- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
198.8K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•3Anggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#442
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Efek dari pertengkaran yang terjadi di keluarga gue beberapa waktu belakangan ini ternyata cukup memiliki efek samping negative buat gue pada saat itu, seenggaknya itu yang gue harus akui.
Besok senin, mungkin itu adalah beberapa hal yang paling ga disukain sama sebagian besar yang ada di Indonesia. Mulai dari anak sekolah sampe pekerja kantoran. Gimana enggak, itu artinya kita semua harus kembali lagi ke rutinitas sehari-hari setelah sebelumnya menjalani liburan sabtu minggu. Yaaah namanya juga manusia, mau dikasih liburan berbulan-bulan pun kalo selalu ngerasa kurang yaaa pasti selalu ga pernah ngerasa cukup.
Tapi hari senin kali ini terasa beda rasanya dari senin-senin sebelumnya, bahkan dari senin minggu lalu. Kalo biasanya gue cuman males karena harus sekolah, tapi kali ini buat keluar kamar aja rasanya melasin. Belom ada 24 jam setelah gue ngeliat nyokap nangis kemaren setelah rebut sama bokap, dan belum 24 jam setelah gue ikut campur masalah keluarga sampe bokap ngebentak gue.
Bukannya gue benci sama bokap nyokap gue karena berantem, bukan itu. Kesel dikit sih wkwkwk. Tapi entah kenapa gue ngerasa benci banget sama keluarga besar yang ngebuat bokap dan nyokap gue jadi berantem. Bukan karena masalah kemaren doang, ada beberapa kejadian yang ngebuat gue ga suka dengan keluarga besar bokap. Kebanyakan sih karena nyinyiran dari adek-adeknya bokap yang cewek ke nyokap gue. Dan berdasarkan cerita dari nyokap, hal itu terjadi bukan ke nyokap gue doang, tapi dialami juga ke istri abang atau adeknya bokap, bahkan sampe mantu-mantu abang sepupu gue. Ga luput tuh dari nyinyiran tante-tante gajelas.
Saat itu, gue berpikir sesuatu yang bodoh. Sangat sangat bodoh, dan gue masih belom tau kalau gue nantinya akan sangat menyesali perbuatan gue. Yaiyalah, kan belom kejadian panjul, wkwkwk.
Bukan kepikiran buat minggat dari rumah, bukan. Gue masih bisa mikir, toh gue juga ga punya uang buat kabur, dan ujung-ujungnya malah pasti balik lagi ke rumah, hehehe.
Saat itu gue berpikiran “kayanya bakalan keren kalau gue nanggung beban ini sendirian, dan berusaha untuk ga peduli sama siapapun.” Kurang lebihnya mungkin itu yang gue pikirin pada saat itu. Gue bahkan sama sekali ga kepikiran buat ga cerita apa-apa ke putri yang notabennya adalah cewek yang deket sama gue. Atau lebih tepatnya gue sama sekali ga mau cerita apa-apa ke putri. Bukannya gue ga percaya putri, tapi saat itu gue berpikir kalau itu adalah sesuatu yang keren.
Satu-satunya orang yang gue pasti akan certain tentang masalah gue saat ini adalah rico dan bobby. Eh itu dua yak? Wkwkwk. Pokoknya kedua orang itu yang gue rasa bisa cerita tentang hal ini. Yaaa kaya ala-ala film catatan akhir sekolah atau realita cinta rock and roll. Entah kenapa gue suka banget sama kedua film itu. Intinya gue percaya sama kedua sahabat gue ini.
Setelah ngulet-ngulet diatas kasur, akhirnya gue bangun dari tempat tidur. Jam di kamar gue menunjukkan pukul setengah enam lewat. Langit masih gelap diluar. Gue memutuskan untuk segera turun kebawah meskipun rasanya berat banget. Mau gimana lagi, gue harus mandi. Meskipun gue mandinya ga terlalu lama, tapi gue punya permasalahan setiap pagi. Yaitu susah boker. Mau gamau gue nunggu ngeden di wc.
