- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Cekik [Horor Misteri Urban Legend Kisah Nyata]
...
TS
girisakya
Teror Hantu Cekik [Horor Misteri Urban Legend Kisah Nyata]
"Tumben sepi banget. Biasanya banyak orang nongkrong di kampung ini" gumam Pak Ahmad, penjual mie tek-tek keliling yang biasa berjualan di kampung ini setiap malam. Merasa sedikit lelah karena dia berjualan sambil memikul dagangannya, dia pun memutuskan beristirahat sejenak di pos ronda. Baru beberapa menit beristirahat, dia pun merasakan serangan kantuk yang luar biasa. Padahal dia sudah terbiasa berjualan setiap malam hingga dini hari, tanpa merasa ngantuk sedikitpun. Tapi malam ini sungguh berbeda, mungkin karena suasana kampung ini yang sangat sepi tidak seperti biasanya sehingga membuatnya kurang bersemangat untuk berjualan.
Selamat malam para menghuni SFTH baik dari dunia nyata maupun dari dunia gaib. Perkenalkan nama saya Giri (samaran). Sebetulnya saya member lama di Kaskus dan cukup lama juga mengikuti forum SFTH ini, tetapi kali ini saya memakai ID baru, identitas baru supaya tidak banyak kekepoan diantara kita.
Kali ini saya akan mencoba bercerita sekelumit kisah misteri yang pernah terjadi di kampung saya sekitar 20 tahun yang lalu. Sejujurnya saya agak bingung kisah ini mau dikatakan kisah nyata atau tidak. Yang jelas kejadian ini benar-benar pernah terjadi, tetapi mengenai kebenaran atau fakta yang sesungguhnya saya sendiri masih bingung antara percaya atau tidak percaya.
Cerita kali ini saya akan mencoba mengangkat sebuah "urban legend" tentang teror hantu cekik yang dulu pernah terjadi di kampung saya hampir setiap tahun di bulan suro (muharram). Banyak spekulasi mengenai penyebab teror ini, ada yang bilang disebabkan karena ada orang yang sedang mendalami ilmu hitam, ada juga yang mengatakan disebabkan karena berhubungan dengan nyai roro kidul yang sedang punya hajat di bulan suro dan sedang mencari budak/pengikut dan rumornya saat itu di kampung saya ada salah seorang yang menyembah nyai roro kidul tersebut sehingga mencari budak dari jiwa yang dikorbankan dari kampung saya, ada pula yang mengatakan disebabkan karena serangan santet dan lain-lain.
Hingga saat ini, misteri mengenai penyebab sesungguhnya teror tersebut masih belum terpecahkan meskipun sekarang sudah tidak pernah terjadi lagi. Kejadian terakhir adalah kejadian yang nantinya akan saya ceritakan, di tahun berikutnya sampai sekarang sudah tidak pernah terjadi lagi. Saya akan coba mengulik cerita ini berdasarkan pengalaman saya sendiri dan hasil cerita dari orang-orang di kampung saya.
Saya akan coba bercerita dengan alur pelan supaya mudah dipahami. Untuk update, saya tidak bisa menjanjikan setiap hari karena saya juga sambil mencari narasumber dan kebetulan kejadian ini sudah cukup lama jadi butuh waktu bagi narasumber saya untuk mengingat kejadian ini. Disamping itu juga banyak kesibukan lain di dunia nyata yang harus saya kerjakan.
Kali ini saya akan mencoba bercerita sekelumit kisah misteri yang pernah terjadi di kampung saya sekitar 20 tahun yang lalu. Sejujurnya saya agak bingung kisah ini mau dikatakan kisah nyata atau tidak. Yang jelas kejadian ini benar-benar pernah terjadi, tetapi mengenai kebenaran atau fakta yang sesungguhnya saya sendiri masih bingung antara percaya atau tidak percaya.
Cerita kali ini saya akan mencoba mengangkat sebuah "urban legend" tentang teror hantu cekik yang dulu pernah terjadi di kampung saya hampir setiap tahun di bulan suro (muharram). Banyak spekulasi mengenai penyebab teror ini, ada yang bilang disebabkan karena ada orang yang sedang mendalami ilmu hitam, ada juga yang mengatakan disebabkan karena berhubungan dengan nyai roro kidul yang sedang punya hajat di bulan suro dan sedang mencari budak/pengikut dan rumornya saat itu di kampung saya ada salah seorang yang menyembah nyai roro kidul tersebut sehingga mencari budak dari jiwa yang dikorbankan dari kampung saya, ada pula yang mengatakan disebabkan karena serangan santet dan lain-lain.
