Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]


Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.


Spoiler for INDEX:


Spoiler for "You":



Spoiler for MULUSTRASI:


Spoiler for Peraturan:


Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.


Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
xxxochezxxxAvatar border
DayatMadridistaAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
468.2K
4.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#1349
Kesedihan Harmi
Hari-hari penuh kesenangan sekaligus kebingungan meliputi ane berikutnya. Gimana nggak? Lha semuanya pada ngajakin ketemu, semuanya pada mau chat. Senang sih, tapi ya tetap aja bingung. Haha. Ane masih tetap pada keyakinan dan perasaan ane ke Keket. Keket juga makin sayang sama ane. Cuma ya itu dia, kenapa dia masih juga nggak mau nerima ane secara resmi. Sebenernya resmi nggak resmi sama aja, Cuma kan enak gitu kalo resmi. Bangganya dapet. Hahaha.

Keadaan ini terus berlanjut sampai mendekati akhir semester 6. Ane beberapa kali jalan sama Harmi, dan kayaknya dia juga udah nggak mengharapkan si Krisna lagi. Ane juga jalan sama Sofi, beberapa kali ane datang ke kolam renangnya, tapi belum boleh datang kerumahnya. Ara gimana? Ara masih juga, tapi lebih ke hubungan profesional. Pada suatu waktu band ane dapat kesempatan manggung di jogjakarta. Ada semacam festival gitu disana. Kami berangkat jumat, manggung sabtu, pulang lagi minggu. Kebayang kan capeknya kayak apa itu. Kami disediakan transportasi memang, tapi tetap aja berasa. Waktu itu ane ngajak Keket tapi ternyata dia nggak bisa diganggu gugat sama sekali. Yaudah akhirnya ane nyerah buat ngajak dia.

“Mi, gue mau ada panggungan di Jogja nih, lo mau ikutan nggak?” kata ane.

“Kapan kak?” katanya.

“Sabtu depan Mi.”

“Oh iya? Uhmm..gue liat jadwal dulu ya kak.”

“Oke Mi, ntar kabarin gue ya. lo abis ini mau kemana?”

“Mau pulang ke kostan sih. Lo?”

“Gue mau ke perpus Mi. Mau temenin gue nggak?”

“Hmm. Oke deh. Ayo gue temenin ya.”

Ane dan Harmi berjalan menuju ke perpustakaan milik kampus yang cukup lengkap koleksinya. Ane ada mau baca-baca buat rencana penelitian skripsi nanti. Dicicil dari sekarang. Sekitar 5 menitan kami berjalan menuju ke perpustakaan dari fakultas kami. Ternyata sore itu banyak banget mahasiswa disana. Memang di kampus ane banyak mahasiswa kutu buku. Kondisi ramai orang ternyata nggak bikin perpustakaan ini menjadi riuh. Tetap nyaman dan tentram, sepi. Enak banget deh pokoknya kalau dipakai buat belajar.

Perpustakaan ini juga udah menerapkan sistem digital dalam pengelolaan serta peminjaman bukunya. Fasilitasnya juga cukup oke, diantaranya ada kafetaria kecil, ada ruang browsing internet, semacam warnet gratisan gitu lah, koneksinya pun lumayan oke waktu itu, serta ada ruangan semacam ruang meeting yang digunakan untuk berdiskusi, tapi kedap suara sehingga nggak akan kedengaran dari luar mau teriak-teriak kayak gimana juga. Koleksi bukunya banyak banget sampai harus naik tangga dulu kalau ada buku koleksi yang susah diambil dibagian atas rak. Ane sendiri betah berlama-lama disini, terutama kalau lagi suntuk nggak jelas mau ngapain, atau kalau lagi ribut-ribut sama Keket.

“Kak banyak banget buku yang lo ambil? Kebaca semua nggak tuh?”

“Kebaca Mi. tapi ya pelan-pelan. Hehe.”

“lo senang baca buku ya kak?”

“Senang sih. Lo nggak ya?”

“Kalo gue lebih senang buat dengar cerita, narasi atau nonton video, ada visualisasinya.”

“beda style ya kita Mi. hehehe. Tapi kenapa lo tadi mau aja gue ajak kesini Mi, ntar lo bosen lagi.”

“Ya nggak apa-apa Kak, kan mau nemenin lo. biar lo senang kak. Hehehe.”

“haha. Lagi modusin gue lo Mi?”

“Emang lo mau gue modusin kak? Hahaha.”

“Silakan aja coba Mi.”

“Ya itu tadi anggep aja gue modusin lo Kak. Hahaha.”

“Hahaha. Iya juga ya Mi.”

“Eh kalo gue ke Bandung nanti gue mampir kerumah lo boleh Mi?”

