- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/20/10668384_20200520011303.jpg)
Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.
Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.
Spoiler for INDEX:
Spoiler for "You":
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for Peraturan:
Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.
Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
DayatMadridista dan 113 lainnya memberi reputasi
106
465.8K
4.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#1399
Jogja Trip_Part 3
Waktu udah menunjukkan pukul 15.00, yang artinya kurang lebih 1 jam lagi band akan tampil. Ane nervous luar biasa dan itu juga yang dirasakan sama teman-teman ane lainnya. Audiensnya lebih meriah dan mereka sangat respek terhadap band-band baru yang tampil. Jadi terpacu untuk menampilkan yang terbaik kan.
"Gila tegang banget gue." Kata ane sambil mengibaskan tangan.
"Ho oh sama. Gila ni crowdnya edan banget." Kata Ito.
"Inilah enaknya kalau main dikota yang sangat menghargai karya seni apapun bentuknya." Drian menambahkan.
"Semangat ya kalian. Ara udah kasih peluang buat main disini, jadi maksimal ya!" Kata Ara ceria.
Waktu naik panggung akhirnya tinggal sisa lima menit lagi, sekitar satu lagu lagi band yang ada diatas panggung sana menyelesaikannya. Ane luar biasa tegang, dan akhirnya mengeluarkan keringat. Harmi secara otomatis membantu mengelap dengan telaten muka ane. Anak-anak otomatis langsung melihat ekspresi Ara yang ternyata biasa-biasa aja. Tapi ane tau dia nggak biasa-biasa aja hatinya.
"Lo bisa kak. Gue yakin kok, lo udah berpengalaman bertahun-tahun untuk ngehadapin massa kayak gini kan? Lo pasti bisa." Bisik Harmi sambil mengenggam tangan ane.
"Makasih ya Mi." Kata ane.
Secara spontan kemudian Harmi memeluk ane didepan semua teman ane. Enak sih, tapi langsung berasa canggung parah. Apalagi ada Ara juga disitu. Ekspresi Ara datar-datar aja dan tetap dengan raut cerianya seperti biasa. Lagi-lagi ane tau kalau hatinya nggak biasa-biasa aja.
"Kumpul sini kita doa bersama ya sebelum manggung, semoga kita diberikan kemudahan dan kelancaran saat menghibur diatas panggung nanti. Semoga juga alat-alat berfungsi sebagaimana mestinya, dan nggak ada kendala non teknis lainnya." Kata ane dibarengi dengan amin dari semua orang yang ada di backstage.
Selesai berdoa, kami bersiap dengan alat-alat, kemudian LO kami memanggil dan membawa beberapa orang yang jadi kru dadakan kami. Biasanya band ane ada bawa kru sendiri, roadie sendiri, tapi karena keterbatasan jatah orang yang dibiayai, makanya kami hanya bisa membawa sedikit orang. Ada fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu Ara memeluk kami satu persatu, dan paling susah payah adalah memeluk Ito yang tinggi banget. Haha.
"Ja, semangat ya sayang. Gue percaya lo bisa nguasain panggung kayak biasa." Bisik Ara ketika memeluk ane.
"Makasih sayang." Ane spontan banget ngomong begitu ke Ara.
Salah. Ini salah banget.
Ara tersenyum manis banget dan memegang pipi ane lembut.
Kami menyelesaikan tugas kami dengan baik selama 25 menit. Membawakan 5 lagu, 3 lagu sendiri dan 2 lagu cover. Apresiasi luar biasa dari penonton membuat lelah kami seperti terbayar lunas. Turun panggung, LO yang bernama Ifa menyelamati kami satu persatu. Setelahnya Ifa malah banyak ngobrol dengan Drian. Ada satu momen yang ane tangkap yaitu Drian meminta nomer Ifa, padahal Ara juga punya. Hahaha. Bagus deh, bergerak lah kalau mau dapet pacar. Good job, Drian.
Kami kembali ke backstage untuk istirahat, minum, dan berganti pakaian. Kemudian LO kami Ifa memanggil ane untuk keluar sebentar. Ane hanya pakai celana manggung aja sama handuk kecil yang dikalungkan di leher, berasa kayak pengemudi becak. Haha. Kata Ifa ada yang mau ketemu ane, teman lama. Ane bingung siapa. Ternyata Citra. Masih ingat tentang Citra? Silakan lihat di Part 26. Usaha Optimal.
Sekilas ane pernah menceritakan bagaimana moncernya otak dia dibalik kesederhanaan penampilannya. Saat ketemu ane di Jogja, Citra sangatlah berbeda. Dandanannya sangat modis, tren fashion hijab yang lagi hits saat itu berhasil diterapkan pada penampilannya. Ane aja sempat pangling. Melengkapi penjelasan tentang dia, tingginya kurang lebih 162 cm, badannya agak kurus, terlihat dari jari-jari tangannya yang ramping, mukanya agak bulat, alisnya rapi, sebenarnya biasa-biasa aja, tapi ane melihat anak ini menjadi manis banget mengingat kemampuan otak dan bicaranya.