Hingga saat ini, misteri mengenai penyebab sesungguhnya teror tersebut masih belum terpecahkan meskipun sekarang sudah tidak pernah terjadi lagi. Kejadian terakhir adalah kejadian yang nantinya akan saya ceritakan, di tahun berikutnya sampai sekarang sudah tidak pernah terjadi lagi. Saya akan coba mengulik cerita ini berdasarkan pengalaman saya sendiri dan hasil cerita dari orang-orang di kampung saya.
Saya akan coba bercerita dengan alur pelan supaya mudah dipahami. Untuk update, saya tidak bisa menjanjikan setiap hari karena saya juga sambil mencari narasumber dan kebetulan kejadian ini sudah cukup lama jadi butuh waktu bagi narasumber saya untuk mengingat kejadian ini. Disamping itu juga banyak kesibukan lain di dunia nyata yang harus saya kerjakan.
Kampung ini terletak di pinggiran kota kecil di provinsi Jawa Tengah. Suasananya masih asri dikelilingi persawahan. Masyarakat kampung ini mayoritas berprofesi sebagai petani. Penduduk kampung ini belum terlalu padat. Masih banyak lahan-lahan kosong tidak terurus yang banyak ditumbuhi tanaman bambu dan pisang, juga terdapat empang-empang di lahan kosong tersebut.
Selain asri, sekilas nuansanya juga sedikit horor karena masih banyaknya lahan kosong tanpa penerangan yang memadahi tersebut. Banyak cerita mistis mengenai lahan-lahan kosong itu. Mulai dari genderuwo, pocong, kuntilanak dan lain sebagainya. Banyak cerita dari penduduk kampung ini mengenai pengalaman horor mereka bertemu dengan berbagai jenis penampakan tersebut. Tapi saya tidak akan menceritakan itu karena hal itu bukan hal unik lagi, tapi sudah menjadi kebiasaan.
Satu hal yang sampai sekarang masih menjadi misteri, dulu di kampung ini pernah terjadi teror hantu cekik hampir setiap tahun, dan kejadiannya selalu di bulan suro. Dan kabarnya teror ini baru akan berhenti jika sudah ada orang meninggal dunia yang dipercaya merupakan korban dari teror tersebut atau bulan suro sudah habis meskipun belum ada korban. Jadi perlu diketahui, setiap terjadi teror tidak selalu jatuh korban. Apa dan bagaimana teror ini terjadi dan bagaimana masyarakat mengatasinya? Saya akan memulai ceritanya di part berikutnya.
Selain asri, sekilas nuansanya juga sedikit horor karena masih banyaknya lahan kosong tanpa penerangan yang memadahi tersebut. Banyak cerita mistis mengenai lahan-lahan kosong itu. Mulai dari genderuwo, pocong, kuntilanak dan lain sebagainya. Banyak cerita dari penduduk kampung ini mengenai pengalaman horor mereka bertemu dengan berbagai jenis penampakan tersebut. Tapi saya tidak akan menceritakan itu karena hal itu bukan hal unik lagi, tapi sudah menjadi kebiasaan.
Satu hal yang sampai sekarang masih menjadi misteri, dulu di kampung ini pernah terjadi teror hantu cekik hampir setiap tahun, dan kejadiannya selalu di bulan suro. Dan kabarnya teror ini baru akan berhenti jika sudah ada orang meninggal dunia yang dipercaya merupakan korban dari teror tersebut atau bulan suro sudah habis meskipun belum ada korban. Jadi perlu diketahui, setiap terjadi teror tidak selalu jatuh korban. Apa dan bagaimana teror ini terjadi dan bagaimana masyarakat mengatasinya? Saya akan memulai ceritanya di part berikutnya.
