Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]


Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.


Spoiler for INDEX:


Spoiler for MULUSTRASI:


Spoiler for Peraturan:


Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.


Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 17-05-2026 02:21
xxxochezxxxAvatar border
DayatMadridistaAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
473.2K
4.4K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.1KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#1112
Ketegasan Sedikit-sedikit
Sehabis bertarung dengan Keket, keringat yang kami hasilkan sangatlah banyak, tapi entahlah, kami asyik banget dan menikmati permainan kami dikamar kost ane. Biar panas, ada nyamuk juga, tapi seru banget. Kayak orang yang baru jadian. Padahal ditolak, boro-boro jadian. Haha.

Ane membereskan seluruh kamar yang berantakan, kemudian mengunci pintu depan kost sejenak, dan akhirnya menyusul Keket mandi. Entah kenapa si Rocky malah kencang lagi pas lihat punggung Keket yang mulai dibasahi air dan busa shampo yang jatuh mengalir. Haha. Tanpa babibu ane langsung tancap gas. Keket kaget tapi malah ikut menikmati lagi. Hahaha. Aduh pokoknya seru banget. Nggak ada main belakang tapi. Ane merasakan kalau gunung kembar Keket yang defaultnya udah berukuran 36, dan modelnya juga yang nggak turun gitu, jadi makin kencang aja kan dan pingin banget dimainin terus. Ini yang paling ane suka.

Ketika selesai mandi pun kami mengeringkan badan dengan handuk, lalu kemudian keluar kamar mandi. Bukannya ke kamar buat pakai baju, eh malah lanjut lagi di ruang TV. Hahaha. Entah sampai berapa kali ane lupa, keliling-keliling kostan sambil bertarung sama keket dan nggak pakai apa-apa itu seru sih.

Kami baru benar-benar berhenti ketika Keket kelelahan.

"Ja, aku kecapekan nih. Haha. That was fun."

"Kamu nambah terus sih lagian. Haha."

"Ini kan pertama kali kita lakuin semenjak kamu nolak aku sayang." Kata ane sambil mencium keningnya.

"Iya. Tapi entah kenapa aku ngerasa nyaman banget sama hubungan ini Ja. Buktinya efeknya permainan kita jadi makin gila. Hehehe."

"Aku masih mau berjuang buat jadi cowok kamu beneran yank."

"Nggak gampang kalau mau jadi cowok aku yank. Hahaha."

"Aku yakin aku bisa. Haha. Aku kan pejuang cinta kamu sekarang."

"Iya, dulu aku yang berjuang ya Ja. Hehehe."

"Udah sih Ket, kenapa kita nggak jadian aja sih? Kita udah kayak gini, udah sama-sama rusak juga, kenapa ga kita bareng aja sih?"

"Belum saatnya sayang." Kata Keket sambil senyum lalu mencium bibir ane.

Kami kemudian berpakaian dan ane mengantar Keket ke kostannya. Sepanjang perjalanan kami bersenda gurau dengan lawakan-lawakan recehan, saling ngomong modus dan apapun yang membuat kami tertawa. Nggak disangka ternyata kami bertemu sama orang yang udah lama nggak kelihatan.

Anin.

Dia jalan bergandengan tangan dengan seorang cowok. Nggak ganteng-ganteng amat, tingginya juga ga terlalu tinggi banget, hampir sama kayak si Anin. Cuma dari cara berpakaiannya, ane langsung tahu kalau anak ini satu kasta sama Anin. Selera fashionnya bagus banget. Jadi kelihatan lebih ganteng karena outfitnya.

"Hei, Ija. Long time no see ya." Kata Anin.

"Hei Nin. Apa kabar lo?" Kata ane.

"Well, i'm good. Kayaknya lo udah move on dari sahabat gue ya." Katanya sambil melirik Keket dari atas kebawah.

"Not bad Ja." Katanya lagi, meremehkan.

"Gue ceweknya Ija. Kathy." Kata Keket sambil menjulurkan tangan.

"Anin. Kakak kelas Ija kan?” Dia membalas jabat tangan Keket.

"Kok lo tau?" Kata Keket.

"Apa yang nggak gue tau soal Ija sih? Bahkan mungkin gue lebih tau dari lo ya, Kathy." Kata Anin dengan logat khas anak selatan.

