- Beranda
- Stories from the Heart
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)
...
TS
ayahnyabinbun
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)

Assalamualaikum semua.
Ini hanya goresan tinta imajinasi seorang lelaki tua yang telat menemukan hasratnya dalam hal menulis.
No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus ya.
Cerita ini murni Fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat mohon di maklumi.
Terakhir.
Selamat menikmati bacaan ringan ini.
Spoiler for Prolog:
-Jakarta-
UGD RS di jakarta.
"Bagaimana istri saya sus!? " tanya seorang pria kepada suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Maaf pak masih kritis saya tidak bisa memberitahu lebih rinci kondisi istri bapak, itu wewenang dokter," jawab suster cepat kemudian dia berlalu meninggalkan lelaki itu.
Lelaki itu pun bersandar di tembok rumah sakit, raut mukanya terlihat lemas dan pucat kedua tangannya gemetar tatkala menutup wajahnya.
"Maafkan aku Naura, hiks, maafkan aku, " gumam lelaki itu sambil terisak menangis tersedu-sedu.
Seberkas cahaya membentuk sosok manusia berjongkok di depan lelaki itu, "jangan menangis sayang, ini memang sudah waktuku, jaga anak kita ya, dia ganteng seperti kamu, cup. " seru sesosok cahaya tersebut sambil mencium kening sang lelaki, dan cahaya itu pun berlalu bersama sesosok laki-laki berjubah putih yang menemaninya.
Lelaki itu mengangguk lesu sambil tersenyum tipis, melihat ruh istrinya menghilang menuju ufuk matahari dikala senja.
"Krieeek" suara pintu UGD terbuka, keluar seorang dokter dan beberapa suster menggendong seorang bayi.
"Pak Bagas, bayi bapak kami bersihkan dulu di ruang bayi ya pak, dokter ingin bicara dengan bapak," jawab suster dengan lemah lembut ke lelaki itu.
Lelaki itu pun berdiri, berjalan pelan menuju dokter yang menundukkan kepala di depan lelaki itu, gurat penyesalan terlihat dari wajah sang dokter.
"Sudah tidak apa-apa dok, saya sudah tahu, sehebat apapun anda tidak bisa melawan takdir, " jawab lelaki itu sambil menepuk pundak sang dokter.
"Ba-bagaimana bapak bisa tahu!? " jawab dokter dengan rona kebingungan.
Lelaki itu kemudian berlalu menuju ruangan bayi, langkah demi langkah terasa berat, tangisan tak terbendung dari kedua matanya, lelaki itu memukul-mukul dadanya agar menyisakan kelegaan saat ia bernafas.
"OOOEeeeK...OOOEEEEK...OOOEEEK," seketika tangis bayi memecah kesunyian lorong rumah sakit, lelaki itu mempercepat langkah demi langkahnya, terlihat seorang bayi sedang di gendong suster, menangis dengan kencangnya.
"Silakan pak di gendong anaknya, sudah saya bersihkan dedek bayinya," jawab suster ke lelaki itu.
Sang lelaki menerima si bayi dari tangan suster, menggendong dengan penuh kehati-hatian, sang bayi yang tadi menangis kencang seketika terdiam di pelukan lembut sang ayah.
"Mau di beri nama siapa pak bayinya?" tanya suster.
"Surya, Surya dikala senja. " jawab bapak Bagas lirih.
Spoiler for Chapter 1 : sang Surya:
Jakarta, 2018.
"TENG!! TENG!! TENG!!" bunyi bel terdengar hingga ujung jalan setapak depan sebuah sekolah, segerombolan anak tunggang langgang berlarian menuju gerbang sekolah tersebut.
Pak Kusni penjaga sekolah, merangkap satpam, merangkap manusia terlihat mendorong gerbang dengan kepayahan, faktor usia seperti menggerogoti tenaganya yang dulu seperti kuda jantan, nafasnya terdengar mengebu-gebu seperti pemain film erotis tahun 80an, padahal gerbang sekolahnya hanya ada satu, bayangkan bila sekolah ini memiliki 7 gerbang layaknya pintu neraka, mungkin senin beliau sudah di kebumikan.
Dari ufuk timur terdengar suara dengan lantang.
"HEI KUSNI!!! HENTIKAN!!! GUA MASIH MAU SEKOLAH KUSNI!!!"
Remaja itu berlari bersama gerombolan murid yang telat bagai babi hutan.
Pak Kusni yang sedang mendorong gerbang terdiam sesaat, lalu melihat asal suara tersebut, matanya melotot melihat remaja tersebut berlari seperti maling BH yang dikejar warga, dengan sisa tenaga tuanya di dorong gerbang itu dengan tergesa-gesa,
"bocah sialan itu tak boleh masuk..! TIDAK BOLEH MASUK..! YOU SHALL NOT PASS..!" gumam lelaki tua itu sambil mengutip kata-kata Gandalf Lord Of The Ring.
