- Beranda
- Stories from the Heart
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
...
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
165.8K
793
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
congyang.jus
#496
Part 58 - Heavy Birthday
Sore, saat hari H ulang tahun Okta, kami semua berkumpul di bengkel untuk bersiap menghadiri acara ulang tahunnya. Di tangan gw sudah siap sebuah kado yang terbungkus rapi dengan nuansa monochrome, berisi sebuah buku album 'Do it Yourself' dari puluhan foto gw dan Okta beberapa bulan terakhir.
Gw dan anak-anak sempat berencana untuk menggunakan motor, karena sudah pasti rombongan anak bengkel ga bakalan muat jika hanya ada dua mobil. Namun, Okta menawarkan agar beberapa anak dijemput oleh sopirnya. Dengan pertimbangan motor temen-temen gw banyak yang tidak elegan untuk dibawa ke sebuah pesta, gw pun tidak menolak.
Sambil menunggu semua berkumpul, Gw sibuk bercerita tentang kejadian sekolah gw yang tadi diserang karena temen-temen gw pada kepo. Membahas ribut-ribut adalah salah satu hal seru yang bisa didapatkan jika mempunyai circle anak-anak STM.
“Tadi Mas Raja ngelawan Cuma pakai tongkat satpam, padahal musuhnya pada pakai pedang” Zahra menambahi cerita gw dengan ekspresi bangga dan gestur tubuh memperagakan gw ketika memegang pentungan satpam.
“Udah ga kaget kita ra. Dia pernah dibacok, yg ngebacok malah dikatain ‘celurit lo tumpul mas’” balas salah satu temen gw, diiringi tawa semua anak di situ.
Sekitar pukul lima sore, kami berangkat ke lokasi. Menurut gw, tempatnya mirip restoran keluarga, namun dengan suasana yang mewah tentunya.
“Undangannya Kak Okta?” tanya seorang yg sepertinya pegawai tempat tersebut, teman gw menjawab “iya”
“Maaf, dengan rombongannya siapa?” tanya dia lagi
“Londo..” jawab gw
Kemudian diantar lah kami ke taman yang berada di belakang tempat tersebut. Terdapat lima baris dan beberapa deret meja besar tertata di Taman itu. Kami dipersilahkan duduk di meja tengah paling belakang, menghadap lurus ke arah panggung. Lokasi yang benar-benar strategis untuk melihat ke berbagai arah. Di belakang kami terdapat kolam ikan dengan gemricik air yang membuat suasana menjadi menenangkan. Di beberapa sudut taman terdapat dekorasi balon, bunga, dan pita berwarna-warni. Cukup meriah, namun tidak menghilangkan kesan mewah dan elegan.
“Mbak, saya bisa minta tolong?” tanya salah satu teman gw ke Mbak-mbak yang mengantar kami.
“Iya kak, ada apa?”
“Bisa minta tulisin pin BBM Mbak nya?” sambil menyodorkan HP. Mbak-mbak nya Cuma senyum-senyum malu sambil berlalu meninggalkan kami
Bagi gw dan anak-anak bengkel yang tumbuh di lingkungan ekonomi kelas menengah kebawah, acara ulang tahun Okta bisa dibilang sangat ‘wah’. Mulai dari tempat, dekorasi dan meja-kursi, hiburan, hingga sajian yang perkiraan nominalnya sampai membuat eyang menggeleng-gelengkan kepala.
Di awal acara, ada beberapa rangkaian ucapan doa dan harapan yang ditujukan ke si pemilik acara. Tak lupa suguhan minuman dan beberapa macam makanan ringan bagi para tamu. Setelah itu acara potong kue. Potongan kue pertama diberikan kepada orang tua, kakak, dan keluarga Okta
“Emm, potongan kue selanjutnya mau diberi kesiapa mbak? Sahabat atau cowoknya mungkin? Silahkan bisa diminta naik ke atas panggung” kata si pembawa acara sekaligus vokalis band hiburan yang tadi memeperkenalkan diri sebagai Desti
Setelah berbisik-bisik dengan Okta, si pembawa acara memanggil nama gw. “Raja alias Londo, silahkan naik ke atas panggung untuk menerima potongan kue dari Mbak Okta”
Dengan sedikit malu-malu, gw berdiri dan berjalan ke atas panggung. Para tamu yang rata-rata diisi oleh teman sekolah Okta memandang ke arah gw yang melangkah di tengah-tengah mereka.
