- Beranda
- Supranatural
Tambang Liring ( Pelet Bayangan Sumpah Berdarah )
...
TS
kisawung
Tambang Liring ( Pelet Bayangan Sumpah Berdarah )
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh kisawung 17-02-2018 18:19
rohandy99 dan 54 lainnya memberi reputasi
41
1.1M
6.7K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Supranatural
15.9KThread•14.5KAnggota
Tampilkan semua post
Kumbangsialiali
#3076
Kisah Wayang Banjar
Dari pada sepi, coba kita copy paste
Kisah Wayang Banjar yg di tulis oleh
Dalang Akhmad Riadiy /Kai Karatun di blog
beliau
Silahkan disimak.... Asyik Sanak Ahva
ARJUNA GARING ( ARJUNA SAKIT )
S i b a (Jajar pertama) :
Kerajaan Pandawa.
Dikisahkan bahwa di kerajaan Pandawa, Arjuna dalam keadaan sakit. Dalam balairung istana sudah terkumpul seluruh anak kampung bumi putra seperti Bambang Angkawijaya putra Arjuna, para abdi kerajaan yakni Lurah Semar seperanakan (Bagong, Nalagareng dan Petruk atau Jambulita). Yang memimpin sidang adalah Prabu Yudhistira atau Prabu Darmakesuma dan tak ketinggalan istri Arjuna (Subadra dan Srikandi).
Dalam sidang tersebut dibahas tentang keadaan keamanan kerajaan dan yang pokok adalah tentang kesehatan dari Arjuna. Karena sudah beberapa bulan Arjuna menderita sakIt yang parah, dan sampai sekarang segala macam obat dan seluruh tabib di kerajaan Pandawa belum dapat menyembuhknnya. Prabu Darmakesuma akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa. Lantas ia menyuruh Lurah Semar untuk mengambil bilangan Patikala kedalam kedatonnya yakni Sanggar Pamucang.
Kemudian Lurah Semar bergegas untuk mengambil kitab bilangan Patikala tersebut dan menyerahkannnya kepada Prabu Darmakesuma. Setelah dibuka bilangan Patikala tersebut maka didalamnya tertulis bahwa Arjuna hanya bisa disembuhkn dengan air rendaman bunga “Purba Antakasuka Jangga Mulia”. Bunga itu warnanya empat dan baunya pun empat. Dan yang dapat mengambil hanyalah putra Arjuna sendiri yang bernama Bambang Angkawijaya.
Akhirnya dipanggilah Bambang Angkawijaya untuk menghadap pada Prabu Darmakesuma. Setelah bersembah sujud menghadap pamannya maka Angkawijaya berkata : “Mohon ampun pamanda ada maksud apa gerangan menjadi pamanda memanggil anaknda?” Darmakesuma menjawab : “Duh anaknda, kini sudah sampai waktunya kepada anaknda untuk menjalankan tugas negara dan bakti anaknda terhadap orang tua”. “Inggih, bakti yang bagaimana yang pamanda maksudkan?” sahut Angkawijaya.
Prabu Darmakesuma membeberkan hal-ihwal dari keadaan Arjuna yang semakin genting, dan ia menyuruh Angkawijaya untuk mencari bunga tersebut. Angkawaijaya menyahut : “Sandika pamanda, anaknda bersedia untuk menjalankan tugas tersebut”. Prabu Darmakesuma menambahkan lagi bahwa Angkawijaya berangkat sendirian saja dan tempatnyapun belum diketahui, jadi nanti harus bertanya kepada siapa saja yang ditemuinya dijalan. Setelah rampung semua pembicaraan maka Angkawijaya berangkat dengan diiringi doa oleh keluarga Pandawa serta ia dipinjami jimat Layang Kalamisada. . . . . . .
PAGAT KISAH.
Alkisah, diceritakan di sebuah kerajaan yang bernama Alas Keraton Cinta Negara, Rajanya bernama Prabu Barua Nata Maharaja Dewa Marangsi, patih raja bernama Bambang Rusian Dewa Dharma Ikatan dan Bupati Sura Kapriata Tarjang Kapaliun. Sang nata mempunyai anak perempuan yang cantik jelita sudah tersebar ke mana-mana bernama Dewi Paliusasi Bintang Sumakar Biduri Nilam. Sang raja sangat risau hatinya melihat putrinya yang sudah dewasa ibarat bunga yang sedang mekar siap untuk disunting orang, namun belum mendapat kecocokan dalam hati baginda. Akhirnya baginda berinisiatif untukmengumpulkan anak raja-raja. Lalu disebarkanlah undangan keseluruh pelosok negeri yang isinya barang siapa yang ingin kimpoi dengan seorang putri cantik maka silahkan datang ke negara Alas Keraton Cinta Negara.