"SIALAN KAU KUSNI! GUA TIDAK AKAN KALAH DENGAN TUA BANGKA MACAM KAU KUSNI!!" teriak lagi remaja itu dengan lantang, langkah kakinya semakin kencang ia sampai lupa resleting celananya masih menganga memberikan sensasi cooling breeze di sekujur pangkal pahanya.
Mendengar itu Kusni geram, ia semakin menggebu-gebu mendorong gerbang, akan tetapi, "KREEK!!" suara tulang bergeser bersua, teriakan tertahan mengema di kalbu Kusni.
"AAARRRGGHH!! AMPUN GUSTI!! PINGGANGKU!!" sakit encok strata tiga Kusni kambuh, tubuh kusni tertahan gerbang, tanpa adanya gerbang mungkin tubuh Kusni akan tersungkur ke tanah, ada hubungan simbiosis mutualisme yang ironis antara Kusni dan gerbang.
"Pagi beh, kambuh?! AHAAY!" ejek remaja itu ke pak Kusni sambil berlenggang menuju kelas.
Sakit, malu, vertigo menjadi satu, itulah yang di rasakan Kusni sekarang, melihat murid itu berlalu membuat matanya berkaca-kaca seutas kata terucap dari bibir Kusni.
"Dasar bocah KAMPRET!!" Kusni tertahan mematung sambil menggenggam gerbang sekolah yang masih seperempat terbuka.
Kelas 2-A sudah di penuhi manusia-manusia unggulan, datang setiap pagi untuk mencari ilmu, bersiap-siap menatap masa depan dengan penuh harapan cemerlang, di belakang dua insan lelaki saling bercakap.
"Cok, film bokep yang kemaren elu kirim crash, kirim lagi dong bro," celoteh Bambang ke Ucok di baris belakang.
"BAH!! Handphone kau saza yang zadul Bams, buktinya zalan-zalan zaja tuh di hp ku, makanya beli hape zangan di pasar malam lai," jawab Ucok dengan logat medannya yang kental, sungguh percakapan yang menginspirasi kaum muda mudi INDONESIA.
"Eh eh eh, guru guru guru!" riuh anak-anak kelas 2-a, sesosok lelaki tinggi, atletis nan tampan terlihat di depan pintu, kemudian berlalu, berganti menjadi lelaki pendek, tambun dengan kepala botak di tengah layaknya lapangan bola, sekilas adegan tadi seperti iklan L-men yang gagal.
Pak Hartono masuk ke dalam kelas, melihat sekeliling kelas sambil menyapa.
"Pagi anak-anak!!", sapa pak Hartono.
"PAGI PAK GURUUU!!" Jawab murid-murid dengan serentak dan kompak.
Tiba-tiba seorang anak berdiri di depan pintu kelas, wajahnya terlihat kecapaian dan pucat.
"Yaaah! Telat!" ujar anak itu, pak Hartono menelisik dengan teliti anak yang terlambat itu, kemudian berujar "hei kamu! Berani kamu telat di jam saya! Kesini kamu!" perintah pak Hartono dengan galaknya, anak itu pun maju dengan perlahan, kepalanya menunduk malu tidak bisa menatap pak Hartono, "Push up 25 kali! Jikalau tidak sanggup silakan keluar kelas saya!!" ujar pak Hartono dengan tegas, ketika anak itu mengambil ancang-ancang untuk melakukan push up, sesosok mahkluk mengintip dari balik jendela di barisan pojok kanan belakang, matanya nanar namun tajam melihat situasi kelas.
"oke situasi aman," ujarnya dengan percaya diri, dengan mode silent ia menyelundupkan tasnya dari balik jendela menuju bangku belajar, lalu ia merangsek masuk dari celah jendela, bak ular kadut dengan licinnya ia masuk melewati celah lumayan sempit itu, setengah badannya sudah masuk ke dalam ruang kelas, tangan kirinya menyentuh meja kemudian ia mendorong sisa tubuhnya melalui tembok menggunakan tangan kanan, dengan sangat cepat dan tanpa satu makhluk pun mengetahui ia sudah masuk ke dalam kelas, dengan posisi menungging di atas meja, misi pun berhasil, ia turun dari meja kemudian menikmati pemandangan Budi yang sedang push up.
"Budi, terima kasih ya, tanpa elu sebagai pengalih perhatian gua ngak bisa sampai di dalam kelas, Budi, kamu, numero uno," gumam pria itu di dalam hati.
Iya, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Surya, anak dari bapak Bagas prakasa yang kalian liat kisah pilunya di prolog, anak ini tumbuh besar menjadi sosok lelaki tampan, pintar dan soleh, itu hanya menurut penuturan bapaknya sendiri.
Push up Budi sudah berada di angka 23 kali, keringat bercucuran dari kening sampai badan Budi, bahkan sampai muncul bercak basah di daerah selangkangannya, pergelangan tangannya mulai goyah, lututnya bergetar 4,5 skala richter, tubuh yang di rancang untuk main warnet seharian itu tidak mampu menerima push up lebih dari 20 kali.
"Pak, sudah ya pak, saya sudah tidak sanggup," nego Budi ke pak Hartono.