INDEX
Spoiler for index:
Diubah oleh girisakya 25-09-2019 11:59
doelviev dan 9 lainnya memberi reputasi
10
14.1K
53
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
girisakya
#14
3. Teror Ketiga ; Sebuah Rencana Dan Rumah Bukan Tempat Aman Lagi
Beberapa hari setelah kejadian pertama Mas Wahid kesurupan, kampung ini kembali senyap setiap malam hari datang. Para warga masih berdiam diri di rumah masing-masing setiap malam karena mereka masih percaya bahwa teror hantu cekik tidak akan menyerang mereka ketika mereka jika hari sudah mulai petang. Hal itu dilakukan supaya dia tidak membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Sebab tidak ada lagi yang bisa dilakukan karena cara apapun yang sudah dilakukan selalu saja tidak berhasil mengusir makhluk yang menguasai tubuh Mas Wahid setiap malam. Seolah Mas Wahid sudah merelakan raganya dikuasai makhluk tersebut tanpa adanya perlawanan darinya. Masih belum jelas penyebab yang sebenarnya kenapa Mas Wahid bisa seperti itu. Buku yang dimaksud menjadi salah satu penyebab pun tidak ditemukan di rumahnya.
***
Malam ini aku baru saja pulang dari mendaki gunung sejak beberapa hari yang lalu. Aku memang hobi mendaki gunung. Ketika memasuki kampung, suasana mencekam langsung kurasakan. Sunyi tanpa aktifitas dari warga kampung ini. Ketika sampai di pos ronda, seseorang memanggilku dari dalam pos tersebut.
"Ri... Giri" suara seseorang memanggilku. Spontan aku menoleh.
"Eh, elu Mid" ternyata itu Khamid, salah satu pemuda kampungku sekaligus teman mainku yang memanggilku.
"Ngapain lu di sini? Kaga takut dicekek lu? Hahaha" ucapku lagi.
"Kaga lah. Lagian rame gini. Baru pulang lu, Ri? Sini lah mampir dulu" ucapnya.
Aku pun mengiyakan ajakannya dan melangkah menuju ke pos ronda. Ternyata di dalam masih ada beberapa orang lagi.
"Pada ngapain di sini? Bukannya pada anteng di rumah" ucapku sembari menaruh tas ransel besar bawaanku.
"Bosen sebenernya kita, Ri. Tiap hari ngedongkrok doang di rumah" ucap Hakim.
"Selain itu kita juga penasaran sama isu teror cekik ini. Kita juga mikir, kalo misal kita terus-terusan sembunyi ga ngelakuin apa-apa, teror ini bakalan datang lagi tahun depan dan seterusnya. Makanya kita lagi coba nyari jalan keluar, siapa tau bisa bongkar misteri teror ini, Ri" sambungnya.
"Terus lu udah tau caranya?" Tanyaku.
"Belom" jawab mereka serempak. Aku pun hanya menghela nafas panjang.
"Ngomong-ngomong gimana kabarnya Mas Wahid?" Tanyaku sembari mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celanaku.
"Masih kayak sebelumnya, Ri. Tapi makin kesini kayaknya makin parah deh" ucap Hakim.
"Makin parah gimana maksudnya?" Sambungku lagi sembari menghembuskan asap dari mulutku. Ruangan pos ronda yang sempit ini sekarang semakin dipenuhi asap rokok.
Hakim mematikan bara rokoknya yang memang sudah tinggal puntungnya lalu menyesap kopi hitam yang sudah setengah dingin karena sedari tadi terabaikan oleh hisapan demi hisapan nikotin. Usai meletakkan gelas yang isinya tinggal setengah, dia memandangku dengam tatapan menyelidik.
"Lu punya apaan, Ri?" tanyanya.
"Maksudnya?" Ucapku balik bertanya.
"Dulu waktu Mas Wahid pertama kali kumat, gw lihat dia seolah ingin nyerang elu" ucapnya datar.
"Dan gw rasa itu bukan kebetulan. Dari sekian banyak orang di situ kenapa cuma elu yang jadi perhatiannya. Setelah elu keluar, ga ada orang lain lagi yang diserangnya kecuali Pak Sholihin yang emang berniat ngelawan makhluk yang merasuki Mas Wahid" sambungnya dan akupun hanya terdiam tak mengerti apa yang harus kuucapkan.