"Masih ingat aku Ja?”
"Ya ampun, Citra. Apa kabar kamu?"
"Haha. Baik Ja. Kamu gimana?"
"Baik banget. Senang malah sekarang, udah sukses manggung, eh ketemu teman lama."
"Iya Ja. Hebat kamu ya, selain cerdas di eksakta, kamu mumpuni juga di bidang seni ya. Senang aku bisa kenal sama kamu Ja." Katanya dengan logat jawa yang cukup kental.
"Haha makasih loh pujiannya. Yah, ini sebenarnya biar aku nggak stres aja Cit. Tapi sekalian juga buat biayain sekolah aku kan, minimal uang jajan nggak minta."
"Wah mantap ya Ja, udah bisa mandiri kamu."
"Iya. Hehe. Eh kamu sama siapa kesini?”
"Aku sendirian Ja. Habis nggak ada yang mau ajak aku. Mungkin karena aku kurang bergaul kali ya, aku nggak banyak teman dikampusku Ja."
"Oh gitu? Sayang banget ya padahal kamu manis dan pintar pake banget, masa iya nggak ada yang mau temenan sama kamu, bahkan nggak ada gitu yang mau usaha dapetin kamu. Hehehe."
"Bisa aja kamu Ja." Kata Citra diiringi ulas senyum tipisnya.
"Ya emang bisa, kan emang keadaanya kayak gitu Cit. Kenapa kamu jadi nggak pede?”
"Aku bukannya nggak pede, tapi kenyataannya, nggak banyak yang mau temenan sama aku."
"Yaudah bertemen aja sama aku, kan aku bisa jadi teman baik kamu Cit."
"Iya makasih ya Ja."
"Eh ayo-ayo masuk yuk, aku kenalin sama teman-teman aku."
"Boleh nih?"
"Ya boleh, kali aja salah satu dari mereka jodoh kamu. Hehe."
"Haha nggak mungkin."
"Masa depan siapa yang tau Cit. Ayo yuk."
Ane kemudian mempersilakan Citra masuk ke backstage, dan pemandangannya pada lagi telanjang dada semua gara-gara gerah. Haha. Atomanya juga udah nggak karuan dan Ara mulai repot nyemprotin cologne diruangan tersebut.
"Aduh maaf ya lagi pada kegerahan nih. Hahaha."
"Nggak apa-apa Ja."
Citra berkenalan dengan semua member, termasuk Harmi. Dia begitu antusias melihat pemandangan yang mungkin nggak pernah dia lihat sebelumnya, berada di backstage sebuah band yang habis manggung, banyak cowok, dan nggak terlihat ada orang-orang yang cerdas seperti dirinya. Ane menjelaskan pula bagaimana ane bertemu dia, menjelaskan bagaimana cerdasnya dia dan prestasi dia. Setelahnya aplause untuknya bergema diruangan. Dia begitu senang dengan apresiasi kecil tersebut.
Sementara Citra banyak ngobrol dengan Ara, Harmi terlihat sibuk dengan ponselnya. Ane yang sudah berganti pakaian lalu duduk disebelahnya.
"Katanya mau ngobrol-ngobrol sama Ara?”
"Udah Kak, tadi pagi, kita kan sarapan bareng sementara lo masih molor. Asyik kok anaknya."
"Kok lo ditinggal tetep?"
"Nah itu gue nggak tau kak."
"Lo ngobrolin apa aja emang?”
"Macem-macem, tapi utamanya tentang kesalahpahaman kemarin itu kak."
"Dia terima sama penjelasan lo?”
"Terima kak."
"Bagus deh, mungkin ini karena nyambut teman baru kali ya."
"Iya mungkin aja kak."
"Harmi, sini." Teriak Ara memanggil Harmi.
"Nah kan, aman udah. Hehe. Akur-akur ya Mi."
Harmi cuma senyum lalu nyamperin Ara di sudut ruangan.
"Ja, sadis lo ya bener-bener. Haha." Kata Arko tiba-tiba.
"Lah sadis kenapa cuy?” kata ane.
" Tiga orang, demen sama lo, terus ngobrol bareng. Gileeee. Skill dewa banget lo bangs*t. Hahaha."
"Tiga? Citra mah temen biasa Ko, ngaco aja lo."
"Gobl*k. Liat sorot matanya, liat gestur badannya pas kalian ngobrol, itu ketebak Ja."
"Emang iya? Haha. Gue nggak ngerasa sih si Citra demen sama gue."