Begitu gue turun tangga, ada nyokap lagi beres-beres rumah, sementara itu bokap lagi siap-siap berangkat kerja. Seketika hawa di sekitar gue jadi ga enak. Gue langsung menuju bagian belakang rumah buat ngambil handuk, terus masuk kekamar mandi.
Selama gue ngeden diatas wc, gue cuman bisa ngedenger sayup-sayup suara tivi di luar, kemudian ga lama bokap gue pamit. Sempet bilang juga ke gue, tapi cuman gue balas “hhmmm…”
Hampir 20 menit gue berada di dalam kamar mandi, dan sebagian besar waktunya gue lakukan buat boker. Setelah itu gue balik ke kamar buat siap-siap. Gue pake seragam putih-putih gue, terus pake dasi abu-abu seadanya, yang sampulnya cuman ngegantung doang dan nyisain lobang di bagian leher. Maklum, pake dasi aja buat gue saat itu keliatan culun banget, apa lagi pake dasi sekolah yg rapih, wkwkwk.
Sebelum gue berangkat, gue keingtan sesuatu. Gue ambil hp, terus gue bbm putri. “Put, hari ini gue ga bisa jemput dulu yaa…” terus langsung beranjak berangkat sekolah tanpa mempedulikan ada pesan masuk apa engga. Gue yang masih bersikap “sok dewasa” sedang dalam mode tidak ingin diganggu siapapun.
Karena gue berangkat ga bareng sama putri hari ini, otomatis gue nyampe kesekolah lebih pagi. Gue duduk di kursi gue, terus lanjutin tidur. Yaaa ga tidur pules banget sih.
Gue bangun ketika ada rico yang baru nyampe, padahal biasanya kita selalu nyampe dalam waktu yang ga terlalu beda jauh.
“Nyampe jam berapa lo?” Tanya rico yang ngeliat gue bangun tidur.
“Dah lama.” Jawab gue singkat.
“tumben.”
Setelah itu gue ga bales perkataan rico.
Bel masuk berbunyi, itu artinya upacara bendera. Kan senin. Gue ambil tas gue yang sebelumnya dijadiin bantal, kemudian ngerogoh-rogoh ke dalem buat nyari topi. baiknya pas gue cari topi gue ga ada. Kayanya ketinggalan dirumah. Gue sampe mikir “bodoh banget sampe topi aja pake gue keluarin.” Sepertinya tempo hari gue ngerasa tas gue terlalu berat, jadi topinya gue keluarin. Padahal tas gue isinya cuman buku catetan. Sama mungkin buku paket yang ringan. Semua buku paket yang berat gue tinggal di loker.
Kalo hari senin lain mungkin gue udah ketar ketir buat nyari topi, tapi hari ini males banget. Mau minjem, males. Mau beli, masa iya harus ngeluarin dua puluh ribu buat topi baru. Padahal gue udah demen banget sama topi gue yang ketinggalan. Udah lemes sama ada coret-coretannya. Biasalah, gue kurang suka barang baru yang harus gue gunain sehari-hari. Selain masih kaku, semakin gembel aksesoris sekolah yang kita punya, buat gue malah keliatan lebih keren. Kaya sepatu convers gue yang udah mulai buluk. Kalo kaya baju dan celana, yaaa yang penting dicuci lah sama wangi. Ga perlu bagus-bagus banget..
Karena kondisi gue yang lagi kaya gini (lebay), akhirnya gue pasrahin aja. Toh cuman suruh maju kedepan.
Akhirnya seluruh siswa disuruh naik ke lapangan atas buat upacara. gue lupa, karena lapangan sekolah gue kecil, jadi ga mungkin 3 angkatan yang upacara. Yg jelas utas pasti upacara, dan hari itu lagi kebagian angkatan gue yang upacara. Seinget gue sih gitu. Dan seperti dugaan gue sebelumnya, yang ga bawa topi disuruh maju kedepan. Gue dengan santai maju ninggalin barisan buat berdiri gajauh dari sebelah mimbar.
Tenang aja gan, kalo masalah kaya begini kita pasti ga mungkin sendiri. Paling engga ada dua sampe tiga orang yang lupa. Yaaa namanya juga lupa, pasti gainget, wkwkwk. Bener aja, gue jalan kedepan dengan beberapa siswa dari kelas lain.