Pak Hartono sedikit terenyuh melihat Budi yang kecapaian, "aduh, kasihan kamu nak, ya sudah … tambah lima lagi push upnya, biar genap jadi 30," tutur pak Hartono dengan melepas topeng kesedihannya, mata Budi nanar namun kosong menatap lantai, terlihat raut penyesalan teramat sangat dari wajah Budi.
Pak Hartono mulai menuju meja ia mengambil daftar absensi lalu mulai mengabsen satu per satu muridnya, dimulai dari Ani, Deni dan seterusnya, murid-murid saling bersahutan saat nama mereka disebut pak Hartono, ketika mulut pak Hartono menyebut nama Surya, "HADIR PAK..!" sahut seseorang pemuda dari belakang dengan lantang.
Seisi kelas kaget, terperanga sambil menganga melihat Surya sudah di dalam kelas, pertanyaan dan praduga berkecamuk di hati mereka.
"Bagaimana ia bisa masuk!?"
"Sejak kapan ia ada di kelas?!"
"Kenapa aku ada di kelas ini!!" gumam Ari yang seharusnya masuk kelas 2-d.
semua perhatian itu berbanding terbalik dengan kondisi Budi yang tanpa perhatian satupun dari teman-temannya.
"Sakit, banget, tapi tak berdarah, sungguh biadab temen-temen gua, kata mereka kita teman sejati, selalu di hati, HILIH KINTHIL!!" ujar Budi di dalam hati kesal dengan teman-temannya.
Pelajaran berjalan setelah sesi absensi, pak Hartono mulai menjelaskan di depan kelas, suasana hening terasa, murid-murid mulai mendengarkan dengan seksama, kecuali Surya yang sedang terlelap di mejanya, posisinya yang berada paling belakang dan di tutupi Bambang yang jangkung dan Ucok yang bulat menjadikan tempat duduknya seperti vila di puncak, tempat paling nyaman untuk beristirahat.
"TOK TOK TOK TOK" bunyi ketukan pintu memecah keheningan kelas, pak Zul sang kepala sekolah sedang berdiri dengan seorang gadis cantik nan manis di sebelahnya, "pagi pak, maaf ganggu kelasnya, ini ada murid baru kelas 2-a," ujar pak Zul, "oh iya pak, silakan neng masuk, perkenalkan diri dulu sama teman yang lain," jawab pak Hartono sambil mempersilakan gadis itu masuk.
Sesosok gadis manis memakai hijab putih berjalan perlahan menuju depan kelas, wajah manisnya terlihat malu-malu ketika bertatap muka dengan murid-murid kelas 2-A, "pagi semua, nama aku Naura kelana subhi, panggil saja Naura," jawab Naura sambil tersenyum simpul memperlihatkan lesung pipinya, seketika itu juga rentetan panah asmara menusuk hati para lelaki di kelas 2-A, kecuali Surya yang sedang berkelana di pulau kapuk dan para murid perempuan yang menunjukkan ekspresi tersaingi secara jasmani dan rohani.
"kamu duduk di belakang ya nak Naura, soalnya bangku yang kosong cuman ada di sebelah sana, " ujar pak Hartono sambil menunjuk bangku disebelah Surya.
Naura pun berjalan menuju bangkunya, diiringi tatapan nakal murid laki-laki di kelas itu, ia kemudian duduk sambil mulai mengeluarkan peralatan belajarnya.
Bambang dan Ucok yang duduk di depan Naura pun sontak membalikkan badan untuk berkenalan.
"Hai Naura, namanya cantik secantik orangnya," puji Bambang dengan gaya sok coolnya.
"hei Naura, cantik kali kau, nanti pulang ku antar pakai motor ninja ku mau tak?" goda Ucok sambil menyisir jambul khatulistiwa miliknya.
Melihat gelagat kedua lelaki di depannya naura langsung ilfeel stadium akhir, didalam hatinya ia berteriak "TIDAAAAAAK..!" akan tetapi Naura hanya membalas dengan senyum malu tapi palsu ke kedua orang utan itu.
"ikh amit-amit jabang bayi, masa hari pertama di sekolah baru gua udah di godain cowok alay macem keset kayak gini, Ya tuhan salah apa hambamu ini, " ketus Naura di dalam hati.
"Jangan di anggap serius, mereka cuman bercanda."
"DEG...!!"
Rona wajah Naura terlihat terkejut, sebuah telepati terkirim langsung menuju fikirannya, ia mencari sumber telepati itu, dan matanya tertuju pada punggung lelaki teman sebangkunya, Surya.
