- Beranda
- Stories from the Heart
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
...
TS
deadtree
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
Halo,
sengaja aku buat akun baru untuk nulis cerita ini. Bukan karena apa-apa, aku gak mau ada yang tau siapa aku dan orang-orang yang akan kuceritakan disini. Sengaja juga gak daftar kreator, ahaha karena tujuanku nulis cuma pengen ngeluarin uneg-uneg yang aku simpen selama ini.
Cerita ini gak ada bagus-bagusnya, gak ada romantis-romantisnya, isinya cuma aku dan semua cobaan hidup yang kutelan sendiri dan akhirnya juga harus bangkit sendiri.
Quote:
Oke, aku mulai ya....
- Chapter 1 - Adik Ibuku
- Chapter 2 - Puber & Foto Mesum
- Chapter 3 - Kata Ibu, Aku Aib
- Chapter 4 - Aku dan Kakak Part 1
- Chapter 5 - Aku dan Kakak Part 2
- Chapter 6 - Ayah & Ibu
- Chapter 7 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 1
- Chapter 8 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 2
- Chapter 9 - Duniaku Abu-abu Part 1
- Chapter 10 - Duniaku Abu-abu Part 2
- Chapter 11 - Duniaku Abu-abu Part 3
- Chapter 12 - Babak Baru
- Chapter 13 - Sama Saja
- Chapter 14 - Mas Ibra
- Chapter 15 - Berawal Dari Twitter
- Chapter 16 - Aku Ini Murahan
- Chapter 17 - Gelap
- Chapter 18 - Duniaku Hancur
- Chapter 19 - Tuhan
- Chapter 20 - Kusut
- Chapter 21 - Selalu Begini Berulang-ulang
- Chapter 22 - Mulai Dari Nol
- Chapter 23 - Gereja dan Ustadz
- Chapter 24 - Kambing Hitam
- Chapter 25 - Cinta Yang Salah
- Chapter 26 - Selembar Perselingkuhan
- Chapter 27 - Tunas
SIDE STORY:
1 - Major Depressive Disorder
2 - Adara Putra [Part 1]
Prolog:
Namaku Kamila, saat ini umurku hampir 28 tahun. Berkeluarga? belum. Ingin berkeluarga? Ya, mungkin. Aku bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan Jakarta. Sejak umur 17 tahun, aku tinggal sendiri di kota ini. Tanpa satupun anggota keluarga atau kerabat jauh. Tak ada yang kukenal saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini 10 tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2009.
Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia.
Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.
Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.
"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.
"Kenapa om?", tanyaku.
Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"
Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.
"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda.
"Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.
Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.
Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia.
Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.
Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.
"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.
"Kenapa om?", tanyaku.
Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"
Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.
"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda.
"Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.
Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.
Ch.2: Puber & Foto Mesum
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.
Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.
Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).
Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.
Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.
Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).
Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.
2 menit berlalu, aku seperti mendengar bunyi-bunyian di depan pintu kamarku. Seperti bunyi gesekan ke pintu kamar. Jantungku mulai berdegup kencang, di rumah sedang tak ada siapa-siapa seingatku. Lalu siapa yang sedang berdiri di depan pintu kamarku? Kulihat di celah bagian bawah pintu, nampak bayangan orang yang berdiri mondar-mandir namun tak ada suara hanya dengusan nafasnya yang terdengar sedikit berat. Aku semakin panik, saat itu aku hanya bisa memikirkan maling yang masuk rumah karena beberapa tahun lalu rumahku juga kemalingan dan malingnya membawa pisau hampir menyerangku yang baru saja tiba di rumah saat itu.
Selang beberapa detik diantara kepanikanku, tiba-tiba cahaya putih itu kembali muncul di ventilasi kamar. Kali ini diiringi dengan bunyi 'ckrekkk' berkali-kali, yang menyadarkanku kalau itu ternyata flash kamera. Aku semakin panik, ada orang memotretku dari luar, dan sialnya posisiku saat itu setengah telanjang. "MAMPUS", gumamku dalam hati. Aku gemetaran, tak tau harus berbuat apa. Badanku kaku, aku hanya bisa pura-pura tak tau apa yang terjadi saat itu. Tapi tak dapat dipungkiri, aku sudah mau hampir menangis berharap orang itu cepat-cepat pergi. Namun disela-sela ketakutanku, tiba-tiba aku mendengar suara,
"Ngapain Mas Sapri? Ventilasinya rusak?", tanya orang itu. Aku tak mendengar sahutan dari orang yang tengah berdiri di depan pintu kamarku.