"Gw bingung mau jawab apaan. Sejujurnya gw juga ga ngerti kenapa gw yang diserang. Waktu itu gw ga ngelakuin apa-apa, gw cuma ngelihat mata Mas Wahid. Dan perlu elu tau, gw ga punya pegangan apapun, kalo itu yang elu maksud." Jawabku.
"Beberapa hari ini gw sama Hakim dan anak-anak yang lain sering mikirin ini dan kadang menbahasnya, Ri" ucap Khamid.
"Kayaknya elu punya sesuatu yang itu bukanlah hal sembarangan. Kalo elu ngerasa ga punya apapun, mungkin elu belum nyadar aja mungkin, Ri. Coba lu inget-inget deh, ada cerita apa di masa lalu atau waktu elu masih kecil sebelum pindah ke kampung ini" sambungnya.
Aku memang bukan warga asli kampung ini. Aku berasal dari kelurahan yang letaknya di pusat kabupaten dekat dengan situs kuno peninggalan religius masa lampau. Aku pindah ke kampung ini saat usiaku 3 tahun karena ayahku bekerja di kampung ini sebagai pengajar di salah satu sekolah dasar. Aku kembali mengingat cerita dari ibuku mengenai diriku sewaktu masih bayi dulu. Dulu aku dilahirkan prematur ketika usia kandungan masih 7 bulan. Sebagai bayi prematur, aku memiliki tubuh mungil dan lemah. Setelah beberapa hari tinggal di dalam inkubator dan dinyatakan sudah sehat, aku pun dibawa pulang. Waktu itu keluargaku masih tinggal serumah dengan nenekku. Ternyata setelah sampai rumah aku menjadi pusat perhatian, baik dari bangsa manusia atau keluargaku yang lain maupun dari bangsa jin. Hampir setiap malam aku selalu rewel tidak jelas seperti merasa ketakutan. Padahal, menurut penuturan ibuku, segala cara untuk mengatasi bayi rewel sudah dilakukan, seperti mengecek popok, mengatur posisi tidur senyaman mungkin, sampai memberi ASI secukupnya. Tapi aku masih saja rewel. Hingga pada suatu malam, pamanku yang kebetulan sedang lewat di depan kamarku melihat aku yang sedang tertidur sedang diamati oleh makhluk besar hitam berbulu dan seolah hendak mengambilku. Karena pamanku ini memiliki kelebihan secara batin yang didapatkannya dari keturunan dan beliau juga mempertajam dengan mempelajarinya, maka pamanku bisa melihat dan melawan makhluk tersebut. Singkat cerita, aku pun selamat dari serangan makhluk tersebut setelah pamanku menolongku.
Hari demi hari berlalu dan hampir setiap malam aku masih menjadi incaran makhluk gaib. Pamanku semakin lama semakin kerepotan juga untuk menjagaku. Hingga akhirnya ayahku meminta bantuan kepada temannya yang seorang kyai sekaligus pimpinan salah satu pondok pesantren ternama di kotaku. Setelah teman ayahku menolongku, entah dengan cara apa, aku sudah tidak pernah diganggu lagi. Ada satu pesan dari teman ayahku kepada orang tuaku yang intinya, nanti setelah aku dewasa, aku akan menjadi orang yang tajam, baik secara pikiran maupun perasaan, oleh karenanya orang tuaku harus benar-benar menjagaku karena jika sampai aku salah jalan akan menjadi berbahaya.
Sejak aku ditolong oleh teman ayahku hingga saat ini aku tidak pernah bisa melihat penampakan makhluk gaib secara jelas, paling hanya bayangan-bayangan tidak jelas. Tapi aku selalu bisa merasakan kehadirannya jika makhluk itu sedang berada di dekatku. Dan entah tau darimana, seolah aku memiliki keyakinan jika aku memiliki semacam energi melalui mata. Hal itu datang begitu saja tanpa pernah kurencanakan atau kupelajari. Beberapa kali aku menghadapi orang kesurupan dan hanya melalui tatapan tajam ke matanya orang tersebut sembuh dengan sendirinya. Padahal aku tidak pernah melakukan ritual apapun atau menggunakan bacaan-bacaan khusus. Selain dalam hal gaib, terkadang aku menggunakan mata ketika hendak mempengaruhi seseorang atau bahkan mengintimidasi. Dan sejauh ini sangat sering berhasil. Entahlah aku hanya melakukan itu sesuai insting saja.