Spoiler for Index:
PART 1
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
CHAPTER 6
CHAPTER 7
CHAPTER 8
CHAPTER 9
CHAPTER 10
CHAPTER 11
CHAPTER 12
CHAPTER 13
CHAPTER 14
CHAPTER 15
CHAPTER 16
CHAPTER 17
CHAPTER 18
CHAPTER 19
CHAPTER 20
CHAPTER 21
CHAPTER 22
CHAPTER 23
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
CHAPTER 28
CHAPTER 29
CHAPTER 30
PART 2
CHAPTER 2.1
CHAPTER 2.2
CHAPTER 2.3
CHAPTER 2.4
CHAPTER 2.5
CHAPTER 2.6
CHAPTER 2.7
CHAPTER 2.8
CHAPTER 2.9
CHAPTER 2.10
CHAPTER 2.11
CHAPTER 2.12
CHAPTER 2.13
CHAPTER 2.14
CHAPTER 2.15
CHAPTER 2.16
CHAPTER 2.17
CHAPTER 2.18
CHAPTER 2.19
CHAPTER 2.20
CHAPTER 2.21
CHAPTER 2.22
CHAPTER 2.23
CHAPTER 2.24
CHAPTER 2.25
CHAPTER 2.26
CHAPTER 2.27
CHAPTER 2.28
CHAPTER 2.29
Diubah oleh ayahnyabinbun 29-05-2022 00:42
namakuve dan 116 lainnya memberi reputasi
115
162.1K
Kutip
916
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#471
Chapter 2.14
Spoiler for bantuan:
Kelamnya langit kelabu dengan malu-malu mengintip dari balik kepulan awan abu-abu, semilir angin dingin melenyapkan kepulan asap yang tercipta dari pertempuran yang terjadi dibawah kepakan sayap Zil sang naga hitam yang tengah terbang diatas permadani awan
Hening…
Itu yang terasa diatas kawah hitam, seluruh mahluk yang menyaksikan kejadian yang terjadi sesaat tadi terdiam membisu, mereka masih tidak percaya bahwa seorang manusia bisa mengalahkan seekor siluman buaya dengan telak hanya dalam sekali pukulan yang maha dahsyat.
Senja perlahan melangkah mundur sembari melihat jasad Rawa yang telah tertanam bersatu dengan tembok bebatuan, api yang melingkupi di tubuhnya membara seakan ingin menyelimuti tubuhnya namun Senja menahan diri, ia menatap kembali telapak tangannya dan meresapkan kekuatan itu kepada Ifrit di ruang jiwa, seketika api yang bergejolak ditubuhnya mulai meredup dan sayup-sayup terdengar bisikan pelan dari dalam hati kecilnya.
"Kapan pun kau inginkan kekuatan ini, aku akan berikan untukmu Senja, karena … kita adalah … satu," bisik Ifrit dari dalam ruang jiwa.
Senja berbalik arah dan menatap para jin kera yang tengah balik menatapnya, ia mengangkat tangan kanannya tinggi dan mengepalnya dengan pasti, sorak sorai kemenangan bersahut-sahutan dari para jin kera sedangkan para jin hitam penjaga kawah hitam mulai lari tunggang langgang setelah melihat Rawa dikalahkan dengan telak, mereka berlari mundur dari pertempuran menuju kearah pintu gerbang depan kawah hitam yang terletak lumayan jauh dari tempat mereka berada.
Zil sang naga hitam turun dari langit dan langsung melingkari tubuh Senja, kepalanya dengan leher yang panjang berhadapan dengan Senja dan menatap pemuda itu dengan tatapan tajam.
"Maaf," gumam Senja pelan.
Zil memalingkan tatapannya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya seketika tubuh naga hitam itu membias dan kembali merasuk kedalam tubuh Senja.
Di ujung sana para jin-jin kera mulai berkumpul dan beberapa sibuk mencari sesuatu diantara para mayat jin-jin hitam terlihat rona dirundung sendu diwajah mereka, Senja langsung berlari kearah kerumunan untuk mencari tau apa yang tengah terjadi disana.
Langkahnya terhenti tatkala ia melihat putri Karina tengah bersimpuh dengan seekor jin kera yang terbaring lemah di pangkuannya.
"Pu-putri … maafkan saya ti-tidak bisa melanjutkan perjuangan ini," seru jin kera itu lemah di pangkuan sang Putri.
Kirana hanya bisa terisak menangis sembari mengusap rambut di kepala jin itu. Sebuah lubang menganga di perut bekas tombak yang menusuk tubuhnya saat ia melindungi Karina dari serangan salah satu jin hitam.
Jin kera itu beralih pandangan menatap Senja, "tu..tuan Senja … terima kasih sudah su..sudi membantu putri Karina, maaf saya hanya bisa membantu sampai disini," serunya lemah.
Senja menatap jin kera kecil tersebut, pandangannya beralih menatap luka terbuka di perutnya, telapak tangan Senja langsung menutup dan menekan luka tersebut untuk menghentikan pendarahan.
"Jangan menyerah kera kecil, kau pasti bisa berta…"
Kata-kata Senja terhenti disaat ia melihat manik mata milik kera kecil itu yang sudah kaku menatapnya, nafasnya telah terhenti dengan senyum tipis terukir di bibirnya. Senja mengangkat telapak tangannya dan perlahan mengusap kelopak mata agar tertutup. Jin kera kecil itu telah menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan sang putri Karina.