'Anj***********ng', umpatku lirih. Orang yang daritadi memotretku ternyata Om Sapri. Mau apa dia dengan foto-fotoku? Apa dia lupa kalau aku ini anak dari saudara yang sudah membesarkannya? Kenapa dia malah bertindak tidak senonoh seperti ini?
Banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalaku, tanpa kusadari aku mulai menangis tersedu-sedu di dalam kamar tanpa berani keluar. Sampai malam tiba dan kakak serta papaku pulang, aku masih belum berani keluar kamar.
Papa mengetuk-ngetuk pintu kamarku bertanya kenapa aku mengurung diri. Aku takut, tapi kupaksakan keluar. Kubuka pintu kamar perlahan, masih dengan sedikit terisak. Papa kebingungan melihatku yang amburadul dengan rambut acak-acakan dan mata yang sembab.
"Kenapa dik?", tanya Papaku.
"Gak kenapa-kenapa pa, cuma banyak PR adik capek", sahutku masih dengan sedikit bergetar.
Papa mengelus kepalaku pelan dan memelukku. Dia menyuruhku untuk segera mandi, berganti pakaian dan mengajakku makan malam. Sepanjang makan malam, aku diam membisu. Tak ada sepatah kata yang berani kukeluarkan.
Beberapa hari setelah itu, aku sudah kembali ceria. Aku tak lagi memikirkan apa yang terjadi, yah namanya anak sekolah. Seperti biasa, pukul 14.00 aku langsung bergegas pulang ke rumah untuk melanjutkan novel teenlit yang belum selesai kubaca. Di rumah juga sepi, hanya ada aku dan beberapa tukang. Tak lama setelah aku pulang, kakakku juga pulang dari sekolahnya. Dia langsung lari ke ruang keluarga dan bermain game konsolnya yang baru dibeli beberapa hari lalu. Kubiarkan sajalah, fikirku.
Aku langsung masuk ke kamar, mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Hari ini terlalu panas dan aku terlalu gerah untuk langsung baca novel, karena itu kuputuskan untuk mandi dan makan siang dahulu.
Kamar mandiku terletak di belakang ruang keluarga, di area dapur bersih menuju ke dapur kotor dan di depan kamar mandi terdapat lorong selebar 2 meter yang cukup gelap jika tidak dinyalakan lampu. Ditengah-tengah aktifitas mandiku yang berisik karena aku juga bersenandung, lagi-lagi aku terkejut dengan cahaya putih yang muncul sekelebat di atas ventilasi pintu kamar mandiku. Aku langsung panik, "Anj*ng, aku telanjang loh ini! Om Sapri gak kapok-kapok!", umpatku dalam hati. Dengan cepat aku bersembunyi di pojok belakang pintu kamar mandi agar dia tak bisa memotretku dari sela ventilasi. Bunyi kamera itu masih terus kudengar sekitar 3-4 kali selama aku bersembunyi dan kemudian hening, tak ada suara apa-apa. Dan sesaat Om Sapri memanggilku, "Dik? Kamu di kamar mandi? Om baru mau pipis nih. Masih lama gak?", tanyanya menyelidik.
Tak ada kata yang keluar dari mulutku, aku diam tak berani bersuara. Om Sapri kembali memanggil, "Dik? Kamu gausah takut Om cuma nanya", timpalnya lagi.
'Hah? Takut? Apa-apaan sih? Apa maksudnya? Kenapa dia malah jadi seperti om-om cabul yang mau merudapaksaku?', aku masih tak bersuara sama sekali, hanya bisa menangis dalam diam dan ketakutanku. Jantungku berdegub kencang sekali dengan ketakutanku diapa-apakan dan tanpa kusadari sudah 1 jam aku mengurung diri di dalam kamar mandi sampai kakakku menggedor-gedor kamar mandi dengan paniknya, "Dik? Dik??!!! Kamu pingsan? Mandi kok gak kelar-kelar? Dikkk????".
"Iya kak, aku cuma lagi gosok-gosok kaki", sahutku lega. Kakakku ternyata masih ada di luar.
"Yaudah cepetan mandinya, kita makan siang. Kakak laper", jawabnya.
"Iya kak, ini udah kok".
Aku tak berani menatap Om Sapri setelah itu, aku juga tak berani menceritakan pada siapa-siapa perkara hal ini. Beberapa bulan berlalu semenjak itu, tak ada lagi teror foto-foto itu, aku fikir masalah sudah selesai. Mungkin aku yang terlalu panik.