Tidak berapa lama berselang maka berdatanganlah anak raja-raja yang terkenal dalam istilah pewayangan dengan anak raja-raja “selawi patih”. Ada yang datang dari Gombong Pasuruan, dari Langgamaya, dari Gajah Huya dan ada yang datang dari Bandang Kirapan. Kesemua anak raja-raja ini mendesak kepada raja agar ia diterima menjadi menantu raja. Akhirnya raja bingung dengan sendirinya. Terpaksa ia berunding dulu dengan para penasehat kerajaan. Setelah diambil kesimpulan yakni barang siapa dapat menangkap “balabar kawat” (jagoan dari kerajaan) dapat menangkap isuk-isuk, kamarian pambayun dan dapat menangkap kamarian isuk-isuk bisa pembayun yang artinya barang siapa yang dapat menangkap jagoan istana dapat menangkap waktu pagi-pagi maka sore hari langsung kimpoi dan barang siapa yang dapat menangkap sore hari maka pada pagi hari esoknya langsung kimpoi.
Maka masing-masing anak raja-raja turun ke gelanggang untuk adu jago mulai dari putra R. Salawidari kemudian Bambang Anggaran Dewa dan banyak pula yang lainnya mencoba peruntungannya namun selalu gagal. Kemudian sampailah giliran kepada Bambang Rikma Berangta seorang priyai dari Bandang Kirapan. Kali ini duel benar-benar seru , debu mengepul ke udara terdengar denting senjata beradu, saling banting saling tendang tiada henti-hentinya.Masing-masing saling mengeluarkan aji kesaktiannya namun belum kelihatan hasilnya dalam peribahasa pewayangan kalah belum tentu, menang belum nyata.
Baiklah kita beralih sebentar kepada R.Angkawijaya yang berjalan mencari bunga Purba Antakasuka Jangga Mulia setelah berjalan sekian lama bertanya ke sana-sini maka akhirnya sampailah ia ke kebun bunga milik putri raja yang bernama Dewi Paliu Sasi Bintang Sumakar Biduri Nilam. R.Angkawijaya sangat senang hatinya melhat begitu banyak bunga yang beraneka warna. Ia memilah pilih kalau-kalau ada bunga yang berwarna empat dan wanginya juga empat. Lama ia mencari, tiba-tiba datanglah sang putri memergoki Angkawijaya yang seakan-akan mau mencuri bunganya. Akhirnya sang putri bertanya siapa dan dari mana asal pemuda ini. Angkawijayapun menjawab dengan sopan seraya menceritakan maksudnya. Namun putri raja berpendapat bahwa Angkawijaya adalah seorang pencuri, oleh sebab itu ia harus ditahan dan dikurung. Angkawijaya menurut saja karena ia merasa bersalah juga dalam hal ini.
Akhirnya ia dibawa sang putri ke “tahanannya” yakni kamar tidur sang putri. Kejadian dan lakon ini tidak usah kita ceritakan karena kita cukup faham apabila bini-bini berduaan dalam kamar dengan laki-laki pasti terjadihal-hal yang tidak dikehendaki. Karena keduanya sedang asyik-ma’syuk mereka tidak mengetahui ada sepasang mata yang mengawasi gerak-gerik mereka. Dia adalah emban pengasuh sang putri yang sudah diberi kepercayaan oleh baginda raja jika terjadi apa-apa pada putrinya ia harus lapor kepada raja. Embanpun melaporkan kepada raja atas kejadian ini dan kejadian ini didengar oleh seluruh anak raja-raja sehingga mereka mendesak raja untuk membereskan masalah ini. Rajapun akhirnya mengeluarkan perintah menangkap pencuri yang ada di kedaton sang putri, siapa yang berhasil menawan akan langsung dikimpoikan dengan sang putri.
Perangpun tidak bisa dihindarkan, Angkawijaya yang sudah merasa yakin ia benar karena ia disuruh oleh pamannya untuk mencari bunga dan tersesat di kebun bunga ini maka ia mau-tidak mau harus membela diri. Namun tidak ada satupun dari anak raja-raja yang dapat memenangkan perang ini, mereka dihajar babak belur oleh R.Angkawijaya. Akhirnya seluruh anak raja-raja mengundurkan diri. Karena sudah tidak ada lagi yang berperang maka raja menetapkan R.Angkawijayalah yang berhak untuk mengawini anaknya. ..................................... Lama sudah Angkawijaya menetap di kerajaan ini sudah hampir enam bulan ia di kerajaan ini. Maka ia teringat dengan tugasnya dan ia mengutarakan hal ini kepada istrinya dan juga mertuanya. Sang istri yang sudah hamil enam bulan itu dengan berat hati melepas kepergian suaminya. Maka setelah berpamitan dengan semuanya berangkatlah Angkawijaya meninggalkan kerajaan ini. Perjalanan R. Angkawijaya tidak kita ceritakan.
Dikisahkan para penghuni sebuah goa yang bernama “Goa Rinting Kepala Rangkap Sembilan”.Disini tinggal seorang jin yang bernama Jin Gundrung Gundali Raja bersama dua orang anaknya yang berwujud manusia sebanyak dua orang, satu laki-laki dan satu orang perempuan. Yang laki-laki bernama Bambang Subali Dewa Ganda Parkusa dan adiknya yang perempuan bernama Dewi Maslara Ganda. Dipendekkan kisah, sang adik jatuh cinta karena ia bermimpi bertemu seorang pria yang tampan dan elok yang menyebut namanya R.Angkawijaya. Ia minta tolong kepada ayahnya dan kepada kakaknya agar dapat mencarikan seseorang yang bernama R.Angkawijaya. Karena Jin ini adalah sangat sakti maka ia mengetahui keberadaan Angkawijaya yang pada saat ini sedang berjalan di tengah padang yang luas. Kemudian ia menyuruh anaknya Bambang Subali Dewa Ganda Parkusa untuk mengambilnya.
