Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]


Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.


Spoiler for INDEX:


Spoiler for "You":



Spoiler for MULUSTRASI:


Spoiler for Peraturan:


Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.


Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
suryosAvatar border
xxxochezxxxAvatar border
DayatMadridistaAvatar border
DayatMadridista dan 113 lainnya memberi reputasi
106
465.8K
4.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#1315
Jalan-jalan Panjang
Ternyata acara pembukaan kolam renang di desa dekat rumah Sofi itu siang hari, sedangkan acara demo masak di kota yang diajakin Harmi itu malam hari. Jadinya ane iyakan dua duanya. Nggak lupa ane pagi sampai siangnya main ke kostan Keket dulu.

“Kamu jadinya mau kemana?” tanya Keket.

“Aku mau nonton futsal sama teman SMA ku di kota.” Jawab ane.

“Oh gitu. Yaudah yang penting kamu hati-hati ya sayang. Kamu naik angkutan umum kan kesana?”

“Iya paling ngangkot  aja aku yank.”

“Maafin aku nggak bisa nemenin kamu ya. lagi nanggung banget penelitian aku nih. Nanti juga aku mau ke lab Ja.”

“Nggak apa-apa kok, lagian itu kan prioritas kamu yank. Eh kamu mau ke lab sama siapa aja?”

“Sendirian aja. Weekend gini mana ada yang mau ngelab lagian Ja. Hehehe.”

“Iya sih. Hehe.”

Waktu udah mau menuju siang hari, dan akhirnya ane pamit dari kostan Keket menuju ke tempat Sofi. Perjalanan menuju lokasinya ternyata jauh pakai banget. Masuk ke pelosok desa. Ane bingung juga kok pada kepikiran ya di masa lalu orang-orang ini tinggal di daerah ini. Hehe. Cuacanya sejuk walaupun tengah hari. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit tanpa kemacetan berarti akhirnya ane sampai di lokasi yang ditunjukan oleh Sofi. Lokasinya beneran jauh banget dari kota, bahkan dari daerah kampus ane. Sudah banyak sekali orang yang datang ketika itu. Orang-orang desa ini begitu sumringah melihat wahana baru ini. Luar biasa sekali. Senang banget ane melihat pemandangan kayak gini. Berbagi kebahagiaan dengan mereka yang belum pernah merasakan apa yang biasa kita nikmati itu adalah hal yang luar biasa buat ane. Dari jauh Sofi melambai dan tersenyum ke ane. Lalu dia berjalan mendekat ke ane. Ane juga tersenyum kepadanya.

“Ja, akhirnya lo datang juga. Yuk masuk. Jangan disini nanti lo nggak dapat makanan. Hehehe.”

“Oh iya Sof. Hehe.”

“Eh Sof, gue ngerasa keren deh sama keluarga lo, mau ngebuka wahana kayak ginian di desa ini. Liat tuh, orang-orang sini pada kegirangan. Mudah-mudahan berkah ya rejekinya. Berbagi kebahagiaan soalnya. Hehe.”

“Iya, ini ide kakak gue yang kerja jadi pramugari. Dia mau investasi kalau dia nanti pensiun Ja. Apalagi dia kan udah lumayan berumur, dan masih sendiri. Jadi ya daripada uangnya mubazir buat hedon, mending di investasiin, salah satunya ya disini. Nanti gue kenalin sama kakak gue itu ya.”

“wah keren ya kakak lo. Pasti banyak pahala tuh dia. Nyenengin orang lain soalnya hehehe.”

Sofi hanya tersenyum. Lalu kami melangkah masuk kedalam ruangan seperti hall besar, yang katanya nanti dipakai untuk gym juga. Hanya saja saat itu masih kosong karena alat-alat gymnya belum datang. Hanya ada beberapa matras untuk senam sepertinya. Disitu diubah sementara menjadi ruangan makan dengan segala macam hidangan. Orang desa situ bebas mau ambil makanan dan minuman apa aja. Gila nih, royal bener kakaknya. Haha.