Tapi ternyata? Belum, belum selesai. Masih ada yang akan terjadi di depanku....
AKAN ADA KELANJUTANNYA, PANJANG GAN HAHA.
AKU AKAN CURHAT BERKALA, KARENA SAMBIL KERJA.
NAMANYA JUGA CURHAT :").
NAMANYA JUGA CURHAT :").
MOHON MASUKANNYA KALAU ADA KEKURANGAN, TRIMS.
Diubah oleh deadtree 20-12-2019 10:59
jamalfirmans282 dan 61 lainnya memberi reputasi
60
130.4K
629
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
deadtree
#130
Mohon maaf aku vakum terlalu lama. Banyak yang harus diselesaikan dengan diriku sendiri, habis bergulat dengan emosi dan aku sakit beberapa hari ini hehe. Here it is, enjoy...
Chapter 13 - Sama Saja
Hari-hariku dengan Rama nampak baik-baik saja. Atau aku yang terlalu ignore? Entahlah.
Kala itu, 1 bulan pertama dilalui seperti biasa. Rama mampir ke rumahku sepulang kerja, dan membawakanku banyak makanan. Aku yang kegirangan karena kebetulan belum makan seharian langsung menghidangkannya di meja ruang tamu. Kami makan sambil menonton TV sore itu. Aku yang sudah hampir 1 minggu tidak bertemu Rama jadi lebih manja hari itu, kurebahkan kepalaku di pundaknya dan dia merangkul bahuku sambil mencium keningku. Acara TV sore itu mungkin membuat Rama bosan, dia kemudian meraih daguku dan mencium bibirku lembut, aku menyambutnya. Kami sempat berciuman beberapa saat sampai tangannya meraih tangan kananku dan mengarahkannya ke bagian celana jeansnya yang mulai sempit. Aku kaget bukan main karena ternyata dia sudah membuka kancing resleting celananya dan mengarahkan tanganku untuk memegang "itu" yang maaf saat itu sudah tegang.
Aku panik dan melepaskan ciumanku,
"Kamu apa-apaan sih?", pekikku kencang.
"Kenapa sih? Kan kita pacaran udah 1 bulan. Rama pengen kamu", sahutnya tanpa ada rasa bersalah.
"Gila ya, aku nggak kayak gitu!", teriakku lagi.
"Yaudah yaudah. Terserahlah", jawabnya ketus. Dia mengambil jaketnya dan keluar dari rumahku. Kudengar deru mobil keluar dari pekarangan, Rama pergi tanpa meminta maaf sedikitpun.
---
Aku tak menghubunginya, meski sudah 1 minggu berlalu. Begitupun Rama tak mencariku. Kulihat di status BBMnya, Rama sering sekali update kegiatannya. Aku makin kesal dan tak berniat menghubunginya sama sekali, malah kufikir yasudah selesai saja sampai disini. Hari itu aku berkemas-kemas, karena keesokan harinya aku harus ke Bandung selama 1 minggu untuk mengecek toko baru karena dimintai tolong oleh Mas Ibra. Malam harinya aku hanya mengirimi Rama pesan singkat untuk mengabarinya kalau aku akan pergi 1 minggu ke Bandung dan aku tak perduli dengan marahnya dia. Selesai mengetik pesan itu aku matikan handphone dan tidur.
Jam 7 keesokan harinya, aku dibangunkan oleh suara ketukan di depan rumah. Kuintip dari jendela samping, ternyata Rama dengan muka yang juga sepertinya baru bangun tidur. Kubukakan dia pintu dan kupersilahkan duduk di ruang tamu.
"Rama minta maaf, Rama tau kalau Rama yang salah", dia membuka obrolan.
"Iya yaudah, kan bisa lewat BBM", jawabku.
"Iya, tapi kan kamu mau ke Bandung. Rama mau ketemu kamu dulu. Rama janji gak akan ngerusak kamu, maafin Rama", kulihat dia mulai meneteskan air mata dan aku yang memang tidak tegaan langsung luluh dan memaafkannya. Rama ingin menebus kesalahannya dengan menjaga rumahku selama aku ke Bandung, akupun mengiyakan.