Tiba-tiba dari balik kerumunan muncul Popeng tengah membawa banyak perban dan air minum dengan tergesa-gesa di kedua tangannya, "Tuan putri saya sudah menemukan …" kata-katanya terhenti tatkala ia melihat salah satu temannya sudah membujur kaku di pangkuan putri Karina.
Senja berdiri seraya menepuk pundak Popeng pelan kemudian melihat sekitarnya, ia menatap para jin kera yang sebagian besar terluka dan beberapa telah gugur dalam pertempuran.
Putri Karina menghapus jejak air mata di wajahnya, "Tuan Senja … apa perintah anda selanjutnya?" tanya putri Karina sembari menengadahkan pandangannya keatas menatap Senja.
Senja menatap balik sorot mata putri Karina, ia mendesal nafas seraya berkata, "tidak ada yang perlu kalian lakukan lagi, sekarang kalian semua hanya perlu fokus menyembuhkan yang terluka dan mengubur yang sudah tiada," perintah Senja kepada putri Karina.
"Ta-tapi tuan Senja, bagaimana dengan pasukan jin hitam yang tengah berkumpul di gerbang depan?" timpal Popeng dengan nada cemas.
"Aku sendiri yang akan menghadapi mereka, jika aku tidak kembali dalam sejam bersiaplah untuk yang terburuk," seru Senja sembari berdiri tegap di depan para jin kera dan putri Karina.
"Baiklah tuan Senja, kami hanya bisa mendoakan tuan Senja dari sini," pungkas putri Karina.
Senja mulai berbalik arah dan berjalan kearah gerbang depan kawah hitam. Langkah Senja terhenti didepan Raka sang genderuwo hitam. "Raka tolong jaga mereka dan para jin dari gudang, setelah membereskan sisa pasukan di gerbang depan aku akan berusaha secepat mungkin untuk mengirimkan telepati padamu," seru Senja yang di balas anggukan tanpa kata-kata dari Raka.
Dengan seribu langkah Senja berlari menuju kearah gerbang depan, sepanjang jalan ia bertemu beberapa jin hitam yang menghalangi lajunya namun dengan mudah Senja dapat mengalahkan mereka, tak memakan waktu lama Senja pada akhirnya sampai di depan gerbang besar yang terbuat dari kayu dengan tembok batu diantaranya, disaat Senja mendekat ada sesuatu yang janggal yang dirasakannya saat itu.
Hening...
Itu yang dirasakan Senja...
Tidak ada suara sedikitpun di depan gerbang tersebut, seakan-akan dirinya tengah memasuki perangkap dengan sukarela, dengan mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan Senja mendorong gerbang besar itu seorang diri dan pemandangan yang tidak dapat dipercaya dirinya terlihat di depan kedua bola mata miliknya.
Ratusan mayat jin penjaga gerbang kawah hitam bertumpuk tinggi menjadi satu dengan seseorang lelaki dewasa duduk dipuncaknya. Senyum simpul merekah dari bibir sang lelaki ketika dirinya melihat Senja yang berada di bibir gerbang kawah hitam.
"A-ayah … disini?" tanya Senja kehabisan kata-kata.
Lelaki yang tidak lain adalah Bagas berdiri dan melangkah menuruni mayat-mayat jin hitam yang ia bantai sendirian, langkahnya lurus menuju Senja sembari bibirnya bersua, "Kamu sudah melewati batas waktu yang ayah berikan."
"Maafkan Senja ayah, banyak rintangan yang harus Senja hadapi disini," seru Senja sambil menghampiri ayahnya dan seketika mencium punggung tangan kanan ayahnya.
"Iya-iya ayah faham, ayah hanya khawatir sama kamu, bagaimana penyelamatannya? Sukses?" tanya Bagas.
"Alhamdulillah sukses," jawab Surya, sekejap Surya memejamkan mata untuk mengirimkan telepati kepada Raka agar segera menyusulnya beserta para jin kera lainnya di gerbang depan kawah hitam.
Senja menatap ayahnya dengan satu pertanyaan menggantung diatas fikirannya, "ayah yang membunuh semua jin hitam ini?" tanya Senja sambil menunjuk tumpukan mayat jin di depannya.
"Oh … ini? Bukan ayah yang bunuh tapi Terra yang bunuh semuanya, ayah hanya jadi penonton di pojokan sambil makan keripik," jawab Bagas dengan entengnya.
"Oh … okay," jawab Senja singkat.
"Apa kita bisa pulang sekarang? Ayah masih banyak pekerjaan yang tertunda dirumah," tanya Bagas.
"Engh … sebenarnya."
Pada akhirnya Senja menceritakan semuanya kepada Bagas dan ia menceritakan juga rencana Surya untuk membantu para penduduk Pujakerana.
"Hmm … jadi begitu … entah kenapa yang dilakukan Surya seperti bukan Surya yang ayah kenal tapi bagus lah, berarti Surya sudah memiliki sedikit empati terhadap mahluk gaib," jawab Bagas ringan sembari mengusap pucuk kepala Senja.