“Sini Ja, kenalin kakak gue.” Kata Sofi.

“Saya Ija Kak.” Kata ane sambil menjabat tangan kakaknya.

“Saya Lia. Kamu teman dekatnya Sofi kan?” katanya sambil menjabat tangan ane dan tersenyum.

“iya, saya adik kelasnya Sofi kak. Hehe.” Kata ane.

“ Sofi banyak cerita tentang kamu Ja.” Kata Kak Lia sambil tersenyum.

“Ah iya ya kak? Bisa aja nih Sofi kak. Pasti dilebay-lebayin. Hehehe.” Kata ane malu-malu.

“Nggak kok Ja, deskripsinya sesuai sama penampakan kamu Ja.” Kata kak Lia.

“Oh iya ya? hehehe.” Ane canggung berat.

“Yaudah kamu silakan bergabung sama yang lain aja ya. nikmatin makanan ala kadarnya dari kampung sini ya Ja.” Kata Kak Lia.

Ane mengangguk dan kemudian ngobrol lagi dengan Sofi. ternyata Sofi ini lebih bersemangat hari ini. Dia lebih banyak ngoceh dan suaranya lebih nyaring dari biasanya.

"Tumben lo banyak ngomong Sof. Hehe." Kata ane.

"Hah? Emang iya ya? Gue kok nggak nyadar ya. Haha." Kata Sofi tersipu.

"Iya, biasanya kan yang buka obrolan, apapun yang mau kita obrolin pasti gue duluan yang mulai. Haha."

"Ya nggak apa-apa Ja, sekalian latihan kan biar bisa banyak obrolan sama lo."

"Haha. Segala latihan, kan kalau sama gue mah ngobrol mengalir aja Sof. Kayak hubungan kita ini sekarang kan asyik, ngalir gitu aja. Siapa sangka gue bisa deket dan ngobrol juga sama lo kan. Dulu mana ada gue kepikiran kenal sama lo. Keliatan sama gue aja nggak. Haha."

"Haha iya ya. Gimana urusannya kita bisa jadi deket gini ya. Itu karena sahabat lo si Keket yang bikin kita jadi deket. Hehehe."

"Hehe. Eh iya kok lo nggak berpikir gue itu pacaran sama Keket sih Sof?”

"Nggak tau, gue tau dan hampir semua orang di fakultas ini terutama angkatan gue, tau kalau kalian itu deket banget, bahkan banyak yang menduga lo berdua pacaran Ja. Tapi entah kenapa feeling gue bilang kalian itu nggak pacaran sebenernya. Hehe."

"Gile juga insting lo Sof. Hahaha. Tapi emang iya sih, kayak yang udah gue ceritain kemarin ini kan, Keket itu nolak gue. Tapi dia mau terus deket sama gue Sof. Aneh ya dia. Hehe."

"Nggak aneh Ja, lo bisa bikin cewek nyaman di deket lo. Yang lebih ganteng, yang lebih pinter, yang lebih kaya, yang lebih punya segalanya disini banyak daripada lo, tapi menurut cewek termasuk gue, nggak mudah nemuin cowok yang bikin nyaman. Atribut yang gue sebutin tadi itu sebenernya cuma bonus aja bagi gue."

"Gitu ya Sof."

Ane langsung teringat lagi kalimat yang sama terucap dari Zalina, Keket dan Ara. Semuanya seragam bilang yang sama kayak gitu kurang lebihnya.

"Udah ah, ntar lo kegeeran lagi. Heheh. Kita ke kolam yuk." Ajak Sofi.

Kolamnya lumayan luas, terdiri dari tiga jenis kolam, yaitu kolam reguler yang buat orang dewasa, kedalamannya mencapai 3 meter, luasnya lupa ane tapi yang jelas cukup besar. Kolam kedua untuk bermain semacam waterboom gitu dilengkapi dengan wahananya seperti perosotan air yang melingkar dan sejenisnya, lebih kecil sedikit dari kolam reguler dan dalamnya hanya mencapai 2 meteran kalau nggak salah. Termasuk bagus untuk ukuran di desa ini. Terakhir ada kolam mini yang dilengkapi air hangat. Bentuknya oval dengan kedalaman sekitar 1 meteran. Pas buat anak-anak kecil usia 5 tahun keatas mungkin ya.