Usai aku bercerita tentang diriku tersebut kepada teman-temanku, mereka pun hanya manggut-manggut seolah menyadari sesuatu.
"Seperti yang gw duga, Ri. Elu emang punya sesuatu, tapi elu ga menyadarinya. Entah itu dari orang yang nolong elu waktu bayi dulu entah dari keturunan, gw juga ga tau karena bisa aja begitu mengingat paman elu juga punya kemampuan yang didapat dari keturunan. Gw rasa nenek moyang elu dulu bukan orang sembarangan" ucap Hakim.
"Terus hubungannya sama rencana kalian tadi soal mau bongkar misteri teror cekik ini apaan?" Tanyaku.
"Kita lagi mikirin mau pake kemampuan elu juga buat ngelawan teror ini" kali ini Rahmat ikut angkat bicara setelah sejak tadi hanya menjadi pendengar.
"Gila... Gw ga berani. Lagian gw juga ga ngerti gimana caranya dan gw ga yakin kalo gw punya kemampuan. Selama ini gw ngerasa semua itu cuma kebetulan doang" sahutku.
"Ya lu lakuin seperti yang biasa lu lakuin aja, Ri. Gw yakin kita semua bareng elu bisa ngelawan teror ini. Besok kita ketemu Pak Sholihin dulu. Kita konsultasi dulu sama beliau apa yang perlu dilakukan" ucap Khamid.
"Gw pikir-pikir dulu deh. Masih ga yakin gw." Ucapku.
"Yang jelas kita, pemuda kampung ini, udah jengah sama teror ini. Kalo kita ga ngelawan, tahun depan dan seterusnya bakal ada lagi. Gw harap besok habis maghrib lu ikut datang ke rumah Pak Sholihin" ucap Rahmat.
"Ya udah kalo lu mau pulang istirahat. Tapi kalo mau ikutan nongkrong di sini juga boleh. Kita rencananya mau sampe subuh" ucap Hakim.
"Gw ikut di sini aja. Kopi gw mana?" Ucapku dan salah satu di antara mereka pun kembali menyeduh kopi untuk kita semua.
Malam semakin larut. Kami semua masih tetap terjaga ditemani bergelas-gelas kopi dan berbatang-batang rokok sembari ngobrol ringan tentang apa aja. Mulai dari membicarakan sosok Eva, gadis kampungku yang berparas cantik dan berbadan seksi yang suka mandi di kali hanya berbalut kain jarik saja sampai membicarakan rencana jahat mencuri buah mangga di kebun milik warga untuk dinikmati bersama dan obrolan-obrolan lainnya supaya kita semua bisa terus terjaga hingga pagi.
Ketika kami semua sedang asik mengobrol, tiba-tiba kami mendengar teriakan diikuti suara gaduh dari sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari pos ronda ini. Tanpa komando, kami semua berlari menuju sumber suara tersebut. Sesampainya di tempat tujuan, kami melihat sebuah rumah yang pintunya terbuka dan beberapa orang sudah berada di dalamnya. Ternyata itu rumah Pak Jamal dan kami melihat Pak Jamal sudah terduduk lemas dengan ekspresi wajah ketakutan.
Berdasarkan keterangan Pak Jamal dan istrinya, Tadi Pak Jamal terbangun dari tidurnya karena ingin buang air kecil. Baru keluar dari kamar, belum sampai keluar rumah tiba-tiba Pak Jamal dihadang sosok tinggi besar. Pak Jamal kaget lalu ingin berteriak. Belum sempat bersuara tiba-tiba sosok itu mencekiknya. Istrinya yang sempat mendengar suara mencurigakan pun keluar dari kamarnya dan mendapati Pak Jamal memegang lehernya seolah sedang berontak dari cekikan seseorang tetapi istri Pak Jamal tidak melihat siapapun yang mencekik suaminya. Spontan Istri Pak Jamal berteriak dan seketika Pak Jamal terjatuh lemas. Tidak lama kemudian kami dan para tetangga datang.