Tiba-tiba perhatian Bagas dan Senja teralihkan dengan datangnya rombongan putri Karina dan Raka dari balik gerbang depan.
"Tuan putri itu siapa disebelah tuan Senja?" tanya Popeng yang berjalan disebelah putri beserta rombongan jin-jin kera lain dibelakangnya.
Karina memicingkan matanya mencoba mencari tahu siapa gerangan lelaki itu, "entahlah Peng percepat langkahmu supaya kita bisa tahu siapa dia," seru Karina.
Tak lama putri Karina beserta para penduduk Pujakerana yang selamat sudah berada didepan Senja begitu pula Raka dan jin-jin gudang, mereka berkumpul mengerumuni Senja dan Bagas.
"Tu-tuan putri … me-mendali itu," seru Popeng sembari menunjuk mendali yang melingkar di leher bagas.
Mata Karina mengikuti arah telunjuk Popeng dan dalam sekejap Karina bersimpuh dan bersujud didepan Bagas, jin-jin kera lain yang menyadari keberadaan mendali itu pun ikut bersujud mengikuti putri Karina.
"Hei kalian kenapa bersujud!?" tanya Senja.
"Tenanglah Senja, ini semua karena mendali ini," seru Bagas.
Bagas melangkah kedepan dan bersimpuh didepan putri Karina, "bangunlah, aku tidak pantas kalian sembah," serunya pada putri Karina.
"Ta-tapi anda salah satu satriya, kami sangat menghormati anda tuan … maaf siapa gerangan nama tuan?"
"Bagas, namaku Bagas dan aku ayah dari Senja, sekarang berdirilah kalian semua," seru Bagas sembari mengangkat dagu putri Karina.
Karina berdiri diikuti para jin-jin kera lainnya, "Perkenalkan saya Karina putri dari raja Pujakerana terdahulu," serunya sembari menunduk memberi hormat.
"Jadi apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Bagas sembari mengangkat tas ransel miliknya.
"Rencana kami pergi menuju jendral Arga di hutan angkara dan berkumpul dengan para pasukan lain disana, dari sana kami akan melancarkan serangan menuju Pujakerana," jawab Karina dengan senyum menghiasi bibirnya, "apa tuan Bagas akan mengikuti kami?" tanya Karina dengan perasaan penuh harapan melingkupi dirinya.
Bagas tersenyum tipis sembari melihat wajah Karina, "tentu saja tuan putri."
Sementara dilain tempat, disalah satu sisi hutan tengah berjalan dengan terlunta-lunta Naura sembari membopong Luna, ia melihat sekeliling memastikan keadaan aman dan dalam sekejap ia memasuki sebuah lubang besar dibawah pohon beringin tua.
Naura membuka tas ransel miliknya dan mengeluarkan beberapa perban dan sebotol air mineral terakhir miliknya, "Luna bertahanlah aku akan menyembuhkanmu, berusahalah untuk tetap sadar," seru Naura dengan suara parau ingin menangis dan tangan yang bergetar.
Luna dengan wajah yang bercucuran keringat dan terlihat pucat bersender di dinding tanah dan meremas luka di perutnya, "Ugh … Arga keparat!!"
#bersambung.
Hening…
Itu yang terasa diatas kawah hitam, seluruh mahluk yang menyaksikan kejadian yang terjadi sesaat tadi terdiam membisu, mereka masih tidak percaya bahwa seorang manusia bisa mengalahkan seekor siluman buaya dengan telak hanya dalam sekali pukulan yang maha dahsyat.
Senja perlahan melangkah mundur sembari melihat jasad Rawa yang telah tertanam bersatu dengan tembok bebatuan, api yang melingkupi di tubuhnya membara seakan ingin menyelimuti tubuhnya namun Senja menahan diri, ia menatap kembali telapak tangannya dan meresapkan kekuatan itu kepada Ifrit di ruang jiwa, seketika api yang bergejolak ditubuhnya mulai meredup dan sayup-sayup terdengar bisikan pelan dari dalam hati kecilnya.
"Kapan pun kau inginkan kekuatan ini, aku akan berikan untukmu Senja, karena … kita adalah … satu," bisik Ifrit dari dalam ruang jiwa.
Senja berbalik arah dan menatap para jin kera yang tengah balik menatapnya, ia mengangkat tangan kanannya tinggi dan mengepalnya dengan pasti, sorak sorai kemenangan bersahut-sahutan dari para jin kera sedangkan para jin hitam penjaga kawah hitam mulai lari tunggang langgang setelah melihat Rawa dikalahkan dengan telak, mereka berlari mundur dari pertempuran menuju kearah pintu gerbang depan kawah hitam yang terletak lumayan jauh dari tempat mereka berada.
Zil sang naga hitam turun dari langit dan langsung melingkari tubuh Senja, kepalanya dengan leher yang panjang berhadapan dengan Senja dan menatap pemuda itu dengan tatapan tajam.
"Maaf," gumam Senja pelan.