Maka berangkatlah Subali Dewa Ganda Parkusa ke tengah padang yang dimaksud dan langsung R.Angkawijaya akan dibawanya terbang namun jangankan dapat untuk membawa terbang bergerak sedikitpun R.Angkawijaya tidak bisa digerakkan. Padahal kata Subali Dewa jangankan seorang manusia gunungpun sudah bisa diangkatnya. Karena sudah merasa habis akal maka ia kembali untuk menghadap ayahnya. Setelah sampai kepada ayahnya dan melaporkan hasilnya, maka ayahnya berbisik kepadanya. Mendengar hal itu tanpa banyak bicara lagi ia langsung terbang lagi ke tengah padang untuk mengambil Angkawijaya.
Setelah sampai dii tengah padang Subali Dewa tidak langsung menyambar R.Angkawijaya seperti kejadian yang telah lalu tapi ia menjalankan sesuai perintah ayahnya yakni R.Angkawijaya harus disembah dahulu, maka disembahnyalah Angkawijaya dan terus dipanggulnya dibawa terbang ke angkasa. Kemudian dipersembahkannya langsung kepada ayahndanya dan adiknya Dewi Maslara Ganda. Sewaktu sampai kehadapan Dewi Maslara Ganda dan ditanyakan kepadanya apakah benar ini orangnya yang ada dalam mimpinya. Sang Dewi pun menjawab : “Ya, ialah orangnya.” Kemudian orangtua dari Dewi Maslara Ganda menanyakan kepada R.Angkawijaya apakah ia mau mengawini anaknya ini. R.Angkawijaya berfikir sejenak dalam hati, kalau aku menolak pasti aku akan mati karena dihadapannya ini adalah seorang jin yang kelihatannya sangat ganas dan setelah melihat Dewi Maslara Ganda ternyata adalah seorang putri yang cantik jelita dan R.Angkawijaya berfikiran pula siapa tahu nanti mertuanya mengetahui di mana bunga yang ia carii-cari. Maka R.Angkawijaya menjawab: “Baiklah tuanku hamba bersedia mengawini putri paduka”. Sang Jin sangat gembira hatinya dan diadakanlah perkimpoian di dalam goa itu walaupun sangat sederhana.
Setelah kimpoi beberapa lamanya R.Angkawijaya selalu duduk termenung karena ia selalu memikirkan keadaan ayahndanya yang sedang sakit dan sampai sekarang ia belum menemukan obat tersebut. Melihat keadaan suaminya yang selalu murung maka istrinya yang bernama Dewi Maslara Ganda bertanya : “Wahai kakandaku, kenapa kakanda selalu bermenung. Apakah kakanda merasa tidak merasa puas atas pelayanan adinda selama ini?”. Maka dengan lemah lembut Angkawijaya menjawab : “ Duh adindaku yang sangat kusayang, mana ada kanda berfikiran seperti itu, hanya saja”, “Hanya saja apa kakang “ desak sang istri. Setelah diam sejenak maka R.Angawijaya menjawab : “Kakanda ini sebenarnya dalam tugas untuk mencari obat buat ayahnda yang sedang sakit, dan sampai sekarang belum ketemu. Entah bagaimana keadaan beliau apakah baik-baik saja sampai sekarang ini.”
Mendengar hal yang demikian Dewi Maslara Ganda langsung menghadap ayahnya dan menyampaikan keluhan suaminya itu. Sang Jin adalah seorang yang sakti dan berpengetahuan yang luas maka ia menjawab : “ He...he.. itu bunga ada di kerajaan Pelabuhan Majawangi Gedung Kartawisura. Bunga itu adalah sebagai mas kimpoi dari anak raja yang sedang kimpoi di kerajaan itu.” Kemudian Jin itu menyuruh putranya dan R.Angkawijaya untuk mengambil atau kalau perlu dicuri saja ujar jin.
Kemudian berangkatlah Bambang Subali Dewa Ganda Perkusa bersama R.Angkawaijaya menuju kerajaan Pelabuhan Majawangi Gedung Kartawisura. Hari sudah larut malam, maka mereka berdua mengendap-endap menuju kamar pengantin. Sebelum memasuki kamar pengantin , Subali Dewa terlebih dahulu memasang ajian yakni “Aji sirep bangunanda”. Ajian ini sangat ampuh jangankan bangsa manusia bangsa jin pun akan terkena ajian ini akan tertidur pulas. Dan jika seandainya yang kena ajian ini orangnya sakti maka biarpun ia tidak tertidur tapi ia tidak berdaya sedikitpun dalam menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Adapun nama raja dari kerajaan ini bernama Prabu Wiramtunu Ujamingtuya dan putrinya bernama Dewi Ganda Kasmaran serta suaminya bernama Bambang Jagau Melisi Kampiun Darma yang berasal dari kerajaan seberang laut yakni kerajaan Daksina Latu Kisaran putra dari raja yang bernama Prabu Kelana Citra Santang Bargawa.