"Dasar gobl*k. Itu ketauan banget kali. Si Drian noh yang sadar pertama kali."
"Ah iya ya? Gue ngerasanya biasa aja perasaan."
"Udah, lo gebet aja sekalian. Sebentar juga dia nurut apa kata lo. Haha."
"Gitu ya? Coba ah gue tes nanti."
"Silakan aja Ja. Hahaha."
Lalu ane menelepon Keket dan menceritakan apa yang terjadi disini dan menceritakan tentang Citra. Dia senang banget dengarnya. Ane jadi bersemangat juga. Sekitar 20 menitan ane telponan sama Keket. Kemudian nggak lama dia mengirimkan chat berisi tiga buah foto dirinya. Cantik natural, karena fotonya juga natural, nggak pake apa-apa. Hahahaha. Si Keket gila nih. Untung pas lagi sendiri, coba pas lagi rame-rame, menang banyak anak-anak ntar.
Citra cukup lama ada dibackstage dan akhirnya mengobrol juga dengan Arko, Ito dan Drian.
"Anggota band kamu keren-keren. Cakep-cakep lagi. Tadi pas aku nonton tuh ya, ada banyak cewek yang histeris, terutama sama Drian." Kata Citra.
"Haha Drian emang jualan utama band ini Cit. Dimana-mana kalau kita manggung, pasti dia yang diincer banyak lawan jenis."
"Hooo gitu ya. Tapi aku lebih tertarik sama kamu sih Ja daripada dia. Kamu lebih charming menurutku."
"Haha. Bisa aja kamu Cit, jangan bikin aku jadi senang gitu dong. Tapi Drian juga pintar loh Cit. Band kami ini band-band anak-anak yang otaknya eksakta semua. Hahaha."
Lalu ane menjelaskan satu persatu kuliah dimana aja teman-teman ane ini.
"Seriusan? Big applause buat kalian berempat. Sempat-sempatnya ngeband disela kesibukan kuliah dan mencar-mencar semua lagi kuliahnya." Ucap Citra kagum.
"Beneran. Hehe. Kalau nggak gini (ngeband) kami bakalan stres Cit."
"Iya sih, tapi kalian itu juga nggak ecek-ecek loh mainin alat musiknya. Nggak asal bunyi gitulah. Bagus banget kalian, nyiptain lagu juga enak-enak, tapi ada satu yang terakhir aku agak mikir menikmatinya."
"Haha makasih Cit. Yang terakhir emang agak rumit, serumit pengalamanku dulu sama mantanku. Makanya jadilah itu lagu."
"Oh iya ya? Rumitnya kayak gimana?”
Lalu ane menceritakan pengalaman pahit ane sama Zalina. Mendengar pengalaman ane itu, Citra malah jadi menangis.
"Eh kenapa Cit? Kok kamu nangis?”
"Aku terharu aja Ja. Sakit banget ya pasti kalau jadi kamu."
"Banget Cit. Tapi sayangnya itu malah ngebikin aku jadi cowok yang brengsek dimasa sekarang Cit."
"Brengsek gimana? Bad boy gitu maksudnya?”
"Kurang lebihnya gitu."
"Aku sih nggak masalah mau badboy atau nggak, yang penting aku nyaman aja kalau diajak ngobrol."
Lalu kami ngobrol sambil mengingat memori saat memulai berkomunikasi via email, dan berlanjut ke chat di ponsel. Seru sih, tapi waktu itu Citra belum seasyik sekarang. Kaku banget kayak kanebo kering. Mau becandaan juga jadi rada sungkan. Kalau sekarang bahkan ane cerita udah macem-macem sama Zalina dia biasa aja. Padahal ane pikir anak ini cukup konservatif awalnya.
"Besok aku pulang jam 6 pagi Cit. Cepet banget ya?" Kata ane.
"Haha iya, cepet banget Ja. Padahal aku masih mau ngobrol banyak sama kamu."
"Call aja Cit. Atau chat, kalau mau foto ya tinggal foto terus kirim. Hehe."
"Kamu mau foto apa emang?”
"Ya foto kamu, masa tukang matrial.”
"Haha. Iya ngerti, tapi foto yang kayak gimana?”
"Ya terserah kamu Cit. Yang penting aku bisa liat kamu."
"Iya iya, badboy. Aku tau kamu mau foto yang kayak gimana Ja."
"Gimana emang? Sok tau kamu?”
"Yang ininya kebuka tho?” Citra menunjuk bagian dadanya, dia memakai kemeja berkancing dan bergestur ingin membuka kancing tersebut.
"Hah? Cit. Aku nggak nyangka kamu pikirannya kotor juga ya. Hahaha."
"Udah lah Ja, kita sama-sama udah gede ini. Aku punya pikiran gitu ya wajar jadinya. Hehe."