Sore itu, aku berangkat ditemani Mas Ibra dan Mbak Yanti. Aku tak melihat Mbak Christy, ternyata benar kata Mbak Yanti yang beberapa hari datang berkunjung, dia bercerita kalau Mas Ibra dan Mbak Christy sudah hampir 1 bulan putus. Aku tak berani menyinggung soal itu ke Mas Ibra, pun aku tak menyinggung tentang apa yang terjadi antara aku dan Rama. Kami hanya mengobrol tentang keseharian kami. Perjalanan yang memakan waktu hampir 4 jam itu terasa tak begitu lama saat aku dan Mas Ibra bersama. Hari pertama dan kedua, Aku, Mas Ibra dan Mbak Yanti sibuk dengan persiapan toko baru. Kuakui aku sedikit melupakan Rama, aku jarang memberinya kabar. Rama beberapa kali nampak seperti yang sedang merajuk karena aku sibuk dengan Mas Ibra, malam itu dia tak menghubungiku sama sekali.
Pagi hari ketiga, aku dibangunkan dering telepon yang tak berhenti berbunyi. Mas Ibra sampai jengkel dan bangun dari sofa, mengambil handphoneku dan menempelkannya di telingaku. Terpaksa aku jawab juga.
"Haalooohhhhh?", jawabku setengah sadar.
"Halo, ini Kamila?", terdengar suara lembut dari seberang sana.
"Iya, ini siapaaa?", aku langsung duduk dan mengucek-ngucek mataku.
"Ini Indi, kamu gak kenal aku tapi aku tau kamu dari Rama", jawabnya lagi. Aku yang setengah sadar langsung segar dan kebingungan.
"Oh iya, ada apa?", tanyaku lagi.
"Gini ya Mila, aku langsung aja. Aku mau minta tolong kamu buat minta pertanggungjawaban ke Rama", suaranya mulai terdengar bergetar.
"Ha? Pertanggungjawaban apa?", Mas Ibra yang tadinya mencoba tidur ikut-ikutan duduk disampingku dan mendengarkan telepon yang aku loudspeaker itu bersamaku.
"Rama kemarin ng*we sama aku. Aku dipaksa", jawabnya kemudian. Mbak Yanti yang juga ternyata mendengar sambil tiduran langsung loncat dari kasur dan teriak "HAHHH? NG*WE? MUKE GILE!".
"Heh! Yang bener kamu kalo ngomong! Rama dari kemarin jagain rumahku kok!", tandasku. Jantungku berdegub kencang sekali.
"Iya, rumahmu di Bintaro kan? Warna rumahmu hijau tosca dan ada boneka monyet besar di ujung tempat tidurmu?", Indi mematahkan kalimatku.
"Aku diajak ke rumah itu 2 hari lalu. Rama bilang itu rumah sepupunya, dan kami nonton bareng di ruang tamu. Dia tiba-tiba menciumku dan mengajakku ke kamar. Aku dari dulu memang suka sama dia, kufikir dia tak punya pacar. Dan terjadilah hubungan itu. Pagi-pagi buta Rama mengusirku, alasannya sepupunya mau pulang. Aku sedikit curiga dan tanya ke tetangga saat nungguin taksi, mereka bilang kalau yang punya rumah ini namanya Kamila, dan Rama itu pacarnya. Aku sakit hati, aku tanya nomor teleponmu ke mereka, alasanku karena aku telah ditipu oleh Rama. Dan yah, aku akhirnya hubungin kamu", lanjutnya panjang lebar.
Aku tak bersuara sama sekali, aku diam seribu bahasa. Badanku lemas, aku yang selama ini fikir mungkin Rama bisa menyembuhkan lukaku hanya malah menambah luka baru. Mas Ibra nampak murka dan Mbak Yanti hanya mengelus-elus kepalaku yang mulai sesegukan menangis.
Kudengar Mas Ibra bicara banyak dengan Indi, Mas Ibra memintanya membuktikan omongan Indi dengan pergi ke rumahku dan meminta tanggung jawab langsung ke Rama tapi tetap on the phone dengan kami. Indi mengiyakan.
Selang 2 jam, Indi kembali menghubungiku. Mas Ibra yang mengangkat telepon dan dibiarkan loudspeaker. Lama sekali kudengar Indi mengetuk pintu rumahku sampai akhirnya Rama membukakan pintu.
Pembicaraan yang aku dengar di telepon
Rama: "Loh Indi? Kamu ngapain si kesini lagi!!"
Indi: "Aku mau minta pertanggungjawabanmu"
Rama: "Emang apalagiiii astaga sana pulang!"