"Nin, gue permisi dulu ya. Ternyata lo nggak berubah ya Nin." Kata ane lalu menggandeng Keket.

"Ja, lo ingat kotak kecil yang dulu gue kasih? Ingat ya. Gue belum dapat giliran." Kata Anin.

"Terserah lo Nin." Kata ane lalu kami berjalan menjauh dari Anin dan cowok planga plongo nya.

Ane masih mengingat kotak kecil isi kond*m itu. Ane merasa sangat jijik pas mengingat hal itu. Lalu sepanjang perjalanan ane menceritakan perihal kotak tersebut kepada Keket. Keket langsung emosi.

"Beneran Ja kayak gitu?"

"Iya. Dia juga yang sukses ngerusak mindset Zalina yank. Sampai akhirnya dia kenal sama senior-senior itu, sama sepupunya yang akhirnya malah dia kayak digilir di hotel."

"Gila ya itu anak."

"Emang. Tadinya juga dia sempet suka sama aku kan."

"Untung aja kamu nggak sempet ngapa-ngapain sama dia Ja."

"Iya makanya itu kan."

Akhirnya kami sampai kostan Keket. Ane stay disana sampai magrib. Numpang ibadah dulu disana. Sehabis itu ane siap-siap untuk berangkat. Tidak lupa ane menyemprotkan parfum kesayangan yang salah satunya ane titipkan di kostan Keket. Setelah merasa sudah cukup oke, ane pamitan dengan Keket. Sebuah ciuman mesra mendarat di bibir ane sebelum pergi dari Keket. Alangkah senangnya ane waktu itu. Hehehe.

--

Ane sudah masuk di lobi hotel tempat Ara menginap. Tidak lama ane disambut sama Ara. Ara seperti biasa, ceria. Dia menuju ke arah Ane dan langsung aja memeluk ane yang masih duduk di lobi.

"Gue kangen." Katanya

"Ara apaan sih? Lepasin dulu gue nggak bisa napas." Kata ane.

"Iya maaf Ja."

"Ngapain lo kesini sih Ra? Ada kerjaan lagi emang?”

"Nggak ada. Gue mau ngehabisin waktu gue disini aja sama lo Ja."

"Hmm gue nggak bisa nginap, sori Ra."

"Yaaah. Gimana sih, kan udah gue bookingin hotel. Katanya lo mau bareng-bareng gue dan mau nurutin apa kata gue."

"Iya tapi sekarang gue nggak bisa Ara. Gue udah punya Keket."

"Hah? Jadi lo jadian sama Keket?”

"Nggak sih. Dia nolak gue Ra. Cuma gue sama dia tetap saling sayang."

"Ditolak? Hahaha. Seorang Ija di tolak cewek? Hahaha. Gue ngerasa lagi ngimpi. Jangan-jangan itu karma lo Ja ke gue."

"Nggak tau, yang penting gue sama Keket tetap sayang dan kami ya kayak orang pacaran aja Ra."

"Ngobrolnya di kamar aja yuk."

"Ayo, tapi gue nggak bisa lama-lama."

Ara ketika itu cuma pakai kerudung terusan yang nutupin dada, lalu kaos oblong putih polos lengan panjang dan celana piyama gitu. Entah kenapa, tapi ane bisa ngeliat anak ini kok kayak nggak pakai bra ya. Soalnya guncangan didadanya itu terlalu heboh sih. Haha. Kalau Ara begini aja berguncang gimana Keket.

Kami masuk ke kamar. Hotel yang sama saat ane tidur sama Ara untuk pertama kali. Ara langsung membuka kerudungnya dan ya, dugaan ane benar. Ara nggak pakai bra.

"Lo nggak pake bra Ra?”

"Iya, abis kan ntar juga pas dikamar dibuka-buka juga. Toh gue jemput lo di bawah kan sebentar aja."

"Ara Ara. Lo gila ya. Terus lo niat banget bayarin ni hotel buat apa? Cuma mau tidur sama gue doang? Udah deh Ra, gue nggak mau."

"Kenapa lo nggak mau? Lo bilang ke gue kalau mau nurutin mau gue Ja. Jangan lupain itu."

"Itu waktu jomblo, sekarang....hmmm masih jomblo juga sih."

"Nah yaudah kan?"