"Gila anak secerdas dan sepintar kamu bisa ya mikir kotor juga. Hahaha."
"Ya kamu aja bisa."
"Tapi aku cowok Cit."
"Apa bedanya sama cewek? Sama aja toh."
"Hmmm iya iya, aku kalah. Kamu tu ya, kalau udah nyerocos maunya pasti menang."
"Haha. Maaf-maaf Ja."
Malam semakin larut dan kemudian Cira pamitan pulang karena sudah dijemput ayahnya. Tidak lupa ane mengantarnya sampai kedepan ayahnya dan sempat berkenalan sekilas dengan ayahnya. Seorang polisi ternyata.
"Sampai ketemu lagi ya Ja. Jangan lupa chat aku ya. Telpon juga kalau nggak keberatan ya. Bye Ja." Katanya kemudian tersenyum ke ane.
Ane hanya melambaikan tangan sambil tersenyum kemudian mengacungkan jempol tanda setuju dengan apa yang dia minta. Kemudian ane kembali ke backstage dan Ara serta Harmi memasang muka yang kurang lebih sama, siap membunuh ane. Raut muka mereka sangat-sangat nggak enak. Ane cuma senyum-senyum aja.
"Bener nggak apa kata gue Ja?” bisik Arko.
"Ho oh bener. Si Citra demen sama gue kayaknya Ko. Haha."
"Gue gitu. Hahaha."
Ane dan kawan-kawan kemudian kembali ke homestay, tapi nggak langsung istirahat, melainkan berakrab-akrab diri sama performer-perfomer yang udah tampil kemudian pulang duluan. Sekitar jam 3 pagi ane baru selesai nongkrong sama teman-teman baru ane. Ara dan Harmi udah terlelap. Nggak lupa ane naikkan selimut mereka masing-masing. Lalu ane pergi tidur.
Sekitar jam 5an kalau nggak salah. Ane merasa kok geli-geli kenapa ya. Karena masih setengah sadar ane bingung. Geli tapi kok enak. Ane mengumpulkan kesadaran. Sampai benar-benar sadar, baru ane tahu apa yang terjadi. Ara ada dibawah dan sedang mengulum Rocky. Ara gila nih. Harmi masih terlelap nggak bergerak.
"Ara, lo apa-apaan sih?” bisik ane.
"Udah santai aja, gue emang mau kok." Kata Ara.
"Ya tapi nggak didalem sini. Kalau Harmi bangun gimana?"
Lalu Ara menghentikan aktivitasnya dengan Rocky dan merangkak naik keatas menindih ane. Dia kemudian berbisik.
"Gue juga kemarin kebangun Ja. Dan gue juga liat dengan jelas apa yang lo lakuin sama Harmi di pojokan sana."
"Hah? Apa? Lo liat Ra? Aduhh."
"Nggak apa-apa lagi. Lo kan bebas nggak terikat sama siapapun. Jadi sama gue pun sebenarnya bisa."
"Udah deh Ra. Gue nggak mau Ra."
"Sekali aja ya, please."
"Ara nggak Ra."
"Dikamar mandi aja."
"Eh, nggak ah ngapain."
"Gue teriak ya."
"Ara stop. Lo selalu ngancem gue gitu mulu sih Ra."
"Makanya turutin."
"Oke. Oke. Oke. Ayo ke kamar mandi."
Ane yang masih lemas karena belum cukup istirahat berjalan gontai ke kamar mandi dengan dituntun Ara.
"Quickie aja ya Ra."
"Apapun itu sayang. Ayo masukin."
Kami bermain dikamar mandi menghadap ke washtafel jadi ane bisa melihat pantulan muka sendiri dan juga muka Ara. Pilihan doggystyle sambil berdiri agak merepotkan ane karena Ara pendek, jadinya kaki ane harus ditekuk lebih banyak. Haha. Klimaksnya ane keluarkan di mulut Ara. Ara tersenyum dan berbisik "makasih sayang udah ngasih buat aku." Ane cuma memeluknya aja dan kemudian setelah dibersihkan ane kembali ketempat tidur ane untuk melanjutkan tidur. Tapi hanya sebentar saja.
Paginya kami sudah selesai packing dan ternyata Citra sudah ada didepan homestay.
"Keep contact ya Ja. Ini ada oleh-oleh buat kamu, kecil-kecilan dan nggak usah dibalas ya."
"Makasih banyak loh. Aduh jadi ngerepotin."
"Nggak usah basa basi sama aku Ja. Haha."
"Aku pamit ya. Sampai ketemu lagi Cit."
Citra melambaikan tangan dari luar, kami terharu melihatnya rela datang pagi-pagi untuk kasih sesuatu buat band ane. Terutamanya untuk ane. Kami pun kembali ke ibukota.