Waktu gue di depan, gue sempet ngeliat putri yang ada di barisan ketiga atau keempat. Pokoknya ga belakang2 banget deh. Putri ngelitain gue dengan tatapan heran, iba atau apapun itu lah namanya. Gue buru-buru buang muka dari putri.
Gue beralih ke kelas gue. Gue ngeliar rico lagi mlipir sedikit kesamping, terus moto gue dengan hpnya. Si baik emang, dia malah ketawa-ketawa sama bobby di barisan belakang. Ngeliat tingkah laku temen gue itu, gue Cuma bisa nahan ketasa sambil senyum kecut. Setelah upacara selesai, anak-anak yang ga bawa aksesoris lengkap disuruh lari keliling lapangan selama beberapa kali setelah dikasih wejangan yang gue yakin ga ada yg ngedengerin, wkwkwk.
Di sekolah hari itu, gue jadi lebih pendiem dari biasanya. Atau lebih tepatnya gue membatasi interaksi dengan murid-murid lain. Lebih bersikap sewajarnya sih biar ga ditanyain macem-macem. Biasanya kan gue sering ngebacot tuh sama rico bobby.
Waktu istirahat, gue sempetin diri buru-buru ke kantin, biar ga rame. Tapi malah ketemu putri yang udah keluar duluan sama temen kelasannya. Mungkin guruna ngajar selesai lebih cepet. Waktu gue papasan sama putri, gue lebih memilih natap kedepan daripada melirik ke putri. Putri juga diem aja waktu papasan. Mungkin karena gue masang tampang datar dan kurang bersahabat buat diajak ngobrol.
Balik kekelas, gue langsung makan jajanan gue. Buru-buru. Niatnya biar ga ditanyain sama orang depan bangku gue, dan jug ague pengen join ke anak-anak cowok di depan kelas. Padahal kan gue bisa aja makan di depan kelas yak. Tapi hari itu gue lagi pengen makan pake alas.
Tapi seiye-iyenya gue bersikap biasa aja, masih ada yang nanyain gue kenapa. Dan orang itu adalah cewek yang duduk di depan gue.
“Lo kenapa tre?” Tanya cindy setelah berbalik arah menatap gue.
“Gue? Gapapa kok, biasa aja.” Jawab gue berusaha menutupi kegagapan.
“Seriusan?” tanyanya lagi.
“Emang kenapa cin?” gue menyuap makanan dari sterofom.
“Gapapa, lo keliatan lebih diem aja.”
Gue berpikir sejenak, jawaban apa yang harus gue kasih. “Lagi ga enak badan doang cin, kemaleman tidurnya.” Jawab gue sekenanya. Cindy cuman ngangguk-ngangguk, kemudian madep depan lagi.
Selesai makan, gue join sama anak kelasan yang lain nongkrong di tisat. Tisat itu sebutan anak kelasan gue nantinya ke tempat nongkrong depan kelas ini. Singkatan dari tikungan ipa satu.
Waktu lagi nongkrong, beberapa anak cowok kelasannya putri lewat di depan kelasan gue. Gue sendriri sih ga terlalu kenal mereka. Kayanya anak kelasan gue juga ga terlalu kenal karena ga sekelas sebelumnya. Ada satu orang yang ngeliatin gue secara serius, ngeliatinnya kaya ga suka gitu. Siapa lagi kalo bukan andra, anak cowok kelasannya putri yang kayanya masih ngarep buat deketin putri. Gue yang diliatin kaya gitu, yaaa biasa aja, emang harus gimana? Toh dia punya mata buat ngeliat, wkwkwk.
Tapi ternyata salah satu anak kelasan gue ada yang nyadar gue diliatin. Si samudra. Dia ini bigos juga (biang gosip) sama kaya iman. Belum pernah gue certain sih di part sebelumnya kalo mereka berdua bigos. Karena mereka kenalannya banyak di angkatan jadi punya banyak gosip.