Zil memalingkan tatapannya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya seketika tubuh naga hitam itu membias dan kembali merasuk kedalam tubuh Senja.
Di ujung sana para jin-jin kera mulai berkumpul dan beberapa sibuk mencari sesuatu diantara para mayat jin-jin hitam terlihat rona dirundung sendu diwajah mereka, Senja langsung berlari kearah kerumunan untuk mencari tau apa yang tengah terjadi disana.
Langkahnya terhenti tatkala ia melihat putri Karina tengah bersimpuh dengan seekor jin kera yang terbaring lemah di pangkuannya.
"Pu-putri … maafkan saya ti-tidak bisa melanjutkan perjuangan ini," seru jin kera itu lemah di pangkuan sang Putri.
Kirana hanya bisa terisak menangis sembari mengusap rambut di kepala jin itu. Sebuah lubang menganga di perut bekas tombak yang menusuk tubuhnya saat ia melindungi Karina dari serangan salah satu jin hitam.
Jin kera itu beralih pandangan menatap Senja, "tu..tuan Senja … terima kasih sudah su..sudi membantu putri Karina, maaf saya hanya bisa membantu sampai disini," serunya lemah.
Senja menatap jin kera kecil tersebut, pandangannya beralih menatap luka terbuka di perutnya, telapak tangan Senja langsung menutup dan menekan luka tersebut untuk menghentikan pendarahan.
"Jangan menyerah kera kecil, kau pasti bisa berta…"
Kata-kata Senja terhenti disaat ia melihat manik mata milik kera kecil itu yang sudah kaku menatapnya, nafasnya telah terhenti dengan senyum tipis terukir di bibirnya. Senja mengangkat telapak tangannya dan perlahan mengusap kelopak mata agar tertutup. Jin kera kecil itu telah menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan sang putri Karina.
Tiba-tiba dari balik kerumunan muncul Popeng tengah membawa banyak perban dan air minum dengan tergesa-gesa di kedua tangannya, "Tuan putri saya sudah menemukan …" kata-katanya terhenti tatkala ia melihat salah satu temannya sudah membujur kaku di pangkuan putri Karina.
Senja berdiri seraya menepuk pundak Popeng pelan kemudian melihat sekitarnya, ia menatap para jin kera yang sebagian besar terluka dan beberapa telah gugur dalam pertempuran.
Putri Karina menghapus jejak air mata di wajahnya, "Tuan Senja … apa perintah anda selanjutnya?" tanya putri Karina sembari menengadahkan pandangannya keatas menatap Senja.
Senja menatap balik sorot mata putri Karina, ia mendesal nafas seraya berkata, "tidak ada yang perlu kalian lakukan lagi, sekarang kalian semua hanya perlu fokus menyembuhkan yang terluka dan mengubur yang sudah tiada," perintah Senja kepada putri Karina.
"Ta-tapi tuan Senja, bagaimana dengan pasukan jin hitam yang tengah berkumpul di gerbang depan?" timpal Popeng dengan nada cemas.
"Aku sendiri yang akan menghadapi mereka, jika aku tidak kembali dalam sejam bersiaplah untuk yang terburuk," seru Senja sembari berdiri tegap di depan para jin kera dan putri Karina.
"Baiklah tuan Senja, kami hanya bisa mendoakan tuan Senja dari sini," pungkas putri Karina.
Senja mulai berbalik arah dan berjalan kearah gerbang depan kawah hitam. Langkah Senja terhenti didepan Raka sang genderuwo hitam. "Raka tolong jaga mereka dan para jin dari gudang, setelah membereskan sisa pasukan di gerbang depan aku akan berusaha secepat mungkin untuk mengirimkan telepati padamu," seru Senja yang di balas anggukan tanpa kata-kata dari Raka.
Dengan seribu langkah Senja berlari menuju kearah gerbang depan, sepanjang jalan ia bertemu beberapa jin hitam yang menghalangi lajunya namun dengan mudah Senja dapat mengalahkan mereka, tak memakan waktu lama Senja pada akhirnya sampai di depan gerbang besar yang terbuat dari kayu dengan tembok batu diantaranya, disaat Senja mendekat ada sesuatu yang janggal yang dirasakannya saat itu.
Hening...
Itu yang dirasakan Senja...
Tidak ada suara sedikitpun di depan gerbang tersebut, seakan-akan dirinya tengah memasuki perangkap dengan sukarela, dengan mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan Senja mendorong gerbang besar itu seorang diri dan pemandangan yang tidak dapat dipercaya dirinya terlihat di depan kedua bola mata miliknya.
Ratusan mayat jin penjaga gerbang kawah hitam bertumpuk tinggi menjadi satu dengan seseorang lelaki dewasa duduk dipuncaknya. Senyum simpul merekah dari bibir sang lelaki ketika dirinya melihat Senja yang berada di bibir gerbang kawah hitam.
"A-ayah … disini?" tanya Senja kehabisan kata-kata.