“Ya nggak apa-apa kak. Bagus malahan. Kan bisa gue kenalin sama Ayah Bunda gue.”

“Haha. Dikenalin sebagai apaan?”

“Ya teman dekat. Teman spesial. Hehehe.”

“Haha. Bisa aja lo Mi. ini bagian modus juga kan?”

“Haha. Iya kak, tapi kalau lo mau beneran gue sih nggak apa-apa.”

“Kita jalanin aja dulu gimana Mi?”

“Jalanin gimana Kak?”

“Ya kita ngalir aja, kalau emang cocok ya bisa berarti dicoba buat lebih serius Mi.”

“Beneran kak? Hmm. Tapi gue ragu kak.”

“Soal Keket?”

Harmi mengangguk pelan dan wajahnya sedikit cemas.

“Yaa, selama Keket nggak mau gue ajak berkomitmen, gue bisa aja jalan dengan siapapun, gue juga bisa komitmen sama siapapun.”

“Hmm… iya kak. Eh kak, tapi kalau lo harus milih, lo pilih siapa kak?”

“kalau mau jujur gue pilih Keket Mi. tapi yaitu tadi, kalau nggak jelas, ya mending coba yang lain, daripada gue nunggu nggak jelas.”

“Tapi kan Kak Keket sayang sama lo kak, lo juga sayang dia kan?”

“Iya Mi, kami saling menyayangi satu sama lain. Tapi gue juga nggak nutup peluang dengan siapapun selama kami belum ada komitmen apapun Mi. dia juga bilang gitu soalnya.”

“Gitu ya Kak. Gue tu juga nggak pede tau kak kalau jalan sama lo. apalagi lo sekarang sama Kak Keket deketnya. Terus dulu ada mantan lo ya yang namanya Zalina, gue pernah liat dia kak. Ih cakep-cakep banget kak. Gue aja kalau jadi cowok pasti naksir sama mereka.”

“Ah udah deh Mi, orang itu punya karunianya masing-masing, jadi nggak perlu minder sama keadaan.”

“Iya, tapi ya gitu kak.”

“Gitu gimana?”

“ya gue nggak pede kalau ada disebelah lo. haha.”

“Yailah Mi, santai aja kali. Gue juga bukan artis ibukota yang ganteng parah gitu kali Mi.”

“Iya sih, menurut gue, maaf ni ya kak, masih gantengan Kak Krisna, tapi entah gue nyamannya sekarang kalau jalan sama lo.”

“haha, emang iya Mi, lo bandingin gue sama Krisna ya jauh banget. Makasih loh testimoninya. Jadi enak gue dipuji. Hahaha.”

“hahaha. Maaf ya kak. Tapi itu gue jujur kak.”

“Iya Mi nggak apa-apa kok santai gue mah.”

Kami ngobrol-ngobrol sambil sesekali menutup mulut karena takut kekencengan suaranya. Setelah hampir dua jam dihabiskan di perpustakaan, kami akan keluar dari sana sekalian cari makan untuk makan malam.

“Eh Mi, coba lo liat siapa itu yang baru datang.” Kata ane sambil menunjuk ke pintu masuk.

“Kak Krisna, dan ngegandeng Mutia? Seriusan ke perpustakaan aja mesti gandengan tangan?” katanya lirih.

“Ya lo liat sendiri kan. Udah Mi nggak usah sedih ya. mungkin emang belum beruntung aja lo.”

“Iya kak.” Katanya sambil menunduk.

“Udah Mi, jangan dipikirin lagi.”

“Gue sedih kak.”

“Mau nangis dulu?”

“Nggak tau Kak.”

“Yaudah yuk gue temenin. Kita keluar dulu ya.”

Ane dan Harmi keluar. Baru sampai dekat pintu keluar, Harmi nggak kuat untuk menahan tangisnya.

“Mi, jangan nangis disini. Banyak orang loh.” Bisik ane.

“Maaf kak, gue nggak bisa nahan. Sedih banget gue kak.”

“Yaudah yuk sambil jalan. Gue anter lo pulang ke kostan ya.”

Ane menemani Harmi yang cukup shock dengan pemandangan yang dilihatnya tadi. Nggak lupa beli makan dulu buat makan malam. Dia nggak banyak omong selama perjalanan ke kostannya. Untungnya kostan sultan ini nggak jauh letaknya dari kampus, jadi nggak capek-capek banget juga jalannya.

"Kak, maafin gue ya. Gue malah nangis kayak gini."

"Iya nggak apa-apa kan ada gue Mi. Udah ya, sekarang lo masuk deh."

"Masuk dulu kak. Lo belum pernah masuk ke kamar gue kan?"

"Belum Mi."

"Sebentar gue buatin minum ya."