“Lo ada masalah sama si andra tre?” Tanya si samudra. Biarpun ga kenal, bukan berarti ga tau namanya kan.
“Hah? Kaga ada.” Kata gue.
“kok dia ngeliatin lo gitu.”
“Masih suka kali sama putri.” Sahut rico asal jeplak.
“Lah, seriusan lo? Lo gapapa tre dia sekelas sama putri?”
“emang gue bisa ngatur kelas?” jawab gue enteng. Dan gosip yang dibahas kali itu adalah cerita andra yang coba deketin putri waktu jadi utas selama istirahat pertama. Bahkan lanjut ke istirahat kedua -_-
Pulang sekolah, gue udah siap buat langsung cabut kerumah bobby bareng rico. Masih kita bertiga doang, belom sama yang lain. Waktu mau ngelewatin kelas ipa 4, ada putri disana. Gue langsung samperin buat ngasih tau kalo gue ga bisa balik bareng dia. Masih dalam mode sok dewasa gue. Wkwkwk.
“Put, kayanya gue ga bisa nganterin lo balik deh.” Kata gue.
Putri yang denger omongan gue langsung kaget, “loh, kenapa tre?”
“gue sama rico sama bobby mau cabut dulu nih.”
“gue tungguin aja gimana. Nanti gue nunggu di rumah temen.” Jawab putri. Emang kadang-kadang putri suka ga ikut kalo kita bertiga doang. Meskipun udah satu tahun kenal.
“gue sampe malem put, gaenak nanti kemaleman.”
“yaudah deh.” Kata putri kecewa.
“sorry yaa put.”
Gue langsung cabut bareng rico bobby. Waktu agak jauhan, gue sempet nengok kebelakang, keliatan banget putri kecewa. Gatau juga sih. Perasaan doang mungkin. Abis itu ada andra yang nyemperin putri, kayanya sih ngajakin balik bareng setelah sempet nguping tadi. Tapi gue yang sedang dalam mode lagi pengen “menyendiri” malah bersikap bodo amat. “ga bakalan bisa juga andra dapetin putri.” Piker gue sombong saat itu.
Efek dari pertengkaran yang terjadi di keluarga gue beberapa waktu belakangan ini ternyata cukup memiliki efek samping negative buat gue pada saat itu, seenggaknya itu yang gue harus akui.
Besok senin, mungkin itu adalah beberapa hal yang paling ga disukain sama sebagian besar yang ada di Indonesia. Mulai dari anak sekolah sampe pekerja kantoran. Gimana enggak, itu artinya kita semua harus kembali lagi ke rutinitas sehari-hari setelah sebelumnya menjalani liburan sabtu minggu. Yaaah namanya juga manusia, mau dikasih liburan berbulan-bulan pun kalo selalu ngerasa kurang yaaa pasti selalu ga pernah ngerasa cukup.
Tapi hari senin kali ini terasa beda rasanya dari senin-senin sebelumnya, bahkan dari senin minggu lalu. Kalo biasanya gue cuman males karena harus sekolah, tapi kali ini buat keluar kamar aja rasanya melasin. Belom ada 24 jam setelah gue ngeliat nyokap nangis kemaren setelah rebut sama bokap, dan belum 24 jam setelah gue ikut campur masalah keluarga sampe bokap ngebentak gue.
Bukannya gue benci sama bokap nyokap gue karena berantem, bukan itu. Kesel dikit sih wkwkwk. Tapi entah kenapa gue ngerasa benci banget sama keluarga besar yang ngebuat bokap dan nyokap gue jadi berantem. Bukan karena masalah kemaren doang, ada beberapa kejadian yang ngebuat gue ga suka dengan keluarga besar bokap. Kebanyakan sih karena nyinyiran dari adek-adeknya bokap yang cewek ke nyokap gue. Dan berdasarkan cerita dari nyokap, hal itu terjadi bukan ke nyokap gue doang, tapi dialami juga ke istri abang atau adeknya bokap, bahkan sampe mantu-mantu abang sepupu gue. Ga luput tuh dari nyinyiran tante-tante gajelas.