Lelaki yang tidak lain adalah Bagas berdiri dan melangkah menuruni mayat-mayat jin hitam yang ia bantai sendirian, langkahnya lurus menuju Senja sembari bibirnya bersua, "Kamu sudah melewati batas waktu yang ayah berikan."
"Maafkan Senja ayah, banyak rintangan yang harus Senja hadapi disini," seru Senja sambil menghampiri ayahnya dan seketika mencium punggung tangan kanan ayahnya.
"Iya-iya ayah faham, ayah hanya khawatir sama kamu, bagaimana penyelamatannya? Sukses?" tanya Bagas.
"Alhamdulillah sukses," jawab Surya, sekejap Surya memejamkan mata untuk mengirimkan telepati kepada Raka agar segera menyusulnya beserta para jin kera lainnya di gerbang depan kawah hitam.
Senja menatap ayahnya dengan satu pertanyaan menggantung diatas fikirannya, "ayah yang membunuh semua jin hitam ini?" tanya Senja sambil menunjuk tumpukan mayat jin di depannya.
"Oh … ini? Bukan ayah yang bunuh tapi Terra yang bunuh semuanya, ayah hanya jadi penonton di pojokan sambil makan keripik," jawab Bagas dengan entengnya.
"Oh … okay," jawab Senja singkat.
"Apa kita bisa pulang sekarang? Ayah masih banyak pekerjaan yang tertunda dirumah," tanya Bagas.
"Engh … sebenarnya."
Pada akhirnya Senja menceritakan semuanya kepada Bagas dan ia menceritakan juga rencana Surya untuk membantu para penduduk Pujakerana.
"Hmm … jadi begitu … entah kenapa yang dilakukan Surya seperti bukan Surya yang ayah kenal tapi bagus lah, berarti Surya sudah memiliki sedikit empati terhadap mahluk gaib," jawab Bagas ringan sembari mengusap pucuk kepala Senja.
Tiba-tiba perhatian Bagas dan Senja teralihkan dengan datangnya rombongan putri Karina dan Raka dari balik gerbang depan.
"Tuan putri itu siapa disebelah tuan Senja?" tanya Popeng yang berjalan disebelah putri beserta rombongan jin-jin kera lain dibelakangnya.
Karina memicingkan matanya mencoba mencari tahu siapa gerangan lelaki itu, "entahlah Peng percepat langkahmu supaya kita bisa tahu siapa dia," seru Karina.
Tak lama putri Karina beserta para penduduk Pujakerana yang selamat sudah berada didepan Senja begitu pula Raka dan jin-jin gudang, mereka berkumpul mengerumuni Senja dan Bagas.
"Tu-tuan putri … me-mendali itu," seru Popeng sembari menunjuk mendali yang melingkar di leher bagas.
Mata Karina mengikuti arah telunjuk Popeng dan dalam sekejap Karina bersimpuh dan bersujud didepan Bagas, jin-jin kera lain yang menyadari keberadaan mendali itu pun ikut bersujud mengikuti putri Karina.
"Hei kalian kenapa bersujud!?" tanya Senja.
"Tenanglah Senja, ini semua karena mendali ini," seru Bagas.
Bagas melangkah kedepan dan bersimpuh didepan putri Karina, "bangunlah, aku tidak pantas kalian sembah," serunya pada putri Karina.
"Ta-tapi anda salah satu satriya, kami sangat menghormati anda tuan … maaf siapa gerangan nama tuan?"
"Bagas, namaku Bagas dan aku ayah dari Senja, sekarang berdirilah kalian semua," seru Bagas sembari mengangkat dagu putri Karina.
Karina berdiri diikuti para jin-jin kera lainnya, "Perkenalkan saya Karina putri dari raja Pujakerana terdahulu," serunya sembari menunduk memberi hormat.
"Jadi apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Bagas sembari mengangkat tas ransel miliknya.
"Rencana kami pergi menuju jendral Arga di hutan angkara dan berkumpul dengan para pasukan lain disana, dari sana kami akan melancarkan serangan menuju Pujakerana," jawab Karina dengan senyum menghiasi bibirnya, "apa tuan Bagas akan mengikuti kami?" tanya Karina dengan perasaan penuh harapan melingkupi dirinya.
Bagas tersenyum tipis sembari melihat wajah Karina, "tentu saja tuan putri."
Sementara dilain tempat, disalah satu sisi hutan tengah berjalan dengan terlunta-lunta Naura sembari membopong Luna, ia melihat sekeliling memastikan keadaan aman dan dalam sekejap ia memasuki sebuah lubang besar dibawah pohon beringin tua.
Naura membuka tas ransel miliknya dan mengeluarkan beberapa perban dan sebotol air mineral terakhir miliknya, "Luna bertahanlah aku akan menyembuhkanmu, berusahalah untuk tetap sadar," seru Naura dengan suara parau ingin menangis dan tangan yang bergetar.
Luna dengan wajah yang bercucuran keringat dan terlihat pucat bersender di dinding tanah dan meremas luka di perutnya, "Ugh … Arga keparat!!"
#bersambung.
ariefdias dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Kutip
Balas
Tutup