"Gila tegang banget gue." Kata ane sambil mengibaskan tangan.
"Ho oh sama. Gila ni crowdnya edan banget." Kata Ito.
"Inilah enaknya kalau main dikota yang sangat menghargai karya seni apapun bentuknya." Drian menambahkan.
"Semangat ya kalian. Ara udah kasih peluang buat main disini, jadi maksimal ya!" Kata Ara ceria.
Waktu naik panggung akhirnya tinggal sisa lima menit lagi, sekitar satu lagu lagi band yang ada diatas panggung sana menyelesaikannya. Ane luar biasa tegang, dan akhirnya mengeluarkan keringat. Harmi secara otomatis membantu mengelap dengan telaten muka ane. Anak-anak otomatis langsung melihat ekspresi Ara yang ternyata biasa-biasa aja. Tapi ane tau dia nggak biasa-biasa aja hatinya.
"Lo bisa kak. Gue yakin kok, lo udah berpengalaman bertahun-tahun untuk ngehadapin massa kayak gini kan? Lo pasti bisa." Bisik Harmi sambil mengenggam tangan ane.
"Makasih ya Mi." Kata ane.
Secara spontan kemudian Harmi memeluk ane didepan semua teman ane. Enak sih, tapi langsung berasa canggung parah. Apalagi ada Ara juga disitu. Ekspresi Ara datar-datar aja dan tetap dengan raut cerianya seperti biasa. Lagi-lagi ane tau kalau hatinya nggak biasa-biasa aja.
"Kumpul sini kita doa bersama ya sebelum manggung, semoga kita diberikan kemudahan dan kelancaran saat menghibur diatas panggung nanti. Semoga juga alat-alat berfungsi sebagaimana mestinya, dan nggak ada kendala non teknis lainnya." Kata ane dibarengi dengan amin dari semua orang yang ada di backstage.
Selesai berdoa, kami bersiap dengan alat-alat, kemudian LO kami memanggil dan membawa beberapa orang yang jadi kru dadakan kami. Biasanya band ane ada bawa kru sendiri, roadie sendiri, tapi karena keterbatasan jatah orang yang dibiayai, makanya kami hanya bisa membawa sedikit orang. Ada fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu Ara memeluk kami satu persatu, dan paling susah payah adalah memeluk Ito yang tinggi banget. Haha.
"Ja, semangat ya sayang. Gue percaya lo bisa nguasain panggung kayak biasa." Bisik Ara ketika memeluk ane.
"Makasih sayang." Ane spontan banget ngomong begitu ke Ara.
Salah. Ini salah banget.
Ara tersenyum manis banget dan memegang pipi ane lembut.
Kami menyelesaikan tugas kami dengan baik selama 25 menit. Membawakan 5 lagu, 3 lagu sendiri dan 2 lagu cover. Apresiasi luar biasa dari penonton membuat lelah kami seperti terbayar lunas. Turun panggung, LO yang bernama Ifa menyelamati kami satu persatu. Setelahnya Ifa malah banyak ngobrol dengan Drian. Ada satu momen yang ane tangkap yaitu Drian meminta nomer Ifa, padahal Ara juga punya. Hahaha. Bagus deh, bergerak lah kalau mau dapet pacar. Good job, Drian.
Kami kembali ke backstage untuk istirahat, minum, dan berganti pakaian. Kemudian LO kami Ifa memanggil ane untuk keluar sebentar. Ane hanya pakai celana manggung aja sama handuk kecil yang dikalungkan di leher, berasa kayak pengemudi becak. Haha. Kata Ifa ada yang mau ketemu ane, teman lama. Ane bingung siapa. Ternyata Citra. Masih ingat tentang Citra? Silakan lihat di Part 26. Usaha Optimal.
Sekilas ane pernah menceritakan bagaimana moncernya otak dia dibalik kesederhanaan penampilannya. Saat ketemu ane di Jogja, Citra sangatlah berbeda. Dandanannya sangat modis, tren fashion hijab yang lagi hits saat itu berhasil diterapkan pada penampilannya. Ane aja sempat pangling. Melengkapi penjelasan tentang dia, tingginya kurang lebih 162 cm, badannya agak kurus, terlihat dari jari-jari tangannya yang ramping, mukanya agak bulat, alisnya rapi, sebenarnya biasa-biasa aja, tapi ane melihat anak ini menjadi manis banget mengingat kemampuan otak dan bicaranya.
"Masih ingat aku Ja?”
"Ya ampun, Citra. Apa kabar kamu?"
"Haha. Baik Ja. Kamu gimana?"
"Baik banget. Senang malah sekarang, udah sukses manggung, eh ketemu teman lama."