Saat itu, gue berpikir sesuatu yang bodoh. Sangat sangat bodoh, dan gue masih belom tau kalau gue nantinya akan sangat menyesali perbuatan gue. Yaiyalah, kan belom kejadian panjul, wkwkwk.
Bukan kepikiran buat minggat dari rumah, bukan. Gue masih bisa mikir, toh gue juga ga punya uang buat kabur, dan ujung-ujungnya malah pasti balik lagi ke rumah, hehehe.
Saat itu gue berpikiran “kayanya bakalan keren kalau gue nanggung beban ini sendirian, dan berusaha untuk ga peduli sama siapapun.” Kurang lebihnya mungkin itu yang gue pikirin pada saat itu. Gue bahkan sama sekali ga kepikiran buat ga cerita apa-apa ke putri yang notabennya adalah cewek yang deket sama gue. Atau lebih tepatnya gue sama sekali ga mau cerita apa-apa ke putri. Bukannya gue ga percaya putri, tapi saat itu gue berpikir kalau itu adalah sesuatu yang keren.
Satu-satunya orang yang gue pasti akan certain tentang masalah gue saat ini adalah rico dan bobby. Eh itu dua yak? Wkwkwk. Pokoknya kedua orang itu yang gue rasa bisa cerita tentang hal ini. Yaaa kaya ala-ala film catatan akhir sekolah atau realita cinta rock and roll. Entah kenapa gue suka banget sama kedua film itu. Intinya gue percaya sama kedua sahabat gue ini.
Setelah ngulet-ngulet diatas kasur, akhirnya gue bangun dari tempat tidur. Jam di kamar gue menunjukkan pukul setengah enam lewat. Langit masih gelap diluar. Gue memutuskan untuk segera turun kebawah meskipun rasanya berat banget. Mau gimana lagi, gue harus mandi. Meskipun gue mandinya ga terlalu lama, tapi gue punya permasalahan setiap pagi. Yaitu susah boker. Mau gamau gue nunggu ngeden di wc.
Begitu gue turun tangga, ada nyokap lagi beres-beres rumah, sementara itu bokap lagi siap-siap berangkat kerja. Seketika hawa di sekitar gue jadi ga enak. Gue langsung menuju bagian belakang rumah buat ngambil handuk, terus masuk kekamar mandi.
Selama gue ngeden diatas wc, gue cuman bisa ngedenger sayup-sayup suara tivi di luar, kemudian ga lama bokap gue pamit. Sempet bilang juga ke gue, tapi cuman gue balas “hhmmm…”
Hampir 20 menit gue berada di dalam kamar mandi, dan sebagian besar waktunya gue lakukan buat boker. Setelah itu gue balik ke kamar buat siap-siap. Gue pake seragam putih-putih gue, terus pake dasi abu-abu seadanya, yang sampulnya cuman ngegantung doang dan nyisain lobang di bagian leher. Maklum, pake dasi aja buat gue saat itu keliatan culun banget, apa lagi pake dasi sekolah yg rapih, wkwkwk.
Sebelum gue berangkat, gue keingtan sesuatu. Gue ambil hp, terus gue bbm putri. “Put, hari ini gue ga bisa jemput dulu yaa…” terus langsung beranjak berangkat sekolah tanpa mempedulikan ada pesan masuk apa engga. Gue yang masih bersikap “sok dewasa” sedang dalam mode tidak ingin diganggu siapapun.
Karena gue berangkat ga bareng sama putri hari ini, otomatis gue nyampe kesekolah lebih pagi. Gue duduk di kursi gue, terus lanjutin tidur. Yaaa ga tidur pules banget sih.
Gue bangun ketika ada rico yang baru nyampe, padahal biasanya kita selalu nyampe dalam waktu yang ga terlalu beda jauh.
“Nyampe jam berapa lo?” Tanya rico yang ngeliat gue bangun tidur.
“Dah lama.” Jawab gue singkat.
“tumben.”
Setelah itu gue ga bales perkataan rico.