"Nggak usah repot-repot Mi."

Ane dan Harmi lalu masuk kedalam. Kostannya agak berantakan, tapi wangi karena dia meletakkan beberapa pewangi ruangan. Secara otomatis, ane langsung membereskan barang-barang yang kelihatan berantakan.

"Eh kak, ngapain lo? Udah nggak apa-apa, gue aja yang beresin Kak."

"Nggak apa-apa, gue biasa beres-beres gini Mi. Maafin gue ya jadi lancang, soalnya kalau ada sesuatu yang berantakan kayak otomatis langsung gue mau beresin. Hehe."

"Oh gitu? Unik juga ya lo kak. Haha."

"Yah, mau gimana lagi Mi, kebiasaan gue gitu dari kecil soalnya. Hehehe."

"Yaudah gue bikinin kopi mau? Ada sachetan nih."

"Oke deh boleh Mi. Gue lanjutin ya ini."

Ane benar-benar membereskan semua yang kelihatan berantakan menurut ane, walaupun ada beberapa yang kemudian membuat Harmi bingung karena tempatnya nggak sesuai dengan awalnya. Setelah dirasa bersih, ane bersih-bersih di kamar mandi Harmi. Kamar mandinya bersih banget jadi nyaman kalau mau ngapa-ngapain kan. Hehe.

Kopi pun udah jadi dan tinggal seruput tapi ane tunggu dulu soalnya panas banget. Kamar Harmi memakai pendingin ruangan, kamar mandi dalam, ada TV LCD 29 inch juga. Peralatan belajarnya juga lengkap. Ternyata ane juga baru tau kalau Harmi pandai menggambar.

"Ini gambaran lo Mi? Anjir ini keren sih." Kata ane sambil melihat karya dia di meja belajarnya.

"Hehe. Iya kak, gue suka gambar dari kecil."

"Wah gue mah nggak bisa Mi, bakat gue bukan disitu kayaknya. Haha."

"Itu ada gitar kak, mainin aja. Lo kan ngeband, pasti bisa main gitar kan."

"Oh iya, gue mainin ya ini."

Lalu ane memainkan gitar Harmi yang ternyata bermerk mahal, akustik elektrik jenisnya. Main gitar sambil nyanyi ternyata membuat Harmi senang.

"Ih suara lo kok bagus kak?"

"Gue di band kan penyanyi, sambil main gitar juga."

"Oh pantesan. Gue mau dong dinyanyiin. Bisa request ga kak?hehe."

"Gue nggak hafal banyak lagu Mi kalau sambil main gitar, jadi ya kalau mau manggung aja baru diulik. Kalau sekedar nyanyinya aja sih bisa, tapi kalau main gitarnya gue mesti latian dulu. Hehe."

"Oh gitu ya kak? Yaudah ga apa-apa. Gue coba request ya."

Harmi merequest sebuah lagu top 40 yang kebetulan pernah ane bawain dipanggung bersama band. Pas banget jadi hafal dan ngerti juga mainin gitarnya. Hahaha. Dia seperti larut dalam irama lagu yang ane bawain, lalu entah dia sadar atau nggak sengaja, kepalanya jatuh di bahu ane sebelah kiri, kemudian menangis lagi.

"Maaf ya kak, gue pinjam bahunya. Gue masih ngerasa kalah banget kak."

"Iya Mi, silakan aja, sepuas lo aja kalau lo mau nangis juga."

"Iya kak. Kak, lanjutin aja lagu-lagu yang lo tau, gue cuma pingin nikmatin suara lo sama mainan gitar lo. Nggak apa-apa gue nggak tau lagunya."

"Oke Mi."

Kemudian dia seperti menikmati hiburan kecil-kecilan itu dan nggak lama dia ketiduran. Ane akhirnya membaringkannya dikasurnya. Ane memilih untuk tiduran di bawah aja, mau pamit nggak enak kalau nggak ijin dulu.

"Kak, udah malem banget nih. Lo nggak balik ke kostan? Kita juga belum makan kak."

"Oh iya ya? Jam berapa ini?"

"Jam 11 kak."

"Hah? Gile nggak kerasa ya. Maaf ya Mi. Gue pamitan ya."

"Makan dulu lo kak."

"Oh iya bener, gue belum makan, pantes kelaparan. Haha."

"Iya, itu udah gue siapin. Lo tinggal makan. Bareng yuk."

Ane dan Harmi makan dengan cepat, karena kelaparan hebat waktu itu. Setelah selesai, ane nggak enak mau langsung balik jadi ngobrol-ngobrol sebentar sama dia.

"Mi lo pacaran berapa kali?”

"Humm lumayan sih kak. Hehe. Kenapa emang?"