"Iya Ja. Hebat kamu ya, selain cerdas di eksakta, kamu mumpuni juga di bidang seni ya. Senang aku bisa kenal sama kamu Ja." Katanya dengan logat jawa yang cukup kental.
"Haha makasih loh pujiannya. Yah, ini sebenarnya biar aku nggak stres aja Cit. Tapi sekalian juga buat biayain sekolah aku kan, minimal uang jajan nggak minta."
"Wah mantap ya Ja, udah bisa mandiri kamu."
"Iya. Hehe. Eh kamu sama siapa kesini?”
"Aku sendirian Ja. Habis nggak ada yang mau ajak aku. Mungkin karena aku kurang bergaul kali ya, aku nggak banyak teman dikampusku Ja."
"Oh gitu? Sayang banget ya padahal kamu manis dan pintar pake banget, masa iya nggak ada yang mau temenan sama kamu, bahkan nggak ada gitu yang mau usaha dapetin kamu. Hehehe."
"Bisa aja kamu Ja." Kata Citra diiringi ulas senyum tipisnya.
"Ya emang bisa, kan emang keadaanya kayak gitu Cit. Kenapa kamu jadi nggak pede?”
"Aku bukannya nggak pede, tapi kenyataannya, nggak banyak yang mau temenan sama aku."
"Yaudah bertemen aja sama aku, kan aku bisa jadi teman baik kamu Cit."
"Iya makasih ya Ja."
"Eh ayo-ayo masuk yuk, aku kenalin sama teman-teman aku."
"Boleh nih?"
"Ya boleh, kali aja salah satu dari mereka jodoh kamu. Hehe."
"Haha nggak mungkin."
"Masa depan siapa yang tau Cit. Ayo yuk."
Ane kemudian mempersilakan Citra masuk ke backstage, dan pemandangannya pada lagi telanjang dada semua gara-gara gerah. Haha. Atomanya juga udah nggak karuan dan Ara mulai repot nyemprotin cologne diruangan tersebut.
"Aduh maaf ya lagi pada kegerahan nih. Hahaha."
"Nggak apa-apa Ja."
Citra berkenalan dengan semua member, termasuk Harmi. Dia begitu antusias melihat pemandangan yang mungkin nggak pernah dia lihat sebelumnya, berada di backstage sebuah band yang habis manggung, banyak cowok, dan nggak terlihat ada orang-orang yang cerdas seperti dirinya. Ane menjelaskan pula bagaimana ane bertemu dia, menjelaskan bagaimana cerdasnya dia dan prestasi dia. Setelahnya aplause untuknya bergema diruangan. Dia begitu senang dengan apresiasi kecil tersebut.
Sementara Citra banyak ngobrol dengan Ara, Harmi terlihat sibuk dengan ponselnya. Ane yang sudah berganti pakaian lalu duduk disebelahnya.
"Katanya mau ngobrol-ngobrol sama Ara?”
"Udah Kak, tadi pagi, kita kan sarapan bareng sementara lo masih molor. Asyik kok anaknya."
"Kok lo ditinggal tetep?"
"Nah itu gue nggak tau kak."
"Lo ngobrolin apa aja emang?”
"Macem-macem, tapi utamanya tentang kesalahpahaman kemarin itu kak."
"Dia terima sama penjelasan lo?”
"Terima kak."
"Bagus deh, mungkin ini karena nyambut teman baru kali ya."
"Iya mungkin aja kak."
"Harmi, sini." Teriak Ara memanggil Harmi.
"Nah kan, aman udah. Hehe. Akur-akur ya Mi."
Harmi cuma senyum lalu nyamperin Ara di sudut ruangan.
"Ja, sadis lo ya bener-bener. Haha." Kata Arko tiba-tiba.
"Lah sadis kenapa cuy?” kata ane.
" Tiga orang, demen sama lo, terus ngobrol bareng. Gileeee. Skill dewa banget lo bangs*t. Hahaha."
"Tiga? Citra mah temen biasa Ko, ngaco aja lo."
"Gobl*k. Liat sorot matanya, liat gestur badannya pas kalian ngobrol, itu ketebak Ja."
"Emang iya? Haha. Gue nggak ngerasa sih si Citra demen sama gue."
"Dasar gobl*k. Itu ketauan banget kali. Si Drian noh yang sadar pertama kali."
"Ah iya ya? Gue ngerasanya biasa aja perasaan."
"Udah, lo gebet aja sekalian. Sebentar juga dia nurut apa kata lo. Haha."
"Gitu ya? Coba ah gue tes nanti."
"Silakan aja Ja. Hahaha."