Indi: "Kita udah ng*we Rama, dan aku juga udah tau soal Kamila dan rumah ini"
Rama: "......."
Indi: "Diam? Sekarang diam? Gila ya, kamu kemarin keluar di dalam Ram. Aku bisa hamil!"
Rama: "Gugurin lah anjing! Gue cuma ng*wein lo sekali, gausah sok-sok berharap gue bakal ninggalin Mila ya buat pramuria kayak lo"
Indi: "Ngomong apa kamu???!!!"
PLAKKKKKK - Sepertinya Rama ditampar
Rama: "baik! Pergi lu, jangan ganggu hidup gue lagi"
Indi: "Iya gue pergi. Dan asal lo tau, daritadi Mila dengerin obrolan kita. MAMPUS!"
Indi menyalakan loudspeaker handphonenya dan aku hanya bilang "Hai Rama, aku dengerin kok"
Saat itu aku tak kuasa menahan tangis langsung berlari ke kamar mandi, menguncinya dan menangis sejadi-jadinya. Mbak Yanti menggedor kamar mandi berusaha menenangkanku dan Mas Ibra tak bersuara sama sekali. Aku mencari pisau di kamar mandi, tapi ternyata tidak ada. Aku gak kuat dengan rasa sakit di dadaku saat itu, aku hantamkan kepalaku berkali-kali ke kaca sampai kaca itu hancur berderai. Kuambil serpihan besar kaca dan kusayat-sayat lagi tanganku. 'Ahhhhh, ini lebih sakit dari sakit hatiku.', air mataku berhenti mengalir. Kunikmati luka yang ada di tanganku. Kubiarkan darah itu mengucur beberapa menit sampai aku merasa sedikit lemah dan kulilitkan handuk di pergelangan tanganku agar darahnya berhenti. Kudengar dari luar Mas Ibra mengetuk kamar mandi, saat kubukakan dia memelukku sambil menangis meminta maaf tak bisa menjagaku. 'Oh, aku lagi-lagi membuat orang menangis karena ulahku. Dasar wanita gak berguna' gumamku dalam hati. Mas Ibra menggenggam tanganku yang terlilit handuk, Mbak Yanti nampak gopoh mencari P3K untuk mengobatiku.
'Lagi Mil? Lagi kamu bikin orang repot??? Indi dilecehkan, Mas Ibra merasa gak berguna, Mbak Yanti repot. Semuanya salahku.
---
Sore itu aku diantar Mas Ibra pulang ke Jakarta, Mbak Yanti tetap tinggal di Bandung mengurusi toko. Aku tak bersuara, pun tak berniat mengecek hapeku yang mungkin sebentar lagi meledak karena tak henti-hentinya berdering. Mas Ibra kesal, mengambil hapeku, membuka kaca jendela dan melemparnya ke tengah jalan tol. Lagi-lagi aku tak perduli.
Kami tiba di rumahku pukul 9 malam, kulihat Rama terduduk di depan pintu rumahku masih dengan piyamanya, hari ini tidak ke kantor dia sepertinya. Mas Ibra langsung turun dari mobil dan menyambut Rama dengan 1 pukulan di rahang. Rama terduduk, aku menghalangi Mas Ibra agar tak memukul Rama lagi.
"Kenapa?", tanya Mas Ibra setengah berteriak.
"JAWAB RAM, JAWAB!!", Mas Ibra menendang pot bunga di samping Rama.
"Aku punya nafsu mas, aku punya kebutuhan. Aku gak tau kalau Mila bukan cewek sembarangan", sahutnya lesu setengah menunduk.
"Terus? Kamu nyesel gak?", tanyaku sambil mengelus pipinya.
"Huhuhu, aku nyesel Mil. Aku minta maaf. Aku khilaf, aku janji gak akan gitu lagi", Rama menangis sambil berlutut memegangi betisku.
"Gak!! Gak ada!! Mila gak boleh sama lo lagi!!!", Mas Ibra menarik tanganku menjauhi Rama.
"Mas, Rama udah nyesel", belaku.
"Eh anjing, lo liat ini tangan Mila. Lo liat kepalanya. Masih punya nyali lo mau baikan sama Mila???", Mas Ibra siap mengayunkan lagi kepalan tangannya ke arah Rama.