Bambang Subali Dewa menyuruh R.Angkawaijaya untuk memasuki kamar pengantin dan mengambil bunga itu yang disimpan oleh pengantin putri di dalam kutang (BH)nya. Dengan perlahan-lahan R.Angkawijaya memasuki kamar pengantin tersebut dan dilihatnya kedua pengantin tersebut sedang berpelukan dalam keadaan tidur pulas. Sesuai perintah dari iparnya ia tidak perlu ragu untuk mengambil bunga itu. Mau tak mau R.Angkawijaya harus memisahkan mereka dahulu. Dengan sangat hati-hati dibalikkannya tubuh pengantin putri dan dijauhkannya dari tubuh sang suami. Namun sewaktu ia mau merogoh BH sang putri tiba-tiba putri itu membuka matanya, tapi ia tidak bereaksi ia tetap diam. Dan setelah R.Angkawijaya berhasil mengambil bunga tersebut ia langsung keluar menemui kakak iparnya dan merekapun langsung meninggalkan kerajaan tersebut.
Selang beberapa lama keduanya terbangun dan sang suami marah-marah kepada istrinya karena ia menuduh istrinya berselingkuh dengan laki-laki lain maka ia akan melaporkan kejadian ini kepada orang tuanya di seberang laut. Setelah sang suami pergi, dengan rasa jengkel dan kecewa sang istri (Dewi Danta Kasmaran) berniat untuk mencari orang yang sudah memperlakukan dirinya. Ia masih ingat bentuk dan rupa orang yang iseng tersebut karena ia masih sadar tapi ia tidak berdaya sama sekali. Kemudian berangkatlah ia seorang diri untuk mencari orang tersebut karena ia merasa dapat menyelesaikan masalahnya dan merasa mampu untuk menaklukkan negeri-negeri yang akan dtanyainya nanti, jika mereka tidak mau memberi informasi mengenai ciri-ciri orang yang dicarinya.
R.Angkawijaya sudah mendapat bunga tersebut dan langsung memohon diri kepada mertuanya untuk balik ke Pandawa. Oleh mertuanya ia diizinkan balik ke Pandawa dan diharuskan membawa istrinya. Kemudian berangkatlah R.Angkawijaya bersama istrinya................. Perjalanannya tidak kita ceritakan dan langsung saja ia dan istrinya sampai ke negara Pandawa.Ringkas cerita R.Arjuna sudah dapat disembuhkan. Berita ini sudah tersebar ke seluruh pelosok negeri sehingga masyarakat sangat senang dan di negeri ini mereka mengadakan keramaian besar-besaran.
Diceritakan Dewi Danta Kasmaran berkelana seluruh antero negeri dalam bahasa pewayangan Banjar seluruh kerajaan tanah Jawa. Karena ia sangat sakti maka jika siapapun bertemu dengannya jika sedang berdiri maka orang itu pasti tidur berdiri dan jika sedang duduk pasti ia tidur dalam keadaan duduk. Akhirnya ia sampai ke negara Pandawa, semua penduduk di negara Pandawa dalam keadaan tidur, kemudian ia memasuki seluruh kamar yang ada di negara Pandawa, ia memasuki kamar Prabu Darmakesuma dan dilihatnya penghuni kamar ini masih bangun. Setelah dilihatnya secara seksama maka menurutnya orang ini bukan yang mengerjai dirinya akhirnya sampailah ia ke kamar R.Angkawijaya yang sedang tidur pulas bersama istrinya. Ujar Dewi Danta Kasmaran : “ Oh, inilah orangnya”. Maka langsung R.Angkawijaya dipanggulnya dan dibawa terbang menuju negerinya yakni kerajaan Pelabuhan Majawangi Gadung Kartawisura. Setelah semua tersadar di kerajaan Pandawa maka ketahuanlah bahwa ada “Duratmaka Bapa Maling” masuk ke dakam istana dean yang hilang ternyata R.Angkawijaya, maka istri R.Angkawijaya sangat kecewa terhadap aparat kerajaan Pandawa yang tidak bisa melindungi negerinya dan iapun menumpahkan kekesalannya kepada mertuanya yakni R.Arjuna. Kemudian ia pergi balik ke hadapan orangtuanya di dalam goa Rinting Kapala Rangkap Sambilan. Lurah Semar ikut ribut atas kejadian ini maka ia meminta saran kepada Arjuna mengenai masalah ini. Ujar Arjuna lebih baik kita susul menantunya tersebut ke goa Rinting Kapala Rangkap Sambilan, maka berangkatlah mereka.
Pagat Kisah.
Di kerajaan Pelabuhan Majawangi Gedung Kartawisura, Dewi Danta Kasmaran membawa R.Angkawijaya ke dalam kamarnya. Ia berusaha merayu R.Angkawaijaya agar mau mengawini dirinya karena menurutnya dirinya tercemar akibat ulah dari R.Angkawijaya. Walau dengan segala bujuk rayu dan mengerahkan seluruh kemampuan ilmunya namun R.Angkawijaya tetap menolak. Akhirnya ayahndanya yakni Prabu Wiramtunu Ujamingtuya mengetahui keberadaan seorang laki-laki di dalam kamar anaknya. Ia bergegas bersama anak buahnya mendatangi kamar anaknya dan mendapatkan R.Angkawijaya berada di kamar anaknya. Akhirnya ditangkaplah R.Angkawijaya dan dihukum di tengah alun-alun, dijadikan bola disepak ke sana ke mari oleh para hulu balang istana......... Penderitaan R.Angkawijaya tidak usah kita ceritakan.