Lalu ane menelepon Keket dan menceritakan apa yang terjadi disini dan menceritakan tentang Citra. Dia senang banget dengarnya. Ane jadi bersemangat juga. Sekitar 20 menitan ane telponan sama Keket. Kemudian nggak lama dia mengirimkan chat berisi tiga buah foto dirinya. Cantik natural, karena fotonya juga natural, nggak pake apa-apa. Hahahaha. Si Keket gila nih. Untung pas lagi sendiri, coba pas lagi rame-rame, menang banyak anak-anak ntar.
Citra cukup lama ada dibackstage dan akhirnya mengobrol juga dengan Arko, Ito dan Drian.
"Anggota band kamu keren-keren. Cakep-cakep lagi. Tadi pas aku nonton tuh ya, ada banyak cewek yang histeris, terutama sama Drian." Kata Citra.
"Haha Drian emang jualan utama band ini Cit. Dimana-mana kalau kita manggung, pasti dia yang diincer banyak lawan jenis."
"Hooo gitu ya. Tapi aku lebih tertarik sama kamu sih Ja daripada dia. Kamu lebih charming menurutku."
"Haha. Bisa aja kamu Cit, jangan bikin aku jadi senang gitu dong. Tapi Drian juga pintar loh Cit. Band kami ini band-band anak-anak yang otaknya eksakta semua. Hahaha."
Lalu ane menjelaskan satu persatu kuliah dimana aja teman-teman ane ini.
"Seriusan? Big applause buat kalian berempat. Sempat-sempatnya ngeband disela kesibukan kuliah dan mencar-mencar semua lagi kuliahnya." Ucap Citra kagum.
"Beneran. Hehe. Kalau nggak gini (ngeband) kami bakalan stres Cit."
"Iya sih, tapi kalian itu juga nggak ecek-ecek loh mainin alat musiknya. Nggak asal bunyi gitulah. Bagus banget kalian, nyiptain lagu juga enak-enak, tapi ada satu yang terakhir aku agak mikir menikmatinya."
"Haha makasih Cit. Yang terakhir emang agak rumit, serumit pengalamanku dulu sama mantanku. Makanya jadilah itu lagu."
"Oh iya ya? Rumitnya kayak gimana?”
Lalu ane menceritakan pengalaman pahit ane sama Zalina. Mendengar pengalaman ane itu, Citra malah jadi menangis.
"Eh kenapa Cit? Kok kamu nangis?”
"Aku terharu aja Ja. Sakit banget ya pasti kalau jadi kamu."
"Banget Cit. Tapi sayangnya itu malah ngebikin aku jadi cowok yang brengsek dimasa sekarang Cit."
"Brengsek gimana? Bad boy gitu maksudnya?”
"Kurang lebihnya gitu."
"Aku sih nggak masalah mau badboy atau nggak, yang penting aku nyaman aja kalau diajak ngobrol."
Lalu kami ngobrol sambil mengingat memori saat memulai berkomunikasi via email, dan berlanjut ke chat di ponsel. Seru sih, tapi waktu itu Citra belum seasyik sekarang. Kaku banget kayak kanebo kering. Mau becandaan juga jadi rada sungkan. Kalau sekarang bahkan ane cerita udah macem-macem sama Zalina dia biasa aja. Padahal ane pikir anak ini cukup konservatif awalnya.
"Besok aku pulang jam 6 pagi Cit. Cepet banget ya?" Kata ane.
"Haha iya, cepet banget Ja. Padahal aku masih mau ngobrol banyak sama kamu."
"Call aja Cit. Atau chat, kalau mau foto ya tinggal foto terus kirim. Hehe."
"Kamu mau foto apa emang?”
"Ya foto kamu, masa tukang matrial.”
"Haha. Iya ngerti, tapi foto yang kayak gimana?”
"Ya terserah kamu Cit. Yang penting aku bisa liat kamu."
"Iya iya, badboy. Aku tau kamu mau foto yang kayak gimana Ja."
"Gimana emang? Sok tau kamu?”
"Yang ininya kebuka tho?” Citra menunjuk bagian dadanya, dia memakai kemeja berkancing dan bergestur ingin membuka kancing tersebut.
"Hah? Cit. Aku nggak nyangka kamu pikirannya kotor juga ya. Hahaha."
"Udah lah Ja, kita sama-sama udah gede ini. Aku punya pikiran gitu ya wajar jadinya. Hehe."
"Gila anak secerdas dan sepintar kamu bisa ya mikir kotor juga. Hahaha."
"Ya kamu aja bisa."
"Tapi aku cowok Cit."
"Apa bedanya sama cewek? Sama aja toh."
"Hmmm iya iya, aku kalah. Kamu tu ya, kalau udah nyerocos maunya pasti menang."
"Haha. Maaf-maaf Ja."
Malam semakin larut dan kemudian Cira pamitan pulang karena sudah dijemput ayahnya. Tidak lupa ane mengantarnya sampai kedepan ayahnya dan sempat berkenalan sekilas dengan ayahnya. Seorang polisi ternyata.