Jujur saat itu aku mau memaafkan Rama, walaupun aku sakit aku yakin Rama bisa berubah. Tapi Mas Ibra melarangku habis-habisan dan mengusir Rama dari rumah. Rama pergi dengan terpaksa dan dia nampak marah sekali ke Mas Ibra. Aku ingin melawan Mas Ibra, tapi aku sadar selama ini Mas Ibra yang paling bisa menjagaku dan tahu yang terbaik buatku. Malam itu aku hanya diam dan menangis, Mas Ibra tidur di sofa depan dan tak pulang berhari-hari saking takutnya Rama kembali mengunjungiku.
Chapter 13 - Sama Saja
Hari-hariku dengan Rama nampak baik-baik saja. Atau aku yang terlalu ignore? Entahlah.
Kala itu, 1 bulan pertama dilalui seperti biasa. Rama mampir ke rumahku sepulang kerja, dan membawakanku banyak makanan. Aku yang kegirangan karena kebetulan belum makan seharian langsung menghidangkannya di meja ruang tamu. Kami makan sambil menonton TV sore itu. Aku yang sudah hampir 1 minggu tidak bertemu Rama jadi lebih manja hari itu, kurebahkan kepalaku di pundaknya dan dia merangkul bahuku sambil mencium keningku. Acara TV sore itu mungkin membuat Rama bosan, dia kemudian meraih daguku dan mencium bibirku lembut, aku menyambutnya. Kami sempat berciuman beberapa saat sampai tangannya meraih tangan kananku dan mengarahkannya ke bagian celana jeansnya yang mulai sempit. Aku kaget bukan main karena ternyata dia sudah membuka kancing resleting celananya dan mengarahkan tanganku untuk memegang "itu" yang maaf saat itu sudah tegang.
Aku panik dan melepaskan ciumanku,
"Kamu apa-apaan sih?", pekikku kencang.
"Kenapa sih? Kan kita pacaran udah 1 bulan. Rama pengen kamu", sahutnya tanpa ada rasa bersalah.
"Gila ya, aku nggak kayak gitu!", teriakku lagi.
"Yaudah yaudah. Terserahlah", jawabnya ketus. Dia mengambil jaketnya dan keluar dari rumahku. Kudengar deru mobil keluar dari pekarangan, Rama pergi tanpa meminta maaf sedikitpun.
---
Aku tak menghubunginya, meski sudah 1 minggu berlalu. Begitupun Rama tak mencariku. Kulihat di status BBMnya, Rama sering sekali update kegiatannya. Aku makin kesal dan tak berniat menghubunginya sama sekali, malah kufikir yasudah selesai saja sampai disini. Hari itu aku berkemas-kemas, karena keesokan harinya aku harus ke Bandung selama 1 minggu untuk mengecek toko baru karena dimintai tolong oleh Mas Ibra. Malam harinya aku hanya mengirimi Rama pesan singkat untuk mengabarinya kalau aku akan pergi 1 minggu ke Bandung dan aku tak perduli dengan marahnya dia. Selesai mengetik pesan itu aku matikan handphone dan tidur.
Jam 7 keesokan harinya, aku dibangunkan oleh suara ketukan di depan rumah. Kuintip dari jendela samping, ternyata Rama dengan muka yang juga sepertinya baru bangun tidur. Kubukakan dia pintu dan kupersilahkan duduk di ruang tamu.
"Rama minta maaf, Rama tau kalau Rama yang salah", dia membuka obrolan.
"Iya yaudah, kan bisa lewat BBM", jawabku.
"Iya, tapi kan kamu mau ke Bandung. Rama mau ketemu kamu dulu. Rama janji gak akan ngerusak kamu, maafin Rama", kulihat dia mulai meneteskan air mata dan aku yang memang tidak tegaan langsung luluh dan memaafkannya. Rama ingin menebus kesalahannya dengan menjaga rumahku selama aku ke Bandung, akupun mengiyakan.
Sore itu, aku berangkat ditemani Mas Ibra dan Mbak Yanti. Aku tak melihat Mbak Christy, ternyata benar kata Mbak Yanti yang beberapa hari datang berkunjung, dia bercerita kalau Mas Ibra dan Mbak Christy sudah hampir 1 bulan putus. Aku tak berani menyinggung soal itu ke Mas Ibra, pun aku tak menyinggung tentang apa yang terjadi antara aku dan Rama. Kami hanya mengobrol tentang keseharian kami. Perjalanan yang memakan waktu hampir 4 jam itu terasa tak begitu lama saat aku dan Mas Ibra bersama. Hari pertama dan kedua, Aku, Mas Ibra dan Mbak Yanti sibuk dengan persiapan toko baru. Kuakui aku sedikit melupakan Rama, aku jarang memberinya kabar. Rama beberapa kali nampak seperti yang sedang merajuk karena aku sibuk dengan Mas Ibra, malam itu dia tak menghubungiku sama sekali.