Bersambung
Kisah Wayang Banjar yg di tulis oleh
Dalang Akhmad Riadiy /Kai Karatun di blog
beliau
Silahkan disimak.... Asyik Sanak Ahva
ARJUNA GARING ( ARJUNA SAKIT )
S i b a (Jajar pertama) :
Kerajaan Pandawa.
Dikisahkan bahwa di kerajaan Pandawa, Arjuna dalam keadaan sakit. Dalam balairung istana sudah terkumpul seluruh anak kampung bumi putra seperti Bambang Angkawijaya putra Arjuna, para abdi kerajaan yakni Lurah Semar seperanakan (Bagong, Nalagareng dan Petruk atau Jambulita). Yang memimpin sidang adalah Prabu Yudhistira atau Prabu Darmakesuma dan tak ketinggalan istri Arjuna (Subadra dan Srikandi).
Dalam sidang tersebut dibahas tentang keadaan keamanan kerajaan dan yang pokok adalah tentang kesehatan dari Arjuna. Karena sudah beberapa bulan Arjuna menderita sakIt yang parah, dan sampai sekarang segala macam obat dan seluruh tabib di kerajaan Pandawa belum dapat menyembuhknnya. Prabu Darmakesuma akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa. Lantas ia menyuruh Lurah Semar untuk mengambil bilangan Patikala kedalam kedatonnya yakni Sanggar Pamucang.
Kemudian Lurah Semar bergegas untuk mengambil kitab bilangan Patikala tersebut dan menyerahkannnya kepada Prabu Darmakesuma. Setelah dibuka bilangan Patikala tersebut maka didalamnya tertulis bahwa Arjuna hanya bisa disembuhkn dengan air rendaman bunga “Purba Antakasuka Jangga Mulia”. Bunga itu warnanya empat dan baunya pun empat. Dan yang dapat mengambil hanyalah putra Arjuna sendiri yang bernama Bambang Angkawijaya.
Akhirnya dipanggilah Bambang Angkawijaya untuk menghadap pada Prabu Darmakesuma. Setelah bersembah sujud menghadap pamannya maka Angkawijaya berkata : “Mohon ampun pamanda ada maksud apa gerangan menjadi pamanda memanggil anaknda?” Darmakesuma menjawab : “Duh anaknda, kini sudah sampai waktunya kepada anaknda untuk menjalankan tugas negara dan bakti anaknda terhadap orang tua”. “Inggih, bakti yang bagaimana yang pamanda maksudkan?” sahut Angkawijaya.
Prabu Darmakesuma membeberkan hal-ihwal dari keadaan Arjuna yang semakin genting, dan ia menyuruh Angkawijaya untuk mencari bunga tersebut. Angkawaijaya menyahut : “Sandika pamanda, anaknda bersedia untuk menjalankan tugas tersebut”. Prabu Darmakesuma menambahkan lagi bahwa Angkawijaya berangkat sendirian saja dan tempatnyapun belum diketahui, jadi nanti harus bertanya kepada siapa saja yang ditemuinya dijalan. Setelah rampung semua pembicaraan maka Angkawijaya berangkat dengan diiringi doa oleh keluarga Pandawa serta ia dipinjami jimat Layang Kalamisada. . . . . . .
PAGAT KISAH.
Alkisah, diceritakan di sebuah kerajaan yang bernama Alas Keraton Cinta Negara, Rajanya bernama Prabu Barua Nata Maharaja Dewa Marangsi, patih raja bernama Bambang Rusian Dewa Dharma Ikatan dan Bupati Sura Kapriata Tarjang Kapaliun. Sang nata mempunyai anak perempuan yang cantik jelita sudah tersebar ke mana-mana bernama Dewi Paliusasi Bintang Sumakar Biduri Nilam. Sang raja sangat risau hatinya melihat putrinya yang sudah dewasa ibarat bunga yang sedang mekar siap untuk disunting orang, namun belum mendapat kecocokan dalam hati baginda. Akhirnya baginda berinisiatif untukmengumpulkan anak raja-raja. Lalu disebarkanlah undangan keseluruh pelosok negeri yang isinya barang siapa yang ingin kimpoi dengan seorang putri cantik maka silahkan datang ke negara Alas Keraton Cinta Negara.
Tidak berapa lama berselang maka berdatanganlah anak raja-raja yang terkenal dalam istilah pewayangan dengan anak raja-raja “selawi patih”. Ada yang datang dari Gombong Pasuruan, dari Langgamaya, dari Gajah Huya dan ada yang datang dari Bandang Kirapan. Kesemua anak raja-raja ini mendesak kepada raja agar ia diterima menjadi menantu raja. Akhirnya raja bingung dengan sendirinya. Terpaksa ia berunding dulu dengan para penasehat kerajaan. Setelah diambil kesimpulan yakni barang siapa dapat menangkap “balabar kawat” (jagoan dari kerajaan) dapat menangkap isuk-isuk, kamarian pambayun dan dapat menangkap kamarian isuk-isuk bisa pembayun yang artinya barang siapa yang dapat menangkap jagoan istana dapat menangkap waktu pagi-pagi maka sore hari langsung kimpoi dan barang siapa yang dapat menangkap sore hari maka pada pagi hari esoknya langsung kimpoi.