Bel masuk berbunyi, itu artinya upacara bendera. Kan senin. Gue ambil tas gue yang sebelumnya dijadiin bantal, kemudian ngerogoh-rogoh ke dalem buat nyari topi. baiknya pas gue cari topi gue ga ada. Kayanya ketinggalan dirumah. Gue sampe mikir “bodoh banget sampe topi aja pake gue keluarin.” Sepertinya tempo hari gue ngerasa tas gue terlalu berat, jadi topinya gue keluarin. Padahal tas gue isinya cuman buku catetan. Sama mungkin buku paket yang ringan. Semua buku paket yang berat gue tinggal di loker.
Kalo hari senin lain mungkin gue udah ketar ketir buat nyari topi, tapi hari ini males banget. Mau minjem, males. Mau beli, masa iya harus ngeluarin dua puluh ribu buat topi baru. Padahal gue udah demen banget sama topi gue yang ketinggalan. Udah lemes sama ada coret-coretannya. Biasalah, gue kurang suka barang baru yang harus gue gunain sehari-hari. Selain masih kaku, semakin gembel aksesoris sekolah yang kita punya, buat gue malah keliatan lebih keren. Kaya sepatu convers gue yang udah mulai buluk. Kalo kaya baju dan celana, yaaa yang penting dicuci lah sama wangi. Ga perlu bagus-bagus banget..
Karena kondisi gue yang lagi kaya gini (lebay), akhirnya gue pasrahin aja. Toh cuman suruh maju kedepan.
Akhirnya seluruh siswa disuruh naik ke lapangan atas buat upacara. gue lupa, karena lapangan sekolah gue kecil, jadi ga mungkin 3 angkatan yang upacara. Yg jelas utas pasti upacara, dan hari itu lagi kebagian angkatan gue yang upacara. Seinget gue sih gitu. Dan seperti dugaan gue sebelumnya, yang ga bawa topi disuruh maju kedepan. Gue dengan santai maju ninggalin barisan buat berdiri gajauh dari sebelah mimbar.
Tenang aja gan, kalo masalah kaya begini kita pasti ga mungkin sendiri. Paling engga ada dua sampe tiga orang yang lupa. Yaaa namanya juga lupa, pasti gainget, wkwkwk. Bener aja, gue jalan kedepan dengan beberapa siswa dari kelas lain.
Waktu gue di depan, gue sempet ngeliat putri yang ada di barisan ketiga atau keempat. Pokoknya ga belakang2 banget deh. Putri ngelitain gue dengan tatapan heran, iba atau apapun itu lah namanya. Gue buru-buru buang muka dari putri.
Gue beralih ke kelas gue. Gue ngeliar rico lagi mlipir sedikit kesamping, terus moto gue dengan hpnya. Si baik emang, dia malah ketawa-ketawa sama bobby di barisan belakang. Ngeliat tingkah laku temen gue itu, gue Cuma bisa nahan ketasa sambil senyum kecut. Setelah upacara selesai, anak-anak yang ga bawa aksesoris lengkap disuruh lari keliling lapangan selama beberapa kali setelah dikasih wejangan yang gue yakin ga ada yg ngedengerin, wkwkwk.
Di sekolah hari itu, gue jadi lebih pendiem dari biasanya. Atau lebih tepatnya gue membatasi interaksi dengan murid-murid lain. Lebih bersikap sewajarnya sih biar ga ditanyain macem-macem. Biasanya kan gue sering ngebacot tuh sama rico bobby.
Waktu istirahat, gue sempetin diri buru-buru ke kantin, biar ga rame. Tapi malah ketemu putri yang udah keluar duluan sama temen kelasannya. Mungkin guruna ngajar selesai lebih cepet. Waktu gue papasan sama putri, gue lebih memilih natap kedepan daripada melirik ke putri. Putri juga diem aja waktu papasan. Mungkin karena gue masang tampang datar dan kurang bersahabat buat diajak ngobrol.
Balik kekelas, gue langsung makan jajanan gue. Buru-buru. Niatnya biar ga ditanyain sama orang depan bangku gue, dan jug ague pengen join ke anak-anak cowok di depan kelas. Padahal kan gue bisa aja makan di depan kelas yak. Tapi hari itu gue lagi pengen makan pake alas.