Kami hanya berusaha menenangkan Pak Jamal dan istrinya karena kami pun tak tau harus berbuat apa. Beberapa waktu kemudian kami kembali mendengar teriakan dari rumah lain. Tak lama terdengar lagi teriakan lainnya hingga empat kali kejadian di malam itu. Tak ayal, hal itu membuat kampung ini menjadi gempar di malam itu. Akhirnya hampir seluruh warga keluar dan berkumpul menjadi beberapa kelompok. Sedangkan para pemuda dan para pria membagi personil menjadi beberapa bagian dan menjaga setiap kelompok tersebut hingga pagi dengan membawa senjata seadanya.
***
Malam ini aku baru saja pulang dari mendaki gunung sejak beberapa hari yang lalu. Aku memang hobi mendaki gunung. Ketika memasuki kampung, suasana mencekam langsung kurasakan. Sunyi tanpa aktifitas dari warga kampung ini. Ketika sampai di pos ronda, seseorang memanggilku dari dalam pos tersebut.
"Ri... Giri" suara seseorang memanggilku. Spontan aku menoleh.
"Eh, elu Mid" ternyata itu Khamid, salah satu pemuda kampungku sekaligus teman mainku yang memanggilku.
"Ngapain lu di sini? Kaga takut dicekek lu? Hahaha" ucapku lagi.
"Kaga lah. Lagian rame gini. Baru pulang lu, Ri? Sini lah mampir dulu" ucapnya.
Aku pun mengiyakan ajakannya dan melangkah menuju ke pos ronda. Ternyata di dalam masih ada beberapa orang lagi.
"Pada ngapain di sini? Bukannya pada anteng di rumah" ucapku sembari menaruh tas ransel besar bawaanku.
"Bosen sebenernya kita, Ri. Tiap hari ngedongkrok doang di rumah" ucap Hakim.
"Selain itu kita juga penasaran sama isu teror cekik ini. Kita juga mikir, kalo misal kita terus-terusan sembunyi ga ngelakuin apa-apa, teror ini bakalan datang lagi tahun depan dan seterusnya. Makanya kita lagi coba nyari jalan keluar, siapa tau bisa bongkar misteri teror ini, Ri" sambungnya.
"Terus lu udah tau caranya?" Tanyaku.
"Belom" jawab mereka serempak. Aku pun hanya menghela nafas panjang.
"Ngomong-ngomong gimana kabarnya Mas Wahid?" Tanyaku sembari mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celanaku.
"Masih kayak sebelumnya, Ri. Tapi makin kesini kayaknya makin parah deh" ucap Hakim.
"Makin parah gimana maksudnya?" Sambungku lagi sembari menghembuskan asap dari mulutku. Ruangan pos ronda yang sempit ini sekarang semakin dipenuhi asap rokok.
Hakim mematikan bara rokoknya yang memang sudah tinggal puntungnya lalu menyesap kopi hitam yang sudah setengah dingin karena sedari tadi terabaikan oleh hisapan demi hisapan nikotin. Usai meletakkan gelas yang isinya tinggal setengah, dia memandangku dengam tatapan menyelidik.
"Lu punya apaan, Ri?" tanyanya.
"Maksudnya?" Ucapku balik bertanya.
"Dulu waktu Mas Wahid pertama kali kumat, gw lihat dia seolah ingin nyerang elu" ucapnya datar.
"Dan gw rasa itu bukan kebetulan. Dari sekian banyak orang di situ kenapa cuma elu yang jadi perhatiannya. Setelah elu keluar, ga ada orang lain lagi yang diserangnya kecuali Pak Sholihin yang emang berniat ngelawan makhluk yang merasuki Mas Wahid" sambungnya dan akupun hanya terdiam tak mengerti apa yang harus kuucapkan.
"Gw bingung mau jawab apaan. Sejujurnya gw juga ga ngerti kenapa gw yang diserang. Waktu itu gw ga ngelakuin apa-apa, gw cuma ngelihat mata Mas Wahid. Dan perlu elu tau, gw ga punya pegangan apapun, kalo itu yang elu maksud." Jawabku.
"Beberapa hari ini gw sama Hakim dan anak-anak yang lain sering mikirin ini dan kadang menbahasnya, Ri" ucap Khamid.
"Kayaknya elu punya sesuatu yang itu bukanlah hal sembarangan. Kalo elu ngerasa ga punya apapun, mungkin elu belum nyadar aja mungkin, Ri. Coba lu inget-inget deh, ada cerita apa di masa lalu atau waktu elu masih kecil sebelum pindah ke kampung ini" sambungnya.