Maka masing-masing anak raja-raja turun ke gelanggang untuk adu jago mulai dari putra R. Salawidari kemudian Bambang Anggaran Dewa dan banyak pula yang lainnya mencoba peruntungannya namun selalu gagal. Kemudian sampailah giliran kepada Bambang Rikma Berangta seorang priyai dari Bandang Kirapan. Kali ini duel benar-benar seru , debu mengepul ke udara terdengar denting senjata beradu, saling banting saling tendang tiada henti-hentinya.Masing-masing saling mengeluarkan aji kesaktiannya namun belum kelihatan hasilnya dalam peribahasa pewayangan kalah belum tentu, menang belum nyata.
Baiklah kita beralih sebentar kepada R.Angkawijaya yang berjalan mencari bunga Purba Antakasuka Jangga Mulia setelah berjalan sekian lama bertanya ke sana-sini maka akhirnya sampailah ia ke kebun bunga milik putri raja yang bernama Dewi Paliu Sasi Bintang Sumakar Biduri Nilam. R.Angkawijaya sangat senang hatinya melhat begitu banyak bunga yang beraneka warna. Ia memilah pilih kalau-kalau ada bunga yang berwarna empat dan wanginya juga empat. Lama ia mencari, tiba-tiba datanglah sang putri memergoki Angkawijaya yang seakan-akan mau mencuri bunganya. Akhirnya sang putri bertanya siapa dan dari mana asal pemuda ini. Angkawijayapun menjawab dengan sopan seraya menceritakan maksudnya. Namun putri raja berpendapat bahwa Angkawijaya adalah seorang pencuri, oleh sebab itu ia harus ditahan dan dikurung. Angkawijaya menurut saja karena ia merasa bersalah juga dalam hal ini.
Akhirnya ia dibawa sang putri ke “tahanannya” yakni kamar tidur sang putri. Kejadian dan lakon ini tidak usah kita ceritakan karena kita cukup faham apabila bini-bini berduaan dalam kamar dengan laki-laki pasti terjadihal-hal yang tidak dikehendaki. Karena keduanya sedang asyik-ma’syuk mereka tidak mengetahui ada sepasang mata yang mengawasi gerak-gerik mereka. Dia adalah emban pengasuh sang putri yang sudah diberi kepercayaan oleh baginda raja jika terjadi apa-apa pada putrinya ia harus lapor kepada raja. Embanpun melaporkan kepada raja atas kejadian ini dan kejadian ini didengar oleh seluruh anak raja-raja sehingga mereka mendesak raja untuk membereskan masalah ini. Rajapun akhirnya mengeluarkan perintah menangkap pencuri yang ada di kedaton sang putri, siapa yang berhasil menawan akan langsung dikimpoikan dengan sang putri.
Perangpun tidak bisa dihindarkan, Angkawijaya yang sudah merasa yakin ia benar karena ia disuruh oleh pamannya untuk mencari bunga dan tersesat di kebun bunga ini maka ia mau-tidak mau harus membela diri. Namun tidak ada satupun dari anak raja-raja yang dapat memenangkan perang ini, mereka dihajar babak belur oleh R.Angkawijaya. Akhirnya seluruh anak raja-raja mengundurkan diri. Karena sudah tidak ada lagi yang berperang maka raja menetapkan R.Angkawijayalah yang berhak untuk mengawini anaknya. ..................................... Lama sudah Angkawijaya menetap di kerajaan ini sudah hampir enam bulan ia di kerajaan ini. Maka ia teringat dengan tugasnya dan ia mengutarakan hal ini kepada istrinya dan juga mertuanya. Sang istri yang sudah hamil enam bulan itu dengan berat hati melepas kepergian suaminya. Maka setelah berpamitan dengan semuanya berangkatlah Angkawijaya meninggalkan kerajaan ini. Perjalanan R. Angkawijaya tidak kita ceritakan.
Dikisahkan para penghuni sebuah goa yang bernama “Goa Rinting Kepala Rangkap Sembilan”.Disini tinggal seorang jin yang bernama Jin Gundrung Gundali Raja bersama dua orang anaknya yang berwujud manusia sebanyak dua orang, satu laki-laki dan satu orang perempuan. Yang laki-laki bernama Bambang Subali Dewa Ganda Parkusa dan adiknya yang perempuan bernama Dewi Maslara Ganda. Dipendekkan kisah, sang adik jatuh cinta karena ia bermimpi bertemu seorang pria yang tampan dan elok yang menyebut namanya R.Angkawijaya. Ia minta tolong kepada ayahnya dan kepada kakaknya agar dapat mencarikan seseorang yang bernama R.Angkawijaya. Karena Jin ini adalah sangat sakti maka ia mengetahui keberadaan Angkawijaya yang pada saat ini sedang berjalan di tengah padang yang luas. Kemudian ia menyuruh anaknya Bambang Subali Dewa Ganda Parkusa untuk mengambilnya.