"Gue seneng banget Ja lo mau kesini. Ke kampung sini. Padahal kayaknya kalau dari potongan gaya lo, lo berasal dari keluarga berada."

"Haha. Gue seneng hidup sederhana kayak gini Sof. Gue seneng berbaur dengan orang lain, gue benci sama ekslusifitas. Apa sih enaknya sok eksklusif dan banyak aturan kan? Dan lagi yang punya harta itu orangtua gue, gue nggak punya apa-apa, cuma numpang hidup sebentar dengan mereka sebelum gue bisa mencari rejeki gue sendiri."

"Ih gue suka deh sama pemikiran lo Ja. Beneran. Down to earth itu emang mengasyikkan kok."

"Iya Sof. Dan gue sih ngebiasain hidup biasa-biasa aja kalau-kalau terjadi apa-apa sama orangtua gue, gue udah tau gimana cara bertahan hidup Sof."

Ane dan Sofi menikmati siang itu dengan ngobrol ringan dibumbui celetukan-celetukan modus kecil-kecilan yang entah kenapa mengalir gitu aja dari mulut ane. Sofi juga sepertinya larut dengan obrolan ringan ini.

"Eh Sof, kalau nanti gue sering-sering main kesini boleh nggak? Gue mau numpang berenang. Hehe."

"Kan deket kampus ada Ja, ngapain jauh-jauh kesini? Mau gratisan lo ya? Haha."

"Lebih ke ketemu lo nya sih Sof. Hahaha. Sekalian gue ajarin berenang ya. Lo kan nggak bisa berenang katanya. Haha."

"Apaan sih Ja. Haha. Ketemu gue mah bisa dikampus kali. Tapi kalau mau ngajarin gue berenang boleh. Hehe."

"Ya kan lo bentar lagi lulus, nggak akan kekampus-kampus lagi kan? Kecuali kalau kekampus bela-belain mau ketemu gue, baru tuh bisa. Dengan senang hati bahkan. Hehehe."

"Haha nanti gue pikirin deh, ngapain kekampus ketemu lo doang."

"Ya kan ketemu pujaan hati Sof. Haha."

"Yeee. Maunya lo mah." Katanya sambil tersenyum kecil.

Ane melihat jam sudah sekitar 15.00 dan ane berinisiatif untuk pamitan ke Sofi dan kemudian kakak-kakaknya.

"Mampir-mampir ya Ja kesini." Kata Kak Lia sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

"Eh iya kak. Mudah-mudahan selalu ada waktu untuk nyempetin main kesini." Kata ane sambil melirik Sofi. Sofi langsung salah tingkah dan tersenyum.

--

Ane janjian sama Harmi didepan gerbang kampus. Ternyata Harmi membawa mobil.

"Mobil lo ini Mi?"

"Bukan, punya orangtua gue Kak. Hehe."

"Haha iya, maksudnya yang lo biasa pake untuk ngampus kan?"

"Iya kak. Hehe."

"Gue yang bawa deh."

"Emang lo bisa nyetir kak?"

"Bisa dong. Gue juga kalau ada acara mudik dikeluarga gue, kan gue yang nyetir. Hehe."

"Wah supir antar kota antar propinsi dong lo kak? Haha."

"Iya benar sekali. Hahaha."

Sepanjang perjalanan yang ternyata cukup macet itu kami mengobrol seru. Ternyata pengetahuan Harmi soal masakan cukup mumpuni. Memang ternyata memasak itu salah satu hobinya. Sayang waktu itu ajang pencarian bakat memasak belum ada, yang ada di TV cuma acara masak memasak dengan chef-chef sensual berdada overload bergaya ngomong campur-campur setengah lokal setengah inggris, dan banyak menyajikan makanan ala bule. Harmi begitu berminat karena ternyata chef yang datang dan mengisi acara itu adalah salah satu chef legendaris negeri ini, ibu-ibu santun yang mewakili tipikal ibu rumah tangga cekatan yang pintar masak.