Pagi hari ketiga, aku dibangunkan dering telepon yang tak berhenti berbunyi. Mas Ibra sampai jengkel dan bangun dari sofa, mengambil handphoneku dan menempelkannya di telingaku. Terpaksa aku jawab juga.
"Haalooohhhhh?", jawabku setengah sadar.
"Halo, ini Kamila?", terdengar suara lembut dari seberang sana.
"Iya, ini siapaaa?", aku langsung duduk dan mengucek-ngucek mataku.
"Ini Indi, kamu gak kenal aku tapi aku tau kamu dari Rama", jawabnya lagi. Aku yang setengah sadar langsung segar dan kebingungan.
"Oh iya, ada apa?", tanyaku lagi.
"Gini ya Mila, aku langsung aja. Aku mau minta tolong kamu buat minta pertanggungjawaban ke Rama", suaranya mulai terdengar bergetar.
"Ha? Pertanggungjawaban apa?", Mas Ibra yang tadinya mencoba tidur ikut-ikutan duduk disampingku dan mendengarkan telepon yang aku loudspeaker itu bersamaku.
"Rama kemarin ng*we sama aku. Aku dipaksa", jawabnya kemudian. Mbak Yanti yang juga ternyata mendengar sambil tiduran langsung loncat dari kasur dan teriak "HAHHH? NG*WE? MUKE GILE!".
"Heh! Yang bener kamu kalo ngomong! Rama dari kemarin jagain rumahku kok!", tandasku. Jantungku berdegub kencang sekali.
"Iya, rumahmu di Bintaro kan? Warna rumahmu hijau tosca dan ada boneka monyet besar di ujung tempat tidurmu?", Indi mematahkan kalimatku.
"Aku diajak ke rumah itu 2 hari lalu. Rama bilang itu rumah sepupunya, dan kami nonton bareng di ruang tamu. Dia tiba-tiba menciumku dan mengajakku ke kamar. Aku dari dulu memang suka sama dia, kufikir dia tak punya pacar. Dan terjadilah hubungan itu. Pagi-pagi buta Rama mengusirku, alasannya sepupunya mau pulang. Aku sedikit curiga dan tanya ke tetangga saat nungguin taksi, mereka bilang kalau yang punya rumah ini namanya Kamila, dan Rama itu pacarnya. Aku sakit hati, aku tanya nomor teleponmu ke mereka, alasanku karena aku telah ditipu oleh Rama. Dan yah, aku akhirnya hubungin kamu", lanjutnya panjang lebar.
Aku tak bersuara sama sekali, aku diam seribu bahasa. Badanku lemas, aku yang selama ini fikir mungkin Rama bisa menyembuhkan lukaku hanya malah menambah luka baru. Mas Ibra nampak murka dan Mbak Yanti hanya mengelus-elus kepalaku yang mulai sesegukan menangis.
Kudengar Mas Ibra bicara banyak dengan Indi, Mas Ibra memintanya membuktikan omongan Indi dengan pergi ke rumahku dan meminta tanggung jawab langsung ke Rama tapi tetap on the phone dengan kami. Indi mengiyakan.
Selang 2 jam, Indi kembali menghubungiku. Mas Ibra yang mengangkat telepon dan dibiarkan loudspeaker. Lama sekali kudengar Indi mengetuk pintu rumahku sampai akhirnya Rama membukakan pintu.
Pembicaraan yang aku dengar di telepon
Rama: "Loh Indi? Kamu ngapain si kesini lagi!!"
Indi: "Aku mau minta pertanggungjawabanmu"
Rama: "Emang apalagiiii astaga sana pulang!"
Indi: "Kita udah ng*we Rama, dan aku juga udah tau soal Kamila dan rumah ini"
Rama: "......."
Indi: "Diam? Sekarang diam? Gila ya, kamu kemarin keluar di dalam Ram. Aku bisa hamil!"
Rama: "Gugurin lah anjing! Gue cuma ng*wein lo sekali, gausah sok-sok berharap gue bakal ninggalin Mila ya buat pramuria kayak lo"
Indi: "Ngomong apa kamu???!!!"