Maka berangkatlah Subali Dewa Ganda Parkusa ke tengah padang yang dimaksud dan langsung R.Angkawijaya akan dibawanya terbang namun jangankan dapat untuk membawa terbang bergerak sedikitpun R.Angkawijaya tidak bisa digerakkan. Padahal kata Subali Dewa jangankan seorang manusia gunungpun sudah bisa diangkatnya. Karena sudah merasa habis akal maka ia kembali untuk menghadap ayahnya. Setelah sampai kepada ayahnya dan melaporkan hasilnya, maka ayahnya berbisik kepadanya. Mendengar hal itu tanpa banyak bicara lagi ia langsung terbang lagi ke tengah padang untuk mengambil Angkawijaya.
Setelah sampai dii tengah padang Subali Dewa tidak langsung menyambar R.Angkawijaya seperti kejadian yang telah lalu tapi ia menjalankan sesuai perintah ayahnya yakni R.Angkawijaya harus disembah dahulu, maka disembahnyalah Angkawijaya dan terus dipanggulnya dibawa terbang ke angkasa. Kemudian dipersembahkannya langsung kepada ayahndanya dan adiknya Dewi Maslara Ganda. Sewaktu sampai kehadapan Dewi Maslara Ganda dan ditanyakan kepadanya apakah benar ini orangnya yang ada dalam mimpinya. Sang Dewi pun menjawab : “Ya, ialah orangnya.” Kemudian orangtua dari Dewi Maslara Ganda menanyakan kepada R.Angkawijaya apakah ia mau mengawini anaknya ini. R.Angkawijaya berfikir sejenak dalam hati, kalau aku menolak pasti aku akan mati karena dihadapannya ini adalah seorang jin yang kelihatannya sangat ganas dan setelah melihat Dewi Maslara Ganda ternyata adalah seorang putri yang cantik jelita dan R.Angkawijaya berfikiran pula siapa tahu nanti mertuanya mengetahui di mana bunga yang ia carii-cari. Maka R.Angkawijaya menjawab: “Baiklah tuanku hamba bersedia mengawini putri paduka”. Sang Jin sangat gembira hatinya dan diadakanlah perkimpoian di dalam goa itu walaupun sangat sederhana.
Setelah kimpoi beberapa lamanya R.Angkawijaya selalu duduk termenung karena ia selalu memikirkan keadaan ayahndanya yang sedang sakit dan sampai sekarang ia belum menemukan obat tersebut. Melihat keadaan suaminya yang selalu murung maka istrinya yang bernama Dewi Maslara Ganda bertanya : “Wahai kakandaku, kenapa kakanda selalu bermenung. Apakah kakanda merasa tidak merasa puas atas pelayanan adinda selama ini?”. Maka dengan lemah lembut Angkawijaya menjawab : “ Duh adindaku yang sangat kusayang, mana ada kanda berfikiran seperti itu, hanya saja”, “Hanya saja apa kakang “ desak sang istri. Setelah diam sejenak maka R.Angawijaya menjawab : “Kakanda ini sebenarnya dalam tugas untuk mencari obat buat ayahnda yang sedang sakit, dan sampai sekarang belum ketemu. Entah bagaimana keadaan beliau apakah baik-baik saja sampai sekarang ini.”
Mendengar hal yang demikian Dewi Maslara Ganda langsung menghadap ayahnya dan menyampaikan keluhan suaminya itu. Sang Jin adalah seorang yang sakti dan berpengetahuan yang luas maka ia menjawab : “ He...he.. itu bunga ada di kerajaan Pelabuhan Majawangi Gedung Kartawisura. Bunga itu adalah sebagai mas kimpoi dari anak raja yang sedang kimpoi di kerajaan itu.” Kemudian Jin itu menyuruh putranya dan R.Angkawijaya untuk mengambil atau kalau perlu dicuri saja ujar jin.
Kemudian berangkatlah Bambang Subali Dewa Ganda Perkusa bersama R.Angkawaijaya menuju kerajaan Pelabuhan Majawangi Gedung Kartawisura. Hari sudah larut malam, maka mereka berdua mengendap-endap menuju kamar pengantin. Sebelum memasuki kamar pengantin , Subali Dewa terlebih dahulu memasang ajian yakni “Aji sirep bangunanda”. Ajian ini sangat ampuh jangankan bangsa manusia bangsa jin pun akan terkena ajian ini akan tertidur pulas. Dan jika seandainya yang kena ajian ini orangnya sakti maka biarpun ia tidak tertidur tapi ia tidak berdaya sedikitpun dalam menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Adapun nama raja dari kerajaan ini bernama Prabu Wiramtunu Ujamingtuya dan putrinya bernama Dewi Ganda Kasmaran serta suaminya bernama Bambang Jagau Melisi Kampiun Darma yang berasal dari kerajaan seberang laut yakni kerajaan Daksina Latu Kisaran putra dari raja yang bernama Prabu Kelana Citra Santang Bargawa.
