.

Ane merasa sangat aneh, perasaan ane masih sangat kecil ke Sofi saat itu. Tapi karena dari latar keluarganya yang cukup kuat beragama namun nggak konservatif, banyak hal yang ane mau tau dari dia, penasaran kayak gimana kalau anak pendiam gini dipacarin, plus lagi dia juga cukup cakep buat gandengan, ane memilihnya sebagai pacar. Biar bisa eksplorasi juga. Tapi asli, ketika itu ane kayak kebius buat bilang ya ke dia. Hehe. Keket, Ara, Harmi gimana? Ya liat aja nanti deh. Ane bingung juga soalnya.

“Ja?”

“Eh iya Sof. Hmm. Iya, jadi resmi ya ini?”

“Hmm. Kalau lo masih ragu, nggak apa-apa kok Ja. Yang jelas gue sebenarnya udah nunggu momen ini dari pas 4 bulan kita chat. Tapi kayaknya respon lo biasa-biasa aja waktu gue coba kode di chat kita.”

“hehe. Iya Sof, karena gue masih nggak bisa ngalihin perhatian gue dari Keket Sof. Maafin gue ya.”

“Iya Ja. Eh ganti yuk panggilannya?”

“Hmm boleh Sof. Mau apa?”

“Aku dan kamu itu pasti.”

“Haha. Iya standar nasional ya, padahal diluar jawa sana rata-rata emang aku kamu bahasanya. Haha.”

“Iya sih, tapi kayaknya asyik aja gitu Ja. Nggak apa-apa kan?”

“Iya Sof. Sof tapi maaf ya, gue belum bisa sepenuhnya nyayangin lo. kalau lo mau, lo bantu gue mau?”

“Nggak apa-apa Ja, pelan-pelan aja. Bantu apa Ja?”

“Bantu ngehilangin perasaan gue ke Keket, bisa?”

“Apapun mudah-mudahan bisa aku lakuin kalau emang kamu mau begitu.”

“Makasih yah…. Sayang?” kata ane ragu-ragu.

“Sama sama…..sayang.” katanya sambil senyum.

Ketika ane berdiri dan mau memeluknya, Sofi menolak dan menghindar.

“Ja, aku nggak mau yang aneh-aneh dan ngapa-ngapain ya selama ngejalanin hubungan ini sama kamu.”

“Ehh…iya iya Sof. Maafin aku.”

Disini adanya ane makin tertantang untuk menaklukan hati dia. Pagarnya tebal banget ternyata. Dia emang berani nyatain duluan, tapi ternyata untuk sekedar pelukan bahkan tangannya mau ane pegang aja dia susah. Wah ini dia. Baru seru nih. Hehehe.


Spoiler for Mulustrasi Sofi:
Diubah oleh yanagi92055 13-09-2019 14:44
sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.