Aku memang bukan warga asli kampung ini. Aku berasal dari kelurahan yang letaknya di pusat kabupaten dekat dengan situs kuno peninggalan religius masa lampau. Aku pindah ke kampung ini saat usiaku 3 tahun karena ayahku bekerja di kampung ini sebagai pengajar di salah satu sekolah dasar. Aku kembali mengingat cerita dari ibuku mengenai diriku sewaktu masih bayi dulu. Dulu aku dilahirkan prematur ketika usia kandungan masih 7 bulan. Sebagai bayi prematur, aku memiliki tubuh mungil dan lemah. Setelah beberapa hari tinggal di dalam inkubator dan dinyatakan sudah sehat, aku pun dibawa pulang. Waktu itu keluargaku masih tinggal serumah dengan nenekku. Ternyata setelah sampai rumah aku menjadi pusat perhatian, baik dari bangsa manusia atau keluargaku yang lain maupun dari bangsa jin. Hampir setiap malam aku selalu rewel tidak jelas seperti merasa ketakutan. Padahal, menurut penuturan ibuku, segala cara untuk mengatasi bayi rewel sudah dilakukan, seperti mengecek popok, mengatur posisi tidur senyaman mungkin, sampai memberi ASI secukupnya. Tapi aku masih saja rewel. Hingga pada suatu malam, pamanku yang kebetulan sedang lewat di depan kamarku melihat aku yang sedang tertidur sedang diamati oleh makhluk besar hitam berbulu dan seolah hendak mengambilku. Karena pamanku ini memiliki kelebihan secara batin yang didapatkannya dari keturunan dan beliau juga mempertajam dengan mempelajarinya, maka pamanku bisa melihat dan melawan makhluk tersebut. Singkat cerita, aku pun selamat dari serangan makhluk tersebut setelah pamanku menolongku.
Hari demi hari berlalu dan hampir setiap malam aku masih menjadi incaran makhluk gaib. Pamanku semakin lama semakin kerepotan juga untuk menjagaku. Hingga akhirnya ayahku meminta bantuan kepada temannya yang seorang kyai sekaligus pimpinan salah satu pondok pesantren ternama di kotaku. Setelah teman ayahku menolongku, entah dengan cara apa, aku sudah tidak pernah diganggu lagi. Ada satu pesan dari teman ayahku kepada orang tuaku yang intinya, nanti setelah aku dewasa, aku akan menjadi orang yang tajam, baik secara pikiran maupun perasaan, oleh karenanya orang tuaku harus benar-benar menjagaku karena jika sampai aku salah jalan akan menjadi berbahaya.
Sejak aku ditolong oleh teman ayahku hingga saat ini aku tidak pernah bisa melihat penampakan makhluk gaib secara jelas, paling hanya bayangan-bayangan tidak jelas. Tapi aku selalu bisa merasakan kehadirannya jika makhluk itu sedang berada di dekatku. Dan entah tau darimana, seolah aku memiliki keyakinan jika aku memiliki semacam energi melalui mata. Hal itu datang begitu saja tanpa pernah kurencanakan atau kupelajari. Beberapa kali aku menghadapi orang kesurupan dan hanya melalui tatapan tajam ke matanya orang tersebut sembuh dengan sendirinya. Padahal aku tidak pernah melakukan ritual apapun atau menggunakan bacaan-bacaan khusus. Selain dalam hal gaib, terkadang aku menggunakan mata ketika hendak mempengaruhi seseorang atau bahkan mengintimidasi. Dan sejauh ini sangat sering berhasil. Entahlah aku hanya melakukan itu sesuai insting saja.
Usai aku bercerita tentang diriku tersebut kepada teman-temanku, mereka pun hanya manggut-manggut seolah menyadari sesuatu.
"Seperti yang gw duga, Ri. Elu emang punya sesuatu, tapi elu ga menyadarinya. Entah itu dari orang yang nolong elu waktu bayi dulu entah dari keturunan, gw juga ga tau karena bisa aja begitu mengingat paman elu juga punya kemampuan yang didapat dari keturunan. Gw rasa nenek moyang elu dulu bukan orang sembarangan" ucap Hakim.