Tapi seiye-iyenya gue bersikap biasa aja, masih ada yang nanyain gue kenapa. Dan orang itu adalah cewek yang duduk di depan gue.
“Lo kenapa tre?” Tanya cindy setelah berbalik arah menatap gue.
“Gue? Gapapa kok, biasa aja.” Jawab gue berusaha menutupi kegagapan.
“Seriusan?” tanyanya lagi.
“Emang kenapa cin?” gue menyuap makanan dari sterofom.
“Gapapa, lo keliatan lebih diem aja.”
Gue berpikir sejenak, jawaban apa yang harus gue kasih. “Lagi ga enak badan doang cin, kemaleman tidurnya.” Jawab gue sekenanya. Cindy cuman ngangguk-ngangguk, kemudian madep depan lagi.
Selesai makan, gue join sama anak kelasan yang lain nongkrong di tisat. Tisat itu sebutan anak kelasan gue nantinya ke tempat nongkrong depan kelas ini. Singkatan dari tikungan ipa satu.
Waktu lagi nongkrong, beberapa anak cowok kelasannya putri lewat di depan kelasan gue. Gue sendriri sih ga terlalu kenal mereka. Kayanya anak kelasan gue juga ga terlalu kenal karena ga sekelas sebelumnya. Ada satu orang yang ngeliatin gue secara serius, ngeliatinnya kaya ga suka gitu. Siapa lagi kalo bukan andra, anak cowok kelasannya putri yang kayanya masih ngarep buat deketin putri. Gue yang diliatin kaya gitu, yaaa biasa aja, emang harus gimana? Toh dia punya mata buat ngeliat, wkwkwk.
Tapi ternyata salah satu anak kelasan gue ada yang nyadar gue diliatin. Si samudra. Dia ini bigos juga (biang gosip) sama kaya iman. Belum pernah gue certain sih di part sebelumnya kalo mereka berdua bigos. Karena mereka kenalannya banyak di angkatan jadi punya banyak gosip.
“Lo ada masalah sama si andra tre?” Tanya si samudra. Biarpun ga kenal, bukan berarti ga tau namanya kan.
“Hah? Kaga ada.” Kata gue.
“kok dia ngeliatin lo gitu.”
“Masih suka kali sama putri.” Sahut rico asal jeplak.
“Lah, seriusan lo? Lo gapapa tre dia sekelas sama putri?”
“emang gue bisa ngatur kelas?” jawab gue enteng. Dan gosip yang dibahas kali itu adalah cerita andra yang coba deketin putri waktu jadi utas selama istirahat pertama. Bahkan lanjut ke istirahat kedua -_-
Pulang sekolah, gue udah siap buat langsung cabut kerumah bobby bareng rico. Masih kita bertiga doang, belom sama yang lain. Waktu mau ngelewatin kelas ipa 4, ada putri disana. Gue langsung samperin buat ngasih tau kalo gue ga bisa balik bareng dia. Masih dalam mode sok dewasa gue. Wkwkwk.
“Put, kayanya gue ga bisa nganterin lo balik deh.” Kata gue.
Putri yang denger omongan gue langsung kaget, “loh, kenapa tre?”
“gue sama rico sama bobby mau cabut dulu nih.”
“gue tungguin aja gimana. Nanti gue nunggu di rumah temen.” Jawab putri. Emang kadang-kadang putri suka ga ikut kalo kita bertiga doang. Meskipun udah satu tahun kenal.
“gue sampe malem put, gaenak nanti kemaleman.”
“yaudah deh.” Kata putri kecewa.
“sorry yaa put.”
Gue langsung cabut bareng rico bobby. Waktu agak jauhan, gue sempet nengok kebelakang, keliatan banget putri kecewa. Gatau juga sih. Perasaan doang mungkin. Abis itu ada andra yang nyemperin putri, kayanya sih ngajakin balik bareng setelah sempet nguping tadi. Tapi gue yang sedang dalam mode lagi pengen “menyendiri” malah bersikap bodo amat. “ga bakalan bisa juga andra dapetin putri.” Piker gue sombong saat itu.
japraha47 dan 13 lainnya memberi reputasi
14