“Pinter juga milih cowoknya, nyari nya dimana kak?” tanya Mbak Desti dengan nada bercanda
“Cieeeeee cieeeee cieeee” sorak sorai para tamu undangan cewek dan teman-teman gw ketika Okta menyuapi gw dengan penuh cintah. Sedangkan para tamu undangan cowok terlihat seperti iri melihat gw berada di atas panggung ngoahahah.
“Mas Raja mungkin mau memberikan sedikit ucapan doa dan harapan di ulang tahun pacarnya yang ketujuh belas?” tanya Mbak Desti sembari menyodorkan Mic ke gw
Gw menggapai mic, lalu mengucap harapan dan kata selamat bagi Okta “Ku harap hidupmu selalu dipenuhi kehangatan, ribuan senyum dan tawa, serta kasih sayang yang tak pernah ternilai harganya. Selamat ulang tahun!”Tepuk tangan dari para tamu menyambut berakhirnya sepatah kata yang gw ucapkan.
Setelah inti dari acara, tiba saatnya momen santap-menyantap makanan diselingi games dan hiburan, serta sumbangan suara dari beberapa tamu. Organizer dari acara tersebut benar-benar cerdas dalam mengelola suasana sehingga tidak terasa membosankan. Setiap rangkaian acara dari awal hingga akhir terasa sangat mengasyikkan sampai tidak ada rombongan yang meninggalkan tempat ketika pesta tersebut belum benar-benar selesai.
“Mas Raja mau nyumbang lagu?” Tanya Mbak Desti dari atas panggung
Gw mengangkat tangan dengan menggoyang-goyangkan ke kanan-kiri sebagai gestur menolak. Lagi-lagi Okta berbisik ke arah Mbak Revi
“Kata Mbak Okta disuruh nge drum, temen-temennya mungkin bisa nemenin main gitar sama main bass”
“Ayo ja, gw yg gitar. Biar Ryan yg nge bass” ajak salah satu teman gw
“Lagu apa?” tanya gw
“Endank – Heavy Birthday” jawabnya
“Gw ga tau kuncinya” balas Ryan
“Lo tinggal ngikutin gw kan bisa” kata teman gw
“Gimana mas Raja?” tanya Mbak Revi lagi saat gw sedang berdiskusi
Gw memandang Okta yang berada di atas panggung dengan ekspresi wajah penuh harap khas cewek yang tidak pernah bisa gw tolak. Akhirnya gw putuskan untuk naik panggung sebagai kontribusi memeriahkan acara spesial pujaan hati gw eheheheh.
“Kowe rak mlebu-mlebu” teriak gw ke Ryan dan Teman gw ketika miss komunikasi saat intro
“Sorry sorry, rak ngerti” balas teman gw yang main gitar
“Maaf gaes, masih pemula” ucap Ryan di mic
Di bawah sana para tamu tertawa melihat kami yang ribut sendiri di atas panggung
Pesta selesai sekitar pukul 9 malam lebih. Gw dan teman-teman gw tidak langsung pulang ketika acara selesai. Kami masih cukup lama berbincang-bincang dengan Okta dan keluarga besarnya.
Sedangkan Paman sibuk merayu Mbak Desti yang masih berberes perlengkapan dengan band nya. Tak lupa beberapa teman gw yang mencoba merayu Kakak dari Okta yang Cantiknya saingan dengan Okta.
“Sampai berapa lama di semarang Kak?”