"Terus hubungannya sama rencana kalian tadi soal mau bongkar misteri teror cekik ini apaan?" Tanyaku.
"Kita lagi mikirin mau pake kemampuan elu juga buat ngelawan teror ini" kali ini Rahmat ikut angkat bicara setelah sejak tadi hanya menjadi pendengar.
"Gila... Gw ga berani. Lagian gw juga ga ngerti gimana caranya dan gw ga yakin kalo gw punya kemampuan. Selama ini gw ngerasa semua itu cuma kebetulan doang" sahutku.
"Ya lu lakuin seperti yang biasa lu lakuin aja, Ri. Gw yakin kita semua bareng elu bisa ngelawan teror ini. Besok kita ketemu Pak Sholihin dulu. Kita konsultasi dulu sama beliau apa yang perlu dilakukan" ucap Khamid.
"Gw pikir-pikir dulu deh. Masih ga yakin gw." Ucapku.
"Yang jelas kita, pemuda kampung ini, udah jengah sama teror ini. Kalo kita ga ngelawan, tahun depan dan seterusnya bakal ada lagi. Gw harap besok habis maghrib lu ikut datang ke rumah Pak Sholihin" ucap Rahmat.
"Ya udah kalo lu mau pulang istirahat. Tapi kalo mau ikutan nongkrong di sini juga boleh. Kita rencananya mau sampe subuh" ucap Hakim.
"Gw ikut di sini aja. Kopi gw mana?" Ucapku dan salah satu di antara mereka pun kembali menyeduh kopi untuk kita semua.
Malam semakin larut. Kami semua masih tetap terjaga ditemani bergelas-gelas kopi dan berbatang-batang rokok sembari ngobrol ringan tentang apa aja. Mulai dari membicarakan sosok Eva, gadis kampungku yang berparas cantik dan berbadan seksi yang suka mandi di kali hanya berbalut kain jarik saja sampai membicarakan rencana jahat mencuri buah mangga di kebun milik warga untuk dinikmati bersama dan obrolan-obrolan lainnya supaya kita semua bisa terus terjaga hingga pagi.
Ketika kami semua sedang asik mengobrol, tiba-tiba kami mendengar teriakan diikuti suara gaduh dari sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari pos ronda ini. Tanpa komando, kami semua berlari menuju sumber suara tersebut. Sesampainya di tempat tujuan, kami melihat sebuah rumah yang pintunya terbuka dan beberapa orang sudah berada di dalamnya. Ternyata itu rumah Pak Jamal dan kami melihat Pak Jamal sudah terduduk lemas dengan ekspresi wajah ketakutan.
Berdasarkan keterangan Pak Jamal dan istrinya, Tadi Pak Jamal terbangun dari tidurnya karena ingin buang air kecil. Baru keluar dari kamar, belum sampai keluar rumah tiba-tiba Pak Jamal dihadang sosok tinggi besar. Pak Jamal kaget lalu ingin berteriak. Belum sempat bersuara tiba-tiba sosok itu mencekiknya. Istrinya yang sempat mendengar suara mencurigakan pun keluar dari kamarnya dan mendapati Pak Jamal memegang lehernya seolah sedang berontak dari cekikan seseorang tetapi istri Pak Jamal tidak melihat siapapun yang mencekik suaminya. Spontan Istri Pak Jamal berteriak dan seketika Pak Jamal terjatuh lemas. Tidak lama kemudian kami dan para tetangga datang.
Kami hanya berusaha menenangkan Pak Jamal dan istrinya karena kami pun tak tau harus berbuat apa. Beberapa waktu kemudian kami kembali mendengar teriakan dari rumah lain. Tak lama terdengar lagi teriakan lainnya hingga empat kali kejadian di malam itu. Tak ayal, hal itu membuat kampung ini menjadi gempar di malam itu. Akhirnya hampir seluruh warga keluar dan berkumpul menjadi beberapa kelompok. Sedangkan para pemuda dan para pria membagi personil menjadi beberapa bagian dan menjaga setiap kelompok tersebut hingga pagi dengan membawa senjata seadanya.
Diubah oleh girisakya 13-09-2019 13:03
kulipriok dan 3 lainnya memberi reputasi
4