"Tapi gue nggak bisa, sori banget Ra. Gue sayang sama Keket Ra."

"Keket nggak tau Ja."

"Iya, cuma hati gue yang nggak mau Ara."

"Nggak usah pakai hati Ja."

Ara terus menggoda dan mulai mendekati ane yang duduk di pinggiran kasur. Dari mulai mengelus, menjilati telinga, menyingkap kaosnya sehingga terlihat dadanya yang sebelah kiri, mengelus rocky. Macam-macam pokoknya. Ane tetap bergeming. Nggak mau ikutin permainan Ara. Lama-lama Ara bete.

"Ja gue kecewa sama lo. Katanya lo mau ngelakuin apapun?"

"Kondisinya sekarang beda Ara. Dengerin gue. Lo itu punya waktu lebih banyak untuk nyari cowok yang keren-keren diluar sana. Ngapain ngeharapin gue terus sih Ra."

"Gue cuma mau have fun sama lo Ja. Nggak lebih."

Dia mulai menggoda lagi. Kali ini dia membuka kaosnya, tapi dia memakai kembali kerudungnya. Lalu mendekati ane dan membaringkan ane dikasur.

"Isepin Ja. Please."

Entah kenapa ane malah nurut. Ane mulai larut dalam permainan Ara. Ara terlihat sangat menikmatinya ketika ane bermain di dadanya sebelah kiri, sementara yang kanan habis-habisan kena remas. Kemudian terdengar teriakan kecil Ara. Akhirnya dia bergerak turun dan membuka celana panjang ane perlahan. Tidak semua, hanya bagian yang ada rockynya aja. Sejurus kemudian dia melancarkan kuluman luar biasa ke rocky. Otomatis kenceng dong. Tapi setelah beberapa menit dan Ara mulai menurunkan celananya, ane dengan sigap mendorongnya. Ara kaget. Lalu dia meringkuk disamping kasur.

"Gue udah segitu nggak ada harganya ya Ja didepan lo?"

"Bukan gitu, gue nggak mau kita terlalu jauh."

"Lo ambil perawan gue apa itu nggak kejauhan namanya?"

"Maaf Ra, tapi itu dulu kan gue tanya dulu ke lo, lo bilang nggak apa-apa."

"Nah gue juga bisa bilang ke lo sekarang Ja, itu kan dulu. Sekarang gue maunya sama lo. Nggak apa-apa gue jadi yang kedua."

"ARA, NGGAK BISA. LO BISA NGERTI NGGAK SIH?”

"Gue ngerti Ja. Maafin gue Ja. Gue ngaco banget jadi orang." Katanya kemudian menangis.

Ane secara otomatis memeluknya dan membenamkan kepalanya didada ane.

"Maaf Ara. Gue nggak bisa. Dari awal dulu sebelum kejadian di hotel yang sama ini kan gue juga bilang gue nggak bisa. Jadi mulai sekarang stop ya Ra."

Dia hanya memeluk ane erat. Sekitar 15 menitan dia menangis. Lalu kemudian melepaskan pelukannya. Dia mengambil sebuah tas kecil. Ternyata isinya kotak hitam yang udah nggak asing sama ane. Sebuah parfum.

"Ini buat lo dari gue. Gue tau lo Ja. Lo senang kan?"

"Iya, tapi itu mahal Ra. Punya uang darimana lo?”

"Lo nggak perlu tau. Ini gue kasih buat lo."

Sebuah Parfum Aigner Black For Men. Ane nggak bisa nolak pemberian ini karena memang salah satu parfum impian ane saat itu.

"Gue nggak mau dengan lo ngasih ini, malah lo mengharap macam-macam dari gue Ra. Lebih baik gue nggak terima ini sama sekali."

"Nggak. Itu buat lo. Dan gue nggak akan berharap apapun, apalagi sampai berubah sikap ke lo Ja."

"Maafin gue Ra."

Ane dan Ara berpelukan lama banget. Lalu dilanjutkan menemani Ara menonton film yang ada di channel TV. Jelang tengah malam ane keluar dari kamar hotel dan meninggalkan Ara yang sudah tertidur lelap.

"Maafin gue Ra. Gue sayang sama Keket."


Diubah oleh yanagi92055 04-09-2019 17:51
sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 23 lainnya memberi reputasi
24
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.