“Gimana kalau besok weekend aku ajak keliling Semarang?. Kita double date, Aku sama Mbak nya, Okta sama Raja. Masuk kan?”
Gw dan anak-anak sempat berencana untuk menggunakan motor, karena sudah pasti rombongan anak bengkel ga bakalan muat jika hanya ada dua mobil. Namun, Okta menawarkan agar beberapa anak dijemput oleh sopirnya. Dengan pertimbangan motor temen-temen gw banyak yang tidak elegan untuk dibawa ke sebuah pesta, gw pun tidak menolak.
Sambil menunggu semua berkumpul, Gw sibuk bercerita tentang kejadian sekolah gw yang tadi diserang karena temen-temen gw pada kepo. Membahas ribut-ribut adalah salah satu hal seru yang bisa didapatkan jika mempunyai circle anak-anak STM.
“Tadi Mas Raja ngelawan Cuma pakai tongkat satpam, padahal musuhnya pada pakai pedang” Zahra menambahi cerita gw dengan ekspresi bangga dan gestur tubuh memperagakan gw ketika memegang pentungan satpam.
“Udah ga kaget kita ra. Dia pernah dibacok, yg ngebacok malah dikatain ‘celurit lo tumpul mas’” balas salah satu temen gw, diiringi tawa semua anak di situ.
Sekitar pukul lima sore, kami berangkat ke lokasi. Menurut gw, tempatnya mirip restoran keluarga, namun dengan suasana yang mewah tentunya.
“Undangannya Kak Okta?” tanya seorang yg sepertinya pegawai tempat tersebut, teman gw menjawab “iya”
“Maaf, dengan rombongannya siapa?” tanya dia lagi
“Londo..” jawab gw
Kemudian diantar lah kami ke taman yang berada di belakang tempat tersebut. Terdapat lima baris dan beberapa deret meja besar tertata di Taman itu. Kami dipersilahkan duduk di meja tengah paling belakang, menghadap lurus ke arah panggung. Lokasi yang benar-benar strategis untuk melihat ke berbagai arah. Di belakang kami terdapat kolam ikan dengan gemricik air yang membuat suasana menjadi menenangkan. Di beberapa sudut taman terdapat dekorasi balon, bunga, dan pita berwarna-warni. Cukup meriah, namun tidak menghilangkan kesan mewah dan elegan.
“Mbak, saya bisa minta tolong?” tanya salah satu teman gw ke Mbak-mbak yang mengantar kami.
“Iya kak, ada apa?”
“Bisa minta tulisin pin BBM Mbak nya?” sambil menyodorkan HP. Mbak-mbak nya Cuma senyum-senyum malu sambil berlalu meninggalkan kami
Bagi gw dan anak-anak bengkel yang tumbuh di lingkungan ekonomi kelas menengah kebawah, acara ulang tahun Okta bisa dibilang sangat ‘wah’. Mulai dari tempat, dekorasi dan meja-kursi, hiburan, hingga sajian yang perkiraan nominalnya sampai membuat eyang menggeleng-gelengkan kepala.
Quote:
Di awal acara, ada beberapa rangkaian ucapan doa dan harapan yang ditujukan ke si pemilik acara. Tak lupa suguhan minuman dan beberapa macam makanan ringan bagi para tamu. Setelah itu acara potong kue. Potongan kue pertama diberikan kepada orang tua, kakak, dan keluarga Okta
“Emm, potongan kue selanjutnya mau diberi kesiapa mbak? Sahabat atau cowoknya mungkin? Silahkan bisa diminta naik ke atas panggung” kata si pembawa acara sekaligus vokalis band hiburan yang tadi memeperkenalkan diri sebagai Desti
Setelah berbisik-bisik dengan Okta, si pembawa acara memanggil nama gw. “Raja alias Londo, silahkan naik ke atas panggung untuk menerima potongan kue dari Mbak Okta”
Dengan sedikit malu-malu, gw berdiri dan berjalan ke atas panggung. Para tamu yang rata-rata diisi oleh teman sekolah Okta memandang ke arah gw yang melangkah di tengah-tengah mereka.