"Sampai ketemu lagi ya Ja. Jangan lupa chat aku ya. Telpon juga kalau nggak keberatan ya. Bye Ja." Katanya kemudian tersenyum ke ane.
Ane hanya melambaikan tangan sambil tersenyum kemudian mengacungkan jempol tanda setuju dengan apa yang dia minta. Kemudian ane kembali ke backstage dan Ara serta Harmi memasang muka yang kurang lebih sama, siap membunuh ane. Raut muka mereka sangat-sangat nggak enak. Ane cuma senyum-senyum aja.
"Bener nggak apa kata gue Ja?” bisik Arko.
"Ho oh bener. Si Citra demen sama gue kayaknya Ko. Haha."
"Gue gitu. Hahaha."
Ane dan kawan-kawan kemudian kembali ke homestay, tapi nggak langsung istirahat, melainkan berakrab-akrab diri sama performer-perfomer yang udah tampil kemudian pulang duluan. Sekitar jam 3 pagi ane baru selesai nongkrong sama teman-teman baru ane. Ara dan Harmi udah terlelap. Nggak lupa ane naikkan selimut mereka masing-masing. Lalu ane pergi tidur.
Sekitar jam 5an kalau nggak salah. Ane merasa kok geli-geli kenapa ya. Karena masih setengah sadar ane bingung. Geli tapi kok enak. Ane mengumpulkan kesadaran. Sampai benar-benar sadar, baru ane tahu apa yang terjadi. Ara ada dibawah dan sedang mengulum Rocky. Ara gila nih. Harmi masih terlelap nggak bergerak.
"Ara, lo apa-apaan sih?” bisik ane.
"Udah santai aja, gue emang mau kok." Kata Ara.
"Ya tapi nggak didalem sini. Kalau Harmi bangun gimana?"
Lalu Ara menghentikan aktivitasnya dengan Rocky dan merangkak naik keatas menindih ane. Dia kemudian berbisik.
"Gue juga kemarin kebangun Ja. Dan gue juga liat dengan jelas apa yang lo lakuin sama Harmi di pojokan sana."
"Hah? Apa? Lo liat Ra? Aduhh."
"Nggak apa-apa lagi. Lo kan bebas nggak terikat sama siapapun. Jadi sama gue pun sebenarnya bisa."
"Udah deh Ra. Gue nggak mau Ra."
"Sekali aja ya, please."
"Ara nggak Ra."
"Dikamar mandi aja."
"Eh, nggak ah ngapain."
"Gue teriak ya."
"Ara stop. Lo selalu ngancem gue gitu mulu sih Ra."
"Makanya turutin."
"Oke. Oke. Oke. Ayo ke kamar mandi."
Ane yang masih lemas karena belum cukup istirahat berjalan gontai ke kamar mandi dengan dituntun Ara.
"Quickie aja ya Ra."
"Apapun itu sayang. Ayo masukin."
Kami bermain dikamar mandi menghadap ke washtafel jadi ane bisa melihat pantulan muka sendiri dan juga muka Ara. Pilihan doggystyle sambil berdiri agak merepotkan ane karena Ara pendek, jadinya kaki ane harus ditekuk lebih banyak. Haha. Klimaksnya ane keluarkan di mulut Ara. Ara tersenyum dan berbisik "makasih sayang udah ngasih buat aku." Ane cuma memeluknya aja dan kemudian setelah dibersihkan ane kembali ketempat tidur ane untuk melanjutkan tidur. Tapi hanya sebentar saja.
Paginya kami sudah selesai packing dan ternyata Citra sudah ada didepan homestay.
"Keep contact ya Ja. Ini ada oleh-oleh buat kamu, kecil-kecilan dan nggak usah dibalas ya."
"Makasih banyak loh. Aduh jadi ngerepotin."
"Nggak usah basa basi sama aku Ja. Haha."
"Aku pamit ya. Sampai ketemu lagi Cit."
Citra melambaikan tangan dari luar, kami terharu melihatnya rela datang pagi-pagi untuk kasih sesuatu buat band ane. Terutamanya untuk ane. Kami pun kembali ke ibukota.
Diubah oleh yanagi92055 13-09-2019 02:26
itkgid dan 23 lainnya memberi reputasi
24
Tutup
Zalina, 95% mirip Tala Ashe
Anin, 85% mirip Beby Cesara
Keket, 95% mirip, ane nggak kenal siapa ini, nemu di google
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043503.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043009.jpg)
Mulustrasi Ara, waktu masih SMA, 96% mirip![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/12/10668384_201909120424500824.png)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/13/10668384_201909130223080915.png)
serta apresiasi cendol