Kami memasuki parkiran salah satu mall di kota, untung aja masih dapat parkiran, karena biasanya suka penuh kalau weekend gini. Lalu kami cari makan dulu sebelum dimulainya acara. Kami sampai sekitar 18.00, lalu beribadah dulu, kemudian cari resto. Acaranya sendiri jam 19.00.

"Mau makan dimana Mi?" Tanya ane.

"Gue mau makan sushi ni Kak. Lo suka? Di resto xxxx" jawabnya.

"Haha itu mah kesukaan gue Mi. Ayo deh. Gue yang bayarin. Itung-itung jalan pertama kali sama lo kan."

"Sendiri-sendiri aja kali kak, gue nggak enak, disitu kan agak mahal."

"Eh nggak apa-apa, gini-gini gue udah bisa cari duit sendiri tau. Haha."

"Eh iya? Hmmm yaudah deh. Anggep aja ngedate ya ini." Kata Harmi lugas.

"Date? Lo mau ngedate sama gue Mi? Gue kayak gembel gini. Hahah." Kata ane.

"Haha, kak lo tuh enak buat dijadiin gandengan tau, nggak kalah sama Kak Krisna. Nggak malu-maluin gue kalau jalan. Cuma ntar lo iket rambut lo ya. Gue agak risih liatnya. Hahaha."

"Haha, iya, iya, gue nurutin lo tuan putri kecil." Kata ane.

"Kok kecil sih? Nggak liat gue udah dandan begini cakep lo bilang anak kecil?"

"Abis lo pendek sih Mi. Jadi kayak jalan sama bocah gue. Hahaha."

"Yeee ngeledek fisik. Awas ya lo kak."

Harmi mencubit perut ane sakit banget. Tapi dengan begini, ada sign yang mulai terang kalau Harmi mulai nyaman jalan sama ane. Haha.

"Aaaawwww. Sakit Mi. Elaaah. Gue bales ya?"

Lalu ane menggelitiki pinggangnya, dia geli luar biasa. Haha. Salah satu kelemahannya disitu ternyata.

"Ahahaha ah, kak, gue geli tau. Stop stop. Malu diliatin orang kak. Haha."

"Biarin aja, lo yang mulai duluan kan Mi."

Kami masuk ke dalam resto dan mulai memesan menu. Pelayanan disini emang nggak pernah mengecewakan. Kami memesan paket sushi dengan platter yang cantik. Dulu belum jamannya di foto-foto tuh makanan. Haha. Dan seperti biasa, pesan banyak, ternyata Harmi pun makannya banyak. Dia juga nggak sok jaim makan banyak didepan ane. Malah senang ane kalau begini kan. Jadi nggak mubazir bayar makanannya.

"Dibandung ada juga nggak Mi?"

"Ada kak, salah satu favorit gue, makanya gue ajak lo kesini kak."

"Haha oh iya ya. Kalau lo belum pernah kesini mana bisa lo tau ini resto."

"Iya kak makanya." Katanya sambil tersenyum.

"Eh Mi, kalau gue request boleh nggak? Bikin sushi gini bisa nggak lo?"

"Malah gampang kak, tinggal bahannya aja belinya susah apa gampang kan."

"Gue ada tau tuh toko-toko yang jual bahan-bahan buat bikin masakan jepang. Kapan-kapan kesana mau?”

"Mau kak. Haha. Ih seneng dong gue kalau bisa masak masakan jepang yang mirip sama aslinya."