“Pinter juga milih cowoknya, nyari nya dimana kak?” tanya Mbak Desti dengan nada bercanda
“Cieeeeee cieeeee cieeee” sorak sorai para tamu undangan cewek dan teman-teman gw ketika Okta menyuapi gw dengan penuh cintah. Sedangkan para tamu undangan cowok terlihat seperti iri melihat gw berada di atas panggung ngoahahah.
“Mas Raja mungkin mau memberikan sedikit ucapan doa dan harapan di ulang tahun pacarnya yang ketujuh belas?” tanya Mbak Desti sembari menyodorkan Mic ke gw
Gw menggapai mic, lalu mengucap harapan dan kata selamat bagi Okta “Ku harap hidupmu selalu dipenuhi kehangatan, ribuan senyum dan tawa, serta kasih sayang yang tak pernah ternilai harganya. Selamat ulang tahun!”Tepuk tangan dari para tamu menyambut berakhirnya sepatah kata yang gw ucapkan.
Setelah inti dari acara, tiba saatnya momen santap-menyantap makanan diselingi games dan hiburan, serta sumbangan suara dari beberapa tamu. Organizer dari acara tersebut benar-benar cerdas dalam mengelola suasana sehingga tidak terasa membosankan. Setiap rangkaian acara dari awal hingga akhir terasa sangat mengasyikkan sampai tidak ada rombongan yang meninggalkan tempat ketika pesta tersebut belum benar-benar selesai.
“Mas Raja mau nyumbang lagu?” Tanya Mbak Desti dari atas panggung
Gw mengangkat tangan dengan menggoyang-goyangkan ke kanan-kiri sebagai gestur menolak. Lagi-lagi Okta berbisik ke arah Mbak Revi
“Kata Mbak Okta disuruh nge drum, temen-temennya mungkin bisa nemenin main gitar sama main bass”
“Ayo ja, gw yg gitar. Biar Ryan yg nge bass” ajak salah satu teman gw
“Lagu apa?” tanya gw
“Endank – Heavy Birthday” jawabnya
“Gw ga tau kuncinya” balas Ryan
“Lo tinggal ngikutin gw kan bisa” kata teman gw
“Gimana mas Raja?” tanya Mbak Revi lagi saat gw sedang berdiskusi
Gw memandang Okta yang berada di atas panggung dengan ekspresi wajah penuh harap khas cewek yang tidak pernah bisa gw tolak. Akhirnya gw putuskan untuk naik panggung sebagai kontribusi memeriahkan acara spesial pujaan hati gw eheheheh.
“Kowe rak mlebu-mlebu” teriak gw ke Ryan dan Teman gw ketika miss komunikasi saat intro
“Sorry sorry, rak ngerti” balas teman gw yang main gitar
“Maaf gaes, masih pemula” ucap Ryan di mic
Di bawah sana para tamu tertawa melihat kami yang ribut sendiri di atas panggung
Pesta selesai sekitar pukul 9 malam lebih. Gw dan teman-teman gw tidak langsung pulang ketika acara selesai. Kami masih cukup lama berbincang-bincang dengan Okta dan keluarga besarnya.
Sedangkan Paman sibuk merayu Mbak Desti yang masih berberes perlengkapan dengan band nya. Tak lupa beberapa teman gw yang mencoba merayu Kakak dari Okta yang Cantiknya saingan dengan Okta.
“Sampai berapa lama di semarang Kak?”
“Gimana kalau besok weekend aku ajak keliling Semarang?. Kita double date, Aku sama Mbak nya, Okta sama Raja. Masuk kan?”
Quote:
Quote:
Diubah oleh congyang.jus 06-02-2022 23:13
japraha47 dan 14 lainnya memberi reputasi
15