PLAKKKKKK - Sepertinya Rama ditampar
Rama: "baik! Pergi lu, jangan ganggu hidup gue lagi"
Indi: "Iya gue pergi. Dan asal lo tau, daritadi Mila dengerin obrolan kita. MAMPUS!"
Indi menyalakan loudspeaker handphonenya dan aku hanya bilang "Hai Rama, aku dengerin kok"
Saat itu aku tak kuasa menahan tangis langsung berlari ke kamar mandi, menguncinya dan menangis sejadi-jadinya. Mbak Yanti menggedor kamar mandi berusaha menenangkanku dan Mas Ibra tak bersuara sama sekali. Aku mencari pisau di kamar mandi, tapi ternyata tidak ada. Aku gak kuat dengan rasa sakit di dadaku saat itu, aku hantamkan kepalaku berkali-kali ke kaca sampai kaca itu hancur berderai. Kuambil serpihan besar kaca dan kusayat-sayat lagi tanganku. 'Ahhhhh, ini lebih sakit dari sakit hatiku.', air mataku berhenti mengalir. Kunikmati luka yang ada di tanganku. Kubiarkan darah itu mengucur beberapa menit sampai aku merasa sedikit lemah dan kulilitkan handuk di pergelangan tanganku agar darahnya berhenti. Kudengar dari luar Mas Ibra mengetuk kamar mandi, saat kubukakan dia memelukku sambil menangis meminta maaf tak bisa menjagaku. 'Oh, aku lagi-lagi membuat orang menangis karena ulahku. Dasar wanita gak berguna' gumamku dalam hati. Mas Ibra menggenggam tanganku yang terlilit handuk, Mbak Yanti nampak gopoh mencari P3K untuk mengobatiku.
'Lagi Mil? Lagi kamu bikin orang repot??? Indi dilecehkan, Mas Ibra merasa gak berguna, Mbak Yanti repot. Semuanya salahku.
---
Sore itu aku diantar Mas Ibra pulang ke Jakarta, Mbak Yanti tetap tinggal di Bandung mengurusi toko. Aku tak bersuara, pun tak berniat mengecek hapeku yang mungkin sebentar lagi meledak karena tak henti-hentinya berdering. Mas Ibra kesal, mengambil hapeku, membuka kaca jendela dan melemparnya ke tengah jalan tol. Lagi-lagi aku tak perduli.
Kami tiba di rumahku pukul 9 malam, kulihat Rama terduduk di depan pintu rumahku masih dengan piyamanya, hari ini tidak ke kantor dia sepertinya. Mas Ibra langsung turun dari mobil dan menyambut Rama dengan 1 pukulan di rahang. Rama terduduk, aku menghalangi Mas Ibra agar tak memukul Rama lagi.
"Kenapa?", tanya Mas Ibra setengah berteriak.
"JAWAB RAM, JAWAB!!", Mas Ibra menendang pot bunga di samping Rama.
"Aku punya nafsu mas, aku punya kebutuhan. Aku gak tau kalau Mila bukan cewek sembarangan", sahutnya lesu setengah menunduk.
"Terus? Kamu nyesel gak?", tanyaku sambil mengelus pipinya.
"Huhuhu, aku nyesel Mil. Aku minta maaf. Aku khilaf, aku janji gak akan gitu lagi", Rama menangis sambil berlutut memegangi betisku.
"Gak!! Gak ada!! Mila gak boleh sama lo lagi!!!", Mas Ibra menarik tanganku menjauhi Rama.
"Mas, Rama udah nyesel", belaku.
"Eh anjing, lo liat ini tangan Mila. Lo liat kepalanya. Masih punya nyali lo mau baikan sama Mila???", Mas Ibra siap mengayunkan lagi kepalan tangannya ke arah Rama.
Jujur saat itu aku mau memaafkan Rama, walaupun aku sakit aku yakin Rama bisa berubah. Tapi Mas Ibra melarangku habis-habisan dan mengusir Rama dari rumah. Rama pergi dengan terpaksa dan dia nampak marah sekali ke Mas Ibra. Aku ingin melawan Mas Ibra, tapi aku sadar selama ini Mas Ibra yang paling bisa menjagaku dan tahu yang terbaik buatku. Malam itu aku hanya diam dan menangis, Mas Ibra tidur di sofa depan dan tak pulang berhari-hari saking takutnya Rama kembali mengunjungiku.
fuckinglove dan 19 lainnya memberi reputasi
20