Lalu kami menikmati kebersamaan direstoran tersebut sebeluma akhirnya keluar dan menuju ke lokasi acara demo masak tersebut. Harmi begitu antusias mengikuti sesi demi sesi sambil sesekali menjelaskan kepada ane tentang bumbu, tentang alat masak, ataupun istilah-istilah kuliner. Lumayan lah ya jadi banyak tau istilah kuliner, nambah ilmu. Harmi juga membawa pocket camera yang harganya termasuk cukup mahal waktu itu. Hasil jepretan Harmi juga cukup baik. Karena banyak juga orang yang punya alat bagus tapi kurang bisa memaksimalkan fasilitasnya itu.

Acara selesai sekitar jam 21.00 malam. Harmi terlihat lelah, namun sangat senang. Kami pun pulang ke daerah kampus kami. Diperjalanan kami melanjutkan obrolan ringan kami. Ane tahu anak ini mulai nyaman ngobrol sama ane.

"Mi, kostan lo di kostan sultan ya?”

"Eh, iya kok lo tau kak?"

"Tau dong. Barang-barang lo branded semua Mi, dari mulai sepatu sampai baju lo, plus lo bawa pocket camera mahal banget itu. Dan gue juga tau lo pake (Bvlgari) Omnia."

"Hah? Lo jadi detektif ya kak? Haha. Lo tau semua ini barang-barang sampai parfum yang gue pakai. Kak Krisna aja nggak pernah sedetail itu kak kalau merhatiin gue."

"Haha iya dong. Gue gitu. Gembel-gembel gini kan gue ngikutin perkembangan jaman dan teknologi Mi. Dan itu tandanya Krisna sebenernya nggak terlalu serius sama lo Mi."

Harmi terdiam agak lama, lalu melanjutkan obrolan ini.

"Hmmm emang sih kak, gue juga ngerasanya hambar aja gitu kalau jalan sama Kak Krisna. Kurang greget, yang seneng kayak cuma gue doang. Tapi sekali jalan sama lo ini, gue ngerasa ada teman buat tektok ngobrolnya kak. Apalagi ternyata lo segitu merhatiinya dan tau banyak pengetahuan tentang barang-barang dan lainnya. Seru kak."

"Haha biasa aja kali, itu kebetulan aja Mi gue perhatiin yang gue tau. Gue juga banyak nggak taunya Mi."

"Nggak tau ya Kak, gue nyaman aja jalan sama lo. Padahal kita juga belum lama deketnya. Makanya gue berani bilang ini kayak ngedate. Eh tapi kak Keket gimana ya?”

"Lah keket mah biar aja Mi. Itu kan urusan gue sama Keket. Kalau lagi sama lo ya urusan gue sama lo Mi."

"Hmm iya Kak. Hehe. Makasih ya kak udah nemenin gue. Lain kali mau kan jalan?”

Laaaah ini dia. Dia duluan yang kasih umpan. Haha. Mantap ini udah.

"Iya Mi, beres udah. Santai."

"Tapi gue sadar kak, kak Keket itu cantik banget. Lo juga nggak jelek, baik banget lagi. Sayang ya lo ditolak."

"Namanya belum rejeki Mi. Haha."

"Nanti mau mampir dulu nggak ke kostan gue kak?"

"Nggak usah, besok-besok aja ya. Kan masih banyak waktu Mi." Kata ane sambil senyum.

Akhirnya sampai di kostan Harmi. Ane memarkirkan mobilnya dilahan parkir yang tersedia. Dan alangkah kagetnya ane, ternyata kamar kost Harmi persis disebelah kamar kost orang yang bikin ane males. Anin.

"Makasih banyak ya kak buat hari ini." Kata Harmi yang tiba-tiba memegang tangan ane.

"Eehmm eh, iya Mi. Sama-sama ya." Kata ane gugup karena kaget.

"Haha nggak usah kaget kak, kayak nggak pernah dipegang cewek aja lo."

"Lo ngagetin gue Mi, kan jadi enak gue. Haha."

"Yauda gue masuk ya kak. Makasih buat malam ini. Keep contact ya." Katanya sambil tersenyum.

Waduh, Sofi dan Harmi memiliki peluang yang sama nih. Tapi sayang, hati ane cuma buat Keket seorang.

sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.