"Kalo ngomong begitu berarti banyak banget ya mantan lo. Hahaha."

"Hahaha ya nggak gitu juga kak. Gue dari jaman SD udah pacaran tau kak. Kalau ditotal, udah pernah 6 kali."

"Banyak juga yak. Hahaha. Kalah gue."

"Bohong aja lo kak."

"Beneran Mi, kalau yang suka emang iya ada beberapa, tapi kalau pacaran nggak."

"Seriusan kak? Haha."

"Beneran. Cupu ya gue."

"Nggak juga sih kak. Biasa aja haha. Cuma nggak nyangka aja, gue pikir lo malah banyak mantannya kak."

"Pacaran lo udah ngapain aja Mi?"

Harmi terdiam agak lama disini.

"Tenang aja Mi, gue open minded kok, lo ngomong apapun nggak akan merubah pandangan gue terhadap lo Mi santai. Hehe."

"Gue malu kak ceritanya. Hehe. Tapi karena lo mikirnya gitu, yaudah gue coba ceritain ke lo ya. Tapi janji jangan mikir gue yang aneh-aneh habis ini ya."

"Oke Mi, ceritain aja ya. Santai gue mah."

"Hmm. Gue paling jauh banget udah pernah ML kak. Waktu sama mantan gue di SMA dulu. Waktu kelas 2 SMA. Gue habis itu nggak pernah pacaran lagi kak. Sampai sekarang. Udah lama banget ya? Hehe. Kalau sama mantan-mantan lainnya sih paling jauh ya grepe-grepe aja palingan sama baik."

"Sering tapi Mi dulu lo?"

"Cuman 3 atau 4 kali gitu lupa gue kak. Haha."

"Oh yaudah nggak apa-apa Mi. Santai aja sama gue. Gue sih nerima apa adanya Mi."

"Hah? Maksud lo kak?"

"Eh, aduh maksudnya, gue santai aja kalau ada cerita kayak gini, nggak akan gue mikir lo yang gimana-gimana Mi."

"Oh gitu ya. Gue pikir lo tetap mau sama gue kak. Hehe."

"Haha, gue bukan orang baik Mi, gue nggak berani buat komitmen saat ini selain sama Keket."

"Iya sih kak. Tapi lo emang udah pernah ngapain aja sama mantan-mantan lo kak?”

"Sama kayak lo Mi. Makanya gue bilang gue bukan orang baik Mi. Haha."

"Yah, sama aja sama gue kak. Haha. Santai aja dong sama-sama kita."

"Seru juga ya omongan kita kalau udah malem gini Mi."

"Haha iya kak. Seru banget. Makasih ya kak mau jujur sama gue."

"Iya Mi, sama-sama, gue juga senang lo mau jujur sama gue."

Kami bertatapan lama banget dalam diam. Lalu Harmi tersenyum kecil. Merasa terkode, ane mendekat ke mukanya. Benar aja, Harmi langsung nyosor duluan mencium ane. Ciuman Harmi ini adalah ciuman nafsu. Ya wajar sih namanya juga udah lama nggak pacaran ya kan. Haha. Dia sangat liar malam itu. Ane bahkan sempat digigit juga bibirnya sama dia. Ketika dia berinisiatif untuk membuka pakaian, ane tahan dia.

"Cukup dulu Mi. Gue takut lo malah jadi ada perasaan yang lebih jauh lagi sama gue Mi."

"Nggak apa-apa kak."

"Gue cuma mau sama Keket Mi."

"Nggak apa-apa kak gue kata." Katanya sedikit membentak.

"Stop. Mungkin nggak malam ini ya Mi. Gue takut ini pelarian lo karena kesedihan lo Mi. Tenangin diri lo dulu Mi oke?"

"Maafin gue kak. Gue nggak tau ini gimana perasaan gue, yang jelas gue menikmati ini kak."

"Iya tapi ini lo nafsu, bukan karena hati."

"Maaf kak. Tapi kebaca ya?"

"Iya kebaca banget Mi. Makanya gue bilang tenangin diri lo dulu ya. Jangan kebawa emosi. Nanti lain kali kalo lo emang beneran udah tenang, pikiran lo jernih, oke kita coba."

"Iya kak. Maafin gue ya kak. Jangan mikir macem-macem ya kak, janji?”

"Iya Mi."

Ane lalu mencium keningnya dan memeluknya. Setelahnya ane beres-beres kasurnya dulu kemudian pamit. Harmi terlihat sangat senang dan berulang kali mengucapkan terima kasih ke ane. Ane kemudian keluar dari kamarnya dan tersenyum kepadanya, dia membalas juga dengan lambaian tangan dan senyum manis.

Duh, makin pusing nih kayak gini.
sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.