Bambang Subali Dewa menyuruh R.Angkawaijaya untuk memasuki kamar pengantin dan mengambil bunga itu yang disimpan oleh pengantin putri di dalam kutang (BH)nya. Dengan perlahan-lahan R.Angkawijaya memasuki kamar pengantin tersebut dan dilihatnya kedua pengantin tersebut sedang berpelukan dalam keadaan tidur pulas. Sesuai perintah dari iparnya ia tidak perlu ragu untuk mengambil bunga itu. Mau tak mau R.Angkawijaya harus memisahkan mereka dahulu. Dengan sangat hati-hati dibalikkannya tubuh pengantin putri dan dijauhkannya dari tubuh sang suami. Namun sewaktu ia mau merogoh BH sang putri tiba-tiba putri itu membuka matanya, tapi ia tidak bereaksi ia tetap diam. Dan setelah R.Angkawijaya berhasil mengambil bunga tersebut ia langsung keluar menemui kakak iparnya dan merekapun langsung meninggalkan kerajaan tersebut.
Selang beberapa lama keduanya terbangun dan sang suami marah-marah kepada istrinya karena ia menuduh istrinya berselingkuh dengan laki-laki lain maka ia akan melaporkan kejadian ini kepada orang tuanya di seberang laut. Setelah sang suami pergi, dengan rasa jengkel dan kecewa sang istri (Dewi Danta Kasmaran) berniat untuk mencari orang yang sudah memperlakukan dirinya. Ia masih ingat bentuk dan rupa orang yang iseng tersebut karena ia masih sadar tapi ia tidak berdaya sama sekali. Kemudian berangkatlah ia seorang diri untuk mencari orang tersebut karena ia merasa dapat menyelesaikan masalahnya dan merasa mampu untuk menaklukkan negeri-negeri yang akan dtanyainya nanti, jika mereka tidak mau memberi informasi mengenai ciri-ciri orang yang dicarinya.
R.Angkawijaya sudah mendapat bunga tersebut dan langsung memohon diri kepada mertuanya untuk balik ke Pandawa. Oleh mertuanya ia diizinkan balik ke Pandawa dan diharuskan membawa istrinya. Kemudian berangkatlah R.Angkawijaya bersama istrinya................. Perjalanannya tidak kita ceritakan dan langsung saja ia dan istrinya sampai ke negara Pandawa.Ringkas cerita R.Arjuna sudah dapat disembuhkan. Berita ini sudah tersebar ke seluruh pelosok negeri sehingga masyarakat sangat senang dan di negeri ini mereka mengadakan keramaian besar-besaran.
Diceritakan Dewi Danta Kasmaran berkelana seluruh antero negeri dalam bahasa pewayangan Banjar seluruh kerajaan tanah Jawa. Karena ia sangat sakti maka jika siapapun bertemu dengannya jika sedang berdiri maka orang itu pasti tidur berdiri dan jika sedang duduk pasti ia tidur dalam keadaan duduk. Akhirnya ia sampai ke negara Pandawa, semua penduduk di negara Pandawa dalam keadaan tidur, kemudian ia memasuki seluruh kamar yang ada di negara Pandawa, ia memasuki kamar Prabu Darmakesuma dan dilihatnya penghuni kamar ini masih bangun. Setelah dilihatnya secara seksama maka menurutnya orang ini bukan yang mengerjai dirinya akhirnya sampailah ia ke kamar R.Angkawijaya yang sedang tidur pulas bersama istrinya. Ujar Dewi Danta Kasmaran : “ Oh, inilah orangnya”. Maka langsung R.Angkawijaya dipanggulnya dan dibawa terbang menuju negerinya yakni kerajaan Pelabuhan Majawangi Gadung Kartawisura. Setelah semua tersadar di kerajaan Pandawa maka ketahuanlah bahwa ada “Duratmaka Bapa Maling” masuk ke dakam istana dean yang hilang ternyata R.Angkawijaya, maka istri R.Angkawijaya sangat kecewa terhadap aparat kerajaan Pandawa yang tidak bisa melindungi negerinya dan iapun menumpahkan kekesalannya kepada mertuanya yakni R.Arjuna. Kemudian ia pergi balik ke hadapan orangtuanya di dalam goa Rinting Kapala Rangkap Sambilan. Lurah Semar ikut ribut atas kejadian ini maka ia meminta saran kepada Arjuna mengenai masalah ini. Ujar Arjuna lebih baik kita susul menantunya tersebut ke goa Rinting Kapala Rangkap Sambilan, maka berangkatlah mereka.
Pagat Kisah.
Di kerajaan Pelabuhan Majawangi Gedung Kartawisura, Dewi Danta Kasmaran membawa R.Angkawijaya ke dalam kamarnya. Ia berusaha merayu R.Angkawaijaya agar mau mengawini dirinya karena menurutnya dirinya tercemar akibat ulah dari R.Angkawijaya. Walau dengan segala bujuk rayu dan mengerahkan seluruh kemampuan ilmunya namun R.Angkawijaya tetap menolak. Akhirnya ayahndanya yakni Prabu Wiramtunu Ujamingtuya mengetahui keberadaan seorang laki-laki di dalam kamar anaknya. Ia bergegas bersama anak buahnya mendatangi kamar anaknya dan mendapatkan R.Angkawijaya berada di kamar anaknya. Akhirnya ditangkaplah R.Angkawijaya dan dihukum di tengah alun-alun, dijadikan bola disepak ke sana ke mari oleh para hulu balang istana......... Penderitaan R.Angkawijaya tidak usah kita ceritakan.
Bersambung
0









